Bolehkah mengambil keuntungan pribadi dari dakwah, sementara ayat Al-Quran meletakkan prinsip untuk tidak meminta imbalan: “Upahku hanya dari Allah”?

Lima nabi mulia berkata kepada kaumnya, “Upahku hanya dari Allah.” Mereka adalah Nuh, Hud, Saleh, Syuaib, dan Luth a.s. Di beberapa tempat lain, Ibrahim dan Musa a.s. mengungkapkan makna yang sama. Seorang lelaki saleh, Habib al-Najjar mengungkapkan pengertian tersebut dalam surah Yâsîn saat dia berkata, “Wahai kaumku, ikutilah para utusan itu. Ikutilah orang yang tidak meminta upah kepada kalian dan mendapat petunjuk.[1] Nuh a.s. juga mengungkapkan hal sama di tempat berbeda dan dengan redaksi berbeda. Artinya, para nabi besar itu tidak meminta upah apa pun kepada manusia sebagai balasan atas tugas dakwah mereka di jalan Allah: “Aku tidak meminta upah kepada kalian. Upahku hanya dari Allah.

Jadi, ini adalah janji dan sumpah setiap nabi kepada Allah Swt. Mereka tidak akan meminta kepada manusia—sebagai balasan atas tugas kenabian mereka—upah atau keuntungan apa pun.

Setiap dai pada masa kapan pun yang memikul tugas dakwah dan menyebarkan kebenaran harus meneladani para nabi. Setiap orang yang bertugas menyampaikan dakwah dan petunjuk serta mendatangi kampung-kampung harus berusaha untuk tidak menerima upah atau keuntungan apa pun dari pengabdiannya menyebarkan kebenaran. Pertama-tama, karena pengaruh ucapannya kepada manusia ada di tangan Allah Swt. Dia mengaitkan pengaruh ucapan mereka dengan tingkat keikhlasan, kejujuran, dan pengorbanan mereka serta sikap mereka yang tidak menanti upah dari tugas dakwah. Karena itu, ucapan para nabi yang agung dan suci memberikan kesan dan pengaruh. Apabila sebuah nasihat tidak banyak memberikan pengaruh pada masa ini, itu karena ia tidak memenuhi beberapa syarat penting.

Ya. Allah Swt. tidak menjadikan ucapan orang yang ingin mendapatkan upah di dunia berkesan dalam jiwa. Ini masalah yang sangat penting. Selain itu, ada masalah penting lainnya, yaitu bahwa orang-orang yang berdakwah harus meneladani para nabi dan tidak mengambil upah dari dakwah dan kebenaran yang mereka sampaikan. Ini menghindarkan mereka dari kritikan manusia. Pasalnya, orang-orang akan berkata, “Mereka menyampaikan kebenaran, tetapi pada saat yang sama mereka bersenang-senang dengan hasil pekerjaan mereka dan hidup nyaman dari dakwah mereka.” Tidakkah Anda melihat bagaimana para pembaca riwayat maulid Nabi mendapat kritikan dan ejekan? Pasalnya, mereka memuji Rasulullah saw. dan mengangungkan Allah Swt., tetapi mereka mengambil upah atas itu. Seolah-olah mereka berkata, “Aku telah memuji Allah Swt. Karena itu, berilah aku uang.” Oleh sebab itu, pantaslah kalau ucapan dan pujian mereka tidak berikesan dalam jiwa masyarakat. Selama niatnya mencari uang, ia tidak akan berkesan. Namun, di sisi lain Anda bisa melihat seorang dai tulus yang hanya mencari rida Allah. Suaranya lemah namun memberikan kesan dan pengaruh kepada para pendengarnya. Jadi, pengaruh tergantung pada seberapa jauh sang dai merasa cukup dari manusia saat menyampaikan kebenaran.

Karena itu, betapa hati ini berharap agar para pelaku dakwah tidak menoleh kepada kenikmatan dunia, menjaga diri mereka dari setiap noda, serta menjadikan “tidak mengharap kepada manusia” sebagai semboyan mereka. Mereka merasa cukup ketika meninggalkan dunia tidak meninggalkan rumah dan harta. Mereka tidak boleh berdakwah untuk memperkaya anakanak mereka serta memiliki rumah dan harta kekayaan. Mereka harus hidup tanpa meminta kepada manusia. Pada masa ini, ketika seorang dai yang membuka era dakwah di sini meninggal dunia, ia hanya memiliki 25 keping uang bernilai 25 qirsy. Sungguh sebuah contoh yang baik, sebab para teman dan musuh mengetahui bahwa ia telah mengabdikan diri kepada Islam tanpa motif tamak terhadap harta dunia.

