Kegigihan Para Nabi; di Antara Kekuasaan Allah dan Sulitnya Perjuangan

Fethullah Gülen: Kegigihan Para Nabi; di Antara Kekuasaan Allah dan Sulitnya Perjuangan

Sesungguhnya dengan komitmen yang penuh kepada kebenaran Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menggantungkan segala urusan beliau kepada-Nya semata, nabi melaksanakan aktivitas dan tanggung jawab tanpa pernah berpaling. Hal ini dikarenakan ia mengetahui dengan pasti kekuatan yang mendukungnya serta memahami pekerjaan yang diberikan Allah, sehingga ia begitu yakin akan kebenaran tujuan dan jalan yang dia tempuh. Allah akan selalu menjaganya dan tidak akan berpaling meninggalkannya walau sedetik pun. Demikian pula, ia tidak akan menyerah dari tugas berat tersebut. Ia tidak akan terjebak di dalam kebimbangan pikiran, perasaan, keraguan dan kebimbangan yang tiada akhir, bahkan sangat yakin dan antusias serta menjiwai setiap beban tersebut. Ia menyerahkan sepenuhnya hasil yang akan diberikan oleh Allah dengan penuh ketenangan hati.

Oleh sebab itu, ia memperhatikan dengan seksama dan tanpa ikut campur terhadap keputusan apapun yang diberikan Allah serta tetap berusaha dalam setiap gerakan dan dan perbuatan, bahkan menjadikan semua itu sebagai dasar pekerjaan dalam mencari keridhaan Allah yang Mahabenar. Dengan demikian, ia membatasi ruang geraknya agar tidak keluar dari jalur ridha Tuhannya, dan berusaha menjauhkan segala keinginan dan kebutuhan individual yang bertentangan dengan asas dasar keridhaan Allah. Dengan langkah tersebut semua keraguan dan kebimbangan dapat diatasi dan beliau menjadi lebih kuat untuk tidak lepas dari tanggung jawab kenabian serta senantiasa meminta pertolongan dari Allah dengan terus berupaya, bekerja, dan berserah diri atas segala keputusan Tuhannya. Seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Nuh ‘alaihi salam tatkala memanjatkan do’a kepada Allah. Hal ini tertera dalam firman Allah surat al Qamar (54): 10, “Maka Dia mengadu kepada Tuhannya: "Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)." Kemudian setelah itu, ia menerima segalanya dengan penuh rasa ikhlas dan antusias akan kuasa dan penjagaan dari Allah, sehingga dapat memberikan solusi konkrit dan meningkatkan rasa bahagia.

Sebagaimana fungsi dari ibadah yang mestinya dapat menuntun manusia berada di jalan yang benar, begitu juga kebenaran akan mengingatkan dan menjadikan manusia ke jalan yang lurus. Selain itu, ibadah juga dapat menjadikan manusia bersabar dan berfikir jernih dalam setiap menanti keputusan dari Allah. Dengan demikian, seorang individu terkadang bisa melihat secara langsung hasil dari setiap upaya yang dia lakukan. Akan tetapi, ada juga individu yang harus berusaha keras dan membutuhkan waktu yang lama, atau bahkan tak bisa melihat hasilnya secara langsung, namun pada akhirnya menuai hasil jerih payahnya setelah bersabar dan menunggu lama.

Sebagian manusia tidak sabar dan mudah tergoda oleh keduniawian semata, tetapi hati yang bergantung kepada kebenaran rabbani dan berasaskan kepada perintah-perintah Tuhan, maka tidak akan bergeming dan tergoyah oleh segala cobaan dan lamanya waktu serta menganggap bahwa segala cobaan dan halangan bergantung kepada kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menganggap segala halangan dan rintangan tadi sebagai ujian dari-Nya, sehingga mereka menerima segala ujian-ujian itu dengan berserah diri dan ikhlas, mereka mengambil pelajaran berharga dari para perampok jalanan yang tidak menghiraukan segala bentuk kehinaan dan pola pikir meniru kehidupan masyarakat lain, yang mana para perampok ini yang selalu memperkuat barisan, perilaku dan perbuatan mereka dalam menjalani secara teliti untuk mempelihatkan segala perintah-perintah yang datang demi mempertahankan panji-panji mereka serta ciri khas kepribadian mereka. Ibarat dua sisi mata pisau, satu sisi menjaga karakteristik mereka dan di sisi lainya menjadikan perilaku mereka sebagai tujuan utama, sehingga mereka berusaha mempertahankan ciri khas tersebut bahkan mempertegas kepentingannya dan menjadikan semua itu sebagai tujuan yang paling utama. Semoga Allah menjadikan kita kuat dan mampu berkorban demi tujuan yang mulia, yaitu mencari keridhaan-Nya dan menjauhkan keraguan terhadap segala tantangan yang dihadapi walaupun hanya dalam khayalan belaka.

