Cetak

Keluarga

Ditulis oleh Fethullah Gülen pada . diposting di Dari Benih Hingga Menjadi Pohon

Penilaian Pengguna:  / 0
JelekBagus 
Keluarga

1.  Bagaimanakah Keluarga itu?

Dalam bab sebelumnya telah dibahas tentang keluarga atau rumah tangga sebagai salah satu unit (lembaga) yang paling penting dalam masyarakat, juga tentang cara mematuhi prinsip-prinsip agama dalam sebuah keluarga. Untuk memastikan hasil terbaik, pembentukan keluarga harus diperhatikan dengan serius sejak awal, dan rencana yang baik sangat diperlukan sebelum memulai kehidupan pernikahan. Setiap usaha yang tidak dipertimbangkan secara serius dalam tahap perencanaan, dan yang tidak didasarkan pada pemikiran rasional, mungkin menghadapi masalah yang tidak dapat diatasi pada tahap-tahap selanjutnya.

Keluarga adalah unit terpenting dari setiap masyarakat. Jika unit ini kuat, maka bangsa dan negara akan menjadi kuat. Oleh karena itu, keluarga, yang menjadi dasar bangsa dan negara, tidak boleh menjadi sesuatu yang dimulai tanpa perenungan dan perencanaan sebelumnya; kelalaian apapun dalam hal ini akan diikuti kelalaian bagi keseluruhan bangsa. Oleh karena itu, kami percaya bahwa penekanan yang tepat harus diletakkan pada nilai penting sebuah keluarga. Sekali lagi kami ingin menegaskan keyakinan kami bahwa ikatan-ikatan yang tidak sah hanya akan mendatangkan luka bagi kesehatan sebuah masyarakat.

Sebuah keluarga yang dibangun atas dasar keinginan sepintas lalu atau kesenangan dan gairah sesaat, atau keluarga yang dibangun tanpa tujuan jangka panjang tidak akan memiliki masa depan. Keluarga seperti itu berpotensi menjadi sumber masalah. Lingkungan rumah semacam itu akan menyebabkan kelalaian dan anak-anak di dalamnya akan memiliki kecenderungan anti-sosial yang akan terus menghasilkan geng jalanan karena keluarga tersebut tidak dibangun sesuai rencana atau program yang dapat menimbulkan berkah dan kesuburan. Kami namakan rencana itu "pernikahan," dan di jalan menuju pernikahan, keegoisan dan keinginan sepele harus ditinggalkan. Akal budi, pikiran dan kalbu harus menjadi kekuatan yang dominan. Kami juga percaya bahwa memberikan nilai penting pada keyakinan agama sangat bermanfaat dalam pernikahan itu. Jika suami dan istri tidak memiliki hubungan dengan Allah Subhânahu wa ta’âla maka hanya ada sedikit kemungkinan anak-anak mereka akan memiliki pikiran yang sadar, berakal, pandai menyesuaikan diri, atau tenang; mereka mungkin juga tidak akan memiliki rasa tanggung jawab sepenuhnya. Ketika membangun keluarga, hasil positif itu sangat sulit untuk dicapai; jika sebuah keluarga berhasil melakukannya, maka itu adalah berkah yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Esa dan kita harus bersyukur kepada-Nya.

Sesungguhnya, segala sesuatu di alam semesta tempat kita tinggal ini terhubung dengan sebuah sebab. Dengan mempertimbangkan sebab-sebab dari semua hal, dengan berkah dan pertolongan Allah Subhânahu wa ta’âla, maka kita bisa meraih hasil yang kita inginkan dalam urusan kita. Jika kita mengabaikan sebab ketika kita mencoba melakukan sesuatu, upaya kita akan gagal memberikan hasil yang diinginkan. Oleh karena itu, jika kita tidak ingin menderita kerugian dan kegagalan, kita harus mempertimbangkan sebab-sebab dan latar belakang setiap masalah dengan sangat hati-hati, dan bahkan setelah itu, kita hanya bisa mengharapkan hasil positif dari Allah, menaruh seluruh kepercayaan kita dalam berkah-Nya. Ketika membuat keputusan, kepercayaan kita pada Tuhan Yang Maha Esa harus lengkap dan menyeluruh. Namun, sampai ke titik di mana kita, dengan kepercayaan penuh, menyerahkan masalah itu kepada Allah Subhânahu wa ta’âla, kita harus memastikan bahwa kita telah mengambil semua langkah yang diperlukan. Tanpa mengabaikan setiap titiknya, tindakan yang perlu dilakukan tersebut adalah semacam doa fisik. Penjelasan dari perilaku tersebut ditemukan dalam prinsip Islam "mengambil langkah-langkah yang diperlukan (asbab – sebab-sebab duniawi) bukanlah halangan untuk berserah diri (kepada kehendak Allah) – tawakkal". Kami meyakini pentingnya prinsip ini dalam membangun sebuah institusi yang penting seperti institusi keluarga.

Prinsip apapun yang berkaitan dengan masalah membesarkan generasi yang sehat hanya akan memiliki makna setelah seseorang mengerti perlunya membangun keluarga dengan cara yang dijelaskan di atas. Namun demikian, jika ada masalah dalam pembangunan dasar sebuah keluarga, setiap upaya untuk memecahkan masalah itu akan kehilangan efeknya sesuai dengan keseriusan masalah. Dalam keluarga yang dibangun dengan berkah dan ketulusan, yaitu keluarga yang dibangun di atas persatuan pria dan wanita yang berbudi luhur, pria dan wanita yang beriman, orang-orang yang melaksanakan tanggung jawab mereka, semuanya akan berjalan baik. Rumah itu seperti sebuah istana surgawi. Saya rasa tangisan anak-anak yang dilahirkan dalam keluarga seperti ini sama sucinya seperti tasbih malaikat kepada Allah Subhânahu wa ta’âla dan tangisan itu dianggap sebagai sebentuk doa.

Al Qur’an berfokus pada pria maupun wanita ketika membahas tentang masyarakat yang sehat dan berfungsi dengan baik. Hal itu menggambarkan sikap dan perilaku pria dan wanita dalam masyarakat yang sehat, sebagai berikut:

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar (QS. Al Ahzab 33:35).

Para pria dan wanita bersatu sebagai mukmin dan muslim dalam sebuah keluarga, unit terkecil dari masyarakat; mereka menaruh kepercayaan mereka kepada Allah Subhânahu wa ta’âla, berkomitmen dengan tulus dalam kehadiran-Nya dan dalam lindungan Ilahi. Setelah bersatu sebagai keluarga, mereka menghabiskan hidup mereka dalam doa dan senantiasa mengingat-Nya.

Ya, laki-laki dan perempuan siddik, yang kata-kata maupun perilaku mereka selalu benar ini tidak mungkin tindakan mereka berlawanan dengan yang mereka katakan dan tidak pula kata-katanya berkebalikan dengan tingkah lakunya. Dalam keluarga yang demikian, semuanya teratur dan semuanya seperti yang terlihat. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga seperti ini akan selalu berperilaku baik, melihat orangtua mereka sebagai panutan. Lingkungan keluarga dan perilaku orangtua adalah cermin di mana anak-anak dapat melihat diri mereka sendiri. Ketika mereka meniru orangtua mereka, mereka berperilaku sebagaimana mestinya; mereka menyaksikan bahwa tidak ada perilaku atau kata-kata yang bertentangan dengan realitas. Apa pun yang terjadi dalam keluarga itu selalu benar karena pria dan wanita yang siddik(benar) yang berada di pusatnya.

Wanita-wanita yang sabar dan laki-laki yang sabar itu adalah hamba-hamba yang selalu mementingkan ketaatan dalam ibadah, yang menahan lisannya dari keluhan saat  memikul beban dan cobaan yang mungkin mereka hadapi. Wanita dan pria ini akan selalu berketetapan dalam menjaga dirinya dari dosa dan menjaga diri dengan sikap iffah, mereka yang menganggap pula melakukan kejahatan sama halnya dengan melewati gerbang neraka ini akan memiliki pengaruh yang besar, tidak hanya pada anak-anak mereka tetapi juga pada lingkungan sosial mereka. Kode etik mereka akan memiliki efek yang sangat besar sehingga saya pikir perilaku teladan mereka akan lebih banyak berarti daripada kata-kata mereka.

