Tinjauan Umum Tentang Islam

Fethullah Gülen: Tinjauan Umum Tentang Islam

Kata al-Islam adalah derivasi dari kata dasar als-Salm dan as-Salām yang bermakna penyerahan diri seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tunduk terhadap perintah-perintah-Nya, orientasi seluruh tingkah lakunya di jalan yang lurus dan benar menuju keselamatan, serta memberikan rasa aman di tengah-tengah manusia dan makhluk-makhluk lainnya, seperti memelihara lidah dan tangannya untuk memberikan rasa aman bagi sesamanya.

Dasar dan pondasi Islam adalah iman dan ketundukan, sedangkan puncaknya adalah ihsan dan ikhlas. Hakikat Islam secara ringkas adalah bahwa seseorang mempercayai kebenaran hakikat ketuhanan Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa menyekutukan-Nya sedikit pun, mempercayai keterkaitan hatinya dengan yang Mahabenar, Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang mukmin dengan sukarela dan lapang dada seakan-akan dia melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala atau dilihat Allah Subhanahu wa Ta’ala serta berusaha menggapai rida Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap perbuatan yang ia kerjakan.

Sebagian orang mendefinisikan Islam secara sederhana sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menampakkan ketundukan dan penghambaan diri kepada-Nya dengan rasa syukur secara lisan dan perbuatan dalam semua kondisi. Orang yang berada dalam situasi semacam ini disebut mukmin atau muslim- bukan Islami (Islamist-Islamci)[1]- dan dianggap sebagai calon penerima kebahagiaan yang abadi.

Islam yang berdasarkan wahyu ilahi dan disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan agama samawi (berasal dari langit). Orang mukmin dan muslim adalah orang yang menjadikan imannya mengakar di dalam agama ini dan menjadikannya sebagai lentera di dalam hidupnya. Iman, ketundukan, dan penyerahan diri merupakan dasar dan inti keislamannya. Sedangkan pengejawantahannya adalah ketaatan, ketundukan, dan amal saleh. Ulama klasik mengartikan agama sebagai: “ketetapan ilahi yang menuntun orang berakal menuju kebenaran sejati”. Buah kehidupan dunia dan akhirat dengan sistem yang dinamis dan efektif ini hanya dapat digapai sesuai dengan kualitas implementasi dan aktualisasi sistem tersebut dalam upaya menggairahkan kehidupannya dalam kehidupan nyata.

Mengacu kepada pemetaan secara leksikal antara Islam dan iman, pendapat yang lebih kuat dan diterima adalah tidak ada Islam tanpa iman, begitu pun sebaliknya, tidak ada iman tanpa Islam; iman adalah dimensi batin sedangkan Islam adalah dimensi lahir yang terealisasikan dalam perkataan, perbuatan, dan ketetapan. Aturan ilahi yang kami sebut “agama yang benar” adalah istilah yang mencakup semua hal tersebut. Agama merupakan simbol ketuhanan dalam pengertian Islam dan iman serta seluruh cabang-cabangnya adalah sumber dan ruh kehidupan. Menerima dan patuh terhadap aturan ini serta mempraktikkannya dalam kehidupan nyata merupakan sikap orang mukmin, dan orang yang memiliki sikap seperti ini disebut al-mutaddyin (orang yang beragama) bukan al-diny”.[2] Atas dasar ini, orang-orang yang mengira bahwa agama hanyalah sebuah kepercayaan demikian juga umat Islam tradisi yang keislamannya tidak sampai ke dalam relung jiwa, mereka telah tertipu. Amat jelas bahwa kedua tipe keislaman tersebut berbahaya sehingga akan terhalang dari kebaikan dunia dan akhirat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan bagi orang beragama yang baik.

