Surah al-Qashash [28]: 76

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسٰى فَبَغٰى عَلَيْهِمْ
“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka.” (QS Al-Qashash, 76)

Tentang firman Allah di atas, para ahli tafsir tradisional menyebutkan bahwa Qarun termasuk salah satu kaum kerabat Nabi Musa as. Adapula yang berpendapat bahwa ia adalah putra saudara perempuan Nabi Musa as, adapula yang berpendapat bahwa ia adalah saudara lelaki Nabi Musa as. Itulah penafsiran sebagian ahli tafsir tradisional. Kesimpulannya, meskipun Qarun termasuk kerabat dekat Nabi Musa as, tetapi ia tidak dapat menerima petunjuk Allah dari Nabi Musa as.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya antara Qarun dan Nabi Musa as tidak ada hubungan kekerabatan apapun, baik menurut Al-Qur’an maupun menurut haditshadits Nabi Saw.. Karena itu, kami wajib mencari penafsiran yang lain sebagai berikut,

Ada kemungkinan Qarun adalah seorang dari Bani Israil. Karena itu, Al-Qur’an menyebutnya, “Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka.” (QS Al-Qashash, 76)

Maksudnya, Qarun termasuk kaum Musa as yang menentang ajaran Nabi Musa as. Ia sama dengan Samiri yang menentang ajaran Nabi Musa as, meskipun Nabi Musa as sangat peduli dengan mereka untuk mengajak mereka ke jalan Allah, sehingga Nabi Musa as selalu berusaha keras untuk mengajak keduanya ke jalan Allah. Tetapi, Qarun tidak dapat menerima ajaran Nabi Musa as, sehingga ia tidak akan memperoleh kebahagiaan surga di akhirat kelak.

Selanjutnya, firman Allah tersebut menerangkan, “Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuatkuat.” (QS Al-Qashash, 76)

Telah kami terangkan sejak pertama bahwa kisah-kisah yang disebutkan oleh Al-Qur’an adalah kisah-kisah yang pernah terjadi, bukan kisah-kisah bohong atau kisah-kisah yang dibuat secara berlebihan. Karena itu, kita harus mempercayai kisah Qarun seperti yang disebutkan oleh Al-Qur’an. Maksudnya, Allah memberinya sejumlah kekayaan yang berlebihan, sehingga kunci-kuncinya sangat berat untuk dipikul oleh sejumlah orang-orang yang kuat.

Firman Allah di atas menunjukkan betapa banyaknya jumlah kekayaan harta Qarun, sehingga kunci-kuncinya harus dipikul oleh sejumlah orang-orang kuat dan mereka merasa keberatan untuk memikul kunci-kunci kekayaan harta Qarun. Karena itu, Qarun bersikap sombong dan sewenang-wenang dengan kekayaannya itu terhadap kaumnya. Karena itu, Allah menyebutkan bahwa sebagian kaumnya berkata kepadanya, seperti yang disebutkan dalam firman Allah,

إِذْ قَاؿَ لَوُ قَػوْمُوُ لََ تَػفْرَحْ إِفَّ اللَّوَ لََ يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
Artinya, (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS.Al-Qashash,76)

Akan tetapi, Qarun menjawab nasihat kaumnya dengan kata-kata yang penuh kecongkakan, seperti yang disebutkan dalam firman Allah,

قَالَِْنَّمَا أُوتِيتُوُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
Artinya, Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (QS Al-Qashash, 78)

Kecongkakan Qarun tidak hanya dilakukan oleh Qarun sendiri, tetapi sejarah telah mencatat bahwa orang-orang terdahulu yang diberi kekayaan atau kekuatan, maka mereka selalu bersikap seperti Qarun, karena mereka mempunyai watak, tabiat dan perilaku seperti Qarun. Karena itu, kita sebaiknya hanya membicarakan kisah Qarun saja. Adapun orang-orang yang ingin diberi kekayaan seperti Qarun, mereka berkata seperti yang disebutkan dalam firman Allah,

يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُوفُ إِنَّوُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
Artinya, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Al-Qashash, 79)

Tetapi, ketika mereka menyaksikan Qarun mendapat siksa dari Allah, yaitu ia dibenamkan di dalam bumi, maka kaumnya yang kemarin berharap mendapat kekayaan seperti yang diberikan kepada Qarun, maka mereka berkata seperti yang disebutkan dalam firman Allah,

وَأَصْبَحَ الَّذينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَۤاءُ مِنْ عِبَادِه وَيَقْدِرُ لَوْلَۤا أَنْ مَنَّ اللهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
Artinya, Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata, “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah).” (QS Al-Qashash, 82)

Maksudnya, karena Qarun selalu bersikap congkak dengan kekayaannya, maka Allah menghukumnya dengan hukuman yang sangat berat, yaitu ia dibenamkan ke dalam bumi beserta tempat tinggal dan seluruh kekayaannya, seperti yang disebutkan oleh Al-Qur’an dalam firman Allah,

