Surah al-Baqarah [2]: 255

اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)” (QS Al-Baqarah [2]: 255).

Perlu diketahui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan Yang Mahaahad yang tidak boleh seorangpun menyembah selain Dia saja, karena semua alam semesta dari sejak awal dan sejatinya yang menciptakannya hanyalah Allah, bahkan setiap yang ada di alam semesta sampai sekecil apapun butuh pertolongan Allah, wujudnya Allah, kehidupan Allah dan keahadan Dzat-Nya. Dengan kata lain, semua yang pernah ada di alam semesta ini yang terdahulu, yang kini maupun yang akan datang, semuanya diciptakan oleh Allah dan semua ciptaan Allah akan membuktikan kemuliaan sifat Allah dan nama-nama-Nya yang indah.

Dalam firman Allah di atas disebutkan bahwa hanya Allah yang menciptakan alam semesta dan seluruh makhluk yang ada. Tidak suatu apapun, kecuali harus bersandar kepada pertolongan Allah. Tidak suatu apapun yang dapat langgeng kehidupannya tanpa izin dan pertolongan Allah. Hanya Allah yang dapat berdiri sendiri tanpa mendapat pertolongan dari siapapun. Kita tidak boleh menafsirkan alam semesta dan kelanggengannya, kecuali dengan izin Allah. Kata ‚Al-Hayyul Qayyum‛ adalah termasuk salah satu nama-nama Allah yang ada. Semua benda dan makhluk yang ada di alam semesta ini harus mengakui kebesaran Allah setelah menyaksikan keagungan dan keindahan alam semesta yang diciptakan oleh Allah. Yang sedemikian itu hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang beriman, para nabi dan rasul yang mau memahami kandungan kitab-kitab suci, terutama kitab suci Al-Qur’an yang datangnya hanya dari Allah. Al-Qur’an telah menuangkan keterangannya tentang kejadian alam semesta seterang-terangnya, sehingga siapapun yang dapat merenungi kandungan Al-Qur’an tentang ciptaan alam semesta, maka ia akan merasa kagum kepada kitab suci tersebut.

Rasulullah Saw. pernah menerangkan bahwa ayat Kursi adalah salah satu ayat di dalam Al-Qur’an yang nilainya sangat besar dan sangat penting, seperti yang disebutkan dalam sabdanya berikut, “Di dalam Al-Qur’an terdapat satu ayat dan ayat itu merupakan penghulu emua ayat, yaitu ayat al-Kursi.”[1]

Sengaja diterangkan bahwa ayat Kursi mempunyai fungsi yang sangat besar, di antaranya,

Pertama, ayat tersebut mempunyai nilai yang sangat penting, karena ayat tersebut mengajarkan tentang tauhid yang murni dan menjadi salah satu sifat Allah Yang Mahaahad,[2] seperti yang diterangkan secara global dalam surat Al-Ikhlas, sampai Rasulullah Saw. senantiasa membaca surat Al-Ikhlas ketika beliau Saw. menjawab semua pertanyaan kaum musyrikin Quraisy tentang sifat Allah ketika beliau Saw. berada di kota Mekkah. Perlu diketahui juga bahwa setiap ayat di dalam Al-Qur’an mempunyai nilai yang sangat tinggi, tetapi derajat nilainya ayat yang satu dengan yang lain berbeda-beda sesuai dengan isi kandungannya.

Kedua, demikian pula besarnya nilai ayat Al-Kursi, karena ayat tersebut merupakan jawaban bagi para pembaca Al-Qur’an, sehingga ayat tersebut dapat menambah keteguhan iman seorang yang memfokuskan kalbunya hanya kepada Allah semata. Sehubungan dengan masalah ini, Nabi Saw. pernah menerangkan tentang keutamaan bulan Ramadhan, seperti yang disebutkan dalam sabda beliau Saw. berikut ini, “Siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan berharap pahala dari Allah, maka Allah akan mengampuni segala dosanya yang terdahulu.”[3]

Dari hadis Nabi Saw. di atas dapat disimpulkan bahwa keikhlasan yang murni merupakan salah satu dasar yang amat penting untuk diterimanya suatu amal kebajikan.

Sifat Al-Qayyum merupakan nama Allah dan segala perbuatan-Nya. Tentang nama Allah menunjukkan bahwa Allah bersifat Qadim dan Baqa’, yaitu Allah Maha Terdahulu dan Maha Kekal Abadi. Adapun arti pekerjaan-pekerjaan Allah mengisyaratkan bahwa Allah selalu berhubungan dengan semua makhluk-Nya yang ada, karena adanya setiap makhluk tergantung kepada adanya Dzat Allah. Adapun pengertian keabadian ciptaan Allah merupakan kehendak Allah, tetapi keabadian makhluk-Nya hanya bersifat sementara, karena akan segera berakhir dengan kefanaan. Ibnu Arabi mempunyai pendapat yang lain tentang masalah ini, seperti yang diutarakan oleh beliau berikut ini, “Sesungguhnya hakikat segala sesuatu merupakan penampilan kemuliaan nama-nama Allah. Karena itu, semua makhluk yang ada pasti diawali dengan sesuatu yang tidak ada, tetapi penampilan nama-nama Allah tersebut datangnya secara berangsur-angsur, sehingga kita dapat melihat sesuatu yang wujud adalah ciptaan Allah. Andaikata Allah tidak menampakkan kemulian-Nya meskipun hanya sesaat, maka semua makhluk akan punah untuk selamanya, seperti yang dikatakan oleh seorang penyair yang bernama Sulaiman Jalabi bahwa Allah menciptkan alam semesta ini hanya dengan ucapan, “Jadilah engkau!” maka alam semesta segera tercipta menurut kehendak-Nya dan andaikata Allah berfirman, “Lenyaplah engkau!” maka alam semesta akan segera lenyap.”

[1] Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, pada bahasan mengenai tsawâb Al-Qur-ân, hadis nomor 2.
[2] Lihat lebih lanjut penjelasannya dalam kitab Jâmi’ al-Bayân, karya Imam ath-Thabrani, Jilid 30, hadis nomor 343.
[3] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada bahasan mengenai Iman, hadis nomor 28. Juga pada bahasan mengenai Lailatul Qadar, hadis nomor 1. Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, pada bahasan mengenai Puasa, hadis nomor 3, dan 6. Juga pada bahasan mengenai Orang yang Sedang dalam Perjalanan (Musafir), hadis nomor 175.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.