Prestasi Menakjubkan Generasi Pertama Umat Muslimin

 

Kita tidak memiliki informasi yang sangat rinci tentang bagaimana kaum Muslimin generasi pertama bertindak ketika membawa Islam ke berbagai penjuru dunia. Namun, yang menakjubkan adalah bagaimana Islam dapat masuk ke hati banyak manusia dalam waktu yang relatif singkat meskipun di wilayah-wilayah itu sudah ada agama-agama besar, sekte-sekte, aliran pemikiran, dan sisa-sisa peradaban yang sudah mapan. Fakta ini menunjukkan bahwa mereka menunaikan amanah tersebut dengan sangat sukses. Penjelasan dari sebagian pihak bahwa keberhasilan tersebut dicapai semata-mata berkat penaklukan militer, tekanan terhadap rakyat, atau paksaan di bawah ayunan pedang jelas tidak masuk akal.[1]

 

Coba bayangkan, seandainya pada hari ini kita berangkat ke India dengan segala sarana yang kita miliki sebagai bangsa modern, dalam kurun waktu 50 tahun mampukah kita melakukan apa yang telah dicapai generasi pertama kaum Muslimin tersebut? Padahal, umat Islam di India saat ini adalah keturunan dari mereka yang memeluk Islam pada masa itu. Sejarah mencatat bahwa kaum Muslimin telah memasuki wilayah Sindabad pada tahun ke-40 setelah hijrah. Islam menancapkan akarnya di negeri India semenjak hari itu. Sekitar tahun ke-80 hijriah, Islam tiba di  kota-kota besar seperti Bukhara dan Samarkand. Kakek Imam al-Bukhari, misalnya menjadi muslim melalui wasilah kakek dari guru Imam Bukhari yang juga seorang ahli hadis terkenal yang bernama Imam Abdullah bin Muhammad al-Musnadi.[2] Mengingat  Imam Bukhari hidup hingga pertengahan abad ketiga hijriah dan betapa banyak karya kitab hadis luar biasa yang dilahirkan maka dapat dipahami bahwa masyarakat di kawasan itu telah lama memeluk Islam. Bukan hanya menerima, mereka juga menguasai bahasa agama, melahirkan ulama-ulama besar, bahkan ahli hadis yang muncul di wilayah Asia (non Hijaz) lebih kuat pengaruhnya dibandingkan sebagian ahli hadis yang hidup di Hijaz. Bisa dikatakan hampir semua ulama besar termasuk Imam Syafi’i dibentuk oleh tradisi keilmuan yang berkembang di Asia, kecuali Imam Malik, penyusun al-Muwatta’.

 

Imam Syafi’i sendiri sempat mengembara di Irak, Iran, dan Baghdad, serta belajar dari murid-murid Imam Abu Hanifah. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, yang mana semua tokoh tersebut lahir dan tumbuh di kawasan Asia. Bukhara dan Termiz adalah dua kota yang jaraknya berdekatan. Abu Dawud berasal dari Sijistan, sementara an-Nasa’i dari kota Nasa. Selain para ahli hadis, banyak pula ulama fikih lahir dari kawasan ini. Sejak pertengahan abad kedua hijriah, muncul ahli-ahli hukum Islam yang luar biasa. Pada masa itu, metodologi fikih berkembang pesat. Menjelang abad ketiga hijriah, dunia Islam mengalami sebuah kebangkitan intelektual yang tak tertandingi dalam sejarah.

 

Yang Mereka Taklukkan adalah Hati Manusia

Singkatnya, generasi pertama kaum Muslimin tidaklah masuk ke wilayah-wilayah baru dengan ancaman pedang ataupun tekanan kekuasaan. Mereka justru menaklukkan hati, merebut simpati, dan menunjukkan prestasi amar makruf nahi munkar yang membuat kagum banyak orang. Mari kita bandingkan dengan kondisi manusia zaman sekarang. Manusia modern tampak lebih rasional, memiliki lebih banyak sarana, dokumen, dan beragam bahan rujukan. Komunikasi pun jauh lebih mudah berkat perkembangan teknologi telekomunikasi yang sangat maju. Ya, berbagai fasilitas berada dalam genggaman. Namun, dengan segala kelebihan ini, seberapa jauh kaum Muslimin masa kini bisa menampilkan semangat dan perjuangan seperti yang ditunjukkan generasi pertama? Berapa banyak orang yang telah mereka ajak menuju hidayah? Dan berapa banyak lagi yang mereka rencanakan untuk dikenalkan dengan cahaya iman?

