Tanah dan Mawar

Islam dan Menjadi Manusia Sebagai Sense Sebenarnya

Pertanyaan: Anda pernah mengatakan, “Islam yang merupakan hadiah terbesar dan universal untuk semua orang dari Sang Pencipta Yang Maha Perkasa dapat dinyatakan dengan menjadi manusia dalam sense sebenarnya; manusia adalah indeks spiritual dari seluruh ciptaan yang diberi karunia intelek, hati nurani, jiwa, raga dan kemampuan halus batin.” Bisakah anda jelaskan maksud pernyataan tersebut?

Jawaban : Setiap poin yang disebutkan dalam pertanyaan, yang merupakan berbagai inti dari manusia, adalah untai utama sehubungan dengan pemahaman dan penjelasan Islam.

Akal

Kita harus mempertimabangkan akal terlebih dahulu. Akal berfungsi sebagai sesuatu yang memisahkan antara benar dan salah, serta antara hal yang berguna atau berbahaya. Hal ini dapat tercapai jika kita gunakan alasan dangan benar dengan bantuan hati dan jiwa. Namun, orang-orang rasionalis menganggap akal sebagai segala hal dan orang-orang neo-nasionalis di zaman kita memberikan prioritas kepadanya melebihi dari Al-Qur’an dan Sunnah. Sayangnya, dalam menolak sikap ekstrim mereka, beberapa orang membantah akal sepenuhnya. Salah satu ekstremisme memberi jalan kepada ekstremisme berlawanan. Jika kita mempertimbangkan situasi umum dunia Islam saat ini, akan terlihat bagaimana akal diabaikan, sehingga memberikan cara menuju ekstremisme dari segala jenis.

Allah menciptakan akal untuk kebijaksanaan penting. Pertama dan terpenting, itu adalah kondisi dasar untuk tanggung jawab ibadah dan penghambaan kepada Allah. Seandainya manusai tidak dianugerahi akal, maka mereka akan telah dijatuhkan dari kehormatan sebagai penerima rahmat Ilahi. Tuhan berbicara kepada manusia sebagai kehormatan mereka memiliki akal. Dalam satu sisi, Allah membuat perjanjian dengan manusia sebagai mahluk yang memiliki akal. Contohnya Allah berfirman dalam Al-Qur’an, 

فَٱذْكُرُونِى أَذْكُرْكُمْ

“Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” ( QS. Al Baqarah: 152).

وَأَوْفُوا بِعَهْدِى أُوفِ بِعَهْدِكُمْ

“Penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (QS. Al-Baqarah 2:40).

Memahami dan mempraktekkan perintah ini bergatung pada akar permasalahan apakah Allah akan membawa seseorang tampa akal ke Surga bukanlah subjek kita disini. Tetapi, berkat akal-lah manusia dikarunai sebagai objek rahmat ilahi dan dapat mengerti serta mempraktekkan perintah-perintah agama, poin ini sangat penting dalam hal memahami tempat dan nilai akal dalam agama.

Selain ini, komponen penting dari pemahaman dalam hal yang kita lihat dan dengar adalah akal juga. Selain peran pentingnya yang luar biasa, akal memiliki batas yang dapat dicapainya. Akal selalu rawan terhadap kesalahan, sehingga, akal perlu dihargai sebanyak manfaatnya. Di sisi lain, tak menggunakan akal sebelum membiarkannya memenuhi seluruh fungsinya berarti melumpuhkan beberapa bagian dari mekanisme atau sistem. Oleh karena itu tidak akan mungkin untuk sistem tersebut untuk melayani fungsi yang seharusnya. Sebuah mobil yang memiliki semua bagian namun tanpa pedal gas tidak akan bergerak. Demikian pula, sistem umum dimiliki oleh manusia akan lumpuh tanpa fungsi akal, yang merupakan salah satu komponen penting dari sistem.

