Qadha’ dan Takdir Dilihat dari Sisi Catatan Allah Swt.

Qadha’ dan Takdir Dilihat dari Sisi Catatan Allah Swt.

Sesungguhnya takdir Allah Swt. adalah ketetapan-Nya yang akan terjadi di masa mendatang, meskipun ketetapan- Nya itu sudah ada lebih dahulu, dan timbulnya adalah ketika qadha’ dan takdir itu ditulis menurut ilmu Allah Swt.. Alam semesta telah dicatat oleh Allah Swt. ketika terjadinya ketetapan-Nya. Hubungan keduanya sangat erat dengan perhitungan manusia atas segala perbuatan yang telah dilakukan. Sebenarnya, apa saja yang terjadi di dalam kehidupan kita telah dicatat leh Allah Swt. setiap waktunya, seolah-olah semua itu bagai suatu ketetapan sepanjang masa, dan kita menyebutnya sebagai catatan takdir pada setiap harinya. Sebagaimana Allah Swt. telah menyebutkan di dalam firman-Nya berikut ini, “Yang mulia --di sisi Allah-- dan mencatat --seluruh pekerjaanmu itu--. Mereka (para malaikat) mengetahui apa yang engkau kerjakan” (QS Al-Infithâr [82]: 11-12).

Terdapat pula catatan takdir yang disebut sebagai Imâmun Mubîn atau Kitâbun Mubîn, seperti yang disebutkan pada firman Allah Swt. berikut ini, “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya --sebagaimana tetapnya kalung-- pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada Hari Kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka,” (QS Al-Isrâ’ [17]: 13).

Dengan kata lain, terdapat sebuah catatan ilmu yang disebut sebagai Lauh al-Mahfuzh. Di samping itu, ada pula catatan amal perbuatan yang ditulis oleh para malaikat yang mencatat semua perbuatan manusia, sesuai dengan catatan Allah Swt. yang berada di Lauh al-Mahfuzh. Sebenarnya, catatan Allah Swt. yang berada di Lauh al-Mahfuzh tidak akan berbeda sedikit pun dengan catatan yang ditulis oleh para malaikat-Nya. Dengan kalimat yang berbeda dapat dikatakan, bahwa manusia tidak akan pernah melakukan sesuatu, kecuali hasil dari perbuatan itu telah ditakdirkan oleh Allah Swt. terlebih dahulu, sebelum ia sempat melakukannya. Yaitu, kemauan seseorang yang menentukan perbuatannya, dan perbauatan itu sesuai dengan kehendak Allah Swt. yang berada di Lauh al-Mahfuzh. Kemudian para malaikat mencatat sesuai dengan apa yang tercatat di Lauh al-Mahfuzh.

Pada Hari Kiamat kelak, setiap orang akan dimintai pertanggunganjawaban menurut catatan Allah Swt. di Lauh al- Mahfuzh, dan catatan Allah yang ditulis oleh para malaikat-Nya. Kedua catatan tersebut tidak berbeda sedikit pun antara satu dengan lainnya. Kelak para malaikat akan mengatakan, ‚Wahai Rabb kami, kami telah mencatat seluruh perbuatan manusia di dalam catatan kami ini.‛ Demikian pula Allah Swt. akan mengatakan, ‚Sesungguhnya Aku telah mencatatat perbuatan orang ini menurut ilmu-Ku, bahkan sebelum ia melakukannya.‛ Alhasil, semua perbuatan manusia telah dicatat oleh Allah Swt. lebih dahulu dalam Lauh al-Mahfuzh, kemudian para malaikat akan mencatat perbuatan orang itu dalam catatannya masing-masing, dan kelak kedua catatan itu akan dicocokkan antara yang satu dengan yang lain, dimana kesemuanya mempunyai kesamaan.

Jadi, Allah Swt. telah menentukan segala perbautan manusia dan menyimpannya dalam catatan di Lauh al-Mahfuzh, kemudian manusia akan melakukannya dalam bentuk perbuatan, dimana perbuatan itu dicatat oleh para malaikat. Kedua catatan itu tidak akan berbeda sedikit pun antara yang satu dengan yang lain.

Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan firman Allah Swt. berikut ini, “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur,[1] sesudah --Kami tulis dalam-- Lauh al-Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih,” (QS Al-Anbiyâ’ [21]: 105).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, Allah telah mencatat segala perbuatan manusia di Lauh al-Mahfuzh jauh sebelum perbuatan itu dilakukan, bahkan jauh sebelum manusia itu sendiri Dia ciptakan. Kemudian catatan itu dimuat pula penjelasannya pada sebagian kiab suci yang Allah Swt. turunkan sesuai dengan catatan Allah di Lauh al-Mahfuzh, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba Allah yang shalih.

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, Allah telah mencatat segala perbuatan manusia di Lauh al-Mahfuzh jauh sebelum perbuatan itu dilakukan, bahkan jauh sebelum manusia itu sendiri Dia ciptakan. Kemudian catatan itu dimuat pula penjelasannya pada sebagian kiab suci yang Allah Swt. turunkan sesuai dengan catatan Allah di Lauh al-Mahfuzh, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba Allah yang shalih.

Firman Allah Swt. di atas memberi peringatan kepada orang-orang Muslim, bahwa kemenangan terakhir akan diberikan ke tangan mereka, dan hal itu merupakan ketetapan Allah yang tertulis di Lauh al-Mahfuzh sebagai ketetapan yang tidak dapat diubah oleh siapa pun.

Hamba yang mempunyai akhlak mulia di masanya, sungguh ia akan diberi kekuasaan penuh di muka bumi ini. Adapun yang dimaksud dengan akhlak yang mulia di sini adalah sifat mulia yang cocok dengan akhlak Nabi Saw. dalam segala bidangnya. Hanya dengan akhlak mulia seperti itu seorang akan mengetahui segala kejadian yang berkaitan erat dengan alam semesta ini.

Para penguasa yang berlaku sewenang-wenang dan zhalim terhadap bawahannya, pada umumnya mereka tidak akan lama bertahan dalam kekuasaan maupun kehendaknya. Mereka akan menyadari kesalahan mereka setelah penguasa baru yang adil muncul di tengah-tengah mereka.

Para penguasa yang berlaku sewenang-wenang dan zhalim terhadap bawahannya, pada umumnya mereka tidak akan lama bertahan dalam kekuasaan maupun kehendaknya. Mereka akan menyadari kesalahan mereka setelah penguasa baru yang adil muncul di tengah-tengah mereka. “Tidak ada perubahan pada fitrah Allah” (QS Al-Rûm [30]: 30).

Selain itu, Allah Swt. juga berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mau mengubah keadaan[2] yang ada pada diri mereka sendiri,” (QS Al-Ra’d [13]: 11).

Dengan kalimat lain yang lebih sederhana dapat dikatakan di sini, bahwa Allah Swt. tidak akan menghinakan suatu umat yang mulia, kecuali jika mereka telah mengubah kemuliaan mereka sendiri menjadi kesewenang-wenangan. Oleh karena itu, setiap penguasa yang ingin tetap jaya dalam kekuasaannya, maka ia harus menjaga budi pekertinya yang mulia. Karena, tanpa itu semua, ia tidak akan lama dalam kekuasaannya. Dan itulah ketetapan Allah Swt. yang telah digariskan di dalam sebuah kitab di Lauh al-Mahfuzh.

Adapun orang-orang yang berbudi pekerti mulia, bertakwa, dan suka berbuat kebajikan, maka ia akan disertai selalu oleh Allah Swt., sebagaimana telah disebutkan di dalam firman-Nya berikut ini, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan,” (QS Al-Nahl [16]: 128).

Orang yang seperti itu akan merasa, bahwa dirinya selalu diberi petunjuk oleh Allah Swt., karena ia merasa selalu disertai oleh-Nya. Ia akan lebih mengutamakan kepentingan atas nama Allah ketimbang kepentingan untuk dirinya sendiri, dan ia akan selalu menjaga budi pekertinya yang mulia, sehingga ia dapat dijadikan penguasa yang adil serta disenangi oleh bawahannya.

