Cetak

Bagaimana Cara Menjelaskannya?

Ditulis oleh Fethullah Gülen pada . diposting di Dari Benih Hingga Menjadi Pohon

Penilaian Pengguna:  / 0
JelekBagus 
Bagaimana Cara Menjelaskannya?

Jika tema utama yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya adalah tentang tingkat keyakinan atau iman seorang anak dan pengamalan ibadahnya berdasarkan perbedaan usia pada masing-masing jenjang umur tersebut, maka khususnya keberhasilan dalam penerapan kedua hal ini amat bergantung pada  ketauladanan dari ayah dan ibu, sikap dan contoh-contoh yang ditunjukkan pada mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Ya, jika perkataan atau lisan menjadi terjemahan atas kondisi keimanan, spiritual di dalam diri seseorang dan sikap tindak tanduknya maka perasaan, pemikiran dan hal-hal yang kita putuskan untuk dipahami pun akan tersampaikan dan diterima dengan baik oleh lawan bicara kita.  Namun sebaliknya, jika perkataan kita tidak ditunjang oleh sikap dan tindak tanduk yang sesuai, serta hati juga tidak memiliki sebuah keyakinan, pertimbangan dan itikad yang sama, maka amatlah jelas bahwa apa yang kita katakan itu tidak akan terlalu memiliki pengaruh yang besar.

Oleh karena itu, jika kita adalah seseorang yang bertugas menjadi pemimpin ataupun penanggung jawab dari sebuah institusi pendidikan dan pengasuhan (ta’lim-tarbiyah) baik dalam skala kecil maupun besar, maka wajib bagi kita untuk memahami bahwa keteraturan, keseimbangan dan poros bagi institusi tersebut adalah diri kita sendiri. Saat diri kita melakukan penyimpangan maka anggota dari kelompok yang kita pimpin itupun akan mengalami pergeseran sebagai pencerminan dari pemimpinnya. Adapun selama kita berpegang teguh pada poros yang benar maka anggota maupun sistem yang berkaitan dengan kita tidak akan mengalami penyimpangan atau jikapun ada tidak akan terlalu parah.

Kualitas Ketauladanan dan Contoh

Jika kita ingin apa yang kita katakan berpengaruh dan mencapai tujuan yang diinginkan maka amatlah penting untuk teliti dan sensitif dalam bersikap atau bertindak tanduk. Misalnya rasa hormat yang amat dalam di hadapan Allah, dengan adab yang kita tunjukkan saat melakukan takbir, ruku’ dan sujud yang menggambarkan kekhusyukan kita saat salat, akan lebih berpengaruh daripada meminta anak membaca dan mempelajari buku tentang salat. Hal ini, dapat menjadi sebuah jawaban yang paling tepat dan meyakinkan dari pertanyaan seorang anak tentang: “Bagaimana kita harus bersikap hormat dan segan pada Allah?” Sebaliknya jika kita salat seperti yang disinggung dalam sebuah hadis: “...dan seperti ayam yang mematuk dalam sujud ...”[1] (red-karena begitu terburu-burunya gerakan salat...), maka siapapun yang melihat gerakan salat seperti ini akan mengambil tarbiyah atau contoh serupa pula. Satu hal yang harus diketahui bahwa sebagaimana salat yang terburu-buru seperti ini tidak akan mencegah dan menjauhkan seseorang dari kemungkaran maka sama seperti itu pula, hal tersebut tidak pula akan menjadi tauladan bagi orang-orang yang berada dalam tanggung jawab tarbiyah kita dalam hal mengajarkan rasa hormat kepada Allah Yang Maha Besar dan bahkan tidak akan pula meninggalkan jejak kebaikan pada jiwa mereka.

Ya, mengerjakan salat dengan sepenuh hati adalah sesuatu yang amat penting. Salat dengan penuh rasa hormat pada Sang Pencipta, adab yang terbaik, serta khusyu’ dalam setiap gerakan di hadapan Allah Subhânahu wa ta’âla, gambaran seorang hamba yang membungkuk dan sujud dengan kepala menunduk penuh ketaatan yang dilihat oleh sepasang mata mungil tanpa dosa itu akan membangun pengaruh yang amat besar bagi rasa keimanan anak tersebut.

Sebagaimana menjadi contoh tauladan dalam kebaikan adalah sesuatu yang amat penting, namun selain itu bersikap siaga dan teliti terhadap kemungkinan adanya kondisi-kondisi negatif pun tidak kalah pentingnya. Setiap saat selalu ada kemungkinan anak-anak ini terjangkiti virus-virus perbuatan negatif dari lingkungan di sekitar rumah maupun sekolahnya. Saat hal seperti ini terjadi maka tanpa menangguhkan terlalu lama atau segera saat itu juga pengaruh-pengaruh buruk seperti ini harus dihilangkan efeknya. Misalnya terhadap buku-buku yang sampai ke tangan anak-anak dan dibaca oleh mereka -walaupun hanya sebuah novel atau komik sekalipun- haruslah dengan sepengetahuan kita. Jika ada hal-hal dari bacaannya tersebut yang dapat mengusik rasa keyakinan dan keimanan anak tersebut, dan jika kita sebagai orang tua juga tidak melakukan apa yang semestinya kita perbuat, maka tanpa akan kita sadari hal tersebut akan menjadi benih permulaan dari rasa ragu dan ketidak yakinannya. Oleh karena itu, tidaklah cukup dengan hanya berhati-hati pada keadaan anak selama dia di rumah, pada saat yang sama kita sebagai orang tua harus pula memperhatikan dan mengontrol kondisi atmosfer umum (lingkungannya) yang akan membentuk struktur pemikiran-perasaannya dan perkembangan pemikirannya pula. Menentukkan dan menyeleksi terlebih dahulu buku-buku yang akan dibaca adalah salah satu pekerjaan yang amat penting bagi pembentukkan insan seperti yang kita inginkan. Ya, berusaha untuk memahami rasa simpati dan antipati seorang anak setelah masa tertentu dalam perkembangan usianya, berusaha mencari tau apa yang menarik dan apa yang didengarkan olehnya, mengenal teman-temanya, bahkan jika perlu melakukan perpindahan tempat atau hal-hal lain serupa ini jika dibutuhkan adalah hal-hal khusus yang harus segera dilakukan dan tidak dapat diabaikan.

a. Murid, Guru dan Ayah-Ibu

Salah satu permasalahan yang sering kita temui pada masa ini adalah terjadinya perbedaan budaya antara ayah-ibu dan anak-anaknya atau bisa dikatakan antara generasi lama dan generasi baru serta hal-hal negatif yang bisa timbul karena perbedaan kebiasaan tersebut, hal hal khusus yang bisa diantisipasi dengan ‘tarbiyah’ kita pada anak hanya dapat dilakukan hingga masa mereka akil baligh saja. Jika kita terlambat maka hal itu tidak akan berpengaruh lagi pada mereka. Misalnya, seorang ayah yang tidak mengenyam bangku sekolah jika anaknya berkesempatan bersekolah hingga bangku universitas maka sebagian dari anak-anak seperti ini menganggap dirinya lebih tinggi dari orang tuanya, bahkan tidak pernah mau mengambil pendapat atau pemikiran orang tuanya tersebut. Ya sayangnya, betapa banyak orang tua yang beriman namun anak-anaknya di sekolah menengah bahkan ada yang sejak sekolah dasar, sebagiannya telah menyukai perilaku yang tidak berakhlak, pemikiran-pemikiran yang menghancurkan, bahkan memberontak pada sekolah, hukum, negara dan bangsanya. Anak-anak seperti ini mengikuti segala bentuk kegiatan siswa yang terbuka pada provokasi dalam maupun luar, gerakan-gerakan sia-sia yang mengatas namakan boikot dan dikarenakan hatinya telah bebas berlari di belakang sebuah pemikiran utopis semata.

