Kekacauan dan Dunia Mistik Iman

Fethullah Gülen: Kekacauan dan Dunia Mistik Iman

Hari ini, banyak orang menghembuskan nafas dendam, menelan kebencian, mengutuk semua yang dianggap musuh dengan semangat dan tekad yang tak berubah, seolah-olah sudah diprogram untuk marah. Tinta yang mengalir di halaman-halaman surat kabar, gambar-gambar yang ditayangkan di televisi, gelombang elektromagnetik yang beresonansi di radio menggores telinga kita seperti jeritan pertanda kemalangan yang memancar dari berbagai arah—di pegunungan dan di atas air, di lembah-lembah dan di bukit-bukit, mereka menyerang mata kita seperti foto-foto yang membuat kita bergidik dan menorehkan luka di hati kita. Epos kebencian ini yang kita dengar siang dan malam dan yang mengejutkan kita, semua jeritan pertanda kemalangan, membuat kita sakit jantung, namun orang-orang yang berobat untuk penyakit ini memang sedikit. Pikiran mereka tertuju ke arah yang berbeda, tetapi tampaknya selalu sampai pada titik yang sama: uang, kemakmuran finansial, dan kesuksesan.

Menuruti emosi, mengumbar nafsu
Makna yang mengalir dari tatapan itu sangat menjijikkan bagi hamba Allah.
Akif

Sangat sedikit yang tidak masuk dalam sudut pandang yang bergolak seperti ini; masih tidak ada perbedaan antara yang kolektif dan yang tidak, antara kapitalisme dan komunisme dan antara semua ini dan liberalisme. Jarak dalam hakikat—antara manusia yang hidup sekedar untuk pertimbangan makan dan minum, istirahat, uang, waktu untuk bersenang-senang, dan, makhluk lain yang memang ditakdirkan memiliki naluri yang tidak berubah—menjadi semakin tipis dari hari ke hari. Perbedaan mendasar antara keduanya menghilang di udara yang tipis satu per satu, dan umat manusia mencari arah baru, disamping sifatnya sendiri.

Agama, kesalehan, moral, berpikir bebas, persepsi kita sendiri terhadap seni, dianggap remeh; kekuasaan telah membusuk tak bisa dikenali, khayalan telah terkesan seperti gagagsan dan gagasan-gagasan yang tidak menyenangkan ini dipaksakan pada orang lain. Sungguh, harus saya sampaikan bahwa saya merasa sulit memahami drama batin fanatisme yang mengerikan semacam ini. Saat ini, ketika pencerahan telah menyebar luas, ketika intelektualisme berada pada puncaknya, ilmu pengetahuan dan kebodohan masih berada di tempat yang sama. Ini semua memberi kesan adanya keterlibatan gelap dan mempertegas adanya masalah yang serius. Kontradiksi seperti ini mengesankan kita bahwa sebagian orang masih jauh lebih mementingkan kehendak emosional dari pada kehendak intelektual dan logika.

Saya percaya bahwa dalam periode gelap ini, ketika lawan telah menjadi saling terkait, ketika di bagian-bagian masyarakat yang berbeda kekacauan demi kekacauan bertumpuk, ketika tindakan-tindakan gelap dari asal yang berbeda telah menggelapkan muka bumi, ketika apa yang di bawah tanah memerintah yang di atas tanah, ketika polemik dan dialektika telah menjadi begitu populer dan semakin banyak, ketika desas-desus, terutama melalui penggunaan media, disambut sebagai barang dagangan yang laku, ketika kehidupan orang lain telah mulai menjadi makanan dari keberadaan kita, ketika jiwa persatuan telah terguncang dan kelompok-kelompok yang berbeda tersebar di mana-mana, ketika harapan-harapan hancur dan kehendak-kehendak lumpuh, ketika jiwa-jiwa menyerah melawan keinginan, ada kebutuhan yang membara untuk berpaling ke lingkup spiritual kita sendiri dan mendengarkan dunia batin kita sendiri, untuk merobek diri kita sendiri dari suasana gelap dunia badaniah dan berlayar ke suasana magis kehidupan yang sungguh-sungguh dan spiritual. Mereka yang tidak jatuh ke dalam kelesuan dan kembali ke diri mereka sesegera mungkin akan merasakan keajaiban dan pesona dunia batin mereka sendiri; Orang-orang yang malang yang gagal untuk kembali dan masih tetap di situ, terus marah, benci, memfitnah, berbohong, dan menjijikkan, mereka terus berkeras kepala dalam perpecahan dan perselisihan yang telah mereka praktekkan sampai hari ini, dan bahkan ketika matahari terus bersinar mereka akan memimpikan hal-hal yang gelap, mereka akan menggumamkan pikiran gelap, bersembunyi di tempat-tempat gelap dan tinggal di sudut-sudut yang gelap.

