Manfaat Beriman kepada Takdir

Manfaat Beriman kepada Takdir

Sesungguhnya seorang yang mengetahui masalah takdir dengan baik, dan sekaligus dapat menangani setiap rahasia yang terdapat di dalam qalbunya, meskipun harus ditempuh setahap demi setahap, adalah seperti seorang yang berhasil menangani segala kesulitannya. Dan, biasanya ia akan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah Swt.. Sebab, ia memahami makna dari firman Allah Swt. berikut ini, "Dan Allah-lah yang telah menciptakan kalian, berikut apa yang kalian perbuat," (QS Al-Shâffât [37]: 96).

Memang, sebenarnya Allah Swt. yang telah menjadikan kita semua berikut segala perbuatan kita, sampai pada makan minum kita, tidur dan bangunnya kita, pemikiran serta ucapan kita, semua itu termasuk hasil dari ciptaan Allah ‘Azza wa Jalla. Sesungguhnya, apa saja yang berkaitan erat dengan makhluk (hasil ciptaan Allah Swt.), maka semua itu termasuk ciptaan (makhluk). Inilah pendapat yang pernah disampaikan oleh seorang penulis buku Al-Îmânu al-Waashilu Ilâ A’mâqihi al-Ba’îdah yang bernama Imam al-Muntahî. Masalah ini sangat jelas bagai jelasnya sinar matahari di waktu siang. Sebab, yang demikian itu sangat berkaitan erat dengan perjalanan serta tingkat keimanan seseorang.

Jika seorang menyandarkan seluruh perbutannya hanya kepada Allah Swt., maka ia akan berusaha untuk berlepas diri dari segala bentuk keburukan yang akan dan telah (pernah) ia lakukan. Ia akan beranggapan, bahwa kebaikan ataupun keburukan yang telah maupun akan ia lakukan termasuk bagian dari rangkaian takdir serta ketetapan Allah Swt.. Sehingga ia tidak akan pernah menolak untuk bertanggung jawab atas segala bentuk keburukan yang pernah ia lakukan, dan ia tidak akan merasa bangga dengan segala jenis kebaikan yang ia telah (pernah) kerjakan.

Hendaknya setiap Muslim mengetahui, bahwa seluruh perbuatan baik yang pernah dilakukan hanyalah bersumber dari sisi Allah Swt., dan merupakan rangkaian akhir dari perjalanan takdir-Nya. Sebab, manusia tidak dapat menetapkan hasil atas perbuatan baik yang pernah ia lakukan sedikit pun untuk dirinya. Jika seseorang merasa, bahwa perbuatan baik yang telah ia lakukan adalah didasarkan atas atau merupakan hasil dari kehendaknya semata, maka ia telah masuk ke dalam perangkap syirik yang tersembunyi (tersamarkan). Sebab, Allah Swt. yang telah menakdirkan baginya melakukan kebaikan dimaksud. Terlebih lagi jika ia mengetahui dan menyadari bahwa hawa nafsunya akan senantiasa mengajaknya untuk melakukan keburukan. Perlu diketahui, bahwa segala perbuatan baik yang pernah dilakukan adalah perbuatan baik yang telah dikehendaki oleh Allah Swt. dalam rangkaian takdir-Nya. Sebab, pada dasarnya setiap orang akan diajak oleh nafsu amarahnya kepada melakukan perbuatan dosa dan menyimpang.

Sesungguhnya nafsu amarah selalu mengajak seseorang untuk melakukan keburukan. Oleh sebab itu ia harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan dosa yang pernah dilakukannya. Adapun firman Allah Swt. berikut ini telah menghimpun dua pokok (asas) menjadi satu, dan menerangkan seputar permasalahan ini secara lebih detail dan jelas. Firman Allah Swt. dimaksud adalah, "Apa saja nikmat yang kalian peroleh adalah dari sisi Allah. Dan apa saja bencana yang menimpa kalian, maka merupakan akibat dari kesalahan diri kalian sendiri," (QS Al-Nisâ’ [4]: 79).

Dari firman Allah Swt. di atas dapat kita simpulkan, bahwa seseorang tidak boleh membanggakan dirinya ketika ia telah berbuat kebaikan. Sebab, seluruh perbuatan baik hanya bersumber dari kemurahan Allah Swt. yang telah Dia anugerahkan kepadanya. Dan, setiap kebaikan berasal dari sisi Allah serta akan bermuara kepada-Nya. Oleh karena itu, seorang Muslim harus mensyukuri dan merendahkan dirinya kepada Allah Swt., bukan justru membanggakan dirinya karena ia telah berbuat kebaikan.

Adapun segala bentuk perbuatan dosa yang telah kita lakukan, maka kita sendirilah yang telah memilihnya. Sebab, Allah Swt. hanya memberi sarana maupun prasarananya bagi kita untuk melakukan tindakan yang bernilai dosa tersebut; meskipun sesungguhnya Dia telah melarang kita untuk melakukan setiap perbuatan dosa, apa pun bentuknya. Oleh karena itu, kita harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan dosa yang telah kita perbuat di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla kelak.

Masalah-masalah seperti ini tentunya tidak dapat kita pahami secara baik kecuali dengan menggunakan pemikiran yang saksama dan qalbu (sanubari) yang jujur. Dengan kata lain, di sanalah sesungguhnya peranan Allah Swt. menyaksikan seluruh keinginan kita yang condong untuk berbuat keburukan, dan Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan sanubari kita semua sebagai saksi atas ilmu-Nya.

Masalah-masalah seperti ini tentunya tidak dapat kita pahami secara baik kecuali dengan menggunakan pemikiran yang saksama dan qalbu (sanubari) yang jujur. Dengan kata lain, di sanalah sesungguhnya peranan Allah Swt. menyaksikan seluruh keinginan kita yang condong untuk berbuat keburukan, dan Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan sanubari kita semua sebagai saksi atas ilmu-Nya. "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," (QS Al-Najm [53]: 39).

Memang, sesungguhnya Allah Swt. telah menciptakan segala sesuatu yang baik maupun yang buruk, karena hanya Dia yang berwenang untuk berbuat demikian --dan di sanalah letak ujian yang sesungguhnya bagi manusia-penerj--. Akan tetapi, jika seseorang telah berbuat dosa, maka sungguh ia harus mempertanggungjawabkannya sendiri di hadapan Allah Swt. atas pilihan yang telah ia ambil. Itulah bentuk keimanan sebagian orang --yang benar-- terhadap takdir-Nya.

Tidak seorang pun dibolehkan untuk membicarakan masalah takdir lebih dari pengetahuan yang ia peroleh dari Al- Qur’an maupun Al-Sunnah. Sebab, siapa pun yang membicarakan persoalan takdir ini secara berlebihan dari porsinya, maka sungguh ia akan terjebak ke dalam kesesatan yang nyata. Sampai-sampai, Imam Abu Hanifah Rahimahullâh pernah melarang murid-muridnya membicarakan masalah takdir ini secara tidak proporsional. Pada saat ditanyakan kepada sang Imam, "Mengapa engkau sendiri membicarakan persoalan takdir?" Maka sang Imam menjawab, "Sebenarnya aku membicarakannya dengan perasaan yang sangat takut. Akan tetapi, karena kalian bertanya, maka aku harus menerangkannya kepada kalian menurut ilmu yang telah Allah Swt. anugerahkan kepadaku. Sebab sesungguhnya membicarakan masalah takdir secara terperinci dan secara luas dapat membahayakan seseorang yang kurang mengerti tentang permasalahan ini dengan baik."

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.