Cetak

Apa itu Jihad?

Ditulis oleh Fethullah Gülen pada . diposting di Memadukan Akal & Kalbu dalam Beriman

Penilaian Pengguna:  / 13
JelekBagus 

Jihad adalah kata Arab yang berarti berjuang, berusaha, meng-hadapi segala kesukaran. Setelah Islam, ia lalu berarti perjuangan di jalan Allah. Qur'an hampir menyetarakan jihad, tugas penting dalam ajaran Islam, dengan Islam itu sendiri. Hamba Allah paling istimewa, entah itu nabi atau wali, telah menggapai derajat istimewa mereka melalui jihad melawan orang-orang kafir dan melawan hawa nafsunya ma-sing-masing. Jihad adalah amal saleh yang besar di mata Allah sebab Dia menciptakan kita untuk berjuang sehingga kita dapat menemu-kan wujud sejati kita dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Allah berfirman di dalam Qur'an:

Tidaklah sama orang mukmin yang tinggal di rumah dengan orang-orang yang berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan satu derajat orang yang berjuang dengan harta dan jiwanya daripada orang-orang yang tinggal diam. Dan kepada keduanya Allah telah menjanjikan ganjaran yang baik. Dan Allah menganugerahkan pahala yang lebih besar kepada para pe-juang melebihi mereka yang tinggal di belakang (QS. 4:95).

Orang memiliki karir yang berbeda-beda, tujuan mereka di dalam karir-karir itu membuat orang lain bisa menilai pendirian mereka. Tetapi apa tujuan kita? Apa pun kedudukan atau pekerjaan kita, setiap orang diciptakan dari setetes mani dan akan berakhir menjadi mayat.

Ini berlaku untuk segala pekerjaan kecuali jalan kenabian. Pahala-nya terus bertambah sampai hari kiamat, sebab ia memuat kualitas spiritual yang tak tersentuh oleh kematian. Seorang nabi berusaha memampukan orang untuk mengenal Allah dan karenanya men-capai keabadian. Kita tidak diciptakan untuk tunduk kepada keru­sakan dan kehancuran fisik. Hakikat kita adalah condong kepada keabadian, dan para nabi yang tahu, mendidik dan menjadikan kita dapat menyadari kecenderungan ini.

Di mata Tuhan, kenabian adalah tugas tersuci yang dipercayakan kepada manusia dan jihad mengekspresikan aspeknya. Dari segi kepentingannya, Qur'an mengistimewakan Muslim yang berbaiat kepada nabi untuk melaksanakan jihad:

Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada engkau, maka sesungguhnya mereka juga berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barangsiapa yang melanggar janji, berarti ia melanggar janji setia kepada dirinya sendiri. Dan memberinya pahala yang besar (QS. 48:10).

Ayat ini diturunkan ketika Rasulullah menyuruh Muslim agar mereka kembali ke Mekah dan menunaikan haji. Maka mereka berangkat sebagai haji ke Mekah. Tetapi ketika mereka sampai di Hudaybiyyah, kaum kafir Mekah menolak untuk membiarkan mereka masuk dan mengancam akan mengangkat senjata. Keberatan yang tak terduga ini mengejutkan umat Muslim, yang menganggapnya sebagai pukulan telak terhadap martabat Islam. Mereka tidak tahu bagaimana harus merespon. Rasulullah mengirim Utsman ibn Affan ke Mekah untuk meyakinkan bahwa mereka datang hanya untuk menunaikan haji dan karena itu datang dengan damai.[1] Pemuka Mekah memenjarakanya dan menyebarkan rumor bahwa dia tewas. Kabar ini membuat umat Muslim marah dan nabi meminta sumpah setia den mengangkat tangannya. Allah kemudian menurunkan ayat tersebut.

Dalam ayat lainnya dikatakan:

Sesungguhnya Allah telah memberi jiwa dan harta mereka dengan (balasan) bahwa mereka akan mendapatkan sorga. Mereka berperang di jalan Allah lalu mereka membenuh atau terbunuh. Itu merupakan janji yang benar darai Allah di dalam Tairat, Injil dan Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Sebab itu bergembiralah kamu dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu. Demikianlah kemenangan yang besar (QS, 9:11).

“Jual-beli” ini sangat istimewa, sebab siapa saja yang mengikutnya dia sedang disapa langsung oleh Allah.

Rasulullah SAW berkata: “Aku sangat berharap aku terbunuh di jalan Allah dan hidup untuk terbunuh lagi, dan hidup dan tebunuh lagi.”[2] Dia juga berkata: “Lebih baik membuka mata (berjaga) untuk tugas seharian, semata-mata di jalan Allah, melawan bahaya infiltrasi musuh, ketimbang memiliki dunia seisinya.”[3] Kita dapat menyimpulkan dari hadits itu bahwa waspada seharian di jalan Allah melawan bahaya yang akan menimpa umat, adalah lebih baik ke­timbang memiliki Ka'bah-karena Ka'bah adalah termasuk isi dunia.

