Cakrawala Ketenangan

Fethullah Gülen: Cakrawala Ketenangan

Manusia selalu menginginkan ketenangan pikiran sejak hari kaki pertama menginjak bumi; manusia telah mendambakan ketenangan pikiran, mengejar dan berjuang dengan berbagai cara untuk mendapatkannya. Kadang-kadang mereka menganggap ketenangan itu berhubungan dengan kerja keras dan kekayaan finansial; kadang-kadang mereka menganggap ketenangan itu berhubungan dengan kepuasan hati dan kebebasan tanpa batas; pada waktu lain, ketenangan pikiran telah dilihat sebagai kepemilikan sarana teknologi canggih dan pencapaian kenyamanan fisik; atau kadang-kadang dihubungkan dengan makan dan minum dan kepuasan nafsu duniawi. Manusia telah membatasi kehidupan mereka dengan pencapaian dan kepemilikan sarana-sarana ini. Pada jalan yang berkabut dan berdebu ini, manusia kadang-kadang hanya bisa berharap, kadang-kadang kecewa dan menggeliat putus asa, dan gagal menggapai harapan yang didambakan; ketenangan pikiran tidak mungkin dicapai melalui rute jalan ini, karena ketenangan yang mereka kejar adalah buah dari kebajikan dalam iman dan hanya dapat dicapai melalui iman yang sempurna. Inilah yang telah menjadi inti pokok ajaran para nabi.

Inti dari seruan damai dan ketenangan pikiran ini dapat dilembagakan ketika seseorang berpaling kepada Tuhan dan menyerahkan diri kepada-Nya dengan seluruh keberadaannya: tidak mungkin bagi orang yang beriman yang telah mencapai penyerahan hingga tingkat ini terus menjadi budak bagi keinginan tubuh, tidak mungkin juga orang-orang itu takut kepada apa pun selain Tuhan atau merasakan kecemasan apapun. Hingga di sini, sama seperti orang-orang ini telah menemukan Dzat Yang Maha Esa yang telah mereka cari, dan sama seperti mereka menemukan sang kekasih yang mereka cintai, mereka juga menemukan kedamaian pada diri mereka, karena mereka telah terlindung dalam perlindungan abadi Yang Maha Agung, di depan keagungan itu mereka akan selalu merasa kagum dan hormat. Mereka damai, karena mereka tahu bahwa Tuhan Yang maha Kuasa tidak pernah meninggalkan mereka yang telah berpaling kepada-Nya, siapa pun mereka, dan Dia tidak pernah membiarkan mereka berkubang dalam kesengsaraan.

Untuk alasan ini, orang-orang beriman selalu merasa aman dan damai. Mereka tahu bahwa mereka akan mencapai tujuan yang diinginkan jika mereka terus berjalan, menautkan segala sesuatu kepada-Nya. Mereka akan aman di sepanjang jalan dan dari kejauhan akan mengalami “malam pengantin” yang sudah dekat; mereka akan berjalan menuju tujuan keberadaan dengan bimbingan al-Qur’an, dengan kepercayaan yang dijanjikan iman di dalam hati, dengan angin penyerahan berhembus melalui emosi dan hati nurani dan dengan pengawasan dari Tuhan. Dengan semua ini mereka dapat mengatasi semua lubang neraka dalam bentuk cinta duniawi dan selera keinginan dan fantasi yang tak terpuaskan. Sungguh, mereka yang memasuki suasana al-Qur’an dan yang berlindung pada bimbingan-Nya akan selalu merasa sangat puas dan percaya di dalam hati ketika mereka menghirup napas keselamatan. Ketika mereka mendengarkan hati nurani, ketika mereka memandang pada obyek, ketika mereka merenungkan hari esok baik dari dekat maupun jauh ke depan, yaitu masa depan yang membentang hingga keabadian, ketika mereka menganggap alam Barzah (tempat di mana jiwa-jiwa akan menunggu sampai hari kiamat tiba), padang Mahsyar (tempat di mana semua orang mati dan hidup akan bertemu pada Hari Pengadilan), Sirath (jembatan yang sangat sempit yang menuju ke surga), Neraka, dan Surga, mereka membawa kesadaran yang luar biasa akan tugas dan rasa tanggung jawab mereka, dan mereka juga penuh dengan perasaan harapan yang mendalam. Perasaan harapan ini berbanding lurus dengan kedalaman iman dalam dada mereka. Mereka menatap segala benda melalui jendela kebajikan tertentu, yang diberikan kepada mereka sebagaimana layaknya luasnya iman mereka, sehingga tirai keberadaan fisik harus benar-benar ditarik kembali; mereka akan menemukan hal-hal yang mereka lihat dan pengalaman di luar jendela yang mirip dengan hal-hal yang mereka rasakan dan alami di sini. Karena sifat kekangan duniawi, mereka akan berhadapan dengan apa yang telah mereka rasakan secara singkat di bumi di luar jendela ini secara sangat mendalam, dan mereka akan tersenyum pada keberuntungan mereka.

