Tasawuf

Tasawuf

Tasawuf adalah istilah yang digunakan untuk menyebut jalan yang menghubungkan kepada sang Mahabenar, Allah ta'ala, yang ditempuh oleh sufi dan para mutashawif. Tasawuf menampilkan aspek teoretik dari jalan kebenaran, dan al-tanassuk (al-tadarwusy) diartikan sebagai aspek praktik darinya. Selain itu, biasa dikenal pula istilah "Ilmu Tasawuf" untuk menyebut aspek teoretik dari jalan ini, sementara aspek praktiknya disebut "al-tanassuk".

Sebagian dari para penempuh kebenaran berpendapat bahwa tasawuf adalah tindakan Allah mematikan aspek kejiwaan dan ego manusia untuk kemudian membawanya naik menuju kehidupan lain dengan cahayanya. Dengan kata lain, tasawuf adalah: tindakan Allah mem-fana-kan manusia dengan kehendak-Nya, serta dorongan-Nya menuju amal dengan kehendak-Nya yang khusus dan pilihan-Nya sendiri.[1]

Dari pendekatan lain dikatakan bahwa tasawuf adalah mujâhadah (usaha keras) yang terus-menerus dan murâqabah (kesadaran akan pengawasan Allah) yang berkesinambungan, demi menghilangkan semua bentuk akhlak tercela dari seseorang dan mengosongkan dirinya dari semua itu, untuk kemudian mengisi dirinya dengan berbagai sifat terpuji yang luhur, serta mengisi dirinya dengan semua itu.

Junaid al-Baghdadi menjelaskan bahwa tasawuf adalah "al-fanâ` fî-Allâh" (fana dalam Allah) dan "al-baqâ` bi-Allâh" (kekal dengan Allah). Dapat disampaikan di sini ringkasan dari berbagai pernyataan al-Syibli bahwa tasawuf adalah kekal (al-baqâ`) dalam kebersamaan Ilahiyah (al-ma'iyyah al-ilâhiyyah) tanpa menoleh kepada semua yang lain. Sementara penjelasan Abu Muhammad al-Jariri menyatakan bahwa tasawuf adalah mengambil posisi waspada terhadap semua akhlak buruk dan berusaha meraih semua akhlak yang luhur.[2]

Namun ada pula orang-orang yang mendefinisikan tasawuf sebagai: upaya menembus roh (inti) segala sesuatu dan segala entitas, menganalisa semua kejadian sesuai dengan tolok ukur makrifat Ilahiah, serta menganggap bahwa semua tindakan Allah adalah jalan menuju muraqabah dan pengawasan Allah s.w.t..

Dengan musyahadah internal, berbagai konsepsi akan naik tinggi melampaui batasan kuantitas (al-kam) dan kualitas (al-kaif). Sepanjang usia akan dihabiskan untuk berusaha melakukan mu'ayanah (observasi) dan musyahadah terhadap Allah s.w.t.. Seluruh kehidupan akan digunakan untuk khusyuk, tunduk, dan gerak berkesinambungan di mana kita dapat melihat seluruh hâl kita.

Kita dapat meringkas berbagai definisi tersebut di atas dalam sebuah kesimpulan, yaitu: Tasawuf adalah upaya untuk membebaskan diri dari sifat-sifat kemanusiaan demi meraih sifat-sifat malaikat dan akhlak Ilahi, serta menjalani hidup pada poros makrifatullah dan mahabbatullah sembari menikmati kenikmatan spiritual.

Dasar dari tasawuf adalah menjaga adab-adab syariat secara lahiriah dan berdiri di atas adab-adab tersebut secara batiniah. Seorang salik yang terampil menggunakan kedua sayap ini akan dapat melihat hukum-hukum (ketetapan) dari batin pada apa yang tampak secara lahir, dan ia juga dapat merasakan dan hidup secara lahir dengan hukum-hukum (ketetapan) yang ada di dalam batin. Berkat adanya musyahadah dan sensitivitas semacam ini, maka ia akan selalu dapat menempuh perjalannnya dengan adab menuju tujuannya, tanpa pernah jauh dari jalan kebenaran karena ia selalu berada di dekat jalan tersebut.

