Cetak

Perbandingan Antara Tarbiyah Qur’ani Dan Tarbiyah Non-Qur’ani

Ditulis oleh Fethullah Gülen pada . diposting di Dari Benih Hingga Menjadi Pohon

Penilaian Pengguna:  / 1
JelekBagus 
Perbandingan Antara Tarbiyah Qur’ani Dan Tarbiyah Non-Qur’ani

Dalam bab ini, masalah tarbiyah dibagi menjadi dua tipe dasar, yaitu: "Tarbiyah non-Qur'ani, moralitas non-Qur'ani, dan metode non-Qur'ani" serta "Tarbiyah Qur'ani, akhlak Qur’ani, dan metode Qur'ani."

Generasi ini memiliki pilihan: menjadi generasi yang rentan terhadap arus  pandangan filosofis keliru yang ekstrim dan terdistorsi, falsafah yang prinsip-prinsipnya tidak peka, brutal, dan kejam, atau menjadi generasi yang penuh belas kasih, kuat dan berpandangan jauh dengan petunjuk dari prinsip-prinsip unggul Qur'an dan perintah-perintah Ilahi.

Sebenarnya, setiap kali manusia menjauh dari Al Quran dan hanya mengikuti tabiat dirinya sendiri, maka mereka akan menjadi kasar, kejam, zalim, dan tak berperi kemanusiaan terhadap orang lain yang lemah dan tak berdaya. Mereka bahkan  akan memanfaatkan manusia yang lemah dan tak berdaya, mengeksploitasinya, memandang rendah serta membenci mereka. Sebaliknya saat dirinya kehilangan kekuatan dan menjadi lemah tak berdaya, mereka juga kehilangan kehormatan dan bersedia mengorbankan harga diri mereka untuk keuntungan kecil semata.

Bagaimana Al Qur’an memandang manusia? Bagaimana cara Al Qur’an mendefinisikan dan memperkenalkan setiap individu? Manusia seperti apa yang diinginan Qur'an? Sambil merenungkan pertanyaan-pertanyaan itu, kami akan mencoba menggambarkan tipe manusia yang dideskripsikan Al Qur’an sebagai "Muslim". Kemudian kami akan menghimpun dan membahas prinsip-prinsip yang berkaitan dengan masalah ini. Setelah itu, kami akan mendiskusikan bagaimana individu yang menerima dan mempraktikkan prinsip-prinsip itu dipandang sebagai Muslim yang sejati dan lengkap, dan bagaimana masyarakat yang anggotanya terdiri dari Muslim yang demikian menjadi ‘sebuah masyarakat yang ideal’.

Seorang individu memiliki dua status yang berbeda, pertama sebagai pribadi dan kedua sebagai anggota masyarakat. Di atas segalanya yang paling utama adalah bahwa kebaikan masyarakat bergantung pada kebaikan pada masing-masing individu pembentuknya. Setiap individu harus sehat secara fisik dan ruhaninya agar masyarakatpun menjadi sehat. Sementara konsep ‘sehat’ tersebut dapat diukur dengan kekuatan akidah, perbuatan baik atau amal sholeh dan kesesuaian antara tindakan seseorang dengan prinsip-prinsip agama.[1]

1. Tarbiyah Non-Qur'ani

a) Menjadikan Manusia Seperti Firaun

Seperti yang kita lihat hingga saat ini, tarbiyah yang tidak menjadikan Al Qur’an sebagai pedomannya (non-Qur'ani) telah merubah seseorang sehingga berpotensi menjadikannya seperti calon-calon Firaun baru, menciptakan dalam diri mereka perasaan yang memandang rendah orang lain. Ya, ada dua sisi dari ke-Firaunan tersebut. Di satu sisi keadaan berkuasa dan memiliki kekuatan yang menjadikannya menjadi "agresif, kejam, brutal, menindas, dan egois". Di sisi yang lain adalah keadaan lemah dan tak berdaya, dari sudut pandang ini, ia berada dalam kondisi begitu menyedihkan, sengsara, dan terhina hingga mampu mencium kaki orang lain. Seperti dijelaskan oleh Bediuzzaman, seseorang yang terikat hanya pada filosofi duniawi sebenarnya adalah tiran seperti Firaun, akan tetapi Firaun yang sengsara karena menyembah hal-hal yang amat sepele hanya untuk kemanfaatnya sendiri dan seperti Iblis yang suka mengambil keuntungan dengan cara yang licik, ia adalah individu keras kepala yang merendahkan dirinya dengan mencium kaki orang lain...”. Sementara  menurut beliau seseorang yang telah menerima Tarbiyah Qur'ani: “adalah seorang hamba, namun seorang hamba mulia yang menolak menyembah makhluk, sehebat apapun mahluk itu...”[2]