Sungguh, iman adalah kunci ajaib untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat dan menjanjikan hasil yang gemilang bagi mereka yang berhasil melewati kehidupan di bawah panji-panjinya. Iman menjanjikan cahaya terang di alam Barzah, memberikan kabar gembira tentang kebangkitan yang lembut dan hangat, berbisik satu oktaf dalam skala Ilahi yang menyenangkan jiwa kita, membuat hati kita merasakan petualangan mendekati jembatan Sirath dengan harapan dan ketenangan yang dalam. Surga membuka pintunya dengan kepuasan dan penghayatan, dengan kejutan yang melebihi semua harapan dan memberikan karunia kepada kita dari pohon surga, karunia-karunia yang membuat kita melupakan bahkan saat-saat yang paling sarat masalah dan menyakitkan dalam hidup ini!

Sebenarnya, ketika orang-orang yang beriman berpaling kepada Tuhan dengan seluruh keberadaan mereka, segala sesuatu yang lain menghilang dari pandangan. Semua kekuatan dan keinginan palsu mengempis seperti balon ditusuk. Setiap lampu fisik yang kadang-kadang menyilaukan mata dengan kilau palsunya menjadi redup di depan cahaya Ilahi yang bersinar ke dalam hati kita; semua yang yang kita dengar, menggema: “Hari ini semua kekayaan dan harta milik Allah, Penguasa Mutlak.” Hati yang telah mencapai tingkat ini bebas dari janji-janji palsu semua kekuasaan, kekuatan, kebaikan, dan keanggunan yang menggoda dan berpaling hanya kepada Allah dan mengharap pertolongan hanya dari-Nya. Ketika orang-orang tersebut dalam kesulitan atau terguncang oleh kesulitan, mereka percaya dan bersandar pada-Nya. Mereka mencari perlindungan dari segala ancaman di bawah kecusian rahmat, kebajikan dan pertolongan-Nya.

Ketika orang-orang seperti ini melemah, mereka memohon nasehat dari Yang Maha Kuasa. Ketika mereka tercemar oleh dosa, mereka lari ke lembah ampunan-Nya untuk membersihkan diri, menyibak kabut dan asap yang telah menghalangi pandangan mereka dengan mempertebal keimanan dan menyerahkan diri kepada-Nya. Dengan demikian, mereka berjalan menuju masa depan tanpa menyerahkan diri kepada fenomena apapun yang mungkin muncul dalam perjalanan. Mereka menyelesaikan semua masalah individu, keluarga, dan sosial mereka dengan kembali kepada-Nya dan mereka tidak pernah takut, atau merasa kesepian yang tidak bisa diatasi dalam jiwa mereka. Kadang-kadang sementara waktu mereka merasa kesepian di depan umum, namun berkat iman dan kepasrahan mereka, mereka selalu merasakan hembusan angin “keakraban” dengan Tuhan. Apapun yang menimpa, mereka menganggapnya sebagai tanda peringatan dari takdir, dan menyambut transaksi tersebut dengan penerimaan dan kesabaran.