Hadits lainnya memberitahu kita: "Balasan dari Allah untuk amal baik seseorang terputus pada saat mati, kecuali jihad. Pahala Jihad bertambah banyak sampai had kiamat. Allah mengecualikan orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dari interogasi kubur."[4]

Jihad mengandung dua aspek: berperang melawan hawa nafsu dan kecenderungan jahat (jihad besar) dan mendorong orang lain untuk mencapai tujuan yang sama (jihad kecil). Tentara Muslim kembah ke Madinah setelah mengalahkan musuh dan Rasulullah berkata: "Kita kembali dari jihad kecil menuju ke jihad besar " Ketika sahabat bertanya apa itu jihad yang lebih besar, dia menjelaskan bah­wa jihad besar adalah berperang melawan hawa nafsu.[5]

Tujuan kedua jihad itu adalah membersihkan mukmin dari dosa agar bisa memperoleh kemanusiaannya yang sejati. Nabi diutus untuk tujuan ini:

Sebagaimana telah aku utus kepadamu seorang rasul di antara ka mu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan ia mensuci-kan kamu dan mengajarkan kamu al-kitab dan al-hikmah dan me-ngajarkan kamu tentang apa yang kamu belum ketahui (QS. 2:151).

Kita adalah seperti mineral mentah yang harus dipermak oleh nabi, yang mensucikan dan memperbaiki kita dengan menghilang-kan tutup dari hati dan pendengaran kita, dan mengangkat tirai dari mata kita. Dengan penerangan risalah yang di bawa para nabi kita dapat memahami makna hukum alam, yang merupakan tanda-tanda dan Eksistensi dan Keesaan Allah, dan menembus ke dalam realitas halus dari benda-benda dan peristiwa. Hanya nabi-nabi yang bisa membimbing manusia menuju status tinggi yang dihnrapkan oleh Tuhan.

Selain mengajarkan ayat-ayat, nabi-nabi juga memberi petun-juk kepada kita di dalam kitab dan hikmah. Karena Qur'an adalah wahyu terakhir untuk nabi terakhir, maka ketika Allah berbicara tentang kitab suci, yang dimaksudkan-Nya adalah Qur'an, dan saat berbicara hikmah yang dimaksudkan-Nya adalah sunnah. Oleh ka­rena itu kita harus mengikuti Qur'an dan sunnah nabi jika kita ingin mendapatkan petunjuk yang benar.

Nabi juga mengajari kita apa-apa yang tidak kita ketahui, si| perti bagaimana mensucikan diri kita dari dosa, dan kita akan terus belajar darinya sampai hari kiamat. Dengan mengikuti jalannya, banyak Muslim besar menjadi wali. Salah seorang di antaranya ada­lah Ali, yang berkata bahwa imannya kepada rukun Islam sangat kuat sehingga keyakinannya tidak akan bertambah atau berkurang bahkan jika tirai Yang Maha Ghaib diangkat.[6] Abd al Qadir al-Jilani dikatakan mempunyai pengetahuan mendalam tentang misteri tujuh langit. Dan orang-orang lainnya seperti Fudail ibn Iyaz, Ibra­him ibn Adham, dan Bisr al-Khafi, mungkin diberkahi dengan ke-nabian jika Allah belum mengutus nabi terakhir.

Awan gelap kejahilan telah disingkirkan dari horison intelektual kita melalui petunjuk nabi, dan banyak kemajuan ilmiah dan tekno-logi akan terjadi karena cahaya yang dibawa dari Allah.

Jihad adalah warisan nabi-nabi, dan kenabian adalah misi meng-angkat manusia menuju pertolongan Tuhan dengan mensucikan mereka. Misi kenabian ini dikenal sebagai jihad, sebab ia mempu­nyai arti yang sama dengan bersaksi pada kebenaran. Orang-orang yang berjihad bersaksi atas eksistensi dan keesaan Allah dengan ber-juang di jalan-Nya: Allah bersaksi bahwasanya tiada tuhan selain Diri-Nya, demikian juga malaikat dan ahli ilmu telah bersaksi atas itu, bahwa Tuhan menegakkan keadilan; tiada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. 3:18). Orang itu akan bersaksi kepada kebe­naran yang sama di sidang langit, di mana kasus orang-orang kafif akan diputuskan.

Allah bersaksi atas eksistensi dan keesaan-Nya sendiri dan me reka yang menerima tingkat persepsi yang tinggi dapat mema-hami realitas dari kesaksian ini. Malaikat-malaikat bersaksi akan hal ini, karena mereka pada dasarnya murni, dan juga orang-orang yang dianugerahi pengetahuan. Bahkan jika setiap orang hendak menyangkal keesaan dan eksistensi Allah, kesaksian dari golongan ini sudah cukup untuk menegakkan kebenaran tersebut.

