Dakwah Sebagai Tujuan Hidup

Dakwah Sebagai Tujuan Hidup

Menegakan amar ma'ruf nahi munkar merupakan tujuan utama dan termulia diciptakannya manusia. Allah Swt. telah menciptakan alam semesta yang sebesar dan selengkap ini demi terwujudnya usaha amar ma'ruf nahi munkar. Karena itu, Allah „Azza wa Jalla sengaja menciptakan manusia sebagai khalîfah di permukaan bumi ini, demi terwujudnya kekhalifahan. Dan, untuk menunjang keberhasilan tugas kekhalifahan dimaksud, Allah sengaja mengutus sejumlah Nabi dan Rasul sebagai penunjuk jalan menuju kehendak-Nya.

Nabi Allah Adam as. adalah manusia pertama yang menjadi manusia atau khalîfah di permukaan bumi ini. Anak-anak Nabi Adam as. dilahirkan, dan telah mendapati ayah mereka sebagai seorang Nabi yang selalu menyuruh mereka kepada kebaikan, dan mencegah mereka dari berbuat kemunkaran. Sejak masa itu pula kemudian datang sejumlah Nabi dan Rasul yang terus-menerus bersambung hingga berakhir dengan kerasulan Muhammad Saw.. Para Nabi dan Rasul itu sengaja diutus untuk membawa misi dari sisi Allah Swt. yang paling utama, yaitu amar ma'ruf nahi munkar. Misi para Rasul ini sejalan dengan tujuan utama diciptakannya manusia sebagai khalîfah Allah di bumi ini. Oleh karena itu, perbuatan yang satu ini termasuk perbuatan yang paling mulia di sisi Allah Azza wa Jalla.

Putra-putra Nabi Adam as. telah mendapati ayah mereka senantiasa menujukkan pandangan ke alam atas (akhirat). Beliau senantiasa menerima berbagai macam perintah dan selalu menaatinya. Bahkan, beliau tidak akan meninggalkan urusan akhirat untuk sekadar terlena kepada urusan keduniaan. Sehingga mereka mengerti, bahwa ayah mereka, yaitu Adam as., adalah seorang Nabi yang senantiasa mengajak manusia ke jalan yang lurus, dan mencegah mereka dari berbagai jalan kemunkaran. Tugas menegakkan amar ma'ruf nahi munkar oleh Nabi Adam as. sebagai seorang Rasul pertama, kemudian dilanjutkan oleh sejumlah Nabi dan Rasul setelah beliau. Adakalanya kebaikan umat manusia telah mencapai tingkatan tertinggi, akan tetapi seiring berkembangnya waktu dan munculnya berbagai cobaan, tingkat kebaikan itu sedikit demi sedikit menurun. Bahkan, ada yang sampai titik sanubarinya mengeras seperti batu.

Dan, di saat seperti inilah, sedikit demi sedikit manusia terperosok dalam kesesatan. Semakin lama, semakin rusak. Sampai Allah Swt. mengutus kembali seorang Nabi atau Rasul yang baru, guna meneruskan tugas kenabian dan kerasulan sebelumnya, yaitu; menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.

Setiap kali cahaya ajaran yang dibawa oleh Nabi yang satu mulai memudar, dan manusia bergeser menyimpang dari jalan yang lurus, maka di saat itu pula Allah Swt. mengutus Nabi atau Rasul yang baru, meskipun di antara manusia yang berlaku buruk terdapat pula manusia-manusia yang masih berbuat kebaikan sebagai wali-wali Allah di muka bumi ini. Sehingga alam semesta mulai tenggelam dalam gelapnya kesesatan, namun di antara mereka masih tersisa cahaya para wali Allah yang menerangi sekitarnya. Akan tetapi, cahaya mereka tidak seterang cahaya yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul.