Jika kita ingin menganalisa dari dahulu hingga sekarang mengapa kebanyakan kegiatan-kegiatan anak-anak muda tersebut bisa seperti sekarang ini dan bagaimana bisa kegiatan-kegiatan tersebut bisa mencapai tingkatan seperti ini, maka salah satu kesalahan terbesarnya adalah dikarenakan tidak adanya perhatian sepenuhnya pada apa saja kegiatan anak-anak kita dan tidak diberikannya tarbiyah sesungguhnya yang harusnya didapat oleh anak tersebut pada masanya. Mengeluh dan menyesali semua hasil negatif dari kekurangan kita dalam mentarbiyah atau mendidik anak hanyalah sebuah sikap tanpa hasil dan sia-sia. Rasa pedih yang kita rasakan di hati pun hanyalah sebuah kepedihan yang takkan mendatangkan apapun lagi.

Pada salah satu ayatnya Al Qur’anul Karim menyinggung tentang orang-orang yang disesatkan, tidak mau merawat dan mendidik anaknya lalu hanya bersikap taklit atau ikut-ikutan saja, dengan ayat pada Surat Al Ahzab: 67 berikut:

“Ya Tuhan Kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)”. 

Ayat Al Qur’an, dengan kalamnya yang menggetarkan dan terdengar bagaikan rintihan bagi kalbu kita ini, adalah sebuah  pernyataan yang jelas dan pahit serta penuh dengan ekspektasi bagi para guru-guru di sekolah, para pembina, ustad-ustad, para saudara, paman, om, pada para ayah dan ibu tentang adzab Ilahi yang amat dahsyat yang menanti generasi malang yang tak mengenal salat dan doa ini. Ya,  bagi mereka yang mendapatkan akibat buruk seperti yang disinggung pada ayat Allah ini, saat dimintai pertanggung jawaban atas dirinya sendiri, ia akan mengeluh, menegur bahkan berdoa buruk: “Ya Allah berikan dan tambahkanlah adzab yang berlipat ganda bagi mereka yang telah menyesatkan kami, yang dari awalnya dahulu mengeluarkan kami dari jalan-Mu, yang tidak memelihara kami dan susahkanlah mereka pula seperti yang kami alami, laknatilah serta jauhkanlah pula mereka dari sisi-Mu”, -Naudzubillahi min dzalik.

Dengan demikian, tindakan positif yang harus diambil oleh siapapun yang memiliki kedudukan atau posisi yang berkaitan dengan pendidikan, tarbiyah dan pengajaran, akan mendapatkan ganjarannya baik bagi dirinya sendiri maupun bagi anak-anaknya di dunia maupun akhirat. Sebaliknya, bagi mereka yang melalaikan tanggung jawabnya maka tidak hanya akan ada balasan musibah baginya di dunia dan akhirat saja namun lebih dari itu bagi mereka yang berada dalam tanggung jawabnya tersebut akan pula mendapatkan musibah baik di dunia maupun akhirat pula. 

b.  Jeritan Mereka yang Disesatkan

Jika kita memberikan kesempatan pada anak-anak untuk menyibukkan diri mereka pada hal-hal yang tidak akan memberikan manfaat bagi fisik maupun ruhani mereka, bagi dunia maupun akhiratnya maka tunggulah sebuah jeritan, sebuah rintihan dan keluhan serta alasan dari mereka kelak sebagaimana yang digambarkan dalam ayat berikut:

“Masuklah kamu ke dalam api neraka bersama golongan jin dan manusia yang telah lebih dahulu dari kamu. Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat saudaranya, sehingga apabila mereka telah masuk semuanya, berkatalah orang yang (masuk) belakangan (kepada) orang yang (masuk) terlebih dahulu, “Ya Tuhan Kami, Mereka telah menyesatkan kami. Datangkanlah siksaan api neraka yang berlipat ganda kepada mereka.” Allah berfirman: “Masing-masing mendapatkan (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kamu tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 38)

Ya, kemungkinan yang digambarkan oleh Al Qur’an ini menyatakan bahwa anak-anak yang dulunya ada dalam buaian kita, ditimang dan dipelihara serta kita kira telah kita didik itu kelak bisa jadi merekalah yang akan melaknat bahkan berdoa untuk keburukan orang tuanya pula di akhirat. Orang-orang yang mengimani akan adanya akhirat walaupun tipis sekalipun iman mereka, tetap saja akan merinding, takut serta seharusnya memohon perlindungan-Nya saat mendengar peringatan seperti ini. Satu-satunya jalan keluar dari keputus asaan dan keluh kesah kita ini hanyalah dengan menjadi contoh baik berdasarkan pemikiran dan keimanan kita ini agar jelas terlihat bagi mereka yang menjadi pengikut dan tanggung jawab kita. Bukan hanya menyebut-nyebut saja namun harus pula menghidupkan kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya dengan akhlak agama dan menjadi contoh baik bagi anak-anak dalam semua aspek kehidupan.  

Di sebuah rumah yang dipenuhi dengan kecintaan pada Allah Subhânahu wa ta’âla dan Rasulullah ﷺ akan membuat apa yang dibaca, dilihat dan didengar oleh seorang anak di rumah itu selalu berkaitan pada Allah sehingga kalbunya pun akan terpaut pada-Nya. Sebagai parameter untuk mengetahui apakah di sebuah rumah Allah Subhânahu wa ta’âla dan Rasulullah Muhammad ﷺ telah menjadi subjek utama atau tidak adalah dengan mengukur rasa antusias anak, sehingga dimungkinkan untuk mengetahui kedalaman perasaan anak terhadap hal tersebut. Tentu saja, anak itu seperti alat pengeras suara (speaker) bagi semua suara-suara yang didengarnya di rumah dan layar monitor yang menunjukkan segala aktivitas yang ada di dalam rumahnya pada dunia luar.    Apakah di dalam rumah itu ditontonkan atau tidaknya hal-hal yang munkar (segala sesuatu yang dilarang dan buruk bagi agama) atau sebaliknya apakah di rumah tersebut dikerjakan atau tidaknya hal-hal yang ma’ruf ( hal-hal baik yang diperintahkan agama). Monitor dan speaker hidup ini dapat menyentuh bagian paling pribadi dari sudut dalam rumah kita dan bisa mendengar bisikan paling rahasianya sekalipun. 