Suasana keluarga yang dihasilkan akan menjadi lingkungan di mana anak-anak akan memiliki rasa hormat yang berlimpah kepada Allah dengan pengabdian, kelembutan, ketenangan dan perhatian. Keluarga itu akan menjadi  lingkungan di mana kekaguman kepada Allah terus dirasakan, di mana anggota keluarga melaksanakan tanggung jawab mereka dengan sebaik-baiknya kemampuan mereka, menyadari takdir luar biasa yang menunggu mereka. Dalam lingkungan seperti itu, akhirat diingat setiap saat. Di rumah seperti ini yang selalu dilihat oleh anak-anak adalah keseriusan, kehormatan, kehati-hatian dan kesensitifan. Di keluarga seperti ini, terpancar kekhawatiran yang lembut, yang diikuti oleh sebuah kemanisan di wajah anak-anak dalam keluarga tersebut, kita dapat melihat dalamnya keceriaan dari perasaan kecintaan yang dalam pada Allah dan harapan akan kerinduan akan surga pada wajah-wajah itu. Anak-anak yang melihat hal-hal seperti itu dalam keluarga mereka akan tumbuh dengan rasa nyaman terhadap diri mereka sendiri, tetapi juga tetap berhati-hati dan penuh keyakinan; mereka bahagia tetapi juga berpandangan jauh ke depan. Mereka akan menikmati hidup mereka, namun pada saat yang sama, mereka akan tumbuh sebagai orang dengan harapan untuk masa depan.

Mengapa di dalam sebuah rumah semangat untuk melakukan kebaikan harus bersifat amat terbuka, di rumah tersebut harus terdapat laki-laki yang suka bersedekah dan wanita yang juga suka bersedekah. Begitu pentingnya keberadaannya agar semangat bermurah hati pada anak-anak akan timbul. Jika kita, sebagai orangtua, tidak murah hati, anak-anak kita tidak akan memiliki contoh tentang artinya bermurah hati. Saya pernah mengalami situasi yang sangat menarik: Sepasang suami istri terus memberi sesuatu untuk beramal, tapi mereka menyembunyikannya dari satu sama lain. Yang satu tidak memberi tahu yang lain tentang sumbangan mereka. Satu hal yang pasti, mereka berdua adalah orang yang dermawan. Anak yang dibesarkan dalam keluarga seperti ini akan memiliki kesempatan untuk menjadi orang yang baik hati, seperti orangtuanya.

Sebuah keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang keduanya berpuasa seperti yang ditentukan Allah (tidak hanya berlapar-lapar sepanjang hari, tetapi juga menahan diri dari segala macam kesalahan dan dosa), dan masyarakat atau bangsa yang dibangun dari keluarga-keluarga seperti itu adalah kandidat penghuni dimensi lain dari perdamaian dan keamanan yang akan hadir di masyarakat.

Di samping sifat-sifat yang telah disebutkan di atas, setiap anggota keluarga yang taat haruslah dengan kesadaran penuh dan berhati-hati dalam menjaga kesetiaan, kehormatan dan kemurnian hubungan mereka. Saat mereka hidup, mereka hidup untuk keyakinan (agama) dan kehormatan harga diri mereka. Orang-orang seperti inilah yang akan mampu mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Struktur keluarga yang dirajut oleh dua mahluk, yaitu laki-laki dan wanita yang mendasarkan kepatuhannya pada Al Qur’an, maka pintalan yang mereka buat adalah dua benang paling suci dari semua kain. Jika dalam keluarga ada cinta untuk bangsa, anak-anak dan cucu-cucu akan mewarisi semangat yang sama, yang akan meresap ke dalam ruang keluarga. Solidaritas dan keselamatan sosial bergantung pada pewarisan semangat ini dan keberlangsungannya dalam diri semua anggota keluarga, yang juga merupakan semua bagian masyarakat. Semua sistem lain yang mengabaikan fakta ini tidak lebih dari sekedar fantasi.

Sekarang mari kita lihat masyarakat, pernikahan, keluarga, dan semua hal yang dapat membangun rumah tangga yang bahagia dari perspektif yang berbeda.

2. Mempunyai Anak

Ketika masalah memiliki anak dilihat dari sudut pandang ketetapan Ilahi (kitab suci – nass), terlihat jelas bahwa ada keinginan dalam Al Qur’an untuk menghadirkan lebih banyak generasi yang dicintai dan diridhai Allah Subhânahu wa ta’âla. Semua nabi, orang-orang suci dan orang-orang bijaksana lainnya juga menyatakan keinginkan mereka agar ada lebih banyak orang yang taat, dan mereka telah mengembangkan sistem untuk mengupayakan tercapainya keadaan ini.

Dalam Al Qur’an, kita diingatkan pada Nabi Zakaria yang memohon kepada Allah:

Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa" (QS. Al-Imran 3:38).

Jika kita pelajari permohonan itu, kita dapat melihat bahwa Zakaria tidak hanya mengharapkan "keturunan," melainkan menekankan pada diksi "keturunan yang baik." Di sini dapat kita lihat bahwa menginginkan "keturunan yang baik" adalah sesuatu yang menyenangkan Tuhan, menyenangkan Nabi, dan membuat sang ayah bahagia. Mengharapkan hal seperti itu berarti mengharapkan seorang anak yang akan membuat kontribusi penting untuk masyarakat juga. Ketika membangun Ka'bah dengan putranya, Ismail, Nabi Ibrahim a.s. memohon kepada Allah Subhânahu wa ta’âla sebagai berikut:

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan jadikanlah di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS. Al Baqarah 2: 128).

Fakta bahwa Kebanggaan Kemanusiaan, Nabi Muhammad ﷺ dan ratusan Nabi lainnya datang dari garis keturunan mereka adalah indikasi bahwa doa ini dikabulkan. Semua pengikut Nabi yang taat dan beriman juga berdoa kepada Allah Subhânahu wa ta’âla, mengharapkan keturunan yang murni dan taat:

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Furqan 25:74).

Keinginan untuk mendapatkan keturunan yang baik dan saleh sebagai bagian dari membangun sebuah keluarga dapat dilihat dalam banyak ayat dan hadis lainnya. Dalam semua doa dan permohonan itu, kemurnian, kepolosan, kesucian, ketiadaan dosa, pengabdian, dan kepercayaan dari generasi penerus sangat ditekankan. Oleh karena itu, masalah utama mengenai keluarga bukanlah jumlah anak, melainkan nilai masing-masing anak tersebut di hadapan Allah Subhânahu wa ta’âla, berikut pula kedalaman keyakinan mereka dan penyerahan diri mereka sebagai pondasi imannya.

3. Tugas Ayah sebagai Kepala Keluarga

a) Beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum kelahiran anak: Beberapa hal ini terkait dengan persiapan bangunan rumah, nutrisi (makanan-minuman), pakaian, dan kebutuhan materi yang lain untuk anak.

b) Pengasuhan dan tarbiyah: Merencanakan memberi nama yang baik bagi anak, penyusuannya, serta penyelenggaraan nafkah dan tarbiyah bagi anak kelak setelah lahir sesuai dengan tahapan perkembangan dan usianya kelak.

c) Memiliki rasa tanggung jawab dalam pemberian tarbiyah pada anak.

d) Menjadi orang dewasa di dalam lingkungan rumah yang menjadi teladan baik bagi anak sebagai generasi muda dan melakukan internalisasi nilai-nilai akhlak Islam dalam keluarga.