Keadaan masa terus berkembang, hingga tibalah masa diutusnya Nabi Nuh as.. Pada saat itu, mulai terdengar ajakan Nabi Nuh as. yang mengajak kaum beliau kepada kebaikan, dan mencegah mereka dari bertindak munkar. Nabi Nuh as.. melaksanakan tugas kenabian dan kerasulan beliau selama berpuluh, bahkan beratus tahun lamanya dengan baik. Hampir setiap saat beliau berdakwah di antara kaum beliau. Seperti telah disebutkan oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya berikut ini, “Aku sampaikan kepada kalian amanat-amanat dari sisi Tuhanku, dan aku memberi nasihat kepada kalian, serta aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui," (QS al-A'râf [7]: 62).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas, siapa pun yang mau mengikuti dan menerima ajaranku ( ajaran yang dibawa oleh Nabi Allah Nuh as.), dan mau ikut serta dan berada di dalam kapalku, mereka akan mendapatkan keselamatan lahir maupun batin. Kapal akan menyelamatkan jasad dan nyawa semua orang yang berada di dalamnya dari ganasnya gelombang yang sangat besar. Mereka akan tiba di pantai keselamatan bersama Nabi Nuh as. Sementara orang-orang yang enggan naik ke kapal bersama Nabi Nuh as. akan binasa lahir maupun batin ditelan oleh ombak.

Nabi Allah Nuh as. melaksanakan tugas kenabian dan kerasulan beliau dengan baik selama sekitar sembilan ratus lima puluh tahun. Dan setelah beliau wafat, maka Allah mengutus Nabi Hud as. yang menunaikan tugas kenabian serta kerasulan beliau--- yaitu; menegakkan amar ma'ruf nahi munkar--- dengan baik. Sebagaimana telah disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini, “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepada kalian, dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagi kalian," (QS al-A'râf [7]: 68).

Nabi Allah Hud as.. melaksanakan tugas kenabian dan kerasulannya dengan baik. Di antara kaum beliau ada yang beriman dan menerima ajakan Nabi Hud as. dengan baik, akan tetapi sebagian besar dari mereka justru mengingkari ajakan yang beliau sampaikan. Semakin lama ajaran yang disampaikan oleh Nabi Allah Hud as. semakin memudar, dan manusia semakin tersesat dari jalan-Nya, sehingga mereka telah menyimpang jauh dari ajaran yang pernah disampaikan oleh Nabi Allah Nuh dan Nabi Allah Hud as.

Pada saat manusia berada dalam tingkat kesesatan yang sangat jauh, maka ketika itu pula Nabi Ibrahim as. diutus oleh Allah Swt.. Tugas utama beliau adalah mengajak kaum beliau menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Beliau mengajak kaum di mana beliau diutus untuk meng-Esa-kan Allah. Akan tetapi, mereka cenderung menolak ajakan yang beliau sampaikan dengan keras. Bahkan mereka melemparkan Nabi Ibrahim as. ke dalam api unggun untuk membinasakannya. Setelah masa kenabian Ibrahim as. berakhir, makin lama umat kala itu semakin menyimpang dari jalan yang lurus. Mereka kembali mengagungkan dan menyembah patung-patung, serta mereka lebih condong kepada kehidupan duniawi dan segala sesuatu yang bersifat materi.

Ketika manusia sedang berada dalam kesesatan yang jauh, maka di saat itulah Allah Swt. mengutus Nabi Musa as. di negeri Mesir. Pada saat itu jiwa penduduk negeri Mesir telah membatu, bahkan perasaan mereka terkesan lebih keras dari batu. Nabi Allah Musa as. berusaha mengajak mereka ke jalan yang lurus. Nabi Musa as. Menegakkan tugas suci seorang Rasul, amar ma'ruf nahi munkar. Beliau dan Nabi Harun as.--saudara beliau-- mengajak kaum beliau ke jalan yang lurus dengan susah-payah dan penuh tantangan. Kedua utusan Allah itu terus bersabar saat menyampaikan risalah kenabian yang mereka emban.

