Mahabah

Mahabah (al-mahabbah) berarti "cinta" (al-hubb), hubungan batiniah, menyukai sesuatu atau seseorang. Sementara cinta yang menguasai seluruh perasaan manusia bernama "al-'isyq". Adapun cinta yang berupa hubungan yang sudah menjangkau dimensi kedalaman yang jauh disertai hasrat untuk selalu berhubungan disebut "al-syauq" atau "al-isytiyâq".

Mahabah juga didefinisikan sebagai: hubungan hati yang sejati dengan sang kekasih; kerinduan yang sangat kepada kekasih yang tidak dapat dilawan; tunduk sepenuh hati kepada sang kekasih di setiap masalah, baik yang tersembunyi maupun yang tampak; atau, memperhatikan keinginan yang dicintai (al-mahbûb) dan hilangnya pecinta (al-muhibb) dari dirinya sendiri termasuk ketika sedang memadu kasih. Kita dapat mengembalikan semua yang disebut di sini ke satu titik, yaitu: Kepatuhan di saat mengalami al-hudhûr al-ilâhiy serta meninggalkan semua keresahan dan berbagai bentuk hubungan yang fana seraya mengulang-ulang lafal: "Ya Haqq!".

Mahabah yang sejati sebenarnya terwujud ketika seorang manusia bertawajuh dengan segenap dirinya kepada Allah yang dicintai (al-mahbûb) lalu mengalami baqâ` dengan-Nya, yang disertai dengan pengetahuan tentang-Nya dan keterlepasan dari segala keinginan dan tuntutan lain. Itulah sebabnya, seseorang yang mendapatkan anugerah yang satu ini akan melewatkan setiap waktunya dengan perhatian batu terhadap sang Kekasih. Khayalannya selalu menerawang ke alam sang Kekasih yang menakjubkan. Perasaannya selalu mencermati berbagai pesan dari-Nya, untuk kemudian kehendaknya dicocokkan dengan pesan-pesan tersebut. Hatinya selalu menikmati hubungan dengan sang kekasih.

Seorang pecinta yang seluruh dirinya sudah terengkuh oleh sayap-sayap cinta dan berhasil mencapai Tuhannya dalam dimensi 'isyq dan syauq ketika ia melaksanakan hak-hak sang Penguasa hatinya, dengan segenap anggota tubuh lahiriahnya dan emosi batiniahnya, hatinya pasti akan selalu sibuk dengan sang Kekasih tanpa ada putusnya, hasratnya akan selalu terbakar oleh "subuhât wajh al-Haqq" (Tasbih Wajah al-Haqq)[1] dalam kegamangan dan ketakjuban, sementara di bibirnya melekat cawan 'isyq. Ketika satu persatu tirai al-Ghaib al-Wahid tersibak di hadapannya, sehingga membuatnya mabuk karena menelaah berbagai makna yang muncul dari balik tirai-tirai tersebut, ia akan merasakan musyahadah yang tak terperi.

Ketika ia berjalan, ia akan berjalan dengan perintah Allah al-Haqq s.w.t.. Ketika ia berhenti, ia akan berhenti dengan perintah Allah al-Haqq s.w.t.. Ketika ia bicara, ia akan bicara dengan anugerah dari Allah. Ketika ia diam, ia akan melakukan itu demi Allah. Terkadang ia berada di tengah cakrawala "billâh", terkadang ia berada di tengah cakrawala "minallâh", dan terkadang ia berada di tengah cakrawala "ma'allâh".

Ya, ketika mahabah dinisbahkan kepada Allah al-Haqq s.w.t., maka itulah ihsan. Jika ia dinisbahkan kepada makhluk, maka itulah ketundukan, ketaatan, dan kepatuhan. Apa yang dikatakan oleh Rabiah al-Adawiyah berikut ini memiliki arti penting dalam menampilkan pengertian semacam ini:

Kau bermaksiat kepada Tuhan, padahal kau tunjukkan cinta-Nya
Ini demi umurku, adalah sebuah perbuatan yang hebat
Kalau memang cintamu tulus, kau pasti taat pada-Nya
Sesungguhnya pecinta selalu taat kepada yang dicintainya[2]

Mahabah memiliki dua pilar, yaitu:

1-Pilar lahiriah; yaitu keinginan untuk meraih ridha Allah sang al-mahbûb setiap saat.

2-Pilar batiniah; yaitu ketertutupan sempurna atas apa yang tidak memiliki hubungan dengan sang Tercinta dalam dimensi internal-batinnya.

Para sufi selalu mendefinisikan mahabah dalam pengertian yang kedua. Mereka menganggap bahwa hubungan yang hanya mengejar kenikmatan dan manfaat tertentu -bahkan termasuk ketika itu muncul secara maknawi- bukanlah mahabah. Kalau pun bentuk cinta seperti ini ingin disebut mahabah, maka cinta jenis ini hanya dapat disebut dengan istilah mahabah majazi (al-mahabbah al-majâziyyah).

Namun selain itu, perlu Anda ketahui bahwa mahabah sejati (al-mahabbah al-haqîqiyyah) juga tidak muncul sama pada setiap orang yang memiliki rasa cinta kepada Allah. Mahabah ada beberapa macam, sebagai berikut:

1-Mahabah kaum awam.

Yaitu mahabah yang selalu naik-turun. Mereka yang memiliki mahabah jenis ini selalu memiliki pandangan baik di bawah naungan Nur Muhammad (al-haqîqah al-muhammadiyyah). Mereka selalu melihat tanda-tanda yang dapat menunjukkan terbitnya fajar makrifat. Di tempat lain, mereka selalu takjub pada gemerlap kegaiban dan merasakan getaran luar biasa dari jauh.

2-Mahabah kaum khawâsh.