فَخَسَفْنَا بِوِ وَبِدَارِهِ الَْْرْضَ فَمَا كَافَ لَوُ مِنْ فِئَةٍ يَػنْصُرُونَوُ مِنْ دُوفِ اللَّوِ وَمَا كَافَ مِنَ الْمُ نْتَصِرِينَ
Artinya, “Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS Al-Qashash, 81)

Perlu diketahui bahwa Qarun mempunyai dua kesalahan,

Yang pertama, ia merasa sombong, karena ia diberi karunia harta yang berlimpah ruah, sehingga ia menyepelekan semua orang, bahkan ia menyepelehkan kemuliaan Allah, sehingga di mata Allah ia termasuk orang-orang yang tidak akan mendapat pahal surga di akhirat. Sebaliknya, karena ia bersikap sombong dan sewenang-wenang, maka Allah memberinya hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Ia dibenamkan beserta rumah dan harta kekayaannya ke dalam perut bumi, meskipun pada waktu sebelumnya ia merasa bahwa ia akan menikmati kekayaannya sepanjang masa. Karena itu, Allah membenamkannya ke dalam perut bumi sebagai siksa baginya. Padahal semestinya segala karunia Allah harus disyukuri sebanyak-banyaknya dan harus dihormati, karena telah menjadi undangundang Allah di alam semesta ini bahwa siapapun yang merasa rendah kalbu kepada Allah, maka Allah akan memberinya kedudukan yang tinggi, tetapi siapapun yang merasa sombong kepada Allah, maka Allah akan memberinya kedudukan yang paling hina.[1]

Kedua, jika orang-orang kaya jumlahnya sangat banyak di suatu kaum dan semuanya bersikap sombong dan sewenang-wenang seperti yang dilakukan oleh Qarun, maka di kalangan masyarakat itu akan timbul perpecahan dan terputusnya kesatuan dan persatuan di antara mereka, karena di antara mereka ada yang mempunyai kekayaan yang berlimpah ruah, sehingga tidak memikirkan orangorang lemah yang mati dalam keadaan lapar, seperti yang terjadi di masa modern, sehingga masyarakat modern terbagi menjadi dua bagian, yaitu kelompok kapitalis yang mempunyai harta berlimpah ruah dan kelompok komunis yang sangat miskin, dan kedua kelompok ini mempunyai perbedaan dalam gaya hidupnya masingmasing. Karena itu, Allah sengaja menyebutkan kisah Qarun dan orang-orang yang sepertinya agar dijadikan pelajaran yang baik bagi orang-orang yang datang setelah mereka.

Demikian pula, perlu diketahui bahwa Allah sengaja menyebutkan kisah Qarun agar dijadikan pelajaran yang baik bahwa orang-orang yang memperhatikan kehidupan dan kesenangan duniawi, maka mereka akan terperosok dalam kesalahan yang besar, karena semua kekayaan akan punah, sedang Allah akan memberi kekayaan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya dan Allah dapat juga menarik kekayaan dari siapapun yang dikehendaki-Nya.

Sebagai kesimpulannya, Qarun telah memiliki kekayaan emas dan perak yang berlimpah ruah. Ia tidak peduli darimanakah ia mendapatkan kekayaan itu, apakah dari sumber yang halal ataukah dari sumber yang haram. Pokoknya, ia mempunyai nafsu serakah, sehingga dalam waktu singkat ia dapat mengumpulkan harta yang berlimpah ruah yang disimpan di berbagai tempat yang dikunci rapat, sehingga kunci-kunci tempat-tempat kekayaan Qarun tidak bisa dipikul, kecuali oleh orang-orang yang kuat.

Kisah di atas mengisyaratkan bahwa sifat Qarun adalah manusia paling serakah dan kikir atau pelit. Ada kemungkinan juga ia mengumpulkan harta yang berlimpah ruah itu dari menggali harta yang tersimpan di bawah tanah milik para penguasa sebelumnya atau boleh juga ia mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan cara praktek riba. Karena itu, ia dapat menggunakan sejumlah orang-orang kuat untuk membentengi dirinya dan kekayaannya dari gangguan orang lain yang merasa hasud terhadap dirinya. Karena itu, Al-Qur’an menyebutkan bahwa ada sebagian kaumnya yang menasihatinya,

إِذْ قَاؿَ لَوُ قَػوْمُوُ لََ تَػفْرَحْ إِفَّ اللَّوَ لََ يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
Artinya, (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS Al-Qashash, 76)

Qarun mudah mendapat harta yang berlimpah ruah, ia bersikap pelit dan rakus, sehingga ia lupa kepada orang-orang lemah yang berada di sekitarnya. Pokoknya, segala sikap yang buruk itu hanya timbul dari kalbu yang kotor, karena ia meyakini bahwa harta kekayaan di dunia akan menyebabkan ia bahagia dalam hidupnya sepanjang masa. Padahal, tidak seorangpun yang merasa senang dengan kehidupan dunia, kecuali jika kalbunya sudah kotor, karena ia lebih mengutamakan kehidupan dunia dan kesenangannya daripada kehidupan di akhiratnya, salah satunya adalah Qarun.

[1] HR. Al-Musnad Imam Ahmad 3/76; Ibnu Majah, Az-Zuhud 16.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.