Menciptakan Suasana Toleransi yang Permanen

Fethullah Gülen: Menciptakan Suasana Toleransi yang Permanen

Selain ada “surga yang hilang”, kita juga kehilangan beberapa karakteristik yang mulia. Pengetahuan, penelitian, pekerjaan, metode kerja, organisasi tempat kerja, sikap saling tolong-menolong, dan kebiasaan membaca buku alam semesta adalah beberapa hal yang telah hilang dari kita. Di antara banyak hal yang hilang, mungkin toleransilah yang paling penting. Dari kata ini kita mengerti bagaimana merangkul orang lain, terlepas dari perbedaan pendapat, pandangan dunia, ideologi, etnis, atau kepercayaan. Toleransi juga berarti bersabar dengan hal-hal yang tidak kita sukai dengan menggali kekuatan yang ada dalam hati nurani yang mendalam, keimanan, dan kemurahan hati atau dengan kekuatan emosi kita. Dari pendekatan yang lain, dalam kata-kata Yunus, penyair terkenal Turki[1], toleransi berarti mencintai makhluk hanya karena Sang Khalik.

Mencintai Makhluk Karena Sang Khalik

Cinta adalah alasan keberadaan dan esensinya, dan itu adalah tali terkuat yang mengikat semua makhluk. Segala sesuatu di alam semesta ini adalah hasil ciptaan Allah. Jadi, jika Anda tidak mendekati manusia, ciptaan Allah, dengan cinta, maka Anda akan menyakiti mereka yang mencintai Allah dan orang-orang yang Allah cintai. Sebagai contoh, mencela lukisan seorang seniman seperti Picasso akan menyakiti baik Picasso maupun orang-orang yang mengaguminya. Contoh lainnya, tidak menghargai kemegahan Istana Alhambra, akan menunjukkan rasa tidak hormat terhadap mahakarya tersebut dan arsiteknya. Dengan cara yang sama, setiap aspek keindahan alam semesta, keagungan, dan kemegahan yang mengagumkan adalah contoh karya seni Allah. Dalam hal ini, manusia, hewan, makhluk bernyawa lainnya, dan, pada kenyataannya, semua benda mati juga, diciptakan dengan sifat yang layak kita rangkul dengan cinta. Menunjukkan sikap acuh tak acuh atau merendahkan mereka berarti menunjukkan ketidakpedulian dan merendahkan Sang Pencipta. Sebaliknya, pendekatan kita terhadap penciptaan dan manusia lainnya harus didasarkan pada rasa cinta kepada mereka demi Pencipta mereka. Jika orang-orang muslim berbicara tentang senjata, gudang senjata, pembunuhan dan penyembelihan dan jika dengan berbuat demikian mereka menjauhkan satu sama lain, maka ini berarti bahwa sebenarnya kita telah jauh terpisah dari esensi kita.

Tetapi kita harus bersyukur bahwa pada saat ada tanda-tanda surga yang telah hilang, kita juga menemukan toleransi, salah satu karakteristik yang telah hilang. Kita menemukan kembali toleransi, sesuatu yang melekat dalam semangat Islam dan sesuatu yang telah dijelaskan kepada kita dalam Al Qur'an dan oleh Nabi Muhammad saw. Dalam hal toleransi, masyarakat kita telah menyambut kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan toleransi dan sangat mendukung semangat ini; ini sangat penting. Seiring dengan lembaga-lembaga yang telah didirikan, layanan sukarela yang diberikan oleh masyarakat telah membangkitkan banyak minat. Al-Qur'an menyatakan:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (Q.S. Maryam: 96).

Dengan kata lain, baik penduduk langit maupun penduduk bumi akan mencintai mereka. Seperti yang diungkapkan dalam sebuah hadis, Allah mengatakan kepada mereka yang di langit siapa saja orang-orang yang Dia cintai dan menyuruh mereka juga, untuk mencintai orang-orang yang dicintai-Nya ini. Ketika malaikat di langit mencintai mereka, orang-orang di bumi mencintai mereka juga.

Benih-benih yang telah ditaburkan oleh toleransi tumbuh berkembang. Pada saat yang tepat benih-benih itu akan bermekaran. Tentu saja, ini tergantung, sampai batas tertentu, pada dukungan yang diberikan suratkabar, TV, majalah, dan yayasan-yayasan yang peduli.

