Surah Fushshilat [41]: 30

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat, 30)

Kata “istiqamah” yang disebutkan dalam firman Allah di atas mempunyai arti selalu mengikuti jalan yang lurus dan kebenaran sepanjang usia seorang. Al-Qur’an menyebut kata “fastaqiimuu” yang mempunyai arti hendaknya orang-orang beriman selalu mengikuti jalan yang lurus, yaitu jalan petunjuk yang ditentukan oleh Allah menurut Al-Qur’an. Karena itu, firman Allah di atas merupakan berita gembira bagi orang-orang yang selalu mengikuti jalan lurus seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dan Allah menyuruh kita melakukan perintah istiqamah, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu.” (QS. Huud, 112)

Untuk melahirkan keistiqamahan di dalam fitrah kita, maka kita diperintah selalu istiqamah dalam perbuatan kita. Adapun istiqamah yang diperintahkan oleh Allah di dalam firman Allah di atas adalah istiqamah untuk mengikuti jalan petunjuk dari Allah, meskipun untuk melakukannya sangat sulit. Karena itu, kita diperintah oleh Allah untuk selalu istiqamah dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya semampu kita. Itulah yang diperintah oleh Allah dalam Al-Qur’an. Selain itu, Nabi Saw. juga bersabda sebagai berikut: “Apapun yang aku larang, maka jauhilah dan apapun yang aku perintah, maka kerjakanlah semampu.”[1]

Hadits Nabi Saw. di atas mengisyaratkan bahwa kita diperintahkan untuk menjauhi segala perbuatan maksiat semampunya dan melakukan segala perbuatan yang baik semampunya.

Istiqamah dapat menjamin kebahagiaan seorang di dunia dan di akhirat. Istiqamah yang disebutkan dalam firman Allah di atas merupakan dasar beritaberita gembira yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Karena kami membahas masalah ini sangat luas dan secara terperinci pada pembahasan yang sebelumnya[2], maka dalam kesempatan ini kami hanya menerangkan beberapa point saja tentang masalah istiqamah:

1- Seorang atau sekelompok orang atau suatu negara yang mengawali perjalanannya, maka keistiqamahan sangat diperlukan oleh mereka, karena orangorang yang keluar dari jalan istiqamah, maka orang-orang itu tidak akan sampai kepada tujuannya sama sekali, padahal seorang mukmin mempunyai tujuan utama dalam hidupnya, yaitu mendekatkan diri kepada Allah. Tujuan ini adalah tujuan utama bagi setiap muslim, baik secara pribadi, keluarga atau masyarakat.

Istiqamah adalah suatu pokok dasar yang tidak boleh ditinggalkan jika seorang ingin mencapai kesuksesan, baik dalam kehidupan secara pribadi atau di dalam kehidupannya di tengah umat kita. Sampaiandaikatapun ada sebagian orang yang memperlihatkan kesuksesannya dengan bohong untuk menarik orang banyak untuk berpihak kepadanya, tetapi kebenaran akan tetap nyata, karena mereka telah kehilangan sedikit demi sedikit apa saja yang mereka usahakan sejak dulu, sebagaimana mereka telah kehilangan kemampuan dan kesiapan diri. Pokoknya, istiqamah adalah modal utama bagi siapapun yang ingin berhasil mencapai tujuannya. Tetapi, seorang yang tidak pernah istiqamah dalam hidupnya, maka urusannya akan gagal dan ia mengalami kerugian, seperti yang disebutkan oleh Nabi Saw. dalam salah satu sabdanya berikut: “Surat Hud dan surat-surat lain yang semacamnya telah menjadikan rambutku beruban.”[3]

Dari sabda Nabi Saw. di atas dapat kita simpulkan bahwa beliau Saw. selalu merasa khawatir jika beliau Saw. tidak dapat mengerjakan istiqamah dengan baik. karena itu, ketika salah seorang sahabat minta diberi wasiat atau pesan yang bagus pada dirinya, maka beliau Saw. bersabda: “Katakan: “Aku beriman kepada Allah,” kemudian istiqamahlah kamu dalam hal itu.”[4]

Jika kamu terus menerus istiqamah, maka musuh-musuhmu yang hasud kepadamu menuduhmu bahwa kamu tidak akan mampu untuk selalu istiqamah, maka pada akhirnya kamu akan mencapai keuntungan berlipat ganda yang dulunya telah terlepas daripadamu. Yang penting hendaknya kamu selalu istiqamah, meskipun engkau menghadapi berbagai tantangan.

2- Jika seorang tidak dapat istiqamah dalam kehidupannya yang lurus, maka hidupnya akan selalu dipenuhi rasa ketakutan, karena ia takut jika keburukannya terungkap di hadapan orang banyak, apalagi jika ada kawankawannya ikut berbuat dosa bersamanya pada masa lalu, maka perasaan takutnya akan bertambah besar, sehingga ia menjadi orang yang takut jika perbuatan buruknya terungkap di hadapan orang banyak.

Hal itu dapat kita ikuti sebuah perumpamaan yang mengatakan : ‚ Jika para pencuri saling berbeda pendapat dengan sesamanya, maka barang yang dicuri akan terlihat atau terbukti. Pokoknya, orang yang tidak istiqamah dalam hidupnya, pasti ia akan mengalami kebingungan sepanjang hidupnya.