Ciri kepribadian seperti ini tidak hanya dimiliki oleh Firaun yang menentang Nabi Musa as. saja, tetapi juga menjadi karakteristik umum dari semua yang menyerupai Firaun di sepanjang sejarah. Tampaknya di zaman ini, ada lebih banyak Firaun dibandingkan dengan zaman pada masa lainnya. Ketika orang-orang seperti itu membutuhkan kita atau ketika kepentingan mereka dipertaruhkan, mereka akan membungkuk dan memohon di hadapan kita, harga dirinya disembunyikan dan sibuk berada di sekitar kaki kita. Namun, ketika orang-orang itu merasa dirinya telah berada pada posisi yang aman, kuat, dan berkuasa, maka mereka pun berubah menjadi agresif, barbar, dan buas. Sifat mereka yang ‘berwajah dua’ ini mengingatkan kita pada Firaun dan Namrud.

Al Qur’an menggambarkan kondisi psikologis menyimpang ini sebagai hal membuat seseorang cenderung menjadi Firaun dalam ayat berikut: "Firaun mengumpulkan para ahli sihir dan mengatakan, ‘Aku adalah tuhan kalian yang mahatinggi’" (An-Naziat 79: 23-24). Ini adalah saat ketika ia bersikap zalim dengan memandang dirinya hebat di hadapan tentara dan para pendukungnya.

Ada juga saat dan situasi ketika ia menjadi sengsara dan menyedihkan. Dalam situasi ini ia berada dalam keadaan yang lebih celaka dibandingkan dengan yang paling celaka dan lebih hina dibandingkan yang paling terendah sekalipun. Qur'an menggambarkan keadaan jiwa orang-orang yang berada dalam keadaan seperti itu, seperti berikut:

“Dan, Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga ketika Firaun telah hampir tenggelam, berkatalah dia: “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS. Yunus 10: 90).

Jika apa yang dikatakannya dalam ayat itu diperhatikan dengan seksama, maka amat mudah untuk melihat bahwa apa pun yang dikatakan tidak lebih dari sekedar teriakan-teriakan munafik dan kata-kata yang tidak tulus; jelas bahwa Firaun tidak jujur dengan ucapan, pikiran, dan kata-katanya. Jika ia benar-benar mengungkapkan perasaan yang sebenarnya dengan penuh keistiqomahan pada saat itu, maka Allah Yang Mahakuasa pasti akan menerima imannya. Akan tetapi, ia berdoa dan menghadap kepada Allah tanpa ketulusan namun karena ia mendapati dirinya dalam kesulitan; itulah mengapa Allah Yang Mahakuasa tidak menerima teriakannya yang tragis tadi. Tipe perilaku itu adalah tindakan khas Firaun. Anda mungkin akan menemukan ratusan orang yang bersikap seperti itu dalam hidup ini. Mereka akan datang ke pintu kita dan merendahkan dirinya di depan Anda, meminta kedudukan atau kenaikan gaji. Tetapi, setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka menghilang, meninggalkan dan mengutuk Anda dengan ketidaksetiaan "nasyan mansiyya".[3] Sebenarnya, mudah untuk melihat bahwa orang-orang seperti itu tidak akan berusaha sedikit pun untuk memerangi masalah-masalah yang dihadapi bangsa, agama, keimanan, kehidupan beragama, atau pun tarbiyah bagi anak-anaknya. Begitu menyakitkan saat kita menyadari bahwa mereka mencoba untuk menipu kita dan sikap ini membuat kita merasa jijik.

Tidak bisa dikatakan bahwa orang-orang yang belum pernah mendapatkan Tarbiyah Qur’ani adalah seperti Firaun dalam segala hal. Akan tetapi, mereka mungkin memiliki beberapa sifat negatifnya. Dengan mempertimbangkan kemungkinan ini, kita perlu hati-hati dan bersikap bijak dengan hanya menyebut perilakunya saja sebagai "sifat Firaun". Kadang-kadang bisa saja ada seorang mukmin yang memiliki aspek sifat Firaun dalam dirinya sementara ada orang yang bukan mukmin namun memiliki ahklak seperti Nabi Musa. Jika seorang mukmin terus mempertahankan sifat Firaunnya, maka –semoga Allah melindungi kita dari hal ini– keimanannya mungkin akan lenyap dan pada akhirnya mengubahnya menjadi Firaun. Sementara di sisi lain, seorang non-muslim yang memiliki kebajikan moral Nabi Musa mungkin pada akhirnya akan mencapai status yang lebih tinggi dan dapat pula mengikuti jalan Musa. Sesungguhnya, Allah tidak melihat pada penampilan luar, asal-usul ras, atau kelas seseorang; sebaliknya, Dia memandang ke dalam hati, kehidupan spiritualitasnya, kesalehan dan ketakwaan manusia tersebut. Secara singkatnya, Dia menghargai kualitas dan karakter manusia.

