Cetak

Benarkah Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam a.s.?

Ditulis oleh Fethullah Gülen pada . diposting di Islam Rahmatan lil A'lamin

Penilaian Pengguna:  / 35
JelekBagus 

Manusia bukanlah hasil dari sebuah evolusi tertentu, tetapi ia diciptakan sebagai jenis makhluk khusus dengan mempunyai bentuk istimewa. Ia tidak muncul sebagai hasil evolusi dari satu bentuk ke bentuk lain. Sifat dan karakternya bukanlah hasil sebuah rantai proses evolusi dan bukan pula hasil seleksi alam. Ia memang diciptakan Allah Swt. dalam bentuk manusia. Penciptaannya adalah mukjizat seperti penciptaan Isa a.s., dan tidak mungkin menjelaskan mukjizat ini lewat proses sebab-akibat. Tidak ada yang mampu, entah ilmuwan alam atau ilmuwan evolusi, untuk menjelaskan bagaimana kemunculan makhluk hidup secara pasti dan tepat. Adapun berbagai teori yang mereka lontarkan tidaklah tegak di atas landasan ilmiah yang benar melainkan di atas landasan yang lemah dan rapuh. Ketika dihadapkan pada berbagai kritikan tajam, teori-teori itu pun runtuh. Banyak buku dan tulisan seputar masalah ini yang bisa dijadikan referensi.

Ketika berbicara tentang persoalan tertentu dalam dunia sebab, sesungguhnya kita membahasnya dari sisi kausalitas, yaitu sebab dan akibat. Misalnya, setelah kehendak Allah, diperlukan adanya syarat-syarat tertentu agar pohon yang besar bisa tumbuh dari benih yang kecil. Harus ada tanah yang baik, cuaca yang kondusif, serta kehidupan itu sendiri pada benih. Ketika semua unsur dan sebab itu terpenuhi, tampaklah apa yang kita sebut dengan sebab yang sempurna. Sebab ini memunculkan akibat. Artinya, sebab-sebab tersebut dengan kehendak Allah menyebabkan munculnya sebuah pohon dari benih dan seekor ayam dari telur.

Proses penciptaan manusia pertama adalah mukjizat. Kita bisa membahas masalah ini dari sisi sebab akibat sebagai berikut. Misalkan kita ingin menghasilkan dari sebuah makhluk hidup makhluk hidup yang lain. Kita pun melakukan proses reproduksi antara burung dan ayam serta antara kuda dan keledai. Ternyata, kita tidak mendapatkan apa-apa dari proses yang pertama, sementara dari proses yang kedua kita hanya mendapatkan seekor bagal, binatang mandul yang tidak mampu mempertahankan jenisnya. Di sini kita melihat bahwa sebabnya cacat. Dengan kata lain, ada cacat dan kekurangan dalam mencapai hasil dan akibat. Sementara itu, dari proses reproduksi antara laki-laki dan wanita kita mendapatkan manusia yang sempurna. Artinya, semua sebab terkumpul dan berpadu saat sperma laki-laki menyatu dengan ovum wanita di rahimnya. Itu karena, dengan izin dan kehendak Allah, janin terbentuk dan berkembang dari satu bentuk ke bentuk lain hingga akhirnya lahir sempurna. Di sini kita mendapatkan hasil sempurna yang kita harapkan dari berkumpulnya semua sebab. Tentu saja Allah Swt. mampu mengubah segala sesuatu dan mengirimkannya ke dunia dengan bentuk dan potensi yang berbeda.[1]

Demikianlah penjelasan dari sisi sebab-akibat. Namun, ketika masalah berlangsung di luar proses sebab-akibat, kita harus menerimanya bukan berdasarkan prinsip evolusi atau seleksi alam, tetapi sesuai dengan apa yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya.

