Surah al-Qashash [28]: 77

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qashash, 77)

Firman Allah mengisyaratkan bahwa Allah menyuruh kita mengumpulkan dunia sebanyak-banyaknya untuk selamanya. Tetapi, yang mengerti bahasa Arab hanya sedikit, maka ia akan berpendapat seperti itu. Sebaliknya, seorang yang memperhatikan baik-baik awal ayat tersebut yang mengatakan, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) di negeri akhirat.” (QS Al-Qashash,77)

Maksudnya, jadikan kekayaan apapun yang kamu miliki untuk menjadi sarana atau alat kebahagiaanmu di kampung akhirat. Perlu diketahui bahwa “fiil wabtaghi” mengandung arti “Carilah apa saja yang diberikan Allah kepada kamu berupa harta, kalbu, perasaan, akal pikiran, anak dan seluruh yang kamu miliki untuk mencari kebahagiaan di kampung akhirat dan ridha Allah.‛ Selanjutnya barulah Allah menyebutkan lanjutan firman Allah tersebut, “Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qashash, 77)

Maksudnya, hendaknya kita meletakkan apa saja yang akan terjadi di masa depan di hadapan mata kita, yaitu masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan akhirat dan kita tidak boleh melupakan sedikitpun kehidupan duniawi kita. Karena itu, jika seorang berpandangan bahwa firman Allah di atas hanya menyuruh manusia mencari duniawi saja, maka pandangan seperti itu adalah jelas kesalahan, karena pandangan seperti itu bertentangan dengan firman Allah berikut, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS At-Taubah,111)

Kita boleh juga mempunyai pandangan dari sisi lain, yaitu carilah dunia sebesar kebutuhanmu dan carilah akhirat sebesar-besarnya. Jika kita mempunyai pandangan seperti itu, maka dapat kita simpulkan bahwa Al-Qur’an menyuruh kita memberikan segala sesuatu menurut haknya masing-masing, sehingga seorang mukmin tidak terlalu sibuk dengan dunia sampai ia melupakan akhiratnya dan ia tidak boleh terlalu sibuk dengan akhiratnya sampai ia melupakan dunianya.

Perlu diketahui bahwa firman Allah di atas mengandung arti bahwa harta dan dunia dapat menenangkan kalbu setiap orang, seperti pada hari Arafah dan hari-hari sebelumnya dunia merupakan hari Arafah. Adapun hari raya yang sebenarnya adalah lebih menyenangkan dari hari Arafah. Karena itu, setiap mukmin harus menjaga keseimbangan antara kebutuhannya di dunia dan kebutuhannya di akhirat kelak. Siapapun yang tidak mendapatkan hari Arafah, maka hajinya tidak sah dan ia harus mengulangi hajinya pada tahun berikutnya. Tetapi, siapapun yang tidak mendapatkan hari Arafah di akhirat, maka ia akan mendapatkan kerugian yang luar biasa yang tidak dapat diganti dengan nilai apapun.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sedikitpun aku tidak keberatan dengan dunia, karena aku hanyalah bagai seorang pengendara yang berteduh di bawah sebuah pohon yang sebentar lagi akan pergi meninggalkannya.”[1]

Jika kita renungi baik-baik firman Allah di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa meninggalkan masalah duniawi sepenuhnya tidak dibolehkan dan sangat peduli kepada duniawi sepenuhnya juga tidak dibolehkan. Karena itu, Nabi Saw. menjelaskan dalam salah satu sabdanya, “Andaikata nilai dunia ini di sisi Allah menyamai sayap seekor nyamuk, pasti Allah tidak akan memberi minuman bagi seorang kafirpun.”[2]

Keingkaran orang-orang kafir akan adanya Dzat Allah dan adanya hari kiamat tidaklah mengurangi karunia Allah untuk mereka. Yang sedemikian itu merupakan salah satu sifat keadilan Allah. Tetapi, di sana ada satu alam di balik alam ini yang bersifat kekal abadi. Ketika Allah menghendaki bahwa orang-orang kafir akan mendapat siksa di akhirat, maka Allah tidak mengurangi kehidupan dunia bagi mereka sedikitpun, sehingga nampak sekali rahmat Allah atas mereka dan Allah tidak akan mengurangi kebahagiaan mereka sedikitpun.

