Berdakwahlah dengan Sungguh-Sungguh

Berdakwahlah dengan Sungguh-Sungguh

Bersungguh-sungguh dalam berdakwah yang merupakan salah satu sarana untuk mencapai ridha Allah, juga tambahan dari keikhlasan dari seorang da'I, termasuk salah satu rahasia diterimanya dakwah yang disampaikan. Masalah ini harus diperhatikan baikbaik oleh setiap da'i bahwa mereka bertugas menyampaikan arti kaliamt Lâ Ilâha Illallâh di hati mereka. Oleh karena itu, para da'i akan meninggalkan tugas hidupnya sehari-hari setelah ia mengetahui betapa pentingnya meneguhkan pengertian kalimat tauhid ini di hati para pendengarnya. Karena mengagungkan salah satu syiar agama Allah termasuk mengagungkan Dzat Allah, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut ini, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati,” (QS al-Hajj [22]: 32).

Sepanjang hidupnya, Rasulullah Saw. senantiasa mengajarkan kalimat tersebut kepada para sahabatnya, seperti yang disebutkan dalam sebuah sabdanya, “Siapapun yang mengucapkan kalimat Lâ Ilâha Illallâh, maka ia akan masuk ke dalam surga.”[1]

Beliau Saw. pernah memberi julukan kepada Khalid Ibn Walid dengan julukan Saifullâh (pedang Allah). Beliau Saw. sangat kecewa kepadanya, ketika ada kabar Khalid membunuh seorang yang telah mengucapkan kalimat tauhid itu. Beliau Saw. bersabda, “Ya Allah aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang telah dilakukan oleh Khalid.”[2]

Saya ingat ada seorang yang berkata di hadapan penulis, “perlu diketahui bahwa jika suatu kali Islam berkuasa atas negara ini, pasti orang-orang miskin yang memenuhi masjid ini akan disembelih.” Ucapan orang itu membuat saya kagum, karena orang itu mengucapkan kata-kata sesat dan ia menganggap dirinya sebagai seorang muslim yang terbaik.

Sebagai seorang da'i, hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk mengagungkan Allah dan segala syiar-syiarnya, karena hal itu menunjukkan bahwa ia sangat ikhlas dalam dakwahnya. Siapapun yang tidak berjuang sungguh-sungguh dalam dakwahnya, maka sepanjang usianya ia tidak termasuk da'i yang berhasil, bahkan ia tidak pantas disebut sebagai da'i. Seorang da'i harus bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam menyampaikan dakwahnya kepada orang lain, seperti yang dilakukan oleh para nabi dan rasul.

Nabi Saw. telah menyelesaikan dakwahnya dengan baik sepanjang dua puluh tiga tahun. tidak sesaat pun dari waktu beliau yang tidak digunakan untuk berdakwah. Untuk menyampaikan tugasnya itu beliau tidak pernah merasa lelah. Bahkan beliau selalu mengajak Abu Jahal ke dalam Islam dan mengundang kaum Quraisy untuk menghadiri perjamuan makan di rumah beliau Saw. guna menyampikan dakwahnya kepada mereka.

Kebiasaan beliau Saw. Ini dilakukan pula oleh para sahabat, sehingga orang-orang yang mendatangi para sahabat semuanya untuk menyatakan keislaman mereka.

Dengan demikian, bersungguh-sungguh dalam berdakwah dan para da'i-nya tidak berharap imbalan apapun dari para pendengarnya, maka perilaku seperti itulah sebagai tanda keberhasilan. Hendaknya diketahui pula bahwa memberi petunjuk kepada orang lain hanya di tangan Allah, tidak seorang pun diberi kekuasaan oleh Allah untuk memberi petunjuk kepada orang lain. Tetapi para da'i wajib menyampaikan dakwahnya dengan ikhlas dan selalu berdo'a kepada Allah, agar dakwahnya bisa diterima oleh orang banyak.

[1] Diriwayatkan oleh Imam Muslim, pada pembahasan mengenai al-Îmân, hadis nomor 52. Juga oleh Imam al-Tirmidzi, pada pembahasan yang sama, al-Îmân, hadis nomor 17. Lihat pula dalam kitab Majma’ al-Zawâid, karya Imam al-Haitsami, Jilid 1, halaman 18.
[2] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada pembahasan mengenai al-Ahkâm, hadis nomor 35. Juga oleh Imam al-Nasâ’i, pada pembahasan mengenai al-Qudhrah, hadis nomor 117. Lihat pula di dalam al-Musnad, Jilid 2, hadis nomor 151.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.