Ya. Para dai harus menjamin keberadaan makanan untuk keluarga mereka sekaligus mengajari mereka untuk bekerja serta melakukan hal itu dalam wilayah darurat semata. Dalam melakukan tugas suci menyampaikan kebenaran, mereka tidak boleh menoleh kepada kenikmatan dunia serta senantiasa siap berkorban moral dan materi guna memelihara kepercayaan orang terhadap mereka. Mereka tidak boleh mementingkan kehidupan duniawi mereka, tetapi mengutamakan kehidupan jiwa. Jika demikian, dunia dan bujukan dunia tidak bisa masuk dalam kehidupan dan khayalan mereka serta tidak menjadi harapan mereka. Jika tidak, mereka akan kehilangan kekayaan hakiki mereka lalu mereka tidak akan beruntung. Orang-orang yang mencari dunia saat berkhidmat kepada Islam akan mendapatkan akibat buruk, bahkan akibat buruk itu juga akan menimpa keluarga mereka.

Para dai yang menyeru ke jalan Allah harus menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan sikap tidak mengharap kepada manusia sehingga semua orang, bahkan juga para malaikat dan lainnya, melihat keikhlasan itu seraya berkomentar, “Mereka adalah orang-orang ikhlas.” Orang yang tidak mampu mengalahkan dunia tidak akan terangkat di akhirat. Mereka yang dibebani oleh dunia tidak akan mampu melewati rintangan besar di depan mereka. Betapa banyak pahlawan yang hanya mewariskan kuda, pedang, dan tombak. Ketika Khalid ibn Walid r.a. yang telah mengalahkan dua kerajaan besar akan menghadapi kematian, ia berkata, “Aku hanya meninggalkan kuda dan pedang.” Memang sulit untuk memahami mereka. Karena itu, sebagian manusia hanya bisa berujar, “Demi Tuhan, beritahulah aku, apakah engkau raja, sufi, atau petapa? Katakanlah kepadaku, siapa engkau?”

Ya. Orang seperti Khalid ibn Walid r.a., yang menjatuhkan kerajaan Bizantium dan Persia, hanya meninggalkan kuda dan pedang. Namun, sejak saat itu ia hidup dalam hati kita.

Sebagai kesimpulan, kita bisa mengatakan bahwa dakwah menuju Allah sangat terkait dengan sikap tidak mengharap balasan dari manusia. Karena itu, para dai ikhlas yang mengalahkan keinginan terhadap dunia berikut segala kenikmatannya pada masa ini –guna membela Al-Quran yang selama tiga abad ditinggal sendirian tanpa ada yang membela—harus berpikir betapa Rasulullah saw. menantikan lahirnya generasi baru, serta memusatkan perhatian sepenuh hati pada hal tersebut sehingga hanya itu yang ada dalam hati. Dunia menantikan era baru. Orang-orang yang menampilkan dakwah Islam dan dakwah Al-Quran sekarang ini menyuarakan kebangkitan baru. Sampai di sini kita baru menyebutkan satu sifat mereka.

Sisi lain hal ini adalah bahwa para penyeru dakwah Islam tidak boleh mengaitkan penghidupan mereka dengan urusan dakwah. Umat ini adalah umat yang baik. Mereka tidak akan membiarkan para dai yang ikhlas begitu saja. Umat akan membantu dan menolong mereka. Para dai tidak boleh meminta upah dan tidak boleh menuntut sesuatu. Namun, mereka boleh mengambil secukupnya untuk anak-anak mereka. Dalam hal ini aku mengacu kepada ayat: “Dan para amil (petugas/pengurus)-nya.[2]

Petugas yang bekerja membantu kaum muslim serta yang mengumpulkan pajak dan zakat, berhak mengambil bagian dari sedekah yang dikumpulkannya itu meskipun ia kaya. Karena itu, menurutku tidak ada larangan untuk mengambil secukupnya untuk hidup mereka. Namun, aku ingin menegaskan kembali bahwa pada dasarnya seorang prajurit dakwah tidak boleh menuntut upah, tidak boleh mengulurkan tangan meminta-minta kepada orang, atau mengharapkan sesuatu dari mereka. Ini adalah salah satu sifat penting bagi mereka yang ingin menyiapkan hari esok.

[1] Q.S. Yâsîn: 21.
[2] Q.S. al-Tawbah: 60.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.