Orang-orang yang bersaksi atas kebenaran ini akan berkeliling dunia untuk menyebarkannya. Ini adalah tugas para nabi dan seha-rusnya menjadi tugas kita juga:

Rasul-rasul itu membawa kabar gembira dan takut, supaya tak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul kepada mereka. Dan Allah maha keras tuntutan-Nya dan Maha Bijaksana. Akan tetapi Allah menetapkan kebenaran de­ngan apa yang telah diturunkan kepada engkau yang diturun-kannya dengan sepengetahuan-Nya sedang para malaikatpun men­jadi saksi. Dan cukuplah Allah menjadi saksi atas kebenaran engkau (QS. 4:165-66).

Allah memilih seorang manusia dari setiap umat dan menun-juknya sebagai nabi. Dari masa Nabi Adam, setiap era gelap dalam sejarah manusia dicerahkan oleh setiap nabi. Hal ini berlanjut sampai masa Muhammad, yang diutus untuk mencerahkan semua cakrawala intelektual dan spiritual manusia. Kami utus engkau (Muhammad) sebagai seorang saksi dan pembawa kabar gembira dan peringatan (QS. 48:8).

Nabi Muhammad SAW. disebutkan dalam Qur'an sebagai "na­bi." Penggunaan kata sandang tertentu membedakannya dari semua nabi lainnya dan menunjukkan bahwa dia adalah nabi par excellence. Dia diutus sebagai berkah untuk semua makhluk termasuk hewan, tanaman dan benda-benda tak bernyawa.

Allah secara langsung menyebut Muhammad dalam banyak ayat Qur'an dan berfirman: Kami telah mengutus engkau... ini berarti bahwa dia adalah nabi yang diutus oleh Allah untuk bersaksi atas eksisten­si dan keesaan-Nya. Dia menjalankan tugas ini pada era jahiliyah, ketika hampir setiap orang menyangkal kebenaran tersebut. Secara perlahan, pengikutnya bertambah banyak sampai mereka menjadi pembawa panji kebenaran ini. Nabi Muhammad SAW. menyampai-kan kabar baik tentang kebahagiaan di dunia dan akhirat bagi orang- orang yang beramal saleh, dan memberi peringatan kepada orang-orang yang berbuat jahat. Dalam melakukan itu, dia melakukan ji­had.

Allah telah mengutus seorang nabi untuk setiap umat, yang ber-arti bahwa setiap orang mempunyai ide tentang kenabian. Karena istilah tersebut dipakai untuk mendeskripsikan aktivitas kenabian, jihad sangat tertanam di hati setiap mukmin sehingga mereka mera-sakan tanggung jawab mendalam untuk menyebarkan kebenaran dan karenanya membimbing orang lain ke jalan yang lurus.

Jihad kecil, yang biasanya dipahami sebagai perang di jalan Allah, tidak hanya mengacu kepada perang aktual di medan laga. la ber-makna komprehensif, karena ia mencakup setiap perbuatan darj berbicara sampai perang aktual, asalkan perbuatan itu dilakukan ka­rena Allah. Setiap tindakan orang atau umat, entah itu besar atau kecil, yang bermanfaat bagi kemanusiaan dimasukkan ke dalam makna jihad kecil.

Sementara jihad kecil tergantung kepada mobilisasi semua fasi-litas material dan dilaksanakan di dunia lahiriah, jihad besar adalah peperangan pribadi kita melawan hawa nafsu. Dua bentuk jihad ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena hanya mereka yang berhasil menaklukkan hawa nafsu mereka sajalah yang dapat mela­kukan jihad kecil, yang pada gilirannya membantu kita untuk ber­hasil dalam jihad besar.

Rasulullah mengajari kita untuk melakukan dua tipe jihad ter­sebut, dan menetapkan prinsip-prinsip pendakwahan kebenaran yang harus kita ikuti sampai hari kiamat. Metodenya sangat sistematis. Ini sesungguhnya adalah bukti lain dari kenabiannya, dan contoh peri-laku yang sangat baik dalam mengikuti jalan Allah.

Rasulullah biasa berdoa di depan Ka'bah pada tahun-tahun per-tama kenabiannya. Selain berharap menambah pahala dari Allah, niat utamanya adalah menyebarkan kebenaran kepada generasi muda. Tetapi adalah tidak mungkin untuk mendekati mereka karena sifat takabur mereka. Karena mengetahui bahwa berbuat lebih baik dari-pada sekedar kata-kata, dia mulai shalat di Ka'bah. Ketika rasa ingin tahu mereka timbul, mereka bertanya kepadanya npa yang sedang dia lakukan dan karenanya memberi dia peluang bagus untuk ber-dakwah pada mereka.