Tentang hal ini, diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengatakan bahwa: "Allah ﷻ tidak melihat penampilan fisik atau wajahmu. Dia hanya melihat pada hati (dunia batin) dan perbuatanmu."[4]

b) Bagaimana Tarbiyah Non-Qur’ani Membentuk Sikap Keras Kepala, Angkuh dan Congkak

Biasanya mereka yang menerima pendidikan atau tarbiyah tanpa didasari ajaran Al Qur'an akan menjadi individu keras kepala dan angkuh, mereka suka berkata: “Inilah egoku yang  terhormat, kehormatanku atau diriku yang membanggakan” dan untuk perasaan seperti ini seringkali berbagai prinsip kemanusiaan dan begitu banyak hak orang lain dilanggar, hanya untuk memuaskan diri, kebanggaan, dan kehormatan mereka tersebut. Padahal "perasaan keras kepala" dianugerahkan ada pada manusia sebenarnya agar kita tetap gigih dan tidak mudah menyerah dalam perjuangan dakwah kita di jalan Allah.

Ya, Allah Yang Mahakuasa telah memperkuat kita dengan perasaan yang menjadi titik awal atas sesuatu yang biasa disebut sebagai kegigihan atau sikap keras hati (keras kepala), perasaan inilah yang menguatkan kita agar tidak gampang menyerah dalam memperjuangkan sesuatu yang telah menjadi komitmen dalam diri, meskipun untuk mempertahankannya bisa jadi kita telah kehilangan harta, pekerjaan ataupun berkah lainnya. Namun, jika kita menyalahgunakan perasaan gigih ini dan memakainya terus-menerus justru untuk tujuan keburukan, maka sikap yang awalnya akan bermanfaat ini justru akan menjadi bahaya bagi diri kita. Jika kecenderungan seperti ini terus berlanjut – semoga Allah menjauhkan kita darinya – maka itulah tanda awal kejatuhan kita. Pada akhirnya sifat seperti inilah yang mengarahkan seseorang pada karakter Firaun. Begitu parahnya hingga manusia dengan moralitas seperti ini ttetap menolak untuk menerima "Kebenaran" meskipun secara jelas telah melihatnya sebaliknya mereka tidak dapat menahan diri dari sikap menyembah-nyembah di hadapan orang lain hanya untuk mendapatkan kemanfaatan terkecil sekalipun.

Dari dulu hingga saat ini, situasi tidak berubah. Apa pun yang ditanamkan dan dihasilkan oleh tarbiyah non-Qur'ani dalam jiwa manusia hari ini adalah sama seperti yang terjadi di masa lalu. Ada banyak Firaun hari ini yang berbicara tentang diri mereka sebagai "kaum terpelajar", membenci orang lain, bahkan memandang semua yang tidak sependapat dengan mereka sebagai lebih rendah dari manusia. Orang-orang seperti itu menjadi lemah ketika mereka jatuh pada keadaan tidak berdaya. Mungkin ada banyak orang seperti Firaun, yang ketika meraih kekuasaan merasa memiliki kesempatan berkuasa atas  hak hidup orang lain yang berbeda cara pandangnya. Tidak ada perbedaan antara karakteristik Firaun saat ini dan Firaun dari masa lalu, kecuali perbedaan konteks dan keadaan khususnya saja.

Fokus utama pendidikan atau tarbiyah non-Qur'ani hanyalah untuk memenuhi kebutuhan perut dan memuaskan keinginan ego. Ketika orang-orang yang mengenyam jenis tarbiyah seperti ini berpikir tentang kebahagiaan umat manusia, sebenarnya mereka hanya berpikir untuk memuaskan ego dan nafsunya sendiri saja.

Banyak orang berpikir bahwa sejumlah negara Barat telah meningkat ekonominya dan memberikan kemakmuran bagi rakyatnya serta memungkinkan mereka untuk mencapai kebahagiaan. Dalam pandangan mereka, dunia yang ideal harus dibangun seperti gambaran para penulis utopis belaka. Namun sesungguhnya bagi kita kedamaian dan kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan dalam keimanan dan ketundukan kepada Allah Subhânahu wa ta’âla.  Sementara bagi mereka kebahagiaan dipandang sebagai hasil dari kemakmuran material, mengaitkan kedamaian dan kebahagiaan dengan kesempurnaan kondisi ekonomi dan dengan solusi dari semua masalah ekonomi. Bagi mereka yang di luar Islam, jika negaranya berkuasa dan pundi-pundi terisi penuh, maka itu berarti masyarakatnya telah sejahtera.

