Cetak

Pendahuluan

Ditulis oleh Fethullah Gülen pada . diposting di Dari Benih Hingga Menjadi Pohon

Penilaian Pengguna:  / 1
JelekBagus 

“Kita adalah hasil dari apa yang telah ditanam oleh para pendahulu;
Sementara generasi sesudah kita kelak adalah  
buah dari jerih payah kita saat ini.”
(Fethullah Gülen)

1. Pemahaman tentang Akhlak

Saya pikir adalah lebih baik jika dalam beberapa hal kita memiliki beberapa kesepakatan terlebih dahulu. Oleh karena tidak akan mudah untuk mendapatkan manfaat dari buku ini kecuali jika kita bisa sepakat tentang beberapa hal penting yang berkaitan dengan subjek pembahasan ini. Ya, saat kita mengangkat topik yang berkaitan dengan tema pendidikan di dalam keluarga, maka kita harus memerhatikan bahwa tidak mungkin mencapai kesepakatan tentang pengertian akhlak dengan mereka yang tidak merasa terganggu dengan adanya dekadensi moral yang terjadi dalam skala besar pada rumah-tempat tinggal kita, negara-bangsa kita dan lingkungan sekitar kita.

Sesungguhnya apa yang bisa dikatakan pada orang yang telah puas dengan kondisi dirinya sendiri dan tidak merasa terganggu pada keburukan moral di sekitarnya?  Pembaca yang ingin mendapatkan manfaat dari buku ini, terlebih dahulu harus dapat ikut merasakan rasa sakit di hati atas adanya kemerosotan akhlak yang terjadi di lingkungan sekitarnya, kerabat, teman, dan tetangga mereka.

Sepanjang sejarah, tidak ada masyarakat yang langgeng dengan ketiadaan akhlak. Saya tidak bisa mengatakan pada Anda tentang ada atau tidaknya pengecualian, tetapi tidak ada keraguan bahwa mereka yang bertahan untuk waktu yang lama tanpa tersingkir oleh sejarah, dihormati karena nilai-nilai moralnya.

2. Penyebab Runtuhnya Beberapa Bangsa

Jika kita lihat peradaban di masa lalu, pada hampir semua kehancuran sebuah bangsa dapat dikaitkan dengan kemerosotan moral dari bangsa-bangsa tersebut. Ketika ketiadaan akhlak diam-diam mulai merusak dan menggerogoti nilai-nilai sebuah masyarakat, maka hal itu seringkali tidak dirasakan atau disadari. Dan, ketika hal itu akhirnya dirasakan, maka semuanya sudah terlambat. Mirip dengan kanker yang tumbuh tanpa diketahui hingga menyebar ke bagian-bagian vital tubuh kita, saat disadari seringkali sudah terlambat dan menyebabkan kematian. Tidak adanya akhlak atau moral dalam kehidupan sebuah bangsa adalah seperti kanker bagi tubuh. Jikalau yang memerintah negara, kepala keluarga, para pendidik, dan seluruh bangsa tidak menghiraukan adanya kehancuran moral, maka tanda-tanda kiamat nasional pun mungkin tidak akan menggugah mereka. Siapa yang tahu jika mungkin beberapa di antara mereka justru menganggapnya sebagai hal yang normal, seolah-olah mereka adalah makhluk yang mendiami reruntuhan.