Nabi diserang beberapa kali saat shalat. Suatu ketika Abu Jahl berencana untuk membunuhnya dengan sebuah batu besar saat dia sujud. Abu Jahl memegang batu tinggi-tinggi, siap untuk menghan-tamkannya kepada nabi, tetapi kemudian dia mulai gemetar, pucat ketakutan, dan tangannya tak bisa bergerak di atas kepalanya. Ketika ditanya apa yang terjadi, dia menjawab bahwa ada monster yang mengerikan berdiri di antara dia dan nabi, dan monster itu hampir menelannya.[7]

Pada kesempatan lainnya ketika nabi sedang shalat, Uqba ibn Abi Mu'ait melilitkan sorbannya di leher nabi untuk mencekiknya Me­ngetahui hal ini Abu Bakar cepat-cepat datang untuk menyelamatkan nabi dan berteriak: "Apakah kamu mau membunuh seseorang hanya karena dia berkata: 'Tuhanku adalah Allah.?"[8] adalah gema dari kata-kata yang diucapkan pada masa Nabi Musa oleh seorang beriman yang bergegas menyelamatkannya dari orang yang hendak membunuhnya.

Nabi mungkin akan menjadi syuhada dalam salah satu dari per-cobaan pembunuhan ini andaikata Allah tidak melindunginya. Dia secara terang-terangan mendemonstrasikan arti penting dari dakwah kebenaran bahkan dengan resiko mengorbankan nyawanya. Abu Bakar biasa membaca Qur'an keras-keras di dekat jendela rumahnya. Orang-orang yang mendengarnya akan berkumpul di dekatnya. Ba-caannya menarik banyak orang sehingga pemuka-pemuka Mekah memintanya untuk berhenti. Ibn Daghinnah, yang berusaha melin-dungi Abu Bakar, terpaksa menarik diri. Tetapi Abu Bakar tetap terus membaca.[9]

Entah itu dengan kata atau perbuatan, para sahabat tak pernah berhenti menunaikan jihad, sebab mereka percaya betul bahwa in-tegritas personal dan komunal mereka tergantung kepada partisipasi aktif mereka dalam jihad. Lebih jauh mereka memahami bahwa se-orang Muslim dapat memperoleh perlindungan dari Allah dengan cara membela agama-Nya: Hai orang beriman, jika kalian membantu (agama) Allah, maka Allah akan membantu kalian dan menjadikan kalian kuat (QS. 47:7). Dengan kata lain, Muslim yang mencari perlindu­ngan dari kesesatan harus menjadikan perjuangan di jalan Allah se bagai satu-satunya tujuan hidup.

Untuk memahami bagaimana ini dilakukan, ingatlah bagaimana nabi dan para sahabat melakukannya. Ketika kondisi menjadi tak tertahankan, beberapa Muslim diizinkan untuk pindah ke Abyssi­nia. Migrasi ini adalah sejenis jihad yang dilakukan pada masa itu. Setelah hijrah kedua, semua Muslim yang masih atau telah kembali ke Mekah kemudian hijrah ke Madinah.

Di sana landasan dibangun untuk negara-kota Islam pertama dan juga dilakukan sejenis jihad baru. Terkadang umat Muslim akan lari dan di lain waktu mereka berlambat-lambat. Dengan kata lain jihad memerlukan strategi. Umat Muslim tidak membalas penyiksa mereka sampai Allah memberikan izin untuk melawannya dengan turunnya ayat ini di Madinah:

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diserang karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. Yaitu orang-orang yang diusir dari negerinya tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah." Dan sekiranya Allah tidak membela (sebagian) manusia terhadap yang lain, nis-caya telah dirobohkan biara-biara dan gereja-gereja tempat sembah-yang Yahudi dan masjid-masjid di mana nama Allah banyak dise-but. Sesungguhnya Allah akan membela orang-orang yang meno-long-Nya. Sesungguhnya Allah itu benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa (QS.22: 39:40)

Setelah menanggung penganiayaan setiap tahun, orang mukmin merespon ayat ini dengan semangat. Hanya orang munafik yang me-nolak untuk hadir ketika Rasulullah memanggil kaum Muslim untuk memerangi kafir Mekah. Kaum munafik tinggal berdiam di rumah atau melarikan diri dari medan perang, sebab mereka adalah budak dari hawa nafsu dan keinginannya sendiri. Sebaliknya, semua Muslim yang tulus bergegas ke medan perang kapan saja mereka dipanggil untuk berperang, sebab jihad adalah sarana mencapai Allah dan keabadian. Oleh karena itu, mereka sangat semangat dalam merespon panggilan jihad seolah-olah mereka diundang masuk sorga.