Allah Swt. memberitahu kita bahwa terdapat mukjizat dalam masalah yang tidak bisa dicari sebab dan penjelasannya. Penciptaan Adam a.s. tanpa ayah dan ibu serta penciptaan Isa a.s. tanpa ayah adalah mukjizat. Dengan kata lain, jika berkehendak, Allah Swt. mampu menciptakan makhluk tanpa keberadaan ayah, tanpa keberadaan ibu, atau tanpa keberadaan ayah dan ibu sebagaimana tampak pada Adam a.s. Di sini kita tidak bisa menghadirkan rantai sebab-akibat. Al-Quran memberikan tantangan, “Katakan, „Berjalanlah kalian di muka bumi lalu perhatikanlah bagaimana Dia memulai penciptaan makhluk.’”[2]

Bagaimana mungkin menjelaskan penciptaan dari ketiadaan?

Sama halnya dengan penciptaan Hawa a.s. dari Adam a.s. Ini adalah mukjizat yang lain. Artinya, tidak mungkin menjelaskan persoalan ini lewat rangkaian sebab-akibat yang biasa berlaku dan tentu saja kita tidak bisa mengingkari sesuatu dengan alasan bahwa kita tidak mampu menjelaskannya. Ini pun berlaku pada persoalan Adam a.s. dan Isa a.s. Allah Swt. berfirman, “Perumpamaan Isa di sisi Allah sama seperti Adam; Dia menciptakannya dari tanah kemudian berkata kepadanya, „Jadi!‟ maka jadilah ia.”[3]

Ya. Manusia telah melupakan awal mula penciptaan, maka penciptaan Isa a.s. menjadi peringatan baru yang penting.

Sekarang marilah kita menuju masalah penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam a.s. Aku melihat pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk memunculkan perdebatan baru seputar topik ini. Mengapa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam a.s. yang paling pendek? Mengapa dari tulang rusuk? Dan mengapa harus dari Adam?

Pertama-tama, aku ingin mengarahkan perhatian kalian kepada satu aspek penting, yaitu bahwa dalil-dalil yang menunjukkan terciptanya manusia dari sisi Allah Swt. sangatlah banyak dan kuat hingga tak terbantahkan. Persoalan ini juga merupakan dalil yang sangat jelas dan nyata atas keberadaan Allah Swt. Alam dengan segala hukum, aturan, dan prinsipnya menyatakan hal yang sama. Juga, substansi manusia berikut alam batin, kalbu, perasaan, dan perangkat halusnya lainnya yang masih belum tersingkap seluruhnya menunjukkan eksistensi Allah Swt. Di samping itu, terdapat ribuan dalil pasti lainnya yang menunjukkan eksistensi Allah Swt. Semua, entah filosof, pemikir, atau ulama kalam, berpegang pada sejumlah dalil itu sehingga mereka sampai ke pantai keselamatan. Apalagi kalau semua dalil menyatu. Ketika itu, kekuatan dalil tampak amat jelas.

Dewasa ini sebagian kaum ingkar dan atheis berusaha menutup mata di hadapan seluruh petunjuk dan dalil itu. Mereka membahas penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam a.s. seolaholah layak dijadikan sarana untuk melakukan pengingkaran. Sang mursyid besar[4] menjelaskan kondisi mereka:

Wahai teman, dalam jiwamu ada kebutaan. Selama kebutaan masih ada, ia akan menghalangi dirimu sehingga tidak mampu melihat mentari hakikat. Ya, dengan penyaksian dan penglihatan, terbukti bahwa jiwa yang buta semacam itu jika melihat sebuah benteng besar yang didirikan oleh pembuat bangunan lalu terdapat ribuan dalil atasnya, sementara hanya ada satu bata kecil yang tidak seimbang dan sama, ia akan segera mengingkari benteng itu secara keseluruhan. Dari sini tampak dengan jelas kedunguan dan kebodohannya, serta kecenderungannya yang merusak.

Itulah kebutaan, pemikiran yang cacat, serta logika yang lemah.

Ya. Ketika seluruh alam dan manusia itu sendiri penuh dengan ribuan dalil yang menunjukkan keberadaan Allah Swt. sekaligus menegaskan hakikat tersebut, bukankah pandangan yang tidak objektif itu sangat lemah dan cacat?