Seseorang berharap mereka akan dapat merasakan sukacita pada siang dan malam yang berkah yang kita alami, ketika siraman cahaya berpendaran ke mana-mana. Seseorang berharap mereka juga akan meninggalkan ajaran sesat, ateisme, pertikaian, dan hasutan dalam hati dan mereka akan bisa menghargai pemahaman dan sikap orang lain! Mungkin suatu hari nanti keinginan tersebut akan terwujud, tapi orang-orang yang memproklamirkan diri sebagai musuh Allah, para nabi, agama dan kesalehan—sekali mereka menghembuskan napas materialisme, menyangkal Tuhan, dan terjun ke hamparan pasir anarki dan nihilisme—tidak akan pernah bisa menghembuskan udara yang menghidupkan. Ya Allah, hanya Engkaulah yang bisa membuat mereka mengenal-Mu dan hanya Engkaulah yang bisa melepas belenggu dari hati mereka!

Di setiap komunitas dan masyarakat ada orang-orang yang cenderung meninggalkan keimanan dan sudah sering terjadi mereka berada di luar kontrol; komunitas dan masyarakat lain tidak memiliki tempat sekuat yang kita miliki untuk berlindung ketika dihadapkan pada jurang dan kelemahan seperti itu. Sungguh, mereka pernah memiliki pikiran yang menenangkan, kepercayaan yang mendamaikan, siang dan malam yang gemerlap dengan sukacita, festival dan karnaval; tetapi, hari ini, malam ini, festival ini, karnaval ini sama sekali tidak memiliki kesucian. Semuanya seperti kembang api, bersinar sejenak dan kemudian lenyap, hanya memberikan kesenangan sesaat, semuanya sementara dan fisik, tidak menjanjikan apa-apa di jalan kebahagiaan spiritual. Sungguh, dalam dunia mereka Anda tidak dapat merasakan kebesaran iman kepada Allah, juga tidak bisa merasakan bahwa jiwa-jiwa bebas dari kungkungan ruang dan waktu, semuanya dimulai dengan kebahagiaan palsu dan sementara, dan berlangsung dalam igauan jasmaniah. Semua ini kemudian berubah menjadi kenangan pahit, mimpi buruk, dan harapan yang mengecewakan, dan akhirnya semuanya akan lenyap.

Dalam suasana spiritual ketika kita terikat erat kepada Tuhan, setiap suara, setiap kata, setiap tindakan terasa seperti sajak kanak-kanak dan terdengar seperti melodi. Semua ini mengguyur kita seperti hujan; kita menadah karunia dari guyuran ini. Bulan berubah bentuk setiap malam, memberi sinyal waktu tertentu dan saat-saat yang menyenangkan, matahari bergerak ke tempat baru di cakrawala setiap subuh, membangunkan perasaan dan pikiran kita, membuat mimpi-mimpi kita mengikutinya, menyajikan kenangan kepada kita menyerupai telaga Kautsar, yang dijanjikan kepada kita di Surga. Masa lalu menjadi seperti tabir yang menutup warna-warni di depan mata kita, masa depan bahagia adalah puncak impian kita, menunggu kita dengan tangan terbuka, dan kita, yang telah dibebaskan dari belenggu waktu yang sempit, menjalani hidup keanekaragaman kemarin, hari ini, dan besok secara simultan dan, seperti malaikat, merasakan saat-saat kebahagiaan yang tak ada bandingannya. Tidak mungkin bagi mereka yang tidak makan dari sumber yang sama dengan kita, mereka yang tidak memiliki perasaan dan pikiran yang sama dengan kita, dapat merasakan dan memahami kedalaman suci tempat kita meneggelamkan diri atau kebahagiaan dan sukacita yang kita sesap seperti tenggelam di telaga-telaga surga.