Ketika kita melihat sejarah, sebab di balik runtuhnya sebuah bangsa adalah: kecenderungan berkehidupan bebas pada kaum muda dan keinginan mereka untuk menikmati kesenangan duniawi, masyarakat yang menganggap dunia sebagai tujuan sejati dan menjadi lupa akan akhirat, serta orang-orang yang memunggungi perintah Tuhan—menghapus penghormatan terhadap Allah dari hati mereka dan mengecilkan segala sesuatu hingga ke tingkat materi. Hampir semua alasan tersebut terjadi dalam keruntuhan begitu banyak negara, termasuk yang terjadi pada Ottoman. Depresi atau krisis yang disebabkan oleh kekosongan spiritual berusaha disembuhkan dengan kenikmatan duniawi yang justru memperburuk kekosongan itu sepenuhnya, dan berarti seperti memasuki lingkaran setan. Namun, masalah yang sebenarnya bersumber dari bangsa yang kehilangan spiritualitas mereka, menjauhkan diri dari esensi agama, dan melupakan Allah. Penawarnya ada pada sumber yang hakiki dan obat akan ditemukan bagi mereka yang mencari kesembuhan. Namun, sebagaimana halnya dunia material menyusun satu sisi realitas manusia, dunia spiritualitas menyusun sisi yang lain. Titik penyimpangannya jelas: Semuanya disebabkan oleh pemuasan diri dengan hal-hal yang bersifat materi dan mengabaikan yang spiritual. Cacat semacam itu tidak bisa ditutup-tutupi dengan apa pun yang bersifat materi. Sebenarnya, ketika dua aspek tersebut diperhatikan secara seimbang sesuai dengan proporsinya, yaitu ketika tugas kita kepada Allah terpenuhi dalam kebesaran-Nya dan ketika wahyu Ilahi dihormati dengan tingkatan yang sama—dengan kata lain, ketika dunia ini dan dunia akhirat sama-sama dihargai—maka semuanya akan menjadi seimbang. Inilah yang disebutkan dalam Al Qur’an: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi" (QS. Al-Qashash 28:77). Jadi, karunia Allah Subhânahu wa ta’âla seperti kesehatan, kekayaan, dan kecerdasan harus dimanfaatkan secara bijaksana untuk kehidupan akhirat, tetapi bagian duniawi seseorang juga tidak boleh pula diabaikan; inilah yang dijadikan pedoman dari Al Qur'an. Jika keseimbangan antara dunia dan akhirat diatur sesuai dengan prinsip ini, umat Muslim tidak akan berada dalam kondisi menyedihkan seperti ini. Di masa ketika alasan-alasan duniawi membuat individu lupa pada Pencipta mereka seperti sekarang ini, kami ingin menjelaskan prinsip-prinsip moral yang harus diambil sebagai dasar.

Setiap bangsa memiliki masa naik turunnya, dengan alasan masing-masing yang relevan. Hukum-hukum yang bekerja di alam semesta berdasarkan pada hukum sebab akibat yang bersyarat. Allah Subhânahu wa ta’âla menciptakan alam yang bergantung pada aturan kausalitas. Oleh karena itu, kita seharusnya mematuhi hukum-hukum yang berlaku umum di alam semesta. Jika kita mengabaikan tugas-tugas kita dengan bersandar pada toleransi hukum-hukum itu, kita akan tersingkir dan musnah. Hukum-hukum itu bekerja tanpa pandang bulu. Allah Subhânahu wa ta’âla mengampuni makhluk-Nya; namun, hukum penciptaan tidak memiliki sifat pemaaf sama sekali. Jika kita mengikuti metode yang benar dan bertindak sesuai dengan hukum-hukum itu, Allah akan mengangkat kita ke tingkatan tertinggi. Di sisi lain, jika kita gagal memenuhi tuntutan dari tujuan itu—jika tidak ada campur tangan khusus dari Tuhan—kita mungkin akan jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya (lihat QS. At-Tin 95: 5).

Kembali ke masalah yang kami sebutkan di awal, kita perlu menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut: Adakah faktor-faktor yang serius dan alasan yang objektif bagi kemerosotan moralitas? Apakah sesuatu yang disebut krisis moral itu benar-benar ada? Apakah gaya hidup serampangan memang lazim terjadi di zaman kita yang kekurangan moralitas, ataukah bisakah gaya hidup seperti itu diterima sebagai hal yang normal?