c. Jalan Menuju Surga dan Neraka 

Neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu), sedang surga dikelilingi hal-hal yang tidak disenangi (nafsu).[2] Bagi mereka yang taat beribadah namun di satu sisi tidak mampu melampaui hal-hal yang tidak disenangi nafsunya dan di sisi lain tak juga mampu mengalahkan keinginan nafsu dan syahwatnya, setiap harinya masih saja disibukkan dengan berbagai permainan dunia, setiap saatnya juga masih belum selamat dari hal-hal yang mendatangkan laknat-Nya, maka tak mungkin masuk surga dan takkan jauh dari Neraka. Oleh karenanya jalan yang ada di hadapan kita dan yang akan mampu membawa kita pada tujuan terakhir yang diinginkan ini memiliki dua sisi.  Di satu sisi kita harus mampu meninggalkan dan mengajak orang untuk meninggalkan, secara keseluruhan semua yang ‘dilarang’ agama. Di sisi lain melakukan dengan sepenuh hati dan kesadaran penuh atas semua ‘perintah’ agama, dan berusaha mengajak orang lain pula pada kebenaran yang sama agar kita tidak tersungkur pada apa saja yang menyenangkan nafsu kita dan tidak terjerumus pada apa yang dicenderunginya serta supaya kita dengan inayah dari-Nya masih bisa tegak berdiri di jalan ini. 

Kita adalah hasil dari apa yang ditanam oleh mereka yang ada sebelum kita, maka generasi setelah kita pun merupakan gambaran dari apa yang sekarang kita usahakan. Daripada kita menyalahkan zaman dan era lalu terus berada pada kelalaian kita sendiri, akan lebih baik bila kita mencoba melihat apa yang akan menjadi akibat dari kelalaian kita sekarang di masa datang dan mencoba untuk bekerja keras membangkitkan kembali kalbu, ruh dan perasaan kita dengan dasar kewajiban dan tanggung jawab kita tersebut. Kebangkitan seperti ini bukan hanya akan menegakkan kembali diri kita namun juga bagi generasi setelah kita dan menjadi kebangkitan bagi sejarah kita sendiri.

2. Makna Penting Membaca 

Salah satu hal terpenting dalam mendidik anak adalah "buku dan membaca". Anak-anak harus belajar membaca dan menulis dengan target dan tujuan tertentu dan mereka tidak boleh hanya ingin menjadi yang dituntun melainkan harus pula meningkatkan kapasitas dirinya hingga mampu pula menjadi seorang pemandu atau penuntun. Mengetahui mengapa kita membaca dan menulis adalah sama pentingnya dengan aktivitas membaca dan menulis itu sendiri. Seorang penyair, Yunus Emre menyuarakan hal ini:

“Ilmu adalah mengetahui ilmu itu sendiri
Ilmu berarti mengenali diri
Jika kau tak mengenal dirimu
Lalu untuk apa kau menuntut ilmu.”

Sembari membahas permasalahan ini mari kita pikirkan sejenak beberapa pertanyaan berikut: "Apakah ilmu itu? Apakah tujuan dari ilmu pengetahuan? Mengapa orang membaca buku? Target apa yang ingin kita capai dengan membaca dan memahami sesuatu?" Sebelum kita menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas ada baiknya jika kita memperhatikan beberapa hal khusus yang berkaitan dengannya.

Jika seseorang mempelajari aturan dan prinsip-prinsip yang kompleks dan membingungkan dalam matematika, tetapi mengabaikan aplikasi praktisnya atau tidak pernah berpikir untuk meningkatkan pengetahuan mereka dengan teori-teori dan hipotesis, maka hal ini berarti mereka tidak bisa merealisasikan ‘tujuan’ dan ‘target’ dari ilmu tersebut. Demikian juga, jika kita mempelajari semua prinsip-prinsip dasar kedokteran, tetapi tidak pernah mempraktekkan pengetahuan itu secara klinis, tak pernah mengontrol denyut nadi ataupun denyut jantung orang yang sakit bahkan tidak pernah memeriksa satu pasien pun, maka sangat diragukan apakah ilmu kedokteran yang kita pelajari tersebut bermanfaat atau tidak bahkan diragukan apakah ilmu tersebut  masih ada dalam otak kita. Jadi sesungguhnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh penyair di atas, tujuan asal dari ilmu pengetahuan adalah saat manusia bisa menemukan dan mengenal dirinya sendiri. Oleh karenanya, ilmu yang tidak bisa membantu kita mengenal dan menemukan diri kita sendiri maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.

a) Membaca dan Menulis

Fakta yang tidak bisa diingkari adalah bahwa Al Qur’an menjadikan membaca dan menulis sebagai sebuah prioritas utama yang amat dipentingkan. Namun, kita harus menekankan bahwa adalah tidak terpuji jika kita hanya mengisi memori anak tanpa berusaha memahamkan pada mereka akan tujuan Ilahi. Sembari menggandeng tangan anak, mari kita antar agar jiwa mereka menikmati Al Qur’an dan dengannya minat mereka terhadap Qur'an akan terbangkitkan. Setelahnya di masa depan, anak itu akan mencoba memahami apa yang Allah harapkan dari kita. Sayangnya, kita pikir kita telah melakukan cukup banyak hal hanya dengan menyuruh anak mengucapkan "Bismillah". Memang, "Bismillah" sangatlah penting dan akan sangat bermanfaat pada banyak hal dalam kehidupan kita. Namun di sisi lain, dengan segala kerendahan hati saya ingin mengingatkan bahwa ada masalah khusus yang harus kita ajarkan pada anak walaupun sesingkat apapun yaitu tentang tujuan Ilahi pada penciptaan. Inilah yang seharusnya kita prioritaskan untuk dipelajari dan diajarkan di atas segalanya.

Ada beberapa periode yang mulia dan gemilang dalam sejarah kita. Akan tetapi dalam periode tertentu, ada beberapa gubernur, hakim, dan ahli hukum yang hafal Al Qur’an di negara-negara Muslim, namun seperti yang telah kita singgung sebelumnya, karena orang-orang itu tidak memahami esensi dari apa yang mereka pelajari maka  mereka hanya mampu meniru (taklit) orang-orang yang telah mendahului mereka baik dalam hal mengeluarkan fatwa maupun hukum, tetapi mereka tidak memiliki kekuatan dalam lisan dan perbuatan. Amat disayangkan bahwa akan datang saatnya orang-orang yang berfikiran sempit dan hanya menguasai ilmunya secara setengah-setengah ini, telah bersikap diam dengan kepermisifan atas hukum dan asas-asas agama dan membiarkan dosa terus dilakukan. Tentu saja dengan sikap seperti ini mereka tidak akan mampu menjaga nilai-nilai dan kehormatan Islam yang dipikulkan dipundaknya. Hati kita akan terasa bergetar mendengar hal ini namun dengan amat sedih harus saya ungkapkan bahwa mereka ini akan mempermainkan masyarakat baik yang telah lampau maupun di masa datang dengan kehormatan, martabat dan agamanya. Pengetahuan yang mereka dapatkan tidak mampu menempati ruang hatinya dan tidak bisa menjadi pemahaman bagi kalbunya. Pada surah Al A’raf ayat 178, Allah berfirman: "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi" (QS. Al-A'raf 7: 178). Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifa bin al-Yaman kepada Hafidz Abu Ya'la:

"Salah satu hal yang kukhawatirkan tentang kalian adalah akan ada orang  yang begitu banyak membaca Al Qur’an hingga ia mencerminkan kecemerlangan Qur'an dalam semua perilakunya. Islam menjadi pakaian bagi mereka. Mereka menyatu dengan pakaian itu hingga waktu yang ditentukan Allah. Kemudian, tiba-tiba saja – semoga Allah melindungi mereka – mereka melepas pakaian itu dan meninggalkannya. Mereka mendekati saudara-saudara mereka sambil mengacungkan pedang, menuduh mereka melakukan perbuatan syirik (menyekutukan Allah)." Hudzaifa bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang lebih dekat kepada syirik; orang yang dituduh berbuat syirik atau orang yang menuduh syirik?" Rasulullah menjawab, "Orang yang menuduh syirik."[3]

Bahkan saat ini, ada begitu banyak orang-orang dengan gelar terhormat yang tidak mengetahui keberadaan Allah Sub­hânahu wa ta’âla dan tak mengenal Rasul-Nya, mereka berada dalam ‘kejahiliyahan’ (kegelapan) yang berlipat-lipat. Mereka yang gagal merenungkan ribuan ayat dan bukti di alam semesta, tak mau menggunakan kemampuannya dalam berkreasi, buta dan tuli terhadap penciptaan dan semua peristiwa di sekelilingnya, adalah orang-orang yang benar-benar bodoh, tidak peduli apa pun gelar dan nama yang disandang oleh mereka. Karena hanya pengetahuan yang menerangi dunia perasaan, akal dan pikiran manusialah yang pantas kita sebut sebagai "ilmu", sementara yang selainnya hanya menjadi beban dalam ingatan kita saja.

Perintah pertama dari Al Qur’an adalah "Bacalah, dengan nama Tuhanmu ...."(QS. Al-Alaq 96: 1), sehingga firman pertama Allah kepada Rasulullah ﷺ adalah perintah “Bacalah”. Allah tidak mengatakan "Bacalah Al Qur’an"; Ia bahkan tidak mengatakan "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu." Al Qur’an sendiri menjelaskan arti perintah "Bacalah" dan membuat kita untuk menarik perhatian terhadap ciptaan-Nya dengan mengatakan: "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan" (Al-Alaq 96: 1). Di sini terdapat kiasan untuk mengingatkan kita agar membaca tanda-tanda yang tertulis pada ayat-ayat takwiniyah (kauniyah) pada diri ciptaan atau entitas.

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan pena" (Al-Alaq 96: 3-4).

Seperti yang kita lihat, ‘membaca’ dan ‘menulis’ disebutkan secara berturut-turut. Ya, manusia akan membaca dan menulis; tetapi apa pun yang dibacanya, mereka akan membaca dengan tujuan untuk dapat memahami baik ayat-ayat kauniyah yang tersirat di alam semesta, mengerti tentang struktur kedalaman dirnya sendiri, maupun esensi Al Qur’an. Dari waktu ke waktu, manusia seharusnya mengamati ke dalam fisiologi dan anatomi mereka sendiri maupun pada wajah alam semesta. Lalu menyampaikan pelajaran ataupun hikmah yang didapatkan dari pengamatan tersebut terhadap orang lain, dimulai dari keluarga terdekat hingga kepada semua orang yang ada di sekitarnya. Ya, dalam hal ini dipahami bahwa perintah "Bacalah" bukan hanya untuk membaca ayat-ayat Al Qur’an. Dengan memerintahkan kita untuk membaca, Al Qur’an menasihati kita untuk membaca perintah Ilahi, untuk memahami tujuan penciptaan pada ayat-ayat kauniyah, dan untuk menemukan hukum-hukum alam semesta. Oleh karena itu, ketika kita membaca, kita seharusnya merenungkan tentang penciptaan manusia, hukum alam semesta, dan wahyu dalam nama Tuhan. Al Qur’an mengajukan pertanyaan "Bagaimana kita diciptakan?" dengan cara menyebutkan tentang hasil ciptaan. Tepat setelah itu, Al Qur’an mengarahkan pikiran kita kepada misteri penciptaan dengan mengatakan bahwa kita diciptakan dari sebuah "alaq" (gumpalan), yang di ayat lain dikatakan dari ‘setetes air’.

Allah, yang memerintahkan kita untuk membaca kitab alam semesta bersama dengan kitab Qur'an, menyampaikan kepada manusia pelajaran bahwa setiap orang – dari orang biasa dengan tingkat pemahaman terendah hingga pemikir yang paling terkemuka – akan belajar dari pelajaran ini sampai ke tingkat yang dapat dicapai oleh kemampuan mereka masing-masing. Ya, pada mimbar pengajaran Rasulullah ﷺ, walaupun  yang belajar pada Beliau memiliki latar belakang yang amat berbeda, dari yang buta huruf hingga yang amat dalam keilmuannya, semua kalangan tetap akan merasakan dan ambil bagian di dalamnya.

Ketika menjelaskan tentang menulis, Al Qur’an juga menyebutkan "pena": "Nun.... Demi pena dan apa yang mereka tuliskan" (QS. Al-Qalam 68: 1). Allah ﷻ memulai surah ini dengan bersumpah atas pena, untuk menunjukkan penekanan tentang makna pentingnya pena tersebut dalam pandangan-Nya. Pena itu dapat berarti catatan dari Kiramun  katibin, pena para malaikat yang mencatat amal perbuatan kita, bisa juga menjadi pena Mala-i A’lâ yang telah menuliskan takdir kita, bisa pula pena yang berkaitan dengan kitab pertama Allah ataupun dapat berarti pena yang kita gunakan di sekolah atau di tempat lain, tidak akan ada bedanya. Perbedaan ada pada siapa yang menggunakan pena tersebut dan sumpah Allah atas pena itu melibatkan segala sesuatu yang telah kami sebutkan tersebut.

b) Ilmu yang Menuntun pada Rasa Takut kepada Allah

Dalam salah satu ayat Al Qur’an disebutkan bahwa: "Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama" (QS. Fathir 35: 28). Ya, hanya mereka yang berilmu atau para alim-lah yang benar-benar akan menghormati Allah, karena rasa hormat pada ke-Ilahian bergantung pada pengetahuan atau kemampuan untuk mengetahui dan mengenal-Nya. Orang-orang yang tidak mengenal Allah dan tidak memahami tentang lingkaran ke-Uluhiyahan sudah barang tentu tidak mungkin memiliki rasa hormat dan kekaguman pada-Nya.

Dari sudut pandang ini, jika kita ingin membesarkan anak-anak dengan baik, salah satu hal terpenting yang wajib untuk dilakukan adalah menanamkan keyakinan (akidah) yang kuat di dalam diri anak. Mereka juga harus diberi pengetahuan sebanyak mungkin tentang bukti-bukti keberadaan Allah dengan membaca tanda-tanda akan keberadaan Wâjibu’l-Wujud, menelaahnya, melihat dalil atau bukti-buktinya, dengan takaran yang disesuaikan pada tingkat usia dan budayanya. Terkadang bukti-bukti tersebut telah cukup menghilangkan keraguan dalam diri kita akan tetapi mungkin bukti yang sama masih sulit untuk dipahami seorang anak dikarenakan tingkatan usia dan budaya yang melatarbelakangi. Jika hal ini terjadi, maka harus dilakukan pendekatan yang lebih mendalam. 