Sekarang, mari kita telaah poin-poin di atas secara terperinci satu-persatu.

a) Beberapa Hal yang Harus Dipersiapkan sebelum Kelahiran Anak

a.a. Benih yang Bersih

Menaburkan benih di tanah yang subur, menyediakan udara segar, cahaya yang cukup, air murni, dan memberikan perhatian serta perawatan yang dibutuhkan saat tumbuh sangat penting untuk tumbuh kembang tanaman apapun. Dengan cara yang sama, menyediakan benih yang bersih adalah prasyarat penting untuk perkembangan generasi muda yang sehat. Hadis Nabi yang dikutip dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim menegaskan pandangan ini. Nabi pernah berkata: "Dia yang berdosa tidak beruntung sejak dalam kandungan; dia yang disucikan sudah beruntung sejak dalam kandungan."[1]

Sampai saatnya tiba ketika akan diputuskan apakah seorang anak beruntung atau tidak, semua langkah antisipasi harus diambil. Sejak saat bertemunya sel telur dan sel sperma yang akan tumbuh menjadi seorang anak, maka zat makanan yang akan didapatkan oleh sang anak akan tergantung pada perilaku ibunya, sikap ayah dan ibu sebelum, selama, dan setelah pembuahan adalah faktor-faktor penting yang menentukan masa depan anak; faktor itulah yang berperan menentukan apakah anak akan termasuk dari golongan manusia yang cenderung pada dosa atau tidak.

Perlu diingat bahwa tidak ada takdir yang akan ditetapkan tanpa pertimbangan dari iradah dan perilaku kita sendiri. Cara kita berperilaku, langkah yang kita ambil, dan semua yang terlibat dalam langkah-langkah itu diketahui oleh Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Sebagai tambahan, kehendak dan keinginan kita juga akan dipertimbangkan, dan semuanya akan diatur sesuai dengan hal itu. Ada banyak anak yang kurang beruntung sejak mereka dilahirkan karena lingkungan keluarga tempat mereka lahir dan orangtua yang membesarkan mereka. Dalam beberapa kasus, dengan Rahmat dan berkah-Nya, Allah Subhânahu wa ta’âla menyelamatkan mereka dan mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik dan menyenangkan.

Awal dari segala sesuatu adalah saat benih ditaburkan, yaitu saat pembuahan. Peran makanan haram dan dosa orangtua tidak dapat diremehkan dalam menentukan sifat anak. Jika benih ditaburkan tanpa nama Allah disebutkan, maka hasil dari kehamilan tersebut apakah akan baik atau tidak hanya akan bergantung pada kasih sayang Allah. Mengharapkan hasil positif dari awal yang buruk sangatlah tidak realistis. Namun, bukan berarti hal itu tidak mungkin terjadi. Seperti Ikrimah, yang dilahirkan dalam keluarga Abu Jahal, terkadang orang yang beriman mungkin datang dari keluarga dengan gaya hidup yang penuh dosa.

Ayat berikut dalam Al Qur'an menunjukkan bahwa, sementara di satu pihak, beberapa keinginan orangtua sebelum kelahiran dapat menjadi kenyataan, di saat yang sama orangtua harus terus berharap dan berdoa untuk kehadiran anak yang sholeh:

Kemudian tatkala dia merasa berat (dengan anak), keduanya (suami istri) memohon kepada Allah, Tuhannya, seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur" (QS. Al-A'raf 7: 189).

b.b. Halalnya Setiap Suapan Makanan

Sebagaimana setiap orang harus amat berhati-hati pada kehalalan rezeki bagi dirinya maka salah satu kewajiban orangtua juga adalah berhati-hati tentang kehalalan, ke-thoyiban dan kebaikan dari makanan yang akan diberikan pada anak-anaknya. Seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya, jika seorang Muslim hanya mampu menyediakan makanan yang tidak didapatkan dengan cara yang sah atau dilarang oleh agama atau makanan yang diragukan kebaikannya (syubhat) bagi calon anggota keluarganya, maka bagi orang itu, pernikahannya dilarang (haram) atau tidak dianjurkan (makruh). Tidak seorang pun memiliki hak untuk memberi makan orang lain dengan makanan yang haram.

Oleh karena itu, kita berkewajiban menyediakan rezeki yang didapatkan secara sah serta makanan yang halal untuk anak-anak dan anggota keluarga lainnya yang pengasuhan dan perawatannya berada di bawah tanggung jawab kita. Fakta bahwa banyak orang lain menyantap makanan haram atau keji bukanlah sebuah pembenaran bagi kita untuk juga melakukan hal yang sama. Bahkan ketika waktu terus berjalan, ketika masyarakat di sekitar kita mulai terbiasa mengadopsi praktik-praktik baru dan kebanyakan orang mulai bertindak dengan cara-cara ilegal, kita tetap tidak boleh memberi makan anak-anak kita dengan makanan haram. Ingatlah bahwa setiap rezeki yang diperoleh dengan cara yang tidak halal atau anak yang kita besarkan dengan makanan seperti itu dapat menimbulkan kesulitan dan musibah yang besar bagi diri kita sendiri suatu hari nanti, seperti bara zakkum dan bisa pula berupa muntahan darah dari siksa api neraka.

Jika kita telah terlebih dahulu sepenuhnya melaksanakan kewajiban ini maka kita bisa berharap calon anak kita di masa depan akan dapat menjadi hamba taat yang terlindungi. Namun, jika rezeki, makanan, minuman, dan pakaian kita, semuanya diperoleh dengan cara yang tidak halal dan hidup kita tenggelam dalam hal-hal yang dilarang agama, maka seolah kita telah menghapus kemungkinan bagi anak kita sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.

Jika kita hidup dengan makanan dan minuman yang diperoleh dengan cara yang tidak halal, itu berarti kita sendirilah yang membuka dunia ruhani kita pada serbuan setan. Dalam sebuah hadis diriwayatkan: "Setan mengalir dalam pembuluh darah manusia bersama aliran darah mereka"[2]. Hal ini menunjukkan bahwa kejahatan mengalir dalam pembuluh darah manusia, mencemari sel darah merah dan putih, menginfeksi anak dan keturunan kita.

Untuk melindungi janin dari kontaminasi tersebut, perawatan bayi, makanan, minuman, dan pakaiannya harus disediakan dengan jalan yang halal. Sejak awal pertama kehadirannya, janin tidak boleh diberi makan dengan makanan yang didapatkan dengan cara yang tidak halal, tidak boleh diberikan minuman yang diperoleh dengan cara yang sama, dan tidak boleh diberi pakaian yang didapat dengan cara yang ilegal.

Sebuah hadis Nabi memberi kita contoh tentang seorang pria yang mengunjungi

Ka'bah dan mengucapkan kata-kata yang diberkati labbaik Allahumma labbaik (kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah, kami akan laksanakan perintah-Mu); tetapi pada saat yang sama, ia mengenakan pakaian yang diperolehnya dengan cara tidak halal dan perutnya diisi dengan makanan haram. Jawaban yang akan ia terima dari Tuhan adalah "La labbaika wa la sa’daik" ("la"dalam bahasa Arab berarti "tidak"),[3] dan doanya ditolak.

Kita seharusnya tidak membiarkan sehelai atau satu inci pun bahan yang haram ditemukan di pakaian kita. Seandainya kita memakai bahan yang haram dalam pakaian kita tanpa menyadarinya, kita harus segera berlindung kepada Allah Subhânahu wa ta’âla  dan terus-menerus bertakwa kepada-Nya dalam hati kita. Perlu dipahami dengan jelas bahwa setiap benih yang kita tabur dapat berubah menjadi pohon zaqqum[4] yang beracun atau sebaliknya menjadi pohon yang besar dan berguna, yang memberi kontribusi untuk kebahagiaan manusia, tetap hidup selama beberapa generasi, dan membantu membangun bumi kembali. Akarnya menghunjam jauh ke dalam bumi, cabang-cabangnya menjulang tinggi ke langit, memberikan keteduhan dengan daun-daunnya dan buah-buahan untuk makanan kita.

b) Pendidikan dan Tarbiyah

Sesuai dengan anjuran Rasulullah ﷺ, salah satu tanggung jawab pertama orangtua adalah memberi nama yang baik dan bermakna bagi anak-anak mereka. Rasulullah Muhammad ﷺ menekankan pentingnya pemberian nama yang baik untuk anak-anak. Beliau pernah berkata: "Berikan nama-nama para Nabi. Nama-nama yang paling menyenangkan di hadapan Allah yang Maha Kuat dan Maha Tinggi adalah Abdullah dan Abdurrahman. Nama-nama yang paling jujur adalah Hâris (secara harfiah berarti yang membawa keuntungan dan yang mendapatkan Surga) dan Humâm (teguh berjuang dan tegas). Nama-nama yang paling buruk adalah Harb (perang, kekerasan) dan Murrah (pelit, kekejaman)."[5] Beliau juga menghapuskan nama-nama seperti "Âsiya"(yang membawa kesia-siaan) yang mengandung pula makna pemberontakan dan permusuhan serta menggantinya dengan "Jamila" yang berarti cantik.[6]

Setelah pemberian nama, yang harus diperhatikan adalah proses menyusui dan semua hal fiqih yang berkaitan dengannya[7] dan setelah masa menyusui itu selesai, masalah penyediaan kebutuhan nafkah dan tarbiyah anak juga harus dipecahkan.