Setiap orang menganggap kematian sesuatu yang sulit diteri-ma, demikian juga dengan beberapa. sahabat. Seperti kita baca dalam Qur'an: Diwajibkan atas kamu berperang padahal perang itu suatu hal yang tidak kamu sukai. Dan boleh jadi kamu bend kepada sesuatu padahal itu lebih baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal dia itu sangat buruk bagimu. Dan Allah mengetahui apa yang tidak kamu ke-tahui (QS. 2:216). Ketidaksenangan itu adalah sifat manusia. Tetapi umat Muslim tak pernah benar-benar menentang Allah dan rasul-Nya, dan sebagai balasannya Allah memberi mereka keberhasilan dan kemenangan. Kemenangan-kemenangan itu memberi kekuatan dan energi baru untuk kaum Muslim, menarik suku-suku tetangga, dan menyebabkan kafir Mekah susah.

Muslim tetap menjaga iman mereka dengan kuat dan aktif me-lalui sarana jihad. Orang-orang yang mengabaikan jihad pelan-pelan menjadi pesimis, karena mereka mencabut dari diri mereka sendiri semangat dan berhenti mendakwahkan kebenaran. Mereka yang te­tap berjihad tak pernah kehilangan semangat dan selalu berusaha meningkatkah ruang lingkup aktivitas mereka. Karena setiap amal baik menghasilkan amal baik yang baru, kaum Muslim tak pernah lepas dari kebaikan: Sedangkan bagi mereka yang berjuang di jalan Kami niscaya Kami akan beri mereka petunjuk ke jalan Kami. Allah bersama orang-orang yang berbuat baik (QS. 29:69).

Jalan menuju jalan lurus adalah sebanyak tarikan nafas di dalam dunia ciptaan. Barangsiapa berjuang di jalan-Nya akan diberi petun­juk oleh Allah menuju ke salah satu dari jalan itu, dan karenanya diselamatkan dari kesesatan. Barangsiapa diberi petunjuk akan hidup seimbang, tak pernah melampaui batas dalam kebutuhan atau ak-tivitasnya dan tak pernah melampaui batas dalam beribadah dan melaksanakan kewajiban agama. Keseimbangan tersebut adalah tan-da-tanda dari petunjuk yang benar.

Betapapun besarnya pengorbanan yang dibuat dalam berpe­rang melawan orang kafir, bagaimanapun juga itu adalah jihad kecil. Aspek jihad ini lebih kecil jika dibandingkan dengan jihad yang lebih besar. Jihad kecil tak boleh diremehkan, karena ia memampukan Muslim untuk mendapatkan gelar pejuang suci di jalan Islam atau de-rajat syuhada. Gelar itu membuka pintu sorga dan menjamin ridha Allah.

Jihad kecil terdiri dari berjuang untuk melaksanakan kewajiban agama sesempurna mungkin sedangkan jihad besar meminta kita untuk berperang melawan dorongan dan impuls destruktif dalam diri kita seperti arogansi, dendam, dengki, egois, congkak, dan semua bentuk hawa nafsu jahat.

Orang-orang yang mengabaikan jihad kecil mudah terkena pem-busukan spiritual, karena kerentanan mereka terhadap kelemahan duniawi. Tetapi itu dapat dipulihkan. Kebanggaan diri dan cinta akan kesenangan dan kemudahan bisa memerangkap tentara Muslim yang kembali dari kemenangan perang, karena mereka mungkin berpikir bahwa sudah waktunya untuk istirahat dan menuruti hal-hal seperti itu. Untuk memerangi kecenderungan ini, nabi memperingatkan kita melalui para sahabatnya. Saat kembali ke Madinah setelah menang, dia berkata: "Kita kembali dari jihad kecil menuju ke jihad besar."[10]

Para sahabat segarang singa di medan perang, dan sangat ren-dah hati dan tulus seperti Darwis saat beribadah kepada Allah. Me­reka menghabiskan sebagian besar waktu malam untuk berdoa kepada Allah. Ketika malam turun dalam suatu peperangan, dua orang bergantian berjaga. Yang satu tertidur yang satunya lagi shalat. Saat melihat hal ini musuh melepaskan panah kepadanya. Dia terkena dan berdarah, tetapi tetap shalat. Saat selesai dia membangunkan kawan- j nya. Kawannya ini bertanya dengan heran kenapa dia tak membangun-kannya. Dia berkata: "Aku sedang membaca sural al-Kahfi dan tak ingin memutuskan kesenangan yang kutemukan di dalamnya."[11]

Para sahabat berada dalam keadaan seperti trance saat shalat, dan akan membaca Qur'an seolah-olah diwahyukan secara langsung kepada mereka. Jadi mereka tak pernah merasakan sakit yang dise babkan oleh anak panah yang mengenai tubuhnya. Jihad, baik itu ke­cil maupun besar, menemukan ekspresinya yang lengkap dalam diri mereka.

