Refleksi Kenabian

Fethullah Gülen: Refleksi Kenabian

Sebagaimana Allah Subhanhu wa Ta’ala menghendaki alam dan benda-benda yang diciptakan agar menjadi instrumen kita untuk mengenal-Nya dengan benar, Dia juga mengajarkan hamba-hamba-Nya melalui wahyu berupa perintah-perintah penciptaan dan wahyu yang berfungsi untuk saling mendukung dan menguatkan keberadaan Allah. Selain itu, juga berfungsi memperkuat makna yang didapat dari mata ke hati melalui bisikan-bisikan yang datang lewat telinga yang dapat menggetarkan jiwa dan menjelaskan konsep ketuhanan dengan mengenali Dzat, sifat dan asma-Nya secara apa adanya. Terlebih lagi, ia juga berfungsi menyadarkan para hamba tersebut akan tanggung jawabnya serta cara melaksanakan tanggung jawab dan tugasnya tersebut sambil memperhatikan adab dan metode yang dijadikan sandaran dalam menjalani itu semua. Hal lainnya yang juga merupakan perkara penting ialah menentukan tujuan yang akan ditempuh. Mengetahui urusan-urusan gaib dengan baik dan benar tentunya memerlukan wahyu. Demikian juga wahyu, diperlukan adanya nubuwah bagi tercapainya tujuan wahyu tersebut. Atas dasar keperluan tersebut, Allah memuliakan setiap fase sejarah dengan diutusnya para nabi dan rasul. Meminjam istilah Said Nursi, Allah Subhanahu wa Ta’ala tak akan mungkin membiarkan semut tanpa raja, lebah tanpa sang ratu apalagi membiarkan umat manusia tanpa mengutus nabi atau rasul pada fase sejarah tertentu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kehidupan ini dengan Ilmu dan Iradah-Nya. Dia menutupinya dengan pakaian wujud eksternal. Dia memberikan semua makhluk, baik hidup maupun mati, halus maupun kasar, penghuni bumi maupun langit, perangkat-perangkat khusus berupa berbagai macam hikmah dan kebaikan, lalu diikat dan diarahkan pada tujuan dan visi tertentu. Di sisi lain, agar dikenal dan diketahui Dzatnya, Allah memperingatkan setiap makhluknya akan keberadaannya tersebut sehingga sadar akan tujuan penciptaan mereka. Untuk apa dan dari apa mereka diciptakan. Apa tanggung jawab yang harus mereka emban. Karena itu, Allah mengutus rasul-Nya dengan kemampuan tertentu untuk menjelaskan rahasia ketuhanan dan cara ibadah. Selain itu, Allah juga mengabarkan wujud-Nya itu lewat warna-warni makhluknya yang beragam. Allah mengutus para rasul untuk menyadarkan jiwa kita lewat wahyu yang mereka peroleh dari balik tirai kegaiban dengan memberitahu rahasia ketuhanan, tujuan penciptaan, fitrah yang murni, tanggung jawab manusia di atas muka bumi, dan keadaan akhirat. Semua itu disampaikan sesuai dengan kemampuan manusia dalam memahami sifat, dzat dan asma-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala, memiliki banyak kebijaksanaan. Wilayah ketuhanan-Nya itu meliputi banyak hikmah dan kemaslahatan yang tak terhingga- tidak akan mengajak kita berbicara secara langsung lewat wahyu dan hukum-Nya tapi memilih beberapa hamba-Nya untuk melaksanakan tugas ini dengan membekali mereka kemampuan di atas rata-rata. Dengan kesiapan mental dan spritual ini, mereka menyampaikan kepada umat manusia mengenai tujuan penciptaan, hikmah alam, makna dan isi dunia, alam akhirat, jalan menuju surga yang mengantarkan manusia menuju keabadian di alam tersebut. Saat Allah memberi wahyu, hati mereka tergetar. Kadang menarik rindu alam lain kepadanya. Melalui para rasul-Nya itu, Dia memberitahukan juga kepada mereka bahwa dunia dari timur sampai barat merupakan wadah manifestasi kemahaindaha-Nya. Dunia merupakan tempat menanam tanaman untuk bekal di akhirat nanti. Dengan semua peringatan tersebut, manusia dapat terselamatkan dari kesatuan diri, hilangnya arah dan tujuan hidup, lepas dari tanggung jawab. Allah memperingatkan bahwa dunia ini hanya ruang tunggu menuju kehidupan yang sebenarnya, akhirat. Dia memberikan kabar kebahagiaan bagi jiwa-jiwa yang siap menerima rahmat-Nya yaitu berupa keabadian dan kesempatan untuk melihat wajah-Nya di akhirat kelak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala merealisasikan semua tujuan mulia di atas melalui beberapa manusia pilihan yang dinamakan “Nabi”. Dia menjadikan mereka juru bicara segala sesuatu, penerjemah dan penafsir kalam-Nya, pemberi petunjuk menuju penyembahan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, istiqamah, ikhlas, dan alam akhirat. Mereka adalah fitrah yang agung dan mulia, bertugas sesuai dengan spesialisasinya masing-masing. Mereka meneriakkan kebenaran dengan penuh tanggung jawab dan membuat umat manusia mendengarkannya agar mendapatkan petunjuk.

