Cetak

Apa tujuan dari ketegangan spiritual?

Ditulis oleh Fethullah Gülen pada . diposting di Memadukan Akal & Kalbu dalam Beriman

Penilaian Pengguna:  / 3
JelekBagus 

Ketegangan spiritual (atau metafiska) adalah postur batin, semacam keadaan dari perhatian moral dan spiritual. Dalam aspek positifnya, ini berarti bahwa orang beriman mempunyai disposisi yang secara khu-mis kuat dan menentukan untuk semua hal-hal yang diperbolehkan dan yang baik. Mereka disibukkan dengan hal-hal itu dan selalu ber-kerja untuk mendapatkannya.

Ini juga mempunyai makna lain: suatu keinginan akan agama dan semua hal yang berkaitan dengannya; pencarian dari pikiran dan porasaan keagamaan, secara asketis dan dengan cinta; ketaatan pikiran kepada agama, seperti pecinta dalam puisi mistik yang terus-menerus saling memikirkan; keasikan dengan agama di segala masa dan kondisi; kerinduan pada agama untuk menjadi "kehidupan dari hidup," seperti pecinta yang rindu akan penyatuan setelah perpisahan. la juga berarti usaha untuk membangkitkan kembali setiap orang pada pikiran perasaan religius, khususnya pada umat anda, sebagai tujuan hidup; tertekan dan menderita demi agama; membangun sistem-sistem dan lembaga-lembaga untuk melayani manusia dan Tuhan, dan memastikan agar semuanya itu tetap berfungsi efektif; mencintai Allah dan nabi-Nya lebih daripada yang lainnya; dan berpegang teguh dan tulus pada jalan hidup yang diajarkan nabi.

Dalam aspek negatifnya, ketegangan spiritual adalah menentang kekafiran, imoralitas dan penyelewengan; mengeskpresikan ketegangan ini secara konstruktif; lari dari kejahatan, keburukan dan menghindari jalan-jalan dan hal-hal yang merusak; dan terus-menerus melawan dosa dan godaan.

Demikianlah ketegangan spiritual dapat memelihara kekuatan dan vitalitas iman dan jalan hidup orang-orang mukmin. Jika orang-orang beriman kurang semangat atau lemah, mereka tidak dapat efektif da­lam melayani Tuhan, sebab merealisasikan kehendak Tuhan hanya dimungkinkan melalui keinginan yang membara dan usaha yang keras untuk membangun harmoni, ketertiban dan sistem yang dikehendaki Tuhan. Jika kita kurang kuat dan sabar, atau diri kita dipengaruhi oleh kekafiran dan kesesatan dan tak mampu membebaskan diri kita, kita kehilangan ketegangan spiritual. Orang mukmin sejati tak bisa masuk ke dalam keingkaran, dan ketegangan kita harus penuh dan pasti, seperti cinta dan keinginan kita pada iman.

Sikap yang mesti diambil atau ditolak untuk menjaga ketegangan spiritual adalah seperti yang didefinisikan dalam sebuah hadits. Di-antaranya adalah sebagai berikut: "Tak seorangpun dari kalian dapat menjadi orang mukmin sampai kalian mencintaiku lebih daripada cinta kalian kepada orang tua dan anak-anak kalian" dan "Ada tiga hal yang dapat membuat kalian merasakan manisnya iman, yaitu: Ketika Allah dan nabi-Nya lebih dekat kepada kalian daripada yang lainnya, ketika cinta kalian kepada siapa saja semata-mata karena mengharap ridha Allah, dan berpaling kepada kakafiran adalah menakutkan bagi kalian seperti ketika kalian hendak dimasukkan ke dalam api."

Orang-orang yang mendapatkan dan merasakan ini dalam ke-sadaran mereka adalah orang yang sadar akan iman mereka. Betapapun mendalamnya cinta batin dan hubungan serta cinta kepada anak, cinta, hubungan dan ketaatan seseorang kepada Allah harus lebih besar. Kami katakan hal ini dari sudut pandang logika, nalar dan penilaian. Sesung-guhnya, minat kita dan keterikatan kepada Allah dan nabi-Nya adalah okspresi dari perenungan dan persepsi, dari pencarian dan penemuan. Tak ada yang lebih disukai daripada cinta ini, jika kita dapat men-cnpainya dalam kesadaran kita dengan pencarian dan meditasi, dan ini adalah atribut pertama dari orang-orang yang telah merasakan manisnya iman.

