Surah al-Hasyr [59]: 10

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذينَ سَبَقُونَا بِالْإيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ في قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذينَ اٰمَنُوا
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hasyr, 10)

Firman Allah di atas mengisyaratkan bahwa kampung akhirat dan surga adalah dua tempat yang perasaan dendam dicabut dari dalam hati para penghuninya masing-masing. Andaikata mengeluarkan kedua perasaan itu dari hati kita ketika di dunia, maka manusia akan kembali fitrahnya yang asli, sehingga ia bagai malaikat, meskipun orang lain masih mempunyai perasaan baik ataupun buruk. Andaikata kedua perasaan tersebut tidak bisa kita hilangkan dari hati seorang ketika ia masih di dunia, pasti kedua perasaan itu akan timbul kembali pada suatu waktu di dalam hatinya seperti tumbuhnya rambut dan kuku yang telah dipotong sejak lama. Karena kedua perasaan itu telah terbiasa bersemayam di hati setiap orang. Karena itu, dalam doa tersebut Allah tidak menyebutkan kata ‚inzi’‛ yang artinya ‚Hilangkan perasaan dendam dari hati kami.‛ Tetapi, Allah menyebutkan dengan ungkapan sebagai berikut:

وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا
Artinya: “Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hasyr, 10)

Karena itu, setiap orang mukmin harus memohon kepada Allah untuk dihilangkan perasaan dendam kusumat dari hatinya kepada siapapun dari orangorang mukmin. Dengan demikian, maka hatinya akan bersih dari segala perasaan buruk dan ia berhak menjadi penghuni surga dan doanya akan dikabulkan oleh Allah.

Allah. Selanjutnya, dalam firman Allah di atas ada perintah lain yang harus kita laksanakan, yaitu menghormati kaum saleh dari mulai dari sahabat Nabi Saw. sampai generasi berikutnya dan berikutnya hingga hari ini, terutama terhadap kaum ulama yang hidupnya selalu mereka habiskan untuk kepentingan umat Islam dalam menetaskan karya-karya tulisnya berupa tafsir, ilmu kalam dan ilmu fiqih yang hingga kini masih dapat kita nikmati bersama.

Selain itu, ada sesuatu yang perlu kami terangkan bahwa menurut kami setiap orang dapat merasa senang dan dapat pula merasa sakit hati, kesemuanya tergantung kepada ketinggian perasaannya dan perkembangannya. Misalnya, jika seorang mempunyai perasaan yang tinggi dan berkembang, pasti ia dapat menghilangkan perasaan dendam kesumatnya dari hatinya, sehingga ia merasa hidup bahagia, seolah-olah ia hidup di dalam surga. Tetapi, jika ia tidak dapat mengembangkan perasaannya, maka setelah ia sampai di surga, ia akan berkata: ‚ Alangkah baiknya jika aku telah menghilangkan perasaan dendam kesumatku ketika di dunia.‛ Karena itu, kami terangkan sekali lagi, jika seorang ingin hidup bahagia seperti hidup di dalam surga, maka hendaknya ia mengosongkan hatinya dari perasaan dendam kesumat kepada orang lain, karena Al-Qur’an telah menekankan bahwa antara orang-orang beriman dengan sesamanya adalah bersaudara, seperti yang disebutkan dalam kedua firman Allah berikut ini:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al-Hujurat, 10)

اَلْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَۤاءُ بَعْضٍ
Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.” (QS. At-Taubah, 71)

Karena itu, siapapun yang mempunyai keimanan dan keislaman di hatinya, maka hendaknya ia saling mencintai dan saling menghormati dengan sesama muslimnya, terutama kepada kaum sesepuhnya. Seorang mukmin lebih baik menganggap dirinya kurang daripada menganggap dirinya lebih dari orang lain, karena hanya dengan perasaan itu ia dapat mendoakan orang mukmin lainnya dengan doa yang baik, terutama kepada para sahabat, para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan orang-orang beriman lainnya, karena kita diperintah saling menolong di antara orang-orang beriman dalam kebaikan dan ketakwaan dan kita dilarang saling menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maa’idah, 2)

Alangkah butuhnya kita kepada perasaan bahagia seperti di dalam surga, yaitu ketika hati kita tidak mempunyai lagi perasaan dendam kepada saudarasaudara kita, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذينَ سَبَقُونَا بِالْإيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ في قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذينَ اٰمَنُوا رَبَّنَۤا إِنَّكَ رَؤُفٌ رَحيمٌ
Artinya: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr, 10)

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.