Cetak

Kedatangan Sosok Yang Dinanti Sekian Lama

Ditulis oleh Fethullah Gülen pada . diposting di Nabi Yang Diutus Sebagai Rahmat Bagi Semesta

Penilaian Pengguna:  / 2
JelekBagus 

Kedatangan Sosok Yang Dinanti Sekian Lama

Yang menantikan kemunculan sang Nabi Terakhir bukanlah satu dua orang saja, namun begitu banyak orang. Zaid ibn Amr ibn Nufail adalah satu di antara mereka. Zaid adalah ayah dari Sa’id ibn Zaid ra., salah satu sahabat yang dijanjikan masuk surga oleh Rasulullah Saw. dan sekaligus sepupu dari Umar ibn Khaththab ra.

Zaid ibn Amr termasuk golongan ahnâf, yaitu para pengikut ajaran Ibrahim as. yang tidak sudi menyembah berhala karena menyadari bahwa patung tidak dapat mendatangkan bahaya atau pun manfaat. Hanya saja sayangnya Zaid wafat menjelang Rasulullah diangkat menjadi nabi. Semasa hidupnya, diriwayatkan bahwa Zaid pernah menyampaikan beberapa berita gembira tentang kedatangan seorang Nabi Terakhir. Salah satu ucapannya yang paling terkenal mengenai hal ini berbunyi: “Sungguh aku benar-benar tahu bahwa sebuah agama baru akan segera muncul. Hanya saja aku tidak tahu apakah aku akan sempat memeluknya ataukah tidak!”

Ya. Rupanya embusan lembut itu telah menyentuh hati Zaid. Embusan sepoi-sepoi yang terasa seperti anugerah surgawi itu telah menaklukkan segenap relung hati Zaid untuk menerima kebenaran. Zaid memang beriman kepada Allah yang tunggal dan selalu berserah pada-Nya. Akan tetapi dia sama sekali tidak mengenal siapakah gerangan Tuhan yang dia imani itu dan bagaimana cara menyembah-Nya.

Seorang sahabat Rasulullah yang bernama Amir ibn Rabi’ah meriwayatkan hadits berikut ini:

Aku mendengar Zaid ibn Amr ibn Nufail berkata: “Aku sedang menunggu seorang nabi dari keturunan Ismail yang akan muncul dari trah Bani Abdul Muthallib. Hanya saja tampaknya aku takkan sempat berjumpa dengannya. Aku beriman kepadanya, membenarkannya, dan bersaksi bahwa dia memang seorang nabi. Jadi jika umurmu cukup panjang dan kau bersua dengannya, tolong sampaikan salamku padanya. Aku akan memberi tahu kau ciri-cirinya sehingga tak ada yang tersembunyi darimu.”

Aku pun berkata padanya: “Lanjutkan!”

“Dia adalah seorang lelaki yang tidak tinggi tapi tidak juga pendek,” lanjutnya, “Rambutnya tidak lebat, tapi juga tidak jarang. Matanya tidak dipisahkan oleh merah-merah. Ada Segel Kenabian (khâtam al-nubuwwah) di antara kedua bahunya. Namanya Ahmad. Negeri ini adalah tempat lahirnya dan juga tempat dia diangkat jadi nabi, lalu dia akan diusir kaumnya, karena mereka membenci ajaran yang dibawanya sehingga dia terpaksa hijrah ke Yatsrib dan di sanalah dia berjaya. Jangan sampai kau menipunya. Aku telah mengarungi seluruh negeri untuk mencari agama Ibrahim. Di antara yang kutanya adalah kaum Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Mereka berkata bahwa agama itu akan segera datang, lalu mereka memberikan ciri-ciri sang nabi seperti yang kukatakan padamu. Mereka juga berkata bahwa tak ada lagi nabi selain dia.”

Amir ibn Rabi’ah melanjutkan…

Setelah aku memeluk Islam, aku sampaikan ucapan Zaid ibn Amr kepada Rasulullah Saw. berikut salam yang dititipkannya untuk beliau. Rasulullah pun menjawab salam itu dan menaruh iba kepada Zaid seraya berkata: “Kulihat dia di surga dengan jubah panjang.”[1]

Selain Zaid, tersebutlah seseorang ulama Nasrani bernama Waraqah ibn Naufal. Dia adalah sepupu ibunda kita, Khadijah ra. Dia banyak menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan bahkan dia menulis beberapa naskah Injil dalam bahasa Ibrani. Waraqah adalah seorang tua yang telah buta.

Ketika wahyu pertama turun kepada Rasulullah Saw., Khadijah ra. pergi mendatangi Waraqah bersama Rasulullah dan berkata: “Wahai sepupuku, dengarkanlah ucapan keponakanmu ini.”

Waraqah lalu bertanya: “Wahai keponakanku, apa yang kau saksikan?”

Rasulullah lalu menyampaikan apa yang telah dilihatnya di Gua Hira`. Setelah mendengar penuturan Rasulullah, Waraqah lalu berkata: “Itu adalah Namus yang dulu Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya saja tubuhku masih kuat. Seandainya saja aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu.”

Rasulullah pun menukas: “Apakah mereka akan mengusirku?”

“Ya,” jawab Waraqah, “Tak ada seorang pun yang menerima seperti apa yang kau terima ini, melainkan ia pasti akan dimusuhi. Sungguh seandainya saja aku mengalami hari-harimu itu, aku pasti akan membelamu mati-matian.”[2]

Selain Waraqah, ada lagi Abdullah ibn Salam yang adalah seorang ulama Yahudi. Mari kita dengar kisah tentang keislamannya…

“Ketika Rasulullah tiba, orang-orang pun ramai mengerumuni beliau. Termasuk aku. Ketika kuperhatikan wajah Rasulullah, tampak jelas bagiku bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Dan hal pertama yang kudengar dari beliau adalah ucapan: ‘Tebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah silaturahim, shalatlah ketika orang lain tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan damai’.”[3]

Abdullah ibn Salam seorang tokoh penting. Di dalam kitabnya yang berjudul al-Ishâbah, Ibnu Hajar menyatakan bahwa Abdullah ibn Salam sangat terkemuka dan merupakan keturunan Nabi Yusuf as.[4]

Bahkan tak kurang Allah sendiri memuji keislaman Abdullah ibn Salam dan menjadikannya sebagai dalil untuk melawan kaum kafir. Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al-Qur`an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israel mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur`an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim’.” (QS al-Ahqâf [46]: 10).

Yang dimaksud dengan ‘seorang saksi dari Bani Israel’ yang disebutkan di dalam ayat ini tidak lain adalah Abdullah ibn Salam ra. Meskipun sebagian mufassir menyatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah Nabi Musa as. karena ayat ini termasuk ayat Makkiyyah, namun pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa ayat ini tergolong ayat Madaniyyah walaupun surat al-Ahqaf sendiri termasuk surat Makkiyyah. Ayat ini adalah sebuah ayat Madaniyyah dan isinya menunjuk sosok Abdullah ibn Salam ra.

[1] Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Ibnu Katsir 2/296-299.
[2] Al-Bukhari, Bad` al-Wahy, 3; Muslim, al-Îmân, 252.
[3] Al-Musnad, Imam Ahmad 5/451; al-Tirmidzi, al-Ath’imah 45, al-Qiyâmah 42; Ibnu Majah, Iqâmat al-Shalâh 174, al-Ath’imah 1.
[4] Al-Ishâbah, Ibnu Hajar 2/320.

blog comments powered by Disqus