Perlu diketahui, bahwa tugas amar ma'ruf nahi munkar bukanlah perkara yang mudah. Sehingga tidak sedikit para Nabi dan Rasul yang terbunuh ketika mengajak kaum yang beliau-beliau seru. Bahkan, tubuh dari Nabi Allah Zakariah as. diancam akan dibelah menjadi dua menggunakan gergaji besi karena menanggung risalah yang mesti beliau sampaikan. Demikian pula halnya dengan Nabi Allah Yahya dan Nabi Allah „Isa as., kedua jiwa beliau itu terancam dibunuh ketika mengajak kaum-kaum beliau menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.

Meskipun demikian, tantangan dan intimidasi yang dihadapi oleh Nabi Allah Muhammad Saw. dari kaum beliau jauh lebih berat daripada tantangan maupun intimidasi yang diterima oleh para Rasul sebelum Beliau. Sehingga beliau Saw. pernah berkata kepada „Aisyah ra., “Aku telah mendapatkan tantangan dan intimidasi dari kaummu dengan sangat keras.”[1]

Ungkapan Rasulullah Saw. di atas merupakan rintihan qalbu seorang Nabi yang tengah bertahan dalam situasi yang sangat sulit dan tersudutkan. Perlu diketahui pula, bahwa semua tantangan dan segala bentuk intimidasi yang harus dihadapai oleh para Nabi serta Rasul Allah itu tidak terkecuali dialami pula sejak masa Nabi Allah Adam as.. Kesemua utusan Allah Swt. itu sempat menyampaikan semacam perasaan kecewa versi masing-masing Rasul tentunya, akibat harus menanggung pembangakangan yang ditunjukkan oleh kaumkaum beliau masing-masing.

Sikap kecewa akibat intimidasi yang mesti dihadapi oleh para Nabi dan Rasul itu juga harus dihadapi oleh para da'i yang mengajak umat masing-masing ke jalan Allah Swt.. Sehingga ada seorang da'i yang sempat mengucapkan keluhan sebagai berikut, “Selama delapan puluh tahun lebih dari usiaku, belum pernah aku merasakan manisnya dunia sedikit pun. Sebab, aku senantiasa menghabiskan usiaku di berbagai medan peperangan dan penjara tawanan, baik di dalam maupun di luar negeri. Tidak satu penderitaan pun berupa siksaan yang belum pernah aku alami. Bahkan aku pernah diperlakukan sebagai penjahat perang di dinas ketentaraan di dalam negeriku sendiri. Aku juga pernah dibuang di berbagai negara sebagai penjahat perang, dan aku pernah dilarang bergaul dengan orang lain (diasingkan) selama berbulan-bulan di dalam penjara khusus di negeriku sendiri. Aku pernah diracun berulang kali, dan dihinakan dengan berbagai perhinaan yang sangat keji. Sampai-sampai, muncul suatu waktu aku lebih banyak berharap kematian daripada hidup yang tersiksa. Andaikata agamaku tidak melarangku melakukan bunuh diri, pasti aku sudah membunuh diriku sendiri. Sebab, kematian bagiku pada waktu itu lebih aku sukai daripada kehidupan yang penuh siksa dan derita.”[2]

Ungkapan yang tergambar jelas seperti di atas tidak lain hanyalah suatu bentuk keluhan dan kekecewaan perasaan yang keluar dari seorang yang qalbunya terkoyakkoyak disebabkan oleh adanya siksaan dari masyarakat di sekelilingnya ketika ia mengajak mereka untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar .

Maka dari itu, demi menjelaskan tentang betapa pentingnya tugas amar ma'ruf nahi munkar, seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Adam as. hingga Nabi Muhammad Saw., maka tergerak pula di dalam sanubariku untuk menyampaikan kisah orang-orang yang sempat menyampaikan tugas ber-amar ma'ruf nahi munkar . Karena, setiap langkah yang dilalui oleh seseorang yang bersedia menegakkan amar ma'ruf nahi munkar akan diberi pahala seperti yang telah Allah berikan kepada para Nabi dan Rasul. Sebab, tugas mulia yang satu ini merupakan risalah yang diemban oleh para Rasul Allah. Siapa pun yang bergerak di bidang amar ma'ruf nahi munkar , maka ia harus memahami dan siap menghadapi segala bentuk risikonya. Karena, ia akan mendapatkan balasan pahala sesuai dengan niat masing-masing.

