Cakrawala Iman

Fethullah Gülen: Cakrawala Iman

Ada dua macam cinta kebenaran, yang satu didasari oleh pengetahuan sedangkan yang lainnya didasari oleh iman. Sementara yang pertama berhubungan dengan penemuan dan penentuan kebenaran, yaitu, apa yang menciptakan hubungan antara pengetahuan manusia dan kesadaran, sedangkan yang kedua berhubungan dengan sikap yang dianut dalam kaitannya dengan kebenaran. Yang pertama ditentukan oleh sumber-sumber pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan. Yang kedua ditentukan oleh agama itu sendiri. Ilmu pengetahuan menjadi buta tanpa adanya cinta atau tujuan yang ditujukan untuk menganalisa dan menjelaskan kehidupan dan menemukan kebenaran, dan penentuan upaya ilmiah tersebut tidak bebas dari kontradiksi. Benarlah bahwa setiap upaya ilmiah yang didasarkan pada pertimbangan kepentingan pribadi, keluarga, atau sosial akan menghadapi hambatan, dan tidak dapat dihindari bahwa setiap pengetahuan yang dicapai dengan mentalitas, pikiran, atau doktrin semacam itu akan melalui jalur yang sangat berliku-liku. Agama—menjadi lahan subur bagi ilmu dengan sumber-sumber pengetahuannya—merupakan elemen penting, suatu dinamika yang penting, panduan yang memiliki metode yang jelas untuk hal-hal yang melampaui cakrawala pengetahuan; agama adalah pedoman kebajikan yang mendalam yang tidak menyesatkan.

Selalu ada kemungkinan untuk mengubah ilmu menjadi raksasa yang siap menghukum, menghantui dan menakutkan, yang berdiri di jalan menuju kebenaran dengan hanya memperbolehkan pikiran, tindakan, atau doktrin tertentu, dan dengan demikian membatasi pandangannya; juga ada kemungkinan bahwa agama, yang merupakan kebenaran dari langit, bisa ditunjukkan oleh beberapa gelintir orang yang memiliki perasaan dengki, benci, marah, dan balas dendam. Alangkah kontradiktifnya sesuatu yang suci dapat dipelintir menjadi kebalikannya secar total!

Sekarang coba bayangkan suatu ilmu—yang dalam kebenaran harus dianggap sama sucinya dengan tempat ibadah—yang dengan cara-cara tertentu hanya dikaitkan dengan arus filsafat tertentu, atau bahkan telah tunduk kepadanya. Jika demikian ilmu sekedar menjadi budak bagi pemikiran yang fanatik; tidak ada kebebsan, dan dengan demikian sama terkutuknya dengan membungkus kedunguan dengan kebaikan. Dan coba bayangkan sebuah agama yang telah dijadikan sebagai kendaraan untuk kepentingan beberapa partai politik atau non-politik, kemudian, tempat ibadah dijadikan sebagai benteng partai-partai itu, dan doa-doa yang berlangsung di sana dijadikan semacam ritual politik. Dalam hal ini jelas sekali bahwa agama dan kesucian agama telah dikorbankan.

Memang, jika dalam masyarakat beberapa orang berbicara tentang “pengetahuan” dan kemudian menggunakan tempat-tempat pengetahuan ini sebagai villa mereka sendiri, sebagai lemari pajangan untuk keinginan, fantasi dan ideologi mereka, maka kediaman bagi ilmu pengetahuan ini sudah tidak lagi menjadi tempat ibadah dan telah menjadi arena untuk melampiaskan keinginan, ambisi, dan kebencian. Lagi, jika dalam masyarakat beberapa orang berbicara tentang “kesalehan”, dan kemudian menyebut mereka yang tidak memiliki pemikiran dan pertimbangan politik yang sama dengan mereka sebagai “musyrik” , “ateis” , atau “kafir”, maka kesalahan terletak pada mereka yang mengaggap diri paling benar. Mereka telah mengubah agama ke dalam sebuah fobia yang menjauhkan orang-orang dari Tuhan, yang menghitamkan hati mereka, dan menutup pintu-pintu harapan di wajah mereka; ini adalah kesan yang sama sekali bertentangan dengan alasan mengapa agama pada awalnya diturunkan. Permusuhan terhadap agama yang berasal dari mulut yang berbusa dengan kedengkian, kebencian dan kemarahan dan dari pena yang menghitamkan jiwa adalah kefanatikan dan hadiah yang pantas untuk setan. Demikian juga, mengutip “agama” dan kemudian mengepalkan tinju dan mengangkatnya tinggi-tinggi di udara sebagai protes terhadap pandangan atau pemikiran orang lain adalah juga kefanatikan dan kebodohan; hal-hal seperti ini membuat para penghuni langit bersedih.

