Dahsyah dan Hairah

Dahsyah dan Hairah

Seorang salik penempuh jalan kebenaran yang mengembara di lembah 'isyq dan syauq terkadang akan terbakar oleh api 'isyq. Sementara yang lain akan mereguk minuman keabadian yang dihidangkan oleh sang Kekasih sehingga ia akan merasakan syauq dan kesenangan tiada tara. Ketika melakukan perjalan, ia berkata: "Wahai Kau yang menuang minuman, tuangkanlah untukku air yang terbakar oleh api 'isyq". Ketika mereka bergerak dalam kerinduan ke gerbang sang Kekasih yang terbuka, ia akan berkata: "Kau telah mencelupkan jariku ke madu 'isyq, jadi berilah aku air minum." Demikianlah ia terus meminta tambahan anugerah.

Selama salik masih terus bertafakur dalam perjalannya, gelisah terhadap dunia, dan awas terhadap jarak yang ditempuhnya; atau dengan kata lain: saat-saat ketika salik melewati batas tajalli asma` dan sifat, adalah "saat-saat" yang membuatnya mulia dengan tajalli Dzat yang Mahaagung. Sampai "saat-saat" itu, ia akan selalu merasakan api, minuman, dan rasa terbakar. Sehingga ia akan mengambil bagiannya dari balik tirai yang telah tersibak: "dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih." (QS. al-Insân [76]: 21). Ia akan terus mencari "tambahan" di lembah makrifat. Setiap kali muncul anugerah baru seperti ini, maka sebuah jendela kerinduan baru juga akan ikut terbuka. Maka mengalirlah limpahan cahaya dari setiap celah di hadapan mata sang salik, sementara hatinya terus mengolah perasaan dan pikirannya seperti sebuah piala yang merangkum segala entitas ke dalam hatinya untuk membentuk bangunan makrifat.

Ya, sebagaimana lebah membuka jalan bagi bunga untuk menjadi madu di dalam sel-sel badannya, demikian pula halnya seorang salik membawa bunga-bunga tajalliyat asma` dan sifat Ilahi ke dalam hatinya, untuk kemudian ia alirkan semua itu ke dalam sel-sel nuraninya yang lurus, sehingga membuatnya dapat merasakan seolah-olah bulu matanya copot karena matanya terkait dengan cahaya sifat-sifat Ilahi. Pada saat itu ia hanya dapat mengulang-ulang kata: "Dzat...Dzat..." karena sekujur jiwanya tegah mengalami hairah (kegamangan) dan dahsyah (ketakjuban).

Penulis Gulistan menggubah sebuah syair yang tampaknya menunjukkan bahwa dia sedang menjelaskan tentang kondisi salik antara api dan minuman diiringi alunan musik dahsyah dan hairah:

Dengan keelokanmu kau menarikku dan menuntut aku tak berdosa
Padahal api hawa mensucikan dan memerintahkan takwa
[1]
Kusaksikan Dia yang kucinta tanpa perantara
Maka aku pun alami sesuatu yang membuatku tersesat
Mengobarkan api tapi kemudian padam dengan satu guyuran
Itulah sebabnya kau lihat aku terbakar, tenggelam

Ismail Haqqi Bursawi bersyair:

Lihatlah "saqyuhum rabbuhum"[2] telah menyihir para bajik
Tujuh, lima, empat, semua mereka mabuk oleh keindahan kekal

Bursawi menunjukkan penjelasan menakjubkan kepada mereka bahwa mereka selalu mabuk. Ini adalah pandangan dari sudut lain.

Akan tetapi, ketika seorang salik berada di tengah perjalannya mengarungi lembah dahsyah dan hairah, dan ternyata ia tidak mampu menjaga hatinya agar dapat menyeimbangkan dua dimensi berbeda itu dengan baik, maka tentulah kemabukan spiritual (sukr), hilangnya kesadaran (ghaibûbah), dan hilangnya kendali atas ucapan, tindakan, dan perilaku yang akan membuatnya melanggar syariat pasti akan terjadi. Atau ketika segenap perasaannya tenggelam dalam hâl, maka logika dan akal sehatnya yang berkait dengan misykat kenabian Muhammad s.a.w. pasti akan lepas. Ketika semua itu terjadi, maka perjalanannya tidak dapat disebut lagi sebagai perjalanan yang berada di bawah naungan al-Haqîqah al-Muhammadiyyah s.a.w.!!

Betapa indahnya syair yang digubah oleh Jami yang menjelaskan tentang dahsyah dan hairah dalam sebuah rangkaian kalimat yang indah dan sekaligus benar:

Ketika para wanita Mesir melihat ketampanan Yusuf
Mereka takjub dan lupa diri sehingga memotong jari karena dahsyah dan hairah
Kalau saja mereka melihat keindahanmu wahai Cahya Mata-ku, wahai Sayyidi
Pastilah mereka akan menancapkan pisau ke jantung mereka
Ketampanan Yusuf a.s. pasti akan bungkam ketika keindahanmu disebutkan

Jika keindahan dan keelokan duniawi -yang pasti bersifat fana- saja dapat menghilangkan akal sehat manusia seperti yang dialami para wanita Mesir itu, maka apatah lagi kalau musyahadah (persaksian) dan mukasyafah (penyingkapan) atas keindahan Dzat Mahaagung terjadi. Padahal Dia merangkum semua jenis keindahan dan kesempurnaan. Sementara keindahan manusia hanyalah bayangan dari bayangan keindahan dan kesempurnaan-Nya yang terhijab dengan tuluh puluh ribu lapis tirai. Saya yakin bahwa dahsyah dan hairah seperti ini akan sulit dihadapi oleh manusia fana seperti kita ini.

Perlu Anda ketahui bahwa para dai, yang tekun berkhidmat demi Iman dan al-Qur`an, sehingga mereka mengenyampingkan semua dzauq (rasa), baik yang materi maupun non-materi, dan baik yang jasmani maupun yang rohani, pasti selalu jauh dari penglihatan dan pendengaran. Penyebabnya adalah karena mereka selalu bertawajuh untuk melakukan musyahadah atas kecemerlangan pertolongan Ilahi yang muncul pada bakti mereka terhadap keimanan. Tapi mereka tetap akan merasakan hairah dan ketakjuban. Itu semua dapat terjadi karena aktivitas yang mereka lakukan dalam bentuk pelaksanaan berbagai kewajiban imaniah, datangnya pertolongan Tuhan, dan tertutupnya diri mereka -hingga batas tertentu- dari segala sesuatu yang berada di luar dakwah, sebenarnya tidak lain adalah anugerah hairah dalam bentuk khusus yang berasal dari khazanah "nanhu qasamnâ" yang hanya diperuntukkan bagi para prajurit pembela Cahaya Ilahi.

Wahai Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya di dalam lidahku, cahaya di dalam penglihatanku, cahaya di dalam pendengaranku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di belakangku, cahaya di depanku, dan jadikanlah cahaya di atasku, cahaya di bawahku, dan limpahkanlah selawat kepada sosok yang telah Kau utus untuk menjadi cahaya bagi semesta, dan kepada seluruh keluarga serta sahabat beliau.

Hairah: kebingungan atau keheranan. Hairah menunjukkan sebuah momen sangat membingungkan ketika pikiran berhenti bekerja dan tidak mampu memecahkan atau menemukan jawaban atas kebuntuan spiritual. Lihat: Sufi Terminology, Amatullah Armstrong, 1995. Penj-

[1] Diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab oleh Muhammad al-Furati, Gulistan, Raudhah Ward 93.
[2] Lihat: QS. al-Insân [76]: 21.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.