الجَرَّة المشروخة: سلطان الدنيا والعقبى

Representasi dari Jiwa Futuwwah

Tanya: Kami menyaksikan makna futuwwah[1] senantiasa mengalami perkembangan dari masa ke masa. Berdasarkan kebutuhan pada masa kini, apa makna futuwwah dan siapakah yang layak kita sebut sebagai pahlawan?

Jawab: Kata futuwwah memiliki akar kata fata yang memiliki makna muda, pemberani, dan kedermawanan. Futuwwah sendiri membangun makna: tubuh yang penuh iman dari ujung rambut hingga ujung kakinya; bergaul  dengan akhlak yang mulia; hidup untuk mendukung kehidupan orang lain; menunaikan tugas dan amanah yang diembannya tanpa merasa perlu masuk ke ranah perbedaan pendapat; bersedia untuk berkorban demi nilai-nilai suci; – dengan kesabaran seperti yang ditunjukkan induk ayam ketika mengerami telurnya – bersabar dalam waktu tertentu menghadapi hal-hal di luar nalar; tanpa mengabaikan akal dan logika, dengan memperhitungkan perkembangan zaman dan perubahan yang dibawanya, menentang segala macam keburukan tanpa perlu merasa panik dan terguncang dalam menghadapi tekanan atau bahkan penganiayaan yang muncul karenanya.

Dalam sebuah kalimat mutiara yang dikatakan sebagai hadits dikatakan:

.....

Tidak ada pemuda seperti Ali,
Tidak ada pedang seperti Zulfikar.
[2]

Kalimat tersebut menggambarkan Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah sebagai sosok pahlawan paripurna yang merepresentasikan makna dari kata futuwwah. Sebenarnya kata futuwwah telah menemukan sandarannya jauh sebelum Sayyidina Ali  dilahirkan. Para Anbiyaul A’dzam dapat dipandang sebagai representasi dari kata futuwwah pada derajat yang amat agung. Karena mereka hidup tidak untuk cita-cita dan tujuan pribadi mereka belaka. Beberapa nabi yang diutus hanya memiliki segelintir pengikut. Bahkan beberapa di antaranya sama sekali tidak memiliki pengikut.[3] Walaupun demikian, mereka tetap melanjutkan tugas mereka tanpa kedengkian sedikitpun.

Menyadari Bahwa Hasil Akhir Asalnya dari Allah

Para Anbiyaul A’dham menunaikan risalah Ilahi yang diamanahkan kepada mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka senantiasa menjalankan tugasnya dengan kefatanahan sambil mengikuti perintah takwini[4]. Dalam setiap keadaan, mereka bergerak dengan strategis. Di sisi lain, bagaimana mereka menanti hasilnya dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah membentuk suatu kedalaman futuwwah yang luar biasa. Ya, di awal telah dimulai dengan kecintaan serta semangat membara untuk menunaikan tugas. Sedangkan untuk hasil akhirnya, mereka hidup dengan kepercayaan diri orang-orang yang telah menunaikan tugasnya. Hal tersebut adalah sebuah indikator penting yang menunjukkan adanya jiwa futuwwah dalam jiwa mereka.  Dengan kata lain, ketika menunaikan tugas irsyad[5] dan tablig[6], ia mengerjakannya dengan pemikiran: “Alhamdulillah, walaupun orang-orang tidak mendengarkanku, aku telah menunaikan perintah Rabbku. Rabbku tidak menolakku untuk menunaikan tugas ini.” Dengan pemikiran tersebut dia tidak merasa kecewa. Dia melanjutkan penunaian tugasnya tanpa jatuh ke jurang keputusasaan. Hal tersebut adalah aspek penting dalam melakukan pelayanan terhadap iman dan Al Quran.

Sepanjang sejarah, orang-orang yang menjadi representasi dari jiwa futuwwah selalu menunaikan tugas mereka secara berkelanjutan meskipun ancaman akan disalib senantiasa mengancam mereka. Mereka mengabaikan tekanan yang mereka terima, tidak terlalu memperdulikan risiko yang mengancam kehidupan mereka, dan tetap melangkahkan kakinya di atas jalan yang mereka ketahui sebagai jalan yang benar. Nabi Isa Alaihissalam tidak pernah berhenti melangkah walaupun menerima kezaliman dan tekanan dari orang-orang Roma. Walaupun sekelompok orang-orang Roma memprovokasinya, beliau tidak terpancing. Pada akhirnya, beliau mengarahkan pandangannya ke alam akhirat dan berjalan ke derajat kehidupan berikutnya yang berbeda. Dari sini dapat dikatakan bahwasanya futuwwah yang sedang direpresentasikan olehnya, dipandang sebagai sebuah tanjakan untuk dapat naik ke ufuk yang lebih tinggi.