Para Nabi dengan kedudukan dan keutamaan mereka yang bertingkat-tingkat serta berbeda satu sama lain adalah contoh fitrah suci, suri tauladan dalam hal budi pekerti, menjaga harga diri, teguh dalam memegang amanah, selalu menepati janji dan memegang teguh kejujuran. Setiap nabi adalah manusia penuh teladan di antara umatnya sehingga semua telunjuk mengarah kepadanya di setiap masa dan zaman. Mereka memiliki kepribadian yang luhur dan kegigihan dalam menjalani kehidupan sehingga semua perilakunya menjadi inspirasi bagi umatnya. Selain itu, para nabi memiliki sikap istiqamah yang tidak pernah goyah, kejujuran yang tak pernah lekang oleh waktu dan keadaan, loyalitas yang menandingi loyalitas para malaikat, kesabaran yang begitu kokoh laiknya gunung, dan intuisi penyembahan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat mengakar di dalam jiwa. Mereka berposisi sebagai juru bicara Tuhan yang menyingkap rahasia-rahasia-Nya lewat wahyu yang mereka terima.

Itulah gambaran mengenai perangai mereka yang sempurna tanpa ada kekurangan sedikit pun. Kita akan takjub akan perjalanan mereka yang selalu mengigatkan kita pada Allah Yang Mahabenar. Perjalanan hidup yang penuh kesiapan mental dan spiritual untuk menghadapi problem-problem yang dihadapi umat, baik masalah individu, sosial, ekonomi, politik maupun budaya. Para rasul memiliki kharisma dan pengaruh yang luar biasa terhadap medan dakwah mereka. Mereka dapat menjelaskan hakikat manusia, makhluk Allah, dan hal-hal yang berkaitan dengan keesaan tuhan itu sendiri dengan bahasa yang sederhana namun menusuk relung-relung kehidupan manusia, relung kognitif, spiritual, intelektual dan sikap mereka.

Benar, nabi merupakan pembimbing umat manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Nabi juga seorang pencerah hati manusia yang membimbing jalan menuju tuhan serta mengarahkan mereka dengan bahasa yang mengikat hati dan menarik perhatian. Mereka memiliki kecakapan yang luar biasa yang dapat menghubungkan manusia dengan tujuan hakikinya akan hidup di dunia ini. Nabi juga berfungsi sebagai penunjuk jalan kebenaran yang mengajarkan mana perilaku yang buruk, kebiasaan yang rusak dan perangai yang kotor dan diganti dengan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Nabi memiliki keikhlasan, kejujuran, iman yang kuat, memiliki hubungan yang dekat dengan Allah, tegar dalam menyampaikan risalah dari Tuhannya tanpa rasa takut dan ragu akan serangan dan gertakan orang yang membangkang risalah tuhannya. Ia tidak akan mungkin menyesatkan umatnya dan tidak akan menyesal meski mendapat segelintir pengikut ajarannya. Hal itu, karena para nabi merupakan pengemban misi dan amanat akan ilmu-ilmu ketuhanan yang melampui pemahaman manusia biasa seperti kita baik dalam hal kesadaran, pemikiran, logika dan penilaian rasional kita. Mereka adalah orang yang paling tepercaya karena memiliki rasa cinta, rindu, dan rasa spritual yang besar. Pemberi petunjuk yang mengantarkan kepada yang Mahabenar.

Umat manusia yang sadar akan wujud dan hadirnya Tuhan akan menyadari betapa indahnya seruan para nabi itu. Mereka merasakan siraman spiritual yang membebaskan mereka dari belenggu-belenggu duniawi. Karena itu, mereka dapat dibimbing para nabi dalam membaca ayat-ayat kauniyah dan quraniyah secara benar.