Akan tetapi anggapan bahwa amal perbuatan adalah bagian dari iman berdasarkan pernyataan kami di atas adalah tidak benar. Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa amal perbuatan adalah suatu hal yang wajib kemudian dia meninggalkannya, maka meskipun dia termasuk orang yang berdosa tetap saja ia dianggap sebagai seorang mukmin. Namun apa yang telah kami lontarkan tidak ada kaitannya dengan pemikiran-pemikiran “murji`ah” sedikit pun karena menganggap enteng perbuatan dosa yang disertai keimanan adalah masalah besar. Menilai permasalahan ini pada bingkai pernyataan “jika Allah berkehendak, Dia akan mengampuninya, namun Jika Dia berkehendak lain, Dia akan menyiksanya.” adalah urusan yang berbeda. Iman –menurut Al-Qur`an- adalah hal paling pokok yang harus ada dan dasar primer. Sedangkan Islam merupakan satu-satunya perantara yang menjadikan iman memenuhi dimensi terdalam dari karakter manusia.

Amal perbuatan tanpa disertai keimanan adalah kemunafikan, sedangkan meninggalkan amal perbuatan yang disertai keimanan adalah kefasikan. Kemunafikan tidak akan terampuni karena termasuk kekafiran yang tersembunyi dan samar. Sedangkan kefasikan masih berpeluang memperoleh ampunan di setiap saat dengan cara bertaubat dan beristighfar. Dengan demikian, seyogyanya kita senantiasa berbaik sangka kepada orang yang meninggalkan sebuah amalan tanpa bermaksud menghina dan meremehkannya dan tidak menganggap mereka sebagai orang kafir. Adapun orang yang meninggalkan amal perbuatan tersebut dengan maksud menghina umat Islam atas dasar status keislamannya, maka prasangka kita lain dari prasangka sebelumnya.

Dan layak kami sebutkan di sini bahwa sumber keimanan dan tempat ketersingkapannya adalah hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki prinsip dasar lain di samping keimanan karena tuntutan Islam yaitu amal saleh dan budi pekerti yang baik. Dari sini seharusnya seorang mukmin menjaga keyakinannya setiap saat, baik secara teoritis maupun praktis, kecuali jika ia dipaksa atau dalam kondisi darurat.

Ya, seperti halnya kewajiban menjauhi perbuatan syirik dan unsur-unsur kesyirikan agar menjadi seorang muslim sejati, sudah sepantasnya kita menggantungkan hati kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keikhlasan. Kita menyembah-Nya seakan-akan kita melihat-Nya atau dilihat oleh-Nya. Hidup bermasyarakat dengan mengedepankan akhlaq yang baik yang diperintahkan oleh agama Islam. Semuanya ini sesuai dengan gambaran ruh Islam yang terefleksikan dalam kehidupan manusia. Pada dasarnya, semua perkara ini yang mungkin kita kembalikan kepada persoalan iman, Islam dan ihsan yang terdapat dalam hadis tentang malaikat Jibril merupakan rangkaian kebutuhan-kebutuhan yang saling berkaitan satu sama lain dengan tetap menjadikan keimanan sebagai tolok ukur dan adanya perbedaan antara dimensi lahir dan batin. Dimensi batin memerlukan dimensi lahir untuk mengaktualisasikan dirinya, demikian pula dimensi lahir bersandar kepada aspek batin dan menjadikannya sebagai asas untuk berpijak. Oleh karena itu, dimensi praktis adalah proyeksi elemen dan esensi dimensi teoritis.

Masalah utama tetap seperti itu keadaannya. Oleh karena itu, tuduhan bahwa agama murni persoalan hati adalah penghinaan bagi spirit agama itu sendiri dan termasuk perbuatan melampaui batas. Adapun orang yang menampakkan keimanan dari hatinya –Allah menguasai setiap yang tersembunyi- kemudian ia mengatakan: “perhatikanlah apa yang ada di dalam hatiku”, ia telah menyibukkan diri dengan urusan-urusan praktis secara ekstrim. Mereka hanya menghiasi angan-angannya dengan prasangka buta dan keimanan mereka tidaklah cukup untuk menjadikan mereka setara dengan orang-orang mukmin. Interprestasi tentang iman dan Islam telah memenuhi hawa nafsu manusia dan tabiatnya sehingga mengeluarkannya dari ranah Islam sebagai agama samawi dan menjadikannya aturan buatan manusia. Pada dasarnya, Islam adalah ketetapan ilahi yang menyelamatkan manusia dari kejahatan hawa nafsu dan mengikat mereka dengan kebenaran dan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan kata lain, Islam adalah sekumpulan aturan-aturan ilahi yang membebaskan manusia dari kungkungan sifat kebinatangan dan materi yang amat sempit serta mempersiapkan keberangkatan mereka menuju tempat yang lapang bagi hati dan ruh. Ruh sistem yang tiada duanya ini adalah iman, jasadnya adalah Islam, dan bulunya adalah ihsan. Sedangkan intinya yang paling agung adalah agama.