Sesungguhnya seseorang yang memiliki ciri-ciri tersebut termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menepati janji dan teguh pada kebenaran serta hanya memiliki satu kepentingan yang tertanam di dalam jiwa mereka, yaitu memuliakan Allah yang Maha Esa, dan menjadikan mereka ikhlas sepenuh hati untuk beribadah kepada Allah dalam setiap ibadah yang mereka lakukan. Walaupun mereka berada di tempat yang sepi atau di keramaian kota, hati dan pikiran mereka tidak berhenti untuk mentafsirkan suara dan keinginannya, serta memanggil tanpa henti segala intisari kehidupan dan menerima segala yang terjadi tanpa merusak arti dan penerapan dari ibadah itu sendiri. Hal ini seperti yang tertera dalam firman Allah QS. al- A’raf (7): 59, “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” Inilah pengaduan rasa sakit yang dialami oleh Nabi Nuh ‘alaihi salam.

“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?". Ini juga yang dilakukan oleh Nabi Hud ‘alaihi salam.

“Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” Ini merupakan perumpamaan sempurna dan penuh keikhlasan yang merupakan gambaran nyata dari doa para wali Allah tersebut. Mereka senantiasa mengucapkannya dengan lisan dan mendengarkannya dengan hati nurani, bahkan penuh dengan harapan akan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala pemilik segala ketetapan. Perkataan mereka diabadikan dalam QS Yasin (36): 20-25, “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain nya jika (Allah) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; Maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.”

Allah membalas mereka dengan imbalan Surga. QS Yasin (36): 20 – 27, “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Ikutilah orang yang tiada minta Balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain nya jika (Allah) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; Maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku. Dikatakan (kepadanya): "Masuklah ke syurga". Ia berkata: "Alangkah baiknya Sekiranya kamumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku Termasuk orang-orang yang dimuliakan."

Dengan misi - misi inilah mereka berdiri menghadap Allah dan kaumnya (seperti diriwayatkan dalam kisah – kisah teladan para pahlawan yang pemberani berkenaan dengan pengaduan hati mereka yang seperti jiwa-jiwa para malaikat di atas langit. )

Dikisahkan tentang seorang lelaki pada masa Fir’aun yang tidak diketahui namanya, “Dia ini adalah seorang pahlawan terkenal yang menggetarkan hatiku saat mendengar suaranya yang lantang, seperti yang diceritakan dalam firman Allah: “(Apakah kamu akan membunuh seorang lelaki yang mengatakan tuhanku adalah Allah)”

Lelaki tersebut adalah Nabi Musa ‘alaihi salam yang menyeru kaumnya kepada penyucian hati dan pikiran atas dasar kemanusian, sehingga sebagian kaumnya mulai menyadari dengan hati nurani dan pikiran akan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akidah tersebut tertanam dalam hati sebagian kaumya sedangkan kebanyakan yang lain menantang, sehingga ia mengadu kepada Tuhannya

Meskipun ada sebagian pemuda yang memiliki niat dan keinginan, mereka adalah komunitas yang memiliki karakteristik dan keberanian yang telah rusak dan tersesat tanpa landasan akal pikiran yang sehat. Mereka dihantui rasa takut akan terusir dari tempat tinggal dan rumah - rumah mereka dan khawatir dihukum dengan dipotong tangan atau kaki mereka, serta rasa takut diremehkan yang dapat menjadikan mereka hina. Demikian pula mereka berburuk sangka terhadap kenabian yang dapat meruntuhkan derajat tuhan-tuhan mereka atau para pemuka agama mereka akan dihukum mati, bahkan mereka menyombongkan diri, seperti yang terungkap dalam QS Ibrahim (14): 10, “Berkata Rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?" mereka berkata: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti Kami juga. kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) Kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang Kami, karena itu datangkanlah kepada Kami, bukti yang nyata."