Tasawuf adalah sebuah jalan terbuka menuju makrifat rabbaniyah dan amal yang selalu baik. Di dalamnya sama sekali tidak ada ruang untuk senda-gurau, ketidakpedulian, main-main, dan kesia-siaan. Lagi pula bagaimana mungkin bisa demikian, sementara dasar dari tasawuf adalah penyerapan kesaksian makrifat uluhiyah yang dilanjutkan dengan menyematkannya di dalam hati, laksana lebah yang hilir-mudik dari sarangnya ke tempat bunga tumbuh; penyucian kalbu dari guncangan; penaklukan jiwa dari kecenderungan negatif; pengendalian sifat-sifat manusiawi dengan menutup sama sekali segala bentuk hasrat fisik-jasmaniah; selalu terbuka di hadapan nilai-nilai spiritual; penggunaan seluruh umur untuk mengikuti jejak langkah Sayyid al-Anâm Muhammad s.a.w.; pengosongan diri dari segala keinginan pribadi demi mengikuti keinginan Allah s.w.t.; dan kesadaran penuh akan kehadiran Allah s.w.t. yang diiringi pengetahuan bahwa sikap menyandarkan diri kepada Al-Haqq Allah s.w.t. adalah martabat yang tertinggi.

Selain itu kita juga harus mengetahui akar, dasar, subjek, manfaat, dan rukun-rukun tasawuf. Berikut ini penjelasannya:

Akar tasawuf adalah: Berpegang pada dasar-dasar agama sekuat-kuatnya, menjaga perintah serta larangan agama dengan cermat, dan menghindari dorongan nafsu sekuat tenaga dengan membiasakan kondisi lapar dan waspada.

Subjek tasawuf adalah: Mengangkat manusia ke derajat kehidupan spiritual-rohaniah, menyucikan hati, dan mengarahkan seluruh lathifah ke tempat kembalinya yang sejati.

Manfaat tasawuf adalah: Mendorong manusia untuk menumbuh-kembangkan anasir kemalaikatan (angelic qualities) yang ada dalam dirinya, serta mempertajam sentivitas keimanan yang komprehensif dan orisinal sekali lagi secara nyata dan dengan segenap perasaan, lalu hidup dengannya.

Dasar tasawuf adalah: Memperdalam kesadaran ubudiyah yang dangkal dan mengasahnya dengan usaha sungguh-sungguh dalam ibadah dan ketaatan, serta menjadikannya sebagai elemen penting bagi karakter manusia, kedewasaan spiritual -yang dianggap sebagai fitrah kedua bagi manusia-, dan perhatian terhadap dua wajah dunia yang menghadap ke arah akhirat dan nama-nama baik (al-asmâ` al-husnâ)yang dimiliki Ilahi, sembari menutup rapat terhadap wajah dunia yang fana yang menghadap ke arah jati diri dan hawa nafsunya.

Adapun rukun-rukun tasawuf dapat disusun peringkatnya sebagai berikut:

1- Pencapaian tauhid hakiki melalui jalan teoretik dan praktik.

2- Membaca serta mengobservasi perintah-perintah dari Hadrah[3] Kekuasaan dan Kehendak Ilahiah, di samping mendengar dan memahami Yang Terhormat firman Ilahi.

3- Memenuhi diri dengan mahabbah kepada Al-Haqq Allah s.w.t.; melihat demi Dia kepada semua entitas dengan menganggapnya sebagai "persemaian ukhuwah"; serta melaksanakan interaksi yang baik dengan semua manusia, dan bahkan dengan segala sesuatu.

4- Beramal dengan semangat al-îtsâr (mengutamakan orang lain) di setiap saat, dengan selalu mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan diri sendiri sesuati kemampuan.