Tidak Ada Jalan Kembali dari Jalan Toleransi

Penerimaan di langit selalu disetujui di bumi. Tanda-tandanya jelas. Tanda-tanda yang paling jelas adalah bahwa pintu-pintu dibuka lebar di mana-mana untuk menyambut para pahlawan cinta dan toleransi ini. Dapat dikatakan bahwa toleransi sudah pada jalannya untuk tumbuh dan berkembang. Sampai sejauh ini benar hingga setelah musim toleransi berlangsung, mulailah berbagai konflik muncul untuk mengganggu perkembangan ini. Tapi sisi-sisi yang selama bertahun-tahun terlihat dan muncul secar terpisah telah ditanggapi dengan penuh bijaksana, sehingga sebuah bencana dapat dicegah.

Saya kira mungkin mulai sekarang akan banyak intrik lain terjadi dan akan ada banyak upaya dilakukan untuk mengganggu perdamaian umum. Namun, kita yang telah memulai proses ini, harus tetap bertekad membawanya sampai akhir. Kita harus bertindak sesuai dengan cara yang ditunjukkan dalam Al-Qur'an:

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Q.S. Al-Furqan: 72).

Semua orang mencerminkan karakter mereka sendiri dengan tindakan mereka. Ini adalah tugas orang-orang hebat, untuk bertindak lemah lembut. Jika seseorang menngejek al-Qur'an, dan menganggap enteng sholat, puasa, dan kesucian, perilaku ini merupakan indikasi gaya dan karakter orang tersebut. Tapi sebagai orang-orang yang beriman, kita tidak boleh agresif atau mengejek orang lain, bahkan terhadap mereka yang bertindak dengan cara yang tidak menyenangkan. Kita tidak boleh membalas agresivitas dan ejekan seperti itu. Ayat lain menyatakan:

Katakan kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-oarang yang tiada takut akan hari-hari Allah. (Q.S. Al-Jaatsiyah: 14)

Ini sebenarnya adalah suara hati nurani kita. Ketika Anda melihat orang buta, apakah Anda akan menendang dan memukulinya ataukah mengambil tangannya dan menunjukkan jalan? Dari sudut pandang ini, tugas yang dipikul penggagas masa depan adalah untuk mengganti perpecahan dengan kerukunan di masyarakat, untuk melindungi keseimbangan yang sedang terancam, dan untuk melihat kejadian yang tidak menyenangkan dengan bijaksana. Sama seperti kata peribahasa, "Ambil yang baik, dan tinggalkan yang buruk," kita harus tinggalkan hal-hal yang tidak menyenangkan; kita juga tidak boleh menimbulkan konflik atau gangguan.

Jika kita bisa terus seperti ini, maka dalam waktu singkat mungkin kita bisa beranjak lebih jauh dari keadaan sekarang ini. Tentu saja, akan ada banyak upaya, baik di dalam atau di luar negeri, untuk menghancurkan keseimbangan ini. Tapi demi kelanjutan toleransi, kita akan mati berkali-kali dan dilahirkan kembali dalam upaya untuk mencegah hal ini. Akan ada banjir cinta di mana-mana, dan cinta akan mengalir dari mata dan hati masyarakat. Setiap orang akan menerima satu sama lain dengan cinta dan, insya Allah, abad kedua puluh satu akan disebut sebagai era toleransi. Saya sangat optomis hal itu akan terjadi. Hanya satu atau dua tahun toleransi tidaklah cukup. Kita berharap toleransi akan berlangsung satu atau dua abad, meskipun sejujurnya, kita ingin toleransi dapat bertahan sampai akhir zaman. Kita mendambakan era toleransi, dan kita tidak punya niat untuk berbalik kembali dari jalan ini.

[1] Yunus Emre (c.1238-c.1320): Seorang penyair dan sufi yang memiliki pengaruh kuat pada sastra Turki. Dia fasih dalam filsafat Sufi, khususnya Rumi, dan, seperti Rumi, menjadi wakil terkemuka tasawuf di Anatolia (tapi pada tingkat yang lebih populer).

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.