Keimanan mereka kepada Allah dan karakteristik iman mereka membuka kemungkinan untuk memperkenalkan diri dengan segala sesuatu, dan dengan demikian mereka melihat seluruh makhluk—hidup atau tidak—sebagai sebuah keluarga. Mereka berhubungan dengan makhluk-makhluk selebihnya, ambil bagian aktif dalam kehidupan segala sesuatu dan mereka dalam hati merasakan luasnya gelar khalifah yang telah diwariskan kepada mereka. Mereka merasa bahwa segala sesuatu telah diciptakan untuk kemaslahatan, dan membungkuk dalam rasa syukur, menyadari bahwa mereka bergandengan tangan dengan persepsi malaikat dan jiwa-jiwa alam semesta. Mereka menemukan dataran rendah dan tanah kosong yang mereka susuri, sehangat tempat tinggal leluhur, dan mereka berada di sana seolah-olah mereka berada dalam buaian ibunda. Mereka memandang kehidupan dengan cara yang sama sekali tidak menyerupai lukisan materialis dan naturalis, tetapi memandang dengan mata seseorang yang beriman yang menisbatkan segala sesuatu kepada Allah, dan hasilnya, mereka mendapat pengakuan dari semua yang ada di sekitar mereka. Mereka menerima pesan-pesan kepercayaan dari semua hal yang mereka hubungi dan menanggapi dengan sikap yang mengungkapkan keyakinan yang sama. Mereka tidak takut kepada siapapun dan tidak menyebabkan siapa pun untuk takut; mereka menganggap semua orang sebagai saudara. Mereka menebar senyum atas segala sesuatu; mereka meneguk air, menghirup udara dan menerima semua bentuk karunia sebagai nikmat dari Allah. Mereka menghirup aroma bumi dan segala sesuatu yang keluar darinya seolah-olah aroma yang paling manis. Mereka memberi hormat kepada kebun dan taman, gunung-gunung dan lembah-lembah, rerumputan dan pepohonan, mawar dan bunga-bunga dengan bahasa hati mereka, seolah-olah ini semua juga punya indra. Mereka membelai semua makhluk yang mereka temui seolah-olah mereka adalah teman-teman yang ditugaskan menemani mereka di sebuah wisma. Dengan setiap tindakan, mereka menunjukkan bahwa mereka telah dikirim ke bumi sebagai pertanda untuk perjanjian dan rekonsiliasi.

Dengan demikian, orang-orang yang beriman yang, dengan keluasan iman mereka, melihat semua orang dan segala sesuatu melalui kerangka kerja ini, merasa dirinya dalam suasana perdamaian yang luas, begitu luasnya sehingga akan membuat semua orang cemburu jika mereka sadar. Orang-orang ini bergembira atas kenikmatan yang tak terkatakan karena hidup dengan iman. Sungguh, tidak ada perkelahian, tidak ada perselisihan; mereka menghabiskan semua energi untuk membuat orang lain merasa apa yang mereka rasakan dan nikmati, untuk berbagi perasaan tulus dengan semua orang; mereka berusaha untuk mengarahkan semua orang mengikuti lagu sukacita ini dengan membuka cakrawala orang lain hingga derajat tertentu. Mereka selalu tertinggal beberapa langkah di belakang orang lain karena mereka ingin membuat orang lain mengalami sukacita ini. Dalam segala tindakan, mereka memiliki kepercayaan yang kekal kepada Allah; mereka berhati-hati agar tidak bertentangan dengan orang lain. Sungguh, di satu sisi mereka menghidupi diri sendiri dan keluarga, atas izin Allah, di sisi lain, mereka juga mencoba meraih dukungan orang-orang yang beriman lainnya yang seperti mereka. Mereka mengubah semua kekuatan yang menentang mereka menjadi kekuatan baru yang lebih kuat, sehingga dapat berjalan menuju tujuan seolah-olah terbang. Mereka berjalan menuju tujuan untuk mencapai perdamaian dengan iman, tujuan untuk membuat orang lain beriman, dan menuju keridhaan Allah.

