Tafakur

Tafakur

Dalam berbagai topik bahasan, tafakur selalu diartikan sebagai: Menggerakkan pikiran secara luas, dalam, dan sistematis. Bagi orang-orang yang biasa melakukannya, tafakur adalah pemicu kalbu, santapan roh, inti makrifat, serta sekaligus menjadi darah, nyawa, dan cahaya bagi kehidupan islami. Ketika tafakur hilang, hati pasti akan menjadi gelap, roh akan kacau, dan kehidupan yang islami akan berubah menjadi kematian yang beku.

Tafakur adalah cahaya di dalam hati. Dan sebagaimana cahaya lainnya, dengan tafakur itulah pula seseorang dapat membedakan antara yang baik dengan yang jahat, antara yang bermanfaat dengan yang berbahaya, dan antara yang bagus dengan yang jelek. Dengan tafakur pula segenap semesta dapat berubah menjadi buku yang bisa dibaca, sebagaimana dengannya setiap ayat suci yang agung dapat digali kedalaman kandungannya.

Tafakur adalah lentera yang menerangi semua kejadian, yang membuat manusia dapat mengambil pelajaran dan kesimpulan dalam bentuk hasil yang beragam. Tafakur adalah laksana kunci emas menuju pengalaman, ruang persemaian bagi pohon-pohon hakikat, dan ibarat pupil cahaya bagi mata hati.

Demi semua inilah kemudian Rasulullah s.a.w. yang telah mencapai puncak segala keindahan dan menguasai puncak tafakur bersabda: "Bertafakurlah kalian tentang nikmat-nikmat Allah, dan janganlah kalian bertafakur tentang Zat-Nya, karena sesungguhnya kalian tidak akan mampu melakukannya."[1]

Lewat sabda ini, Rasulullah s.a.w. menjelaskan batasan wilayah tafakur yang dapat kita lakukan. Dengan ini beliau juga mengingatkan kekuatan, potensi, dan kemampuan yang kita miliki dalam masalah ini.

Sungguh indah apa yang dinyatakan oleh penulis al-Minhâj yang mengingatkan kita dalam syair berikut:

دَر الاء فِكر كَردن شَرطِ راهست
ولى دَر ذاتِ حَق مَحضِ كُناهست
بُود دَر ذَاتِ حَق اَندِيشه بَاطِل
مُحالِ مَحِض دان تَحصيلِ حَاصل
2

Artinya: Tafakur terhadap nikmat adalah syarat jalan ini. Akan tetapi tafakur terhadap Zat-Nya s.w.t. adalah dosa yang nyata. Ya, sesungguhnya tafakur terhadap Zat-Nya s.w.t. adalah kebatilan yang nyata. Jadi ketahuilah bahwa itu mustahil dilakukan dan tidak akan berhasil.

Pada hakikatnya, bukanlah al-Qur`an telah menasehati kita dengan ayat-ayatnya yang agung seperti: "dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi," (QS. Ali Imran [3]: 191)[3] ke arah jalan terbaik dalam bertafakur?! Yaitu dengan menunjukkan kitab alam semesta di hadapan mata kita, serta menunjukkan bagaimana "kitab" itu ditulis, keunikan huruf-hurufnya, keistimewaan kata-katanya, sistematika kalimat-kalimatnya, dan kepejalan strukturnya.

Ya, sesungguhnya tawajuh kepada Kitab al-Haqq Allah s.w.t. dalam setiap tafakur, tashawur (berimajinasi), dalam setiap situasi dan kondisi, serta upaya untuk merenungi dan memersepsinya; yang kemudian diiringi dengan pengaturan kehidupan sesuai dengan pemahaman kita ini yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-sehari, pasti akan membuat seluruh hidup kita memiliki cita-rasa rohaniah (madzâq rûhâniy) yang kental.

