Keberadaan Dakwah Sangat Dibutuhkan

Keberadaan Dakwah Sangat Dibutuhkan

Pada zaman kita ini, manusia benar-benar sangat membutuhkan tegaknya amar ma'ruf nahi munkar, bahkan dengan porsi yang lebih di bandingkan masa-masa sebelumnya. Adalah benar bahwa masa kenabian telah berakhir dengan diutusnya Rasulullah Muhammad Saw.. Namun demikian, pintu amar ma'ruf nahi munkar tidak serta-merta tertutup rapat oleh berpulangnya beliau ke haribaan Ilahi berikut status beliau sebagai penutup para Nabi dan Rasul.

Sehingga saat seperti sekarang ini, ketika banyak orang berkubang dalam lumpur kekafiran dan kemaksiatan, bahkan lebih buruk atau lebih banyak dari yang pernah terjadi di masa-masa lampau, amar ma'ruf nahi munkar masih tetap serta akan selalu kita butuhkan. Oleh karena itu, adanya berbagai bentuk bencana alam dan berbagai kesulitan yang menerpa umat ini jauh lebih banyak daripada yang terjadi di masa-masa lampau. Keadaan yang sangat sulit ini mengharuskan para da'i lebih cermat daripada para penyeru yang ada sebelum mereka.

Dengan kata lain, para da'i dewasa ini harus mempunyai kesanggupan dan keikhlasan yang khusus untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, seperti yang pernah dimiliki oleh para sahabat Nabi dahulu. Meskipun hawa nafsu seseorang lebih rendah dari segalanya, akan tetapi tugas suci yang diemban di atas pundak masing-masing mereka juga lebih bernilai tinggi dari segalanya. Dan, Allah Swt. akan menurunkan kasih sayang-Nya menurut kebutuhan para hamba. Sebab, sentuhan kasih sayang Allah lebih besar daripada kemauan para hamba itu sendiri.

Dosa-dosa yang kita kerjakan telah menyebabkan qalbu kita tidak berdaya, sehingga sanubari kita tidak sanggup lagi merasakan penyesalan atas dosa-dosa yang telah kita lakukan. Kualitas manusia dewasa ini laksana benda-benda mati yang tidak bernyawa, dan tidak mempunyai rasa rindu maupun cinta kepada Allah Swt.. Hingga mungkin kita pantas mendapatkan kutukan Allah, sebagaimana yang telah diperoleh setan yang terkutuk.

Mayoritas manusia yang hidup pada abad kedua puluh satu ini senantiasa berkubang dalam lumpur dosa, sehingga manakala dosa-dosa mereka diperlihatkan di hadapan mata kita, maka kita termasuk orang-orang yang akan melarikan diri dari dosadosa kita sendiri. Meskipun dosa-dosa kita tidak terhitung banyaknya, akan tetapi kewajiban menegakkan amar ma'ruf nahi munkar tetap dibebankan kepada para da'i, agar umat manusia mendapat kasih sayang Allah Swt.. Kita semua sangat lemah, dan Allah Mahakuat, Mahamulia lagi Maha Pengasih serta Penyayang. Andaikan kita ungkapkan perasaan kita yang sebenarnya, maka sungguh kita seolah tidak pantas mendapat kasih sayang dari sisi Allah Swt..

Kualitas manusia yang berada di abad kedua puluh satu ini seperti orang-orang yang tidak lagi mempunyai jiwa dan ruhani. Sebab, qalbu mereka telah tersesat dari jalan kebenaran. Meskipun keadaan manusia telah sedemikian parahnya pada masa ini, akan tetapi suara dari sabda-sabda Rasulullah Saw. masih dapat terdengar oleh telinga kita. Yang demikian itu tidak lain karena besar-Nya kasih sayang Allah Swt. kepada umat manusia. Kalau saja tidak, maka bagaimanakah mungkin kondisi kita seperti saat sekarang ini bisa bertahan? Oleh karena itu, kita wajib bersyukur kepada Allah Yang Maha Pengasih atas kasih sayang-Nya yang luar biasa. Karena, hanya orang-orang yang bersyukur saja yang akan selamat dari murka Allah Swt..

Sa'di al-Syirazi pernah mengatakan dalam rangkaian kalimat bijaknya,

“Sedahsyat apakah malapetaka yang telah menimpa manusia di alam dunia,
berupa hantaman badai serta gelombang.
Semua itu tidak akan terlalu berpengaruh,
jika yang menjadi juru mudi di atas gelombang tersebut adalah Nabi Nuh as.”[1]

Pada masa sekarang ini kita laksana berada di atas perahu keselamatan yang dikemudikan oleh Rasulullah Saw., dan para kru beliau (para da'i) senantiasa berseru kepada kita, “Ketahuilah, bahwa tidak akan ada yang selamat dari dahsyatnya gelombang yang mematikan ini, kecuali mereka yang ikut bergabung ke dalam perahu ini. Apakah kalian tidak mau ikut bersama kami?”