Namun, meningkatnya angka bunuh diri dan munculnya berbagai sistem falsafah baru, berbagai sikap dan perilaku menyimpang dengan gaya pakaian yang berbeda setiap hari dan beraneka pemikiran aneh yang hadir sebagai upaya masyarakat untuk memuaskan diri, kesemuanya ini adalah indikasi dari ketidakpuasan yang serius dan kegelisahan dalam masyarakat, menunjukkan bahwa kemakmuran material tidak cukup untuk memastikan kebahagiaan sejati dan abadi. Hal seperti ini dapat juga disebut hanya sebagai "filsafat penghiburan" saja. Mereka yang mematuhi falsafah ini merasa bahagia dan senang jika mereka makan dengan baik dan puas secara material. Memang filosofi ini memandang bahwa tujuan utama manusia hanya untuk memberi makan perut dan memuaskan keinginan egonya semata.

c) Tujuannya hanya Mencari Keuntungan Belaka

Tujuan dari tarbiyah yang berada di luar Al Qur'an adalah mencari keuntungan belaka. Dasar dari semua pergulatan atau usaha yang dilakukan pun tak lebih dari sekedar mencari keuntungan saja. Ketika menyelesaikan sebuah tugas, mereka akan selalu mempertanyakan, "Jika aku mengerjakan ini apa keuntungan materi yang akan kudapat?"

Lagi-lagi orang-orang yang melihat segala sesuatu dari perspektif materialis seperti ini, akan bersikap meremehkan dengan pertanyaan-pertanyaanya seperti: "Apakah karena kau salat selama ini negara bisa menjadi maju? Apakah masyarakat bisa mencapai kebahagiaan karena kau berpuasa?" Bahkan, orang-orang dengan pola pikir seperti ini tidak akan pernah mengerti atau faham pada mereka yang berbicara atas nama keadilan, kebenaran, serta yang membela iman dan Al Qur’an. Hal ini dapat kita katakan sebagai "kevulgaran atau kekasaran dari sikap menjauhi Qurani".

d) Tarbiyah Non-Qur'ani Bergantung pada Pergulatan, Dialektika, dan Demagogi

Salah satu kekhasan yang paling menonjol dari kecenderungan mencari keuntungan materi bagi  kepentingan pribadi adalah munculnya pertengkaran dalam  memperebutkan sumber daya material tersebut, dan konflik yang membawa pada perselisihan. Setiap kelompok masyarakat yang tujuannya adalah untuk mencapai kepentingan pribadi akan selalu mengarah pada konflik tiada akhir dan pergumulan terus-menerus di dalam masyarakat tersebut dikarenakan keuntungan yang tersedia tidak akan pernah dapat memenuhi semua keinginan. Dari kapitalisme hingga komunisme, dari sosialisme hingga fasisme dan semua yang terdapat pada sistem yang berakhiran "isme-isme" tersebut hanyalah perjuangan untuk mendapatkan keuntungan dalam kerangka ini. Bahkan menurut mentalitas ini, mengambil hak milik orang lain, mencari jalan untuk merampas apapun yang dimiliki orang lain pun diperbolehkan. Ya, pada sistem pendidikan atau tarbiyah non-Qur’ani yang berdasarkan atau bertujuan pada pencapaian keuntungan, salah satu prinsipnya yang paling penting adalah perkelahian... menyaring untuk menyingkirkan yang lemah dan seolah-olah hidup adalah hak istimewa yang hanya diperuntukkan bagi yang kuat atau berkuasa saja.

Jika prinsip ini dipahami dalam bidang biologi, maka akan persis seperti teori Darwin ataupun Lamark. Prinsip-prinsip yang ada pada teori penyempurnaan seperti “seleksi alam” atau “yang memiliki hak hidup adalah yang mampu bertahan melawan semua peristiwa alam”, merupakan pemikiran yang berlandaskan pada asas-asas keliru yang telah menurunkan nilai kemanusiaan yang sesungguhnya. Bagi mereka yang mematuhi prinsip-prinsip tidak berdasar itu, bangsa yang kuat dan berjaya akan menjadi pemenang dalam persaingan antar bangsa dan negara. Segala sesuatu dipahami dalam prinsip bahwa “hidup diibaratkan sebagai tempat berkonflik”, menganggap semua hubungan mulai dari tumbuhan hingga hewan tidak lebih dari sekedar pergulatan dan peperangan, menganggap situasi manusia saat ini sebagai hasil dari perang atau konflik dan pemusnahan antara manusia yang satu dengan yang lainnya dalam rangka mencari legitimasi masing-masing.

