Ridha

Ridha

Ridha adalah: tidak terguncangnya hati seseorang ketika menghadapi musibah dan mampu menghadapi manifestasi takdir dengan hati yang tenang. Dengan kalimat lain, ridha adalah: tetapnya organ hati dalam ketenangan dan ketenteraman ketika mengalami sesuatu yang akan membuat orang lain kesakitan. Berhubungan dengan ini, terdapat sebuah penjelasan lain, yaitu bahwa ridha adalah: ketenangan hati dan ketenteraman jiwa terhadap ketetapan dan takdir Allah s.w.t., serta kemampuan menyikapinya dengan tabah, termasuk terhadap derita, nestapa, dan kesulitan yang muncul darinya yang dirasakan oleh jiwa kita.

Jalan menuju ridha pada awalnya bersifat intensional (berdasarkan niat dan keinginan individu yang bersangkutan). Tapi pada tahap selanjutnya ia merupakan hadiah Ilahiah yang berada di atas kehendak dan ikhtiar manusia, karena ia merupakan anugerah dari Allah al-Haqq s.w.t. bagi orang yang dicintai-Nya. Itulah sebabnya, di dalam al-Qur`an dan Sunnah Nabawiyah tidak ada perintah lain yang seperti perintah sabar. Bahkan sabar diingatkan Allah seperti layaknya sebuah wasiat.[1]

Sebenarnya, sebuah ungkapan yang dianggap sebagai hadits yang berbunyi: "Siapapun yang tidak ridha kepada ketetapan-Ku dan tidak mau sabar atas bala`-Ku, hendaklah ia mencari tuhan selain Aku,"[2] ternyata cacat jika diteliti menggunakan kaidah-kaidah hadits. Sebagian ulama berpendapat bahwa ridha termasuk bagian dari maqam, dan ia yang menjadi ujung dari tawakal dan taslîm. Sementara ulama lain berpendapat bahwa ridha tidak bersifat kasbiy (intensional), tapi ia dapat datang dan pergi sewaktu-waktu sebagaimana yang dialami para salik pada umumnya. Sementara ulama lain, termasuk di antaranya adalah Imam al-Qusyairi menyatakan bahwa awal dari ridha bersifat muktasab (intensional), tetapi ujungnya merupakan bagian dari hâl yang tidak termasuk muktasab."[3]

Adapun hadits yang shahih diriwayatkan dari Rasulullah s.a.w. berbunyi: "Kenikmatan iman akan dirasakan oleh orang yang ridha kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul."[4] Rasulullah menunjuk kepada prinsip ridha iradiy (intensional) yang berhubungan dengan usaha hamba yang bagian ujungnya adalah anugerah Ilahi yang berhubungan dengan kehendak khusus dari Allah s.w.t..

Keridhaan terhadap ke-uluhiyah-an Allah s.w.t. adalah melalui mahabah, takzim, dan tawajuh kepada-Nya, serta memohon segala sesuatu hanya kepada-Nya semata. Keridhaan terhadap ke-rububiyah-an Allah s.w.t. adalah dengan menerima segala yang ditakdirkan-Nya kepada kita dengan lapang dada, tidak bersikap buru-buru ketika musibah baru terjadi yang terasa menyakitkan, bersikap diam ketika musibah sudah berlalu, menjaga iman dan tawakal kepada Allah dalam berinteraksi dengan para hamba Allah, serta bersikap tenang atas semua tindakan dan takdir Allah s.w.t..

Yang dimaksud dengan keridhaan terhadap kerasulan Muhammad s.a.w. adalah dengan sepenuhnya mengikuti Rasulullah s.a.w., berserah diri secara mutlak kepada ajaran yang beliau sampaikan, mengutamakan petunjuk beliau di atas hawa nafsu, menyerahkan dominasi logika dan akalnya kepada perintah Rasulullah, serta menjadikan kecerdasan sebagai cermin bagi sifat fatanah yang dimiliki Rasulullah yang luas dan selalu berada di dalam bimbingan wahyu Ilahi dengan senantiasa menghadap kepada yang pokok, bukan kepada yang bayangan.