Menurut Ustadz Sa’id Nursi dalam masalah ini ia berpendapat sebagai berikut , “Sesungguhnya hasil keimanan kepada Allah dan mencintai-Nya adalah seorang dapat melihat keindahan yang suci dan kesempurnaan Dzat Allah Yang Maha Suci. Pandangan seperti itu sesaat dapat disamakan dengan berjuta-juta tahun dari kenikmatan di alam surga[3], karena kenikmatan di alam surga meskipun sesaat dapat mengungguli segala kenikmatan berjuta-juta tahun menurut kehidupan dunia yang hanya sementara. Itulah pendapat para ulama ahli kasyaf secara ijma’.”[4]

Memang kesempatan yang amat menyenangkan seperti itulah yang kita harapkan dari Allah. Jika kita sudah mengerti nilai kesenangan hidup di alam akhirat, maka kita dapat menilai segala kesenangan yang ada di alam dunia, sehingga jika kita bandingkan antara kesenangan dunia dengan kesenangan akhirat, maka tidak sebanding sedikitpun. Karena seorang hidup di dunia usianya tidak lebih dari enam puluh tahun. Sepertiganya untuk digunakan untuk tidur, lalu apa artinya nilai hidup di dunia jika kehidupannya hanya seperti itu ? Karena itu, seorang yang keluar dari kehidupan dunianya, maka ia akan dapat membedakan betapa rendahnya nilai kehidupan di dunia jika dibanding dengan kehidupan di akhirat.

Ada juga satu pandangan dari Ustadz Badiuz Zaman An-Nursi tentang masalah ini dan pandangannya tidak pernah kami dapatkan dari orang lain. Ia berkata, “Sesungguhnya dunia mempunyai tiga wajah, wajah yang pertama dihadapkan kepada nama-nama Allah yang indah. Yang kedua dihadapkan kepada hawa nafsu, yang ketiga dihadapkan kepada usaha untuk mencari kebahagiaan hidup di akhirat. Wajah yang ketiga inilah yang membutuhkan perhatian yang lebih dalam.”

Jika kehidupan duniawi didasari dengan nama-nama Allah yang indah, maka nilai dunia menjadi sangat mahal, bahkan nilainya tidak dapat diukur dengan nilai apapun. Dan kita akan menyenangi dunia dari segi ini, bahkan kita dapat menikmati kehidupan dunia dari segi ini. Andaikata dunia bukanlah tempat untuk bercocok tanam untuk kehidupan akhirat, maka kita tidak akan dijadikan sebagai orang-orang yang akan hidup di alam akhirat. Tetapi jika kita hanya peduli pada kehidupan duniawi dan memenuhi segala kesenangan kita, maka dunia bagi kita merupakan tempat yang paling buruk, karena siapapun yang selalu menuruti keinginan nafsunya, sehingga ia melupakan kehidupan akhiratnya, maka dunia merupakan tempat yang sangat tercela bagi dirinya.

