Apakah ether ada? Jika ia memang ada, apa substansinya?

Keberadaan ether belum pasti. Namun, ketika beberapa ilmuwan yang kredibel menyebutkan dan membahas ether—meskipun sekadar contoh, hal itu membuat kita menyikapi masalah ini secara hati-hati.

Christian Hugens (1629 – 1695) adalah orang pertama yang mengetengahkan konsep ether sebagai materi yang dapat menembus segala sesuatu dan mempunyai substansi yang sangat halus. Akan tetapi, ketika Maxwell mendukung pandangan tersebut hingga mengabaikan konsep kehampaan mutlak, ia berkata, “Setelah fenomena elektro magnetik terbukti ada, lahirlah kebutuhan akan adanya perantara seperti ether.” Dengan kata lain, segala sesuatu, mulai dari alam besar (kosmos) hingga alam kecil (atom) bergerak dalam kerangka ether. Maxwell juga berpendapat bahwa kesimpulan pertama penemuan tersebut adalah bahwa gelombang cahaya tidak lain adalah gelombang elektro magnetik. Yakni, fenomena cahaya sama dengan fenomena elektro magnetik. Penemuan tersebut sebenarnya dianggap sebagai langkah pertama menuju penyatuan berbagai fenomena alam.

Pada hakikatnya beberapa orang sebelum Maxwell telah menegaskan bahwa muatan elektro magnetik tidak bisa bergerak dan berpindah dalam kehampaan. Artinya, ia membutuhkan perantara untuk berpindah. Lewat hukum-hukum yang ditemukan, disebutkan bahwa muatanmuatan elektro magnetik adalah gelombang melintang dan memiliki karakteristik cahaya dilihat dari sisi pantulan dan defraksi ganda. Sementara itu, Maxwell menilai bahwa cahaya adalah kata lain dari gelombang elektro magnetik yang pendek. Lalu, Hertz datang melakukan sejumlah percobaan yang mendukung teori Maxwell. Ia melihat bahwa ketika menghidupkan aliran listrik di salah satu sudut ruangan, muncul nyala listrik dalam sirkulasi listrik yang terdapat di sudut ruangan lainnya tanpa ada keterkaitan antara keduanya. Ia mengatakan bahwa kecepatan gelombang itu sama dengan kecepatan cahaya. Karena itu, nama Hertz dipakai sebagai nama gelombang itu. Demikianlah dasar penemuan radio dan telepon yang kita kenal dan kita pergunakan.

Setelah pandangan tentang ether tersebar luas sepanjang beberapa waktu, Morley dan Michelson hendak membuktikan keberadaan ether dengan eksperimen dan pemikiran lewat cara berikut ini. Jika kita mengirimkan dua sinar, yang pertama ke arah gerakan bumi dan yang kedua ke arah vertikal lalu lewat cermin kita memantulkan kedua sinar tersebut sekali lagi ke mata orang yang melihat percobaan, diprediksi bahwa sinar yang searah dengan gerakan bumi lebih lambat daripada sinar yang dikirim ke arah vertikal dari gerakan bumi, karena ia akan membentur arus ether yang terbentuk dengan arah kebalikan dari gerakan bumi. Hanya saja, prediksi tersebut tidak terbukti. Ternyata kedua sinar itu sampai pada waktu yang bersamaan tanpa perbedaan sedikit pun. Meskipun percobaan diulang, hasilnya tetap sama. Ini menjadi isyarat negatif bagi keberadaan ether. Dengan kata lain, jelaslah bahwa gelombang radio dalam perpindahannya tidak membutuhkan perantara apa pun.

Ada yang menyanggah kesimpulan di atas. Di antaranya Laurent yang menyebutkan sebuah prinsip bahwa setiap zat kehilangan sebagian dari panjangnya lewat arah gerakan yang ada. Ia berpendapat bahwa hal tersebut terjadi pada percobaan Morley dan Michelson. Ia membuktikan sampainya dua sinar ke pusat atau kepada mata orang yang melihatnya dalam waktu yang bersamaan secara matematis. Sanggahan tersebut dianggap benar ketika itu. Namun, sangat penting untuk mengetahui substansi dari apa yang ingin dibuktikan keberadaannya oleh Michelson dan apa makna ether yang dianggap ada oleh Laurent.

Yang pertama menganggap tidak ada karena bersandar pada percobaannya. Sebab, ia membayangkan adanya ketebalan pada ether. Atau, ia menilai paling tidak ether sama dengan udara yang meliputi bola bumi dan membayangkan adanya gerakan materi cair yang mengelilingi bumi bersama gerakan bumi. Artinya, ia melakukan percobaannya pada ether imajinatif semacam itu. Bukankah bisa saja ether merupakan wujud metafisika? Atau, alam supranatural sebagai lawan dari alam kasat mata ini? Perlu diketahui bahwa begitu banyak majalah ilmiah berisi artikel yang intinya mengacu kepada ether.

Sebagai kesimpulan, kita bisa berkata bahwa meski tidak ada kepastian yang didasarkan pada penyaksian atau percobaan tentang ether, adalah keliru dan tergesa-gesa ketika kita segera menafikan keberadaannya, sebab kita tidak memiliki informasi yang kuat tentang ketiadaannya.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.