Hal khusus lain yang juga amat penting adalah menempatkan kehidupan suci Rasulullah ﷺ ke dalam kalbu anak-anak hingga membuat mereka mencintai dan benar-benar menguasainya. Berkaitan dengan hal ini ada baiknya saya menyinggung tentang salah satu karya yang menyajikan tentang kehidupan Beliau ﷺ yang berjudul “Cahaya Abadi – Muhammad ﷺ, Kebanggaan Umat Manusia”.

c) Menghapuskan Keraguan

Saat ini, kita sering berhadapan dengan banyak pertanyaan seperti " Allah telah menciptakan alam semesta, lalu siapa yang menciptakan Allah?" -semoga kita dilindungi dari pertanyaan seperti ini. Adanya pertanyaan-pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa anak-anak belum diberi penjelasan yang cukup kuat tentang Allah Subhânahu wa ta’âla. Begitu pula jika sampai seorang anak bertanya, "Mengapa Nabi memiliki lebih dari satu istri?" Maka hal ini pun menunjukkan bahwa anak yang mengajukan pertanyaan ini belum memiliki informasi yang benar mengenai Rasulullah ﷺ.

Demikian pula, sayangnya ada beberapa orang yang berkomentar seperti ini: "Rasulullah adalah sosok yang sangat cerdas. Perubahan yang Beliau buat adalah hasil kecerdasannya." Jelas, hyal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang berkomentar seperti ini tidak memiliki pendidikan agama yang cukup dan mereka tidak memahami makna sebenarnya dari "kenabian" itu sendiri.

Lebih jauh lagi, luka menganga seperti ini akan bertambah buruk lagi dengan penanganan yang salah sehingga pemahaman anak akan semakin buruk. Oleh karenanya sejak awal kita harus sadar sepenuhnya bahwa adalah hal yang amat penting untuk mengokohkan alam ruhani dan pemikiran anak anak kita dengan keyakinannya pada Allah Subhânahu wa ta’âla secara benar. Jika yang kita jelaskan kepada anak sesuai dengan usia anak tersebut, maka penjelasan tersebut akan membuat mereka menjadi yakin. Misalnya; “Tak mungkin ada sepotong jarum pun tanpa ada pembuatnya, jarum itu tak mungkin ada dengan sendirinya. Kalau begitu, pastilah ada yang menciptakan semua yang ada di sekitar kita dan itu adalah Allah ﷻ.” Pendekatan dengan logika  seperti ini akan dapat menghapus beberapa keraguan yang mungkin muncul dalam pikiran mereka.

Suatu kali, orang-orang Majusi (kaum penyembah api) mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Hanifah dan menuntut jawaban yang memuaskan bagi mereka. Pada masa ketika kemajuan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi sebagaimana juga  hukum, fiqih dan pemikiran Islam sama-sama mengalami peningkatan yang amat penting, orang-orang Majusi ini mengatakan kepada Abu Hanifah bahwa mereka tidak percaya pada Tuhan. Saat itu sangat banyak orang-orang majusi yang tinggal di Kufah, kota tempat tinggal Abu Hanifah. Oleh karena pada masa lalu Kufah merupakan tanah yang banyak ditinggali oleh kaum ini.

Abu Hanifah menjelaskan semuanya kepada mereka dengan cara yang sangat sederhana: "Jika kalian melihat sebuah kapal melaju ke pantai dengan mudah sementara laut sedang bergolak, dan kapal itu dikemudikan dengan baik serta jalurnya stabil meskipun gelombang sedang tinggi, akankah kalian ragu bahwa ada seseorang di atas kapal itu yang mengemudikannya dengan keahlian yang sempurna?" Mereka menjawab secara bersamaan, "Tidak, kami tidak akan ragu!" Kemudian, imam besar itu bertanya lagi, "Jadi, bintang-bintang itu, alam semesta yang luas ini, bumi yang berputar dengan jalur yang stabil; bagaimana kalian bisa berpikir bahwa semua ini terjadi dengan sendirinya?" Mendengar itu, orang-orang Majusi tersebut lalu berkata, "Lâ ilâha illallah, Muhammadur-Rasûlullah" (Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul-Nya).

Dalam hal ini beliau memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pemahaman orang yang diajaknya bicara. Untuk beberapa orang, penjelasan itu mungkin terlalu sederhana, sementara untuk orang lain ternyata hal tersebut sudah cukup. Tidak peduli selogis apapun sebuah penjelasan, setelah anak mencapai usia tertentu, hal tersebut tidak akan lagi cukup. Ketika usia mereka telah lebih dewasa, kita perlu lebih menekankan pada konsep-konsep kehambaan yang membutuhkan pemikiran lebih dalam untuk lebih menguatkan hal-hal dasar yang ingin kita sampaikan. Kita dapat pula mengambil berbagai contoh dari alam semesta, manusia, struktur luar dan dalam dari manusia itu sendiri. Ya, Tubuh manusia, mekanisme di dalamnya, otak, sel-selnya, sistem, anatomi, dan fisiologi, semua diciptakan dengan tingkat kesempurnaan yang menakjubkan. Menurut pendapat saya, cukup dengan menjelaskan contoh-contoh ini satu per satu sesuai usia dan kondisi masing-masing anak berdasarkan kerangka ilmu pengetahuan.

Seperti hal di atas, kita juga dapat berbicara tentang berbagai keistimewaan udara, air, cahaya, vitamin, protein, karbohidrat, atau mikroorganisme. Sebenarnya dari kesemua hal ini hanya penyampaian materinya yang akan berbeda, namun secara struktur dasar yang akan disampaikan adalah sama yang merupakan pelajaran dan program yang berkelanjutan.

Ketika Badiuzzaman Said Nursi[4] menjelaskan tentang adanya Tuhan, beliau menggunakan contoh yang sangat baik berikut:

‘Setiap desa pasti ada pemimpinnya. Setiap jarum harus ada pembuat dan pengrajinnya. Dan, seperti yang kalian ketahui, setiap huruf harus ditulis oleh seseorang. Lalu, bagaimana bisa bumi yang sangat teratur ini tidak memiliki Sang Maha pengatur?’[5]

Beliau mempertanyakan bagaimana mungkin alam semesta, yang begitu luas dan luar biasa ini, bisa ditinggalkan tanpa diawasi? Ia pun bertanya bagaimana mungkin semua hal bisa berjalan dan terjadi dengan sendirinya?

Cara ini adalah metode yang baik untuk membuat anak mulai berpikir. Jika kita mencari bahasan ini dalam publikasi yang tersedia, kita bisa memperoleh banyak bahan yang bisa digunakan sebagai referensi. Yang perlu kita lakukan adalah memilih bahasan yang tepat untuk anak-anak muda yang akan kita ajak bicara, menentukkan mana yang menjadi prioritas untuk dijadikan penjelasan dan mana yang mungkin harus ditinggalkan dahulu.