3. Taklit atau Meniru Bangsa Lain

Rasulullah Muhammad memperingatkan umatnya tentang situasi bangsa-bangsa yang runtuh akibat kehancuran moral dan akhlak. Beliau mengatakan: “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”.[1]

Masyarakat yang hancur oleh kemerosotan akhlak mengalami beberapa kegagalan ini dulu sebelumnya: mereka mencintai dunia ini, dan gagal mengatur keseimbangan antara jiwa dan raga. Sayangnya kegagalan seperti yang telah terjadi sejak lama dalam sejarah ini, terus berlanjut dari generasi ke generasi pada zaman yang berbeda-beda. Pada akhirnya, dunia Barat mewarisinya, dan setelah berhias dengan fantasi tentang peradabannya sendiri, mereka menularkannya kepada para peniru mereka. Dari perspektif ini, hadis yang disebutkan di atas dapat dianggap sebagai pernyataan yang luarbiasa karena mampu menubuatkan fakta yang dibuktikan oleh sejarah. Hal ini menunjukkan adanya ilham dari Ilahi bagi Rasulullah, yang diungkapkan oleh makna dalam kata-kata Beliau ﷺ .

Di sini, saya ingin menggarisbawahi ihwal yang lain. Kesejahteraan material yang dimiliki penduduk negara-negara tertentu, pada pandangan pertama dapat membuat kita berpikir bahwa mereka telah mengatasi semua masalah dan berhasil mencapai kebahagiaan. Pada kenyataannya, jauh di lubuk hati mereka, masyarakat modern selalu merasa gelisah dalam mencari kebahagiaan yang gagal mereka temukan. Tingkat bunuh diri di negara-negara "maju" lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Sebuah masyarakat yang tingkat bunuh diri individu di dalamnya cukup tinggi tidak bisa dianggap bahagia.

4. Makhluk Termulia

Segala sesuatu seharusnya berkaitan pada kebahagiaan sejati manusia. Manusia adalah khalifah Allah di bumi dan menjadi fokus dari nama-nama Ilahi. Allah telah mengatur alam semesta sesuai kebutuhan manusia. Dalam hal ini, peradaban harus ada untuk manusia dan setiap peradaban harus direncanakan bagi kebahagiaan manusia. Di atas semuanya, manusia adalah makhluk yang paling termuliakan. Al Qur'an menyatakan:

“Dan sesungguhnya, telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra 17:70).

Seorang manusia menjadi mulia dalam pandangan Allah Subhânahu wa ta’âla. Semua peradaban dalam sejarah dan semua sistem politik, ekonomi, dan budaya mengakui nilai manusia dengan keberadaan mereka. Oleh karena itu, sistem yang dibangun tanpa menargetkan kebahagiaan manusia serta tidak memiliki nilai dan sistem itu tidak mungkin menjanjikan apa pun atas nama kemanusiaan.

5. Otoritas Gereja dan Kalangan Pendeta di Barat

Ada perbedaan penting antara dunia Islam dan Barat. Di Barat, munculnya ilmu pengetahuan merusak otoritas Gereja. Berlawanan dengan Barat, dalam dunia Islam, kemajuan ilmu pengetahuan justru membuat lebih banyak orang berpaling kepada agama. Sebelum Renaissance dan Reformasi, orang-orang di Eropa membayar pajak yang tinggi untuk Gereja dan masa depan tampak suram bagi mereka. Para pemimpin agama memiliki sikap negatif terhadap ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan baru mereka tolak tanpa menunjukkan toleransi apapun. Jumlah orang yang dihukum oleh inkuisisi gereja (pengadilan gereja) jumlahnya sangat banyak. Orang tidak bisa berbicara untuk menentang penindasan. Dengan pengecualian sejumlah kecil kelompok bangsawan, setiap orang —khususnya rakyat miskin— sangat menderita. Semua hal seperti "hak perempuan" tidak boleh dipertanyakan. Di tempat kerja yang berbeda, seorang wanita dianggap sebagai setengah individu dan menerima setengah dari pembayaran normal. Akibatnya saat itu, hampir semua kelas sosial tidak suka pada agama. Akibat kebencian umum ini, segala sesuatu yang berkaitan dengan Gereja mengalami kemunduran. Karena Gereja runtuh oleh goncangan yang keras ini, nilai-nilai moral pun ikut hancur.