Perlu diketahui pula, bahwa siapa saja yang merelakan dirinya untuk mengemban tugas suci ini, hendaknya ia senantiasa menjaga diri untuk tetap bersikap istiqamah (konsisten). Sebab, tugas suci ini memerlukan pribadi-pribadi yang teguh dan istiqamah dalam menjalankan tugasnya. Dengan kata lain, setiap mukmin sebenarnya mendapatkan tugas untuk memenuhi kewajiban yang utama ini, menegakkan amar ma'ruf nahi munkar , agar keimanan di dasar sanubari masing-masing senantiasa terpelihara. Karena, kaitan amalan dimaksud dengan keimanan seorang hamba sangatlah erat. Oleh karena itu, eksistensi setiap individu ataupun kelompok tidak akan pernah kekal, kecuali jika ia bersedia menegakkan amar ma'ruf nahi munkar .

Sesungguhnya rahasia keberadaan seorang mukmin dan syarat kekalnya ia sebagai seorang mukmin adalah menjalankan perintah untuk menyuruh yang baik dan mencegah dari segala sesuatu yang bernilai munkar. Seorang mukmin tidak boleh diam saja apabila melihat suatu bentuk kemunkaran terjadi. Seorang mukmin tidak seharusnya menilai kehidupan lebih mulia daripada kematian. Setiap mukmin harus menegakkan amar ma'ruf nahi munkar seperti yang pernah dilakukan oleh para sahabat, dan mereka menganggap tugas yang satu ini merupakan tanggung jawab yang paling mulia. Sebab itulah setiap sahabat tidak pernah dalam hidup mereka berhenti sesaat pun untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Setiap Mukmin hendaknya senantisa menyandarkan dirinya kepada Allah Swt. dalam menegakkan amar ma'ruf nahi munkar , serta memohon perlindungan kepada Allah „Azza wa Jalla saat menegakkan amar ma'ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat.

Hendaknya setiap mukmin senantiasa mengorbankan segala apa yang menjadi miliknya untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar . Sebab, amalan ini membentuk kehidupan tersendiri bagi kualitas diri seorang mukmin. Setiap mukmin yang menjadikan iman dan dakwah sebagai sumber amalan di dalam kehidupannya, maka ia termasuk seorang yang menjaga lima perkara berikut ini, yaitu; agama, fungsi akal, keturunan, harta, dan jiwanya.

Siapa saja yang menjaga dengan baik agamanya, maka ia termasuk orang yang menjaga ke lima perkara tersebut. Akan tetapi, lebih utama baginya untuk menjaga kehormatan agamanya terlebih dahulu daripada yang lainnya. Sebab, menjaga agama merupakan bukti keterkaitan seorang mukmin secara langsung kepada Allah Swt.. Sebaliknya, jika seorang mukmin tidak menjaga kehormatan agamanya dengan baik, maka ia tidak termasuk orang yang menjaga kelima perkara yang telah kami sebutkan di atas.

Allah telah menjadikan kita sebagai sarana untuk mengenal-Nya, dan juga mengenalkan-Nya kepada orang lain. Karena, Allah „Azza wa Jalla sengaja menciptakan kita untuk memakmurkan alam semesta ini, sebagaimana kita nantinya juga akan memakmurkan alam akhirat. Jika kita tidak dapat melaksanakan perintah Allah Swt. yang satu ini, maka kita akan diberi siksaan di dunia maupun akhirat kelak, baik itu berupa cobaan maupun segala bentuk kerusakan. Semoga Allah Yang Mahabijak melindungi kita semua dari berbagai cobaan-Nya yang sangat menyesakkan dada disebabkan kita tidak mau menjalankah perintah-Nya yang utama, menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.

