Perjanjian Ditinjau dari Sisi Dalil (Argumentasi Syari’at)

Perjanjian Ditinjau dari Sisi Dalil (Argumentasi Syari’at)

Pertanyaan. Apakah tersedia dalil ‘aqli (dalil secara akal) di dalam firman Allah Swt. yang menyatakan, "Allah berfirman, ‘Bukankah Aku ini Rabb kalian?’ Mereka menjawab, ‘Benar, Engkau Rabb kami, dan kami menjadi saksi,’" (QS al-A’râf [7]: 172)?

Jawaban. Untuk memberi jawaban atas permasalahan ini secara akal tidaklah mudah. Sebab, jika diterangkan dalilnya secara akal, maka hanya akan diterangkan berupa suatu kemungkinan semata. Dengan kata lain, bukan sesuatu yang mustahil terjadi, namun cukup mustahil jika harus dilogikakan. Sebab, logika manusia juga terbatas di dalam memahami hakikatnya. Alhasil, jika Allah Swt. telah menyebutkan suatu masalah dalam firman-Nya, maka berarti masalah itu benar-benar ada dan pernah terjadi.

Ada kemungkinan kita membahas pertanyaan di atas dari dua sisi. Pertama, apakah soal jawab tersebut pernah benar-benar terjadi? Jika pernah terjadi, maka bagaimanakah cara pembuktiannya? Yang kedua, apakah ada seorang Mu’min yang melihat adanya peristiwa itu terjadi?

Apakah pertanyaan yang datangnya dari sisi Allah Swt. itu kepada arwah, di manakah keberadaan alam arwah itu? Apalagi pertanyaannya berbunyi, bukankah aku Rabb kalian? Dan jawaban para arwah, ‚Benar.‛ Jadi, jawaban tersebut merupakan suatu bukti (pertanda). Masalah tersebut benar-benar telah disebutkan oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya tersebut.

Dari firman Allah Swt. di atas dapat disimpulkan, bahwa perjanjian antara manusia dengan Allah pernah terjadi. Para mufassir (ahli tafsir) generasi terdahulu maupun yang modern pernah menyebutkan kisah tersebut. Sebagian mufassir ada yang berpendapat, bahwa peristiwa perjanjian antara manusia dengan Rabb mereka itu terjadi ketika manusia masih menjadi rangkaian partikel, dan arwah telah ada bersama mereka. Sebagian yang lain berpendapat, bahwa peristiwa itu terjadi ketika anak bayi masih berada di dalam rahim ibunya.

Para mufassir yang lebih teliti ada yang menafsirkan berdasarkan sebuah hadis, bahwa peristiwa itu terjadi ketika janin manusia berada di rahim ibunya, dan telah ditiupkan ruh ke dalam jasadnya. Itulah pendapat para ahli tafsir generasi salaf maupun yang modern.

Sebenarnya, percakapan Allah Swt. dengan semua makhluk-Nya dapat terjadi dalam berbagai peristiwa. Kami dalam masalah ini membicarakan dalam versi yang khusus, dan dalam bentuk yang sangat ekslusif. Selain itu, kita masih mempunyai cara lain untuk berbicara dengan perasaan kami, lahir dan batin. Di samping itu, kita masih mempunyai cara lain untuk berbicara melalui akal dan ruh kita. Ada pula cara berbicara yang berbeda, yaitu cara pembicaraan melalui jiwa dan lisan. Alhasil, masih banyak cara kita berbicara melalui sarana apa saja. Saat ini, mari kita terangkan satu persatu.

Qalbu mempunyai lisan tersendiri, sehingga ia dapat menyampaikan perasaannya. Akan tetapi, bentuk ungkapan dimaksud tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Jika kita ditanya, ‚Apa yang sedang engkau ucapkan di dalam batinmu?‛ Pasti akan dijawab, ‚Kami sedang membicarakan tentang berbagai persoalan yang ada.‛ Kemudian kita membicarakan apa yang bergejolak di dalam sanubari kita berdua. Adakalanya kita berbicara di hadapan orang lain, dan kita memahami dari orang tersebut, akan tetapi kita tidak mengerti siapakah orang yang berada di samping kita itu? Kemudian adakalanya pula kita menyampaikan pembicaraan orang itu kepada yang lainnya.

Itu berarti, ada sekelompok orang yang menguraikan pandangan mereka di alam yang terjaga tentang apa yang mereka pikirkan di alam hayalan, dan mereka berbicara dengan sekelompok orang yang berada di alam permisalan. Mungkin para ahli kebendaan tidak membenarkan adanya percakapan dengan lawan bicara di alam khayalan, bahkan kata mereka peristiwa itu hanya sebagai wujud dari Halusinasi. Tentang masalah ini tidak perlu dilanjutkan. Meskipun masalah ini ada, bahkan Rasulullah Saw. pernah mengutarakan masalah-masalah yang berada di alam Barzah, dan di alam permisalan. Kemudian beliau menyampaikan apa yang telah beliau saksikan pada ke dua alam itu, dan beliau memberi pengertian kepada orang lain dengan atau melalui permisalan (contoh) tersebut. Masalah pembicaraan dengan alam permisalan dan alam Barzah adalah bentuk lain dari kesaksian suatu bentuk pembicaraan.