 

Sosok Abu Ayyub al-Anshari

Generasi pertama umat Islam tidak memiliki fasilitas seperti yang kita miliki sekarang. Mari mengambil contoh dari Sayidina Abu Ayyub al-Anshari. Saat ikut dalam ekspedisi menuju Konstantinopel (Istanbul) pada masa Yazid, bisa dibayangkan betapa berat perjalanan yang beliau tempuh. Konon waktu perjalanan mencapai enam bulan lamanya. Padahal, ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, Abu Ayyub sudah berkeluarga. Jika saat itu usianya sekitar tiga puluh tahun dan ekspedisi ke Istanbul terjadi sekitar tahun ke-40 Hijriah, maka beliau berusia sekitar tujuh puluh hingga tujuh puluh lima tahun. Demi meninggikan agama Allah, meski usianya sudah senja beliau meminta agar dirinya diikat ke punggung kuda supaya tetap bisa berangkat dan tidak jatuh dari kuda saat menempuh perjalanan yang panjang tersebut.

 

Sosok Abu Thalhah

Demikian pula Abu Thalhah. Meski sudah sangat tua, semangat jihadnya masih membara. Saat beliau hendak ikut berjihad padahal tubuhnya sudah lemah, cucu-cucunya berusaha menahan: “Engkau sudah cukup banyak terlibat dalam perjuangan di masa Rasulullah hidup. Engkau ikut ambil bagian dalam perang Badar dan perang Uhud. Kini istirahatlah, biarkan kami yang berjuang menggantikanmu. Lihatlah, bahkan untuk berjalan pun engkau mengalami kesulitan.” Namun Abu Thalhah menjawab tegas: “Tidak! Allah tidak membuat pengecualian. Bukankah Dia berfirman dalam Al-Qur’an, ‘Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan ringan maupun berat; berjihadlah dengan harta dan jiwa kalian di jalan Allah…’ (QS. At-Taubah [9]:41).” Ketika mereka berkata, “Namun, engkau bahkan tidak sanggup lagi duduk tegak di atas kuda,” Abu Thalhah hanya menjawab, “Kalau begitu, ikatlah aku di atas kuda. Dalam keadaan demikianlah aku akan berangkat.” Akhirnya beliau benar-benar ikut dalam ekspedisi laut menuju Siprus. Di tengah perjalanan, beliau jatuh sakit dan wafat beberapa hari kemudian di atas kapal. Jenazah beliau baru bisa dimakamkan tujuh hari setelahnya ketika kapal berhasil mencapai daratan. Namun, jasadnya tetap utuh, tidak rusak, seolah-olah baru saja wafat.

 

Sayidah Ummu Haram

Salah satu Sahabiyah yang ikut dalam ekspedisi tersebut adalah Ummu Haram. Bertahun-tahun sebelumnya, Ummu Haram menerima kabar gembira langsung dari lisan suci Rasulullah bahwa dirinya akan ikut serta dalam perjalanan suci itu. Maka dari itu, meskipun usianya sudah delapan puluh enam tahun, semangat cinta dan pengabdian untuk meninggikan kalimat Allah membuatnya tidak betah tinggal diam di rumah. Ia pun berangkat hingga ke Siprus. Saat tiba di daratan, kudanya terpeleset sehingga beliau terjatuh yang membuat dirinya gugur sebagai syahidah. Makam beliau terletak di kota Larnaka, Siprus bagian Yunani. Makamnya kemudian dipugar dan diperluas dengan menambahkan bangunan masjid dan makam di sekitarnya oleh kaum Muslimin Usmani setelah berhasil menaklukkan pulau itu pada tahun 1570.

 

Kita bisa melihat betapa luar biasanya keteguhan tokoh-tokoh tersebut. Mereka menempuh perjalanan yang amat panjang kadang hingga enam bulan lamanya hanya untuk tiba di sebuah wilayah baru. Setelah tiba, mereka kemudian berjuang dengan penuh keberanian. Dii sela-sela perjuangan itu mereka mencari jalan, kesempatan, dan jiwa-jiwa yang siap menerima hidayah lalu menyampaikan ajaran agama dengan penuh kelembutan. Mereka memperlihatkan teladan hidup yang murni tanpa cacat sehingga memberi pengaruh mendalam bagi orang yang mendengarkannya. Mereka benar-benar mengambil tugas yang berat. Meskipun demikian, mereka melakukannya tanpa keluhan. Saya bisa mengatakan dengan yakin: tidak ada satu pun catatan dalam kitab-kitab sirah maupun maghazi yang menuliskan keluhan mereka meskipun yang dihadapi adalah rintangan dan bahaya yang begitu besar.