Nabi mengkombinasikan dua aspek jihad ini secara sempurna. Dia menunjukkan keberanian monumental di medan perang. Ali, salah satu Muslim paling berani, mengatakan bahwa para sahabat ber-lindung di belakang nabi pada saat-saat kritis dalam pertempuran. Suatu ketika saat tentara Muslim terpukul balik dan mulai tercerai-berai di perang Hunayn nabi memacu kudanya ke arah musuh dan berteriak kepada tentaranya yang terdesak mundur: "Aku adalah nabi, aku tak dusta! Aku adalah cucu Abd al-Muttalib, aku tak dusta!"[12]

Dia sangat khusyuk saat beribadah kepada Tuhannya. Dia tengge-lam dalam cinta dan takut kepada Allah dalam shalat, dan orang yang menyaksikannya merasakan kelembutan pada dirinya. Dia sering ber-puasa beberapa hari berturut-turut. Terkadang dia akan menghabiskan sepanjang malam dalam ibadah, yang menyebabkan kakinya bengkak-bengkak. Aisyah suatu ketika menganggap ketekunannya dalam shalat berlebihan, dan dia bertanya kepadanya mengapa dia melelahkan diri seperti itu padahal dosa-dosanya sudah diampuni. Dia menjawab: "Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?"[13]

Nabi sedemikian beraninya sehingga ketika beberapa orang Me-kah hampir menemukan dirinya dan Abu Bakar saat bersembunyi di gua Tsur, dia hanya berkata: "Jangan takut; sesungguhnya Allah ber-sama kita."[14] Di lain pihak, dia sangat lembut hati dan sering mena-ngis saat membaca atau mendengar bacaan Qur'an. Dia pernah me­minta Ibn Mas'ud untuk membacakan satu surat. Ibn Mas'ud menolak karena dia tak bisa membacakan kepada orang yang mendapatkan wahyu Qur'an. Tetapi Rasulullah bersikeras, dan mengatakan bahwa dia suka mendengarkan seseorang membaca Qur'an. Ibn Mas'ud kemudian membaca Surat an-Nisa. Ketika sampai pada ayat: Tetapi bagaimanakah jika Kamu adakan saksi dari setiap umat. Dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas mereka? (QS. 4:41) nabi memintanya untuk berhenti sebab, karena takut kepada Allah, dia tak sanggup lagi mena-hannya. Ibn Mas'ud menceritakan kisah selanjutnya: "Rasulullah ber-linang air mata sehingga aku berhenti membaca."[15]

Nabi sangat lembut hatinya dan berani. Dia memohon ampunan Allah 70 kali sehari, dan berulangkali menasihati umatnya tentang perlunya memohon ampunan dari Allah.[16]

Orang-orang yang sukses dalam jihad besar hampir bisa dipasti-kan sukses dalam jihad kecil, tetapi yang sebaliknya tidak berlaku. Aisyah menceritakan: "Suatu malam Rasulullah meminta izinku untuk melakukan shalat sunnah malam. Aku berkata: 'Betapapun besarnya keinginanku untuk bersamamu, aku masih lebih ingin engkau mela­kukan apa yang engkau kehendaki.' Kemudian dia melakukan wudhu dan mulai shalat. Dia membaca: Dalam penciptaan langit dan burnt dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berilmu (QS. 3:190) berkali-kali, meneteskan air mata sampai fajar."[17]

Terkadang dia bangun untuk shalat tanpa membangunkan istri-nya karena dia tak ingin mengganggu tidurnya. Aisyah menceritakan:

Suatu malam aku bangun dan Rasulullah tidak ada. Karena kupikir dia menemui istrinya yang lain aku menjadi cemburu. Aku mulai akan bangun, saat aku menyentuh kakinya di kegelapan. Dia se-dang sujud dan berdoa: "Ya Allah, aku berlindung kepada ridha-Mu dari murka-Mu. Aku berlindung pada ampunan-Mu dari hu-kuman-Mu. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari Diri-Mu, aku berlindung dalam karunia-Mu dari siksaan-Mu, dalam rahmat-Mu dari keagungan-Mu dan dalam kasih sayang-Mu dari kekuasaan-Mu yang tak terlawan. Aku tak mampu memuji-Mu sebagaimana Engkau memuji Diri-Mu."[18]

Karena sadar akan kewajiban untuk mengikuti setiap perbuatan-nya, para sahabat melakukan usaha sebaik-baiknya agar pantas men­jadi sahabatnya di akhirat kelak. Beberapa di antaranya secara fisik sakit karena cemas jangan-jangan nanti terpisah dari nabi di akhirat. Misalnya, Thawban kehilangan selera setelah dia tak bisa ikut serta dalam suatu ekspedisi militer. Saat nabi kembali semua orang ingin menemuinya. Thawban sangat pucat sehingga Rasulullah menanyakan kesehatannya. Thawban menjawab:

Ya Rasulullah, aku terobsesi rasa takut akan terpisah darimu di akhirat. Engkau adalah Rasulullah, jadi engkau akan masuk sorga, tetapi aku tidak tahu apakah aku akan pantas masuk sorga. Dan bahkan jika Allah mengizinkanku, tempat tinggalmu jelas jauh berada di atas kediamanku. Jika begitu aku tak bisa berada disisimu selamanya. Aku tak tahu bagaimana aku bisa menanggung ini se­mua, sebab bahkan selama tiga hari saja aku tak sanggup berpisah denganmu di dunia ini.