Adapun yang dimaksud ridha terhadap Islam dapat kita temukan dalam ayat: "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali Imran [3]: 85); yaitu dengan menjadikan agama sebagai sesuatu yang hidup bagi kehidupan individu, keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Terkadang, dalam rangka membentuk sikap ridha seperti ini, pada waktu dan kondisi tertentu muncullah sikap untuk menyendiri dengan menjalankan hidup terasing, meski secara fisik tetap berada di tengah masyarakat. Padahal sebenarnya, orang-orang yang telah sampai pada derajat "kebersamaan dengan Ilahi" (al-ma'iyyah al-ilâhiyyah) yang berjalan di atas ajaran Rasulullah s.a.w. tidak pernah hidup menyendiri atau pun mengasingkan diri. Karena memang tidaklah dibenarkan untuk mengasingkan diri orang-orang yang hidup di dalam "kedekatan dengan Allah". Meski memang pengasingan diri yang dilakukan sementara waktu dapat mendekatkan mereka kepada Allah ta'ala. Jadi, Anda tidak perlu mengasingkan diri sama sekali dari masyarakat. Setiap kali mereka mengasingkan diri, maka mereka akan merasakan ketenangan karena menerima embusan angin keabadian. Itulah sebabnya kita sering mendengar mereka berdoa: "Wahai Allah, tambahlah keterasinganku dan jangan perosokkan aku ke dalam kezaliman yang menjauhkan aku dari-Mu. Turunkanlah kebersamaan-Mu ke dalam hatiku."

Sebagaimana yang barusan kami sebutkan bahwa pada hakikatnya ridha adalah sebuah anugerah Ilahi yang sebab-sebabnya bergantung pada kehendak manusia. Oleh karena itu, maka seseorang tidak akan dapat mencapai ridha kecuali hanya dengan kedalaman iman, kesungguhan dalam beramal, dan keluasan kesadaran untuk berbuat baik, yang dalam perjalanannya akan menjadi bagian dari sikap tawakal, taslîm, dan tafwîdh.

Oleh karena pencapaian ridha begitu mulia dan menggapainya menggunakan kehendak manusia amatlah sulit, maka Allah tidak pernah memerintahkan hal itu secara langsung, tetapi Dia hanya menyampaikan pesan, saran, serta memuji orang-orang yang berhasil mencapai derajat ridha dan meninggikan kedudukan mereka.

Jika kita melihat masalah ini dari perspektif asbâb (ikhtiar manusia), maka pencapaian derajat ridha menuntut adanya kesungguhan dalam interaksi yang dilakukan seorang hamba dengan Tuhannya, dengan menjadikan nikmat-nikmat -yang melimpah kepadanya tanpa dia harus meminta- sebagai media untuk bersyukur, tahadduts bi-ni'mah (menyampaikan nikmat Allah kepada orang lain), menghadapi berbagai kekurangan dengan lapang dada, melaksanakan tanggung jawabnya dengan ketenangan termasuk ketika berada di bawah kondisi terasing atau menyendiri, menerima seluruh perintah serta larangan Allah dengan senang hati seperti layaknya orang yang menerima undangan untuk melewati "malam pertama", dan berbagai dasar lain yang semacam itu. Hanya saja, soko guru terpenting bagi sifat ridha jika dilihat sebagai prinsip adalah: tawajuh kepada Allah dalam berbagai kondisi dengan segenap perasaan, pikiran, perilaku, perhatian, kelapangan dada, dan ketelatenan untuk menemukan jalan baru setiap hari agar dapat mencapai makrifat uluhiyyah yang lebih dalam.

Ridha dan mahabah memiliki urgensi di masa depan di bahkan di akhirat, karena kedua hal itu memang mencakup dunia dan akhirat. Hal ini berbeda dari khauf dan raja` yang hanya berpengaruh terhadap manusia di dunia. Karena khauf dan raja` perlu ada untuk menangkal munculnya perasaan aman dari azab Allah. Jadi di akhirat, yang ada hanyalah buah dari kedua sifat ini.