6. Hubungan Antar Negara dan Agama dalam Islam

Dalam dunia Islam, tidak ada ilmuwan yang dikucilkan. Agama sama sekali tidak pernah menekan negara atau rakyat. Kekuasaan selalu berada di bawah komando yang benar, dan para penguasa melayani masyarakat. Di hadapan perkataan yang benar dan  yang diucapkan dalam nama kebenaran, maka bahkan para penguasa pun bisa membungkuk, menunjukkan kesiapan mereka untuk menerima sesuatu yang benar. Kisah terkenal antara Fatih Sultan Mehmed sang Penakluk dan hakim Hızır Ҫelebi adalah contohnya.[2]

Sebagaimana Khulafaur Rasyidin seperti khalifah Umar bin Khattab atau Ali bin Abi Thalib yang dibawa ke pengadilan dalam status yang sama dengan seorang lelaki Yahudi. Karena kekuatan hanya akan berpihak pada yang benar maka tingkat penindasan sampai pada taraf yang terlihat di Barat tidak pernah dialami dalam dunia Islam. Oleh karena itu, tidak ada yang merasa sakit hati terhadap agama. Kehidupan yang dicari orang lain sebagai utopia itu justru adalah realitas bagi dunia Islam.

7. Prinsip-Prinsip Moral

Jadi, apa yang baik dan apa yang buruk bagi kita? Bagaimana anak-anak akan dibesarkan? Adakah rencana tertentu yang kita rancang dalam pikiran kita? Nilai-nilai apa yang kita inginkan agar dipelajari oleh anak-anak kita? Apa yang kita praktikkan agar mereka mendapatkan nilai-nilai itu? Misalnya, apakah kita peduli jika mereka berkeliaran di luar sampai larut malam? Apakah kita akan membukakan pintu seolah-olah tidak ada yang terjadi seberapa larut pun mereka datang? Apa ukuran moralitas kita, dan apa yang kita anggap bermoral atau tidak bermoral?

Seberapa jauh kita akan mengizinkan anak-anak kita pergi? Apakah kita memiliki prinsip untuk menyatakan pendapat kita tentang cara berpakaian mereka?

Jika kita tidak senang dengan apa yang telah terjadi selama ini, apa yang telah kita rencanakan sampai saat ini? Adakah solusi yang telah kita coba? Sudahkah kita mengupayakan solusi yang cukup serius, seperti berapa banyak pintu yang kita ketuk untuk mencari solusinya, berapa banyak ahli yang kita datangi dan berapa banyak tetes air mata yang kita tumpahkan dalam keprihatinan ini? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat ditujukan kepada diri kita sendiri, kerabat, tetangga, atau orang-orang pada umumnya. Jadi, sudahkah kita mencari solusi dalam arti sebenarnya?

Jika kita tidak punya rencana atau solusi bagi masalah ini, berarti kita telah mengikuti jejak orang-orang yang hidup sebelum kita dan jatuh ke dalam perangkap yang sama, seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah yang mulia. Sebenarnya, alasan yang mendasari dari semua permasalahan ini adalah karena kita telah menyingkirkan Allah Subhânahu wa ta’âla, Rasul-Nya yang mulia dan prinsip-prinsip Al Qur'an, serta justru menyembah keinginan dan hasrat kita sebagai gantinya.

Hari ini, kita semua memiliki anak kita sendiri yang sedikit banyak sering kita keluhkan. Apa yang kita pikirkan ketika kita melihat perilaku mereka yang tidak konsisten? Hal ini sangat penting, meskipun sekedar untuk memikirkannya saja. Kita harus memikirkannya! Kita harus merenungkan pertanyaan, "Apa yang bisa kita lakukan tentang masalah ini?" Saya ingin tahu apakah kita toleran, atau kasar, atau acuh tak acuh pada sikap anak-anak tersebut? Apakah kita hanya menonton kejadian di rumah kita tanpa emosi, atau kita mencari solusi setiap harinya?

Pertanyaan-pertanyaan lain seperti itu sangat mungkin terus ditambahkan. Misalnya, apakah kita telah berupaya menjadi seperti seorang pengawas yang mengikuti dan mengenal teman-teman anak kita dengan baik? Apakah kita sudah mempersiapkan lingkungan yang sehat untuk anak kita? Sejauh ini, teman-teman seperti apa yang kita perkenalkan kepada anak kita? Apakah cukup untuk mendaftarkan anak kita ke sekolah ataukah kita harus menyerahkan mereka secara pribadi kepada seorang guru? Bahkan lebih jauh lagi, apakah cukup untuk menunjukkan kepada mereka letak masjid saja ataukah kita harus memperkenalkan mereka kepada imamnya?