Kekhawatiran Thawban hilang setelah Rasulullah berkata kepa-danya: "Engkau akan selalu bersama orang yang engkau cintai."[19] Mencintai seseorang berarti mengikuti contohnya dalam hidup ini, dan para sahabat lebih perhatian dalam hal ini ketimbang orang lain.

Umar sangat ingin untuk membangun hubungan keluarga dengan nabi, karena dia mendengar nabi berkata bahwa semua hubungan genealogis akan tak berguna di akhirat, kecuali untuk orang-orang dengan rumah tangganya. Meskipun nabi memegang tangan Umar berkali-kali dan berkata: "Kita akan seperti ini (seperti dua tangan bersatu) di akhirat," Umar masih ingin hubungan keluarga. Dia men-coba menikahi Fatimah, tetapi dia menikah dengan Ali. Dia menikah-kan putrinya, Hafsah, dengan nabi, dan pada masa kekhalifahannya, menikahi putri Ali Umm Kulthum. Jika dia ingin, dia dapat menikahi putri raja tetangga. Tetapi dia ingin terikat dengan rumah tangga nabi.

Hafsah pernah berkata kepada Umar: Ayah, dari waktu ke waktu utusan asing datang dan engkau menerima duta-duta. Engkau se-harusnya mengganti baju lama dengan yang baru." Umar terkejut oleh saran ini dan menjawab: "bagaimana kau bisa tahan berpisah dengan dua sahabatku, nabi dan Abu Bakar? Aku harus mengikuti contoh mereka seketat mungkin agar aku dapat bersama mereka di akhirat."

Rasulullah dan sahabat-sahabatnya berhasil dalam jihad besar, dan ketaatan mereka kepada Allah sangat kuat. Mereka menghabiskan sebagian waktunya dengan shalat sehingga orang yang melihatnya menyangka mereka tak ada kerjaan lainnya. Tetapi sangkaan itu tak benar sebab mereka menjalani kehidupan dengan seimbang.

Mereka sangat ikhlas dalam amalnya karena mereka melakukan segala sesuatu karena Allah dan terus-menerus mendisiplinkan diri mereka. Umar suatu ketika sedang memberikan khotbah dan dia tiba-tiba berteriak tanpa alasan yang jelas: "O, Umar, engkau adalah gem-bala yang menggembalakan domba ayahmu." Ketika ditanya setelah shalat mengapa dia mengatakan itu, dia menjarwab: "Saat datang ke pikiranku bahwa aku adalah khalifah, aku menjadi takut akan muncul rasa bangga." Suatu hari dia terlihat membawa karung di punggung-nya. Ketika ditanya mengapa dia melakukan itu, dia menjawab: "Aku merasakan kebanggaan dalam diriku karenanya aku ingin menying- "kirkannya." Khalifah lainnya, Umar ibn Abd al-Aziz, pernah menulis surat kepada seorang kawan dan kemudian menyobeknya. Ketika di­tanya mengapa, dia menerangkan: "Aku bangga akan keindahan tu-lisan, maka kusobek-sobek."

Hanya jihad yang dilakukan dengan jiwa sempurna sajalah yang dapat melahirkan hasil yang efektif. Mereka yang tidak menanggal-kan kebanggaan diri, dan ketidaktulusan kemungkinan besar meng-ancam ajaran Islam. Saya ingin menekankan bahwa orang semacam itu tidak akan pernah mendapatkan hasil yang diharapkan.

Beberapa ayat Qur'an mendeskripsikan tipe jihad tersebut. Sa- t lah satunya adalah: Apabila telah datang pertolongan Allah dan keme­nangan, dan engkau melihat manusia memasuki agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Menerima Taubat (QS. 110:1-3). Ketika orang-orang beriman melakukan jihad kecil, entah itu dengan perang, berdakwah, atau amar ma'ruf nahi munkar, pertolongan Allah dan kemenangan akan datang, dan orang akan masuk Islam dengan berbondong-bondong. Pada saat itu, Yang Maha Perkasa menyatakan bahwa pujian-Nya harus digemakan dan ampunan-Nya dicari. Karena semua keberhasilan dan kemenangan adalah dari Allah, maka Dia mesti dipuji dan disembah.