Selain itu, Ustadz Badiuz Zaman An-Nursi melihat kehidupan dunia sebagai berikut , “Kita wajib meninggalkan perasaan cinta kepada dunia. Maksudnya, kalbu kita harus kosong dari kecintaan kepada dunia, tetapi bukan mengosongi diri kita dari kekayaan dunia.” Itulah pandangan Ustadz An-Nursi yang menjadikan diri kita tidak memusuhi dunia sama sekali. Jika setiap orang mengosongkan kalbunya dari cinta kepada dunia, maka ia akan menikmati kehidupan yang bahagia seperti orang-orang yang kaya, tetapi ketika hartanya dibutuhkan untuk dinafkahkan di jalan Allah, maka ia akan siap menafkahkan seluruh hartanya di jalan Allah seperti yang dilakukan oleh Abdurrahman Ibnu Auf, salah seorang sahabat Nabi Saw. yang ketika itu ia mengeluarkan seluruh hartanya untuk membiayai tujuh ratus ekor unta lengkap bersama pelana dan persiapannya untuk peperangan di jalan Allah, sehingga Rasulullah Saw. tidak mengucapkan apapun kepadanya, tidak melarangnya dan tidak mencelanya, karena Abdurrahman Ibnu Auf termasuk seorang sahabat yang sangat kaya. Sebaliknya, beliau Saw. menggembirakan kalbu Abdurrahman Ibnu Auf dengan janji-janji yang bagus yang akan diberikan Allah kepadanya.

Ada salah satu kisah yang menarik tentang pribadi Nabi Ibrahim as bahwa para malaikat berkata kepada Allah, “Wahai Tuhan kami, Engkau telah berkata bahwa Ibrahim adalah kekasih-Mu. Kami ingin mengetahui apakah ia pantas menjadi kekasih-Mu ?” Maka, Allah berfirman kepada malaikat, “Pergilah kalian untuk menguji Ibrahim.” Maka para malaikat mendatangi Ibrahim as dalam bentuk sekelompok orang yang datang dari perjalanan jauh, sehingga pakaiannya kotor dan lusuh dan mereka mengaku bahwa mereka sangat lapar dan butuh bantuan dari Ibrahim as. Maka Nabi Ibrahim as segera masuk ke dalam rumahnya dan menyembelih seekor kambing dan menyuguhkan kepada para malaikat tadi. Ketika para malaikat mengulurkan tangannya masing-masing ke arah daging kambing yang disuguhkan untuk mereka, maka mereka mengganti sebutan basmalah dengan ucapan, “Subbuuhun Qudduusun Robbuna wa Robbul Malaaikatu Warruh.” Ucapan para malaikat itu membangkitkan kalbu Ibrahim as ingin mendengar ucapan seperti itu lagi seraya berkata, “Andaikata kalian mengulangi ucapan tadi, maka aku akan menghadirkan seperempat dari kambingku kepada kalian.” Maka para malaikat mengulangi kalimat tasbih seperti tadi. Kemudian Ibrahim as berkata pula, “Jika kalian mau mengulangi kalimat tersebut sekali lagi, maka aku bersedia menyerahkan setengah dari jumlah kambingku kepada kalian.” Maka para malaikat mengulangi kalimat tasbih tadi. Kemudian Ibrahim as berkata, “Jika kalian mau mengulangi kalimat tasbih tadi, maka aku akan memberikan duapertiga dari jumlah kambingku.” Setelah para malaikat mengulangi kalimat tasbih tadi, maka Ibrahim as berkata lagi, “Jika kalian mau mengulangi kalimat tasbih tadi, maka aku bersedia menyerahkan seluruh jumlah kambingku kepada kalian.” Sungguh jika riwayat ini benar, maka dapat kita simpulkan bahwa Ibrahim as tidak meninggalkan dunia sama sekali, tetapi ia mengosongkan kalbunya dari cinta kepada dunia dan harta.

Sebenarnya, kita tidak boleh memandang pribadi Nabi Saw. dari segi ketidak butuhannya terhadap harta dan duniawi. Memang benar di sana ada berbagai perkecualian, akan tetapi kaitannya sangat erat dengan sebagian orang. Misalnya, ada seorang bertanya, “Mengapa Nabi Saw. tidak berharap dengan harta dan kesenangan duniawi ?” Maka dapat kita katakan bahwa beliau Saw. berasal dari keluarga yang tidak mampu, meskipun setelah itu beliau Saw. menjadi seorang nabi yang berkecukupan hartanya untuk mengembangkan dakwah yang disampaikan oleh beliau Saw.. Tentunya jika hal itu kita katakan, pasti ada orang yang bertanya, “Darimanakah datangnya kekayaan itu ?” Karena itu, beliau Saw. sengaja hidup sebagai seorang miskin agar tidak menimbulkan pertanyaan dalam kalbu orangorang yang tidak percaya kepada beliau Saw.. Kiranya itulah yang harus kita yakini terhadap Rasulullah Saw., para ulama, para wali dan orang-orang baik yang datang setelah beliau Saw..

