Cetak

Pendahuluan

Ditulis oleh M. Enes Ergene pada . diposting di Daftar Isi

Penilaian Pengguna:  / 1
JelekBagus 

Nilai-nilai dasar yang menandai abad keduapuluh satu adalah modernisme, pluralisme, individualisme, dan agama. Sebagian orang mengklaim bahwa modernitas mencakup kehidupan individual dan sosial sebagai keseluruhan, dan bahwa hal ini telah menciptakan pluralisme agama, budaya, dan politik dalam bentuk baru. Meskipun dijelaskan dalam berbagai cara, modernisme telah menghasilkan dua fenomena sub-ideologis: “kemajuan” dan “globalisme”. Banyak teori telah menggambarkan modernisme dari perspektif “kedaulatan” umat manusia yang meningkat terhadap sekeliling mereka, dan “pengetahuan” mereka yang maju mengenai hal itu. Hubungan langsung yang dibangun antara “pengetahuan” dan “kekuasaan dan kedaulatan” ini telah menghadirkan peluang-peluang dan memberikan otoritas kepada negara-negara adi daya untuk merumuskan bentuk-bentuk dominasi baru terhadap wilayah dan bangsa lain. Nafsu penjajahan pada era modern telah menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang lebih luas.

Karena globalisme memiliki aspek ideologis seperti itu, sebagian orang melihatnya sekedar sebagai nama lain dari imperialisme klasik. Ideologis atau tidak, globalisme telah menyebabkan perubahan-perubahan mendasar di segala bidang, dari ekonomi hingga ilmu sosial, dari komunikasi hingga politik, dan dari hukum, sejarah dan geografi hingga administrasi negara. Sebenarnya, globalisme telah mempopulerkan kekayaan, teknologi, pluralisme demokrasi, produksi dan konsumsi. Dan kemudian, globalisme telah membantu menyebarkan semua jenis polusi: manusia, lingkungan, atau politik. Kemiskinan, polusi ekologis, senjata perusak massal, terorisme, dan kekerasan semuanya telah mendunia juga.

Globalisasi pengetahuan, kekuasaan, dan teknologi telah diikuti oleh teori-teori kemungkinan konflik antar budaya dan peradaban. Konsekuensinya, semua hal ini, apakah sebagai hasil dari modernitas atau globalisme, telah memunculkan banyak konsep. Lusinan konsep telah didefinisikan dan didefinisikan ulang dalam konteks modernitas, demokrasi dan pluralisme: umat manusia, individual, kebebasan berpikir dan beragama, politik, sosial, dan toleransi budaya, konflik versus pendudukan, dialog versus konflik.

Tak diragukan lagi bahwa dunia sekarang ini sedang membutuhkan dialog antara kebudayaan dan peradaban lebih banyak dari sebelumnya; inilah yang paling mendesak. Pengetahuan dan teknologi persenjataan—mungkin tidak seluruhnya, tapi hingga tingkatan tertentu—bisa secara mengkhawatirkan disalahgunakan untuk manipulasi ideologis. Jenis manipulasi ideologis terhadap pengetahuan, teknologi, dan globalisasi ini mengancam perbedaan-perbedaan agama, budaya, sosial, dan lokal. Reaksi massa terhadap globalisasi di seluruh penjuru dunia sedang meningkat. Reaksi-reaksi ini tidak dapat dibaca sebagai rekasi-rekasi terhadap modernisme saja. Dimensi-dimensi ideologis modernisme dirasakan, dalam arti yang lebih luas, sebagai ancaman terhadap budaya dan identitas agama, nasional, sejarah dan sosial yang berdaulat. Dan situasi seperti ini bisa menyebabkan isu-isu konflik baru bermunculan.

Di sisi lain, selama hampir seperempat abad, platform hubungan internasional telah menyaksikan proses diskusi-diskusi sengit seputar tesis-tesis yang sangat berisiko dan penting, seperti benturan peradaban. Konotasi politis dan ideologis yang telah dibawa tesis-tesis ini mencemaskan ratusan, bahkan mungkin ribuan ilmuwan, pemikir, dan politisi yang berpikir dan merenungkan masa depan umat manusia. Tesis Huntington mengenai benturan peradaban telah begitu banyak menjadi fokus perhatian di kalangan internasional sehingga menjadi isu dalam diskusi global yang paling luas dan fundamental dekade lalu. Gema dan efek teori ini dalam hubungan internasional masih berlangsung.