Peristiwa yang dikisahkan dalam Surat al Kahfi antara Nabi Musa Muda bersama jiwa fata-nya yang sedang melakukan perjalanan serta pertemuannya dengan Nabi Khidir menampilkan dimensi lainnya dari makna futuwwah[7]. Berdasarkan kisah tersebut, dapat dipahami bahwasanya kita jangan sampai terjebak dalam makna sempit dari atribut fisik yang nampak oleh mata serta perlunya kita untuk membuka diri kepada keluasan atribut metafisik. Dengan demikian kita dapat menanjak naik dalam kehidupan ruh dan kalbu serta melanjutkan perjalanan kehidupan kita pada orbit baru tersebut. Pada level kehidupan yang demikian, walaupun jasmaniyah tidak benar-benar sirna, keinginan nafsu badani dan jasmani akan tertarik mundur ke belakang, tidak menonjol lagi seperti sebelumnya. Dari sisi tersebut, hal penting yang dapat kita pahami dari kisah di atas adalah: Insan yang beriman, tidak boleh merasa cukup dengan ilmu-ilmu lahiriah. Mereka harus berusaha untuk menggapai ilmu-ilmu ladunni[8] dengan menempa kehidupan kalbu dan jiwanya.

Dedikasi dan Futuwwah

Salah satu faktor terpenting untuk bisa meraih futuwwah adalah memiliki jiwa dedikasi. Yaitu, berdedikasi dengan cita-cita mulia yang menjadi tujuan hidupnya, serta di sela-selanya mengeluarkan semua pemikiran selain cita-cita mulianya tersebut. Seseorang yang berdedikasi harus bisa berkata: “Tugasku yang sebenarnya adalah meninggikan Nama Agung nan Suci Allah Subhanahu Wa Ta’ala ke seantero penjuru bumi!” Pada dasarnya, sebagaimana yang pernah dijelaskan sebelumnya juga, Nama Agung nan Suci adalah sesuatu yang Keagungannya Azali.[9] Namun agar nama agungNya terdengar ke seantero penjuru bumi, dibutuhkan usaha keras untuk mewujudkannya. Seorang manusia yang berdedikasi terhadap cita-cita mulianya, semua perasaan dan pemikirannya, setiap perencanaan dan gerakan yang dilakukannya, harus diperuntukkan untuk meraih tujuan ini. Ia juga harus merintih dan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar diberikan ketetapan hati dan keistikamahan dalam menjalaninya. Demikian berdedikasinya ia dengan tugas ini, hatinya harus dipenuhi dengan semangat menghidupkan jiwa orang lain yang sedemikian kuat sehingga ia pun bahkan akan lupa jalan pulang dan wajah anak-anaknya. Akan tetapi, segera kami jelaskan disini, penunaian kewajiban-kewajiban lain kepada pasangan hidupnya, anak-anaknya, kedua orang tuanya, serta pihak lain yang berada di pundaknya, walaupun pelaksanaannya amatlah sulit, juga merupakan salah satu bagian paling asasi dari jalan ini.

Futuwwah dan Ketegaran

Aspek penting lainnya dari futuwwah adalah berdiri tegar dan kokoh di tempat ia berdiri. Seorang manusia dalam menghadapi setiap peristiwa kehidupan harus mampu berdiri tegar dan berkata:

Seandainya datang kesusahan dari Sang Jalal[10]

Ataupun anugerah dari Sang Jamal,
Keduanya menyenangkan bagi jiwa,
AnugerahMu sedap, kesusahan dariMu pun sedap... (Ibrahim Tennuri)

Berdiri tegar yang kami maksud di sini adalah tidak mudah panik, roboh, jatuh. Apapun yang terjadi, tugas yang ada tidak akan ditinggalkan. Melakukan hal yang paling pantas dilakukan seorang mukmin di hadapan Allah, yaitu bersimpuh dan merunduk seperti tanda tanya. Bahkan ia tidak akan merasa cukup dengannya.  Ia akan segera menyungkurkan dirinya. Sesungguhnya keadaan manusia saat dia menyungkurkan dirinya di hadapan Allah akan membawanya ke posisi yang paling dekat denganNya. Oleh karena itu, dalam melakukan kedua hal ini – yaitu tidak mudah panik dan menyungkurkan diri di hadapan Allah – tidak boleh salah satunya diremehkan.