Kita lanjutkan membahas tentang wahyu. Masalah wahyu merupakan masalah lain yang sangat berbeda dengan berbagai macam pembicaraan yang lain. Karena, wahyu datang kepada Rasulullah Saw., meskipun beliau berdekatan dengan seseorang, akan tetapi isi wahyu itu tidak dapat didengar dan tidak dimengerti oleh orang lain di dekat beliau; sebelum beliau sendiri yang kemudian menyampaikannya. Andaikata wahyu itu sama dengan pembicaraan biasa yang dapat didengar dengan telinga orang biasa, dan dapat dipahami oleh orang kebanyakan, maka tentu orang-orang yang dekat dengan beliau Saw. ketika sedang menerima wahyu akan segera mengerti tentang isinya. Akan tetapi, keadaannya justru berbeda.

Sebagaimana diriwayatkan, bahwa pada suatu hari beliau Saw. tengah menyandarkan kepala beliau di lutut salah seorang istri beliau, atau pada riwayat yang lain disebutkan sedang meletakkan kedua lutut beliau Saw. pada lutut seorang sahabat. Maka di saat itu pula beliau tertunduk karena sedang menerima wahyu. Meskipun demikian, tidak seorang pun di antara mereka yang dekat dengan beliau ketika itu dapat merasakan isi wahyu tersebut, sebelum beliau sendiri yang menyampaikannya secara langsung (lisan) kepada orang lain. Tentunya masalah ini termasuk masalah bentuk dari salah satu jenis pembicaraan antar manusia.

Selain itu, ada pula sebuah ilham yang dimasukkan ke dalam sanubari seorang wali (kekasih) Allah. Ia mendengar suatu bisikan yang berupa ilham di dalam sanubarinya. Pembicaraan bentuk ini tidak berbeda dengan pemberitaan yang disampaikan seseorang melalui alat morse atau tehnologi sejenis kode rahasial. Yang mengerti bahasa tersebut hanyalah para ahli di bidangnya saja. Sehingga ia dapat menerangkannya kepada orang lain secara jelas tentang berita yang didapat. Demikian pula, adakalanya seorang wali menerima ilham di dalam sanubarinya, yang selanjutnya ia mengeluarkan isi ilham tersebut melalui tutur kata atau lisannya. Misalnya, seorang wali berkata, ‚Di depan pintu itu ada seseorang.‛ Sehingga orang lain membukakan pintu tersebut, akan tetapi orang yang dimaksud telah muncul secara tiba-tiba di hadapannya. Masalah ini juga termasuk salah satu bentuk pembicaraan yang terjadi. Terdapat pula cara pembicaraan secara telephati. Para ahli telephati berpendapat, bahwa di masa mendatang manusia dapat saling berkomunikasi melalui bahasa telephati.

Sebagai kesimpulan dari pembahasan kita tentang adanya perjanjian antara manusia dengan Allah Swt., maka dapat kita jelaskan bahwa cara berkomunikasi antara seseorang dengan yang lain mempunyai berbagai bentuk. Mari kita kembali kepada pembicaraan di seputar masalah kita, yaitu ketika Allah Swt. bertanya kepada manusia, ‚Bukankah Aku ini adalah Rabb kalian?‛ Maka kita tidak mengetahui bagaimanakah bentuk atau cara pembicaraan itu terjadi. Jika pembicaraan itu berupa detak-detak seperti berita yang dikiramkan melalui alat morse (sandi), atau berbentuk ilham yang dimasukkan ke dalam sanubari seorang wali, tentunya suara-suara seperti itu tidak dapat didengar oleh telinga orang kebanyakan. Jika pembicaraannnya berbentuk ilham, maka pembicaraan semacam itu berbeda dengan pembicaraan (komunikasi) yang berbentuk wahyu, juga pembicaraan itu berbeda dengan telephati. Demikian pula jika pembicaraan itu melalui alam ruh yang berbeda dengan pembicaraan melalui alam jasad. Dan jika pembicaraan itu melalui alam jasad, maka akan berbeda pula dengan pembicaraan melalui alam ruh.

Demikianlah, ada berbagai perbedaan bentuk pembicaraan (komunikasi) yang perlu kita ketahui. Sebab, apa saja yang disajikan seseorang di alam permisalan, di alam Barzah, atau di alam arwah, maka semua pembicaraan jenis itu berbeda dengan pembicaraan yang ada di alam kehidupan nyata kita saat ini. Mengenai hal ini, Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Rasulullah Saw. pernah bersabda, ‘Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kuburnya, dan ditinggalkan oleh sahabat-sahabat yang mengantarkannya, maka ia mendengar suara langkah sandal-sandala mereka. Pada saat itu, ia didatangi oleh dua malaikat (Munkar dan Nakir).’ Ia didudukkan oleh keduanya dan ditanya, ‘Bagaimankah pendapatmu tentang seorang laki-laki yang bernama Muhammad Saw.?’"[1]