Setiap anak dilahirkan dengan fitrah yang bersih.[8] Bayi yang baru lahir seperti selembar kertas kosong. Kita bisa menulis apa pun di atas lembar kosong ini namun, yang terpenting adalah Kita hanya boleh menuliskan hal-hal yang menyenangkan Allah saja. Ini berarti Kitalah yang memelihara dan menumbuhkan sifat baik yang mungkin ada dalam diri anak. Kitalah yang merajut kepribadian anak itu. Rajutannya haruslah segala sesuatu yang akan berharga bagi Para Malaikat, apapun yang akan menjadi kebaikan di Padang Mahsyar kelak, dan apapun yang mengindikasikan kebaikan yang akan diberikan dari sebelah kanan di akhirat nanti. Yang kita ajarkan adalah rajutan kebajikan yang harus sejalan dengan garis yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.

Masa ‘menulis’ dan ‘merajut’ pada kertas kosong milik anak yang menjadi tanggung jawab orangtua ini, harus dituliskan dengan tinta yang tak bisa terhapuskan dan ditanamkan agar mengendap selamanya dalam jiwa anak. Ya, setiap pasangan yang memiliki anak harus mencurahkan waktu di setiap harinya untuk merawat dan mendidik anak-anak mereka. Kita akan membahas aspek-aspek lain dari pengasuhan dan pendidikan ini dalam bab-bab berikutnya.

Keluarga adalah sekolah pertama dan akademi pertama bagi pendidikan dan tarbiyah atas seorang anak. Waktu yang diluangkan oleh seorang Ayah dan Ibu bagi pendidikan dan tarbiyah untuk anak-anaknya haruslah menjadi prioritas, sebagaimana mereka pun harus meluangkan waktu untuk kewajiban-kewajiban individualnya seperti salat, mengaji dan berdzikir. Mereka harus lebih mencurahkan waktu untuk kegiatan ini daripada mengejar kewajiban pribadi mereka. Tugas penting dalam tarbiyah anak-anak adalah untuk mengajarkan tentang keberadaan Allah Subhânahu wa ta’âla dan menanamkan kepercayaan kepada Allah di hati anak-anak, sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman mereka. Hal ini adalah lebih penting daripada kepemilikan materi atau menjalankan tugas pribadi orangtua sebagai individu. Oleh karena itu, jika Anda memilih  pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, namun meninggalkan seorang anak yang pada akhirnya menjadi tak beriman, maka tugas sebagai orangtua akan memanggil Anda kembali seraya berkata: "Ke mana kau akan pergi, meninggalkan tugas sepenting dan segenting ini?"

Selain itu, seorang ayah harus mengajarkan kepada anaknya keyakinan dan semua aspek baik tentang ajaran agama Islam maupun kemampuannya dalam berbangsa-bernegara. Seorang ayahlah yang harus mengajarkan tentang baca-tulis sebagaimana juga membaca Al Qur’an, bahkan keterampilan fisik seperti mengendarai kuda/kendaraan, berenang dan memanah, tentu saja semua ketrampilan ini disesuaikan dengan zamannya masing-masing. Ia tidak boleh mengajarkan olahraga yang hanya untuk mendapatkan kekuatan otot dan energi bagi otak anak saja, melainkan semua jenis olahraga yang berguna untuk menjalani hidup sehat dan yang berfungsi sebagai semacam pengenalan dan persiapan bagi anak untuk masa depannya.

c) Rasa Tanggung Jawab dalam Tarbiyah

Menggarisbawahi pentingnya tanggung jawab dalam pengasuhan, Imam Zainal Abidin membuat penyataan berikut ini dalam bukunya yang berjudul Al-Risalat al-Huquq: "Ketahuilah bahwa karena anak tersebut adalah anakmu, maka kebaikan atau kejahatan (yang berasal darinya) akan kembali pula kepadamu."

Sebelum Beliau meninggal, Nabi Muhammad ﷺ, diberikan kemampuan untuk menyadari bahwa kematiannya sudah dekat. Ketika Beliau merasakan bahwa kepergiannya dari dunia ini sudah dekat, beliau tiba-tiba berkata kepada para Sahabatnya: "Ada seorang hamba di antara hamba-hamba Allah yang kepadanya Allah menawarkan pilihan antara dunia ini dan apa yang ada di sisi-Nya(akhirat), dan hamba itu memilih akhirat." Abu Bakar r.a. yang memahami makna perkataan itu berkata: "Kami akan menebusmu dengan ayah dan ibuku, ya Rasulullah!" dan kemudian ia mulai menangis.[9] Ia cepat memahami bahwa orang yang harus memilih antara dunia ini dan akhirat itu tak lain adalah Rasulullah. Selain itu, dalam khotbah beliau pada Haji Terakhir Beliau (Haji Wada’), Nabi berkata: "Segera mereka akan bertanya kepadamu tentang aku; apakah aku melakukan tugasku menyampaikan pesan Islam dengan baik? Maka apakah yang akan kalian katakan?" Beliau bertanya seperti ini, karena meskipun Beliau telah melakukan tugas penting, beliau khawatir apakah dirinya telah melakukannya dengan benar. Namun, hasil telah menjadi bukti bahwa tidak ada keraguan tentang bagaimana Beliau telah melakukannya. Semua orang yang hadir berseru dengan satu suara, dan kata-kata berikut terdengar di seluruh sudut di tempat itu: "Engkau telah melakukan tugasmu, Engkau sudah menyampaikan kenabianmu dan Engkau telah pula memenuhi tanggung jawabmu dengan baik." Kemudian, Nabi ﷺ mengangkat jarinya ke langit dan berkata: "Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah!"[10]

Rasulullah ﷺ memenuhi tanggung jawab penting yang meliputi seluruh komunitas Muslim. Beliau berbicara tentang tanggung jawab ini dengan kekhawatiran yang sangat dalam dan meminta kesaksian dari para Sahabat. Sekarang, kita dapat mengajukan pertanyaan berikut kepada anak-anak yang berada di bawah tanggung jawab kita, anak-anak yang kita besarkan: "Mereka akan bertanya padamu tentang aku. Bagaimana kau akan menjawabnya?" Apakah kita yakin dengan jawaban mereka? Bisakah kita berharap mereka akan menjawab "Ya, Ayah/Ibuku sudah memenuhi tugas itu"? Jika jawabannya adalah "tidak", maka kita berada dalam masalah besar. Mengenai masalah ini, ulama besar Imam Zainal Abidin mengingatkan kita bahwa "Engkau akan ditanya di hadapan Allah Subhânahu wa ta’âla tentang bagaimana engkau telah memenuhi tanggung jawab terhadap anak-anakmu." Kemudian, sambil bergetar beliau berdo’a kepada Allah: "Tolonglah hambamu ini untuk mengasuh, mendidik, dan melakukan perbuatan baik bagi anak-anakku." Sesungguhnya tugas terpenting dan terberat bagi seseorang adalah membuat keluarganya merasakan sukacita keabadian kelak dengan cara mengangkat mereka ke tingkat tertinggi sebagai seorang hamba dalam kesempurnaan di akhirat nanti.

