Surah al-Baqarah [2]: 144

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا
“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai,” (QS al-Baqarah [2]: 144)

Yang pertama kali harus kita perhatikan dalam ayat di atas adalah kata “Ridha” dalam masalah permintaan Nabi Saw. untuk dipindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke arah Ka’bah di Mekah. Ada sebagian orang bertanya, “Apa hubungan antara kalimat ridha dengan perpindahan kiblat, agar pemakaian kalimat tersebut sesuai dengan artinya?”

Untuk menerangkan firman Allah di atas, kami sengaja memakai pengertian para sufi atau para ahli tasawuf yang menerangkan bahwa Nabi Saw. dan Ka’bah mempunyai kedekatan yang amat dekat. Karena itu, Nabi Saw. selalu menunggu kapan dikabulkannya permintaan beliau Saw. ini dengan penuh harapan, bahkan harapan beliau Saw. untuk mengalihkan kiblatnya ke arah Ka’bah lebih besar daripada harapan seorang lelaki yang ingin bertemu dengan kekasihnya. Karena itu, beliau Saw. senantiasa mengajukan harapannya kepada Allah dengan penuh harapan. Sebenarnya, beliau Saw. sama dengan para nabi sebelumnya. Beliau Saw. dan mereka selalu berharap penuh kepada Allah jika mengharap sesuatu untuk dikabulkan hajatnya. Bukankah Nabi Saw. telah sampai ke Sidratul Muntaha, bahkan lebih dekat dari itu tanpa pusing kepalanya atau tertipu pandangan matanya, karena beliau Saw. lebih mulia dari semua ciptaan Allah.

Perlu diketahui bahwa Nabi Saw. adalah manusia yang paling terkemuka dari seluruh manusia dan jin tentang masalah alam-alam seperti itu, karena sayap para malaikat selalu terbentang di bawah kedua telapak kaki beliau Saw., tetapi beliau Saw. selalu menujukan seluruh harapannya kepada Allah untuk memohon diberi kemudahan dapat beralih kiblat ke arah Ka’bah dan beliau Saw. selalu memohon permintaannya itu dengan sungguh-sungguh dan sopan. Karena itu, ketika Allah mengabulkan permintaannya, maka Allah menyebutkan dalam firman- Nya, “Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai,” (QS al- Baqarah [2]: 144).

Ayat di atas mengandung arti bahwa Allah segera mengabulkan permintaan beliau Saw. untuk mengalihkan kiblatnya dari arah Baitul Maqdis di Palestina ke arah Ka’bah di Mekah, seperti yang beliau Saw. harapkan selama ini.

Maka dengan pergantian arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke arah Ka’bah di Mekah mengandung arti bahwa Masjidil Aqsa termasuk kiblat yang harus dimuliakan sama dengan kemuliaan Ka’bah di Mekah.

Allah berfirman, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya,” (QS al-Baqarah [2]: 144).

Sebagai kesempurnaan ayat di atas, maka Rasulullah Saw. menghadapi berbagai masalah. Pertama, beliau Saw. berkiblat menghadap ke arah Masjidil Aqsa dengan maksud agar menarik kaum Yahudi kepada agama Islam dan membenarkan kenabian beliau Saw. atau paling tidaknya mereka berkata, “Mungkin dia benarbenar seorang Nabi.”

Ketika beliau Saw. telah berpindah kiblat ke arah Ka’bah di Mekah, beliau Saw. berharap agar kalbu orang-orang musyrik di Mekah tertarik kepada beliau Saw. sebagai pemeluk agama Ibrahim as., meskipun agama Islam itu telah berubah menjadi agama khusus buat umat Islam. Beliau Saw. ingin menarik perhatian orangorang musyrik Quraisy bahwa Islam menghargai tempat-tempat suci, meskipun tempat suci itu dimiliki oleh umat lain. Ayat di atas adalah termasuk salah satu contoh dari sejumlah ayat Al-Qur’an yang memerhatikan masalah ruhaniyah dan nafsu manusia, agar nafsu manusia dapat memikirkan secara mendalam tentang Al- Qur’an. Mungkin masalah ini termasuk salah satu persoalan yang diperhatikan benar-benar oleh para ahli Tafsir dalam sejarah penafsiran Al-Qur’an.

Kata “Asy-Syathra” mengandung berbagai arti, di antaranya sebagian dari sesuatu. Maksudnya, jika seorang muslim sedang shalat dan ia berada di tempat yang jauh dari Ka’bah, maka sedapatnya ia menghadapkan wajah dan seluruh tubuhnya ke arah Ka’bah di manapun ia berada. Tetapi, jika ia berada di depan Ka’bah, maka ia diharuskan menghadapkan wajah dan seluruh tubuhnya ke arah Ka’bah. Itulah yang dipahami oleh sejumlah kaum sahabat dan tabi’in, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut, “Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya,” (QS al-Baqarah [2]: 144).

Maksudnya, di manapun seorang muslim berada, maka ia wajib menghadap ke arah Ka’bah sebagai kiblatnya tanpa butuh suatu tempat khusus untuk shalat, misalkan suatu masjid yang sudah jelas arah kiblatnya, karena Nabi Saw. bersabda, “Dijadikan bumi bagiku sebagai masjid.”[1]

Maksud dari hadis ini adalah seorang muslim boleh bersembahyang di mana saja ia berada asalkan menghadap ke arah kiblat.

[1] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada bahasan mengenai Tayamum, hadis nomor 1. Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, pada bahasan mengenai Fungsi Masjid, hadis nomor 3, 4, dan 5.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.