Para nabi adalah para pribadi yang memiliki nilai-nilai luhur dan wadah keagungan moral dan spiritual. Mereka para pelopor kesempurnaan akal dan ruh. Mereka adalah para pembimbing sekaligus arsitekturnya nilai-nilai keagungan agama dan dunia. Sehingga karena keutamaan ini, manusia mengalami peningkatan kedudukan dari level makhluk biologis menuju level manusia yang lebih sempurna, manusia hakiki. Melalui para nabi, tersingkaplah Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terpancar dari segala sesuatu yang ada di dunia. Dengan mengikuti jalan para nabi, mereka dapat merasakan kedalaman rasa seperti yang dirasakan oleh para wali, orang suci, dan orang-orang yang dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena bimbingan para nabi, manusia dapat melihat hakekat kehidupan dunia sebagai tempat ujian, apotek, istana yang megah, atau tempat pameran rakasasa. Sebagaimana pernyataan Syeikh Sa’id an-Nursy, tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan manusia agar mengikuti jejak langkah dan seruan para nabi adalah untuk mengenalkan mereka lebih dalam sisi-sisi abstrak diri mereka sehingga cara dan jalan mendapatkan manfaat dari sumber yang melimpah ini menjadi lebih luas dan leluasa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyuruh manusia untuk melihat instrumen-instrumen material dari mukjizat para nabi tersebut agar menambah keimanan kepada-Nya. Mukjizat merupakan bukti dan tanda kenabian dalam berbagai level. Singkatnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan informasi dengan subjek tersebut yang menggerakkan sistem masa depan menuju progresivitas dan sensitivitas spirit sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka pintu-pintu kemajuan dalam bidang teknologi dan menyediakan sarana dalam upaya peningkatan sumbangan pikiran.

Memang, mukjizat merupakan tanda, peringatan, dan himbauan dilihat sisi perintah penciptaan. Di samping itu, mukjizat juga merupakan seruan untuk mengamati secara lebih komprehensif keistimewaan para nabi pilihan dalam berbagai bidang. Misalnya, perahu besar yang merupakan produk galangan kapal dan mukjizat Nabi Nuh ‘alaihi salam; jubah Nabi Ibrahim ‘alaihi salam yang dijahit di pabrik “hasbiyallâh” sehingga tahan api. Jubah ini mengingatkan kita pada amiantus (serat-serat halus yang menjadi bahan baku pembuatan baju pemadam kebakaran ) yang tahan pada suhu tinggi, bahkan bisa lebih dahsyat dari itu; Petunjuk waktu Nabi Yusuf ‘alaihi salam yang tidak diketahui wujudnya sebagai karunia besar dan mukjizat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga dapat mengetahui pengaturan waktu dan kebutuhan-kebutuhan lain yang membuatnya menjadi alat primer; Tongkat Nabi Musa ‘alaihi salam yang mengingatkan kita pada pompa air dan sumur artesis; kemampuan Nabi Daud ‘alaihi salam melunakkan besi dan membentuknya sedemikian rupa di dalam cetakan yang mengingatkan kita pada pengolahan baja dan besi; kemampuan Nabi Sulaiman ‘alaihi salam memindahkan istana Ratu Bilqis dan semua propertinya secara utuh yang membawa inspirasi pembuatan televisi dan internet atau teknologi lain yang lebih canggih, kemampuan mengakselerasi masa perjalanan selama 2 bulan menjadi hanya sehari saja yang saat ini terbukti dengan adanya pesawat terbang, kemampuan menembus alam di luar batas alam materi dan fisika dengan memanfaatkan jin, Ifrit, dan syaitan yang memancing sifat keingintahuan manusia tentang alam metafisik dan membatasi pengamatan para peneliti terhadap alam ruh. Selain itu, kemampuannya berkomunikasi dengan hewan mengindikasikan ragam bahasa burung, semut, dan hewan-hewan lainnya dan belajar memahaminya, bahkan terdapat indikasi seruan untuk mempelajarinya; Mukjizat Nabi Isa ‘alaihi salam yang melampaui bayangan manusia dalam ilmu kedokteran dan genetika modern masa kini, yaitu kemampuan menghidupkan benda tak bernyawa dan mayat serta menyembuhkan penyakit buta sejak lahir dan kusta dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan, banyak lagi maha karya manusia lainnya yang sedikit mengambarkan mukjizat-mukjizat para nabi tersebut.