Kadang-kadang kita membeli hadiah untuk anak-anak kita dan berusaha menyenangkan mereka. Mereka selalu berada dalam pikiran kita, bahkan ketika kita sedang menunaikan ibadah haji, saat kita mengunjungi Ka'bah, atau berada Raudhah Nabi sekalipun. Saat kita sedang menunaikan tugas yang paling suci dan paling penting pun ingatan tentang anak-anak akan selalu menghias benak kita. Sebenarnya cara yang paling ideal sebagai hadiah bagi anak-anak yang amat kita cintai itu adalah dengan memberikan dalam diri adab-adab Islamiyah dan adab Muhammad ﷺ. Hadiah yang akan menjadi sebab bagi kebahagiaan abadi mereka di akhirat ini sebagaimana sebuah karunia yang tidak bisa dibandingkan dengan hadiah apapun. Dalam hal ini, Nabi berpesan: "Perlakukanlah anak-anakmu dengan baik dan asuhlah mereka dengan bijak."[11] Mengasuh dan membesarkan anak dengan menghidupkan kembali dan mengikuti cara Nabi adalah hadiah paling berharga yang dapat kita berikan pada seorang anak.

d) Menjadi Teladan yang Baik

Tentu saja, semua orangtua yang beriman berniat untuk membesarkan anak-anak mereka menjadi anggota masyarakat ideal yang sehat dan sempurna, sebuah kerangka yang didefinisikan menurut prinsip-prinsip Al Qur’an. Namun, ketika niat orangtua ini tidak tercermin dalam kehidupan sehari-hari atau ketika niat itu tidak didukung dengan ibadah ritual seperti doa harian, haji, puasa, dan sedekah, maka apa pun yang orangtua katakan tidak akan berpengaruh pada anak-anaknya. Jika kata-kata orangtua tidak didukung dengan tindakan yang baik atau jika tindakan itu tidak dipandang lebih efektif daripada kata-kata, maka sekali lagi, apa pun yang orangtua katakan tidak akan berpengaruh pada anak-anak. Orangtua bahkan mungkin mendapati kata-kata mereka memiliki efek yang berlawanan dengan apa yang mereka maksudkan. Orangtua yang menginginkan kata-kata mereka berpengaruh pada anak-anak harus terlebih dulu mencerminkan prinsip-prinsip dan praktik-praktik yang ingin mereka tanamkan pada anak-anak dengan kesensitifan terbaik dalam kehidupan mereka sendiri sepenuhnya; hanya setelah itulah, mereka bisa berharap anak-anak mereka akan melakukan hal yang sama.

Dalam hal ini, saya ingin menceritakan sebuah kisah yang berkaitan dengan Imam Abu Hanifah atau yang dikenal pula sebagai Imam A’zam, yang menyoroti masalah ini:

Pada masa itu ada seorang anak yang alergi terhadap madu. Walaupun telah berpuluh kali dinasehati agar tidak minum madu, namun anak itu masih saja terus diam-diam meminum madu. Suatu hari dibawalah anak tersebut ke hadapan Imam Abu Hanifah dan dilaporkanlah kepada beliau perihal kondisi anak tersebut: "Anak ini terus minum madu, meskipun kami sudah melarangnya berulangkali." Abu Hanifah meminta orang tuanya membawa anak itu pergi dan kembali lagi ke tempat beliau setelah empat puluh hari kemudian. Setelah lewat empat puluh hari anak itu kembali dibawa menemui Abu Hanifah. Sang Imam kemudian berbicara dengan anak itu dan mengatakan kepadanya bahwa ia seharusnya tidak boleh makan madu. Ketika hendak pulang, sang anak mencium tangan ayahnya dan berjanji untuk tidak makan madu lagi. Orang-orang yang hadir bertanya kepada sang Imam: "Mengapa tidak Anda katakan hal itu kepadanya ketika kami membawanya untuk pertama kali; mengapa Anda membuatnya menunggu selama empat puluh hari?" Abu Hanifah kemudian menjawab mereka: "Pada hari ketika kalian membawa anak itu kepadaku, aku baru saja menikmati madu. Jika kukatakan padanya untuk tidak melakukan sesuatu sementara aku melakukannya, saranku mungkin tidak akan memiliki efek apapun. Aku perlu waktu empat puluh hari untuk membersihkan tubuhku dari madu dahulu barulah setelah itu aku bisa memberi saran pada anak itu."

Ternyata begitu pentingnya bahwa di samping kata-kata yang benar, diperlukan pula tindakan atau perilaku yang benar juga. Pertentangan apa pun antara kata-kata dan perilaku kita akan menggoyahkan kepercayaan anak-anak kepada kita. Jika anak Anda mendapati Anda telah berbohong atau melihat kontradiksi antara kata-kata dan perilaku kita walau hanya sekali saja, maka itu cukup untuk membuat mereka menganggap Anda sebagai orang yang tidak dapat diandalkan. Seiring berjalannya waktu, kontradiksi atau kebohongan ini akan muncul dari alam bawah sadar ke permukaan setiap kali kita melakukan sesuatu yang membuat anak merasa sedikit tidak nyaman. Lalu, anak itu akan memandang kita sebagai orang yang tidak jujur dan kata-kata kita tidak akan berpengaruh pada dirinya. Yang sangat penting adalah tindakan kita harus dilakukan sedemikian rupa sehingga anak-anak memandang kita sebagai malaikat di rumah, alih-alih sekedar menjadi ayah atau ibu yang fana. Mereka harus melihat keseriusan, pengabdian, kehati-hatian, serta kemauan orangtua mereka untuk mendengar, dan mereka harus memiliki kepercayaan penuh pada orangtua mereka. Orangtua yang berhasil mengajarkan perasaan dan pikiran seperti itu adalah guru dan muallim yang paling sukses bagi anak-anaknya.

4. Tanggung Jawab Orangtua

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang menjadi kesibukannya dan termasuk keluarga dan anak-anak yang berada di bawah tanggungan mereka. Semua tindakan yang dilakukan untuk menjaga, melindungi, dan merawat mereka yang menjadi tanggung jawab seseorang akan dicatat sebagai amalan baiknya. Kegagalan dalam hal ini pun akan dicatat sebagai kesalahan.

Rasulullah ﷺ pernah mengatakan hadis berikut yang dikutip dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim:

“Ketahuilah, setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memimpin manusia akan bertanggung jawab kepada rakyatnya, seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan ia bertanggung jawab terhadap mereka semua, seorang wanita juga pemimpin di rumah suami dan anak-anaknya, dan ia bertanggung jawab terhadap mereka semua, seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atas harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya.”[12] 

Hadis berikut juga relevan dengan masalah yang kita bahas di sini, menegaskan bahwa seorang anak dipercayakan kepada kita sebagai amanah bagi kita: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan Islami (fitrah).[13] Kedua orangtuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Nasrani, seorang Yahudi atau Majusi."[14]

Setiap anak sebenarnya lahir dengan kemampuan bawaan murni dan potensi untuk menjadi apa saja. Anak tersebut kemudian dipercayakan kepada orangtua yang bertanggung jawab untuk mengembangkan lebih jauh potensi dirinya. Itu berarti bahwa pengasuhan dan tumbuh kembang anak diserahkan kepada orangtuanya. Di kemudian hari dalam kehidupan mereka, anak bisa menjadi seorang Kristiani, seorang Yahudi, atau penganut Majusi, mengikuti jejak orangtuanya. Kita harus tunjukkan di sini bahwa beberapa anak mungkin – terlepas dari orientasi keagamaan orangtua mereka atau orientasi keagamaan lingkungan sosial mereka – menjadi seorang ateis atau seseorang yang murtad. Oleh karena itu, religiusitas dan kesalehan orang tua sangat penting untuk membesarkan anak-anak. Demikian pula dalam hal pembinaan generasi, sebagaimana  ketakwaan sebagai dasar untuk mengasuh dan mendidik anak-anak sangatlah penting.

Fakta menunjukkan bahwa bagi anak-anak yang memang pada dasarnya siap dan berbakat untuk menjadi apapun setelah kedatangannya ke dunia ini, jika kita tidak membesarkan mereka sesuai dengan nilai-nilai budaya dan nilai-nilai keimanan kita sendiri, maka pada akhirnya mereka pasti tumbuh menjadi pribadi yang asing bagi kita. Sehingga tanpa disadari kita bisa jadi menjadi ayah dari seseorang yang murtad. Oleh karena itu, untuk mencegah agar anak-anak kita tidak terasing, kita harus mengajarkan esensi keimanan kita kepada mereka dan menanamkan nilai-nilai intinya dalam diri mereka. Di kebun buah-buahan dan sawah sawah milik kita, kita mencoba memaksimalkan hasil panen dengan menggunakan semua teknologi terbaru untuk melindungi tanaman dan pohon-pohon tersebut. Lalu, apakah anak-anak kita tidak lebih berharga dibandingkan pohon-pohon itu? Sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip kita, apakah mereka lebih tidak berharga daripada kayu, tanah atau batu? Satu-satunya kebaikan yang dapat digunakan oleh anak-anak kita untuk melawan dua keburukan yang melanda mereka, yaitu pengkerdilan rasa kepedulian yang membuat mereka meremehkan segala sesuatu, dan usaha perusakan moral yang semakin merajalela; adalah nilai-nilai baik yang diberikan oleh orang tuanya.

