Cetak

Penghambaan Diri Kepada Allah (‘Ubudiyyah)

Ditulis oleh Fethullah Gülen pada . diposting di Para Nabi dan Rasul

Penilaian Pengguna:  / 3
JelekBagus 

Penghambaan Diri Kepada Allah (‘Ubudiyyah)

Salah satu tujuan dari diutusnya para nabi dan rasul yang bersinggungan dengan tujuan penciptaan manusia adalah penghambaan diri kepada Allah (al-‘ubûdiyyah). Al-Qur`an sendiri menyatakan hal ini dalam ayat: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS al-Dzâriyât [51]: 56).

Jadi, tujuan utama yang paling mendasar dari diciptakannya manusia adalah mengenal Allah (ma’rifatullâh) dan penunaian kewajiban beribadah kepada-Nya dengan cara yang benar. Bukan untuk mengejar harta, tahta, kekuasaan, atau sekedar untuk makan-minum dan menikmati pelbagai kenikmatan duniawi. Adalah benar jika dikatakan bahwa semua itu merupakan kebutuhan manusiawi yang lumrah bagi kita, namun harus disadari bahwa ia sama sekali bukan tujuan penciptaan kita.

Sementara itu, diutusnya para nabi dan rasul adalah untuk menunjukkan kita jalan menuju tujuan tersebut. Al-Qur`an menyatakan hal ini dalam ayat: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (QS al-Anbiyâ` [21]: 25).

Ayat lain menyatakan: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu,’ maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS al-Nahl [16]: 36).

Ayat ini dengan tegas menunjukkan bahwa alasan diutusnya para rasul adalah untuk menghindarkan umat manusia dari penyembahan terhadap berhala, membimbing mereka untuk beribadah kepada Allah, dan untuk menjadi teladan bagi manusia.

Namun berkenaan dengan tujuan diutusnya Rasulullah Saw., tampaknya agak sedikit berbeda dengan para rasul lain, sebab beliau diutus untuk menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmat li al-‘âlamîn) dan sekaligus memikul tanggung jawab untuk berdakwah menyeru segenap umat manusia dan jin menuju penghambaan diri kepada Allah Swt.

Dari Abdullah ibn Mas’ud diriwayatkan bahwa dia berkata:

Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Tadi malam aku lewati dengan membacakan al-Qur`an satu rub’ di daerah al-Hajun.”[1]

Setelah Rasulullah selesai menyampaikan risalah beliau kepada manusia dan jin, beliau pun menyadari bahwa telah datang waktu baginya untuk kembali menemui al-Rafîq al-A’lâ (Teman yang Tertinggi). Oleh sebab itu, kita ketahui bahwa di akhir khutbah yang disampaikannya Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang diminta Allah untuk memilih antara gemerlap dunia sekehendak hatinya atau apa yang ada di sisi Allah. Lalu dia ternyata memilih apa yang ada di sisi Allah.”[2] Si hamba yang disebut-sebut Rasulullah itu tidak lain adalah beliau sendiri.

[1] Al-Musnad, Imam Ahmad 1/449; Jâmi’ al-Bayân, al-Thabari 24/33.
[2] Al-Bukhari, Manâqib al-Anshâr, 45; Muslim, Fadhâ`il al-Shahâbah, 2.

blog comments powered by Disqus