Hati Nurani

Nurani adalah dasar lain dari sistem ini. Dalam khutbah Damaskus, Badiuzzaman menyatakan bahwa hati nurani memiliki empat elemen “perasaan, kemauan, kesadaran diri, dan Latifah Rabbaniyyah. Latifa Rabbaniyya atau kecerdasan spiritual, memiliki berbagai kedalaman, seperti sirr (rahasia), khafi (tersembunyi) yang berkaitan dengan Sifat Ilahi dimuliakan, dan Akhfa (yang paling tersembunyi) yang kita dapat mendefinisikannya sebagai cakrawala mencari Esensi Ilahi atau Tuhan yang Mahakuasa sendiri. Fakta bahwa orang-orang terpelajar seperti kita tidak menyadari masalah ini tidak bisa menjadi bukti untuk ketidakberadaan mereka; karena orang-orang yang melakukan perjalanan dan telah mendapatkan cakrawala memberitahu kita tentang hal ini dengan pengalaman spiritual mereka.

Secara bersamaan semua komponen ini menjadi mekanisme dari hati nurani; menghasilkan sesuatu yang disebut “hads” yang merupakan pemahaman intuitif yang tiba-tiba mengenai kenyataan, sepeti yang dijelaskan Badiuzzaman. Anda juga dapat menyebutnya rasa batin, evaluasi batin, atau analisis batin. Dengan cara ini, seseorang mempu melewati hal yang terjadi di ranah luar dan memahaminya dengan benar. Namun, bahkan jika hanya satu dari hati nurani terlupakan, seseorang akan gagal melakukan nurani secara sepenuhnya. Menghilangkan mekanisme nurani, yang merupakan pilar yang sangat penting dari sifat manusia, berarti melumpuhkan seseorang. Dalam kasus seperti itu, seseorang tidak akan memiliki kerangka yang sangat baik, struktur materi, atau sejenisnya.

Jiwa

Jiwa juga merupakan salah satu pilar penting dari sfat manusia. Ini merupakan sistem di atas Lathifah Rabbaniyyah. Sambil menggambarkan arah dari perjalanan spiritual, orang-orang suci mengatakan bahwa seseorang naik dari Lathifah Rabbaniyyah menuju jiwa, yang disebut pancaran ilahi. Sebagai ciptaan Tuhan, ini menjadi anugrah mulia yang diberikan kepada kita dari alam ilahi. Kita dirasakan, diketahui, dilihat dan dilindungi dengan cara tersebut. Ini adalah kepercayaan yang benar-benar milik Allah. Oleh karena itu, melompat dari Lathifah Rabbaniyyah menuju jiwa adalah ekpresi pertama ynang menunjukan rasa hornat atas nafas ilahi yang dianugerahkan Allah kepada kita. Pada saat yang sama, ini adalah masalah cakrawala seseorang. Hanya mereka yang naik ke cakrawala jiwa dapat merasakan bahwa ini adalah dari Tuhan. Ini adalah hal penting, terutama dalam melaksanakan Lathifah Rabbaniyyah; namun, mereka yang tetap bertatih-tatih pada level ini dan gagal naik menuju cakrawala jiwa tidak akan bisa merasakan segala tentang kualitas ilahi.

Raga

Disini kami juga menambahkan raga, aspek material kemanusiaan. Sebagai sebuah sistem seperti akal, hati nurani dan jiwa, yang merupakan sisi spiritual manusia yang sangat penting, raga yang membentuk sisi materi, juga merupakan sesuatu yang penting dengan sendirinya. Di atas semua, dengan mampu mengamati ibadah kepada Allah, dan mencermati aksi seperti shalat, puasa dan haji, bergantung dengan membuat sistem-sistem ini bekerja dengan benar. Seperti halnya kita tidak mengerti bayaran luar biasa dari shalat, membaca ayat Al-Qur’an, dan hal baik lainnya, kita juga tidak mengerti bayaran luar biasa yang kita dapat dengan menggunakan hal-hal tesebut sebagimana tujuan penciptaanya. Seperti yang kita pelajari dari perkataan Nabi yang mulia, shalat yang dilakukan serampangan tanpa memberi haknya akan menjadi sarana mencela dan menjadi rasa malu sampai sampai akhir hayat. Disisi lain, shalat dilaksanakan dengan kondisi yang tepat dan sesuai, itu akan menjadi teman yang tidak akan mengecewakan seseorang dalam perjalan menuju dunia selanjutnya.

