Inbisath

Kata "inbisath" berarti "perluasan" (tawassu'), "penyebaran" (intisyâr), "kedalaman internal", dan keunggulan seseorang atas tabiatnya sendiri. Para sufi biasa mendefinisikan "inbisath" sebagai: terbuka dan ridhanya hati terhadap segala sesuatu, melalui ucapan yang baik dan wajah yang semringah, sesuai dengan batas-batas syariat. Dalam konteks hubungan dengan Allah s.w.t., "inbisath" adalah dominasi kondisi khauf dan raja` terhadap diri manusia. Kondisi ini lazim dicapai oleh para sufi. Mereka selalu menyembunyikan napas mereka di dalam wibawa hudhur (kehadiran bersama Allah). Kemudian mereka melepaskannya dalam puncak hudhur dan kesenangan. Setiap kali mereka menarik napas mereka akan merinding, dan setiap kali mereka mengembuskan napas mereka akan merasa senang.

Berdasarkan definisi di atas, kita dapat membagi inbisath menjadi dua bagian, dari aspek hubungan kita dengan manusia dan dari aspek hubungan kita dengan Allah s.w.t.:

1-Inbisath dalam hubungan kita dengan manusia: Yaitu dengan menjaga hubungan kita dengan Allah, dalam bentuk interaksi individu dengan orang lain sebagai manusia biasa seperti manusia lainnya, atau berdasarkan tingkat pemahaman dan kecerdasan mereka. Ketika berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya, Rasulullah s.a.w. tidak pernah bersikap menyusahkan. Alih-alih, beliau justru terkadang bergurau dengan mereka dan bersikap lembut terhadap mereka melalui kata-kata yang mengandung hikmah, sesuai dengan tingkat pemahaman mereka masing-masing. Beliau selalu senang terhadap orang-orang yang hidup dalam muraqabatullah (menyadari pengawasan Allah), serta menyarankan agar mereka banyak senyum, gembira (inbisath), dan lapang dada. Itu beliau sampaikan karena hati laksana cermin yang terkadang dikotori oleh kesungguhan sehingga ia hanya dapat dibersihkan menggunakan gurauan ringan yang dapat megnhilangkan kotoran tersebut." Demikian yang dinyatakan oleh pengarang kitab al-Minhaj.

2-Inbisath dalam hubungan kita dengan Allah: Yaitu berembusnya angin inbisath dalam bentuk kehidupan yang diiringi sikap khauf dan raja` di dalam jiwa, pada satu hâl yang mengungguli semua hâl. Khauf dan raja` yang termasuk hâl jiwa adalah dua tanda atas hubungan para pemula atas hubungan mereka dengan Allah. Adapun inbisath yang menjadi hâl para ahli makrifat sejati adalah sebuah dimensi lain dari kehidupan hati yang merupakan sebuah kondisi istimewa yang hanya dimiliki para spiritualis (arbâb al-qulûb). Kondisi orang-orang yang tidak pernah mencapai inbisath tapi tampak seperti inbisath, meski mereka memiliki kelembutan makrifat, namun mereka sering terseret kepada penghancuran sikap mawas diri dan ketidakpedulian yang merupakan bentuk adab yang buruk di hadapan Allah s.w.t..

Inbisath tampak pada maqam di mana seseorang menjadi cermin yang merefleksikan asma dan sifat-sifat Allah yang mulia. Itu terjadi setelah ia terbebas dari berbagai bentuk keinginan jasmani dan hasrat fisik. Adalah sama saja apakah kita menggunakan istilah derajat "al-jam'" (penyatuan) atau "al-mahw" (penafian diri) untuk menyebut maqam yang satu ini. Karena hasilnya sama saja, yaitu sebuah titik yang mengandung banyak rahasia, di mana di situ seorang hamba akan terbentuk oleh embusan dari Allah s.w.t. dan dia akan terwarnai oleh berbagai warna yang luhur. Ketika para al-wâshilûn (orang-orang yang sampai) berhasil sampai di titik ini, maka mereka sama sekali tidak dapat menyembunyikannya. Sedangkan yang dikatakan oleh para al-mubtadi`ûn (pemula) -yang belum sampai di titik ini- tentang inbisath sebenarnya adalah sesuatu yang memalukan.

"Sesungguhnya setiap teman Sultan selalu memberi petunjuk dan bersikap lapang (inbisath). Jadi janganlah Anda bangkit ketika berdekatan dengannya, karena Anda tidak memiliki tugas seperti itu. Wahai Anda yang tidak mampu menyelamatkan diri dari ikatan alam fana ini, hendaklah Anda tahu arti dari al-mahw (penafian diri), al-sukr (ekstase), dan inbisath!"

Sungguh tenteramlah rohmu wahai Maulana Rumi. Karena bagaimana mungkin para penyembah badan dan jasad dapat mengenal roh?! Bagaimana mungkin para orang rohani penguasa laduni dapat mengenal mereka yang terperangkap oleh tubuh?!

Hendaklah ditanya orang-orang yang hati mereka dipanggang api kebenaran Allah s.w.t. lima puluh kali, tentang nyeri akibat kalbu yang terbakar dan kelapangan yang berkelindan dengan berbagai warna metafisik.

Wahai Allah, buatlah kami mencintai iman, hiaslah hati kami dengan iman, dan buatlah kami benci pada kekufuran, kefasikan, kemaksiatan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang lurus.

Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Sayyidina Muhammad dan segenap keluarga dan para sahabat beliau.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.