Lantas, bisakah kita tidak menafsirkan modernitas dan globalisasi dengan arti yang lebih sehat? Bisakah modernitas dan globalisasi tidak dibentuk secara lebih konstruktif; bisakah keduanya tidak lebih concern dengan nilai-nilai kemanusiaan dan etika? Mereka yang mencari jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini tampaknya mencoba mengurangi masalah agar menjadi tidak lebih dari sekedar masalah persepsi. Apakah modernitas dan globalisasi, sebenarnya, merupakan fenomena yang begitu sederhana sehingga dapat direduksi menjadi masalah persepsi dan pemahaman belaka? Globalisasi dan modernitas dalam istilah ideologis dirasakan oleh orang-orang yang datang dari berbagai budaya dan peradaban sebagai hal-hal yang mengandung arti konflik masa lalu dan balas dendam. Jadi, tesis orang-orang, seperti Huntington dan Fukuyama, yang—hingga batas tertentu—meramalkan benturan, terjadi dalam platform yang rentan ini.

Di sisi lain, sejalan dengan masalah-masalah kronis peradaban modern, seperti maraknya terorisme, kekerasan, dan senjata perusak massal global—yang semuanya mendukung tesis konflik—telah ada upaya-upaya serius yang menekankan kerukunan di tengah masyarakat dari berbagai budaya dan peradaban melalui demokrasi, toleransi, cinta dan dialog; hal-hal ini pula yang menandai perempat terakhir abad silam. Upaya-upaya ini, tidak melibatkan, baik langsung maupun tidak langsung, konflik batin apapun dengan modernitas dan globalisasi. Upaya-upaya ini menghasilkan nilai-nilai kemanusiaan dan etika yang lebih universal dan fundamental, demikian pula dinamika untuk mengatasi aspek-aspek modernitas dan globalisasi yang merusak. Meskipun terbukti bahwa inisiatif-inisiatif dialog antara peradaban dan budaya semacam ini selalu dianut mayoritas, untuk beberapa alasan, “para penggemar benturan dan perusakan” tersebut selalu lebih berisik. Media internasional, seolah-olah tidak terikat oleh kebajikan kemanusiaan dan etika apapun, telah dengan semena-mena mempopulerkan nilai-nilai dan isu-isu terorisme, kekerasan, dan perusakan saja, sehingga, celakanya, menggelembunghkan jumlah pendukung mereka. Reaksi sengit terhadap tesis Huntington, sebenarnya, menyatakan bahwa kerukunan dan dialog merupakan kebutuhan mendesak. Namun demikian, aksi-aksi nyata yang dapat dijadikan sebagai pondasi bagi kerukunan dan dialog ini terlalu sedikit untuk disebutkan. Atau upaya-upaya tersebut belum memiliki efek global. Alasan-alasan mengapa mereka bersikap tidak acuh seperti ini harus dicari dalam pengaruh transformatif modernitas terhadap manusia dan masyarakat.

Terbukti bahwa modernitas telah menyuntikkan egoisme pada umat manusia; menjadikan mereka begitu tak berarti sehingga mereka menjadi hampir tak terlihat; menggerakkan naluri individual, material, dan pribadi manusia dalam menentang masyarakat; menjauhkan orang-orang dari segala apapun yang dianggap suci, manusiawi, dan etis—dari cinta, kepedulian, pengabdian, dan pengorbanan diri. Pada akhirnya hasil yang keluar adalah manusia inferior, yang hidup hanya untuk naluri egoistik. Seseorang yang hidup hanya untuk naluri egoistik, sungguh, inferior. Semua agama monoteisme telah mencoba menyelamatkan orang-orang semacam ini; tapi hembusan fatal modernitas terhadap kepribadian dan pertalian kosmik umat manusia telah membuat agama-agama tersebut menjadi tawanan-tawanan naluri individual mereka. Tentu saja, kita tidak dapat melakukan investigasi yang menyeluruh terhadap modernitas di sini. Tidak juga kita dapat melakukan interogasi atau bentuk pertanyaan apapun lainnya. Apa yang kita lihat ketika kita mengamati perpecahan yang dialami peradaban manusia kontemporer—untuk alasan apapun—adalah bahwa segala sesuatu berubah menjadi masalah kemanusiaan. Ketika manusia menjadi destruktif, mengganggu, bermusuhan, dan agresif, maka mereka memperbudak tatanan masyarakat dan umat manusia, di mana mereka menjadi bagian di dalamnya, untuk naluri-naluri ini juga. Karenanya, jelaslah di mana standar umat manusia telah ditumbangkan. Cara untuk menyelamatkan peradaban kontemporer dari kerusakan yang sudah dekat adalah dengan mendidik kembali umat manusia dengan basis cinta, toleransi, dan dialog, dan dengan membuat mereka terorganisasi.