Masalah penciptaan dari tulang rusuk ini terdapat dalam Shahîh al-Bukhârî, Shahîh Muslim, dan Musnad Ahmad ibn Hanbal. Lebih dari itu, masalah penciptaan Hawa dari Adam juga terdapat dalam Al-Quran: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan Yang telah menciptakan kalian dari satu diri, lalu Dia menciptakan darinya pasangannya.”[5]

Pada ayat di atas kita menemukan kata ganti pada kata “darinya” yang mengacu kepada diri, bukan kepada Adam a.s. Hal ini juga kita lihat secara jelas dalam ayat lain: “Dia menciptakan kalian dari satu diri, kemudian Dia menjadikan darinya pasangannya.”[6]

Marilah kita perhatikan ungkapan di atas. Jadi, Allah Swt. tidak menciptakan Hawa dari Adam, tetapi dari substansi Adam. Ini adalah masalah yang sangat halus. Diri Adam berbeda dengan substansinya. Misalnya, penjelasan tentang seseorang bahwa panjangnya sekian, beratnya sekian, dan ciri-cirinya demikian, lalu dikatakan bahwa manusia memiliki substansi, dunia eksternal dan dunia internal, pemikiran, serta kejauhan atau kedekatan dari Allah. Setelah dilihat dari sisi zatnya, ia harus dilihat pula dari sisi kedua, yaitu sisi esensinya, karena sisi pertama hanya berupa kerangka. Jika demikian, zat dan diri manusia berbeda dengan jasadnya. Ketika Al-Quran membahas penciptaan Hawa, ia mengatakan bahwa Hawa tercipta dari diri Adam, bukan dari Adam.

Selain itu, hadis tentang masalah ini tidaklah mutawatir, melainkan hanya hadis ahad sehingga harus dijelaskan dengan ayat. Ini adalah salah satu landasan penting dalam menerangkan ayat dan hadis. Dalam hal ini, ayat di atas jelas mutawatir karena merupakan kalam Allah. Oleh sebab itu, hadis harus mengacu kepada ayat guna menerangkan berbagai aspeknya yang masih rancu. Adalah sangat penting menjelaskan berbagai hal seputar hadis berikut kaidah yang menjadi sandarannya.

Rasul saw. bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya. Saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada wanita. Sesungguhnya mereka tercipta dari tulang rusuk. Yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas. Jika berusaha meluruskannya, engkau akan membuatnya patah, dan jika dibiarkan, ia akan terus bengkok. Karena itu, perlakukanlah wanita dengan baik.”[7]

Dengan demikian, sebab atau landasan penyebutan hadis di atas adalah pendidikan wanita dan penataan rumah tangga. Ya. Jika engkau ingin memperbaiki wanita dengan cepat dan tergesa-gesa, engkau akan mematahkannya. Namun, jika engkau tidak memperbaikinya, ia tetap sebagaimana adanya. Rasul saw. menunjuk aspek yang penting, yaitu bahwa wanita lebih berpotensi untuk bengkok daripada laki-laki. Ia lebih halus dan lebih mudah patah. Jadi, yang hendak dijelaskan oleh hadis di atas bukanlah penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam, tetapi menunjukkan bahwa wanita akan tetap bengkok jika dibiarkan dalam kondisinya, namun jika diluruskan dengan cepat, ia akan patah.

Tentu saja penyebutan hadis dengan redaksi semacam itu memiliki hikmah. Rasul saw. berkata, “Dari tulang rusuk.” Kata min (dari) dalam bahasa Arab kadang bermakna sebagian dari sesuatu dan kadang bermakna penjelasan, yakni dari jenis sesuatu. Jadi, karena Rasul saw. tidak memberi batasan tegas, sabdanya mengandung sejumlah pengertian.

Ada beberapa contoh serupa dalam hadis lain. Misalnya, Nabi saw. bersabda, “Janganlah kalian salat di kandang unta, sebab ia dari setan.”[8] Seolah-olah unta seperti setan. Ketika Rasul saw. mengatakan bahwa pada hewan ada setan sebagaimana pada manusia, sebetulnya beliau hendak berkata bahwa sebagian hewan berperilaku seperti setan. Dengan kata lain, beliau mengarahkan perhatian kita kepada perilaku setan. Ketika kita melihat seseorang berwatak keras, kita katakan, “Orang ini terbuat dari besi.” Tentu saja bukan berarti ia berasal dari besi. Tetapi, kita ingin menjelaskan dengan kiasan yang menunjukkan kerasnya watak seseorang. Ketika kita berkata, “Si fulan setan,” maksudnya adalah bahwa ia telah menyesatkan banyak orang dan menjerumuskan mereka dalam dosa.