e) Hubungan Antar Masyarakat Berdasarkan Rasisme dan Chauvinisme

Menurut sistem pendidikan atau tarbiyah non-Qur'ani, hubungan yang paling penting antara individu dan bangsa didasarkan pada rasisme yang kasar dan terkadang – seperti dapat kita saksikan hari ini – hubungan ini bergantung pada ide-ide yang ditemukan dalam sosialisme dan komunisme, yaitu gagasan tentang berbagi. Ideologi ini bertujuan untuk menyatukan masyarakat dengan hubungan-hubungan ini. Padahal sebenarnya, paham-paham seperti rasisme, chauvinisme ataupun ideologi-ideologi lain yang serupa ini, dirancang untuk menelan atau menguasai orang lain sehingga mereka akan bergerak berdasarkan tujuan ini. Misalnya, faham komunisme diprogram untuk menelan dan menghancurkan semua sistem lain yang dihadapinya. Sejarah menunjukkan pada kita bagaimana fasisme dan Nazisme pun dirancang dengan menghancurkan semua sistem yang menentangnya agar faham tersebut bisa bertahan hidup. Ya, dapat dilihat konsekuensi dari tarbiyah jenis ini dan segala penderitaan yang ditimbulkan olehnya secara jelas selama periode Perang Dunia pertama dan kedua dahulu.

f) Tarbiyah Tanpa Al Qur’an hanya Menggunakan Kekuasaan sebagai Asasnya

Pada sistem sosial dan filosofis yang tidak didasarkan pada Al Qur’an maka akan mengasaskan dirinya pada kekuasaan atau kekuatan. Pada pemahaman ini siapa yang berkuasa atau kuat maka dia dianggap benar, hal ini merupakan moralitas seorang Firaun. Kekuasaan yang tidak menghormati nilai-nilai kemanusiaan adalah penistaan terhadap kemanusiaan itu sendiri. Seseorang yang menyandarkan permasalahannya pada prinsip kekuatan dan mengaitkan segala sesuatunya dengan kekuasaan tidak akan mampu menghindarkan dirinya untuk tidak melakukan pelanggaran atas hak orang lain. Kemanusiaan telah menyaksikan banyak contoh kasus seperti ini, terutama pada abad kedua puluh sekarang. Begitu banyaknya sehingga selain adanya individu-individu yang agresif, masyarakat atau kelompok pun bertindak dengan naluri untuk menghancurkan dan menyingkirkan satu dengan yang lain.  Akibat-akibat destruktif dari kerusakan yang disebabkan oleh tarbiyah non-Qur’ani yang ditanamkan ke dalam hati manusia ini, bahkan telah mulai menimbulkan akibatnya pada masyarakat Muslim, seolah mereka pun tercemar oleh limbah radioaktif efek dari tarbiyah tersebut.

2. Tarbiyah Qur'ani

a) Murid Al Qur’an adalah Seorang “Hamba”

Seorang murid Al Qur'an bukanlah seorang zalim, kejam, pencari ketenaran, tiran yang menindas atau seorang yang bengis. Sebaliknya, ia hanyalah seorang hamba; hamba Allah Jalla Jalalahu. Di setiap kesempatannya Al Qur’an terus-menerus mengingatkan kita bahwa manusia adalah hamba Allah Yang Mahakuasa dan menekankan bahwa status ini adalah sebuah kehormatan dan anugerah bagi kita. Jika dengan adanya tarbiyah Qur’ani, seorang manusia menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah, maka sesungguhnya orang itu telah meraih kebajikan tertinggi. Kewajiban Rasulullah ﷺ yang paling istimewa adalah kewajiban-kewajiban Beliau sebagai seorang hamba Allah Jalla Jalalahu. ‘Abduhu wa Rasuluhu...’-Nabi Muhammad adalah Rasul-Nya dan hamba-Nya. Menurut beberapa ulama huruf  waw pada kalimat tersebut adalah sebagai mutlaqqul jamm’i sehingga bukan menunjukkan urutannya. Sedangkan menurut ulama yang menganggapnya sebagai urutan maka difahami bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah terlebih dahulu seorang hamba Allah. Dalam hal ini ada sebuah isyarat yang tersirat. Sebelum Rasulullah menjadi seorang utusan Allah, Beliau adalah seorang hamba bagi Allah, setelah beliau wafat, tugas kenabiannya pun berakhir, namun Beliau tetaplah menjadi menjadi hamba-Nya yang paling dikasihi dan paling mulia. Bahkan ketika segalanya berakhir, penghambaan kepada Allah akan berlangsung selamanya. Sesungguhnya, semua hal akan berakhir, termasuk tugas kenabian, kewalian dan semua tugas apapun. Namun hanya ada satu hal yang takkan pernah berakhir: yaitu penghambaan kepada Allah yang Maha Azali dan Abadi.