Keimanan kita, cakrawala berpikir kita, dan cara kita—karakteristik-karakteristik yang baik, tetapi pada saat yang sama menjadi milik sebuah bangsa yang sedikit teraniaya di belahan dunia ini—telah menjadi sangat beradab dan dihiasi dengan nilai-nilai universal, melalui pembentukan dan pembentukan kembali dalam cetakan kepribadian kolektif; ini adalah situasi yang tidak ada dalam komunitas lainnya; contohnya begitu banyak sehingga orang-orang yang menghabiskan waktu bersama kita tidak perlu waktu lama untuk mengenali perbedaan ini. Yang benar adalah bahwa dalam perbedaan ini, kesedihan hati kita yang suci dan antusiasme jiwa kita, seperti air yang mengalir di antara bebatuan, dapat dirasakan dan didengarkan. Sungguh, orang-orang yang mendengarkan apa yang harus kita katakan selalu mendengar melodi sakitnya perpisahan yang disuarakan bersama dengan harapan; mereka mendengar nada penyatuan kembali dan pencarian yang indah dan kekal untuk kembali dalam intonasi dan gaya kita. Sungguh, sementara di satu sisi kita bergumam “Oh, pembawa cangkir, aku telah terbakar dalam api cinta, berilah aku secangkir air,” di sisi lain kita berkata “aku telah mencelupkan jari dan merasakan madu cinta, berilah aku secangkir air,” dan dengan demikian kita mampu mengubah kesedihan kita menjadi senyuman. Lidah kita kadang-kadang berbicara tentang cinta dan kadang-kadang tentang keletihan; meskipun cinta dan keletihan dapat menyakitkan orang lain, di dalamnya kita selalu mendengar, seperti Rumi, puisi kerinduan kepada alam bahwa kita telah berangkat untuk datang ke sini. Cinta dan keletihan bagi kita seperti permohonan dari lidah jiwa, berasal dari hasrat sedih untuk keabadian. Karena keyakinan dan perasaan membawa kita ke dunia magis alam baka, kita hampir selalu merasakan jalinan sedih dan sukacita; kita mendengar suara tangis dan tawa sebagai nada-nada yang berbeda dari melodi yang sama. Kita menanggapi helaan napas terengah-engah di dada dengan senyum di wajah kita, ketika mata kita banjir dengan air mata, hati nurani kita merona kemerahan dengan mawar-mawar dari kebun Iram.[1]

Meskipun mungkin tidak mudah bagi setiap orang, hubungan kita dengan Allah adalah sikap yang paling alami yang dapat kita anut; hubungan kita dengan Dia adalah seperti mantra yang mengubah semua momen kehidupan kita menjadi antusiasme dan sukacita. Jantung kita yang berdetak dengan perasaan terhadap Dia berisi impian untuk dapat memandang-Nya; kita dapat hidup melalui musim gugur yang terburuk dalam hati kita untuk dapat merasakan sukacita di musim semi. Jiwa kita mengadopsi sikap-sikap yang paling patut ditiru dengan naluri perasaan dan sukacita tertentu yang merupakan hasil dari hubungan kita dengan Yang Maha Agung; jadi berubah, jiwa-jiwa itu membuat kita menjadi antusias kembali, terbuka dan terungkap kembali, bahkan pada saat-saat kita sedang bersedih dan berduka. Senang atau sedih, suka atau duka, semua emosi ini menjalani metamorfosis dalam hati kita yang berdetak dengan iman dan memberitahu kita kesenangan-kesenangan yang paling alami dan harapan-harapan yang paling realistis. Terbukti bahwa kita juga mengalami saat-saat kemudahan dan kesulitan silih berganti, minggu-minggu yang manis dan hari-hari yang pahit, terang dan gelap yang datang dan pergi, seperti siang dan malam. Namun, kita menghisap kebajikan dan sukacita yang tiada tara dari semua godaan ini, karena kita memiliki keimanan, hubungan kita kepada Yang Maha Esa dan harapan kita! Mereka yang tidak mengenali cobaan dan kesenangan sebagai produk dari kehendak yang sama menggeliat dalam kesakitan yang tidak pernah berakhir, sementara dalam suasana kita sendiri kita melihat dengan jelas bahwa segala sesuatu akan berubah menjadi kasih sayang yang mendalam. Rasakanlah seumur hidup, dengan segala sisi yang pahit dan manis seperti telaga Kautsar, dalam segala sesuatu yang kita makan dan minum, di setiap tempat yang kita tinggali, dengan semua penemuan Ilahiah yang indah dalam dunia batin kita sendiri, dengan semua riak gelombang yang berbeda; rasakanlah penderitaan kita menyusut di hadapan kebahagiaan, rasakanlah sakit kita mencair dalam kenikmatan dan rasakanlah bagaimana kehidupan mengalir ke dalam tangki air berglasir dalam spektrum warna. Kematian kita berubah menjadi kekal, kita memancarkan senyuman bahkan ketika kita menangis.

