Karena Salahku!

Orang-Orang Beriman dan Terpercaya

Pertanyaan: Dalam sebuah hadist, karakter seorang muslim digambarkan sebagai orang yang mampu memberikan rasa aman kepada orang lain dari gangguan tangan dan lidahnya. Bagaimana cara kita menghadirkan akhlak baik ini dalam diri kita, dan bagaimana penjelasannya?

Jawaban: Hadist itu termasuk ke dalam kelompok hadist shahih, utusan yang mulia, Rasululah Shallallahu Alaihi Wasallam mendefiniskan muslim sejati adalah sebuah pribadi yang mana orang lain dapat merasa aman dari (kemungkinan bahaya) yang datang dari tanan atau lisannya 1. Untuk memulai penjelasan atas pertanyaan yang Anda tanyakan, saya ingin mengawalinya dengan menjelaskan makna muslim dengan diawali frase ‘Al-Muslim’ menunjukkan hadist tersebut mengacu pada seorang muslim yang ideal dalam arti yang sebenarnya berdasarkan kata tersebut. Hal ini berdasar pada kaidah : “sesuatu yang disebutkan secara mutlak menunjukkan suatu contoh yang sempurna dari  jenisnya”. Kata Muslim yang disebutkan disini bukanlah seseorang yang sepertinya atau dianggap demikian, namun seseorang yang menegaskan kebenaran dengan cara yang tulus dan meyakininya, berserah padanya, memenuhi rukun-rukun iman dan sebuah pribadi yang membuat semangat keimanan ini tersebar dalam seluruh aspek kehidupan.

Jika kita menjelaskan kosa kata yang digunakan dalam hadist secara lebih lanjut, kata kerja yang digunakan disini adalah ‘As-la-ma’ (berserah diri) yang datang dari akar kata yang sama dengan kata ‘salam’ (damai) dan ‘salamah’(aman dan sehat). Kata benda ‘Muslim’ adalah kata aktif , berfungsi sebagai subjek, dari kata kerja yang sama, hal ini berarti ‘seseorang yang berserah diri pada Tuhan’. Hal ini juga mengandung makna ‘orang yang membuat orang lain merasa aman dan damai, dan orang yang menciptakan kedamaian dan kebebasan bersama dari bahaya-bahaya.” Dalam hal ini, kata ‘Muslim’ menggambarkan sesorang yang menyerahkan diri kepada Tuhan dan yang mematuhi perintah-perintahNya dengan sepenuh hati, dan dapat dipercaya sepenuhnya.  

Asmaul Ilahi; As-Salam dan Al-Mu’min

Muslim ideal yang membuat orang lain merasa aman adalah konsekuensi dari penerapan moralitas ilahi mereka, sehubungan dengan nama Ilahi As-Salam (Yang Maha memberi Keselamatan dan Keamanan) dan Al-Mu’min (Yang Maha Memberi Rasa Aman dan Menghilangkan Keraguan). Nama-nama itu muncul di akhir surat Al-Hasyr secara berurutan. Sebagai nama Ilahi As-Salam berarti Dia yang benar-benar terlepas dari ketidaksempurnaan dan yang memberikan kesejahteraan kepada makhlukNya. Al-Mu’min berarti Dia yang menciptakan iman di dalam hati manusia dan menjanjikan mereka keselamatan, dan yang memenuhi janji-janjiNya. Oleh karena itu, jika Allah yang Maha Kuasa membuat janji kepada hamba-hambaNya, maka itu harus dipercaya. Sebenarnya, kepercayaan ini adalah sumber dari harapan di hati orang yang beriman. Oleh karena itu seseorang yang berusaha untuk mengaplikasikan sifat ilahi atau seseorang yang berusaha mewujudkan bayangan nama dan sifat Ilahi di dalam diri harus selalu menginspirasi iman kepada orang di sekitarnya, tidak ada yang merasa cemas akan kemungkinan bahaya dari orang tersebut. Seseorang yang memiliki iman yang tulus kepada Allah dan membangkitkan iman orang lain sedemikian rupa sehingga mereka dapat dengan nyaman mempercayakan barang-barang mereka yang paling berharga kepada orang tersebut dan pergi tanpa kekhawatiran sedikitpun.

Siddiq (kejujuran) dan amanah (kepercayaan) adalah salah satu sifat Rasulullah yang sangat penting dalam menjelaskan masalah ini. Kejujuran adalah salah satu sifat yang dimiliki yang membawanya ke puncak kesempurnaan, sedangkan berbohong adalah sifat yang membawa Nabi palsu Musaylamah ke titik terendah. Sesungguhnya ketidakberimanan adalah kebohongan besar terhadap Allah. Ini berarti menyangkal segala sesuatu di alam semesta yang menjadi saksi Sang Pencipta, kegagalan untuk memahami tatanan dan keharmonisan yang indah di alam semesta, menutup mata terhadapnya, dan menolak penalaran yang sempurna di alam semesta dan Al-Qur’an. Dalam hal ini, ini adalah pembunuhan yang sadis sehingga api neraka dijadikan sebagai hukuman yang layak. Di sisi lain, iman membuat seseorang layak untuk surga dengan membayar orang tersebut ke puncak kesempurnaan spiritual, kejujuranlah yang membawa semua sahabat ke tingkat yang tinggi, Abu Bakar Radhiyallahu Anhu, semoga Allah meridhoinya.