Mari kita renungkan bersama salah satu dari firman Allah Swt. yang memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, “Dan hendaklah ada di antara kalian sekelompok orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orangorang yang beruntung,” (QS Âli „Imrân [3], 104).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, hendaknya ada sebagian orang dari orang-orang yang beriman yang senantiasa menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, agar umat manusia tidak tenggelam dalam kesesatan, dan sekaligus dapat mengurangi jumlah kemaksiatan. Jika di dalam suatu masyarakat telah ada sejumlah orang yang senantiasa menegakkan amar ma'ruf nahi munkar , maka masyarakat semacam itu akan terlindungi dari murka dan siksa Allah Swt., sebagaiman yang telah disebutkan di dalam firman-Nya berikut ini, “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedang di antara penduduknya masih ada orang-orang yang berbuat kebaikan,” (QS Hûd [11], 117).

Maksudnya, Allah tidak akan menurunkan beragam bencana atau cobaan pada suatu masyarakat, jika di tengah-tengah masyarakat itu masih masih ada sejumlah orang yang senantiasa menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Atau, Allah akan menunda siksa dan murka-Nya terhadap suatu kaum jika di tengahtengah kaum itu masih terdapat sejumlah orang yang senantiasa menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Sebab, keterkaitan qalbu mereka sangat erat dengan Allah yang Maha Esa. Terlebih lagi, seluruh waktu mereka digunakan untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar , sehingga mereka tidak lagi peduli kepada biaya hidup, makan, minum, dan tidur, karena mereka senantiasa berpikir bagaimana cara menegakkan amar ma'ruf nahi munkar serta menyebarluaskannya untuk semua kalangan.

Oleh karena itu, Allah Swt. tidak akan menyiksa orang-orang yang selalu menegakkan amar ma'ruf nahi munkar di kalangan masyarakatnya. Hingga apabila kita ingin mendapatkan perlindungan dan keselamatan dari sisi Allah, maka hendaknya kita segera menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Hendaknya pula kita meyakini bahwa jika tugas amar ma'ruf nahi munkar ini tidak dijalankan dengan baik, maka pasti masyarakat kita akan dikenai siksa oleh Allah „Azza wa Jalla . Berapa banyak masyarakat yang dikenal sangat rajin beribadah pada setiap malam dan paginya, mereka juga rajin berdzikir serta berthawaf di seputar Ka'bah, akan tetapi Allah justru menimpakan murka dan siksa-Nya kepada orang-orang itu, disebabkan di tengah-tengah mereka tidak ada lagi sekelompok orang yang mau menegakkan amar ma'ruf nahi munkar .

Di dalam sejumlah kisah juga telah disebutkan, bahwa terdapat banyak golongan di kalangan kaum Nabi Allah Luth as. yang dibinasakan oleh Allah Swt., meskipun di antara mereka itu terdapat orang-orang yang gemar beribadah di malam hari dan berpuasa di siang harinya. Akan tetapi, karena tidak ada sekelompok orang yang menegakkan amar ma'ruf nahi munkar , maka Allah tidak segan-segan menimpakan siksa-Nya kepada mereka semua (secara keseluruhan). Demikian pula yang terjadi pada kaum Nabi Allah Syu'aib as, yaitu terhadap penduduk kota Aikah. Mereka itu dibinasakan oleh Allah, meskipun di antara penduduk Aikah banyak yang ahli ibadah. Akan tetapi, karena tidak ada sekelompok orang yang mau menegakkan amar ma'ruf nahi munkar , maka Allah Swt. tidak segansegan menurunkan siksa dan murka-Nya kepada mereka seluruhnya.

Sebaliknya, kami tidak mendapatkan sebuah kisah pun dari suatu kaum yang dibinasakan oleh Allah Swt. akibat di antara mereka ada sejumlah orang yang mau menegakkan amar ma'ruf nahi munkar di tengah kaumnya. Sedikit pun sejarah tidak menyebutkan tentang masalah ini. Pada saatnya nanti masalah ini akan kita bahas lebih detail ketika kita membicarakan mengenai penjelasan firman Allah, dan hadis-hadis Rasulullâh Saw. yang berkaitan dengan amar ma'ruf nahi munkar . Pada bahasan kali ini, yang kami anggap mendasar untuk segera diuraikan adalah tentang hakikat dakwah, dan juga berdakwah untuk kepentingan yang berskala umum; berkaitan dengan kebutuhan manusia kepada amar ma'ruf nahi munkar dari berbagai seginya. Sesuai dengan kehendak Allah Swt. yang menentukan manusia sebagai khalifah- Nya di muka bumi, maka Allah memberi manusia kekuatan serta kemampuan untuk bisa mengeksplorasi apa saja yang telah Dia sediakan di permukaan maupun di dasar bumi, sesuai dengan keinginan dan kebutuhan manusia.