Ridha adalah sumber penting bagi ketenangan, baik di dunia maupun di akhirat. Tapi hal itu tidak berarti bahwa orang-orang yang telah mencapai derajat ini telah selamat sepenuhnya dari berbagai nestapa dan penderitaan. Karena di jalan ridha terdapat hal-hal yang akan tampak dari luar sebagai sesuatu yang tidak disukai. Hanya saja para pencari ridha akan melihat semua itu sebagai rahmat. Merekalah yang berhasil mengubah racun yang mereka minum sebagai obat yang menjadi pelipur bagi kerinduan mereka kepada sang Kekasih serta menjadi jalinan cinta yang menguntungkan antara mereka dengan Allah s.w.t..

Sebenarnya, jalan ridha adalah jalan yang paling singkat dan paling aman, meski ia berisi banyak kesulitan dan kesusahan. Tapi jalan inilah yang terkadang dapat mengantarkan manusia dalam satu kali gerakan atau embusan, menuju puncak kesempurnaan sebagai manusia. Hal seperti ini tetap dapat terjadi baik ketika sang salik bergerak dari satu arah ke arah lainnya dengan segenap kekuatan dan semangatnya, maupun ketika sang salik menelaah alam semesta sebagai sebuah buku yang selalu terbuka di hadapannya, sehingga ia selalu menghirup napas yang diembuskan Allah dalam segala sesuatu, dan juga ketika sang salik sedang putus harapan karena terkepung berbagai hal rumit yang tak terpencahkan sehingga ia hanya dapat menggerakkan niatnya untuk mencapai tujuan. Jadi ketika ia berada di rumahnya sembari duduk di atas kursi, namun ia tetap bercita-cita untuk mewujudkan tujuannya yang luhur.

Buah dari ridha adalah munculnya kesenangan dan ketenangan menakjubkan yang berembus dari keridhaan Allah s.w.t. yang berpadu secara langsung dengan besarnya cita-cita dan harapan yang dimiliki seorang hamba. Semua ini bukanlah dzauq yang muncul disebabkan kedekatan dengan Allah, dan bukan pula kelezatan yang muncul disebabkan banyak ibadah dan ketaatan. Bahkan ia juga bukan kenikmatan spiritual yang muncul setelah kemenangan menaklukkan dosa. Tetapi ini adalah kenimatan spiritual yang diwarnai oleh harapan dan harapan mendalam yang terpatri dengan keteguhan hati dan sikap mawas diri. Inilah salah satu bentuk rahmat Ilahi, yaitu berupa tuntunan langsung dari Allah ta'ala bagi sang salik menuju maqam ridha.

Derajat ridha, sebagai bentuk mengarahkan segenap pandangan kepada Allah al-Haqq s.w.t., yang peraihannya menjadi jalan menuju kenikmatan, dzauq, dan anugerah, akan menumbulkan berbagai macam perenungan dan sikap tidak menghormati atau meremehkan maqam yang dilandasi oleh kejernihan dan ketulusan ini. Pada kenyataannya, kita dapat melihat kondisi semacam ini di seluruh hâl dan maqam yang telah kami sebutkan sebagai bagian dari aktivitas hati. Ya, cinta kepada Allah dan pencarian tanpa henti terhadap keridhaan-Nya di setiap saat, seyogianya dilakukan hanya untuk Allah semata dan bukan disebabkan hal selain Dia.

Para pahlawan dalam dunia spiritual sejak zaman dulu sampai sekarang telah melontarkan banyak pernyataan yang senada seputar ridha. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

Dzun Nun al-Mishri menyatakan: Tanda-tanda ridha ada tiga: 1)Tindakan sang hamba meninggalkan keinginannya karena mengutamakan keinginan Allah s.w.t. sebelum ia melakukan sesuatu; 2)Pengetahuan sang hamba bahwa yang terbaik adalah yang dipilih oleh Allah setelah ia melakukan suatu; dan 3)Tidak gelisah serta tetap mencintai Allah ketika sang hamba berada di tengah musibah.[5]

Husein bin Ali r.a. berkata bahwa ridha adalah: "Tindakan sang hamba meninggalkan segala sesuatu yang menyimpang dari kehendak dan pilihan Allah, serta tidak mengharapkan apapun selain Dia."[6]