3. Bercerita tentang Masa Para Sahabat dan Rasul Allah

Begitu pula, kita harus sangat berhati-hati ketika sedang menjelaskan tentang Rasulullah ﷺ. Menurut saya secara pribadi, adanya beberapa orang tidak menyukai Rasulullah saat ini dapat dikaitkan dengan fakta bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang Beliau ketika mereka masih kanak-kanak. Orang-orang yang mengenal Beliau ﷺ dengan baik, akan mengagumi dan menghormatinya. Selama berabad-abad, banyak orang terpesona oleh daya tarik Beliau ﷺ, mengikuti semua perilakunya, dan tidak ada manusia dalam sejarah dunia yang dihormati sedemikian rupa seperti penghormatan yang diberikan pada Beliau. Namun, kita tidak bisa berharap anak-anak akan mencintai Rasulullah jika kita tidak menjelaskan tentang Beliau dengan baik pada mereka. Pada periode waktu tertentu, ada sekelompok orang beruntung yang memiliki kehormatan bertemu dan bersama dengan beliau. Kelompok beruntung yang lain bertemu dengan orang-orang yang bertemu dengan Nabi dan mencoba melihat Nabi ﷺ melalui mata generasi sebelumnya. Hal ini diungkapkan dalam hadis: "Yang terbaik di antara kamu adalah orang-orang yang hidup di zamanku. Lalu kemudian generasi yang datang sesudah mereka ...."[6]

Rasulullah ﷺ datang pada masa yang amat gelap, masa ketika ada orang-orang tak berperasaan yang mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka, hampir semua orang minum alkohol, dan nilai moral begitu lemahnya, namun dengan satu kali gerakan Beliau mampu mengubah dan memperbaiki keadaan masyarakat yang seperti ini, gerakan maupun pengikutnya tidak ada bandingannya, tidak mungkin ada yang bisa menyamainya. Beliau adalah orang yang diberkahi karena berhasil mencapai reformasi sosial yang luar biasa. Beliau seolah mampu memasuki sel-sel otak orang-orang yang hidup di masanya, membangun tahta di kalbu mereka dan ketika mengobati penyakit-penyakit jasmani maupun ruhani yang mereka derita, Beliau melakukan perubahan atau revolusi luar biasa bagi mereka sehingga menjadi individu-individu idola yang mampu mencapai kecemerlangan akhlak. Semua prestasi dan komunitas yang dibentuk oleh Beliau ﷺ benar-benar tak tertandingi sepanjang sejarah manusia.[7]

Pada zamannya terjadi pula berbagai revolusi di Yunani Kuno, Roma dan negara-negara lain. Namun, tidak satu pun di antaranya menawarkan hasil lebih dalam hal nilai-nilai kemanusiaan. Revolusi-revolusi tersebut membawa masalah baru, dan di beberapa tempat justru menarik masyarakatnya kembali ke masa lalu. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa dalam periode tertentu, yang ditinggalkan oleh beberapa revolusi hanyalah darah dan air mata.

Sebuah revolusi sejati adalah revolusi yang membawa perubahan positif dalam hati, jiwa, kehidupan fisik dan spiritual, perasaan, dan pikiran manusia, revolusi yang membebaskan mereka dari cengkeraman nafsu duniawi dan mengangkat mereka menuju puncak kemanusiaan (a’lâ-ya illiyyîn), yang kemudian berlangsung terus menjadi sebuah siklus lingkaran kesalihan. Inilah yang dicapai Rasulullah –seorang ahli kemasyarakatan terbaik yang pernah ada– dalam kerangka ke-Nabi-annya, berkat kemampuan Beliau yang sangat baik ketika berurusan dengan masalah-masalah sosial. Saya tidak tau seberapa jauh kita telah mempelajari hal ini dan berapa banyak yang telah kita sampaikan dari pengetahuan ini kepada anak-anak kita, meskipun sesungguhnya bagi kita Beliau adalah contoh terbaik dalam setiap aspek kehidupan.

Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang pemikir abad ini Ustad Badiuzzaman Said Nursi: Jika kita membawa ratusan filsuf dan pergi ke Jazirah Arab pada masa itu, walaupun dengan membawa segala fasilitas tercanggih yang kita miliki saat ini sekalipun, selama seratus tahun pun kita tidak akan mungkin bisa menyelesaikan permasalahan yang diselesaikan oleh Rasulullah ﷺ hanya dalam waktu satu tahun. Secara lebih sederhana beliau mengatakan:"... Sebagaimana kebiasaan kecil seperti merokok, dari masyarakat yang kecil, hanya dapat ditiadakan secara permanen dengan sebuah upaya dan usaha keras dari penguasa yang berpengaruh"[8]. Dengan kata lain: Jika sepuluh orang mencoba membujuk seorang perokok berat untuk berhenti merokok dengan cara yang paling meyakinkan mengatakan kepadanya bahwa hal itu menyebabkan kanker, mereka tetap tidak akan bisa membuatnya berhenti merokok. Namun ternyata, Rasulullah ﷺ mampu menghapuskan semua kebiasaan buruk yang telah mendarah daging bagi orang-orang di sekelilingnya hanya dengan satu gebrakan usaha, seperti satu tiupan angin yang mampu menyapu segala yang buruk pada sifat mereka dan menggantinya dengan nilai-nilai kemanusiaan yang paling mulia.

Berkaitan dengan perubahan kebiasaan buruk yang telah mendarah daging ini, ketaatan yang luar biasa dalam mematuhi larangan meminum alkohol adalah fakta yang luar biasa. Bayangkan sebuah komunitas penuh alkohol, di mana minuman memabukkan ini menjadi bagian dari kehidupan mereka. Saat mereka mendengar perintah bahwa "alkohol dilarang," mereka segera membanting gelas-gelas sloki yang sedang dipegangnya dan tidak pernah lagi berusaha meminumnya. Para akademisi gagal untuk menjelaskan mengapa reformasi ini menjadi begitu efektif. Namun yang menjadi tugas kita adalah belajar memahami tentang pribadi Beliau ﷺ ini, pribadi yang memiliki keutamaan terbesar, dan menjelaskan apa yang kita ketahui tentang Beliau kepada orang lain sehingga cintanya bisa menaklukkan hati mereka. Jika kita berhasil melakukannya, anak-anak kita akan berbicara tentang Rasulullah Muhammad ﷺ , berpikir tentang Beliau, dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Beliau. Usaha ini secara khusus kita sebut sebagai ‘talkin’ (mensugesti) atau dengan kata lain Rasulullah ﷺ yang merupakan penyangga kehidupan fisik dan ruhani kita akan secara langsung mendukung dan membela kita. Semoga Yang Mahakuasa menguatkan iman kita melalui pribadi mulia  ﷺ yang diberkahi ini!

a) Menceritakan Mukjizat-Mukjizat Rasulullah

Memahami dan menceritakan kepada anak-anak kita tentang Rasulullah ﷺ dan semua peristiwa yang Beliau nubuatkan baik yang sudah maupun yang akan terjadi seolah-olah seperti menonton sebuah berita di layar kaca televisi akan dapat menyegarkan kepercayaan mereka kepada Beliau ﷺ. Dalam hal ini, begitu banyak kabar yang jelas, benar dan tak membutuhkan takwil apapun yang Beliau sampaikan seakan-akan mengabarkan banyak peristiwa penting yang membentang dari zaman beliau hingga ke akhir dunia di masa depan, membeberkan penyebab dan akibat dari masing-masing peristiwa tersebut dan dengannya Beliau seolah mengingatkan kita agar mewaspadainya. Beliau ﷺ mengabarkan tentang berbagai peristiwa, seperti invasi Mongolia, pendudukan Suriah,[9] keutamaan dan kegunaan sungai Eufrat,[10] sumber-sumber minyak bumi di Taleqan,[11] beberapa fitnah akhir zaman dengan menyebarnya kerusakan moral,[12] dan lain sebagainya. Sungguh tidak mungkin menyangkal kenabian Beliau jika seseorang menyadari kebenaran semua kabar yang Beliau bawa ini.