5- Mengutamakan kehendak Ilahi di atas kehendak pribadi serta berusaha menggunakan seluruh usia untuk mendaki ke puncak "al-fanâ` fî-Allâh" (fana dalam Allah) dan "al-baqâ` bi-Allâh" (kekal dengan Allah).

6- Terbuka terhadap al-'isyq (cinta), al-wajd (kerinduan spiritual), al-jadzb, dan al-injidzâb (ekstase).

7- Mampu menembus apa yang ada di dalam hati melalui ekspresi wajah, dan mampu membaca berbagai rahasia Ilahiah yang terdapat pada tampilan kejadian-kejadian.

8- Melakukan ziarah ke tempat-tempat yang dapat mengingatkan kepada akhirat dengan niat perjalanan untuk mendapatkan semangat hijrah.

9- Merasa cukup dengan berbagai perasaan dan kenikmatan yang berada di dalam lingkup syariat, serta bertekad untuk tidak melangkah sedikit pun ke arah kawasan di luar syariat.

10- Terus bermujahadah dan berjuang untuk melawan sikap panjang angan-angan (thûl al-amal) yang akan menimbulkan dugaan-dugaan tak berkesudahan.

11- Tidak pernah melupakan -meski hanya sesaat- bahwa tidak ada keselamatan yang dapat diraih selain hanya melalui jalan keyakinan, keikhlasan, dan ridha Ilahi, walaupun amal yang dilakukan adalah demi berkhidmat pada agama dan untuk menghantarkan umat manusia menuju Al-Haqq Allah s.w.t..

Selain semua yang telah dipaparkan di atas, kita masih dapat menambahkan beberapa poin berikut ini:

Membekali diri dengan ilmu-ilmu lahir dan ilmu-ilmu batin, serta mengikuti bimbingan dan tuntunan sang Insan Kamil. Kedua elemen ini dianggap sangat penting oleh para pengikut Tarekat Naqsyabandiyah.

Ketika kita membahas tentang tasawuf, memikirkan tentang tasawuf, dan menulis tentang tasawuf, kita tidak boleh melupakan beberapa masalah yang akan dijelaskan di bawah ini, yang serupa dengan tanda-tanda dari kristal mengkilap yang menuntun perjalanan dan dan suluk rohaniah. Ia mencakup makna luas dari semangat ad-darwasyah (at-tanassuk), dan dianggap sebagai dasar bagi buku-buku akhlak, adab, dan zuhud (asketisme). Bahkan ia juga dianggap sebagai titik pertemuan hati manusia -pada salah satu pengertiannya- dengan al-Haqiqah al-Muhammadiyyah.[4]

Masalah pertama yang akan disampaikan adalah "keterjagaan" (al-yaqazhah) yang menjadi dasar bagi pemahaman sebuah hadits Rasulullah s.a.w.: "Sesungguhnya kedua mataku tidur, tapi hatiku tidak tidur."[5] Dan sebuah ungkapan yang berbunyi: "Manusia tidur, ketika mereka mati, mereka terjaga."[6]