Pahlawan Sejati adalah Yang Mampu Menihilkan Dirinya

Salah satu perbedaan terbesar yang dimiliki oleh jiwa-jiwa yang mendedikasikan dirinya untuk berkhidmah dari segi performa dan konsistensinya adalah tidak adanya perbedaan pemikiran dasar di antara mereka. Kumpulan manusia yang memotret mereka dari luar akan bersaksi atas pengorbanan besar yang mereka tampilkan dengan perkataan: “Kata prototip tidak cukup untuk menggambarkan profil orang-orang ini.” Sosok-sosok ini akan memiliki kedalaman maknawi yang demikian besar. Walaupun tangan mereka diiris-iris; walaupun kepala mereka digergaji dengan besi panas, mereka tetap akan berkata: “Ya Sattar, aku tidak akan berpaling dariMu!”. Namun, walaupun mereka memiliki sifat-sifat terpuji tadi, mereka tetap wajib untuk tidak menyelisihi masyarakat umum. Bahkan keinginan untuk tampil berbeda tidak boleh terbersit dalam benak mereka. Saat ia sempat terbersit, mereka harus segera berlari menuju sajadah untuk kemudian sujud taubat seakan telah melakukan dosa besar. Terhadap keindahan-keindahan yang muncul sebagai hasil dari kerja keras dan berbagai usaha lainnya, mereka memiliki pandangan: “Semua hasil yang baik dan indah ini merupakan hasil ditanamnya benih-benih di masa lampau. Kini benih-benih tersebut telah berkecambah, tumbuh, berkembang, dan membesar. Kerja keras yang tulus dan ikhlas dari orang-orang sebelum kami, telah menjadi sarana bagi dihasilkannya kebaikan-kebaikan ini. Kebetulan kami datang di masa diperlukannya perhatian, perawatan, pembersihan dari gulma, serta pemupukan atas benih-benih yang telah ditaburkan di masa lampau. Kebetulan juga kami tiba di masa di mana pohon-pohon ini telah siap dipanen buah-buahnya. Oleh karena itu, merupakan hal yang tidak pantas jika kami menyebut diri kami berbeda.” Dan memang, mengklaim semua keberhasilan sebagai hasil dari kerja kerasnya sendiri di satu sisi mengambil hak orang lain, di sisi lain merupakan ketidaksopanan di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Di sisi lain, futuwwah memerlukan dihapuskannya jeda usia, senioritas, dan pengalaman. Manusia terkadang terjebak pada prasangka bahwa dirinya memiliki ‘sesuatu’ yang lebih disebabkan oleh usia, senioritas, dan rasa hormat orang lain kepada dirinya. Padahal, ia ‘hanya’ dilahirkan lebih awal ke dunia ini. Seandainya ada orang lain yang menghargai dengan sebutan “Bapak, Tuan, Guru, Ustadz, Panutan,...” selain merupakan kebutuhan tarbiah, uslub[11] ini juga dapat menciptakan kerukunan antara generasi terdahulu dengan generasi yang datang di belakangnya. Ya, penghargaan, penghormatan, dan pemeliharaan husnuzan dari yang muda kepada yang lebih tua merupakan sarana terciptanya harmoni dan kerukunan antar individu. Tidak perlu masuk ke ranah panggilan yang berlebihan seperti al masih, mahdi, qutub, ghauts. Tanpa perlu juga membuat orang lain takut ataupun benci dengannya. Namun, teruntuk pihak-pihak yang dihormati, jika mereka gagal menihilkan dirinya, bisa jadi mereka akan jatuh pada kecintaan jabatan. Padahal karena husnuzanlah kemudian jabatan tersebut diamanahkan kepada mereka. Mereka kemudian menyangka dirinya memiliki ‘sesuatu.’ Misalnya, muncul pemikiran: “Umurku kini 60 tahun. Orang-orang menyapaku dengan sapaan ‘Bapak.’ Mereka menganggapku sebagai guru mereka. Artinya aku memiliki ‘sesuatu’.” Pemikiran-pemikiran tersebut adalah pemikiran yang menipu, pemikiran yang dapat menjerumuskan dirinya. Pemikiran tersebut sangat berbahaya, bahkan dapat menghancurkan dirinya. Memanfaatkan pengalamannya untuk menghasilkan keputusan terbaik merupakan tugas dan kewajiban yang diembannya. Namun, jika ia menganggap dirinya lebih unggul karena kelebihan pengalaman, kepandaian, kejeniusan yang dimilikinya, lalu kemudian merasa dapat berkehendak sesuai keinginannya, hal tersebut tak lain dan tak bukan merupakan sikap melampaui batas, tak tahu diri, dan ketidaksopanan yang nyata.