Tetapi mereka diseru oleh nabi Musa dengan suara yang tegas, “Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu Dia berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, Maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku,” (QS Yunus (10): 71.

Inilah keteguhan dan pernyataan tegas yang disampaikan oleh nabi Musa dalam QS al-A’raf (7): 89, “Sungguh Kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika Kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan Kami dari padanya. dan tidaklah patut Kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan Kami menghendaki(nya). pengetahuan Tuhan Kami meliputi segala sesuatu. kepada Allah sajalah Kami bertawakkal. Ya Tuhan Kami, berilah keputusan antara Kami dan kaum Kami dengan hak (adil) dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”

Inilah tantangan yang disampaikan oleh Nabi Allah Syu’aib ‘alaihi salam dalam QS Hud (11): 54 – 56, “Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan Kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu." Hud menjawab: "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus."

Inilah bukti nyata yang disampaikan oleh Nabi Hud ‘alaihi salam dalam surat Hud (11): 88, “Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.

Dan inilah peringatan keras yang disampaikan oleh nabi Syua’ib saat menjawab perkataan kaumnya. QS Ibrahim (14): 10-11, "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti Kami juga. Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. dan tidak patut bagi Kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.”

Dan beginilah sikap tegas para ulul Azmi, yaitu Nuh, Hud, Shaleh As, tatkala mereka dihadapkan dengan urusan yang sulit yang harus mereka atasi. Mereka menyerahkan kepada Allah dengan segala keyakinan. Mereka berkata seperti yang diceritakan dalam QS al Mumtahanah (60): 4-5, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan Kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. dan ampunilah Kami Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Dan inilah sekumpulan kisah tentang tawakkal yang di terapkan oleh Nabi Ibrahim yang dijuluki bapak para nabi kepada kita semua dalam menghadapi permasalahan.

Secara ringkas, mereka semua adalah para pahlawan yang menikmati setiap beban yang diberikan kepada mereka dengan penuh rasa tanggung jawab dan kebijaksanaan. Mereka memelihara kemurnian dari tujuan misi mereka dan berjalan pada satu jalan yang lurus serta penuh konsistensi. Walaupun terkadang bertentangan dengan perasaan, pikiran dan balasan yang mereka dapatkan. Misi yang sama dan dakwah menuju jalan yang benar terlihat jelas dalam setiap risalah dan penyampaian mereka. Kesamaan ini sungguh terlihat sama, walapun mereka berada di daerah dan negara yang berbeda bahkan dipisahkan oleh zaman. Uniknya lagi di setiap langkah dan perbuatan mereka, semata-mata dilakukan hanya untuk mengharap keridhaan Allah Ta’ala. Mereka tak pernah meminta pertolongan selain kepada-Nya dan mereka tak pernah mundur dan menyerah demi menjaga amanah tersebut dan selalu melakukan nya atas nama Allah.

Sedangkan misi utama mereka yang mulia ini adalah untuk menyelamatkan umat manusia dari kegelapan, kekufuran, dan kesesatan menuju cahaya Ilahi dan keimanan serta menuntun jiwa menuju kebenaran Illahi. Begitu juga membuka semua tabir yang menutupi hakikat kebenaran tersebut sehingga mengilangkan segala keraguan dan kebimbangan pikiran, serta memancarkan cahaya yang melambangkan bukti adanya tuhan dan menelaahnya seperti menelaah sebuah buku, atau melihatnya dengan seksama seperti melhat sebuah tontonan atau pameran, atau bahkan mencoba menafsirkannya seperti sebuah lukisan yang indah kemudian mengambil pelajaran darinya sesuai dengan batas kemampuan akal pikiran mereka. Dengan demikian, segala penerimaan akal tersebut bisa menjadi sebuah jembatan penghubung antara dia dengan Tuhannya.