Selain menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan satu sama lain ini, keteraturan, kedalaman, kesungguhan, resolusi, dan daya tarik yang khas milik kita pun juga sangat penting.

8. Kehidupan yang Berprinsip dan Terencana

Sangat penting untuk menentukan kehidupan kita sebagai "kumpulan prinsip" yang sejak awal sudah dicanangkan. Kita harus bisa mengatakan bahwa dalam rencana saya: "Tahun ini saya berencana begini, tahun depan insya’ Allah mau begini, selanjutnya begini dan begitu ....". Jika kita sudah mengatakan seperti ini, kita akan dihadapkan pada fakta-fakta yang telah kita rancang dan rencanakan, mampu membuat keputusan dengan mudah, dan tidak akan pernah bingung menghadapinya. Namun, jika kita tidak memiliki keputusan atau prinsip apapun demi masa depan, kita mungkin akan terseret oleh risiko yang tidak diketahui, lalu merasa bingung. Bayangkan saja jika sekumpulan ancaman yang tidak diketahui ini mendatangi kita, kita mungkin akan mengerang penuh penyesalan dan kesedihan. Jika demikian, kita benar-benar harus membuat keputusan terlebih dahulu sebelum semua hal tersebut menghadang jalan kita.

Sekarang, mari kita lihat umat Islam di dunia, dengan populasi 1,5 miliar. Dalam tungku yang apinya membumbung tinggi ke angkasa, orangtua, anak-anak dan cucu-cucu nya terbakar pada bara yang sama. Kita saksikan pula saat salah seorang dari mereka terbakar, yang lain justru tidak peduli. Sementara sebuah atau beberapa bangsa tenggelam dalam rawa lumpur, sekumpulan generasi yang datang setelahnya juga tenggelam di rawa yang sama karena mereka berjalan tanpa memperhatikan dan melihat kemalangan yang terjadi pada orang-orang sebelumnya, dan mereka kembali menjadi generasi yang tak memiliki kenangan dan tidak ingin diingat lagi.

Rasulullah Muhammad memperingatkan kita tentang masalah ini. Beliau berkata bahwa orang-orang akan mengikuti cara orang-orang sebelum mereka langkah demi langkah.[3]

Peringatan Rasulullah itu dapat ditafsirkan sebagai berikut: "Hati-hati! Berjalanlah seolah-olah kalian berada di atas ladang ranjau. Bersiaplah untuk semua ledakan yang mungkin akan terjadi setiap saat."

Dalam konteks ini, seorang penyair Turki Mehmet Akif Ersoy menggambarkan posisi seorang Muslim sebagai berikut:

Rasa malu terkelupas dan habis: di mana mana seperti tak berwajah
Betapa buruknya wajah yang diselubungi tirai tipis itu!
Tak ada kesetiaan, tak ada loyalitas untuk dijanjikan, tak ada tanda-tanda dari kata "kepercayaan",
Kebohongan lebih disukai, pengkhianatan diperlukan, kebenaran menghilang dari pandangan.
Hati yang tanpa ampun, perasaan yang rendah; keinginan yang menghancurkan
Makna dari tatapan itu mengalirkan penghinaan bagi hamba-hamba Allah.
Sungguh mengerikan, Tuhanku..., betapa mengejutkannya revolusi itu
Tak ada agama, tak juga iman yang tertinggal; agama hancur; imanpun lebur
Jika kebanggaan diabaikan, maka hati nurani akan dibungkam.
Jika merosotnya moral terus dilanjutkan, maka takkan ada kemerdekaan.[4]

Moralitas kekacauan dan kehancuran dapat dilihat tidak hanya di satu tempat saja, tapi ada di mana-mana. Begitu banyak sehingga mereka yang terganggu dengannya pun menjadi mati rasa dan tak menyadari diakibatkan efek radiasinya, benar-benar seperti dibungkam tanpa tau apa yang terjadi.