Selain kejujuran, sifat lain yang dimiliki Rasulullah adalah terpercaya. Masing-masing bertindak sebagai contoh dari sifat terpercaya di sepanjang hidup beliau, dan selalu membangkitkan iman orang lain. Orang yang paling dapat dipercaya, Rasulullah, membangkitkan iman kepada orang lain dengan sikap dan tingkah lakunya. Sehingga ketika orang membutuhkan beliau untuk mengawasi anak perempuan/istri mereka sampai mereka kembali dari perjalanan, Rasul adalah orang pertama yang datang di pikiran mereka. Karena mereka tahu bahwa beliau bahkan tidak akan mau mengangkat kepala untuk melihat wajah anak perempuan/istri mereka. Rasul adalah teladan kerendahan hati, ketika Khadijah Radhiyallahu Anha menyiratkan keingingan untuk menikahi Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam, Siti Khadijah bercucuran keringat. Kebaikan ini tertanam di dalam diri beliau. Sifat dapat dipercaya Rasul diakui oleh semua orang baik kawan maupun lawan.

Menjaga Kepercayaan

Situasi yang sama harus mampu dimunculkan oleh umatnya saat ini. Khususnya oleh mereka para pejuang yang membaktikan diri dalam cita untuk menjadikan orang-orang lain di sekitarnya agar mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mereka harus mampu membuat orang-orang di sekitarnya merasa aman di setiap waktu dan mampu membangkitkan rasa saling percaya di antara mereka. Sedemikian besarnya rasa percaya itu sehingga orang-orang itu sanggup berkata “.. Jika dia mengatakan itu, maka itu benar adanya. Kata-katanya dapat dipercaya.” Selama orang-orang tersebut mendukung aktivitas kalian saat ini, kalian harus menyadari bahwa rasa percaya inilah yang menjadi faktor penting.

Tanpa perlu melakukan pengujian secara khusus, dan memata-matai, orang-orang mengamati dalam banyak kesempatan seiring dengan beberapa hal yang terjadi yang menuntun mereka untuk berkata “(Kita) bisa mempercayai orang ini.” Sebagai contoh, ketika kalian merekomendasikan suatu lembaga sebagai penyalur daging untuk kaum miskin saat Hari Raya Kurban, mereka tanpa ragu mempercayakan 50 kurbannya untuk kalian. Bertindak dengan penuh kepekaan, membangun kepercayaaan dan mempertahankannya adalah suatu keharusan. Jika jiwa-jiwa pejuang di masa kita sanggup untuk menjaga angin kepercayaan ini tetap bertiup sebagaimana telah dilakukan selama ini, orang-orang yang baru yang bertemu mereka hari ini atas izin dan Rahmat Allah akan melihat mereka sebagai orang yang tulus dan teguh, bersikap demi idealisme/cita-cita mereka harus melepaskan kedudukan mereka karena menghadapi keadaan yang sulit. Mereka harus tetap berdiri tegak dan selalu hidup bersesuaian dengan nilai-nilai dasar. Mereka harus takut jika mendapatkan balasan hukuman sebagaimana termaktub dalam ayat-ayat berikut ;

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ

“…. akan tetapi kalian lebih mencintai dunia….” (QS. Al Qiyamah 20 – 21)

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ

“… karena mereka telah memilih dunia…” (QS. An Nahl 107)

Jiwa-jiwa pejuang menilai dunia sekedar tempat singgah sementara, dan akhirat sebagai tempat tinggal selamanya. Tentunya, jika kalian menilai akhirat sebagaimana mestinya, kalian juga akan membuat kehidupan dunia lain menjadi lebih berharga. Hal ini dimungkinkan karena sesiapa yang menjalani kehidupan mereka dengan keseimbangan ini menjadi sedemikian tulus dan menghadirkan kepercayaan dan merasa rasa aman bahwa segala sesuatu menjadi begitu efisien di tangan mereka. Tak ada yang disia-siakan. Oleh karena itu, mereka juga menjadikan dunia lebih baik. Tanpa keraguan sedikitpun, orang-orang yang membaktikan dirinya untuk akhirat dan mendapatkan keridhoan-Nya menjadikan Andalusia maju, sebagaimana telah dilakukan orang-orang Usmani. Orang-orang terpercaya di hari ini akan mampu membantu dunia saat ini menjadi berkembang maju jika mereka berhasil menunaikan hal yang sama.