Para nabi memiliki kapabilitas luar biasa dalam menerima wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka dapat menyampaikannya kepada umat manusia secara utuh tanpa ada perubahan sedikit pun. Sebagaimana menjalani kehidupan biasa merupakan sebuah kemestian, demikian juga tanggung jawab dan tugas Tuhan tersebut merupakan kebiasaan yang harus dilakukan sesuai dengan watak dasar para nabi itu sendiri. (Selain itu, mereka dekat dengan Tuhan dan mampu melaksanakan perintahnya serta ijtihad sesuai dengan kebutuhan, itu merupakan hasil perpaduan dari sentuhan Ilahi, kesadaran, dan kehendaknya). Mendapatkan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kemampuan mendasar mereka kemudian disampaikan kepada umatnya merupakan dorongan dasar mereka. Mereka terus menerus berjuang tanpa henti dan mereka selalu mengikuti apa kata hati mereka dan berusaha mewujudkannya.

Sebagian besar ulama menafsirkan tugas dan kewajiban yang diemban para nabi atas pilihan Tuhan yang diiringi dengan kemampuan internal adalah kewajiban pasti dari intuisi mereka yang halus. Atas dasar pandangan ini, nubuah berarti karunia ilahi yang diberikan Allah kepada jiwa-jiwa yang siap menerima wahyu dari-Nya. Selain itu, mereka dikaruniai fitrah dan perangai yang lurus serta intuisi yang kuat menuju tujuan keberadaan nabi itu sendiri – boleh disebut juga intuisi terbuka -.Nabi dijadikan sebagai wadah dari karunia yang suci ini.

Karena itu dikatakan bahwa nubuah merupakan pemahaman hal-hal yang tak dapat dijangkau oleh nalar manusia biasa yang pada akhirnya disampaikan kepada orang lain tanpa ada kerancuan sedikit pun. Nabi dalam konteks ini dianggap sebagai titik kesatuan antara prinsip dan tujuan. “Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Siapa saja yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak, ” QS al-Baqarah (2): 269. Artinya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat para nabi ke derajat yang tinggi serta menyentuh kesadaran para hambanya akan “rahasia ilahi” dan “rahasia tuhan” tersebut melalui orang-orang yang terpilih yang telah tercerahkan akalnya.

Nubuah merupakan karunia di atas karunia Tuhan lainnya dan bahkan melebihi dari apa yang dikaruniakan Allah kepada kita semua. Karunia yang paling besar dari Allah ialah diutusnya para pribadi-pribadi yang luhur. Betul, wujud ialah sebuah karunia namun menjelaskan keberadaan wujud sebagai dasar untuk menyelami alam ilahi dan alam ukhrawi melalui lisan para rasul ialah karunia dan kenikmatan lain. Perangai suci dan bersih yang dimiliki manusia suci mungkin dapat dicapai-meski berbeda tingkatannya-lewat adanya penafsiran dan penjelasan orang-orang suci seperti para nabi. Sebaliknya orang yang memiliki sifat sombong, zhalim, suka menyeleweng serta taklid buta selain tidak akan dapat merasakan wujud, mereka juga tidak akan mendapatkan nikmat yang kedua ini. Hal itu karena kehendak mereka yang berada pada level lahir yang biasa saja dapat mendorong mereka terjebak oleh kebutaan, kebisuan, dan ketulian mereka sendiri. Mereka berkata: ‘…Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama denan dia?”. Mereka memberontak dan sombong sehingga butalah hatinya.

Mengutus para nabi dan rasul merupakan hak prerogatif Allah. Atas dasar itu, setiap jenis pekerjaan selalu ada kaitan dan hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di bawah ini merupakan ungkapan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam yang patut kita renungkan:

Segala sesuatu memiliki hikmah tersebunyi
Karena Allah tak akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia.

Hikmah yang tersembunyi itu tak akan mampu terpikirkan oleh nalar dan pemahaman manusia.

Saya telah menyimpulkan adanya hikmah dibalik diutusnya para rasul tersebut dari kalangan kita sendiri sebagai manusia. Mereka merasakan seperti yang kita rasakan. Mereka merasa sakit seperti yang kita rasakan pula. Mereka juga mengemban tugas dan kewajiban seperti halnya kita. Ini dilakukan agar manusia mudah mengikuti mereka. Singkatnya, agar para rasul tersebut dapat mengemban tugas langitnya itu di muka bumi ini. Selain itu, Allah Maha Mengetahui dengan segenap persoalan yang tersembunyi. Kita perbaharui keislaman kita dengan firman Allah. Karena itu, Kami berpendapat bahwa sebesar-besar hikmah ialah tidak mengada-adakan sesuatu di hadapan Tuhan Yang Mahatahu. Hendaknya kita mengikatkan lisan dengan hati kita agar seiya sekata.