Jika kita tidak terlibat secara konstruktif dalam tarbiyah anak-anak kita, mereka akan jatuh di bawah pengaruh orang lain dan berada dalam bahaya pengrusakan yang amat besar. Tanpa intervensi positif dari orang tua, atau jika mereka sampai terjatuh di bawah pengaruh orang lain, maka anak-anak kita akan berada dalam bahaya degenerasi. Orangtua masa kini sudah terlalu sibuk dengan urusan duniawi sehingga seringkali membuat mereka benar-benar mengabaikan anak-anaknya. Tidak ada masa lain yang bisa menandingi tingkat pengabaian kita terhadap anak-anak seperti cara mereka diabaikan pada zaman ini.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Zainal Abidin r.a., Nabi pernah mengatakan hal berikut ini: "Kasihan sekali anak-anak ketika tiba saatnya dunia ini berakhir, dikarenakan nenek moyang mereka!" Setelah mendengar pernyataan ini, salah satu Sahabat bertanya:

"Apakah mereka dikarenakan nenek moyang mereka musyrik sehingga kemudian keturunannya hancur?"

"Tidak, nenek moyang mereka mukmin dan telah mengorbankan (menghancurkan) mereka," jawab Nabi.

Sahabat itu bertanya lagi: "Bagaimana itu bisa terjadi, ya Rasulullah?"

"Nenek moyang (ayah-ayah) mereka tidak mengajarkan prinsip-prinsip dasar agama sebagai warisan bagi mereka," kata Rasulullah ﷺ.

Hadis itu dapat ditafsirkan sebagai berikut:

Atas nama dunia yang hanya sementara dan pendek ini, manusia telah meninggalkan ajaran dasar agama sebagai warisannya. Mereka yang seharusnya memegang tanggung jawab telah benar-benar mengabaikan pendidikan dan tarbiyah agama bagi anak keturunannya dan justru lebih memusatkan perhatian mereka pada dunia material secara eksklusif. Mereka telah mengabaikan dunia ruhani dan spiritualnya untuk mendapatkan keuntungan sementara di dunia material yang sesungguhnya tidak terlalu berharga ini.

Membacakan Al Qur’an, mengajarkan jiwa dari Al Qur’an itu sendiri, pengajaran ilmu-ilmu agama secara langsung kepada anak-anak semakin tidak dipentingkan oleh orang tua pada zaman ini karena dianggap menghabiskan terlalu banyak waktu.

Ayat berikut ini menegaskan hadis di atas:

Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat (QS. Al Qiyamah 75: 20-21).

Rasulullah ﷺ meneruskan dengan berkata sebagai berikut:

"Aku jauh dari mereka; biarkan mereka jauh dariku."

Jika ditafsirkan, hal ini berarti ‘Rasulullah ﷺ menjauhkan dirinya dari orangtua yang menutup mata terhadap kerusakan moral anak-anak mereka, dan juga dari orang-orang yang tidak merasa takut ketika mereka menyaksikan kehancuran generasi di sekitarnya; “kujauhkan diriku dari mereka, biarkan mereka jauh dariku juga" kata Beliau’.  Saya rasa para ayah yang kalbunya masih hidup akan merasa takut mendengar peringatan ini; bahkan, mereka harus gemetar ketakutan ketika mereka mendengarnya. Ketika tanggung jawab sepenting dan seberat itu dijelaskan kepada Khalifah Umar bin Abdulaziz, ia pingsan dan tidak bisa dibangunkan kembali selama dua puluh empat jam penuh. Setelah lama pingsan, orang-orang di sekelilingnya mengira bahwa ia telah meninggal, dan karena itu mereka mulai membaca Al Qur’an. Ketika beliau siuman, dikatakannya kepada orang-orang di sekelilingnya bahwa ia takut kepada Allah. Ia merasakan tanggung jawab yang berat di pundaknya atas rakyatnya dan sangat khawatir jika ia mungkin telah, entah bagaimana, melanggar atau mencederai hak-hak mereka.

Lalu, bagaimana dengan kita? Seberapa dalam kita harus merasa takut dan gemetar karena telah mengabaikan kehidupan jiwa dan spiritual anak-anak kita, dan telah membawa mereka ke dalam keluarga yang hanya dimaksudkan untuk memuaskan kesenangan dan keinginan pribadi kita?

Semua hadis-hadis yang berkaitan dengan pembahasan ini seharusnya ada untuk menegaskan prinsip-prinsip yang penuh kasih sekaligus menggetarkan hati kita dalam kaitannya dengan pengasuhan anak. Kita harus memahami permasalahan yang sedang kita bahas ini dari perspektif tersebut juga. Ada sejumlah tugas dan tanggung jawab yang diberikan Islam dan Al Qur’an kepada kita mengenai pengasuhan anak-anak dan bagaimana kita harus berkontribusi dalam membentuk kepribadian mereka. Masalah-masalah sebelumnya akan menjadi prinsip, sementara poin-poin berikutnya, yang nantinya akan dijelaskan secara terperinci. Yang menjadi tema pentingnya adalah tentang bagaimana membesarkan anak sebagai individu yang memiliki perasaan, sensitif, berakhlak dan religius; yang mengakui keberadaan ayah dan ibunya sebagai sosok  yang mereka hormati dalam rumah tangga; serta membangun citra diri kita sebagai sebaik-baik tauladan di mata anak-anak kita dengan perilaku terbaik, adalah secara keseluruhan tanggung jawab yang harus amat kita pentingkan kelangsungannya.

a) Menjaga Perlakuan Adil di antara Anak-anak

Memperlakukan anak-anak kita dengan adil dan tidak lebih menyukai salah satu dari mereka dibandingkan yang lain adalah prinsip yang sangat penting. Sebuah kesalahan kecil dalam hal ini akan cukup untuk meniadakan efek dari semua hal lain yang kita katakan dan kita ajarkan kepada anak-anak kita. Saran dari Nabi tercinta ﷺ berikut ini sangat penting:

Bashir, ayah dari Numan ibn-Bashir r.a. (keduanya adalah dari golongan Muslim dan termasuk Ashab-u Badar) datang menemui Nabi dan berkata: "Ya Rasulullah! Saya memiliki anak lain selain Numan. Namun, jika Anda mengizinkan, saya ingin menyerahkan sebagian harta saya untuk Numan."

Nabi bertanya, "Apakah sudah kau berikan setiap anakmu bagian yang sama?"

"Tidak," jawab Bashir.

Kemudian Nabi mengatakan hal berikut ini, menujukan perkataannya kepada semua yang hadir, "Bertakwalah kepada Allah dan perlakukan anak-anakmu dengan adil."

Kemudian beliau beralih kepada Bashir dan bertanya, "Tidakkah kau ingin melihat setiap anakmu memberimu rasa hormat yang sama padamu?"

Bashir menjawab, "Ya."

"Kalau begitu, jangan lakukan ini," kata Rasulullah.[15]

Peristiwa ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh hanya cenderung pada salah satu saja namun seharusnya menjaga dan merawat semua anak secara adil. Jika kita memusatkan perhatian hanya kepada salah satu anak, lebih menyukai anak itu dibandingkan yang lain dan memberinya penghargaan dengan hadiah, maka perasaan hormat anak-anak lain terhadap kita akan berkurang dan kepercayaan mereka kepada kita pun akan goyah.