Karakteristik Wajib Futuwwah: Tawaduk

Kalimat yang dinisbahkan kepada Sayyidina Ali Radhiyallahu Anh berikut amatlah penting bagi kita: ‘Di antara manusia, jadilah salah satu manusia di antaranya.’ Jika seseorang ingin menjadi representasi dari kata futuwwah, ia harus menampilkan hal-hal yang wajar, sehingga ia pun tak dikenal. Menurut pendapatku yang lemah, menjadi manusia yang wajar adalah salah satu disiplin futuwwah yang amat penting dan dalam. Saya tidak mampu mengetahui kehidupan pribadi dari Bediuzzaman Said Nursi. Tetapi, dari yang mampu saya dengarkan dari para murid-murid yang membentuk saf pertama di belakangnya, walaupun beliau menjadi guru bagi murid-muridnya, walaupun murid-muridnya merasa sangat berhutang budi kepadanya, beliau tidak pernah menampakkan diri lebih utama di tengah-tengah muridnya. Beliau selalu menyebut dirinya sebagai  ‘saudara kalian, Said,’ dan di suatu waktu merangkum penjelasan berikut: “Asas dari pekerjaan kita adalah ukhuwah, bukannya hubungan antara bapak dengan anak ataupun mursyid dengan murid. Jika pun dibutuhkan, maka ia adalah posisi ustadz. Karena pekerjaan kita adalah bersahabat dan bersaudara, maka karakter dan akhlak kita adalah persahabatan dan persaudaraan yang tulus. Sedangkan persahabatan dan persaudaraan yang tulus memerlukan hasrat untuk menjadi sahabat yang paling dekat,  teman yang paling rela berkorban, teman seperjalanan yang senantiasa memotivasi, serta saudara yang paling mencintai kebaikan dan kokoh ucapannya.[12]

Hubungan antara Rasulullah al Akram Shallallahu Alaihi Wasallam  dengan para sahabatnya juga memberi banyak pelajaran penting untuk kita. Para Ashabul Kiram Radhiyallahu Anhum setelah mengenal Rasulullah dan  atmosfer agung yang terpancar darinya, mereka bersikap penuh hormat dan santun di hadapannya. Misalnya Sayyidina Abu Bakar, sosok yang memiliki kekuatan kata yang mampu menyihir para pendengarnya, sosok yang mampu mempengaruhi bahkan orang-orang musyrik dengan lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakannya, sosok yang dianugerahi Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai prasasti keindahan akhlak, beliau memasuki rumah Baginda Nabi sambil merendahkan bahunya. Di hadapan Baginda Nabi pun ia senantiasa menundukkan kepalanya, seakan ada burung yang sedang bertengger di atas kepalanya. Saya rasa, jumlah kata yang pernah terucap dari lisannya di hadapan Baginda Nabi tak lebih dari 200 kata.                               