Sebagai kesimpulannya, sebaiknya kita meninggalkan cinta duniawi dalam kalbu kita, tetapi tidak menghalangi kita untuk berusaha memperoleh harta. Janganlah kita mengotori kalbu kita dengan cinta dunia, sehingga kita melupakan akhirat. Jika salah seorang di antara kita mendapat kekayaan yang banyak, maka kita harus selalu menafkahkannya di jalan kebaikan, sehingga kalbu kita bersih dari mencintai dunia dan kita terlepas dari perasaan kikir atau pelit. Jika kita terlalu mencintai harta, maka kita tidak akan mempunyai perasaan baik kepada siapapun yang membutuhkan pertolongan kita, sehingga hidup kita menjadi sia-sia meskipun kita hidup dalam keadaan serba cukup.

Selain itu, ada cara lain untuk mengosongkan kalbu kita dari mencintai dunia, yaitu dengan memperkuat keimanan kita kepada Allah, agar kita lebih cinta kepada Allah daripada mencintai harta. Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa ada seorang yang duduk di balkon rumahnya yang menghadap ke arah pantai. Ketika itu ia ingin menjadi orang yang berkecukupan kehidupan dunia, sehingga ia segera berdiri dari tempat duduknya dan kawan-kawannya menyaksikan kejadian tersebut. Kemudian ia segera meninggalkan tempat duduknya, karena pandangan yang sangat menarik itu telah membangkitkan keinginan kalbunya untuk mencintai duniawi. Untungnya, Allah memberinya petunjuk bahwa memikirkan sesaat akan keagungan Allah dapat menyamai hidup ribuan tahun di alam surga. Maka dengan itu ia tidak ingin lagi mencintai duniawi di dalam kalbunya.

Karena itu, kita harus memahami firman Allah berikut, “Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qashash, 77)

dengan pemahaman yang sesuai dengan pemahaman yang dikehendaki oleh Al-Qur’an, yaitu seorang boleh memiliki kekayaan apapun, tetapi hendaknya ia tidak menyimpan cinta harta di dalam kalbunya, sehingga ia dapat menggunakan kekayaannya untuk menafkahkannya di jalan Allah. Dan hendaknya ia selalu memikirkan kehidupan akhiratnya, sehingga ia akan selalu berusaha mendapat sumber rejeki yang halal dan menafkahkannya di jalan yang diridhai Allah, karena mencari sumber rejeki yang tidak halal dan menikmatinya di jalan yang tidak diridhai Allah akan mendatangkan berbagai penyesalan dan bencana dalam waktu yang secepatnya.

Maka sebaiknya kita akhiri pembahasan tentang masalah ini dengan sabda Nabi Saw., “Hendaknya setiap orang mempersiapkan dirinya untuk dirinya sendiri, dari dunianya untuk akhiratnya, dari masa mudanya untuk masa sebelum tiba usia tuanya dan masa hidupnya sebelum tiba masa matinya. Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangannya, tidak ada sesuatu setelah mati yang menyebabkan seorang akan sibuk dan tidak ada tempat lain setelah dunia, kecuali surga ataukah neraka.”[5]

Sebagai penutupnya, semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Saw., bagi para rasul sebelumnya, bagi para malaikat Al- Muqarrabi dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh.