Mereka adalah seperti muara yang melekat pada dimensi mahabah, karena mereka menghabiskan umur mereka dengan kedalaman dalam mengimplementasikan akhlak Rasulullah s.a.w. dalam cakrawala al-Qur`an yang terang, di tengah impelementasi yang mereka lakukan. Bahkan mereka tidak mencari dzauq. Ketika mereka teguh dalam pelaksanaan kewajiban mereka dengan cara terbaik, mereka menundukkan sayap-sayap tawaduk ke bumi seperti pepohonan yang diberati ranting-rantingnya seraya menyenandungkan nama "al-Habîb". Ketika mereka terguncang oleh kesalahan, kerugian, dan kegagalan, mereka akan menekuk leher mereka untuk melakukan muhasabah yang ketat.

3-Muhasabah khawâsh al-khawâsh.

Mereka adalah seperti awan pekat yang mengandung hujan di langit ajaran Muhammad. Dengan mahabah itulah mereka merasakan entitas, dengan itulah mereka hidup, dengan itulah mereka melihat, bahkan dengan itulah mereka bernapas; dalam sebuah daur berkesinambungan yang tidak berujung terdiri dari imtilâ` (pengisian) dan ifrâgh (pengosongan). Ketika mereka mengisi (melakukan imtilâ`) diri mereka menggunakan mahabah itu, maka mereka mengisinya dengan kerinduan, nestapa, dan kedekatan hubungan. Ketika mereka mengosongkan (melakukan ifrâgh), mereka menunggangi cahaya yang membawa mereka turun ke bumi untuk bersikap santun terhadap semua makhluk, baik yang makhluk hidup maupun benda mati.

Ketika terdapat perbedaan dalam tingkatan mahabah, maka kita akui bahwa tawajuh kepada Allah dengan 'isyq dan syauq memang diterima sesuai dengan kualitas hubungan masing-masing orang.

Kelompok pertama menemukan rahmat dan pertolongan yang khusus untuk mereka dari Allah.

Kelompok kedua mencapai ufuk pengetahuan sifat-sifat keagungan dan keindahan, sehingga mereka selamat dari kegelapan manusiawi.

Kelompok ketiga meraih cahaya dengan keberadaan Allah s.w.t.. Mereka selalu memperhatikan hakikat segala sesuatu serta menghubungkan berbagai keterkaitan dengan hal-hal yang ada "di balik tirai".

Penjelasan ini bermakna bahwa pertama-tama Allah s.w.t. ber-tajalli dengan "subuhât al-wajh" (Tasbih Wajah-Nya),[3] kemudian Dia akan membakar dan meremukkan semua sifat jasmani-kegelapan yang dimiliki siapapun yang mencintai-Nya. Kemudian Dia pun menarik mereka dengan cahaya keindahan-Nya untuk masuk ke dalam lingkaran sifat-sifat-Nya yang mulia seperti al-sam' (Mahamendengar) dan al-bashar (Mahamelihat), sehingga dengan itu Allah mengubah setetes air menjadi lautan dan mengubah titik cahaya menjadi matahari. Atau Dia mengingatkan mereka pada kelemahan dan kefakiran yang ada di dalam diri mereka, mengantarkan mereka kepada ketundukan mereka pada ketiadaan mereka, serta mengisi hati mereka dengan cahaya wujud dzat Ilahi.

Seorang pecinta yang menerima anugerah ini akan sampai pada kehidupan abadi yang tidak dapat dijelaskan oleh konteks ada dan tiada. Itulah sebabnya terkadang mereka meracau atas apa yang mereka rasakan dengan kata-kata yang bercampur-aduk dengan paham hulûl (inkarnasi) dan ittihâd (penyatuan), seperti besi yang merah membara karena dibakar api sembari menyangka bahwa itu adalah api, lalu berkata: "Aku adalah api." Padahal itu bukanlah api. Dalam posisi seperti ini, kehati-hatian, keterjagaan, dan menjadikan Sunah Rasulullah sebagai tolok ukur, harus menjadi dasar. Adapun para sufi yang dikuasai oleh hâl yang membuat mereka terlimpahi oleh anugerah musyahadah. Terkadang mereka melafalkan berbagai hal yang menyimpang dari hakikat ini. Dalam kondisi seperti ini, harus dilakukan penelitian secara adil tentang niat mereka tanpa kita boleh gegabah dalam menetapkan hukum atas perbuatan mereka itu. Karena kalau itu tidak kita lakukan, maka bisa jadi kita sedang mengobarkan permusuhan -tanpa kita sadari- terhadap orang-orang yang sudah mencapai kebersamaan dengan Allah (al-ma'iyyah al-ilâhiyyah). Bisa jadi mereka sebenarnya sedang mengalami apa yang disebutkan oleh hadits: "Manusia bersama orang yang dicintainya."[4] Padahal Allah telah menyatakan perang terhadap siapapun yang memusuhi para wali-Nya, seperti yang dinyatakan dalam hadits qudsi: "Siapapun yang memusuhi wali-Ku, maka aku nyatakan perang terhadapnya."[5]

Wahai Allah buatlah kami mencintai keimanan dan hiasilah ia di dalam hati kami; buatlah kami membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan, serta jadikanlah kami termasuk orang-orang yang lurus.

Limpahkanlah selawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad sang Pemimpin para Mursyid, dan kepada segenap keluarga serta sahabat beliau.

[1] Maksudnya: tajalli cahaya keagungan Allah.
[2] Syi'b al-Îmân, al-Baihaqi 1/386.
[3] Maksudnya: tajalli cahaya hakikat.
[4] Al-Tirmidzi, al-Zuhd 50.
[5] Al-Bukhari, al-Riqâq 38.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.