Namun yang tak boleh luput dari kita--meski ada beberapa keistimewaan yang tak dimiliki oleh manusia biasa---ialah bahwa para nabi itu manusia biasa seperti kita. Betul mereka itu ialah manusia biasa seperti kita. Pentingnya mereka terletak pada keimanan dan ubudiyah. Tugas mereka sebagai manusia pilihan ialah menyampaikan pesan iman dan ibadah kepada para hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menghilangkan tirai yang menghalangi mereka dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tugas mereka bukan mengubah gunung dan batu-batu menjadi emas, mengubah aliran air, menyulap gurun menjadi tanah yang subur nan hijau atau bahkan menurunkan makanan dari langit ke bumi.

Benar Al-Qur’an menjelaskan banyak mukjizat yang berasal dari tangan para nabi ini serta mengaitkannya sebagai tanda-tanda kenabian namun mukjizat ialah sisi lebih mereka sebagai ganjaran atas ubudiah mereka yang begitu ikhlas sekaligus sebagai tanda atas kenabian mereka. Di sisi lain, adanya mukjizat tersebut mrupakan arahan khusus dari Allah untuk menenangkan hati kaumnya yang belum percaya.

Mengubah batu menjadi emas, batu bara menjadi berlian dan menghidupkan orang mati sebagai penguat kenabian merupakan pengejawantahan ilahi agar diterima kenabian mereka dan memperkuat kedudukan mereka sebagai nabi. Mukjizat itu diadakan untuk meluluhkan hati orang-orang kafir sehingga mereka menyadari akan hakikat iman, melembutkan kerasnya hati mereka. Dengan kata lain, mukjizat yang terjadi karena kehendak Allah ialah urusan yang sekunder bukan dalam ranah inti dari kenabian itu sendiri. Mukjizat hanya penguat dan penghibur bagi para nabi dan sarana untuk meyakinkan para penerima dakwah.

Perlu saya tekankan lagi bahwa tugas para nabi ialah menjauhkan manusia dari akhlak tercela dan perilaku yang merusak yang menghalangi jalan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti zhalim, sombong, bid’ah, taklid kepada nenek moyang, tunduk pada nafsu jasmani. Selain itu, menanamkan akhlak yang terpuji dan perangai yang luhur pada diri manusia seperti tawadhu’, taat pada hukum Allah, berfikir lurus, membela kebenaran, memprioritaskan kehidupan hati dan spiritual serta memperingatkan mereka akan tugas dan tanggung jawab mereka di dunia. Mengajarkan sikap hormat terhadap Allah dan kasih sayang sesama makhluk. Memalingkan hati mereka kepada hal-hal yang tak terbatas karena mereka diciptakan untuk keabadian. Tidak ada sesuatu yang memuaskan hati mereka kecuali keabadian. Mencegah mereka dari kesesatan dengan mengajarkan hal-hal yang baik dan buruk seperti benar-salah, manfaat dan madharat, baik dan buruk, hak dan batil, kekal dan fana melalui bahasa yang mudah dicerna nalar dan diterima oleh hati. Membedakan petunjuk dan kesesatan. Mereka juga diajarkan akidah uluhiyah dan rububiyah sabagaimana yang diridhai Allah tidak seperti yang diinginkan hawa nafsu. Membimbing mereka dengan segala hal yang berkaitan dengan Allah. Membimbing mereka ke jalan menuju tujuan tersebut. Memberitahu siksaan bagi yang melanggar dan surga bagi yang taat hukum Allah. Membebankan tugas kepada para nabi di luar ranah kerja mereka merupakan dasar ketidaktahuan akan konsep kenabian dan merupakan penghinaan terhadap para nabi. Al-Qur’an menjawab dengan jelas dari segenap tuntutan yang berada di luar tugas mereka.

Betul, para nabi mengikuti wahyu Allah dan berusaha sekuat tenaga untuk selalu berkomunikasi, menafsirkan, dan mempraktekannya dalam kehidupan nyata. Ucapan, perbuatan dan segala hal yang ingin mereka realisasikan ialah menyampaikan risalah yang telah Allah bebankan kepada mereka dengan cara yang unik. Dengan kata lain, para rasul pembawa panji tuhan tersebut dianggap sebagai penyampai ajaran-ajaran wahyu yang merupakan “Sumber Utama” kehidupan. Jika berusaha memberikan tafsiran sesuai dengan tuntunan wahyu, mereka mengungkapkan segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan keridhaan ilahi dalam setiap langkah mereka.