9. Ahlak Terpuji

Rasulullah pernah berkata: "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."[5] Allah telah memberikan karunia tak terbatas kepada kita sehingga kita pun memiliki kemampuan untuk terus berkembang. Sebagai manusia, kita dilengkapi dengan kecakapan dan kemampuan yang memberi pada diri kita potensi untuk bisa ditempatkan  di antara para penghuni Majelis Tertinggi (Mala-ul A'la). Penghargaan atas berkah dari Allah Subhânahu wa ta’âla adalah prasyaratnya, tidak hanya sebagai penghormatan kepada-Nya, tetapi juga sebagai penghormatan terhadap diri kita sendiri yang diberkahi dengan begitu banyak potensi tadi. Kitab-kitab Ilahi adalah suara dari pesan ini dan para Nabi adalah pembawa kebenaran yang paling teguh, sementara Sang Nabi Penutup ﷺ adalah mata rantai terakhir dari rantai emas ini yang menjadi bukti yang paling berkilau dari kebenaran dan Sultan yang paling istimewa dari akhlak yang luhur.

Al Qur’an menunjukkan kualitas terpuji dari Rasulullah dalam ayat: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur" (QS. Al-Qalam 68: 4) dan juga dalam ayat "(Agama kami) ini tidak lain adalah adat kebiasaan orang-orang terdahulu" (QS. Asy-Syu'arā’ 26: 137).

10. Perhiasan dari Kehidupan Dunia

Al Qur'an menunjukkan posisi harta dan anak-anak dalam kehidupan ini melalui ayat berikut:

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan duniawi, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu, serta lebih baik untuk menjadi harapan bagi kehidupan di surga (QS. Al-Kahfi 18:46).

Hiasan-hiasan itu berada di sisi dunia yang sementara, yang akan memudar, menjadi layu, memburuk, dan mengganggu. Oleh karena itu, pencapaian-pencapaian dalam kehidupan ini bukanlah sumber kebanggaan. Bahkan putra dan putri seseorang bukanlah sumber kebanggaan. Namun, jika hiasan itu diarahkan kepada Tuhan, mereka akan menjadi tak ternilai dan mencapai tingkat "amalan baik dan benar (berdasarkan keimanan) yang akan bertahan". Ketika mereka menjadi amalan baik dan benar, mereka akan muncul seperti pohon besar yang berbuah lebat di akhirat, karena mereka hanyalah benih di kehidupan yang kita jalani saat ini.

Al Qur'an memberikan kita prinsip-prinsip yang menentukan metode paling cocok untuk menangani isu-isu yang signifikan. Penyembuhan dapat ditemukan dalam "apotek hebat" Al Qur’an, dan dalam sistem yang dibangun oleh tangan Rasulullah yang menjanjikan dan diberkati. Sedangkan memberi perhatian pada panggilan luhur dari wahyu dan sunnah adalah sepenuhnya tentang pencarian pada karunia Ilahi.

11. Menjadi Manusia yang Penuh Kasih Sayang

Al Qur’an mengisyaratkan pada kita yang menghadapi berbagai masalah agar berlindung pada kasih sayang Allah Subhânahu wa ta’âla, sebagaimana dicontohkan dalam kisah Nabi Ayub as.[6] Berlindung dalam Rahmat dan kasih sayang-Nya berarti memohon pertolongan Ilahi dan Rahmat-Nya bagi jiwa kita sendiri, keluarga, anak-anak, dan kerabat. Ini juga berarti menyatakan kelemahan dan kerapuhan diri kita, serta menerima dan mengakui kemahakuasaan-Nya. Selain itu, belas kasih adalah jalan menuju Rahmat-Nya. Jika seseorang memiliki rasa kasih dan penyayang terhadap sesamanya, maka Tuhan pun akan menyayanginya. Jika kita sensitif terhadap degenerasi dan kerusakan moral, maka Allah Subhânahu wa ta’âla akan melindungi kita dari risiko seperti itu.