Sebagai jawaban atas perintah Allah kepada umat manusia, "Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu ... "(QS. Al Baqarah 2:21), maka orang-orang yang beriman akan menghadap Allah empat puluh kali dalam sehari dengan rasa penuh penghambaan seraya berkata, "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan" (QS. Al-Fatihah 1: 5).

Seorang mukmin yang baik adalah hamba mulia, yang menolak untuk menyembah pada makhluk yang paling hebat sekalipun. Mereka hanya menjadi hamba dan menyembah hanya pada Allah Yang Maha Berkuasa. Dengan karakteristik seperti ini, mereka adalah sultan yang sejati, meskipun saat ia terlihat hina sekalipun. Mereka tidak akan pernah tunduk atau menyerah di hadapan Firaun manapun. Kehidupan Para Nabi alaihi salam penuh dengan contoh-contoh terbaik dari perilaku ini. Mereka hanya mengenal yang satu sebagai Mâ’bud-u Mutlaq, Maksûd-u bi’l-Istihqaq, dan mereka tidak pernah menjadi hamba bagi mahluk lain meskipun berada di bawah paksaan sekalipun.

Jika Anda bisa membayangkan diri Anda hidup di zaman Nabi Muhammad ﷺ, maka Anda akan melihat bagaimana dada Ammar bin Yasir ditusuk dengan sebilah besi panas, Mus'ab bin Umair yang jatuh tersungkur karena pukulan yang diterimanya setiap hari, rasa haus dan kelaparan yang mendera Sa'ad bin Abi Waqqas hingga meringkuk lemah namun kemudian Anda akan begitu kagumnya pada komitmen mereka yang berakar begitu kuatnya untuk tetap menjadi hamba Allah yang sejati walau harus menghadapi semua kesulitan tersebut di atas. Pada masa berikutnya, kita juga dapat menemukan kembali manusia-manusia dengan kedalaman kalbu yang sama, meskipun pada derajat yang berbeda. Sesungguhnya, ada banyak sekali ksatria pembela kebenaran yang menentang ketidakadilan, mengangkat suara mereka karena peduli pada keadilan, membela dan menegakkan keadilan, menghancurkan penindasan dan kezaliman... Begitu banyaknya para ksatria kebenaran yang menjadikan Al Qur’an sebagai panduan dan hidup untuk cita-cita Al Qur’an...

Ada beberapa hal yang mudah untuk dilakukan. Membangun perkumpulan masyarakat, membentuk kelompok, menyelenggarakan kongres-kongres, bekerja untuk mendapatkan uang, biaya, atau imbalan lainnya ... ya, hal-hal seperti ini adalah sesuatu yang tidak sulit untuk dilakukan. Namun menggenggam dan menegakkan kebenaran tanpa mengharapkan imbalan duniawi maupun ukhrawi serta terus meneruskan kewajiban yang amat penting ini secara tulus, penuh pengorbanan tanpa memikirkan keuntungan pribadi (jiwa altruisme), menumbuhkan generasi “dengan pijar putih” yang tak mencari bagian apapun selain kehambaannya pada Allah ﷻ adalah hal yang terpenting. Gelar yang paling cemerlang adalah menjadi murid Al Qur’an, namun mereka tidak pernah berfikir tentang gelar ataupun ketenaran lain apapun.

b) Mereka Rendah Hati dan Faqir (Tunduk) di Hadapan Allah

Seorang pengikut atau murid Al Qur’an adalah orang yang rendah hati. Jika dilihat dari penampilan luarnya mereka akan terkesan miskin dan pasif namun pemahaman ini adalah keliru, karena mereka adalah orang-orang santun dan tenang yang mampu mengatasi segala sesuatu, serta begitu berkomitmen dan teguh untuk tidak membungkuk di hadapan siapa pun kecuali Penciptanya. Memang, mereka memiliki dinamisme di dalam jiwanya. Bagi mereka tindakan selain itu dianggap seperti kesyirikan. Para pengikut Al Qur’an tampak seperti lemah dan miskin dari luar. Padahal keadaan tersebut adalah salah satu sisi mereka yang lain. Yang tampak seperti kelemahan dan kemiskinan mereka tersebut sebenarnya seperti dua sayap yang mengangkat mereka menuju pada Allah ﷻ, Rabb-nya. Semakin mereka menyadari ketidakberdayaan (ajiz) dan kelemahannya di dalam hati mereka, maka semakin besar keyakinan mereka kepada Allah.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ yang berdoa kepada-Nya: "Ya Allah, jangan pernah Kau tinggalkan kami sendiri hanya bersama dengan rasa ego dalam diri kami, walau hanya untuk sekejap mata sekalipun."[5] Ya, kedalaman jiwa seperti rasa ajiz, fakr dan kerendahan hati adalah sayap spiritual, yang saat mereka sadar akan kelemahan (ajiz) dan kemiskinan (fakir) di dalam diri mereka ini maka dengan sepasang sayap ajiz dan fakir-nya tersebut ia akan terbang menuju pada ke-ubudiyahan pada Rabb-nya dan selalu berada dalam pencarian pada apa yang akan menyenangkan Tuhannya.