Abu Utsman berpendapat bahwa ridha adalah: Menerima penyingkapan (tajalliyât) keindahan dan keagungan Allah dengan tenang, serta menerima keagungan sebagai inti keindahan, dan menerima keindahan sebagai inti rahmat.[7] Itulah sebabnya Rasulullah s.a.w. berdoa kepada Allah: "...dan aku memohon ridha kepada-Mu setelah qadha."[8]

Ya, sesungguhnya ridha yang sesungguhnya adalah ridha terhadap qadha dan ketetapan Allah s.w.t.. Adapun jika sikap seperti itu belum ada, maka itu hanya dapat disebut sebagai "keinginan untuk ridha". Ridha yang sesungguhnya adalah sikap ridha dan tabah ketika musibah terjadi.

Berikut ini kami akan menyampaikan beberapa poin yang dapat kita tarik dari penjelasan mengenai ridha di atas:

1-Tidak gelisah terhadap ketetapan atau takdir apapun yang berasal dari ke-uluhiyah-an dan ke-rububiyah-an Allah s.w.t..

2-Menyikapi segala hal yang berasal dari Allah dengan lapang dada dan senang hati.

3-Sigap mengikuti arah angin qadar, kemana pun ia berembus.

4-Cakap menjaga stabilitas dan keseimbangan hati, termasuk ketika menghadapi kondisi paling sulit.

5-Tidak menderita ketika tertimpa musibah, sembari tetap merenungi takdir Allah yang telah tertulis di Lauh al-Mahfûzh.

Demikianlah yang kami sampaikan, meski sebenarnya kita dapat melanjutkan pembahasan tentang beberapa hal lain yang menjadi dasar sekunder dari sifat ridha. Hanya saja kami cukupkan pembahasan ini sampai di sini, agar tulisan ini tidak terlalu panjang.

Ridha bagi kaum awam adalah: Sikap tidak menolak takdir Ilahi yang ditetapkan terhadap mereka.

Ridha bagi mereka yang telah mencapai kedalaman dalam makrifat adalah: Menerima qadha dan takdir Allah dengan lapang dada.

Adapun ridha bagi para spiritualis (arbâb al-qulûb wa al-rûh) yang telah menaklukkan diri mereka sendiri adalah: Tunduk dan bertawajuh hanya kepada Allah, sembari memalingkan pandangan dari diri sendiri.

Allah berfirman: "Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. al-Fajr [89]: 27-30). Ayat ini mengandung semua tahapan dan sekaligus menjadi jawaban bagi beberapa hal yang kurang lebih mengarah pada semua tahapan tersebut.

Ya, dari ayat ini dapat dipahami bahwa tercapainya derajat ridha berkaitan erat dengan kualitas tawajuhnya jiwa kepada Allah s.w.t.. Tawajuh ini tidak dapat diukur berdasarkan hubungan kita dengan waktu, tempat, dan dimensi-dimensi duniawi serta ukhrawi kita, melainkan hanya dapat diukur menggunakan tajalli-Nya Allah s.w.t. dan tawajuh kepada-Ny yang berada di luar jangkauan waktu dan tempat. Oleh sebab itu kita dapat mengatakan bahwa tawajuh ini akan ber-tajalli dengan dimensi-dimensi kelembutan Tuhan. Adapun di dunia, ia akan muncul dalam bentuk tawakal, taslîm, dan tafwîdh. Sementara menjelang kematian seseorang, ia akan muncul dalam bentuk ketenangan hati, dan inbisâth[9]kepada Tuhan yang Mahamulia. Dan setelah kebangkitan nanti, ia akan muncul dalam bentuk posisi di antara hamba-hamba Allah yang saleh serta kesempatan untuk masuk surga.

Jika kita menggunakan perspektif lain untuk mendefinisikan ridha kaum awam, kita dapat menemukan bahwa yang dimaksud ridha adalah: Kesediaan untuk menerima ke-rubiyah-an Allah dengan lapang dada; menutup rapat-rapat dari semua yang selain Allah, baik dalam bentuk pencarian maupun dalam bentuk tawajuh; dan mewujudkan kehidupan di sekitar makna ayat: "Katakanlah: 'Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu'." (QS. al-An'âm [6]: 164); dan ayat: "Katakanlah: 'Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?'." (QS. al-An'âm [6]: 14).