Orang-orang yang demikian ini tidak tahu makna iman yang sebenarnya, tidak tahu panggilan hati nurani, tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang Ilahi, dan tidak menerima segala sesuatu sesuai dengan yang Allah kehendaki, baik hal-hal sepele maupun yang penting. Siapapun orangnya yang menganggap orang tersebut sebagai orang saleh, akan sangat tidak menghormati hakikat langit dan agama yang bersifat universal. Bahaya terbesar yang kita lakukan terhadap agama dan ilmu pengetahuan adalah menganggap fantasi, aspirasi dan keinginan kita sebagai pemikiran yang pasti rasional, dan menunjukkannya sebagai kesalehan. Ini adalah ruang yang luas dan dalam di setiap diri manusia dan sumber kekosongan ini adalah kelemahan mereka. Salah satu kelemahan terbesar kita adalah ingin terkesan lebih baik daripada keadaan sebenarnya, dan memiliki harapan melampaui kemampuan kita. Kelemahan inilah yang perlu disembuhkan dengan nilai-nilai tertentu, nilai-nilai yang oleh hati nurani kolektif dianggap saleh dan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan agama. Dengan kata lain, ada orang-orang yang ingin menggunakan agama seolah-olah itu sesuatu yang bisa mengisi celah-celah kekosongan mereka. Senjata paling ampuh hati nurani—yang tak dapat dipisahkan dari keadilan—untuk melawan kelemahan-kelemahan manusia seperti itu adalah cinta kebenaran dan perjuangan terhadap pengetahuan. Jika memang ada obat mujarab yang bisa melenyapkan korosi dari pikiran mereka yang tampaknya belajar, dan korosi dari pikiran mereka yang tampaknya memihak agama, itu tidak diragukan lagi adalah cinta kepada Allah, cinta kepada semua kehidupan, dan cinta kepada kebenaran, hanya karena-Nya. Ketika hati dipenuhi dengan cinta dan jiwa-jiwa bertindak dengan kasih sayang, semua kekosongan dan kelemahan manusia tertahan atau berubah menjadi obat mujarab kehidupan.

Dunia hadir untuk mengetahui dan menerima cinta kepada kebenaran yang mengarahkan orang untuk mencintai Allah dan membuat mereka tahu bagaimana menghadapi kehidupan melalui para nabi. Dari awal, setiap nabi telah memandu umat manusia untuk mengikuti caranya sebagai penguasa cinta dan telah menyulam segala urusan manusia dengan hiasan cinta; cinta Ilahi ini telah mencair di tempatnya, mencapai nilai yang sebenarnya. Al-Masih menggubah puisi dari hidupnya yang didasarkan pada cinta untuk kemanusiaan dan beliau melanjutkan misinya, menyuarakan perasaan ini dengan berbagai cara. Seperti diungkapkan melalui puisi Fuzuli, sosok kebanggaan manusia pernah bersabda, “Kata-kataku adalah pembawa bendera pasukan para kekasih” dan dengan demikian menghormati dunia dan berlanjut sebagai hembusan napas dan suara cinta. Ketika cinta Ilahi ini mencapai transendensi, matanya berada pada transformasi, berjalan menuju akhirat. Ketika al-Qur'an dibaca dengan iman dan konsentrasi, selain secara vokal dan musikal memikat, juga terlihat menyuarakan dan menghembuskan napas cinta, titik konvergensi antara rindu dan penyatuan. Semangat menegakkan kebenaran, cinta pengetahuan, upaya penelitian dan penyelidikan yang serius, dan upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan adalah masalah-masalah yang ditekankan dalam al-Qur’an yang seringkali digunakan untuk menarik perhatian hati orang-orang yang beriman. Mereka seperti tambang cemerlang tempat jiwa-jiwa penuh perhatian menemukan permata baru setiap kali mereka mengunjunginya. Setiap wisatawan pemikiran yang mempelajari al-Qur’an dengan penuh perhatian pasti akan menemukan diri mereka dalam sebuah arteri yang akan membawa mereka ke salah satu cadangan tambang yang cemerlang itu, dan siapa tahu pemandangan yang indah akan menyambut mereka saat mereka tiba.