Semua itu dapat terjadi karena penyingkapan rahasia-rahasia Ilahi (kasyf al-asrâr al-ilâhiy) yang terkandung di dalam "kitab" alam semesta dan pengungkapannya, akan membuat manusia di setiap saat selalu memiliki kedalaman iman baru -melebihi imannya yang sudah ada- serta memberi warna spiritualitas baru yang menyerap seluruh rasa (dzauq) rohaniahnya. Inilah penyingkapan baru yang merupakan hasil yang darinya akan muncul cahaya yang membentang dari keimanan menuju makrifat; lalu dari makrifat kepada mahabbah; lalu dari mahabbah menuju kenikmatan rohaniah; kemudian ia terus melesat menuju alam akhirat, menuju keridhaan Allah sebagai tujuan puncak dari segala tujuan. Inilah jalan terang yang akan menghantarkan seorang salik menjadi sosok Insan Kamil.

Aktivitas tafakur selalu terbuka dari semua ilmu, karena tafakur merupakan lapangan penelitian dan eksplorasi ilmu. Hanya saja, berbagai ilmu-ilmu rasional dan keputusan-keputusan kondisional tidak lain merupakan pintu masuk menuju berbagai kesimpulan penting serta sekaligus menjadi media dan jalan ke arahnya. Semua ini mengarah pada kandungannya yang hakiki dengan arahnya yang berkonsentrasi pada ilmu Ilahi yang tunggal. Tapi ini baru terwujud jika otak manusia tidak terkontaminasi oleh pendekatan-pendekatan yang salah.

Ya, tafakur dan telaah terhadap entitas seperti layaknya membaca sebuah buku, pasti akan membuahkan hasil yang diharapkan. Sebuah kondisi yang penuh berkah pasti akan tercipta, dengan iman kepada Allah, bahwa Dia adalah sang Mahapencipta segala sesuatu dengan berbagai kelengkapannya. Inilah yang menjadi semboyan utama bagi para pejuang kehidupan spiritual yang mengetahui dengan yakin bahwa segala sesuatu selalu bersandar kepada Allah semata dengan segala situasi dan kondisinya, sehingga mereka pun dapat mencapai ketenangan dengan makrifat kepada Allah (ma'rifatullâh), cinta kepada Allah (mahabbatullâh), dan zikir kepada Allah (zikrullâh).

Tafakur yang sejak awal tidak dibangun dan tidak didasarkan pada penyandaran segala sesuatu kepada al-Haqq Allah s.w.t., pasti dibuat oleh Allah akan berujung pada akhir tertentu setelah hasilnya dicapai. Ini berbeda dengan tafakur yang sejak awal sudah dilakukan berdasarkan landasan pemahaman bahwa semua makhluk, urusan, dan segala hal selalu bersandar pada Allah ta'ala. Tafakur seperti ini akan terus bergerak secara berkesinambungan menuju kawasan tanpa ujung disebabkan munculnya dimensi-dimensi baru yang tidak ada putusnya.

Artinya, tafakur semacam ini, yang dimulai dari Allah s.w.t. dengan dua asma-Nya "al-Awwal" (yang Mahaawal) dan "al-Zhâhir" (yang Mahatampak); yang juga tertuju kepada Allah dengan dua asma-Nya yang lain, yaitu "al-Âkhir" (yang Mahaakhir) dan "al-Bâthin" (yang Mahatidak tampak), tidak akan pernah ada akhirnya, dan tidak akan pernah berakhir.

Dari sini, maka anjuran ke arah bentuk tafakur semacam ini, yaitu tafakur yang telah jelas tujuannya sejak awal, di dalamnya terkandung tuntunan ke arah penggunaan pedoman ilmu-ilmu alam dan sekaligus seruan untuk mempelajari dasar-dasarnya yang berupaya menentukan bentuk entitas dan menelisik realitas.