Dengan semua ibadah yang Anda lakukan selain shalat, pada saat yang bersamaan anda juga akan mendisiplinkan tubuh anda. Meskipun ibadah memiliki manfaat fisik atau anatomi tertentu, mereka tidak diputuskan karena kearifan tersebut. Sebaliknya, mereka menjadi syarat untuk membuat seseorang memenuhi syarat untuk surga sehingga mereka bisa mendapatkan kebahagiaan kekal di dalamnya, memiliki kehormatan melihat Tuhan, dan mencapai keadaan dengan yang Allah senangi. Meskipun ibadah seperti shalat, puasa, dan zakat memiliki manfaat tertentu yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan mendisiplinkan diri, manfaat mereka yang sebenarnya berada di akhirat.

Dalam hal menjadi sarana seseorang mencapai rahmat di akhirat, raga adalah salah satu anugerah ilahi yang penting untuk manusia. Penekanan bahwa itu adalah anugerah pertama kali dibuat dengan Nabi Adam Alaihissalam. Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud di hadapan Adam, dan semua malaikat melakukannya, kecuali Iblis, yang membuat penolakan angkuh untuk mematuhi perintah ini karena rasa egoisya. Makhluk rohani dan malaikat melihat kemahaluasan dalam Adam, mereka bertindak dengan rasa patuh, kemudian bersujud. Ini membangkitkan rasa hormat dalam jiwa mereka terhadap raga Adam. Untuk mengulangi fakta yang saya katakan dalam pembicaraan yang berbeda, bersujud pernah diperbolehkan terhadap seseorang selain Allah, hal ini hanya diperolehkan terhadap manusia, sebagai keajaiban penciptaan sehubungan dengan struktur jiwa dan raga kita.

Dalam segi sifat mereka, malaikat memiliki kepatuhan terhadap perintah. Mereka juga mengetahui tentang misteri ilahi. Memiliki akses ke ranah malakut, dan dapat hadir diberibu-ribu tempat secara bersamaan. Namun, mereka tetap saja tidak bisa merasakan sifat dari dunia materi (nafsu). Untuk alasan inilah mereka terkejut terhadap mahluk aneh seperti manusia dan mereka berkata,

أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ

“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?” (QS Al-Baqarah 30). Manusia adalah mahluk yang penuh dengan perasaan seperti nafsu, rasa egois, sombong, amarah, sehingga rentan terhadap tindak kejahatan. Namun, jika mampu melaksanakan setiap perintah ilahi, dia bisa naik ke level yang  disayangi, dicintai, dan hamba yang patut dimuliakan oleh Allah. Allah menciptakan kebaikan berdasarkan kejahatan yang berhubungan. Malaikat tidak bisa memahami sifat ini dalam manusia. Baik dari segi struktur spiritual dan tubuh-Nya, dan bersama-sama dengan interaksi antara dua ini, ada begitu banyak makna yang tidak bisa diungkapkan oleh buku-buku.

Singkatnya, memahami Islam sebagai identitas, kedalaman dan kemahaluasan yang sebenarnya, serta mempraktekkan dan menyampaikanya, hanya bisa dilakukan menggunakan sifat menusia dengan benar tanpa meninggalnya berbagai aspek di dalamnya. Sebagaimana akal, jiwa dan raga manusia, masing-masing memiliki fungsinya masing masing; karena jika seseorang meninggalkan salah satu di antara aspek tersebut, akan menjadi hal yang mustahil bagi mereka untuk memenuhi kewajiwan mereka secara keseluruhan.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.