Surah al-Baqarah [2]: 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka bertanya,‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?’” (QS al-Baqarah [2]: 30).

Firman Allah di atas mengisyaratkan bahwa para malaikat telah mengetahui dengan pengetahuan khusus yang diberikan kepada mereka. Maksudnya, mereka hanya mengetahui sesuatu dengan perkiraan, tetapi menurut ilmu Allah tidak ada ilmu yang berbeda antara yang dulu dengan yang akan datang. Menurut ilmu Allah tidak ada ilmu tentang janin dan kemudian tentang bentuk manusia secara sempurna. Ilmu Allah tidak mengenal elektron, kemudian mengenal atom, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu dalam satu waktu. Karena itu, ketika kami membahas tentang apakah manusia telah berjanji kepada Allah bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Kejadian itu apakah terjadi ketika manusia di alam arwah ataukah ketika manusia di dalam rahim ibunya. Pendapat semacam itu adalah benar, tetapi mempunyai kekurangan dan keterbatasan. Atau adakalanya sebaiknya kita berpendapat bahwa manusia selalu ditanya oleh Allah, “Siapa Rabbmu? Karena alam di sekitar kamu selalu berubah-rubah setiap waktunya.‛Tetapi ilmu Allah tidak pernah mengalami perubahan sedikitpun. Demikian pula sabda Nabi Saw. yang artinya, ‚Perbaharuilah iman kalian dengan ucapan Lâ Ilâha Illallâh.4 Kita tidak boleh memahaminya, kecuali sekedar pemahaman secara akal, karena ilmu Allah mengetahui apa saja yang telah terjadi, apa saja yang sedang terjadi dan apa saja yang akan terjadi.”

Mari kita kembali kepada pembicaraan kita sebelumnya.

Para malaikat telah mengetahui dari Lauh bahwa manusia akan berbuat kerusakan di muka bumi dan akan suka menumpahkan darah. Karena itu, para ahli tafsir menafsirkan seperti itu, seperti pertanyaan kami, ‚Mengapa Allah mau menjadikan orang-orang jahat?‛ Kemungkinan para malaikat itu tidak mengetahui secara sempurna bahwa kelak akan ada orang-orang baik dengan wujudnya sejumlah nabi dan orang-orang baik lainnya yang menjadi panutan manusia di antara orang-orang lain. Karena itu, Allah hanya menjawab, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QSAl-Baqarah [2]: 30).

Sesungguhnya permisalan “khalifah” yang disebutkan oleh Allah adalah memberi arti bahwa Allah memberi manusia hak untuk mengetahui apa saja yang diajarkan oleh Allah, tetapi sebatas pengetahuan saja. Sebagian orang dibolehkan mengenal sebagian yang lain, manusia boleh berhubungan dengan yang lain dengan keterbatasan dan semua yang dilakukan oleh manusia merupakan petunjuk dari Allah bagi mereka, karena ilmu manusia sangat terbatas.

Karena itu, Allah menyebutkan dalam firman-Nya {اِنّْيْ جَاعِلٌ} bukan {اِ نّْيْ خَالِقٌ} Maksudnya, ‚Aku menjadikan manusia dan Aku mengetahui tentang mereka dengan pengetahuan-Ku Yang Mahasempurna.‛ Allah mengetahui bahwa di antara manusia ada yang dijadikan sebagai hamba-hamba-Nya yang saleh seperti para nabi dan para wali. Akan tetapi, adapula di antara mereka yang dijadikan sebagai orangorang yang suka berbuat kejahatan. Karena memang manusia mempunyai dua sifat; sifat yang baik dan sifat yang buruk. Malaikat hanya mengetahui bahwa manusia itu kebiasaannya suka berbuat kerusakan di muka bumi dan suka menumpahkan darah yang satu dengan yang lainnya. Karena itu, Allah menjawab dengan ucapan-Nya, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,” (QS al-Baqarah [2]: 30).

Maksudnya bahwa Allah lebih mengetahui tentang keadaan dan sifat-sifat manusia lebih dari pengetahuan malaikat yang serba terbatas.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.