Tapi yang sangat mengherankan, kitab yang murni tanpa setitik nodapun ini dicemari bayangan di atasnya dan dilempari keraguan dalam jiwa yang bimbang, karena kitab ini—yang lebih kaya dari buku yang paling besar sekalipun, dan yang telah diciptakan untuk melepaskan kita dari semua rasa sakit dan memberikan penawar untuk luka lama—sedang disalahpahami oleh jiwa-jiwa yang bangkrut, yaitu orang-orang yang gairah dan cintanya berjalan melawan arus. Pencarian mereka dangkal dan mereka condong pada evaluasi mereka sendiri. Penyelidikan mereka selalu diarahkan pada orang-orang lain yang selalu memikirkan ambisi dan kepentingan, yang menutup perasaan dengan kecerdasan dan nalar mereka, yang menilai dan menghasilkan fantasi, daripada mengurusi diri sendiri dengan penghayatan batin mereka. Mereka menyalahkan sebagian diantaranya karena beberapa orang dari mereka yang memperhatikan kemuliaan ini melihatnya sedikit kurang berkilau. Sebenarnya, meskipun mereka mungkin tampak berada di jalan yang mengarah pada dunia di lembah-lembah metafisik, karena kepentingan materi telah membutakan mata mereka, mereka tidak dapat memahami atau menrefleksikan dunia yang telah dibentuk oleh jiwa dan makna. Selain itu, dengan menyoroti dunia orang lain berdasarkan pada kelemahan manusia, mereka akan jatuh ke dalam perangkap mempersenjatai diri dengan senjata yang sama, bahan yang sama dan, dengan kata lain, menggunakan hal-hal yang sama dengan orang-orang yang mereka sebut “orang lain”. Dengan demikian, mereka dalam hitungan hari akan meniru kejahatan yang mereka gunakan untuk menegur orang lain, dan akan sepenuhnya mengikuti jejak mereka. Sampai saat ini, tak ada seorang pun yang pernah diuntungkan dari perjuangan tanpa tujuan ini. Sebaliknya, semua orang mengungkapkan penyesalan dalam perjuangan ini. Itulah kepribadian kolektif kita yang kalah dan itulah diri kita yang rusak.

Al-Qur’an turun ke bumi dengan pemahaman mendalam tentang keseimbangan; ia telah menyeimbangkan hubungan antara individu, keluarga, masyarakat, dan seluruh ciptaan dan telah menginformasikan kepada pengikutnya jalan yang mengarah ke keselarasan universal. Namun demikian, kita telah memenjarakan al-Qur’an dalam batas-batas ketat akal kita sendiri; pertama, kita telah membatasi hal-hal yang sangat luas, melokalisasi yang universal, dan kemudian kita menurunkan makna cintanya yang luhur ke tempat yang rendah, meredupkan wajahnya yang cemerlang menjadi suram terkena gerhana. Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi, seperti Zaid bin Zubair, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Imam Sarakhsi, tidak pernah menindas pihak manapun, sebaliknya, mereka tidak pernah meleset sedikit pun, dan selalu memutuskan sesuai dengan suara hati nurani mereka yang selalu terbuka kepada Allah. Mereka memilih hidup menderita di tempat yang gelap—semoga Tuhan mengampuni kita—bukannya hidup dengan kemewahan dan kesenangan di istana dan mereka menemukan kebenaran sejati dengan menyembah Tuhan Yang Maha Bijaksana dan karenanya mereka memilih kebebasan pikiran dan hati nurani.

Sungguh, mereka yang hidup berdasarkan tujuan, atau yang mati bedasarkan tujuan akan terus bertahan hidup. Ketika mereka mati, kuburan mereka hidup seperti hati, atau bahkan seperti hati nurani kolektif, untuk selamanya. Berlawanan dengan jiwa-jiwa mulia ini adalah orang-orang yang malang; mereka adalah para budak yang melayani kepentingan pribadi dan menganggap diri sok pintar sehingga mereka tidak perlu menyibukkan diri dengan apapun di dunia ini, padahal kenyataannya mereka tetaplah budak-budak yang dibelenggu oleh keinginan dan khayalan mereka sendiri—dengan demikian mereka hidup dalam perbudakan, warisan mereka hanyalah kutukan, dan prestasi mereka hanyalah bencana dari segala bencana.