Kami sengaja memperpanjang keterangan tersebut, agar dapat diketahui bahwa ketetapan Allah Swt. yang telah digariskan di Lauh al-Mahfuzh tidak akan diubah sedikit pun, seperti yang disebutkan pada firman-Nya berikut ini, ‚Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian yang mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, serta Dia benar-benar akan menukar (mengganti) keadaan mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan siapa saja yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik,‚ (QS al-Nûr [24]: 55).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, Allah telah berjanji akan menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal shalih sebagai penguasa yang akan berkuasa secara langgeng. Dan, janji Allah Swt. ini pasti akan ditepati dengan baik. Sebab, Allah Swt. tidak akan mengingkari janji-Nya, karena Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Jadi, Allah Swt. akan menjadikan orang-orang beriman dan yang shalih sebagai para penguasa yang dapat memimpin rakyatnya dengan adil serta memakmurkan mereka. Jika telah datang waktunya, pasti orang-orang yang beriman dan beramal shalih akan menguasai alam semesta dengan baik serta adil.

Kejadian seperti itu bukanlah sebuah cerita yang tidak terbukti adanya. Sejarah telah mencatat, bahwa para penguasa Muslim terdahulu telah berhasil mewujudkan kekuasaannya secara penuh dengan adil dan makmur. Mereka berkuasa di setiap masa di berbagai tempat. Demikian pula kaum Muslim dewasa ini yang benar-benar beriman dan beramal shalih, pasti mereka akan memimpin dunia ini dengan baik serta adil.

Dengan demikian, terdapat dua ketetapan yang bersifat mengikat. Yang pertama, ketetapan yang berada pada catatan Allah Swt. di Lauh al-Mahfuzh. Dimana segala seuatu yang dicatat di Lauh al-Mahfuzh pasti akan terwujud dengan nyata. Dan yang kedua, catatan segala kejadian adalah catatan tentang berbagai kejadian yang terwujud di alam semesta, seperti disebutkan melalui firman Allah Swt. berikut ini, “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati, dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan serta bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh al-Mahfuzh),” (QS Yâsîn [36]: 12).

Maksud dari firman Allah Swt. tersebut adalah, apa saja yang dilakukan oleh manusia dari berbagai pekerjaan, dan segala apa yang mereka tinggalkan, seperti sedekah-sedekah jaryiah, semua itu telah tercatat secara lengkap dalam catatan Allah, yaitu telah dicatat di Lauh al-Mahfuzh. Seperti telah disebutkan dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh al-Mahfuzh),” (QS Yâsîn [36]: 12).

Dengan kata lain, segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. dan dicatat dalam kitab Lauh al-Mahfuzh pasti akan terjadi. Sebagaimana telah ditegaskan melalui firman Allah Swt. berikut ini, ‚Dan tiadalah binatang-binatang yang berada di bumi, juga burung-burung yang terbang dengan kedua sayap mereka, melainkan umat juga seperti kalian. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab,[3] kemudian kepada Allah-lah mereka dihimpunkan,‛ (QS Al- An’âm [6]: 38).

Ada sekelompok ahli tafsir yang memaknai kata Al-Kitâb dengan arti Lauh al-Mahfuzh. Meskipun ada pula yang menafsirkannya dengan arti kitab Al-Qur’an. Terdapat sebuah hadis Nabi Saw. yang menerangkan mengenai masalah tersebut, “Dahulunya hanya Allah yang ada, sebelum adanya segala sesuatu, dan ‘Arsy-Nya berada di atas air, serta semuanya telah dicatat di dalam kitab Lauh al-Mahfuzh.”[4]

[1] Yang dimaksud dengan Zabur di sini ialah seluruh kitab yang diturunkan Allâh kepada para Nabi-Nya. Sebahagian ahli tafsir mengartikan dengan kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud as. Hingga dengan demikian, makna al-Dzikr pada ayat dimaksud adalah kitab Taurat-penerj.
[2] Allâh Subhânahu wa Ta’âla tidak akan mengubah keadaan mereka, selama mereka tidak mau mengubah sebab-sebab kemunduran mereka sendiripenerj.
[3] Sebahagian dari para mufassir menafsirkan makna Al-Kitab itu dengan Lauh al-Mahfuzh. Dalam pengertian, bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauh al-Mahfuzh. Dan ada pula yang menafsirkannya dengan Al-Qur’an. Dalam pengertian, bahwa Al-Qur’an itu telah memuat pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan pembimbing untuk kebahagiaan manusia di dunia maupun akhirat, juga kebahagiaan makhluk pada umumnya-penerj.
[4] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada pembahasan mengenai Badaul Khalqi (permulaan penciptaan), hadis nomor 1. Juga oleh Imam al-Tirmidzi, pada bahasan mengenai Tafsir Surah al-Mâidah [5], hadis nomor 3.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.