Di dunia kita, kepercayaan dan harapan yang muncul dari hati orang-orang beriman begitu terjalin dengan hidup kita sehingga setiap babakan kehidupan kita meminjami sayap-sayap doa dan mengantarkan kita sampai di pintu gerbang akhirat. Ia membawa kita ke sana sehingga hati kita bisa meneguk keindahan surga. Dengan cara ini, kita merasa seperti menghirup aroma surga. Meskipun kita harus menjalani kehidupan sehari-hari, seruan untuk berdoa, lagu-lagu yang mengagungkan Allah, berbagai suara doa, rapalan asma-asma Allah, orang-orang yang bersukur kepada-Nya yang menyerukan Keesaan-Nya, membiarkannya tumpah dari jendela-jendela masjid, semua menarik kita ke suasana mereka; mereka mewarnai jiwa kita dengan warna mereka, mereka mengeluarkan suara seperti suara gendang ke dalam hati kita, mereka menghela napas seperti seruling dan membuat mereka senang dengan kebahagiaan musik. Suara-suara ini membangkitkan jiwa kita dan kita terpesona oleh misteri yang berkaitan dengan Tuhan, pesona misteri yang datang berderap dari kedalaman dunia batin kita dan yang menyebar ke semua indera kita, pesona yang mewarnai taman-taman surga dalam pikiran kita dan yang mengalir melewati bibir kita seperti air terjun inspirasi. Menyenangkan, kita berdiri terpana.

Pesona ini, pengakuan dari misteri yang berkaitan dengan Tuhan ini, mencapai tingkat yang lebih tinggi pada siang-siang dan malam-malam yang diberkahi ketika karunia yang melimpah ruah diguyurkan kepada kita. Hingga sejauh ini benar bahwa segala sesuatu di sekitar kita berubah menjadi sukacita, setiap sudut penuh rona spiritual dan kegembiraan jiwa kita, diarahkankan pada tujuan metafisik, mencapai puncaknya, atau dalam istilah sufi, jiwa kita mencapai langit kematangan tertinggi. Sejauh kita dapat mendengar dan menyimak apa yang ada di sekitar kita, kita juga bersukacita seperti anak-anak yang berada di gelanggang pasar raya; dengan demikian kita mengalami kebahagiaan dan kegembiraan pada hari raya.

Dalam dunia semacam ini, fajar mengalir ke rumah-rumah kita dari pintu dan jendela seperti tamu yang ditunggu; malam datang memasuki kamar pribadi kita seperti kekasih dan duduk di samping kita; malam menggelayuti kita menyatu kembali dengan Tuhan yang menjadi sahabat karib; dan di tiap-tiap lembah tangan-tangan ditadahkan kepada-Nya dalam doa, siap untuk menerima pahala yang akan datang dari-Nya, sambil mengharap ketegangan metafisik dengan kekuatan jiwa, mendesah, mengatakan, “Peganglah tangan hamba wahai Tuhan, mohon tahanlah, karena hamba tidak kuasa melakukannya tanpa Engkau.”

Dalam dunia seperti itu, doa mengaum seperti paduan suara merdu Gulbang[2] (lagu-lagu pujian) dan memantul seperti suara dan napas dari penghayatan Ilahiah; kesenyapan malam yang hangat menyelimuti jiwa kita seperti sutra; urat nadi kita berdenyut dengan kegembiraan seperti orang yang telah menerima kabar baik. Mungkin sebagian dari kita terus mengalunkan lagu memuji-Nya, baik hujan atau cerah, seperti burung bulbul yang hancur hatinya dalam upaya mengekspresikan irama idaman untuk emosinya dengan suara yang paling menyentuh. Singkatnya, semua orang menyenandungkan melodi dengan penderitaan dan sukacita yang tidak pernah berakhir, cinta dan kegembiraan yang tidak pernah padam, mendengarkan jiwa mereka yang menggigil dan membiarkan orang lain mendengarnya juga. Semua orang menghela napas dengan demam cinta dan membuat orang lain merasakannya juga. Ya, ketika mereka memikirkan kegembiraan dalam jiwa dan inspirasi dari hati mereka, mengekspresikan diri untuk terakhir kalinya, mereka menjadi juru bicara bagi perasaan semua orang dan mereka mampu berbicara tentang makna tersembunyi yang ingin mereka sampaikan tetapi gagal untuk mengungkapkannya.