Oleh karena itu, tidak tersedia sifat yang spesial semacam itu pada makhlukmakhluk selain manusia, yang dengan sifat tersebut manusia dapat mengembangkan serta mengeksplorasi apa saja yang tersedia di permukaan bumi untuk kepentingan dirinya sendiri dan pihak lain. Apalagi setelah mereka mengenal nama dan seluruh sifat Allah Yang Mahamulia, khususnya yang disebut sebagai Pemilik segala sesuatu. Sebab, Allah Swt. adalah satu-satunya Dzat Yang Maha Memberi atas segala sesuatu yang dikehendaki-Nya untuk kepentingan manusia.

Dengan kata lain, manusia diberi hak untuk memilih berdasar pada kehendaknya sendiri, sesuai dengan apa yang telah digariskan (ditetapkan) oleh Allah Swt.. Hingga dengan cara semacam itu, manusia dapat mengenal Allah sebagai Dzat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu, dan Dia pula Yang Maha Menentukan atas segala peristiwa, sehingga manusia juga merasa memiliki atau tidak memiliki apa saja yang berada di bumi ini sesuai dengan kehendak Allah.

Adapun kehendak manusia yang diberi kebebasan untuk memilih apa saja yang diinginkannya, maka semua itu telah ditetapkan oleh Allah sejak manusia dinyatakan sebagai khalifah Allah di muka bumi. Seperti telah disebutkan di dalam firman-Nya Swt. berikut ini, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, „Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi,” (QS al-Baqarah [2]: 30).

Sejak saat itulah Allah Swt. telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk berkehendak, dan mengeksplorasi apa saja yang ada di bumi. Sebagai seorang khalîfah, maka manusia tidak bisa melampaui batas-batas yang telah ditetapkan baginya dari sisi Allah. Adapun batas-batas yang telah ditetapkan bagi manusia dari sisi Allah Swt. telah disampaikan melalui petunjuk para Nabi dan Rasul. Jika manusia menjalankan secara baik dan benar segala perintah Allah, maka ia termasuk makhluk yang paling mulia dalam penilaian-Nya.

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullâh pernah menyebutkan sebuah hadis yang berstatus mursal sebagai berikut, “Siapa saja yang menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, maka ia termasuk khalifah Allah di muka bumi ini, termasuk khalifah kitab Allah, dan khalifah Rasul-Nya.”[2]

Setiap orang wajib mengenal Allah Swt. sebagai Tuhan-nya, dan mengenalkan Dzat Allah kepada orang lain; bahwa segala sesuatu yang ada ini hanyalah milik Allah, serta Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Setiap orang wajib mengenali dan mengenalkan kepada orang lain tentang para Rasul Allah, kitab-kitab suci-Nya. Wajib pula melaksanakan segala perintah Allah dan apa saja yang telah disampaikan melalui lisan Rasul-Nya dalam kehidupan ini, termasuk di dalamnya adalah untuk menunaikan tugas amar ma'ruf nahi munkar.

Sebab, tugas tersebut termasuk salah satu dari tujuan Allah Swt. menciptakan manusia, yaitu sebagai khalifah di muka bumi. Jadi, manakala seseorang telah menegakkan amar ma'ruf nahi munkar , maka ia termasuk hamba Allah yang telah melaksanakan perintah-Nya dengan baik. Sedangkan segala sesuatu yang tersedia boleh dijadikannya sebagai sarana, sedikit demi sedikit, untuk kemanfaatan manusia. Semua itu dilakukan demi menggapai keridhaan Allah Swt..

Durah binti Abu Lahab ra. pernah mengatakan, “Ada seorang laki-laki berdiri di hadapan Nabi Saw. ketika beliau tengah berpidato di atas mimbar, dan orang itu mengajukan pertanyaan, „Ya Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik?' Beliau menjawab, „Manusia terbaik adalah seorang yang paling pandai membaca Al-Qur'an, paling bertakwa, paling banyak menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, dan paling banyak menyambung silaturrahim.”[3]

Maksud dari sabda Rasulullah Saw. di atas, bahwa manusia yang terbaik adalah siapa yang selalu menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, sehingga semua waktunya digunakan untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Juga bersikap takut atas murka Tuhan-nya, sehingga seluruh kehidupannya disesuaikan dengan perintah-perintah Allah yang berada di dalam kitab suci-Nya. Yaitu, dengan menyayangi sesama manusia dan menyambung tali silaturrahim. Itulah kewajiban yang terpenting untuk segera dilaksanakan oleh setiap mukmin terhadap sesamanya.