[1] HR. Tirmidzi, Az-Zuhud 44; Ibnu Majah, Az-Zuhud 2, Al Musnad Imam Ahmad 1/201.
[2] HR. Tirmidzi, Az-Zuhud 13; Ibnu Majah, Az-Zuhud 3.
[3] Setelah Allah memasukkan para calon ahli surga ke dalam surga dan memasukkan para calon ahli neraka ke dalam neraka. Di surga tidak ada waktu malam dan tidak ada waktu siang. Allah telah mengetahui ukuran waktu demi waktunya. Jika tiba hari Jum’at pada waktu shalat Jum’at yang umat Islam selalu pergi ke masjid untuk menghadiri shalat Jum’at, maka ada seorang yang berseru, “Wahai penduduk surga, keluarlah kalian menuju tempat yang kalian akan mendapatkan tambahan kenikmatan.” Kemudian para penduduk surga keluar dari tempatnya masing-masing dengan bau harum dan dalam keadaan yang sangat menarik. Kata Hudzaifah, “Demi Allah, setiap orang akan keluar dengan wajah yang lebih putih dari tepung yang biasa kalian membuat roti. Jika mereka semua telah duduk dan berkumpul di dalam sebuah majelis, maka Allah mengirim angin untuk mereka, yaitu angin yang baunya sangat harum, sehingga angin itu menjadikan tubuh mereka berwarna putih dan angin itu masuk ke dalam baju-baju mereka dan keluar dari kantong-kantong mereka, sehingga dari angin itu tubuh dan baju mereka menjadi harum, bahkan lebih harum dari minyak parfum.” Kemudian Allah berfirman, “Di manakah hamba-hamba-Ku yang taat kepada-Ku dan beriman kepada yang ghaib serta beriman kepada rasul-rasul-Ku meskipun mereka tidak pernah melihat diri-Ku. Hendaknya mereka memohon kepada-Ku sesuatu, karena pada hari ini adalah hari ditambahkannya kenikmatan surga bagi penduduk surga.” Jawab mereka, “Wahai Tuhan kami, kami telah puas dengan karunia-Mu yang telah menjadikan kami sebagai penduduk surga.” Jawab Allah, “Andaikata Aku tidak meridhai kalian, maka Aku tidak akan menempatkan kalian di dalam surga-Ku, tetapi pada hari ini adalah hari untuk menambah kurnia-Ku bagi kalian. Karena itu, mintalah kalian kepada-Ku.” Maka mereka menjawab secara bersamaan, “Wahai Tuhan kami, perkenankan bagi kami melihat wajah-Mu.” Maka Allah membuka tabir cahaya-Nya dan Allah menampakkan diri-Nya Yang Maha Suci, sehingga mereka sangat terpesona oleh keindahan sinar wajah Allah. Andaikata Allah tidak menetapkan bahwa mereka tidak akan mati untuk selamanya, pasti mereka akan terbakar oleh cahaya wajah Allah. Kemudian Allah menyuruh mereka kembali ke tempatnya masing-masing, sehingga mereka kembali ke tempatnya masing-masing, maka para istri mereka berkata kepada suami-suami mereka, “Sungguh tadi kalian keluar dari tempat kami dengan wajah yang indah dan kini kalian kembali kepada kami dengan wajah yang lebih indah dari yang tadi.” Jawab mereka, “Tadi Tuhan kami menampakkan diri-Nya kepada kami, sehingga kami dapat melihat wajah Tuhan kami dengan jelas.” Mereka akan berada di kamarnya masing-masing dalam keadaan yang sangat menyenangkan dan setiap tujuh hari mereka dipersilahkan melihat wajah Allah. Itulah yang dinamakan hari tambahan karunia Allah bagi penduduk surga. (Musnad Al- Bazzar 7/289-290).
[4] Ucapan tersebut adalah ucapan Ustadz Badiuz Zaman Sa’id Nursi, 32,9.
[5] Al-Jami’ul Ahkamil Qur’ani, Al-Qurtubi 18/116.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.