Setelah keterjagaan (al-yaqazhah), berikutnya ada taubat, al-inâbah, al-muhâsabah, tafakkur, al-firâr, al-i'tishâm, khalwat, uzlah, al-hâl, hati, al-huzn, al-khauf (takut), al-rajâ` (harap), khusyuk, zuhud, takwa, al-warâ' (warak), ibadah, al-'ubûdiyyah (penghambaan), al-murâqabah, ikhlas, istiqamah, tawakal, al-taslîm, al-tafwîdh, al-tsiqah, al-khulq, tawaduk, al-futuwwah, al-shidq, al-hayâ` (malu), syukur, sabar, ridha, al-inbisâth, al-qashd, al-'azm, al-irâdah, al-murîd, al-murâd, yakin, zikir, ihsan, al-bashîrah (mata batin), al-farâsah (keperwiraan), al-sakînah (ketenteraman), al-thama`nînah (ketenangan), al-qurb (kedekatan), al-bu'd (kejauhan), makrifat, mahabah, al-'isyq (rindu), al-syauq, al-isytiyâq, al-jadzbah, al-injidzâb (ekstase), al-dahsyah, al-hîrah, al-qabdh, al-basth, al-faqr (kefakiran), al-ghinâ (kekayaan), al-riyâdhah, al-tabaddul, al-hurriyyah (kemerdekaan), al-ihtirâm, al-'ilm (ilmu), al-hikmah (hikmah kebijaksanaan), al-himmah, al-ghîrah, al-wilâyah, al-sîr, al-ghurbah (keterasingan, al-istighrâq (ketenggelaman), al-ghaib (gaib), al-qaliq (kegelisahan), al-waqt (waktu), al-shafâ` (kejernihan), al-surûr (kesenangan), al-talwîn, al-tamkîn, al-mukâsyafah, al-musyâhadah, al-tajalli, al-hayâh (kehidupan), al-sakar (mabuk), al-shahw, al-fashl (pemisahan), al-washl (penghubungan), al-fanâ`, al-baqâ`, al-tahqîq, al-talbîs, al-wujûd (entitas), al-tajrîd, al-tafrîd, al-jam', jam' al-jam', al-tauhîd (pengesaan).

Kami berharap untuk dapat menjelaskan sedikit dari berbagai istilah di atas di dalam buku kecil ini meski hanya sepintas. Wallâhu yaqûlu al-haqq wa huwa yahdî al-sabîl (Allah selalu menyampaikan kebenaran, dan dia selalu memberi petunjuk jalan yang benar).

[1] Lihat: al-Risâlah al-Qusyairi 429. Ketika Junaid ditanya tentang tasawuf, ia berkata: "Yaitu sang Mahabenar mematikanmu dari dirimu dan menghidupkanmu dengan-Nya."
[2] Lihat: al-Risâlah al-Qusyairi 429. Maksudnya: "Masuk ke dalam semua akhlak yang sesuai aturan, dan keluar dari semua akhlak tercela."
[3] Kata "hadrah" (Yang Terhormat) biasa digunakan untuk menyebut sosok terhormat. Ketika penulis ditanya tentang alasan kenapa ia menggunakan istilah "hadrah" -yang menunjukkan perhormatan- dalam kalimat ini, ia menjawab: "Ya, saya sengaja menggunakan istilah seperti itu pada beberapa kalimat yang berhubungan dengan Zat Allah yang Kudus. Saya biasa menyebut 'Hadrah al-'Ilm' (Yang Terhormat Ilmu) dan 'Hadrah al-Qudrah' (Yang Terhormat Kekuasaan), karena saya menganggap bahwa semua itu jauh mengungguli segala sifat. Apalagi memang seyogianya kita menggunakan kata secara cermat pada hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan kita yang Mahamulia. Sebab kita tidak sedang membicarakan sesuatu yang biasa saja, ketika kita sedang membicarakan Zat Mahakudus yang Mahamulia. Itulah sebabnya saya benar-benar merasa takut dan segan ketika saya berbicara atau pun menulis tentang sifat-sifat semacam itu, sehingga saya berusaha untuk menggunakan kata-kata yang tepat dan kalimat-kalimat yang pantas". Lihat: Qarq Tasti - al-Khâbiyah al-Munfarithah, Muhammad Fethullah Gulen dalam Bahasa Turki, 423.
[4] Kami ingin mengingatkan pembaca bahwa beberapa ungkapan dan istilah semacam ini tidak kami beri catatan kaki dan penjelasan tambahan karena penjelasannya akan disampaikan secara rinci dalam bagian lain dari buku ini atau pada seri selanjutnya, penj-.
[5] Al-Bukhari, at-Tahajjud, 16; Muslim, Shalât al-Musâfirîn, 125.
[6] Kata-kata ini dinisbahkan kepada Ali bin Abi Thalib r.a.. dan Sufyan ats-Tsauri. Lihat: al-Mashnû', Ali al-Qari 1/199; Kasyf al-Khafâ`, al-'Ajaluni 2/414, 525; Hilyah al-Auliyâ`, Abu Nu'aim 7/52.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.