Para nabi menjalani kehidupan di bawah wahyu. Mereka tidak mencari sesuatu pun kecuali kerelaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka hidup selalu dalam jalan yang ditunjuki Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyerahkan segala gerak langkah mereka hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharap dapat memetik hasil amal yang mereka tanam di akhirat kelak. Para nabi dan para pengikutnya yang ikhlas tidak tertarik dengan kehidupan dunia beserta gemerlapnya. Setiap langkah dan tindakan mereka selalu dinaungi rasa takwa. Mereka menganggap wahyu sebagai pintu petunjuk atas kehidupan. Berjalan di muka bumi dengan bekal akal, ruh, hati dan indra mereka. Mengikuti jalan tersebut bagi mereka merupakan jaminan untuk keselamatan. Pandangan hidup mereka selalu diikat oleh dasar pemahaman seperti ini.

Akal, logika, dan penilaian manusia – mungkin kata-kata itu kita anggap sama – setiap kali menerima kenabian serta serba-serbinya akan menempuh jalan yang menghubungkannya kepada Dzatnya. Di sisi lain, ia akan terhindar dari kesesatan. Masalah terpenting sebelum membicarakan hal lain terkait proses perjalanan ini adalah penyerahan diri sepenuhnya terhadap takdir yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan secara mutlak dan ilmu yang meliputi segala sesuatu. Dengan kata lain, menundukkan hasil pemikiran akal dan logika serta berbagai macam metode, penelitian, dan eksperimen di bawah wahyu agar ternetralisir sebagai upaya menaikkan masalah-masalah duniawi di bumi menuju langit dan memproyeksikan ruh materi yang murni ke dalam ruh accident.

Pada hakikatnya, akal itu diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus memberinya jalan melalui wahyu menuju pemahaman yang lebih mendalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka mata manusia melalui akal. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan akal anugerah melalui wahyu berupa ketajaman analisis dan kejernihan berfikir. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyediakan kesempatan yang luas bagi akal dalam pengambilan keputusan. Dengan kata lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan sebuah sistem wahyu yang berisi segala sesuatu sebagai alat uji coba yang mempersatukan berbagai macam lintasan dalam samudera obyek analisis akal dan berbagai macam pengambilan keputusan yang berpotensi munculnya kondisi-kondisi yang labil. Selain itu, sistem wahyu memfilter produk-produk analogi sekaligus menetralisasi proses analogi.

Berdasarkan beberapa argumen di atas, kita sangat yakin atas ketidakmungkinan melakukan perjalanan dalam suasana aman dan hidup yang tidak akan pernah terlepas dari kesalahan dan kesia-siaan mengingat kondisi banyaknya jalan hidup yang saling tumpang tindih, begitu rumit, dan terbelit-belit, jika tidak mengikuti jejak langkah para Nabi ’alaihi salam yang mulia. Mereka adalah orang-orang yang jujur, kredibel, dan profesional di samping kelebihan-kelebihan mereka masing-masing dalam menelusuri perjalanan hidup mereka pada masanya. Selain itu, kita juga percaya bahwa wahyu merupakan obat pelindung akal dari berbagai penyakit kelainan akal sehat yang digunakan oleh para nabi secara proporsional dan profesional. Benar, nabi merupakan manusia pilihan yang menjadi pemberi petunjuk dan pencerahan serta pelindung akal manusia sehingga terbebas dari berbagai macam penyimpangan. Mereka membuka tirai penghalang alam immateri yang ada dibalik alam materi untuk menunjukkan perbedaan esensi kedua alam tersebut. Selain itu, akal dan logika manusia serta eksekusi produk keduanya memiliki kaitan yang sangat erat dengan para nabi sehingga mereka dapat mengolaborasikan ketiga potensi ini secara maksimal. Oleh karena itu, kita sebagai orang yang beriman kepada kenabian dan wahyu mesti mengakui produk-produk yang dihasilkan dari sumber daya akal manusia. Namun, kita tetap meyakini bahwa akal tidak akan pernah mengisi kekosongan yang wahyu tinggalkan sehingga menempati kedudukan para penyampai wahyu yang begitu sempurna.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.