Jika kita dapat mengkombinasikan kemenangan kita atas musuh dengan kemenangan kita atas hawa nafsu, kita telah melaksanakan jihad secara penuh. Aisyah menceritakan bahwa setelah turun ayat ter­sebut, Rasulullah sering berdoa: "Maha Suci Engkau, Ya Allah aku me-mohon ampunanmu, dan aku bertobat kepada-Mu."[20]

Nabi mengekspresikan dua aspek jihad ini dalam sebuah ucapan: "Mata dua orang tidak akan pernah melihat api neraka: mata tentara yang berjaga di garis depan dan di medan perang, dan mata orang yang menangis karena takut kepada Allah."[21] Orang pertama ikut dalam jihad kecil; dan orang kedua dalam jihad besar. Orang yang berhasil dalam jihadnya akan lepas dari siksa api neraka.

Kita harus mempertimbangkan jihad secara keseluruhan. Mere­ka yang mengatakan satu hal dan kemudian melakukan hal yang lainnya hanya akan menyebabkan gangguan di kalangan Muslim. Karena mereka tidak dapat mendisiplinkan diri mereka dan meng-atasi riya, pamer, dan keinginan untuk menguasai, maka mereka hanya akan melahirkan kekacauan di jalan Islam. Di lain pihak, mereka yang hidup dalam seklusi total dan berusaha untuk menggapai keadaan spiritual yang tinggi tanpa bekerja untuk menyebarkan kebenaran hanya akan mengurangi Islam menjadi sekedar sistem "spiritual," se-perti aspek tertentu dalam Yoga. Orang-orang seperti itu berargumen bahwa tugas utama Muslim adalah meraih kematangan spiritual agar selamat dari api neraka. Yang mereka gagal sadari adalah bahwa orang yang menganggap dirinya selamat dari neraka adalah ter-tipu, sebab Allah menyatakan bahwa kita harus terus mengabdi ke­pada-Nya selama kita masih hidup: Dan sembahlah Tuhanmu sampai yang tak terelakkan (kematian) datang menjemputmu (QS. 15:99).

Muslim tak boleh menganggap diri mereka selamat dari siksa neraka atau menyerahkan harapan pada karunia dan ampunan Allah. Mereka semestinya gemetar dengan rasa takut kepada Allah, seperti Umar. Akan tetapi rasa takut ini tidak boleh mencegah mereka dari berharap pada sorga: Tetapi bagi orang-orang yang takut dihadapan Tuhannya ada dua sorga (QS.55:46).

Singkatnya, Jihad terdiri dari kontrol diri dan mendakwahkan kebenaran. la memerlukan penaklukan hawa nafsu dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Mengabaikan yang per-tama akan melahirkan anarki sosial, sedangkan mengabaikan yang kedua akan menghasilkan kemalasan. Hari ini kita harus memahami Islam dengan benar pada umumnya, dan jihad pada khususnya. Ini dapat direalisasikan hanya dengan cara mengikuti sunnah nabi.

[1] Utsman ibn Affan, termasuk sahabta yang masuk Islam paling awal, datang dari keluarga yang kaya dan kuat dari Bani Umayyah. Dia dipilih untuk misi ini karena dia mempunyai keluarga yang kuat dan sanak saudara di mekah yang dapat melindunginya. Beberapa tahun kemudian dia menjadi /pkhalifah ketiga, memerintah dari 644 sampai 656.
[2] Bukhari, Iman, 26; Jihad, 7; Ibn Maja, Jihad, 3:18
[3] Tirmidhi, Fada'il al-Jihad," 12.
[4] Muslim, Imara, 163; Ibn Maja, Jihad, 7
[5] Kashfal-Klwfa', 1:424.
[6] Imam Rabbani, Maktubat, 1:157.
[7] Muslim, Munafiq, 38.
[8] Bukhari, Tafsir,; Al-Ghafir, 40-41; Fada'il Ashab al-Nabi 5
[9] Bukhari, Kafala, 4.
[10] Kashf al-Khafa", 1:424.
[11] Ibn Hanbal, Musnad, 3:344, 359.
[12] Bukhari, Jihad, 52, 61, 67.
[13] Bukhari, Tahajjud, 6.
[14] Peristiwa ini terjadi pada saat nabi hijrah dari Mekah ke Madinah. Bukhari, Fada'il al-Sahaba, 2.
[15] Bukhari, Fada'il al-Qur'an, 32, 33, 35.
[16] Bukhari, Da'wat, 3.
[17] Ibn Kathir, Tafsir: Ali Imran, 190.
[18] Muslim, Shalat, 22; Haythami, Majma' al-Zawa'id, 10,124; Tirmidhi, Da'wat, 81.
[19] Bukhari, Adab, 96; Muslim, Birr, 1:650.
[20] Tirmidhi, Da'wat, 81.
[21] Tirmidhi, Fmia'il al-Sahaba: jihad, 12.

blog comments powered by Disqus