Untuk lebih menyukai Allah dan nabi-Nya ketimbang segala sesuatu yang lain berarti, dalam pengertian yang luas, lebih menyukai elemen ilasar dari iman ketimbang yang lainnya. Jika cinta akan Allah adalah di dalam hati kita dan cahaya Allah ada di wajah kita, maka segala Nt'suatu yang eksis dan mengada mempunyai makna. Jika tidak, tak akan ada bedanya antara eksistensi dan non-eksistensi. Orang-orang beriman yang mengintegrasikan diri mereka dengan pemahaman itu akan mencintai semua orang mukmin, dan dalam tingkat tertentu, ut'inua ciptaan, tanpa prasangka, pilih kasih, atau dengan motif-motif lersembunyi. Ini lantaran dengan menenggelamkan diri dalam cinta kepada Tuhan orang-orang mukmin dapat mencintai orang lain dan makhluk-makhluk hanya demi Allah. Ini adalah bagian yang sangat prating dari pembentukan jamaah yang dikehendaki Allah.

Adalah juga penting untuk menjaga ketegangan spiritual dari keka-flnm. Orang-orang mukmin, jika mereka merasakan manisnya iman, rtkan merasa jijik terhadap dan memusuhi—bahkan membenci—keka­firan, penyelewengan, perbuatan yang melampaui batas, dan tak tahu Irrima kasih. Orang yang kehilangan rasa tak suka tersebut tidak akan mrnginginkan melihat keingkaran dihapuskan dari hati manusia dan monggantikannya dengan iman. Untuk merealisasikan tujuan tersebut, orang beriman harus mempunyai semangat besar dan cinta pada iman dan bend pada kemungkaran. Demi ketegangan spiritual, dan bahkan untuk bangsa dan manusia pada umumnya, adalah perlu untuk mela-wan segala jenis kekafiran, kejahatan, keburukan, anarki, dan keka-cauan.

Bahaya atau musuh terbesar yang menyerang kita adalah untuk menghancurkan ketegangan spiritual kita. Mereka telah mendeskrip-sikan jihad (berjuang) terhadap keingkaran sebagai penindasan dan kekejaman, penaklukan dan invasi. Seperti dikatakan oleh penyair Iq-bal, mereka mengubah singa dengan catatan sejarah yang cemerlang menjadi seekor domba. Dengan cara ini orang-orang Muslim yang kehilangan ketegangan spiritualnya tetap tak tergerak oleh invasi, eksploitasi dan penghinaan. Mereka tak melawan manakala kebang-gaan, harga diri, martabat, kejujuran atau nama baik mereka diserang dan dicemarkan. Orang-orang mukmin yang menjaga ketegangan spiri­tual mereka mendapatkan apa yang mereka rindukan dan kemudian menghindari dan meninggalkan hal-hal yang dimurkai Allah.

Ringkasnya, ketegangan spiritual berarti sebuah ketidaksukaan ke-pada keingkaran dan kesalahan, dan juga sebuah hasrat pada iman. Poin krusial di sini adalah bahwa ketegangan ini tidak berarti bertempur di jalan-jalan. la berarti menghidupkan kegairahan, semangat, agitasi, dan emosi yang ditimbulkan oleh ribuan perjuangan sehari-hari di dalam kesadaran anda; menderita karena penderitaan mental dan spiri­tual; disibukkan dengan persoalan-persoalan manusia; siap dan ber-sedia untuk mengorbankan segalanya demi orang lain; "mati" dan "hidup lagi" berkali-kali dalam sehari; merasakan penderitaan orang lain dalam diri anda ketika anda melihat mereka tersesat, terseret menuju neraka, dan saling tarik-menarik; merasakan kepedihan dan siksaan neraka atas diri orang lain dalam kesadaran anda, sembari hidup dalam atmosfir keingkaran, penyimpangan dan ketidaksadaran yang menyesakkan dan mematikan.

Orang-orang beriman semacam itu dapat memperoleh pahala mati syahid dengan menunjukkan dedikasi dan komitmen seperti itu. Tak ada yang dapat menekan atau meneror orang seperti itu—entah itu kondisi buruk, lingkungan yang sulit, atau kegelapan, atau kabut dan awan kebodohan—karena mereka tak tersentuh oleh kekafiran. Inilah yang kami maksudkan dengan ketegangan spiritual. Suatu masyarakat yang kehilangan ketegangan ini telah menderita secara rohani, mes-kipun bentuk lahiriahnya tetap ada. Allah mengizinkan penindas dan tiran untuk menyerang masyarakat seperti itu.