Jika kita ingin merasakan bahwa hubungan di antara sesama manusia terjalin dengan sangat erat, maka kita harus senantisa menyambung tali silaturrahim kepada mereka, dan juga melaksanakan apa saja yang menjadi tugas kita terhadap pihak lain. Akan tetapi, yang lebih penting dari kesemuanya itu adalah, menegakkan amar ma'ruf nahi munkar bagi semua orang. Siapa pun yang mau dan mampu melakukan tugas ini dengan baik, maka ia termasuk orang-orang yang dipuji oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya berikut ini, “Mereka itu tidak sama. Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (mendirikan shalat). Mereka beriman kepada Allah dan Hari Pembalasan. Mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, serta bersegera kepada mengerjakan pelbagai kebajikan. Mereka itu termasuk orang-orang yang shalih,” (QS Âli „Imrân [3]: 113-114).

Maksudnya, siapa saja yang telah menunaikan tugas amar ma'ruf nahi munkar dengan baik, maka ia termasuk seorang yang beriman, dan bersungguh-sungguh dalam keimanannya. Sebab, firman Allah di atas --dan tersedia pula sejumlah ayat yang serupa dengan firman Allah ini-- menggiring kita untuk melaksanakan tugas amar ma'ruf nahi munkar dengan baik.

Umat manusia yang hidup pada abad kedua puluh satu ini lebih membutuhkan kepada tata cara dan penyampaian yang mengandung kasih sayang serta dipenuhi dengan sikap toleransi. Mereka sangat tidak menginginkan kepada cara-cara kekerasan sedikit pun. Oleh karena itu, setiap da'i harus mempunyai hati yang lapang, dan bersikap penuh kasih sayang kepada semua orang, sehingga suara mereka mampu menyentuh perasaan para pendengarnya. Jika para da'i dewasa ini bersikap santun dan berlapang dada, maka para pendengarnya akan menerima serta mendengar nasihat mereka dengan lapang dada pula. Sebab, sifat dasar manusia sejak dahulu hingga masa kini sangat terpengaruh kepada alam demokrasi yang terbebas dari segala bentuk paksaan maupun penindasan (intimidasi).

Akhir-akhir ini, sangat banyak orang di luar Islam yang kemudian masuk ke dalam pelukan Islam, baik mereka berada di Timur maupun di Barat. Di antara mereka itu terdapat pula orang-orang yang berpindah dari yang sebelumnya cenderung meninggalkan ajakan Islam, kemudian mereka berpaling mengikuti ajaran Islam. Sehingga pertumbuhan pemeluk Islam sangat menggembirakan, terutama bagi internal umat Islam sendiri. Hampir setiap masjid dan mushalla yang sebelumnya cenderung dilupakan atau dijauhi oleh orang-orang yang hendak memakmurkannya, maka saat ini hampir setiap waktunya dipenuhi oleh mereka yang hendak melakukan shalat.[4]

Dengan kata lain, pada kurun waktu belakangan ini para pemeluk agama Islam mengalami perkembangan yang luar biasa di seluruh pelosok negeri. Perkembangannya sungguh sangat pesat. Kalau dahulu banyak orang tidak peduli kepada ajaran Islam dan umatnya, maka saat ini qalbu mereka dibuka oleh Allah Swt., sehingga mereka berduyun-duyun bersedia menerima ajaran Islam sebagai sistem hidup, dan sekaligus mereka gunakan sebagai track terbaik bagi perjalanan hidup mereka. Akan tetapi, di antara mereka yang dahulunya sangat membenci ajaran Islam dan umatnya, maka kebencian mereka itu masih tetap utuh di dalam sanubari mereka.

Penulis pernah mendengar dan menyaksikan sendiri dari banyak kesaksian yang pernah disampaikan secara terbuka oleh orang-orang yang baru memeluk agama Islam, bahwa andaikata mereka harus mati sebelum memeluk agama Islam, tentunya mereka mati sebelum menikmati manisnya Islam. Oleh karena itu, mereka senantiasa mengucapkan kalimat syukur ke hadirat Allah „Azza wa Jalla atas karunia-Nya luar biasa yang telah menjadikan mereka sebagai seorang muslim dan mukmin. Bahkan ada di antara mereka yang pernah menyampaikan, “Andaikata kami terbunuh (mati) sebelum kami memeluk Islam ini, tentunya kami akan berada dalam kerugian yang nyata, baik di alam dunia ini, terlebih lagi di alam akhirat kelak.”

