Cetak

Siapakah Fethullah Gülen?

Ditulis oleh Fethullah Gülen pada . diposting di Biografi Fethullah Gülen

Penilaian Pengguna:  / 23
JelekBagus 

Fethullah Gülen

Muhammad Fethullah Gülen lahir pada tahun 27 April 1941 di Korucuk, sebuah desa kecil di Anatolia yang berpenduduk hanya sekitar 60–70 kepala keluarga. Desa ini termasuk distrik Hasankale (Pasinler) dalam wilayah provinsi Erzurum. Leluhur Gülen berasal dari distrik Ahlat (Khalat) yang bersejarah dan termasuk dalam wilayah provinsi Bitlis yang terletak di kaki gunung. Pada zaman dulu, keturunan Rasulullah Saw. ada yang berhijrah ke Bitlis untuk menyelamatkan diri dari kezaliman penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah. Di tempat itu mereka menjadi pembimbing spiritual bagi masyarakat sehingga semangat ke-Islaman merasuk ke dalam jiwa suku-suku Turki yang tinggal di kawasan ini.

Fethullah Gülen lahir di keluarga yang sangat agamis dan sarat akan semangat ke-Islaman yang kental, dari pasangan suami-istri yang sangat taat. Kakeknya yang bernama Syamil Agha adalah sosok yang mencerminkan sikap sungguh-sungguh dan teguh dalam beragama. Sosok inilah yang memiliki ikatan sangat kuat dengan sang Cucu, Fethullah Gülen.

Ayah Gülen bernama Ramiz Gülen. Semasa hidupnya, Ramiz Gülen terkenal sebagai pribadi yang berpengetahuan tinggi, taat, dan cerdas. Tidak pernah sekali pun Ramiz Gülen melewatkan waktunya untuk melakukan sesuatu yang sia-sia. Selain itu, Beliau juga masyhur dengan kemurahan hati dan kedermawanannya.

Nenek Gülen dari pihak ayah bernama Munise Hanim. Munise dikenal sebagai seorang tokoh wanita yang sangat taat beragama dan ketaatanya itu tercermin dari kehidupannya sehari-hari.

Nenek Gülen dari pihak ibu bernama Khadijah Hanim. Dia berasal dari kalangan bangsawan yang terkenal dengan kelembutan dan kesantunannya.

Ibu Gülen bernama Rafiah Hanim. Dia adalah seorang pengajar al-Qur’an bagi kaum wanita di desanya dan terkenal dengan perangainya yang sopan dan menyukai kebaikan.

Dalam keluarga seperti ini itulah M. Fethullah Gülen tumbuh dewasa. Itulah sebabnya sejak dini Ia telah belajar membaca al-Qur’an dari ibundanya, dan ketika usiannya baru menginjak empat tahun, Muhammad Fethullah Gülen telah mampu mengkhatamkan al-Qur’an hanya dalam waktu satu bulan. Setiap tengah malam ibundanya bangun untuk menyampaikan nasehat dan mengajari Gülen bacaan al-Qur’an.

Jauh sebelum dia dilahirkan, rumah yang didiami Fethullah Gülen telah menjadi tempat berkunjung bagi banyak ulama yang tinggal di kawasan tersebut. Ramiz Gülen ayahnya memang diketahui sangat mencintai para ulama dan gemar bersilaturahmi dengan mereka, hingga hampir tiap hari ada saja ulama yang dijamu di rumahnya. Itulah sebabnya sejak Fethullah Gülen masih sangat belia, Ia telah terbiasa berkumpul bersama para ulama sampai akhirnya Beliau pun menyadari bahwa dirinya tumbuh di dalam sebuah keluarga yang dihiasi dengan ilmu dan ajaran tasawuf.

Pada saat itu, seorang ulama bernama Muhammed Lutfi  yang berasal dari Alvar diakui oleh Fethullah Gülen telah memberi pengaruh besar pada dirinya, sampai-sampai hampir setiap kata yang terlontar dari mulut Muhammed Lutfi disimak dengan baik oleh Gülen. “Seakan-akan kata-kata beliau adalah ilham yang datang dari alam lain,” demikian komentar Gülen mengenai Muhammed Lutfi gurunya. Bahkan setelah puluhan tahun berlalu, Fethullah Gülen pernah melontarkan sebuah pernyataan tentang Muhammed Lutfi “Saya dapat mengatakan bahwa saya telah berutang banyak kepada beliau atas semua yang telah beliau ajarkan dan membentuk karakter serta kepribadian saya.”

Fethullah Gülen mulai belajar bahasa Arab dan Persia dari ayahnya yang diketahui sangat giat menelaah berbagai buku dan tidak pernah terhenti merapalkan al-Qur’an di mana pun dia berada. Ramiz Gülen, ayah Fethullah Gülen, sangat mencintai Rasulullah Saw. dan banyak membaca buku tentang sejarah beliau. Di dalam rumahnya, siapa pun dapat menemukan tumpukan buku-buku sirah Rasulullah yang lusuh karena terlalu sering dibaca. Itulah sebabnya, salah satu nilai terpenting yang ditanamkan Ramiz Gülen kepada putranya, Fethullah Gülen, adalah kecintaan kepada Rasulullah Saw. dan para sahabat . Jadi, jika Anda ingin memahami kepribadian Fethullah Gülen, terlebih dulu harus memahami warisan paling berharga yang diberikan ayahnya, yaitu cinta yang dalam kepada Rasulullah dan para sahabat.

blog comments powered by Disqus