Kematian dimulai dalam jiwa dan hati, dan kemudian tubuh jasmani. Kematian fisik selalu mengikuti kekalahan spiritual. Allah tak pernah membiarkan manusia yang menjaga kehidupan jiwanya un­tuk tertindas. Orang-orang yang tidak dapat menjaga ketegangan spiritualnya ditakdirkan untuk tewas. Orang-orang seperti itu meng-anggap kehidupan religius dari orang-orang lain [yang beriman] adalah sekedar khayalan atau lintasan pikiran sesaat. Jika suatu kebangkitan kembali tidak terjadi, itu dikarenakan beberapa orang telah menjaga ketegangan spiritualnya. Satu-satunya dukungan dan kekuatan yang dapat diandalkan dalam semua persoalan adalah hanya dari Allah.

Bagaimana Ketegangan Spiritual Dapat Dipulihkan?

Memelihara ketegangan spiritual adalah lebih sulit ketimbang mendapatkannya. Inilah mengapa tekad dan kesabaran diperlukan untuk mendapatkannya. Ketegangan mengendur karena kelaziman dan kebiasaan. Orang-orang beriman mungkin akan menjadi terbiasa dengan istilah dan jalan yang mereka tempuh, dan karenanya pelan-pelan merasa bosan dengannya. Terkadang kedirian, nafsu, ambisi, kecemburuan, iri, cinta jabatan dan kedudukan, kesenangan, dan kelesuan melemahkan semangat dan cinta mereka pada amal saleh dan berbuat di jalan Allah. Perkembangan seperti itu dapat mengakibatkan hilangnya kualitas spiritual dan membekukan kemauan. Jika orang beriman yang aktif mulai membuat alasan-alasan dan tidak muncul ditempat yang semestinya, maka ketegangan mereka sedang berkurang dan mereka terancam kehilangan ketegangan spiritualnya. Tanpa ketegangan spiritual, orang beriman tidak dapat mengabdi kepada Allah, Islam dan manusia.

Untungnya, ada banyak orang di sekitar kita yang mesti dipuji ka­rena suri tauladan mereka yang baik. Misalnya, saya tidak akan pernah melupakan jawaban dari orang seperti itu saat saya bertanya kepadanya apakah dia akan tinggal di rumah selama beberapa hari atau tidak: "Aku tak pernah tinggal di rumah setelah aku menjalankan tugas."

Para dokter meresepkan obat dan suntikan untuk penyakit dan me-nasihati kita agar mengikuti anjurannya dengan ketat, entah kita mau atau tidak. Kita memperhatikan dan mengikuti nasihat medis untuk [memulihkan] penyakit fisik kita. Tentunya kita hams lebih memperha­tikan (atau setidaknya sebanding) pada resep untuk mengobati penya­kit spiritual. Bagaimana kita dapat menjaga ketegangan spiritual kita, dan pada akhirnya mendapatkan persahabatan dengan nabi dan para sahabatnya, jika kita tidak memperhatikan soal-soal ini?

Saya ada beberapa anjuran:

  • Jangan tinggal sendirian, sebab "serigala akan memangsa seekor domba yang keluar dari kawanannya." Orang-orang yang keluar dari jamaah dan menjauh dari para sahabatnya akan dimangsa oleh setan. Kejatuhan mereka dimulai dengan mengeluhkan apa yang tidak dapat mereka lakukan. Saat itu berlalu, kegiatan seperti itu baik. Akan tetapi, segera saja mereka akan mulai mengkritik dan meremehkan aktivitas kawan-kawan mereka, sebuah sikap yang memperburuk sampai mereka menyangkal tujuan dan cita-cita dan mulai mengklaim bahwa apa yang tengah dikerjakan adalah se-suatu yang tak tepat atau tak perlu. Ketika sampai pada titik ini, orang-orang seperti itu berada terancam kehilangan. Mereka ha-nya dapat diselamatkan apabila mereka kembali masuk ke dalam jamaah dan tak mengisolasi diri. Inilah mengapa semua jalan yang memungkinkan untuk menuju hasil ini harus dijaga.
  • Selalu mencari cara baru untuk memperluas dan membangkitkan pengetahuan dan pemahaman, khususnya pengetahuan spiritual, dan tetap tegar dan konsisten dalam pencarian. Allah membuka alam seperti sebuah buku di hadapan mata kita, dan mengirim na-bi-nabi dan kitab-kitab suci untuk mengajari kita tentang itu se-. mua. Banyak wali-wali dan ulama-ulama saleh dan terpelajar telah mencapai derajat tinggi dalam pengetahuan dan kebijaksanaan, berusaha mencari dan menjelaskan kitab hukum (syariah) dan ki-tab ciptaan (alam seisinya). Seperti lebah mengumpulkan madu dari ribuan bunga, mereka memberi kontribusi dalam produksi madu dalam sarang pengetahuan. Segala sesuatu mesti dipelajari secara cermat dan dievaluasi sesuai dengan persyaratan dan tujuan dari kebijaksanaan Ilahi. Jika kita dapat melakukan hal ini, kita da­pat mengatakan bahwa kita sedang berbuat selaras dengan kebijak­sanaan Ilahi. Orang-orang yang tidak dapat melakukannya pelan-pelan akan kehilangan vitalitasnya dalam basis pengetahuan dan dengan cepat jatuh ke dalam pembusukan dan penyelewengan. Setelah beberapa waktu, mereka akan menjadi tak berguna.
  • Merenungkan kematian juga merupakan faktor penting di sini. Mati sebelum mati yang telah ditentukan adalah nama lain untuk menca­pai kehidupan sejati. Memotong ambisi-ambisi duniawi yang tak berkesudahan yang meletihkan kita hanya bisa dilakukan lewat kematian, dengan memahami bahwa semua sahabat sejati sedang menunggu kita, dan bahwa kebahagiaan dan kegembiraan sejati berada di alam lain.

Bukankah cita-cita kita tertinggi adalah menemui sahabat terkasih (nabi), sorga dan keindahan Ilahi? Kita harus berusaha sebaik-baik-nya, dan tak pernah menghindari kesukaran di jalan yang menuju ke arah itu. Saya sangat menyukai kuda dan menggunakan kiasan kuda untuk mendeskripsikan orang-orang yang menempuh jalan Tuhan. Seekor kuda tak pernah berkata lelah atau minta izin isti-rahat saat berlari, dan lari terus sampai jantungnya pecah dan ia mati. Kematian menjadi alasannya untuk tidak lari lagi. Kita se­mua yang berjuang di jalan-Nya harus seperti kuda—kita harus lari di jalan Allah, tanpa jeda atau berleha-leha, sampai kita mati.

Pilih seorang kawan yang akan membangkitkan, memperhatikan don memperingatkan anda. Kawan seperti itu akan memperhatikan kelesuan kita dan mengembalikan kita pada jalan dengan bimbingan dfln nasihat. Meksipun pada awalnya terasa janggal, mengikuti sa­rin seperti itu akan membawa pada kebaikan. Berlin anda merasa sedikit lesu, merasa ada pembelokan dalam hati inch, bicaralah dengan kawan anda dan katakan padanya apa yang iidnng terjadi. Kawan anda akan membantu anda untuk memulih-llBn tinda. Meskipun nasihat itu mungkin pertama-tama tampak me-nyenlnk anda karena sedikit keras, bahkan menyinggung, namun ikihtilnya adalah kebaikan, sebab nasihat itu akan menyelamatkan anda dari situasi yang bahkan jauh lebih menyakitkan dan meng gantikan kepedihan spiritual anda dengan kegembiraan spiritual. Saya sering berpaling pada sahabat seperti itu, seseorang yang lebih muda daripada saya dan pernah menjadi murid saya, dan saran-sarannya selalu bermanfaat bagi saya. Setiap orang dapat mem-bangun hubungan seperti itu, asalkan dilakukan dengan sukarela dan demi cinta kepada Allah.

Kita punya pepatah yang mengatakan: "Mengasah besi membuatnya tak berkarat." Ini berlaku pada orang-orang yang melayani Tuhan. Adalah fakta psikologis bahwa kita lebih perhatian pada persoalan kita sendiri daripada persoalan orang lain, karena bahkan jika perso­alan itu secara prinsip penting, mereka hanya mempengaruhi kita secara sekunder dan tak langsung. Ini adalah kecenderungan psiko­logis yang wajar tetapi mesti dievaluasi dengan hati-hati. Setiap orang harus mengemban tanggung jawab dan tugas, entah itu besar atau kecil, dan memegang kepemilikan atau menjalankan usaha.

Selama kita secara tulus mengikuti saran-saran tersebut, insya Allah, kita akan terpelihara dan diperkuat ketegangan spiritual kita dan mencapai cakrawala manusia yang aktif dalam penghambaan.

blog comments powered by Disqus