Ya, seandainya semua mukjizat ini dapat kita sampaikan pada anak-anak kita, maka mereka akan melihat kebesaran nama Beliau ﷺ sehingga keberadaan Rasulullah akan selalu tertanam kuat di dalam benak dan kalbu mereka tanpa pernah tergantikan oleh apapun. Beliau tidak pernah mempelajari ilmu, sains dan teknologi dari siapapun, sepanjang hayatnya tidak pernah juga menuliskan bahkan dua baris kalimat sekalipun, namun kita berhutang besar pada ilmu-ilmu ulûm-u awwalîn wa âhirîn (pengetahuan baik dari masa lalu maupun masa depan) milik Rasulullah Muhammad ﷺ, yang tak belajar dari siapapun kecuali dari Allah Subhânahu wa ta’âla, yang telah pula diajarkannya pada kita.

Beliau juga menyatakan fakta-fakta tentang obat yang di kemudian hari terbukti benar, meskipun tingkat dasar pengetahuan ilmiah pada masa itu tidak memungkinkannya untuk mengetahui fakta seperti itu. Oleh karena itu, Allah telah memberikan ta’lim (pengajaran) atas segala sesuatu kepada Beliau dan Beliau hanya mengungkapkan apa yang telah diajarkan kepadanya. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Beliau memang benar-benar seorang Rasul Allah.

Jika kita ingin membuat sebuah tulisan yang akurat mengenai kehidupan pribadi dan perubahan-perubahan yang dihasilkan dari pengajaran Rasulullah Muhammad ﷺ  maka beberapa volume buku tidak akan cukup untuk itu. Yang Kami sebutkan di atas hanyalah sepintas beberapa fakta singkat saja. Para pembaca dapat mendapatkan kisah-kisah tentang thibbun Nabawi (pengobatan cara Rasulullah), kabar-kabar gaib dan hal-hal khusus lain tentang Beliau pada karya-karya lain yang secara khusus membahas hal tersebut.

4. Mengenalkan dan Mengajarkan Al Qur’an

Membuat generasi muda mencintai dan mementingkan setiap aspek Al Qur’an, sangatlah penting bagi peningkatan kesadaran agama dan menjaga agar kesadaran itu tetap hidup di hati mereka. Hanya dengan pernyataan "Qur'an itu suci" saja tidaklah cukup baik bagi anak maupun bagi Al Qur’an itu sendiri. Kalaupun dengan tindakan represif seperti itu dianggap cukup efektif namun itu hanya akan bertahan hingga anak sampai di usia tertentu saja, namun tidak akan cukup jika anak telah mencapai usia dewasa; bahkan hal tersebut bisa berbahaya karena bisa menyebabkan adanya sikap antipati pada diri anak di masa depan terhadap ajaran agamanya sendiri. Berdasarkan pemikiran ini, dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi termutakhir yang kita miliki saat ini kita harus mampu menyampaikan dan meyakinkan anak-anak kita bahwa Al Qur’an adalah wahyu terakhir dari Allah yang tak pernah terdistorsi maupun terbantahkan.

Sesungguhnya Al Qur’an adalah buku indah yang menegaskan semua temuan ilmiah terbaru tentang alam semesta, penciptaan, dan eksistensinya. Bahkan Kitab luar biasa ini memberikan data ringkas tentang subjek-subjek tersebut dalam bentuk kaidah-kaidah umumnya. Dapat dikatakan bahwa Al Qur’an menjelaskan segala sesuatu dari alam-mikro hingga alam-makro secara jelas dan meyakinkan dengan tujuan  penghambaan segala sesuatu padaNya. Ayat berikut menegaskan hal ini: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Q.S. Al-An'am 6:59).

5. Mengajarkan tentang Hari Kebangkitan

Langkah yang lebih jauh yang harus kita lakukan selanjutnya adalah menjelaskan tentang hari kebangkitan. Anak harus meyakini di dalam hatinya bahwa segera setelah kehidupan ini berakhir akan ada sebuah kehidupan baru, setelah dunia ada alam baka, setelah awal akan ada akhir, dan setelah alam ini akan ada sebuah kehidupan kekal di akhirat. Ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan kenyataan menunjukkan bahwa Allah menciptakan alam semesta ini dan Dia memeliharanya. Dialah satu-satunya yang menunjukkan dan menetapkan "waktu". Al Qur’an menyinggung fakta ini dengan ayat berikut: "Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan makhluk dari permulaannya (awal proses kelahiran makhluk). Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi (menciptakan anak keturunan lainnya). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.'(QS. Al-Ankabut 29:20).

Maksud dari ayat ini adalah kita harus melihat dan menapaki, berkeliling di permukaan bumi ini untuk menelaah semua ayat-ayat kauniyah (alam semesta), lembar demi lembar, langkah demi langkah; kita harus melihat segala sesuatu dan merenungkan bagaimana kehidupan dimulai di bumi ini, bagaimana alam semesta ini terjadi dari ketiadaan, bagaimana manusia muncul, bagaimana berbagai bentuk kehidupan diciptakan sebagai spesies yang berbeda-beda, dan bagaimana kesempurnaan terpenuhi dengan adanya manusia.[13]

Allah ﷻ, yang menciptakan alam semesta dari ketiadaan ini, pasti juga akan membangkitkannya kelak. Apakah mungkin Dia, Dzat yang telah membangun semua keteraturan di bumi ini tak mampu membangun hal yang sama di alam lain? Apakah Dia yang telah menciptakan bumi ini dengan luar biasa tidak mampu menciptakannya lagi di bagian yang lain? Apakah Dia yang telah menyebutkan dunia ini sebagai 'kehidupan duniawi', tak bisa menyebut dunia sesudahnya sebagai ‘kehidupan akhirat’? Apakah Dia yang telah membawa kita ke dunia ini tidak bisa membawa kita ke tempat tinggal yang kekal? Penjelasan seperti ini saya rasa akan dapat disesuaikan dengan tingkatan pemahaman anak-anak kita, tanpa harus masuk pada penjelasan filsafat yang rumit.