Allah telah menjadikan kita sebagai sarana untuk mengenal-Nya, dan juga mengenalkan-Nya kepada orang lain. Karena, Allah „Azza wa Jalla sengaja menciptakan kita untuk memakmurkan alam semesta ini, sebagaimana kita nantinya juga akan memakmurkan alam akhirat. Jika kita tidak dapat melaksanakan perintah Allah Swt. yang satu ini, maka kita akan diberi siksaan di dunia maupun akhirat kelak, baik itu berupa cobaan maupun segala bentuk kerusakan. Semoga Allah Yang Mahabijak melindungi kita semua dari berbagai cobaan-Nya yang sangat menyesakkan dada disebabkan kita tidak mau menjalankah perintah-Nya yang utama, menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. “Abi Hurairah ra. menyampaikan, Rasulullah Saw. pernah bersabda, „Wahai manusia, bagaimanakah keadaan kalian jika para pemudi kalian berlaku sewenang-wenang, dan para pemuda kalian berlaku fasik?' Para sahabat menjawab dengan balik bertanya, „Wahai Rasulullah, apakah hal itu benar-benar akan terjadi?' Beliau menjawab, „Hal itu pasti akan terjadi, bahkan lebih buruk daripada itu.' Lalu, bagaimana pendapat kalian jika kalian meninggalkan amar ma'ruf nahi munkar?' Para sahabat pun kembali menjawab dengan balik mengajukan pertanyaan, „Wahai Rasulullah, apakah hal itu juga akan terjadi?' Beliau menjawab, „Hal itu pasti akan terjadi, bahkan lebih buruk daripada itu kondisinya.' Kemudian beliau menyatakan dengan kembali bertanya, „Bagaimana keadaan kalian jika kalian melihat kemunkaran sebagai kebaikan, dan kebaikan sebagai kemunkaran?'”[3]

Mendengar pertanyaan Nabi seperti yang telah disebutkan di atas, maka para sahabat merasa tercengang dan dibuat sangat khawatir, sehingga pikiran mereka hampir saja tidak dapat menerima kenyataan seberat itu. Sebab, menurut mereka, tidak akan turun berbagai cobaan selama masih ada seorang mukmin di antara umat manusia. Dan Oleh karena itu, mereka mengajukan pertanyaan, “Wahai Rasulullah, apakah hal itu benarbenar akan terjadi?”

Pertanyaan yang telah para sahabat ajukan itu adalah pertanda, bahwa mereka sangat merasakan ketakutan yang luar biasa, dan merasakan kebingungan yang amat sangat jika harus menghadapi cobaan yang seberat itu. Akan tetapi, Rasulullah Saw. menjawab pertanyaan mereka dengan menyatakan, “Benar, pasti hal itu akan terjadi, bahkan akan lebih berat kondisinya.” Terlebih lagi setelah beliau Saw. mengajukan pertanyaan, “Bagaimanakah keadaan kalian jika kalian mendapati atau menyaksikan sendiri kebaikan yang dinilai sebagai suatu tindak kemunkaran, dan sebaliknya tindak kemunkaran dianggap sebagai suatu bentuk kebaikan?” Sebaiknya kita sangat memerhatikan hadis di atas secara saksama. Sebab, pada waktu kita hidup sekarang ini, apa yang pernah ditanyakan oleh Rasulullah kepada para sahabat itu benar-benar terjadi di hadapan mata kita.

Sesungguhnya apa saja yang pernah disebutkan oleh Rasulullah Saw. dalam sabda beliau --sebagaimana disebutkan di atas-- benar-benar terjadi pada masa kini. Bukankah saat ini tindak kemunkaran sudah dianggap sebagai suatu nilai kebaikan yang lazim dilakukan, dan nilai-nilai kebaikan telah dianggap sebagai suatu tindakan munkar oleh penyaksinya? Bukankah di mana-mana telah terjadi berbagai bentuk kekecauan, sehingga banyak orang yang meremehkan keimanan dan fungsi Al-Qur'an? Bahkan, orang-orang yang mengaku diri beriman dianggap sebagai orang yang lemah.

