Cetak

Pelajaran Yang Baik

Ditulis oleh Fethullah Gülen pada . diposting di Keistimewaan Para Nabi

Penilaian Pengguna:  / 2
JelekBagus 

Pelajaran Yang Baik

Di saat menyebarkan risalah dan berdakwah, para nabi dan rasul tidak pernah bersilat lidah dengan umat mereka. Alih-alih mereka selalu mendekati manusia dengan menggunakan hikmah dan pengajaran yang baik (al-mau’izhah al-hasanah). Al-Qur`an telah mengarahkan Rasulullah dengan firman Allah: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS al-Nahl [16]: 125). Atau dengan kata lain, Allah memerintahkan agar Rasulullah menjelaskan hikmah dan rahasia yang tersimpan di balik penciptaan dengan cara yang lemah lembut, menggunakan kalimat yang tepat serta tidak menyakiti perasaan, demi meyakinkan nalar mereka.

Para nabi tidak pernah menggunakan perdebatan dan silat lidah dalam berdakwah. Mereka tidak pernah memedulikan susunan kata yang filosofis, karena –baik dulu maupun sekarang- kata-kata manis yang menipu memang tidak akan pernah mampu mendatangkan hidayah atau pu memberi manfaat bagi manusia. Allah telah melindungi mereka dari omong kosong, sehingga dakwah mereka benar-benar hanya diisi dengan hikmah dan pelajaran yang baik.

Manusia bukanlah makhluk yang hanya terdiri dari akal dan pikiran semata, tetapi ia juga memiliki hati dan roh yang di dalamnya bersemayam sirr yang misterius dan rahasia. Padahal setiap sudut spiritual manusia harus mendapatkan santapan yang mengenyangkan.

Dari titik ini, di saat berdakwah para nabi pun berusaha untuk menghidangkan santapan rohani bagi umat manusia yang dapat mengenyangkan seluruh aspek rohaniah mereka. Itulah dakwah yang utuh karena tidak mengabaikan satu aspek pun yang dimiliki manusia. Itulah dakwah yang akan mampu menghilangkan semua keraguan yang bersemayam di dalam diri orang yang menjadi objek dakwah, sehingga orang yang bersangkutan mampu mencapai keimanan sempurna yang menjadi tujuan penciptaan manusia.

Orang-orang yang telah lulus dari gemblengan pendidikan para nabi pasti memiliki iman yang kuat dan keyakinan yang kokoh. Mata batin mereka yang selalu memandang semesta, akan selalu terbuka untuk mengindera segala bentuk penampakan lain yang tidak akan dapat dilihat manusia biasa. Kalau pun dunia telah disesaki oleh keraguan dan tanda tanya, maka mereka pasti takkan terpengaruh oleh keadaan itu. Sebab keraguan tidak akan mampu menyusup ke dalam hati mereka yang telah dipenuhi makrifat akan kebenaran dan ilmu yang sempurna (al-‘ilm al-yaqîn). Allah lalu memberkahi ilmu mereka, menumbuhkembangkannya, dan kemudian mengajari mereka segala hal yang sebelumnya tidak mereka ketahui.[1] Embusan ilham samawi selalu menyaput hati mereka untuk kemudian membawanya terbang ke langit. Ketika mereka mengamalkan apa yang mereka ketahui, mereka menemukan diri mereka telah berada di atas bahtera al-Kalimah al-Thayyibah yang akan melesat ke angkasa.[2]

Di antara orang-orang istimewa itulah terdapat Ali ibn Abi Thalib ra. yang berkata: “Seandainya tabir penutup itu tersingkap, maka hal itu tidak akan menambah keyakinanku.”[3] Lewat pernyataannya ini Sayyidina Ali seakan mengatakan bahwa seandainya pun gerbang rahasia atau tabir penutup kegaiban terbuka sehingga semua yang semula tersembunyi menjadi dapat terlihat jelas, maka hal itu tidak akan membuat Ali mencapai tingkat keimanan dan makrifat yang lebih tinggi dari apa yang telah dicapainya. Hal itu dapat terjadi karena Ali telah mencapai keimanan yang sempurna terhadap yang gaib.

Ingat, apa yang dilontarkan oleh Ali ibn Abi Thalib ra. itu sama sekali bukan kesombongan, melainkan termasuk bentuk tahadduts bi al-ni’mah (menyampaikan nikmat yang didapat kepada orang lain). Bukankah Rasulullah sendiri –dengan perkenan Allah- telah menyatakan bahwa Ali ibn Abi Thalib ra. adalah ayah bagi semua wali hingga Hari Kiamat tiba?