Dikisahkan, bahwa ada seorang sahabat yang berujar lirih kepada seorang sahabat Rasulullah Saw. yang baru memeluk agama Islam, “Alangkah bodohnya engkau, karena pernah membunuh salah sorang sahabat beliau yang mulia.” Sahabat yang baru memeluk Islam itu pun menjawab, “Mengapa engkau menyalahkan aku karena telah membunuhnya. Semestinya engkau bersyukur karena aku telah membunuhnya, sehingga Allah Swt. memasukkan dirinya ke dalam surga-Nya; disebabkan perbuatan tanganku ini, dan setelah mati ia dinyatakan sebagai seorang syahid, serta berhak menempati surga-Nya. Sebagaimana pula jika aku yang tebunuh, sedang aku belum memeluk Islam, tentunya aku akan menjadi penghuni neraka untuk selamanya.”

Selain kisah di atas, terdapat juga kisah lain dari seseorang yang dahulunya sempat melewati masa penjajahan serta penindasan terhadap pemeluk agama di negeri kami (Turki), kemudian ia bertobat dan senantiasa berada di dalam mushalla (tempat shalat)nya, serta menjahui segala bentuk perbuatan dosa yang biasa ia lakukan sebelumnya. Ia pernah mengeluarkan pernyataan terbuka, “Sebenarnya aku telah menunggu cukup lama untuk tibanya saat-saat orang yang dahulunya selalu menonjolkan kekuatan dan kesesatannya ini, setelah ia kembali ke jalan Allah Swt., maka ia selalu menangisi kekurangan diri sendiri di masa yang telah berlalu.”

Tersedia pula sebuah kisah yang berasal dari masa Rasulullah Saw. dan para sahabat beliau. Tepatnya, pada saat sahabat „Amru Ibnu al-Âsh, salah seorang tokoh Quraisy yang sangat membenci ajaran Islam dan Rasul yang menyampaikannya, memeluk agama Islam di masa beliau Saw. masih hidup. „Amru Ibnu al-Âsh ra. kemudian dinyatakan termasuk salah seorang sahabat Nabi yang ahli berpikir dan sangat cerdas.

Dikisahkan, Amru Ibnu al-Âsh ra. merupakan salah seorang sahabat Nabi Saw. yang diberi karunia usia yang sangat panjang, dan sekaligus diliputi keberkahan. Pada saat ia mengalami sakit yang sangat parah, dan menghadapi sakaratul maut, ia menangis sejadi-jadinya dengan menghadapkan wajahnya ke arah dinding, serta tidak ingin menatap siapa saja yang berkunjung kepadanya. Melihat keadaan Amru bin Al-Âsh seperti itu, putranya bertanya, „Wahai ayah, mengapa engkau menangis seperti ini, bukankah Rasulullah Saw. telah menyampaikan berita gembira bagimu?' Mendengar pertanyaan putranya seperti itu, ia menoleh seraya berkata, „memang aku telah mengucapkan dua kalimat syahadat, akan tetapi jika diingat, dahulunya aku berada di bawah tiga tingkat keburukan yang amat menyesakkan dada. Bukankah aku dahulunya sangat membenci Rasulullah Saw. --sebelum aku memeluk agama Islam--, hingga aku sangat ingin membunuh beliau. Andaikata aku berhasil membunuh beliau saat itu, kemudian aku mati setelah melakukannya, betapa buruknya nasibku di akhirat kelak, karena aku akan menjadi penghuni neraka untuk selamanya. Kemudian, setelah Allah Swt. memasukkan rasa cinta terhadap Islam ke dalam dadaku, maka aku datang kepada utusan-Nya seraya berkata, wahai Muhammad ulurkan tanganmu, karena aku akan berbai'at kepadamu.'

Ketika beliau mengulurkan tangan beliau yang mulia itu kepadaku, maka aku sempat menahan diri dengan tidak mengulurkan tanganku kepada beliau, sehingga beliau bertanya kepadaku, „Wahai „Amru, mengapa engkau tidak mengulurkan tanganmu kepadaku?' Jawabku, „Aku mau memeluk Islam asalkan dengan satu persyaratan.' Tanya beliau, „Persyaratan apakah yang engkau inginkan dari Islam?' Aku menjawab, „Bahwa aku mau memeluk Islam asalkan semua dosaku diampuni oleh Allah Swt..' Maka beliau berkata, „Bukankah telah engkau ketahui bahwa Islam akan menghapuskan dosa-dosa orang yang baru memeluk Islam? Dan, bukankah hijrah akan mengahpus dosa-dosa dari mereka yang berhijrah? Serta bukankah orang yang mengerjakan ibadah haji akan menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya?'