 

Lihatlah misalnya sosok Abdullah bin Huzaifah as-Sahmi. Kepalanya pernah dicelupkan ke dalam air mendidih hingga kulit wajahnya terkelupas. Namun, beliau tidak pernah berkata, “Kenapa musibah ini menimpaku?” Ya, tak ada keluhan. Bandingkan dengan kondisi kita pada hari ini. Tidak seorang pun di antara kita yang pernah mengalami penderitaan seperti itu akibat mempertahankan iman. Kita hidup sangat nyaman. Karena itu, jika dengan segala kemudahan dan teknologi yang Allah anugerahkan sekarang, kita tidak menggunakannya untuk menyebarkan kebenaran, itu sama saja dengan ingkar nikmat. Itu bukan hanya bentuk nankörlük (ketidaksyukuran), tetapi juga kebutaan hati. Dalam bahasa aslinya, nan berarti roti atau makanan pokok. Jika diartikan lebih luas, nankör berarti orang yang tidak menghargai nikmat. Maka, tidak menggunakan anugerah yang diberikan Allah untuk tujuan mulia pada hakikatnya adalah menutup mata terhadap nikmat ilahi.

 

Teruntuk Kaum Mukmin di Masa Kini

Setiap orang beriman di zaman ini hendaknya berusaha memanfaatkan segala sarana dan kondisi baik yang ia miliki, lalu melangkah sejauh yang mampu ia capai dengan izin Allah. Setelah mengerahkan segala daya upaya, pada akhirnya ia boleh berkata: “Generasi kami hanya sanggup membawa perkara tersebut sampai di titik ini. Bekal dan kemampuan kami memang terbatas sampai sejauh ini saja. Biarlah kami berhenti di sini, lalu generasi setelah kami yang melanjutkan dan membawanya lebih jauh. Nanti generasi berikutnya lagi akan meneruskannya dan mengangkatnya lebih tinggi lagi...”

 

Maka dari itu, setiap orang harus memikul amanah mulia untuk menyampaikan dan merepresentasikan Islam dalam hidupnya. Ia perlu berjalan sejauh tenaga, usia, kecerdasan, dan kesempatan mengizinkan. Dan ketika ia telah letih, kehabisan tenaga, maka amanah suci itu akan diambil oleh orang sesudahnya untuk meneruskan estafetnya. Demikianlah yang selalu terjadi sepanjang sejarah. Para sahabat Nabi menyerahkan estafet perjuangan itu kepada generasi Umawiyah. Umawiyah kemudian mewariskannya kepada Abbasiyah. Saat Abbasiyah mengalami guncangan, pada awal abad keempat hijriah muncullah suku-suku Turki dari Asia yang siap memanggul tugas besar itu. Di bawah kepemimpinan Thughrul Bey, mereka melindungi Baghdad pada tahun 1050-an, dan hanya dua dekade kemudian, pada tahun 1071 di Malazgirt, mereka resmi mengambil alih peran sebagai penjaga Islam.

 

Firman Allah menegaskan: “Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan..” (QS. Al-Baqarah [2]: 134 & 141). Artinya, akan ada orang-orang yang menghadap Allah dengan status telah melaksanakan tugas, dan ada pula yang kelak diseret untuk menghadap-Nya sebagai orang yang lari dari tugas dan melepaskan diri dari amanah. Kita berlindung kepada Allah agar tidak termasuk dalam golongan kedua itu.

 

 

 

[1] Diterjemahkan dari artikel: https://fgulen.com/tr/eserleri/kirik-testi-1/ilk-muslumanlarin-akla-hayret-veren-performanslari 

 

[2] Abdullah bin Muhammad bin Asma’ al-Bashri, yang lebih dikenal dengan julukan al-Musnadi, adalah seorang ulama besar hadis dari Bashrah yang hidup pada abad ke-2 Hijriah. Ia digelari al-Musnadi karena keahliannya meriwayatkan hadis dengan susunan musnad, yakni berdasarkan urutan sahabat perawi. Dalam perjalanan keilmuannya, al-Musnadi berguru kepada sejumlah muhaddits terkemuka seperti Abu ‘Ashim an-Nabil, Yazid bin Zuray‘, Khalid bin al-Harith, dan ‘Affan bin Muslim. Reputasinya sebagai perawi yang tsiqah menjadikannya rujukan penting bagi generasi setelahnya. Murid-murid beliau termasuk para imam besar penyusun kitab hadis kanonik, seperti Imam al-Bukhari, Muslim bin Hajjaj (Imam Muslim), Abu Dawud, dan an-Nasa’i. Dengan demikian, al-Musnadi menempati posisi kunci sebagai penghubung antara generasi tabi‘ut-tabi‘in dengan generasi ulama hadis abad ke-3 H. Beliau wafat pada tahun 229 H di Bashrah, meninggalkan warisan keilmuan yang berkontribusi besar dalam menjaga otentisitas hadis Nabi melalui jalur sanad yang kuat dan terpercaya.

 

 

 

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2025 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.