Ridha dengan pengertian seperti ini memiliki urgensi yang sangat penting bagi setiap mukmin, karena ayat ini juga mengandung prinsip tauhid yang hakiki. Ridha pada taraf ini akan terwujud dengan terbentuknya cinta kepada Allah (mahabbatullah) di dalam hati, sehingga tidak ada lagi tempat yang tersisa di hati untuk cinta kepada yang selain Dia. Bahkan kalaupun ada cinta kepada yang selain Dia, maka itu dilakukan demi Allah dan di jalan Allah, sehingga cinta tersebut menjadi salah satu bentuk ibadah kepada Allah s.w.t..

Ridha pada derajat kedua adalah ridha miliki para ahli makrifat. Ridha tingkat ini sering juga disebut dengan istilah "Ridha 'Anillâh", yaitu: Sikap menerima qadha dan qadar dengan lapang dada, tanpa meninggalkan celah sedikitpun bagi kemungkinan munculnya penyimpangan pada "jarum kompas" hati meski hanya sekejap.

Jika ridha derajat pertama dianggap sebagai gerak mendekat yang dilakukan kaum awam menuju sifat ridha, maka ridha derajat yang kedua ini dianggap sebagai aktivitas hari yang telah siap untuk ber-makrifat bersama Allah al-Haqq s.w.t..

Adapun ridha derajat yang ketiga adalah ridha-nya orang-orang suci (al-ashfiyâ`) yang definsinya sering dituangkan dalam ungkapan yang berbunyi: "ridha dengan ridha-Nya Allah s.w.t.".

Siapa saja yang telah mencapai maqam ini, maka ia tidak akan marah atau kesal demi dirinya sendiri. Sebagaimana ia juga tidak akan gembira atau tenang demi dirinya sendiri. Tetapi ia akan hidup dalam dzauq dan kelezatan fana` bersama Tuhannya serta kosong dari segala bentuk perasaan, pikiran, dan keinginan dirinya sendiri.

Ridha derajat pertama hukumnya adalah fardhu bagi setiap mukmin, karena ia bersifat iradiy (intensional) dan menuntun ke arah tauhid, sehingga ia menjadi prinsip di jalan pendekatan diri kepada Allah. Adapun ridha derajat yang kedua hukumnya adalah setara dengan wajib. Karena ridha tingkat kedua ini terbentuk dari ridha tingkat pertama yang dilakukan secara berkesinambungan dan sekaligus menjadi dasar bagi tingkat terakhir dari kedekatan pada Allah s.w.t.. Adapun ridha derajat yang ketiga lebih dekat sebagai anugerah Allah dibandingkan sebagai sesuatu yang bersifat kasbiy (bisa diupayakan), sehingga hukumnya adalah sunah karena ia merupakan inti dari kedekatan kepada Allah (al-qurbah).

Kita dapat mengatakan bahwa derajat terakhir dari beberapa derajat ridha seperti yang disebutkan di atas, juga mengandung unsur-unsur dari ridha derajat pertama dan kedua, karena pangkal dan dasar dari ridha adalah sang hamba yang menempuh jalan ridha dan hidup dalam atmosfer ridha. Adapun kesempurnaan ridha dan perubahan diri ke arah ridha merupakan hasil dan buah dari perjalanan itu. Dengan kata lain, kedua derajat ridha yang pertama berhubungan dengan asma dan sifat-sifat Allah ta'ala. Sedangkan derajat yang ketiga berhubungan dengan berbagai konsekuensi yang muncul dari asma dan sifat-sifat Allah tersebut berupa pahala, balasan, tajalli, anugerah, dan respon. Saya yakin bahwa ayat: "Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (QS. al-Bayyinah [98]: 8), menunjuk ketiga hal ini sekaligus. Hakikat inilah yang juga telah dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadits beliau: "Kenikmatan iman akan dirasakan oleh orang yang ridha kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul."[10]

Kita dapat melihat dari penjelasan berikut ini bahwa kita dapat memberi nutrisi kepada perasaan dan pikiran untuk mencapai ridha dengan perasaan dan pikiran, sebagaimana halnya kita juga dapat menaklukkan berbagai kesulitan yang ada di jalan yang berat ini, dan dapat meluruskan berbagai bentuk penolakan yang muncul dari ranah jasmani-duniawi hingga batas tertentu:

  • Ketika berhadapan dengan berbagai bentuk tajalliyât (penyingkapan) Allah s.w.t., manusia tidak lebih dari sekedar contoh atau penampakan yang sama sekali tidak memiliki hak untuk mengintervensi peran yang akan dilakukannya, termasuk ia tidak pula dapat mengintervensi tentang bagaimana bentuk dan rupa peran tersebut.
  • Segala yang dialami manusia sudah ditakdirkan sesuai dengan kecenderungannya sendiri sebagai sebuah ketentuan biasa, dan tidak ada yang mampu mengubahnya kecuali Allah sang Pencipta s.w.t..
  • Manusia, dengan segala yang dimilikinya, tetapkan hamba dan milik Allah. Oleh sebab itu, seorang hamba tidak mungkin mengintervensi tindakan tuannya.
  • Jika manusia mencintai Allah dengan sebenar-benarnya, maka ia harus bersikap senang dengan apapun yang ia terima, baik berupa "bunga" maupun "duri".
  • Terkadang manusia tidak dapat mengetahui hasil dari sesuatu yang menimpanya. Bisa jadi, di dalamnya terdapat kemaslahatan yang banyaknya seisi dunia. Sebuah ayat menegaskan hal ini: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. al-Baqarah [2]: 216).
  • Muslim adalah orang yang berserah diri kepada Allah. Oleh sebab itu, maka sikap marah terhadap tindakan Allah sama sekali tidak dapat dibenarkan.
  • Di atas segalanya, seorang mukmin adalah sosok insan yang selalu bersangka baik (husn zhan). Jadi bagaimana mungkin ia pantas marah terhadap tindakan Tuhannya atau bersangka buruk (su` zhan) terhadap-Nya padahal ia diperintahkan untuk bersangka baik.
  • Pandangan yang baik, pikiran yang baik, dan takwil yang baik terhadap takdir yang menimpa seseorang akan memberikan ketenangan dan ketenteraman ke dalam jiwanya.
  • Jika menunaikan tanggung jawab yang harus kita pikul di dunia atau menyelesaikan berbagai masalah yang kita hadapi, dapat menjadi dasar bagi kehidupan akhirat kita, maka bukankah kita harus melakukan semua itu dengan cinta dan kehormatan sebagaimana kita menunaikan kewajiban mengajar dan mendidik?!
  • Sesungguhnya ridha hamba dengan apa yang ditimpakan oleh Tuhannya kepadanya selalu berbanding lurus dengan keridhaan Tuhan.
  • Sesungguhnya kehidupan yang berputar bersama sifat ridha, akan memberikan kenikmatan spiritual kepada kita meski sebenarnya kita sedang kesusahan seperti berada di dalam jahanam. Sedangkan sikap tidak terima dalam menghadapi ke-rububiyah-an Allah akan menimbulkan kegelisahan, kotoran, dan kekacauan di dalam jiwa.
  • Pencarian ridha dan jalan menuju ke arahnya adalah sebuah bentuk seruan yang tidak akan menghalangi pertolongan Ilahi.
  • Jika seseorang bersikap dengki, curang, dan berakhlak busuk terhadap tindakan orang lain, maka bagaimana kiranya perasaannya terhadap tindakan Allah? Sesungguhnya sikap seperti itu kepada Allah adalah dosa yang tidak terampuni dan adab yang kita kenal sama sekali tidak membolehkan hal semacam itu.
  • Sesungguhnya ridha terhadap tajalliyât (penyingkapan) dan takdir Allah adalah jalan terpenting menuju kebahagiaan. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda mengenai hal ini: "Di antara kebahagiaan anak Adam adalah keridhaannya dengan apa yang telah Allah tetapkan terhadap dirinya. Dan di antara kesengsaraan anak Adam adalah sikapnya meninggalkan istikharah (memohon petunjuk untuk memilih yang terbaik, penj-) kepada Allah. Dan di antara kesengsaraan anak Adam adalah sikapnya yang marah kepada apa yang telah ditetapkan Allah".[11]