3- Kini marilah kita ikuti perintah Ustadz Badiuz Zaman Sa’id An-Nursi tentang seorang yang tidak istiqamah:

Ketika Ustadz Nursi mengungkapkan sebab-sebab kemunduran umat Islam, maka ia berkata: “Adakalanya umat Islam ingin berhasil sampai kepada tujuannya, untuk itu ia menggunakan berbagai cara yang salah. Padahal seorang yang ingin tercapai tujuan utamanya, maka ia tidak boleh menggunakan cara-cara yang keliru, misalnya seorang tidak akan mencapai ridha Allah atau memberi kebaikan bagi umat Islam dengan permainan politik, karena seorang yang menggunakan cara-cara yang tidak baik, maka ia telah menipu dirinya sendiri, seperti seorang tidak dapat mencapai kesehatan jika ia tidak terus menerus menjaga kesehatannya. Seorang tidak dapat mencapai kebenaran yang hakiki jika ia menggunakan cara-cara yang tidak baik. Tentang masalah ini tidak akan dapat kita temukan dalam sejarah kehidupan Rasulullah Saw. maupun dalam sejarah Islam ketika Islam masih hidup di hati para pengikutnya, karena mereka selalu mengikuti jalan petunjuk yang benar dan mereka istiqamah dalam segala sesuatunya, sehingga mereka mencapai hasil yang memuaskan hati mereka. Jika tidak dengan istiqamah, tentunya semua usaha mereka akan gagal sedikit demi sedikit dan kelak mereka akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah atas kegagalannya. Karena meskipun setiap mukmin berniat baik, tetapi ia menempuh jalan yang salah, maka pandangan orang terhadap agama Islam akan buruk, bahkan musuh-musuh Islam akan menjadikan keburukan umat Islam sebagai senjata untuk memukul atau merugikan umat Islam.

Karena istiqamah sangat erat hubungannya dengan suatu masyarakat, maka mereka harus selalu bermusyawarah dan bertukar pikiran secara luas. Karena jika umat Islam tidak selalu bermusyawarah dan tidak mau saling tukar pikiran dengan yang lain, maka mereka tidak akan meraih kesuksesan yang mereka inginkan dan kelak Allah akan minta pertanggungan jawab dari kalian. Sayangnya, kesalahan seperti ini selalu dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia dan contoh-contohnya yang terang dapat kita lihat dalam salah satu dari negara-negara Islam.

Sebagai kesimpulannya, istiqamah dalam segala sesuatu, baik dalam perasaan, pemikiran maupun perilaku sangat dibutuhkan, karena mempraktekannya termasuk salah satu syarat kesempurnaan iman seorang mukmin. Karena itu, kaum salaf saleh senantiasa berlaku istiqamah dalam segala sesuatunya. Di antara mereka ada yang menafsirkan ayat istiqamah dengan penafsiran sebagai berikut: “Setiap orang yang telah mengEsakan Allah, pasti ia tidak akan melakukan perbuatan dosa apapun.” Adapula yang menafsirkan kata istiqamah sebagai berikut: “Siapapun yang telah beriman, maka mereka tidak akan berbuat yang licik sedikitpun.” Adapula yang menafsirkan ayat istiqamah sebagai berikut: “Siapapun yang istiqamah dalam pengabdiannya kepada Allah, maka ia akan sampai kepada Allah dengan baik.” Adapula yang menafsirkannya bahwa siapapun yang selalu istiqamah menjalankan fardhu-fardhu-Nya, maka lahir batinnya akan terlihat sempurna. Demikian juga, jika seorang selalu setia kepada hawa nafsunya dan bujuk rayu setan, maka kehidupannya akan diwarnai segala perbuatan buruk sesuai dengan ajakan setan. Sebaliknya, jika seorang selalu istiqamah dalam kebaikan, maka Allah menggembirakan mereka, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya berikut:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat, 30)

Menurut sebagian penafsir bahwa turunnya malaikat dan penyampaian berita gembira itu akan diberikan bagi setiap mukmin ketika ia sedang sekarat. Adapula yang berpendapat bahwa berita gembira itu akan disampaikan setelah ia bangkit dari kematiannya. Adapula yang menafsirkan bahwa berita gembira itu akan disampaikan pada setiap mukmin ketika ia sedang menghadapi saat kematiannya dan ketika ia dibangkitkan dari kuburnya. Tidak seorangpun yang mengetahui apakah malaikat akan menyertai seorang mukmin ketika ia sekarat atau ketika ia telah dibangkitkan ? Padahal para malaikat selalu turun kepada orangorang beriman dalam segala lembaran kehidupan mereka. Karena itulah orangorang yang beriman akan hidup dalam kebahagiaan dan ketenangan. Tetapi perasaan bahagia dan ketenangan yang ada di hati setiap orang yang beriman sepanjang hidupnya perlu diterangkan secara panjang lebar ketika seorang mukmin sedang menghadapi saat kematiannya dan ketika seorang mukmin berada di alam mahsyar. Setiap mukmin akan diberi berita gembira sepanjang hidupnya ketika di dunia sampai di akhirat kelak.

[1] HR. Bukhari, Al-I’tisham 4; Muslim, Al-Hajji 412, Al-Fadhail 130; An-Nasa’i, Al-Hajji 1.
[2] Pembahasan masalah ini telah disebutkan oleh penulis buku ini dalam karya tulisnya yang berjudul At-Talalu Az-Zamrudiyah 1/116.
[3] HR. Tirmidzi, Tafsir As-Suwaru (56)6.
[4] HR. Muslim, Al-Imanu 62; Al-Musnad, Imam Ahmad 3/413,4/385.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.