Jika kebenaran disampaikan, masyarakat yang anggotanya telah mencapai kepuasan seperti ini, saling mencintai dan menghormati dan berhubungan satu sama lain dengan ikatan hati, bakal mencapai perdamaian yang sempurna. Masyarakat tersebut bakal sempurna, karena faktor-faktor yang menyebabkan para anggotanya gelisah dan bercerai berai telah punah. Dalam masyarakat seperti itu, tidak ada perlakuan atau hak istimewa bangsawan, keturunan, daerah, atau status. Masyarakat ini, yang memandang semua orang dan segala sesuatu berasal dari akar yang sama, adalah saudara-saudara dalam arti kata yang sebenarnya. Al-Qur’an menjelaskan kebenaran ini dalam ayat yang berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. al-Hujraat: 10). Ini bukan hanya persaudraan secara fisik; dalam kata-kata Nabi saw, mereka satu sama lain sangat terikat oleh cinta, kasih sayang, dan ketulusan, seperti organ-organ dari tubuh yang sama, dan mereka ikut merasakan penderitaan orang lain, ikut merasakan kebahagiaan mereka, dan berbagi kegembiraan bersama-sama.

Sungguh, mereka satu sama lain seperti mata dan telinga, lidah dan bibir, tangan dan kaki. Dalam masyarakat ini, setiap anggota mengabdikan diri untuk memfasilitasi kehidupan orang lain, untuk melakukan semua yang mereka dapat lakukan demi kebahagiaan orang lain. Alhasil, tidak ada yang ditinggalkan atau berkubang dalam keputusasaan di kalangan orang-orang seperti itu. Ketika seseorang terluka, semua yang lain merasa sakit di dalam hati mereka. Semua bergabung ketika salah seorang merasakan kebahagiaan. Sekali lagi, dalam masyarakat ini, orang tua dihormati seperti orang suci, anak-anak dibesarkan dengan penuh perhatian, seolah-olah mereka kuntum-kuntum bunga. Pasangan suami-istri, bahkan ketika rambut mereka sama-sama memutih, memperlakukan satu sama lain dengan sukacita seperti pada hari pertama mereka bertemu, dengan kontemplasi kebersamaan abadi di akhirat kelak. Mereka mencoba menjalani hidup mengikuti rute perjalanan hati dan pikiran, melampaui batas hubungan emosional. Mereka saling setia satu sama lain hingga mereka tidak menganggap yang lainnya sebagai orang asing. Keserasian dalam keluarga ini juga berlaku bagi sebuah bangsa, yang dianggap sebagai keluarga besar; dalam sebuah bangsa yang terdiri dari keluarga-keluarga tersebut, semua akan mengasihi dan menghormati satu sama lain, semua akan menganggap satu sama lain dengan kasih sayang, semua akan mengharap kebaikan untuk orang lain dan semua akan berusaha untuk memadamkan kejahatan sebisa mungkin. Tak ada yang berburuk sangka kepada siapa pun, dan tak seorang pun mencurigai yang lainnya. Tidak ada yang menggunakan orang lain untuk memata-matai yang lainnya. Tidak ada sekelompok anggota masyarakat yang mendedikasikan diri untuk menghancurkan kelompok lain. Tidak seorang pun, tidak ada sama sekali, yang terlibat dalam tindak kebohongan, penipuan, dan fitnah karena ini adalah kebiasaan manusia yang bermartabat rendah. Dalam masyarakat yang damai, setiap anggotanya memerangi segala sesuatu yang negatif; mereka telah bersumpah untuk melindungi nilai-nilai kemanusiaan. Walhasil, mereka menjadi sebuah masyarakat yang berhati nurani dan damai.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.