Tak diragukan lagi, Ali ibn Abi Thalib memang dididik langsung oleh Rasulullah dan bahkan kemudian beliau nikahkan dengan wanita paling cemerlang dan juga paling cantik di sisi Rasulullah; seorang wanita yang kecantikannya mengalahkan bidadari di surga, yaitu putri Rasulullah sendiri Fathimah ra.

Dari pernikahan penuh berkah itulah lahir dua kuntum bunga surga bernama Hasan dan Husein. Dari keturunan mereka itulah kemudian lahir semua wali dan para quthub. Oleh karena Ali memiliki kedudukan istimewa seperti ini, maka semua halakah yang dihadiri oleh semua keturunannya atau salah satu di antara anak cucunya, maka semuanya memiliki peran yang sama dalam sejarah. Kedudukan seperti ini tentu hanya dapat dicapai oleh seseorang yang telah mencapai derajat ihsân dalam iman dan Islamnya. Ketika derajat yang tinggi itu berhasil dicapai oleh seseorang, maka di saat itulah orang yang bersangkutan termasuk di antara orang-orang yang disebutkan di dalam ayat yang berbunyi: “…maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS Qâf [50]: 22).[4]

Pencapaian tinggi inilah yang oleh orang barat disebut dengan istilah ‘Sihashsti’, yaitu ketika seseorang terputus dari semua efek eksternal ketika ia mulai melakukan gerakan internal dalam dirinya. Pada tahap ini, orang  yang bersangkutan akan dikuasai oleh ilham internal (al-ilhâm al-dâkhili) dan intuisi yang menguat. Hal itu terjadi karena pada saat itu kebenaran telah merasuk di dalam jiwa orang tersebut sehingga ia tidak lagi perlu mencarinya di luar dirinya. Rasulullah, yang telah berhasil membuat murid-murid beliau mampu mencapai derajat tinggi seperti ini justru hanya menggunakan pengajaran yang baik (al-maizhah al-hasanah) sebagai landasan dakwah dan dalam membangun kepribadian mereka.

Berkenaan dengan topik yang sedang kita bahas ini, ada sebuah ayat suci yang telah menjelaskannya dengan sangat simpel namun mendalam. Ayat itu berbunyi: “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 151).

Tampaknya kita tak perlu memperpanjang pembahasan tentang masalah ini, karena di buku ini telah dikemukakan beberapa contoh yang menunjukkan betapa besar perhatian yang diberikan Rasulullah serta sensitifitas beliau terhadap hal ini. Namun jika Anda ingin agar saya menarik kesimpulan, maka setidaknya saya dapat menyatakan sebagai berikut:

Rasulullah selalu berbicara dengan siapapun sesuai dengan kemampuan nalar dan kondisi kejiwaan orang yang bersangkutan, tidak kurang dan tidak lebih. Beliau selalu menggunakan kalimat yang bijak sehingga tidak ada seorang pun yang meninggalkan majelis Rasulullah, melainkan pastilah jiwanya tenang dan imannya bertambah kuat. Sementara kebanyakan di antara orang-orang yang menolak untuk beriman, seperti Abu Jahal, Walid ibn Mughirah, dan Utbah ibn Rabi’ah, sebenarnya adalah orang-orang yang telah terperangkap pada kepalsuan dan kekeraskepalaan mereka sendiri, serta ada pula yang terjebak pada ketakutannya sendiri.

Jadi, penyebab keingkaran orang-orang musyrik itu sebenarnya berasal dari diri mereka masing-masing dan bukan disebabkan adanya kekurangan pada metode penyampaikan dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw. Di antara kaum kafir itu ada pula –semisal seorang penyair bernama A’sya- yang sebenarnya mengamini semua yang diajarkan Rasulullah. Hanya saja rupanya dia tidak kunjung sanggup untuk lepas dari berbagai tradisi kuno yang diwarisinya. Itulah sebabnya banyak di antara orang musyrik yang meminta waktu agar Rasulullah mau menunggu mereka beriman. Tapi kita tahu, ketika akhirnya ada di antara orang-orang seperti yang keburu mati sebelum sempat menerima hidayah, maka itulah takdir yang telah ditetapkan baginya, dan hal itu terjadi bukan karena Rasulullah salah dalam mendakwahi mereka.

[1] Lihat hadits yang berbunyi: “Siapa yang mengamalkan apa yang diketahuinya, niscaya Allah akan memberinya ilmu yang belum diketahuinya.” Hilyah al-Auliyâ`, Abu Na’im 10/15.
[2] Lihat: “Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya…” (QS. Fâthir [35]: 10).
[3] Al-Asrâr al-Marfû’ah, Ali al-Qari, hlm. 193.
[4] Muslim, Fadhâ`il al-Shahâbah, 61.

blog comments powered by Disqus