c) Tujuannya adalah Menggapai Ridha Allah

Tujuan, impian maupun harapan para murid Al Qur’an adalah semata-mata untuk mendapatkan keridhoan Ilahi. Mata dan pandangan mereka selalu terpaut pada ufuk keridhaan Allah dan berharap agar kelak akan akan mendengar kalimat, "Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya!'" (QS. Al-Fajr 89: 27-28)

Nabi Yusuf ‘alaihi salam menjelaskan tentang pemahaman yang ideal ini di dalam Al Qur’an sebagai berikut:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian takwil mimpi.  (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf 12: 101).

Nabi Yusuf menolak sebuah status yang kedudukannya amat tinggi di Mesir ... bertahun-tahun menderita dan menangis dalam kelemahan yang amat sangat, ayahnya yang malangpun telah mengering air matanya. Saudara-saudaranya yang sebelumnya telah memperlakukannya dengan buruk akhirnya datang dan di kemudian hari mengikuti jalan yang sama dengan apa yang ditempuhnya. Sangatlah penting untuk memikirkan permohonan itu dengan amat seksama, sebuah permohonan yang dibuatnya ketika ia sedang bertawajuh kepada Allah (menghadapkan diri dan membulatkan hati kepada Allah).

Semua contoh ini menunjukkan bahwa ada keuntungan yang jauh lebih berharga daripada kemakmuran materi, kebahagiaan duniawi, ataupun segala jenis kenyamanan lain yang akan memuaskan hati; dan hal itu adalah ke-Ridhaan Allah serta apapun yang bisa membuat  Allah senang.

Tujuan dari setiap upaya yang dilakukan seorang mukmin adalah untuk mendapatkan Ridha Ilahi, yaitu untuk menyenangkan Allah ﷻ. Mereka beribadah karena hal tersebut diperintahkan Allah dan dengan harapan agar mendapatkan ke-RidhaanNya; merekapun berfikir bahwa hasil dari semua usahanya tersebut akan diterimanya kelak di akhirat. Ketika mereka menerima nikmat atau mendapatkan berkah di dunia ini, mereka bersyukur. Mereka bersujud di hadirat Allah ﷻ. Ya, sesungguhnya orang-orang beriman hanya dan hanya disibukkan pada pemikiran untuk menggapai Ridha Ilahi. Al Qur’an menegaskan hal ini dalam banyak ayat; beberapa contohnya adalah sebagai berikut:

Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Tuhan, dengaan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama" (QS. Az-Zumar 39: 11).

Katakanlah: "Hanya Allah saja yang aku sembah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agamaku" (Az-Zumar 39: 14).

Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS. Al-Bayyinah 98: 5).

Dengan ayat-ayat serupa di atas seorang mukmin diarahkan untuk selalu ikhlas dan  mencari ridha Allah.

d) Prinsip Hidupnya adalah Tolong-Menolong (Ta’awun)

Al Qur’an memandang kerja sama dan solidaritas sebagai prinsip-prinsip dasar kehidupan. Seperti yang terdapat pada ayat berikut:

... Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS. Al-Ma'idah 5: 2).

Dengan demikian, umat Islam harus saling membantu untuk melakukan dan mengajak mukmin lain juga melakukan, apa yang diperintahkan atau untuk menghindari apa yang dilarang oleh agama, serta bekerjasama satu sama lain dalam usaha menghidupkan agamanya. Mereka harus berusaha mempraktikkan agama mereka dalam solidaritas dan kerja sama satu dengan yang lain. Kita tidak boleh lupa bahwa dimensi sosial Islam adalah aspek yang lebih signifikan. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk meningkatkan aspek ini, seperti yang direkomendasikan dalam ayat berikut: "... tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dalam kebenaran dan kesalehan ..." (QS. Al-Ma'idah 5: 2)

Kehidupan di alam tidak berisi pergulatan, melainkan kerja sama dan solidaritas. Molekul membantu tanaman, tanaman membantu hewan, dan hewan membantu kita. Kerja sama dapat ditemukan dalam segala hal. Partikel, atom, dan molekul terus melanjutkan keberadaan mereka sebagai bagian dari siklus kerja sama.