Aku („Amru) selanjutnya berkata, „Sesungguhnya, sejak saat itu tidak seorang pun yang lebih aku cintai, dan aku hormati dari beliau. Sehingga aku tidak sanggup lagi memandang wajah beliau yang mulia dengan kedua mataku, karena aku sangat menghormati beliau. Bahkan, kalau aku ditanya untuk menyebutkan pribadi beliau yang mulia, pasti aku tidak akan sanggup menguraikannya satu persatu --karena banyaknya--. Alangkah bahagianya aku, jika harus meninggal dunia setelah peristiwa itu, sehingga aku dapat berharap masuk ke dalam surga-Nya.

Setelah kejadian itu, aku masih melakukan beberapa perbuatan yang aku tidak mengetahui secara persis bagaimana jika harus mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak. Oleh karena itu, jika aku sudah meninggal dunia nanti, maka janganlah kematianku diikuti dengan tangisan dan iringan api, seperti yang dilakukan oleh kaum Quraisy di masa Jahiliyah. Jika kalian telah mengebumikan jasadku di bawah tanah, hendaknya kalian berdiri di sisi kuburku selama beberapa saat, seperti ketika seorang menyembelih seekor unta, kemudian ia membagikan dagingnya kepada orang lain, agar aku merasa tenang dengan keberadaan kalian di sisi kuburku, dan aku dapat menyaksikan sekembalinya malaikat dari kuburku.”[5]

Selain itu, masih sangat banyak kisah menarik lainnya dari orang-orang yang dahulunya merasakan cukup jauh sentuhan Allah Swt. dan bimbingan ajaran Islam, kemudian mereka bertobat setelah menghabiskan kehidupan mereka dalam kesesatan selama bertahun-tahun; seperti yang pernah dialamai oleh sahabat „Amru Ibnu al-Âsh ra. Andaikan kami memiliki kesempatan yang cukup untuk menukilkan sejumlah kisah orangorang yang telah bertobat, maka kami akan mengupasnya di dalam buku sederhana ini. Sebab, pertobatan mereka bersumber dari karunia serta petunjuk Allah Swt..

Sesungguhnya tidak akan pernah ada dinding yang sanggup membatasi suatu tugas, khususnya bagi orang-orang yang berkeinginan kuat akan mengabdikan dirinya untuk kepentingan agama Allah dan umat Islam. Para da'i muslim yang qalbu mereka rela untuk menyampaikan dakwah Islam kepada seluruh umat manusia, maka yang tersimpan di dalam benak mereka tidak lain kecuali bagaimana caranya bisa menyampaikan dakwah Islamiah kepada sebagian orang yang sanubarinya masih tertutup rapat dari hidayah Allah.

Tentunya untuk menyampaikan dakwah kepada orang-orang yang qalbunya masih tertutup tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi kalau mereka hidup di alam bebas yang cukup sulit untuk ditembus oleh dakwah Islamiah yang terlanjur mereka anggap sebagai tidak modern. Oleh karena itu, alternatif jalan yang terbaik agar dapat menembus relung sanubari orang-orang yang tertutup itu, sebaiknya para da'i menyampaikan dakwah Islamiah ini dengan cara-cara yang lembut, tata krama serta tutur kata dan tindak-tanduk yang manis, juga menarik perhatian orang-orang yang mendapatinya.

Jika para da'i Islam dapat mengajak mereka yang qalbunya masih tertutup untuk bisa menembus ke jalan Allah dengan cara-cara yang menarik dan lemah lembut, maka pasti relung sanubari mereka akan mudah terbuka, seperti yang pernah dilakukan oleh para Nabi dan Rasul, para kekasih Allah, dan para da'i lainnya yang telah terbukti berhasil menyentuh serta mengajak mereka ke jalan-Nya.

Mari kita ingat kembali kisah Nabi Allah Nuh as. pada saat beliau merasa terkejut oleh jawaban putra beliau sendiri yang menolak diajak menumpangi kapal bersama mereka yang setia memenuhi seruan beliau ke jalan-Nya Swt., meskipun beliau telah mengajaknya dengan penuh kasih sayang dan keinginan yang kuat. Akan tetapi, ajakan Nabi Allah Nuh as. ditolak mentah-mentah oleh putra dan umat beliau lainnya, sehingga seluruhnya ikut ditenggelamkan oleh Allah ke dalam gulungan air bah yang melanda kaum yang ingkar tersebut. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya „Azza wa Jalla berikut ini, “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Lalu Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, „Wahai anakku, naiklah ke kapal bersama kami, dan janganlah engkau berada bersama orangorang yang kafir. Anaknya menjawab, „Aku akan mencari perlindungan ke bukit yang dapat memeliharaku dari air bah!' Nuh berkata, „Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah saja Yang Maha Penyayang.' Dan, gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan,” (QS Hûd [11], 42-43).