Ya, ketika langit dan bumi dengan segenap elemen dan struktur pembentuknya adalah milik Allah s.w.t., maka aktivitas telaah terhadap kejadian, urusan, dan aturan apapun yang ada di dalam "kitab" alam semesta, pasti akan selalu menjadi aktivitas untuk membaca hukum-hukum Allah sang Mahapencipta yang Mahaagung serta apa yang Dia lakukan dalam syariat-Nya.

Tentu saja, jalan seseorang yang membaca "kitab" ini dengan sungguh-sungguh, serta membentuk hidupnya sesuai dengan apa yang dia baca, pasti akan selalu menjadi jalan hidayah dan takwa. Pahala bagi orang semacam itu adalah surga dengan sungai al-Kautsar sebagai sumber air minumnya.

Semua itu dapat terjadi karena dia, tidak sama dengan mereka yang binasa dan merugi, yaitu mereka yang bergentayangan di dalam lembah kekufuran mengikuti petunjuk Iblis yang selalu lalai dari Allah disebabkan berbagai macam kenikmatan, kesenangan, dan keindahan duniawi.

Ada orang-orang yang mengetahui sang Pemberi nikmat yang sejati dan sang Penguasa atas segala sesuatu, serta beriman kepada-Nya dan tunduk kepada-Nya dengan penuh kesadaran iman. Mereka selalu mengembara di wilayah antara syukur dan nikmat, nikmat dan syukur; di bawah bimbingan malaikat dan tuntunan para nabi dan kaum shiddiqun. Orang-orang ini menghabiskan umur mereka untuk menjadi sosok "Rajawali kesyukuran"[4] yang melanglang buana mengarungi puncak-puncak pemikiran, dan terbang tinggi di atas lembah-lembah sendirian, di mana di dalamnya orang-orang lalai berjatuhan dan binasa...

Dengan tafakur semacam ini, ia akan mendapatkan anugerah luar biasa dari hadirat Tuhannya yang mulia. Ketika muncul penghalang baginya dalam ranah pemikiran, maka ia akan mampu menaklukkan penghalang itu dengan zikirnya, sehingga ia akan mampu terus bergerak dari "tadabbur" (perenungan) menuju "taslîm" (penyerahan diri), dan dari "tamkîn" (keteguhan)[5] menuju "tafwîdh" (penyerahan diri). Sehingga ia akan sampai di tujuan dengan cara terbang di ketinggian langit, sementara semua orang selain dia berpayah-payah berjalan di permukaan bumi.

Wahai Allah, jadikanlah kami orang-orang yang selalu berzikir pada-Mu dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, serta bertafakur pada penciptaan langit dan bumi.

Limpahkanlah selawat dan salam kepada pemimpin orang-orang yang tafakur, Rasulullah s.a.w., dan kepada segenap keluarga serta para sahabat beliau yang ikhlas.

[1] Al-Mu'jam al-Ausath, al-Thabrani 6/250; Syi'b al-Îmân, al-Baihaqi 1/136; Majma' al-Zawâ`id, al-Haitsami 1/81; Hilyah al-Auliyâ`, Abu Nu'aim 6/66; Kasyf al-Khafâ`, al-Ajaluni 1/370-371.
[2] Syair ini karya al-Syibistari dalam kompilasi puisi Kalsyani Raz.
[3] Lihat juga surah al-Ra'd: 3; al-Nahl: 1-65, 18-72; al-Rûm: 19-27; al-Jâtsiyah: 12-13; dan ayat-ayat lain semacam itu.
[4] Di sini penulis menggunakan nama jenis burung yang gagah dan mampu terbang tinggi. Penerjemah memilih kata "rajawali" karena dianggap tepat menunjukkan jenis burung dengan karakter seperti itu, penj
[5] "Tamkîn" merupakan salah satu maqam dalam tasawuf yang bersandingan dengan maqam "talwîn" (perubahan). Lihat: Sufi Terminology, Amatullah Armstrong, 1995. Penj-

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.