Selain itu dengan mata, kita bisa melihat bahwa langit dan bumi telah diciptakan secara luar biasa. Sebagaimana ikan-ikan berenang di lautan, burung-burung terbang di angkasa, semua mahluk berada dalam sebuah sistem yang besar, pada semua nebula yang melayang lembut dalam harmoni yang menakjubkan melintasi alam semesta, tidak ada kekacauan, ketidakteraturan atau ketiadaan tujuan pada kesemuanya itu jika dilihat oleh mereka yang mengamatinya dengan mata kebijaksanaan dan penuh hikmah. Terlebih lagi, semua keharmonian atau keselarasan ini amat mudah dilihat oleh siapapun, bahkan oleh pikiran yang paling sederhana sekalipun. Al Qur’an yang mulia menyoroti semua ini dan terlepas dari penciptaan langit dan bumi menunjukkan pula pada makna khusus penciptaan manusia.

“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ’Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (As-Sajdah 32: 4).

“Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah” (QS. As-Sajdah 32: 7).

Al Qur’an yang mulia mengatakan bahwa Allah menciptakan dan mengatur sistem yang megah ini. Dia pulalah yang akan menciptakan alam semesta yang lain setelah semua sistem itu hancur. Sehingga jika manusia menyangkal fakta ini maka sebenarnya manusia tersebut telah berada dalam pernyataan yang tidak masuk akal. Saya rasa jika hal ini disampaikan secara benar baik kepada anak-anak maupun orang dewasa adalah merupakan sebuah fakta yang tak terbantahkan. Di dalam Al Qur’an terdapat banyak pernyataan yang sangat jelas tentang hal ini.

Dalam ayat berikut, Al Qur’an mengacu kepada mereka yang menyangkal adanya kebangkitan:

“Katakanlah: "yang akan menghidupkannya ialah Allah yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk"(QS. Yâsin 36: 79).

Ayat yang lain menyatakan:

Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu (QS. Ar-Rum 30: 50).

Gaya pengungkapan Al Qur’an yang lugas dan jelas serta jauh dari pemborosan kata-kata menjelaskan dengan sangat jernih apa yang perlu disampaikan kepada setiap manusia dari semua tahapan usia.

Penjelasan tentang Malaikat dan konsep takdir juga merupakan pembahasan yang harus diperhatikan secara khusus. Dengan berbagai cara dan metode yang bervariasi, kita harus mampu menjelaskan secara jelas kepada generasi muda bahwa sebagaimana  segala sesuatu di dunia ini harus memiliki program, proyek, dan rencana sebelum dilaksanakan; maka demikian pula halnya dengan alam semesta ini. Program atau rencana besar atas alam inilah  yang disebut "takdir", yang berada dalam pengetahuan Ilahi dan meliputi segala sesuatu yang belum terjadi.

Sebagai kesimpulannya, kita hanya akan mampu menunjukkan Sirat al-Mustaqim (jalan yang lurus) kepada anak-anak kita dengan mengajarkan semua hal tersebut kepada mereka. Katakanlah: "Tunjukkanlah kami jalan yang lurus" (QS. Al-Fatihah 1: 6), baik dengan kata-kata maupun melalui tindakan kita. Dengan doa melalui lisan dan tindakan inilah, Insya’Allah dengan rahmat-Nya Yang Maha Esa upaya tarbiyah kita takkan sia-sia. Di sisi lain ibadah-ibadah yang menunjukkan ketaatan kita atas perintah-perintah-Nya seperti salat, puasa, haji dan zakat sebaiknya diajarkan pada anak-anak melalui karya-karya orang-orang sholeh sehingga kalbu anak-anak kita akan selalu diarahkan pada Sang Maha Agung pada semua keadaannya, baik dari yang bersifat keyakinan hingga semua amalannya agar tidak ada tempat atau kesempatan bagi mati dan kotornya jiwa, hati dan fikiran mereka.

Misalnya, anak harus benar-benar diberikan pemahaman tentang betapa buruknya melakukan syirik dan betapa berat siksanya kelak di Jahannam. Mereka juga harus mengerti betapa buruknya dosa berzina sehingga mereka takut bahkan hanya untuk mendekati perbuatan kotor ini dan lebih memilih meninggal dengan senyuman karena berhasil menjauh dari dosa besar ini. Begitu besarnya ancaman atas dosa-dosa ini harus benar-benar mereka pahami sehingga kalbu mereka harus bergetar takut jika sampai lidah dan mata mereka sekalipun mendekatinya dan seumur hidup akan disesali dengan penuh air mata. Secara berulang kali harus pula ditekankan pada mereka betapa buruknya perbuatan membunuh, mencuri dan berbohong agar mereka benar-benar benci serta menjauhi semua sifat buruk ini dari perangainya.

Selain itu, penekanan berulang kali secara lisan maupun tindakan atas hal-hal khusus yang merupakan akhlak buruk harus diberikan agar anak-anak tidak sampai terjatuh pada kubangan keburukan degradasi moral ini.   Jika sejak awal anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang murni dan bersih, maka dengan izin-Nya, spiritualitas mereka tidak akan goyah oleh godaan yang dapat mereka hadapi selanjutnya, tidak akan pula mematikan perasaan, keyakinan dan perasaan terdalam dalam dirinya. Kelak mereka akan selalu hidup dan menghidupkan nyala kecintaannya pada Allah Subhânahu wa ta’âla, selalu menjadi hamba Allah yang taat dan rasa hormatnya pada Islam akan terus ada.



[1] Musnad, 3/247

[2] HR. Muslim, Surga; Abu Daud, Sunnah, 22; Tirmidzi, surga, 21; Nasa’i, Iman, 3.

[3] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an, 3:509. Isnad hadis ini jayyid.

[4] Badiuzzaman Said Nursi (1877-1960) adalah salah satu pemikir Muslim dan ulama terbesar pada abad ke-20. Beliau menulis tentang kebenaran dan esensi agama Islam, makna dan nilai pentingnya ibadah, moralitas, dan makna eksistensi, dan beliau memiliki pendekatan yang orisinil dalam setiap penjelasannya. Sözler (The Words), Mektubat (The Letters), Lem'alar (The Gleams), dan Şualar (The Rays) adalah beberapa di antara karya-karyanya yang paling terkenal.

[5] Badiuzzaman, Risale-i Nur Kulliyati, 1/20.

[6] Sahih Muslim, "Fada'il al-Sahaba" 210,211,212,214,215; Abu Dawwud, Sunnah 9.

[7] Badiuzzaman, Sozler, Kata ke-19

[8] Badiuzzaman Said Nursi, Sozler, kata ke-19, bagian ke delapan.

[9] Bukhari, Jihad, 95,96; Abu Dawud, Perang, 10; Ibnu Majah, Fitnah, 36; Musnad, 5/40,45.

[10] Bukhari, Fitnah, 24; Muslim, Fitnah, 30; Abu Dawud, Perang, 12,13.

[11] Ali al-Muttaki, Kanzu’l-Ummal, 14/591.

[12] Tirmidzi, Fitnah, 39.

[13] Biarkan saja ada teori-teori Lamarkisme, Darwinisme ataupun Neo-darwinisme muncul untuk menjelaskan tentang entitas di dunia... karena sebenarnya semua prinsip teori-teori ini sangat lemah dan amat dangkal dalam menjelaskan ‘entitas’. Sesungguhnya ilmu pengetahuan sendiri telah membuktikan runtuhnya teori-teori lama ini.

blog comments powered by Disqus