Nabi menawarkan solusi yang paling mendasar untuk mengatasi masalah sahabat Bashir r.a. Mengutamakan anak tertentu di atas anak yang lain dalam sebuah keluarga yang pertama-tama tentunya akan menimbulkan munculnya perasaan cemburu di antara mereka dan membuat saudara kandung saling bermusuhan satu sama lain. Jangan berpikir bahwa kami mencoba menjelaskan masalah ini hanya terbatas pada teori psikologi saja. Di sini kami berusaha menguraikan pesan Al Qur’an yang universal; sebuah pesan yang disampaikan buku suci ini ke hati kita dan hal tersebut adalah yang paling sesuai dengan sifat manusia, amat rasional, mudah diterima, dan sesuai dengan sifat kemanusiaannya yang mendasar.

Seperti kita ketahui, Nabi Yusuf Alaihi Salam bermimpi bahwa bintang-bintang, matahari, dan bulan bersujud di hadapannya. Ketika Yusuf menceritakan mimpi yang menyenangkan ini kepada ayahnya, sang ayah menjawab, "Jangan ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu" (QS. Yusuf 12: 5). Dengan visi kenabian dan kedalaman pemahamannya, ayah Yusuf cukup mengenal sifat manusia sehingga bisa melihat bahwa mimpi yang menyenangkan itu bisa menjadi penyebab kecemburuan di antara saudara-saudaranya. Ia berpikir bahwa berbagi mimpi itu dengan orang lain dapat menimbulkan persaingan dalam hati mereka yang belum mencapai kesempurnaan dalam kehidupan batiniahnya, mereka yang belum mampu membuang nafsu rendahnya. Sayangnya, yang ditakutkan ayah Yusuf akhirnya terjadi. Saudara-saudaranya melemparkan Nabi Yusuf ke dalam sebuah sumur, peristiwa ini menunjukkan tingkat kerusakan moral yang bisa disebabkan oleh rasa iri, bahkan dalam keluarga seorang nabi sekalipun.

Oleh karena itu, janganlah seorang ayah atau ibu mementingkan salah satu dari anak-anaknya di atas anak yang lainnya dalam hal kasih sayang. Sudah jelas bahwa perlakuan istimewa seperti itu hanya akan memicu perasaan cemburu di antara anak-anak, dan perlakuan orangtua tersebut akan menimbulkan rasa kebencian di alam bawah sadar mereka, bahkan ketika mereka yang terlibat tidak menyadari bahwa hal seperti itu terjadi.

Akan lebih mudah memahami ide-ide tersebut dengan lebih baik jika kita merenungkan perasaan kita tentang cinta dan kebencian, persahabatan, dan permusuhan, terutama dengan motivasi dan akar bawah sadar atas perasaan itu. Mari kita bayangkan bahwa kita memiliki teman yang sangat dekat. Entah bagaimana, suatu saat teman ini tidak dapat menunjukkan sikap tanpa pamrih yang kita harapkan dari seorang teman. Ia justru menunjukkan keegoisan yang tak terduga. Sadar atau tidak sadar, pengalaman ini akan tersimpan di sudut memori kita. Hampir setiap peristiwa meninggalkan jejak dalam memori manusia, dan di kemudian hari peristiwa yang lain akan mengingatkan kita pada peristiwa sebelumnya, membawanya kembali ke alam kesadaran. Ketika mengalami peristiwa yang berhubungan dengannya dan membangkitkan kejadian tidak menyenangkan yang tertidur di alam bawah sadar itu, tiba-tiba akan muncul perasaan jengkel dan pemikiran: "Dari dulu aku sudah merasa bahwa kau orang yang seperti itu!"

Sekarang, bayangkan peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan itu terbangun dan beberapa di antaranya menyatu. Semua kenangan negatif dan pikiran tidak menyenangkan muncul di permukaan, dan kita mulai merasa perlu untuk membela diri. Dengan cara yang sama, perlakuan tidak adil dan mementingkan salah satu anak seperti itu akan memicu munculnya kembali kenangan lain yang berakar di alam bawah sadar anak; kenangan seperti itu membuat anak marah, dan akhirnya membuat anak menjadi tidak patuh pada orang tuanya.

Sebenarnya, hal itu hanyalah salah satu aspek dari persoalan ini. Masalahnya akan menjadi lebih kompleks jika kita mendekati persoalan ini dari sudut pandang keseluruhan dari hidup seseorang. Jika Anda menyalahkan setiap perilaku buruk sebagai akibat dari sifat kekanak-kanakan alih-alih mempertimbangkan perasaan si anak dan menangani masalah pada tingkat itu, maka akibatnya akan menjadi lebih rumit dan berkembang menjadi masalah yang lebih besar di masa depan. Suatu hari nanti, kita akan hancur, tergilas oleh akumulasi kesalahan yang tidak dapat diatasi, kesalahan yang tidak benar-benar kita sadari. Perilaku atau kata-kata kita yang tidak konsisten, tindakan kita yang bertentangan dengan kata-kata, juga hal-hal yang kita kira tidak mampu dipahami seorang anak, sesungguhnya semua itu meninggalkan tanda tak terhapuskan dalam memori mereka. Pada saatnya, semua itu akan muncul dengan tiba-tiba. Munculnya kembali hal-hal tersebut dapat terjadi dengan ledakan yang kuat hingga mampu menyapu sang ayah dan maupun ibu dari anak tersebut dengan gelombang dahsyatnya.

Siapa pun yang ingin menjadi orangtua harus memiliki pemahaman mendasar tentang pedagogi dan psikologi, atau setidaknya mereka harus memahami prinsip-prinsip umum yang terdapat dalam Al Qur’an dan berkaitan dengan masalah ini serta kemudian haruslah dengan ucapan “Bismillah” memulai kehidupannya yang baru.

Pengasuhan anak bukanlah hal yang mudah. Di masa lalu, saya pernah tertarik untuk beternak lebah. Agar tahu lebih banyak tentang hal tersebut, saya merasa perlu untuk mengambil kursus tentang peternakan lebah. Saya menyadari betapa sulitnya menangani makhluk-makhluk kecil itu. Dengan cara yang sama, manusia harus mempelajari metode tentang cara mengasuh generasi yang baik dan cara membentuknya menjadi anggota masyarakat yang berguna. Tidak seorang pun boleh melupakan betapa pentingnya mengasuh makhluk yang hebat ini, makhluk yang memiliki potensi untuk bergerak di antara titik spiritual yang terendah hingga yang tertinggi -dari A’lâ-ya illiyyîn hingga ke asfal-a safilîn- makhluk yang memiliki kemampuan untuk mengangkat dirinya ke tingkat kemanusiaan terbaiknya.

b) Menanggapi Anak dengan Serius

 Rasulullah ﷺ sangat serius ketika berhadapan dengan anak-anak. Beliau akan mendengarkan dan menanggapi mereka seolah-olah mereka orang dewasa, terkadang menggendong mereka di atas bahunya, membiarkan mereka duduk di pangkuannya, atau menimang mereka dalam pelukannya. Beliau selalu memperlakukan mereka dengan setara dan berusaha menyenangkan hati mereka.

Beliau selalu menyapa anak-anak setiap kali beliau melihat mereka bermain, memperlakukan mereka seolah-olah mereka orang dewasa.[16] Jika Rasulullah berjanji kepada seorang anak bahwa beliau akan memberi mereka sesuatu pada waktu tertentu, maka Beliau akan selalu menepati janjinya, seolah-olah beliau sedang membuat kontrak dengan orang dewasa.

c) Menanamkan Rasa Percaya

Pepatah "Jangan percayai siapa pun, tidak juga ayahmu" adalah salah satu sikap yang paling memalukan yang ada pada masyarakat modern. Pemikiran seperti ini adalah kesalahan yang sangat serius. Rasulullahﷺ selalu menanamkan pemahaman tentang pentingnya "kepercayaan" dan anak-anak yang tumbuh di sekeliling Beliau mengerti betul tentang hal ini, yang pertama dan terutama, sebagai seseorang yang bisa dipercaya. Untuk semua orang yang mengenalnya, Beliau ﷺ adalah orang yang dapat dipercaya (Al Amin). Tentu saja, jika sebuah masyarakat atau bangsa memiliki individu-individu yang dapat dipercaya, maka masyarakat itu juga akan bisa diandalkan. Rasulullah ﷺ selalu menyarankan kita agar bersikap sensitif dan penuh kasih kepada anak-anak: "Allah tidak akan menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang tidak menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak mereka."[17]

Beliau ﷺ menggarisbawahi hal yang paling penting mengenai pengasuhan anak. Beliau menyarankan kepada para Sahabatnya untuk mencintai anak-anak mereka dan menepati setiap janji yang mereka buat. Beliau mengingatkan kepada mereka agar jangan pernah terdapat kontradiksi antara kata-kata dan tindakan mereka sebagai orang tua.