Cakrawala hidup kemarin, hari ini, besok pada waktu yang sama dengan tingkat iman dan harapan, cinta dan pengakuan terhadap misteri mengenai Tuhan semacam ini berpengaruh sedemikian dalam terhadap hidup sehingga setiap hati yang berada dalam orbit hari akhirat menemukan dirinya terbungkus dalam harmoni emosi dan gagasan yang merdu dan terbebas dari efek permasalahan yang membatasi dan mengekang. Saya percaya bahwa landasan yang terkuat dari semua hubungan manusia, sumber paling murni dari semua kesenangan, dan sumber dari semua cinta, kerinduan, daya tarik, dan gravitasi adalah keimanan dan harapan ini. Setiap pengikut hati yang mencapai iman dan harapan bisa mengalami dan merasakan keadaan berada di luar waktu, dengan kemampuan untuk merasakan semua kedalamannya.

Sungguh, sejauh seseorang dapat mencapai pandangan ini, ia dapat merasakan kehidupan dengan cara yang berbeda, mengevaluasi segala hal dengan cara yang berbeda dan mencair pada diri sendiri dengan warna, rasa, aroma, dan aksen manifestasi dari Yang Abadi; atribut-atribut ini meliputi semuanya dan manusia dapat mencapai kehidupan kedua dengan “lahir kembali setelah mati”.[3] Selama saat-saat sukacita demikian, ketika pandangan internal difokuskan pada apa yang ada di balik adegan visual kehidupan, orang merasakan semua kebahagiaan hidup. Orang merasa seolah-olah telah terguyur kebijaksanaan, seakan-akan terbebas dari beban segala sesuatu yang bertentangan dengannya. Langit yang jauh mengucurkan berkah ke dalam hati ini, hati yang haus akan cinta dan berderap dengan kerinduan dan kasih sayang; semua hati yang takut mengering akan terpuaskan. Bunga-bunga surgawi bermekaran dalam pancuran dihiasi mimpi-mimpi!

Sebagian dari kita mungkin tidak dapat memahami keadaan orang-orang yang beriman dan berwawasan ini; tetapi semua ini adalah fenomena hati, jiwa dan emosi. Hidup melalui wahyu yang tak terhitung jumlahnya, hanya pahlawan-pahlawan yang aktif pada masa awal dan dalam pertempuran hebat yang dapat memahami cinta, antusiasme, puisi, dan musik ini yang dituangkan ke dalam jiwa kita oleh Yang Maha Kekal. Mereka yang tidak memahami hal ini tidak akan dapat mengerti kita, juga. Mereka yang tetap jauh dari kehidupan yang halus dan lembut ini tinggal dalam kegelapan, sementara pemahaman mereka yang telah menemukan posisi—dari posisi ini mereka dapat melihat kebenaran sedemikian rupa sehingga tampil jelas seperti apa adanya—selalu merasa karunia ini berada pada semua riak gelombang, menyesapnya seperti sungai-sungai surga dan menjalani kehidupan duniawi seolah-olah di Surga.

Siapa yang tahu berapa kali lagi kita akan membicarakan kesenangan dan sukacita yang tidak pernah berakhir ini, dalam festival menyenangkan, di hari raya! Berapa kali lagi kita dapat membicarakannya, kita masih akan mendengarkan dengan senang dan mencoba untuk berbagi dengan orang lain.

[1] Sebuah tempat yang disebutkan dalam al-Qur’an, “(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.” (Q.S. al-Fajr: 7-8).
[2] Puji-pujian yang biasa dikumandangkan bersama-sama oleh jamaah di masjid-masjid.
[3] Pernyataan ini tidak sama dengan gagasan reinkarnasi.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.