Pada masa sekarang ini juga masih banyak kisah mereka yang berada dalam kondisi membangkang terhadap ketetapan Allah Swt., kemudian mereka diajak ke jalan Islam (keselamatan), akan tetapi mereka justru menolak ajakan kebaikan tersebut dengan keras. Seperti kisah yang dialami oleh Nabi Allah Ibrahim as.. Beliau sangat ingin mengajak ayah beliau untuk tidak lagi menyembah patung-patung (berhala). Nabi Ibrahim berusaha dengan segenap kemampuan yang beliau miliki, juga dengan berbagai cara yang lemahlembut, dan dibalut toleransi untuk menerangkan kepalsuan patung-patung yang disembah oleh ayah dan kaum beliau itu. Sebagaimana telah disebutkan oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya berikut ini, “Dan ingatlah pada saat Ibrahim berkata kepada bapaknya, Âzar, „Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai Ilah selain Allah? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata,” (QS al-An'âm [6], 74).

Cara berdakwah yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul kepada kaum mereka masing-masing perlu diketahui dengan baik oleh para da'i di masa kini. Bahkan Rasulullah Saw. sendiri mengajak paman beliau, Abu Thalib, ke dalam Islam. Sebab, Abu Thalib telah membela beliau dengan sangat gigih selama empat puluh tahun. Dalam hal ini, beliau Saw. berkata kepada paman beliau, “Junjungan kita sendiri, Rasulullah Saw. yang telah dibela oleh paman beliau, Abu Thalib, selama empat puluh tahun. Ketika ia tengah menghadapi sakaratul maut, maka beliau berkata, „Wahai paman, ucapkanlah kalimat tiada Tuhan selain Allah, maka dengan kalimat itu aku akan membelamu di hadapan Allah kelak, agar engkau selamat dari siksa- Nya.”[6]

Semua yang Rasulullah Saw. lakukan didasarkan atas kecintaan terhadap umat yang menjadi sasaran dakwah beliau, termasuk pula di dalamnya adalah mereka yang sangat dekat secara kekerabatan dengan beliau, atau mereka yang kala itu berada dalam pantauan beliau. Dengan kalimat yang lebih sederhana dapat dikatakan, bahwa siapa saja yang bertemu secara langsung dengan Nabi Saw. akan mendapati perlakuan serupa dari beliau, berkaitan dengan kecintaan dan rasa sayang yang dipancarkan seorang Nabi kepada (terhadap) umat beliau.[7] Terutama yang berkaitan erat dengan urusan keselamatan hidup umat, baik itu di alam dunia ini, terlebih lagi saat umat beliau berada di alam akhirat kelak. Sedemikian pedulinya Nabi, hingga beliau rela melakukan apa saja demi menyelamatkan kondisi umat beliau.

Memang, tugas menegakkan amar ma'ruf nahi munkar merupakan amanah yang sangat suci. Qalbu para da'i yang mengemban tugas tersebut, sebaiknya dipenuhi dengan perasaan kasih sayang kepada orang lain, agar pihak yang diseru mau menerima ajakannya. Tentunya tugas seberat itu tidak akan menjadikan para da'i merasa puas, meskipun telah berada di dalam kenikmatan (keselamatan hidup dan surga), sampai mendapati masyarakat yang mereka seru ikut masuk ke dalam surga bersama mereka.

Hal serupa pernah diucapkan oleh seorang da'i, sebagai ungkapan atas apa yang telah dialaminya sendiri berikut ini, “Aku rela mengorbankan seluruh yang aku miliki, sampai jika aku harus mengorbankan urusan duniaku sendiri demi untuk menyelamatkan masyarakat di sekitarku dari siksa Allah Swt.. Sedikit pun tidak terselip harapan di dalam sanubariku untuk masuk surga sendirian, atau takut kepada neraka dengan mengorbankan kepentingan pihak lain. Yang aku harapkan adalah keimanan seluruh penduduk negeri Turki, yang saat ini telah mencapai sekitar dua puluh juta orang, dan keimanan seluruh penduduk dunia Islam yang mencapai beratus-ratus juta, bahkan bermilyar orang banyaknya. Andaikata kandungan Al-Qur'an kita hanya dapat menaungi sekelompok orang saja yang berada di muka bumi ini, niscaya aku tidak akan berharap mendapatkan kenikmatan surga sebelum seluruh penduduk bumi mencapai keselamatan di akhirat kelak secara keseluruhan. Bahkan, aku rela dimasukkan ke dalam neraka Jahannam, asalkan seluruh penduduk dunia dapat menikmati kesenangan surga di akhirat kelak.”[8]