Diketahui bahwa Rasulullah pernah mengatakan hal berikut ini: "Jika salah satu dari kalian berjanji kepada seorang anak, kalian harus menepati janji itu apapun yang terjadi." Di sini kita bisa melihat bahwa sikap yang dipegang banyak orang dengan mengatakan "Oh, mereka hanya anak-anak, tidak masalah jika aku tidak menepati kata-kataku" benar-benar salah.

Setiap kebohongan atau kata-kata yang bertentangan dengan kebenaran akan meninggalkan benih dalam memori anak dan benih ini akan tumbuh – mungkin sekarang, mungkin di masa depan – menjadi pohon zaqqum beracun, membuat semua upaya tarbiyah gagal. Orangtua harus mengikuti jalan yang lurus. Sebagai orang-orang di jalan yang lurus, kata-kata dan perilaku kita pun harus hanya mengandung kebenaran.

Kita tidak boleh membiarkan satu kesempatan pun muncul dalam benak anak-anak kita untuk berpikir atau berkata bahwa kita telah berbohong, atau bahwa kita tidak menepati janji, atau bahwa kita telah bertindak secara egois. Mereka harus selalu melihat dan mengenal orang tuanya sebagai orang yang memiliki sifat itsar (suka mendahulukan kepentingan saudaranya di atas dirinya sendiri), mutasaddik (suka bersedekah), mukmin yang bertakwa, muslim yang taat, sabar, selalu bisa diandalkan, dan ber-iffah (selalu menjaga kesucian).

d) Metode Tarbiyah secara Bertahap

Anak-anak harus diajarkan dan mengetahui masalah-masalah yang memang perlu mereka ketahui sebaliknya hal-hal yang memang tidak perlu diketahui oleh  mereka pun tidak boleh diajarkan. Anak-anak harus diberi tahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan agama dan kebangsaannya yang diperlukan oleh kehidupan ruh dan jiwa bagi perkembangan kehidupan mental dan spiritual mereka selanjutnya dengan cara yang sesuai untuk tingkat usia mereka masing-masing. Kami akan menguraikan masalah ini secara terperinci dalam bab-bab berikutnya.

Untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan fisik anak, biasanya kita pergi ke dokter dan bertanya makanan mana yang harus diberikan kepada anak sesuai dengan perkembangan umurnya. Berdasarkan saran tersebut orang tua membuat program perencanaan pemberian makanan bagi bayi menurut nasihat para ahli tersebut. Dengan logika yang sama, seharusnya kita juga harus mencari pendapat ahli tentang pendidikan dan tarbiyah dalam pengasuhan anak-anak, sesuai dengan tingkat perkembangan mereka. “Apa yang sepatutnya diajarkan pada anak berusia lima tahun?” “Jika anakku sudah berusia lima belas tahun dan memasuki masa akil baligh bagaimana sikap yang terbaik dalam mengasuhnya?” dst...Orang tua sepatutnya secara aktif mencari pendapat dan pemikiran mereka tentang hal ini dan selalu meluangkan waktu untuk mempelajari bidang ini.   

Tentu saja, setiap ayah dan ibu harus mempelajari prinsip-prinsip dan metode membesarkan anak dari para ahli pada bidangnya masing-masing, dan setelahnya mereka harus berusaha mendidik anak-anak mereka sesuai prinsip dan metode itu. Saat anak sudah duduk di sekolah menengah, lalu orang tua merasa cukup hanya dengan mengatakan kepadanya bahwa "Tuhan itu ada" tanpa memberikan penjelasan atau argumen saja, maka sikap seperti ini mungkin justru akan mendorongnya untuk menolak keberadaan Tuhan sama sekali. Pada periode dan usia ini, ilmu agama harus disampaikan kepada anak-anak disertai beberapa argumen filosofis. Cara ini memungkinkan pendapat kita berdampak pada anak-anak muda tersebut. Sebaliknya jika kita mulai mengajari anak-anak pelajaran filsafat saat mereka masih duduk di bangku SD, maka kemungkinan besar hal tersebut hanya akan membuat mereka bingung dengan konsep yang sedang diajarkan. Sebagaimana seorang dokter anak yang faham betul dengan nutrisi yang paling tepat bagi anak sesuai dengan tahap perkembangannya, maka orang tua pun harus mengajarkan dan memberikan tarbiyah pada mereka dengan mempertimbangkan tingkat pemahaman, kemajuan zaman di mana mereka hidup, dan lingkungan sosial mereka.



[1] Sahih Muslim, "Qadar" 3; Sunan ibn Majah, "Muqaddimah" 7; Sahih al-Bukhari, "Qadar" 1.

[2] Sahih al-Bukhari, “Ahkam” 21; “Bad’ul-Khalk” 11; “Itiqaf” 11, 12; Sunan Abu Dawud, “Sawm” 78; “Sunnah” 17, “Adab” 81; Sunan ibn Maja, “Siyam” 65.

[3] Al-Haythsami, Al-Majma al-Zawaid, 3/210; 10/292.

[4]  Pohon yang disebutkan dalam Al Qur'an sebagai pohon yang buahnya menjadi makanan bagi para penghuni Neraka (QS. As-Shafaat 37:62-67; Al-Israa 17:60; ad-Dukhan 44: 43-46; Al Waqi’aah 56:51-53).

[5]  Al-Musnad, 4/345.

[6]  Sahih Muslim, "Adab" 14; Sunan Abu Dawud, "Adab" 66; Sunan di- Tirmidzi, "Adab" 62.

[7]  Islam sangat menghargai nilai pentingnya menyusui dari seorang ibu bagi anaknya, jika terpaksa ada wanita yang menyusui anak orang lain yang sedang dalam masa pertumbuhan maka ia dianggap sebagai ibu susu bagi anak itu jika telah memenuhi prasyarat tentang menyusui itu sendiri berdasarkan masing-masing Madzhab. Jika wanita yang sama merawat bayi lain juga, semua anak itu dianggap sebagai saudara "sepersusuan". Ikatan mereka begitu dekat sehingga mereka dianggap memiliki hubungan yang sama seperti saudara kandung.

[8]  Sahih Al-Bukhari, "Janaiz" 92; Sunan Abu Dawud, "Sunnah" 17; Sunan at-Tirmidzi, "Qadar" 5.

[9] Sahih Muslim, "Al-Fadail al-Sahaba" 1; Sunan at-Tirmidzi, "Manaqib" 15.

[10] Sahih Muslim, "Fitan" 8; "Haji" 132; "Qasama" 31

[11] Sunan ibn Majah, "Adab" 3.

[12] Sahih al-Bukhari, "Juma" 11; "Janaiz" 32; "Istiqraz" 20; "Wasaya" 9; "ITQ" 17, 19; "Nikah" 81, 90; "Ahqam" 1; Sahih Muslim, "Imara" 20.

[13] Ketika seorang anak lahir, ia membawa serta keyakinan alami pada Allah. Keyakinan alami ini dalam bahasa Arab disebut "fitrah". Jika seorang anak dibiarkan saja, ia akan tumbuh menyadari keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa dalam Keesaan-Nya, tetapi semua anak dipengaruhi oleh tekanan dari lingkungan mereka.

[14]  Sahih al-Bukhari, "Janaiz" 80; "Tafsir" Sura (30) 1; "Qadar" 3; Sahih Muslim, "Qadar" 22, 23, 24.

[15] Sahih al-Bukhari, "Hibah" 12, 13; Sunan an-Nasa'i, "Nuhl" 1; Sunan di- Tirmidzi, "Ahkam" 30; Sunan ibn Majah, "Hibah" 1.

[16] H.R Abu Dawud, "Adab" 135, 136; ibn Majah, "Adab" 14.

[17] Al-Haythami, Al-Majma al-Zawaid, 8/155.

blog comments powered by Disqus