Penjelasan dari teks yang kita simpulkan di atas sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala didalam QS Ibrahim (14): 1, “Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”

Misi ini terlihat di dalam setiap masa diutusnya para nabi, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukanlah satu-satunya yang menerapkannya di dalam kehidupan beliau, namun ini semua merupakan misi dari semua para nabi sejak masa Nabi Adam ‘alaihi salam hingga Nabi Musa ‘alaihi salam, kemudian diteruskan hingga ke Nabi Isa ‘alaihi salam. Hal ini terlihat dari keterikatan Al-Qur’an dengan Nabi Musa seperti dalam QS Ibrahim (14): 5, “Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah."

Perumpamaan yang nyata terlihat dalam mengemban tugas-tugas yang berat ini menuntut rasa tanggung jawab yang besar dan keinginan kuat oleh individu yang betul-betul tangguh. Walaupun mereka adalah manusia seperti kita, namun mereka berbeda dengan manusia biasa karena mereka diberikan keistimewaan berupa kekuatan niat dan iman mereka disertai dengan konsistensi, mulianya tujuan mereka, rasa tanggung jawab terhadap misi yang diemban serta keingin kuat untuk meraih ridho Allah. Demikian juga ketetapan sikap dan keinginan mereka untuk jauh dari segala larangan-Nya serta usaha yang sangat gigih dalam mengajak manusia ke jalan yang lurus. Oleh karena itu, setiap keputusan mereka adalah pasti dan tak kenal henti untuk menunjukkan kebenaran. Mereka menyelesaikan misinya tanpa kenal lelah dan bosan. Jika misi mereka terhalang oleh sesuatu yang tidak sesuai keinginan, maka mereka menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah, sehingga hasil tersebut tidak mempengaruhi semangat mereka. Hal ini karena mereka hanya mengharap hanya ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga mereka menyerahkan sepenuhnya hidayah dan kesesatan hanyalah milik Allah, tunduk kepada keputusan Allah dengan sepenuh hati, dan terus berusaha menjalankan segala perintah dengan sekuat tenaga mereka. Sikap dan ketegasan hati mereka betul- betul kuat dan kukuh terhadap Al-Qur’an serta segala yang ada di bumi, bahkan di hadapan para kaumnya dan dihadapan Tuhannya. Inilah ketegaran hati para Ulul Azmi dan orang-orang yang berhati suci.

Misi mereka yang berhati suci ini sungguh sangat mulia karena mereka tak pernah berhenti, menyerah atau putus asa di saat usaha dan upaya mereka belum tercapai. Hal ini karena mereka sadar dan yakin akan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di samping itu mereka mengevaluasi diri bahwa kegagalan mungkin disebabkan oleh diri mereka sendiri. Jika terlihat hasil dari apa yang mereka upayakan maka mereka bergembira dan meneruskan misi tersebut dengan lebih giat lagi, tetapi bukan hasil keduniawian yang dicari. Mereka tidak mengenal akan istilah faktor keberuntungan. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak berguna. Mereka menyadari bahwa keberuntungan hanya hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tatkala mereka memperolehnya mereka khawatir dan was was akan ujian yang akan mereka terima, sedangkan di sisi lain terlihat mereka begitu khusyu’ dan penuh harap kepada-Nya, karena mereka mengetahui bahwa setiap kemudahan dan kebaikan hanyalah dari-Nya, sehingga setiap sikap tegas yang mereka pilih ini diberikan ganjaran oleh Allah dengan berupa pertolongan-Nya. Allah memuliakan mereka di muka bumi dan menghadiahkan surga firdaus di hari Kiamat nanti. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS al-Mukminun (23): 10- 11, “Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.”

Begitu banyak intisari dan pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kisah perjalanan para rasul dan rintangan yang mereka hadapi, dan semua itu akan kita bahas dan pahami secara terperinci dan lebih mendalam dalam tulisan-tulisan berikutnya.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.