Oleh sebab itu, seseorang yang bertekad mengabdikan diri kepada Tuhannya harus selalu menjaga diri dari kemewahan dan menjalani hidup sederhana. Orang-orang seperti ini rumahnya wajar, dan ketika mereka wafat, teman-teman mereka mengumpulkan uang untuk membeli kain kafannya. Seorang yang bertekad mengabdikan diri kepada Tuhan tidak boleh terikat dengan kekayaan, dunia, status atau kenyamanan. Bagi orang-orang yang di hatinya tidak ada lain kecuali mengabdikan diri kepada Tuhannya, tidak ada suatu apapun yang sanggup membelenggunya. Tentu saja ada dan harus ada orang-orang yang mengurusi usaha dan melayani Tuhan dengan mendonasikan pendapatan halalnya. Ini suatu hal berbeda dari apa yang diharapkan dari orang-orang yang tanggung jawabnya hanya melayani Tuhan.

Representasi Nilai-Nilai Para Pemimpin

Jiwa-jiwa yang berbakti harus selalu membangun kepercayaan kepada teman-teman hizmet yang lain. Mereka semestinya menahan dan menjauhkan diri dari perilaku yang bisa menyebabkan teman-teman yang lain kehilangan kepercayaannya. Mereka pun semestinya menahan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan kecurigaan dan selalu bersikap apa adanya. Mereka pun harus sangat sensitif dan berhati-hati dalam hal ini agar tidak ada yang merasa sesuatunya telah dirampas atau tindakan mereka dibatasi.

Karena sebab-sebab itulah, kita (sebagai pemimpin) harus selalu transparan, kepada orang-orang yang berjalan bersama dengan kita, membuat keputusan sesuai dengan hasil musyawarah, menjauhi sikap opresif dan otoriter, dan juga memperhitungkan pemikiran dan perasaan orang-orang di sekitar kita. Begitu pula, kita harus berhati-hati pada saat memberikan tanggung jawab dan tugas kepada orang-orang yang sesuai dengan keahliannya dan mengatur jam kerja mereka secara sesuai. Kita harus membangun kepercayaan hingga orang-orang yang telah diberikan tanggung jawab merasa yakin bahwa pemimpin mereka telah berlaku dengan niat baik dan akal sehat. Sebagai tambahan, orang-orang pun yang membutuhkan konsultasi mengenai tugas yang telah diberikan kepada mereka. Secara ringkas, pembagian tugas harus dibagi dengan transparan dan sensitif agar tidak ada rasa ketidakpercayaan yang timbul.

Ketika Umar bin Khaththab mencopot jabatan panglima perang dari Khalid bin Walid dan ketika Usman bin Affan mengirim Abu Zar ke Ar-Rabadha, mereka mengerjakan apa yang diperintahkan tanpa rasa keberatan sedikit pun. Karena rasa kepercayaan yang telah dibangun tersebut. Jika Anda mampu membangun kepercayaan terhadap orang-orang yang menjadi tanggung jawab Anda dengan perilaku dan perkataan Anda, jika Anda mampu menjaga kemurnian dalam pemikiran, perasaan, pertimbangan dan logika Anda, maka keputusan yang Anda ambil akan diterima dengan hormat. Dan bila orang-orang yang ditugaskan ke tempat lain, mereka akan melakukannya tanpa keraguan. Sebagai contoh, jika kalian (para pemimpin) mengirim mereka ke suatu tempat, mereka akan berpikir sendiri “Mereka yang telah membuat keputusan ini pasti telah berpikir bahwa ini adalah hal terbaik untuk saya lakukan.” Dan mereka pun dengan senang hati bersabar terhadap kurang berartinya perjalanan itu.

Bahkan jika Anda mengatakan “Pergilah ke tempat seperti sel ini dan tinggallah di sana.” Mereka pun akan melakukannya sesuai yang harus diharuskan karena mereka tahu bahwa permintaan tersebut dibuat berdasarkan kebijaksanaan tertentu. Singkatnya, permintaan–permintaan Anda akan diterima sesuai dengan tingkat kepercayaan Anda sebagai pemimpin. Atau yang paling dapat diandalkan untuk mencari jalan ke hati orang-orang adalah dengan cara membangun kepercayaan melalui perasaan tulus ikhlas. Orang-orang pun harus percaya kepada Anda hingga mereka berkata dengan senang hati “Jika sebuah tugas apapun diembankan kepada saya untuk mengabdi di jalan iman dan Alquran maka itulah kehendak Allah.”  Niscaya, ini dapat disadari karena kejelian para pemimpin dalam merepresentasian nilai-nilai yang mereka percayai.

(Diterjemahkan dari artikel yang berjudul “Müslüman: Sadık ve Emin İnsan” dari buku Kırık Testi.)

Evaluasi

1. Apakah makna Muslim yang sebenarnya?

2. Apa hubungan Muslim Ideal dengan nama As-Salam dan Al-Mukmin?

3. Sesungguhnya ketidakberimanan adalah kebohongan besar terhadap Allah. Jelaskan maksud kalimat ini!

4. Bagaimana kita mampu membuat orang-orang di sekitar merasa aman di setiap waktu dan mampu membangkitkan rasa saling percaya?

5. Bagaimana menjadi seorang pemimpin yang dapat dipercaya? Jelaskan!

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.