Itulah perasaan para da'i yang qalbu mereka benar-benar ikhlas dan penuh kasih sayang terhadap orang lain (objek dakwah), sehingga mereka tidak peduli jika harus dimasukkan ke dalam neraka, asalkan orang lain dimasukkan ke dalam surga. Ibarat ini menunjukkan sedemikian dahsyat kekuatan cinta yang mesti disandang oleh seorang penyeru (da'i). Sebab sesungguhnya, untuk merealisasikan ucapan seseorang menjadi perbuatan tidaklah mudah. Meski begitu, perlu dipahami oleh kita betapa besarnya kasih sayang seorang da'i kepada masyarakatnya yang tidak mau menerima dakwah Islam yang disampaikan. Itulah gambaran seorang da'i yang mukhlis karena Allah Swt. semata. Alangkah besarnya kasih sayang Rasulullah Saw. kepada umat beliau, sampai beliau akan menghadap Allah (meninggal dunia) pun masih berseru, “Umatku-umatku.” Beliau berseru seperti itu dengan penuh keikhlasan (kesungguhan) sambil berharap hanya kepada Allah, lantaran besarnya harapan beliau atas keselamatan umat Islam dari siksa Allah. Sehingga pada waktu itu beliau Saw. terus-menerus bermunajat (meminta) sambil memohon kasih sayang Allah bagi umat beliau. Sampai beliau diperintahkan oleh Allah Swt. untuk bangkit dari sujud beliau, dengan janji bahwa permohonan beliau akan dikabulkan oleh Allah. Sebagaimana tertera di dalam sebuah hadis berikut ini, “Wahai Muhammad, bangkitlah (angkatlah kepalamu), karena seluruh permohonanmu telah aku penuhi, dengan memberimu kewenangan memberikan syafa'at atas umatmu.”[9]

Riwayat di atas menunjukkan kepada kita semua sebagai umat Islam betapa besarnya kasih sayang yang ditunjukkan oleh Rasulullah Saw. kepada umat beliau. Tentunya tidak semua orang akan memikirkan keselamatan orang lain, termasuk juga keselamatan keluarga dan kaum kerabat pihak lain. Kecuali, jika seorang da'i merasa lebih bertanggung jawab atas keselamatan umat daripada keselamatan diri sendiri dan keluarganya. Dengan demikian, seorang da'i yang memikirkan keselamatan masyarakatnya lebih dari dirinya sendiri adalah seorang da'i yang sejati dan mukhlis karena Allah „Azza wa Jalla semata.

[1] Disarikan dari kumpulan puisi karya Sa’di al-Syirazi, yang diterjemahkan oleh Muhammad al-Farrati dalam Raudhah al-Wurud, halaman 9.
[2] Lihat lebih lanjut dalam kitab al-Firdaus, karya Imam ad-Dailami, Jilid 3, hadis nomor 586.
[3] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad, Jilid 6, hadis nomor 432. Juga terdapat dalam kitab Syu’ab al-Îmân, karya Imam al-Baihaqi, Jilid 6, hadis nomor 220.
[4] Contoh atau gambaran yang diambil oleh Penulis ini merupakan hasil pengamatan di seputar keberislaman masyarakat Turki pada kurun waktu sekarang (penerj. Edisi Indonesia).
[5] Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam bahasan mengenai al-Îmân, hadis nomor 192.
[6] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam manâqib al-Anshâr, hadis nomor 40. Diriwayatkan pula oleh Imam al-Tirmidzi pada kitab Tafsir miliknya, pada bahasan mengenai hal ini, halaman 28-29. Diriwayatkan pula oleh Imam al-Nasâ-I, dalam bahasan mengenai al-Janâiz (jenazah), hadis nomor 102.
[7] Lihat lebih lanjut dalam Majma’ al-Zawâid, karya Imam al-Haitsami, Jilid 6, halaman 35. Juga dapat dirujuk dalam Syarh al-Syifâ, karya al-Qadhi ‘Iyadh, yang ditulis oleh ‘Ali al-Qari, Jilid 1, halaman 279.
[8] Lihat lebih lanjut dalam Sîrah Dzîtiyah, karya Imam Badi’ al-Zaman al-Nursi, halaman 457.
[9] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dalam bahasan mengenai Tauhid, hadis nomor 36, berkaitan dengan Tafsir Al-Quran surah ke-5. Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, pada bahasan mengenai al-Îmân, hadis nomor 326-327. Juga diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, pada bahasan mengenai al-Qiyâmah (Hari Kiamat), hadis nomor 10.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.