Siapakah kiranya sosok yang amat dihormati ini? Walaupun diperdebatkan dalam kriteria hadits, banyak waliullah mengatakan bahwasanya Allah telah berfirman untuk Baginda Nabi: “Jika tidak ada dirimu, tidak akan Aku ciptakan alam semesta ini”[13]. Karena dalam menjelaskan kitab alam semesta maupun Al-Quran yang menjadi kumpulan hukum-hukum syariat, beliau adalah pemandu tanpa banding. Maka, menghormati Pemandu Akmal Shallallahu Alayhi Wasallam  merupakan tugas para sahabat; beliau pun berhak mendapatkan yang demikian. Ya, jika Baginda Nabi melangkah dan menginjakkan kakinya di atas tanah, jangankan yang sedang duduk di situ adalah manusia, tulang belulang yang membusuk di dalam tanah pun harus berdiri. Akan tetapi, ketika mereka berdiri untuk menyambut kedatangannya, beliau bersabda: ‘Janganlah kalian berdiri sebagaimana kaum ajam berdiri dihadapan pembesar-pembesarnya.[14] Di waktu yang sama, beliau mengerjakan sendiri pekerjaan-pekerjaannya. Barangkali ketika diperlukan, beliau sendiri yang memasak makanan, mencuci piring, dan merapikan tempat tidurnya. Sebenarnya jika terdapat sedikit celah, baik penghuni rumahnya yang mulia maupun orang lain akan segera berlari dan tidak akan membiarkannya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu. Namun, Sayyidul Anam Alaihi Afdhalut Tahiyat Wa Akmalut Taslimat tidak membiarkannya terjadi. Beliau memilih untuk mengerjakan pekerjaannya sendiri. Pertanda keagungan dari sosok yang agung adalah tawaduk, kerendahan hati, serta rasa malu. Nampak hebat adalah sifatnya orang-orang rendahan. Takabur serta memandang dirinya pantas dan layak mendapatkan perhatian dan penghormatan dari orang lain adalah sifat yang tidak layak disandang oleh orang besar. Sedangkan Baginda Nabi tidak pernah memberi kesempatan kepada dirinya untuk bersikap dengan perilaku yang tidak pantas. Ya, demikian pantas semua perilaku yang dilakukannya pada keagungan dirinya, sehingga para penghuni langit pun takjub dan kagum dengannya. Kesimpulannya, representasi terbaik dari kedalaman dan keluasan makna futuwwah telah ditampilkan oleh kehidupan kesehariannya Baginda Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam. Beliau adalah teladan terbaik bagi kita.

(Diterjemahkan dari artikel berjudul “Futuvvet Ruhunun Temsilcileri”, dari Buku Kirik Testi 13: Mefkure Yolculugu)

Evaluasi

  1. Apakah yang dimaksud dengan Futuwwah?
  2. Apakah faktor terpenting untuk meraih futuwwah? Jelaskan!
  3. Bagaimana kita bisa berdiri tegar? Jelaskan!
  4. Mengklaim semua keberhasilan sebagai hasil dari kerja kerasnya sendiri di satu sisi mengambil hak orang lain, di sisi lain merupakan ketidaksopanan di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bisakah Anda menjelaskan maksud dari ungkapan ini?
  5. Apa itu menihilkan diri? Apakah bahaya kegagalan menihilkan diri?

 



[1] Futuwwah adalah kepahlawan, kedermawanan, penuh kelembutan dan ringan tangan; berinteraksi dengan sahabat dengan penuh pemaafan; kemuliaan dan keagungan

[2] Ibnu Asakir, Tarihu Dimasyq 39/201; Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal 5/390,

[3] HR Bukhari, tibb, 17, 41; riqaq, 50; HR Muslim, Iman, 374

[4] Sebab-sebab penciptaan, sunatullah. (Penerj.)

[5] Irsyad, menunjukkan jalan yang benar, dengan karya; kerja atau kata yang memiliki kekuatan pengaruh menyadarkan atau membangkitkan seseorang dari kelalaian dan menunjukkan jalan hidayah; membina, membimbing, dan mematangkan jiwa orang mukmin untuk lebih taat dan takwa lagi, sifatnya lebih khusus.

[6] Tablig, menyampaikan, memberitahukan, sifatnya lebih umum.

[7] Surat al Kahfi 18:  60-82

[8] Ladunni adalah ilmu yang berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang merupakan karunia khgusus dariNya. (Penerj.)

[9] Lihat Kirik Testi 4: Umit Burcu, hlm. 131; Lihat juga Dari Benih Hingga Menjadi Pohon, hlm. 187

[10] Yang Maha Perkasa, Kuat, dan Memaksa.

[11] Gaya penyampaian. (Penerj.)

[12] Bediuzzaman Said Nursi, Cahaya ke-21, Al Lamaat

[13] Aliyyul Qari, Al asrarul marfua, hlm. 295; al Ajluni, Kasyful Kafa, 2/214

[14] HR Abu Daud, Adab, 152; Ibnu Majah, Doa, 2; Ahmad Ibn Hambal, al Musnad, 5/253

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.