Orang-orang yang beriman memandang alam semesta sebagai satu kesatuan dan harmoni dari kerja sama yang seperti itu. Mereka mengatakan bahwa "di seluruh alam semesta ada kerjasama". Oleh karena itu, manusia harus menyesuaikan diri dengan harmoni yang ditemukan di seluruh alam semesta ini dan segera membantu orang lain untuk melestarikan harmoni dan simfoni musik ini.

e) Ikatan yang Dibangun adalah Persaudaraan

Al Qur’an menyejajarkan ikatan antara orang-orang yang beriman dengan hubungan antara saudara kandung. Sebuah hubungan harus dibangun di antara semua Muslim dan perasaan sebagai saudara kandung harus ditekankan sekali lagi dalam ikatan tersebut. Orang-orang dengan iman yang sama, yaitu mereka yang mempraktikkan Islam, harus selalu bersama-sama, menjadi tidak terpisahkan, seperti yang disebutkan dalam Qur'an, "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara" (QS. Al-Hujurat 49:10). Seorang mukmin harus menganggap setiap orang yang beriman sebagai saudara kandung dan harus melihat alam semesta sebagai "pusat persaudaraan".

f) Kebenaran (Haq) adalah yang Utama

Alih-alih "kekuatan", Tarbiyah Qur’ani menerima "keadilan" sebagai sumber dukungan. Tarbiyah Qur’ani mendalilkan bahwa "siapa pun yang adil menjadi kuat". Seseorang yang beriman hidup dalam keyakinan bahwa dengan bantuan dan dukungan Allah, keadilan akan menang di masa depan, meskipun pada saat ini orang itu masih hidup dalam keadaan lemah.

Bagi seorang Muslim, menghormati keadilan sebenarnya adalah bentuk doa. Khalifah Umar memberikan contoh yang sangat baik tentang hal ini dalam peristiwa berikut: Diriwayatkan bahwa seorang non-Muslim dan Khalifah Umar memiliki masalah yang dibawa ke pengadilan untuk diselesaikan. Hakim memanggil Khalifah Umar, pemimpin komunitas Muslim, ke pengadilan. Ia datang ke pengadilan dan menghadap hakim untuk menegakkan keadilan.

Seorang mukmin yang belum terpengaruh oleh sistem filosofi non-Qur'ani selalu mempraktikkan dan hidup dalam keadilan. Ia menyarankan hal yang sama, seperti yang ditunjukkan dalam ayat berikut dalam Al Qur’an:

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran (QS. Al-Asr 103: 1-3).

Seorang penyair Turki, Mehmet Akif, menulis puisi berikut untuk menegaskan pentingnya konsep keadilan:

Sang Pencipta memiliki nama yang tak ada habisnya, dimulai dengan Keadilan
Untuk seorang hamba, adalah hal yang mulia untuk berpegang pada dan menegakkan keadilan

Mengapa mereka membaca surah "Al-Asr"
Ketika para Sahabat yang dihormati meninggalkan sebuah pertemuan?
Karena ada rahasia keselamatan dalam surah itu

Yang pertama adalah realitas keadilan, yang kedua adalah keselamatan
Kemudian, Keadilan mengikuti, dan kemudian datanglah kegigihan, wahai manusia!
Ketika keempat hal ini datang bersama-sama dan bersatu, tidak akan ada kehancuran untukmu ... [6]

Orang-orang mampu bertahan hidup dengan keadilan. Jika ada kebenaran yang tersembunyi dalam suatu hal, maka hal itu didasarkan pada sifat Allah yang berkeadilan. Bahkan, gelar Sang Keadilan adalah salah satu sifat Allah yang terbesar. Seorang mukmin mengaitkan kekuatan dengan keadilan. Siapa pun yang adil, ia kuat. Kalimat berikut ini adalah prinsip Islam: "Keadilan adalah mulia dan terhormat, dan hak-hak tidak bisa ditinggalkan". Oleh karena itu, keadilan selalu menjadi yang tertinggi dan tidak ada yang akan menghalangi jalannya.

 



[1] Badiuzzaman Said Nursi, Sozler, 12.Soz.

[2] Ibid. hlm. 147.

[3] Artinya menjadi sesuatu yang cepat dilupakan. Istilah ini digunakan dalam Al-Qur'an (Maryam 19: 23).

[4] Sahih Muslim, "Birr" 33; Sunan ibn Majah, "Zuhd" 9.

[5] Sunan Abu Dawud, "Adab" 101; Musnad, 5/42.

[6] Ersoy, Ibid., (Vol. 6, hlm. 403).

blog comments powered by Disqus