Menurut Anda, kepada siapakah pertanyaan itu ditujukan? Apakah pertanyaan itu ditujukan kepada jasadnya, ataukah justru kepada ruhnya? Meskipun jasad atau ruhnya yang ditanya, maka hasilnya juga tidak berubah. Alhasil, si mayit akan merasakan adanya pembicaraan atau pertanyaan seperti itu, meskipun orang-orang yang berada di sekitarnya tidak merasakan sedikit pun adanya pembicaraan seperti itu. Walaupun apabila mereka meletakkan sebuah alat yang dapat mendeteksi suara di dalam kuburan itu, maka pasti mereka tidak akan mendengar suara apa pun dari si mayit, atau dari kedua malaikat yang bertanya tadi. Karena, pembicaraan antara si mayit dengan kedua malaikat berada di tempat yang berbeda dan amat jauh dari alam dunia ini. Seperti jauhnya jarak waktu yang dikenal melalui lisan (ucapan) Albert Einstein dan kawan-kawannya pada masa kini. Oleh karena itu, pertanyaan Allah Swt. kepada umat manusia pada waktu terjadinya peristiwa itu, ‚Bukankah Aku ini adalah Rabb kalian,‛ termasuk pembicaraan Allah terhadap ruh dengan cara tersendiri, dan kita tidak perlu mengetahui atau menghafal bentuk pembicaraan tersebut. Akan tetapi, kita dapat menyadari adanya peristiwa itu dari qalbu kita, dan pikiran kita mewujudkannya menjadi bersifat sejenis ilham.

Ketika aku menerangkan masalah ini, ada seseorang yang berkata kepadaku, ‚Aku tidak pernah merasakan tentang adanya tanya jawab tersebut dalam sanubariku.‛ Maka aku berkata kepadanya, ‚Sesungguhnya aku telah merasakan adanya hal itu, meskipun engkau dan kawan-kawanmu itu tidak dapat merasakan hal serupa. Sebab, aku mengingatnya baik-baik dalam perasaanku saja. Sebenarnya, aku tidak dapat menegetahui atau melihat Allah Yang Mahamulia, karena aku berada di alam yang serba terbatas. Maka bagaimanakah jika aku sedang berada di alam bebas dan tidak terbatas? Akan tetapi, aku dapat mengerti apa yang tidak terikat, karena aku mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk mengetahui hal tersbeut. Oleh karena itu, aku selalu merindukan surga dan bertemu dengan Allah Swt., karena kuatnya kemauanku untuk mencapainya, serta aku telah merasakan adanya instrumen yang ghaib di dalam sanubariku.

Dengan kalimat lain dapat dikatakan di sini, jika sanubari seseorang senantiasa berdzikir kepada Allah Swt., maka qalbunya akan menjadi tenang karenanya. Sebab, qalbu itu telah merasakan adanya getaran Dzat Yang Mahalezat jika nama-Nya disebut oleh lisan, dan diresapi oleh qalbu kita yang lembut. Seperti telah disebutkan di dalam firman Allah Swt. berikut ini, "Yaitu orang-orang yang beriman, dan qalbu mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah qalbu menjadi tenteram," (QS Al-Ra’d [13]: 28).

Pada saat seseorang seperti Bergson dan atau Kant merasakan adanya Rabb (Pemilik diri mereka), dan mereka meninggalkan semua dalil ‘aqli maupun naqli tentang adanya Pemiliki diri mereka, maka sesungguhnya mereka berdua telah percaya bahwa alam semesta yang sehebat ini ada penciptanya. Bahkan, profesor Kant pernah mengatakan, "Aku telah meninggalkan segala macam ilmuku di belakang punggungku, agar aku mengetahui Sang Maha Pencipta sesuai dengan kebesaran-Nya." Demikian pula dengan Bergson yang menempuh jalan ini demi untuk menemukan dan mengenal lebih dekat Sang Maha Pencipta, Allah Swt.. Bahkan sanubari mereka tidak merasakan ketenangan sebelum mengenal Sang Maha Pencipta. Ketika manusia telah mendengar suara qalbunya yang paling dalam tentang adanya Allah Yang Maha Esa, pasti akan percaya bahwa mereka pernah menjawab, "Ya, Engkau adalah Rabb kami." Tepatnya pada saat ditanya oleh Allah, "Bukankah Aku ini adalah Rabb kalian?"

Alhasil, siapa pun yang mendengarkan suara qalbunya, pasti ia akan mengenali Rabbnya. Seperti para wali dan para Nabi yang meyakini adanya Allah Swt. dengan jelas, laksana jelasnya matahari di siang hari. Akan tetapi, jika manusia mencari Sang Maha Pencipta dengan hanya mengandalkan akalnya semata, maka pasti mereka tidak akan bisa menemukan-Nya. Sebab, otak yang dimiliki manusia sangatlah terbatas. Namun, seseorang yang mendengarkan suara qalbunya untuk mendapati Rabbnya, maka ia akan menemukan Allah Swt. ada di relung sanubarinya.

[1] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada pembahasan mengenai al-Janâizu (Jenazah), hadis nomor 87

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.