Sekarang, marilah kita renungkan hadis tersebut sesuai dengan makna ayat di atas. Wanita diciptakan dari tulang rusuk Adam. Artinya, perempuan adalah bagian dari laki-laki atau dari jenisnya, yakni ia berasal dari sifat-sifat alamiah yang sama. Seandainya laki-laki dan perempuan tidak berasal dari jenis yang sama, tidak mungkin mereka bisa berketurunan, karena lanjutan ayat: “Dan Dia menebarkan dari keduanya laki-laki dan perempuan yang banyak.”[9] Seandainya keduanya berasal dua jenis yang berbeda, tentu reproduksi antara keduanya tidak akan terjadi. Adapun kata “tulang rusuk” dalam hadis mengandung arti kecenderungan untuk bengkok lebih daripada makna kata bengkok itu sendiri.

Rasul saw. memilih ungkapan tersebut dengan penuh perhatian. Artinya, wanita lebih berpotensi bengkok daripada laki-laki. Ini adalah persoalan yang tidak perlu diperdebatkan, sebab kondisi dunia membuktikannya. Kaum yang lalai dan sesat banyak memperalat wanita sebagai perangkap untuk menyesatkan kaum laki-laki. Pada abad XX ini wanita telah dipakai dalam intensitas yang tidak pernah ada sebelumnya dalam sejarah. Mereka banyak dipergunakan dalam sebagian besar iklan agar lebih menarik karena kelemahan mereka sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi saw. Adakah yang bisa membenarkan penggunaan gambar wanita pada iklan peluncuran mobil, perangkat kamar mandi, dan hamburger? Apa hubungan wanita dengan semua itu? Jadi, Rasul saw. memberitahu kita bahwa wanita tercipta dari tempat yang paling bengkok dari laki-laki. Penggunaan wanita, terutama pada masa kini, sebagai alat oleh kalangan sesat menguatkan kaidah tersebut. Seolah-olah wanita adalah perlambang bagi sisi manusia yang paling bengkok. Tidak diragukan bahwa tidak ada ungkapan yang lebih indah untuk menjelaskan kenyataan ini.

Marilah kita bahas hal lain yang terkait. Pada Kitab Kejadian dalam Taurat disebutkan dengan sangat jelas bahwa Hawa diciptakan dari rusuk Adam a.s. Hal itu tidak menjadi persoalan karena Allah Swt. menciptakan Adam a.s. dengan mukjizat. Tidak perlu merasa aneh dengan diambilnya bagian tubuh Adam—antara air dan tanah—untuk penciptaan Ibunda Hawa. Adam dan Hawa tidak lain adalah tanda kemukjizatan penciptaan pertama.

Dalam hal ini sains tidak mampu menyelami proses penciptaan pertama. Di sini ia buta, tuli, dan bisu. Kita melihat itu sebagai mukjizat dan kita terima semuanya sesuai dengan firman Allah Swt. Namun, bukan berarti dengan begitu kita menerima secara membabi buta, tetapi kita menerima setelah melihat, menyaksikan, dan mengetahui kehendak, kebijaksanaan, dan pengetahuan Allah yang meliputi segala sesuatu lewat jendela ilmu, mulai dari atom hingga jagat raya. Artinya, kita menerima dengan akal dan hati kita. Allah Swt.-lah yang paling tahu tentang kebenaran, dan kebenaran itu hanya terdapat pada firman-Nya.

[1] Misalnya mukjizat kelahiran al-Masih a.s.
[2] Q.S. al-’Ankabût: 20.
[3] Q.S. Âl ‘Imrân: 59.
[4] Yang dimaksud adalah Badiuzzaman Said Nursi.
[5] Q.S. al-Nisâ’: 1.
[6] Q.S. al-Zumar: 6.
[7] H.R. Bukhari, Bab Nikah, 80.
[8] Faydh al-Qadîr, II, hadis no. 1948.
[9] Q.S. al-Nisâ’: 1.

blog comments powered by Disqus