Rasulullah menyatakan:

Tunjukkanlah belas kasih dan pengampunan terhadap makhluk di bumi (khususnya anak-anak yang tak berdosa) sehingga penghuni langit (dan Tuhan) menunjukkan Rahmat bagimu.[7]

Kematian dan bencana yang sejati bukanlah hal yang disebabkan oleh kecelakaan biasa. Kematian dan bencana yang sejati terjadi ketika seseorang bersikap tidak peduli, tidak peka, dan sekarat dalam tataran hatinya. Bencana terbesar adalah ketidakmampuan untuk mengetahui adanya bahaya ‘kobaran api’ di dalam rumah, misalnya tidak mampu merasakan kerusakan akhlak yang terjadi pada anak.

Jika orangtua tidak menyadari adanya ‘kebakaran’ spiritual di dalam rumahnya sendiri, maka hal tersebut telah cukup menjadi kemalangan, kemalasan, dan kesesatan terbesar baginya. Tepatlah jika orang itu menangisi keadaan seperti ini siang dan malam; tetapi tentu saja menangis membutuhkan hati yang baik dan sehat.

12. Tingkat  Tertinggi Kemanusiaan (A’lâ-ya Illiyyîn-i)

Kemerosotan akhlak atau moral adalah bencana luar biasa. Oleh karena itu, kami percaya bahwa prinsip-prinsip akhlak dalam Al Qur'an adalah sumber penyembuhan bagi mereka yang menderita depresi.

Al Qur’an menunjukkannya dengan fakta sebagai berikut:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (QS. At-Tin 95: 4-5).

Ayat itu dapat ditafsirkan sebagai berikut: "Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk dan sifat terbaik, dan kemudian mendorongnya ke tempat yang paling rendah." Dengan kata lain," Kami menempatkan mereka dalam keadaan di mana mereka harus selalu berjuang melawan jiwa yang jahat, di mana mereka kadang-kadang terjatuh, tetapi mereka juga dapat melambung ke peringkat tertinggi kemanusiaan dengan sayap iman dan perbuatan baik. "

Ayat Al Qur’an itu melindungi kita di bawah sayapnya, menggenggam tangan kita, dan membawa kita ke derajat tertinggi kemanusiaan; ayat itu menyelamatkan kita dari kemerosotan akhlak, tempat paling rendah, ketidakberdayaan, dan kekakuan, menuju tempat yang paling tinggi. Kami akan mencoba untuk menyajikan pesan-pesan bercahaya dari Al Qur’an tentang masalah-masalah itu pada bab-bab berikutnya.



[1] Sahih al-Bukhari, “Anbiya” 50; “I’tisam” 14; Sahih Muslim, “Ilm” 6.

[2] Sang Sultan marah karena kesalahan yang dibuat oleh seorang arsitek Kristen dan memerintahkan agar dia dihukum. Pria itu menggugat Sultan dan – ia amat terkejut saat – hakim memutuskan bahwa Sultan telah melakukan ketidakadilan dan pantas dihukum. Mendengar keputusan itu, Sultan menghunus pedangnya dan mengatakan bahwa ia akan memenggal kepala hakim jika ia memutuskan perkara secara tidak adil dan mengutamakan Sultan. Menanggapi hal ini, hakim mengeluarkan tongkat kebesaran yang disembunyikannya dan menjawab bahwa ia akan memukul kepala sultan jika ia meminta untuk diutamakan.

[3] Sahih al-Bukhari, "Anbiya" 50; "I'tisam" 14; Sahih Muslim, "Ilm" 6.

[4] Ersoy, Mehmet Akif, Safahat, (vol. 7, hlm. 443-444), diedit oleh Ertugrul Düzdağ, İstanbul: Çağrı Yayinlari, 2008.

[5] Ibnu Abdilberr, At-Tamhid 16/254; Al-Bayhaki, As-Sunanu'l-Kubra 10/191.

[6] Lihat Al Qur’an Surah Al-Anbiya 21:83.

[7] at-Tirmidzi, "Birr" 16; Abu Dawud, "Adab" 58.

blog comments powered by Disqus