  • Perasaan yang dimiliki manusia berupa ridha dan lapang dada terhadap tindakan Allah, akan mengisi hatinya dengan embusan sejuk Ilahi yang luhur. Sedangkan kemarahannya adakan mengisi hatinya dengan syak-wasangka setan.
  • Orang-orang yang hidup di tengah cakrawala ridha, seakan-akan mereka membuat hidup mereka sebagai helai kain indah kesyukuran. Sedangkan orang-orang yang tidak memiliki sifat ridha, selalu menghancurkan semua amal mereka -termasuk amal terbaik- di dalam gilingan kekufuran hingga membuat amal-amal itu remuk dan sirna ditiup angin.
  • Sifat tidak ridha atau marah terhadap tindakan Allah s.w.t. adalah lubang yang paling banyak digunakan setan untuk mempengaruhi manusia, sehingga amat sedikit dari mereka yang memiliki kondisi jiwa seperti itu yang berhasil menyelamatkan diri.
  • Cukuplah menjadi kemuliaan bagi Anda jika para penghuni langit dapat ikut bersama-sama Anda bersikap ridha dan lapang dada terhadap tindakan Allah terhadap diri Anda.
  • Orang yang ridha adalah orang yang selalu mengikuti hidayah. Sementara orang yang marah atau tidak ridha adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsu.
  • Orang yang ridha terhadap hukum Allah terhadap kita semua adalah orang yang sanggup memprioritaskan keinginan Allah di atas keinginan pribadinya. Jadi apakah ada seruan untuk melakukan yang sebaliknya?!
  • Sesungguhnya semua bentuk ketaatan dan ibadah merupakan buah dari ridha, sedangkan kemaksiatan adalah buah dari penolakan terhadap sifat ridha.
  • Ridha akan membangkitkan pembangkangan terhadap Allah di dalam diri manusia. Tentu saja tidak perlu dijelaskan lagi betapa busuknya perilaku orang yang melakukan itu.
  • Sesungguhnya sikap ridha terhadap Allah al-Haqq s.w.t. merupakan implementasi dari iman dan penghormatan terhadap Allah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w.: "...adil bagiku segala ketetapan-Mu".[12]
  • Kemaksiatan pertama yang dilakukan terhadap Allah di muka bumi dimulai dari sikap ketidak-ridha-an setan terhadap takdir yang ditetapkan pada dirinya.
  • Tidak ada derajat lain bagi manusia yang lebih tinggi daripada derajat ridha. Seandainya ada derajat yang lebih tinggi daripada derajat ridha, Allah pasti akan menurunkan orang-orang yang mencintai derajat itu setelah mereka menerima "al-husnâ" (kebaikan). Padahal, nikmat abadi yang tidak pernah ada habisnya adalah "Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar." (QS. al-Taubah [9]: 72).
  • Ridha didirikan di atas dasar-dasar agama yang penting. Ridha disandarkan pada tawakal, ia dapat terbang menggunakan sayap-sayap yakin, kandungannya yang abadi diraih dengan mahabah, ragi yang mematangkannya adalah ketulusan yang benar dan sikap syukur yang nyata.
  • Ridha adalah tangga ajaib yang dapat menaikkan manusia dalam satu hentakan ke puncak kesempurnaan. Orang-orang yang mampu memanjatnya pasti akan mencapai tujuan mereka dengan cepat melampaui waktu.
  • Sifat-sifat mahabah, akhlak, inabah, dan aubah adalah bunga-bunga indah yang merekah di bawah ridha. Adalah sia-sia untuk mencari berbagai sifat luhur di dalam hati yang tidak memiliki ridha terhadap Allah s.w.t..
  • Sesungguhnya balasan dari amal perbuatan yang dilakukan menggunakan indera lahiriah amatlah sedikit, bahkan meski amal perbuatan tersebut dilakukan berlipat ganda, karena kuantitas sebuah amal akan dihitung berdasarkan bentuknya. Sementara balasan dari amalan hati seperti ridha atau amal lain yang mengandung ridha berbanding lurus dengan kelapangan hati, dan itu semua berada di luar imajinasi manusia.