Orang-orang beriman yang terus mempelajari al-Qur’an—kita boleh menyebut mereka orang-orang yang ideal—adalah para penunggang keabadian, yang menaikkan orang-orang lain ke pelana dan membawa mereka menuju ke keabadian. Mereka mampu mengendalikan semangat, aspirasi, dan nafsu mereka sendiri. Sebagai orang-orang yang mempelajari al-Qur’an yang melaju ke suatu cakrawala, yang bercita-cita sesuai dengan kontemplasi alam batin, mereka mampu menyelesaikan banyak hal yang biasa disebut dengan realitas, sementara mereka yang telah lama menderita karena tidak memiliki cita-cita dan yang kehilangan cita-cita, menganggap diri mereka bodoh.

Sebenarnya, tujuan dapat diibaratkan seperti ketapel yang melemparkan kita ke tengah-tengah alam jiwa, suasana metafisik yang melampaui dunia ini, yang dikelilingi oleh benda-benda yang menghalangi jalan kita dan menahan perasaan, kepentingan, keuntungan, dan reputasi kita. Setiap orang yang berada di dalam ketapel itu, jika tidak hari ini, maka suatu hari nanti, akan masuk ke orbit di seputar Tuhan; ketika sedang menunggu mereka berderet seperti satelit-satelit di landasan pacu. Agama, secara keseluruhan, merupakan sumber yang melimpah yang menghidupi cita-cita ini dan Nabi saw adalah seorang petugas yang penuh kasih sayang dari sumber ini, representasi dan penjelas yang tulus dan paling komprehensif yang sesuai dengan sumber aslinya. Dalam hal itu, beliau adalah seorang inovator, seorang pengungkap, seorang revolusioner yang merekomendasikan yang terbaik, seorang yang sempurna dan paling banyak menginterpretasikan kemanusiaan untuk generasi yang datang kemudian, dan seorang yang terbuka untuk masa depan yang paling jauh dengan prinsip-prinsip yang beliau khotbahkan. Mereka yang tidak bisa melihat al-Qur’an dengan kedalaman batin mereka sendiri dan mereka yang tidak menerima Nabi saw sebagai navigator paling terampil dalam memahami al-Qur’an, adalah orang-orang malang yang terperosok ke dalam jati diri mereka sendiri—jika memang kita bisa menyebutnya jati diri. Mereka kadang-kadang terguncang dan berhenti di jalan oleh gema kebodohan mereka sendiri sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an, mereka kadang-kadang mencari perlindungan di bisikan-bisikan sejarah, menyuarakan kekosongan mereka sendiri. Dalam interpretasi dan representasi mereka, agama—lebih tepatnya teologi Islam—adalah keburukan yang penuh dengan dongeng, atau sebuah sistem non-kontemporer yang telah usang dan sia-sia yang masih berusaha untuk bertahan.

Sebenarnya, al-Qur’an merupakan sumber yang memiliki teka-teki begitu mendalam dan kemurnian yang begitu luas, sumber yang begitu kaya sehingga semua orang yang membahasnya melihat bahwa sumber tersebut melampaui cakrawala bidang pemahaman mereka, dan mereka dapat merasa aman memiliki sumber seperti itu. Kemudian dengan penemuan cakrawala pemahaman mereka sendiri, mereka menyaksikannya seperti pelangi, sebuah lengkungan kemenangan yang selalu tepat berada di luar batas yang telah dicapai oleh orang yang mengikutinya.

Kesalehan adalah penafsiran seperti ini, penafsiran yang begitu mendalam terhadap sumber cahaya yang mengalir ke dalam hidup melalui prisma permata, yang mencetak dan membentuknya, sehingga mereka yang merasakannya dapat menyaksikan “ketenangan ekspresi yang sempurna” yang tak dapat ditiru, meskipun mereka dapat melihat tingkat pemahaman mereka yang selalu dinyatakan dalam al-Qur’an.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.