Sekarang, ajakan M. Fethullah Gulen mendapat dukungan di tempat yang tepat ketika standar kemanusiaan telah hancur. Ajakannya itu bukanlah pasif, sekedar humanisme filosofis, bukan juga sebuah platform diskusi elit yang hanya menyelenggarakan diskusi-diskusi teoritis saja. Dengan ratusan lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh dunia, proyek ini telah diterapkan dalam kehidupan nyata, dengan fondasi sosial dialog dan toleransi, dan denagn merespon kebutuhan peradaban kontemporer—yaitu untuk bertindak sebagai model peran.

Sebenarnya, model Gulen—seperti nilai-nilai kemanusiaan, individual, toleransi dan kerukunan, nilai-nilai yang menandai abad keduapuluh satu—adalah inti dari perpaduan yang tercipta dari percampuran antara budaya Turki dan Islam. Umat Muslim Turki telah mempraktekkan toleransi dan kerukunan, yang merupakan inti dari demokrasi kontemporer, di wilayah yang luas selama beberapa abad. Islam telah diinterpretasikan di wilayah ini dengan toleransi yang sama selama ratusan tahun. Toleransi ini dimulai oleh orang-orang Muslim sufi Turki, dan disuntikkan ke dalam akar bangsa, mengikuti garis yang membentang dari Yesevi hingga Rumi, kemudian dari Yunus hingga Haci Bektas-i Veli, toleransi ini memiliki sejarah yang panjang. Gulen, mengikuti basis ini, melahirkan kembali interpretasi dan pemahaman toleransi sufisme Muslim-Turki ini dalam suasana kontemporer, meskipun menyoroti visi yang lebih luas, lebih aktif, dan lebih berorientasi sosial. Rumi, Yunus, Haci Bektas-i Veli mengajak orang-orang untuk datang ke pondok-pondok sufi Darwis untuk menemukan dunia batin mereka; sementara etiket di pondok-pondok tersebut dan sekelilingnya menekankan toleransi dan dialog, Gulen membuka kerangka kerja dan visi ini kepada semua masyarakat di dunia, mengubah dan memperluasnya. Dengan kata lain, misinya termasuk tindakan transformatif, ini benar sampai sebatas ini sehingga dia menyatukan misi dan gerakan ini dengan sasaran keberadaan umat manusia di dunia ini. Di satu sisi, melalui gerakan dialog dan kerukunan ini dia mampu mengorganisasikan pertemuan-pertemuan dan platform-platform diskusi atas jasa baik orang-orang dari berbagai budaya di dunia; di sisi lain, dia membuat sebuah tantangan untuk mentransformasikan aspek manusia—yang telah menjadi egois karena modernitas—sehingga dapat melayani umat manusia dan rela berkorban. Manusia modern menjadi pasif, tak mampu berbuat karena beban-beban individu, lesu dan egois. Kita tidak bisa menemukan pada sosok manusia semacam ini kekuatan untuk memikul tanggung jawab yang begitu besar dan berat seperti dialog, toleransi, dan kerukunan antar agama, budaya, dan peradaban. Orang-orang yang dapat memikul beban seperti itu haruslah orang-orang yang berbakti, jujur, rela berkorban, dan berlapang dada. Bahkan orang-orang yang datang untuk merusak dan menghancurkan harus disadarkan kembali, dan dibantu untuk menemukan dasar-dasar kemanusiaan mereka. Jadi, manusia, yang oleh Gulen ditempatkan sebagai pusat dialog dan toleransi, harus selalu berperilaku positif dalam arti pikiran dan tindakan. Mereka seharusnya tidak bertindak berdasarkan instink, atau secara reaktif, atau sesuai dengan pertimbangan lahir dan batin. Mereka seharusnya konstruktif, bukan destruktif. Oleh karena itu, orang-orang semacam itu harus bersedia untuk menderita. Ini bukan sesuatu yang dapat dilakukan dengan sekedar keberagamaan, atau dengan menyendiri dan membiarkan diri mengalir bersama kejadian-kejadian sosial. Model yang dipakai Gulen yang bersifat abadi, yang di kedua ujungnya terbuka tanpa batas. Tidak ada ujung bagi transendensi spiritual, tidak ada juga batasan bagi pengabdian materi, atau bagi pengorbanan diri; semua hal ini terbuka bagi keabadian. Tidak ada yang cukup ketika sesuatu dilakukan demi masyarakat, umat manusia, dan cinta kepada Tuhan.