Ridha adalah derajat yang paling tinggi di sisi Allah s.w.t., tapi derajat yang paling tinggi adalah sifat yang sama dengan orang-orang yang berada pada maqam tertinggi. Garis penghubung antara Rasulullah s.a.w. dan para nabi yang lain ('alaihim al-salâm) serta para orang suci dan wali-wali. Semua individu yang mencapai puncak itu selalu berlomba dalam keikhlasan, yakin, tawakal, taslîm, dan tafwîdh, demi mencapai tujuan.

Betapa beratnya mereka memikul beban, kesusahan, dan derita. Berapa seringnya mereka menghadapi derasnya aliran sungai darah dan luka-luka demi mencapai tujuan itu!

Berikut ini adalah sebuah syair yang menunjukkan kesulitan yang berujung pada ridha:

Wahai kekasih, keterasinganmu lebih manis
daripada kebahagiaan dan kehormatan
Pembalasanmu lebih kusukai daripada ketenangan
Sungguh aku sangat rindu pada siksa dan kasih-Nya
Betapa aneh, karena aku merindukan yang berlawanan
Demi Allah akau kau pergi dari durinya nestapa
Inilah taman kejerninah yang bernyanyi seperti bulbul
Betapa menakjubkan setiap bulbul membuka mulut
Lalu bersenandung: duri...! taman...![13]

Penyair Nasimi menggubah syair indah mengenai hal ini:

Aku tidak akan meninggalkanmu wahai kekasih
Karena aku adalah perindu yang sengsara
Kalau kau cincang hatiku, aku tetap takkan tinggalkanmu
Meski mereka membelah tubuhku seperti Zakariya dari kepala sampai kaki
Hai tukang kayu, kalaupun kau letakkan gergaji di kepalaku, aku takkan tinggalkanmu
Meski mereka bakar aku, lalu mereka panggil abu tubuhku dari api
Aku tidak akan meninggalkanmu wahai yang bercadar

Ya, maqam ridha adalah maqam yang berada di atas maqam al-jam' wa al-farq. Napas dari maqam ini adalah: "Siksamu indah, sebagaimana kasihmu juga indah."

Wahai Allah, tuntunlah kami ke arah yang Kau sukai dan Kau ridhai. Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Sayyid al-Mardhiyyin dan kepada segenap keluarga dan para sahabat beliau yang mukhlas. Amin.

[1] Lihat: QS. al-Taubah: 62; al-Mumtahanah: 1; al-Bayyinah: 8.
[2] Al-Mu'jam al-Kabîr, al-Thabrani 22/320; al-Mu'jam al-Ausath 7/203, 8/192; Syi'b al-Îmân, al-Baihaqi 1/218.
[3] Al-Risâlah, al-Qusyairi 309.
[4] Muslim, al-Îmân 56; al-Musnad, Imam Ahmad 1/208.
[5] "Ada tiga tanda-tanda ridha: 1)Meninggalkan ikhtiar sebelum qadha; 2)Menghilangkan kepahitan setelah qadha; dan, 3)Melimpahnya cinta kepada Allah di tengah musibah." Al-Risâlah, al-Qusyairi 311. Lihat pula: Kasyf al-Khafâ`, al-Ajaluni 1/478.
[6] "Siapapun yang mengandalkan pilihan baik dari Allah untuknya, niscaya tidak akan menginginkan selain apa yang dipilihkan oleh Allah untuknya." Al-Risâlah, al-Qusyairi 311.
[7] Halaman 311, ia menyatakan: "Ridha sebelum qadha adalah keinginan untuk ridha, sementara ridha setelah qadha adalah ridha (yang sebenarnya)."
[8] Al-Nasa`i, al-Sahw 62; al-Musnad, Imam Ahmad 5/191.
[9] Definisi inbisâth akan dijelaskan pada bagian selanjutnya, penj-
[10] Muslim, al-Îmân 56; al-Musnad, Imam Ahmad 1/208.
[11] Al-Tirmidzi, al-Qadar 15; al-Musnad, Imam Ahmad 1/168.
[12] Al-Musnad, Imam Ahmad 1/452, 391.
[13] Matsnawi Ma'nawi, Maulana Jalauddin Rumi (Bahasa Persia) jilid 1, hlm. 77, bait 1570.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.