Cetak

Keseimbangan Antara Hati dan Jasmani

Ditulis oleh Fethullah Gülen pada . diposting di Kriteria Atau Cahaya Di Jalan Kebenaran

Penilaian Pengguna:  / 0
JelekBagus 
Keseimbangan Antara Hati dan Jasmani

Kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang dijalankan pada tingkatan hati.  Seorang manusia yang hidup dengan hatinya, ia mampu untuk melampaui batas waktu. Sehingga ia mampu mengetuk dan membuka pintu masa depan dan masa lampau sebagaimana dua sisi mata uang. Jiwa yang seperti ini tidak akan sedih dengan kepedihan masa lalu dan tidak takut akan masa depan.  Sementara orang yang tidak dapat menemukan jati diri dalam lubuk hati, akan selalu pesimis dan mengeluh dengan kehidupan dangkal yang ia lalui.  Dalam pandangan mereka yang seperti ini, masa lampau adalah kuburan yang menakutkan dan masa depan adalah sumur yang tak berdasar. Mati pun azab, hidup pun...

* * *

Hubungan manusia dengan masa lampau yang sangat panjang dan masa depan yang tidak ada habisnya, hanya dapat dicapai jika ia mencapai tingkatan kehidupan hati dan ruh.  Jiwa-jiwa beruntung yang mencapai dan menjalani kehidupan di tingkatan ini, akan melihat masa lampau dalam bentuk tenda dan singgasana nenek moyang kita, dan juga melihat masa depan dalam bentuk jalan-jalan yang terbentang di taman-taman surga. Lalu, mereka pergi meninggalkan rumah singgah dunia dengan meminum air Kautsar yang memancur di dalam hati mereka.  Sementara orang-orang malang yang tidak dapat mencapai kehidupan ini, memiliki kehidupan yang lebih buruk daripada kematian. Dan kematian mereka pun adalah neraka jahanam.

* * *

Ada sebuah hubungan yang saling mendukung, saling merapikan, dan saling mendewasakan satu sama lain antara kehidupan batin dengan amal dan perilaku seorang manusia.  İni bisa kita namakan dengan "lingkaran shalih" yang merupakan lawan daripada  "lingkaran sesat".  Dengan demikian, perilaku manusia seperti kebulatan tekad, paksaan, dan ketegasan akan bergema dan kemudian menyinari kehidupan batin. Lalu cahaya terang hati nurani juga akan menunjukkan cakrawala yang lebih tinggi dengan memperkuat tekad dan kehendak.

* * *

Orang-orang beruntung yang diperintah oleh jiwa dan raga secara bersamaan akan mengantarkan pada jalan keridhaan Sang Pencipta, kemanusiaan, dan fadhilah. Kıblenüma atau kompas yang mereka pakai selalu menunjukkan pada satu mihrab yang sama, dan jarum-jarumnya pun akan selalu menunjukkan arah yang sama.  Kadang-kadang ketika berjalan mereka tersandung, akan tetapi penyesalan dan rintihan yang tulus akan dapat melelehkan dosa-dosa di dalam hati dan jiwa mereka, lalu mereka pun kembali melanjutkan perjalanan lagi.

* * *

Orang-orang beruntung yang telah menjalankan seluruh kewajiban dengan sangat teliti, di samping mereka telah menunaikan hak dan kewajiban duniawi (alam dhahiriyyah) dengan keteraturan, keseimbangan, dan kecintaan akan tugasnya, mereka juga tidak lupa berdzikir di alam batiniyyah, lalu terbang beberapa sekali dalam sehari dan mencapai majelis para malaikat.

* * *

Sebuah pemikiran akan keabadian yang telah masuk ke dalam hati kita sejak berabad-abad dan di dalamnya kecintaan akan keabadian tumbuh, seiring waktu berjalan meninggalkan pemahaman yang membawa rumus-rumus tanpa ruh, kemalasan, dan kejenuhan.  Sampai hari ini, ilham-ilham seperti cahaya kecil yang dipancarkan oleh kunang-kunang, merupakan pemikiran tanpa keberuntungan yang berusaha menyeimbangi wahyu yang sebenarnya adalah menerangi, telah membawa asap dan kabut ke jalan kita yang terang, dan telah menghitamkan langit-langit manusia.

* * *

Setelah semua itu, kami dapat menyimpulkan bahwa manusia hakikat secara jasmaniyah adalah sebuah tubuh yang telah membaja hingga dapat menghadapi berbagai macam bala bencana. Secara pemikiran, adalah sebuah kepala yang setiap saat dapat menciptakan komposisi-komposisi lain sebagaimana seorang kimiawan yang mahir. Dia dapat memahami dan menggunakan firman Allah yang Haq sebagaimana waktu berlalu. Sementara secara kemampuan rohani dan hati, dia adalah sebuah jiwa yang telah dewasa, menjadi matang layaknya Maulana Jalaluddin Rumi  ataupun Yunus Emre. Pada akhirnya, dia adalah sebuah hati yang yakin pada falsafah "menjadi seorang manusia di antara manusia-manusia yang lain" dan dia adalah seorang yang rela mengorbankan kesenangan pribadi demi kebahagiaan orang lain.

blog comments powered by Disqus