Bukankah pada zaman kita sekarang ini negara --sebagai fungsi kontrol yang bernilai sentral-- telah memberikan jaminan berupa undang-undang perlindungan terhadap berbagai bentuk kemunkaran, dan menganggap hal itu sebagai suatu bentuk kebenaran; juga khususnya kebenaran agama dianggap sebagai suatu kemunduran? Alhasil, apa yang pernah disebutkan oleh Rasulullah Saw. di dalam sabda beliau benarbenar telah terjadi di masa kita sekarang ini. Sehingga kehinaan akan mengganti derajat kemuliaan yang telah dicapai oleh umat Islam di masa lalu, tepatnya pada saat mereka masih berani menegakkan amar ma'ruf nahi munkar .

Jika tatanan hidup suatu masyarakat telah berani menodai peraturan yang bersifat suci, maka bisa dipastikan masyarakat tersebut akan menanggung dampak negatifnya. Kejadian serupa telah sering terjadi di masa lalu, dan orang-orang yang bersedia menggunakan akalnya tidak akan memerhatikan kecuali demi mencapai keselamatan bersama. Sehingga para sahabat kala itu sempat mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah hal itu benar-benar akan terjadi?” Jawab beliau Saw., “Semua itu benar-benar akan terjadi, bahkan lebih buruk kondisi daripada apa yang pernah aku sebutkan,” kata beliau. Selanjutnya, Rasulullah Saw. kembali mengajukan sebuah pertanyaan, “Bagaimanakah keadaan kalian jika orang-orang yang hidup pada masa itu menebarkan kemunkaran dan mengingkari kebaikan?” Hingga membuat para sahabat kembali mengajukan pertanyaan, “Wahai Rasulullah, apakah hal itu juga benarbenar akan terjadi?”

Penjelasan dari sabda Rasulullah Saw. di atas adalah, apabila kalian telah meremehkan keluarga dan anak keturunan kalian, sehingga mereka terpengaruh dengan berbagai bentuk kemunkaran yang ada di sekitar mereka, maka pada waktu itulah kalian akan terkena dampak negatifnya.

ahkan, Rasulullah Saw. pernah memperingatkan para sahabat beliau dengan sabda berikut ini, “Pada suatu hari kelak akan terjadi berbagai bentuk fitnah laksana penggalan malam yang gelap gulita, yang satu akan diikuti oleh yang lain, dan semua itu akan mendatangi kalian. Mereka mempunyai kesamaan rupa (tampilan) bagai wajah-wajah sapi yang kalian tidak dapat (sulit untuk bisa) membedakan antara yang satu dari yang lain.”[4]

Nabi kita Muhammad Saw. telah memperingatkan kepada kita semua secara jelas tentang sesuatu yang akan terjadi, yang dampak negatifnya akan terlihat dengan kasat mata. Sebab, pada waktu dimaksud kaum muslim sudah bersikap enggan untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar . Padahal perbuatan ini merupakan kewajiban yang berlaku umum bagi setiap mukmin. Akan tetapi, karena mereka telah melalaikan kewajiban tersebut, mereka mengalami kemunduran sejak tiga ratus tahun yang lalu. Dan, cara jitu yang bisa dilakukan untuk menanggulanginya adalah, hendaknya kita menegakkan kembali amar ma'ruf nahi munkar sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para Nabi dan Rasul di masa lalu.

[1] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bahasan mengenai Badaul Khalqi (Awal Penciptaan), hadîta nomor 7. Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim pada bahasan mengenai al-Jihâd wa al- Siyar, hadis nomor 111.
[2] Disarikan dari Sirah Dzâtiyah, karya Badi’ al-Zaman Sa’id al-Nursi, halaman 457.
[3] Lihat lebih lanjut dalam kitab al-Musnad, karya Imam Abu Ya’la, Jilid 11, hadis nomor 304. Juga dalam kitab Majma’ al-Zawâid, karya Imam al-Haitsami, Jilid 7, hadis nomor 280-281.
[4] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad, Jilid 5, hadis nomor 391.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.