Selain luasnya visi yang disampaikan Gulen, mungkin ada beberapa kalangan yang tidak bisa menemukan diri mereka, atau mengidentifikasi pikian-pikiran mereka melalui contoh-contohnya. Perbedaan perhatian ideologis bisa menghasilkan perspektif yang berbeda. Namun demikian, ketika dilihat dari sudut pandang nilai-nilai dan masalah-masalah manusia yang universal, visinya, sebenarnya memiliki kekuatan untuk merangkul semua proses kemanusiaan dan sosial. Hal ini karena dia telah, mengesampingkan semua masalah ideologis, menyiapkan sebuah model tentang umat manusia, yang merupakan batu pondasi bagi hampir semua ideologi. Dan manusia dalam model ini adalah sosok yang telah diciptakan oleh Tuhan dan sebagai pewaris dunia, sosok yang murni, rela berkorban, dan mampu menahan semua keinginan demi cinta kepada Tuhan, dan cinta kepada semua manusia dan ciptaan. Dengan demikian, Anda dapat menempatkan sosok ini pada pondasi segala macam hubungan, masyarakat, petunjuk, dan kepemimpinan. Anda dapat menciptakan banyak model sosial berdasarkan orang-orang seperti ini. Karakteristik spiritual, teoritis, dan sosial orang-orang ini sedemikian rupa sehinga mereka selalu bertindak positif dalam keadaan apapun. Orang-orang yang menyambut seruan dan pemikiran-pemikiran Gulen bertingkah dengan cara ini; mereka meneima sambutan yang hangat dari hampir setiap orang di seluruh dunia; dari orang-orang dari berbagai macam situasi ideologi, politik, agama, dan sosial budaya. Mereka mengutamakan nilai-nilai umum—nilai-nilai kemanusiaan, sosial, dan etika—yang dihadapi setiap orang.

Buku ini tentu saja tidak mencakup semua pemikiran dan pendekatan Gulen. Buku ini kebanyakan menyentuh dinamika-dinamika tertentu mengenai basis-basis teoritis dan kultural dari model yang telah dia kembangkan berdasarkan dialog, toleransi, dan kerukunan antar berbagai kelompok agama, budaya, dan peradaban. Model ini berfokus pada umat manusia—yang mengitari dunia dengan pemikiran dan tindakan, dan yang diarahkan pada cinta kepada Tuhan dan semua ciptaan.

Artikel-artikel dalam buku ini merupakan koleksi dari berbagai macam tulisan dan ceramah Gulen yang disampaikan dalam waktu yang berbeda dan dalam berbagai acara. Namun demikian, semua artikel memberikan gambaran umum mengenai dunia pemikirannya. Kita berharap buku ini akan memberikan sumbangan yang murni, tulus dan besar terhadap gelombang toleransi dan dialog yang peduli terhadap masa depan masyarakat dan dunia kontemporer kita.

M. Enes Ergene, Editor

blog comments powered by Disqus