Agama -sebagaimana kami telah jelaskan di muka- hanya berlaku bagi orang-orang yang berakal dan memiliki hati. Agama memberikan mereka kesempatan untuk memilih kebaikan dunia dan akhirat sesuai kehendak dan pilihannya serta menyediakan kebahagiaan yang abadi bagi mereka yang memenuhi seruannya. Posisi mukalaf dalam agama tidak dihadapkan pada pembebanan tanggung jawab, melainkan menggantungkan kebaikan dan kebahagiaan yang abadi pada keinginan mereka sendiri sesuai dengan esensi pernyataan “sang pencipta lebih tahu atas makhluk-Nya. Ini merupakan manifestasi rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan mereka kebebasan sejak dahulu. Agama pada tahap ini yang pelaksanaannya merupakan ekspresi ketuhanan sedangkan interprestasinya merupakan ekspresi pengabdian diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berbeda 100% dari aturan-aturan yang ada di dalam ragam agama. Pertama, golongan yang masuk ke dalam objek agama ini adalah mereka yang berakal dan berkehendak serta mengaplikasikan semua peraturan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan dengan sungguh-sungguh. Dengan gambaran seperti ini, agama dapat diartikan dari sudut pandang yang lain, yaitu sebuah hadiah dan petunjuk arah khusus menuju persiapan tertentu. Oleh karena itu, orang yang tidak berakal dan tidak memiliki keinginan tidak terbebani agama dan bukan objek dakwah menuju kebaikan.

Benar, akal dan kehendak adalah syarat utama bagi agama dan rukun beragama. Ini berarti bahwa Islam adalah ruh bagi kehidupan. Artinya, orang yang tidak berakal dan tidak memiliki kehendak tidak terbebani tanggung jawab di dalam agama yang menuntutnya untuk bisa membedakan antara benar dan salah. Golongan ini terbebas dari agama yang terdiri atas sekumpulan aturan-aturan tuhan yang mengharuskan adanya akal dan kemampuan memilih dan terbebas dari keharusan beragama yang merupakan ciptaan Allah swt. dan usaha manusia.

Agama ini---mengingat posisinya sebagai hukum wadh`i dan taklifi antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya---membimbing dan mengantarkan manusia kepada kebaikan abadi, memotivasi hati mereka dengan janji akhir yang bahagia, dan menyeru agar berhati-hati serta waspada terhadap penyesalan yang datang di akhir. Perintah-perintah agama akan terus ada dan tidak akan pernah lengkang oleh waktu karena pemberlakuannya bersifat azali dan abadi. Semua aturan di dunia ini akan hancur namun perintah agama dan nasehat-nasehatnya selalu segar kecuali di mata orang yang telah terbelenggu aturan-aturan masa lalu sehingga terhalang dari pemikiran dan pandangan yang benar. Cara apapun yang ditemukan akal manusia untuk menggapai kebahagiaan tidak akan pernah bertahan dan akan segera sirna. Lama-kelamaan aturan tersebut akan diganti oleh masyarakat atau komunitas yang lain, dan tergerus oleh perkembangan zaman, dan akan selalu berkembang dan berubah. Aturan hasil rekayasa manusia tersebut tidak lebih hanya sekedar ----aturan-aturan kecil----yang memimpikan kebaikan-kebaikan dan tujuan-tujuan yang tidak jelas, bahkan tampak seolah-olah menjanjikan kebaikan-kebaikan dengan melihat fakta yang terjadi, tapi pada kenyataanya aturan itu tidak mewujudkan apapun yang dikehendaki oleh masyarakat, dan tidak mewujudkan angan-angan mereka di masa depan.

Agama yang hakiki telah datang membawa pesan-pesan kegembiraan yang akan memenuhi semua tuntutan manusia sebagai makhluk yang dicipta menuju keabadian. Manusia adalah calon perengkuh keabadian tersebut, hatinya selalu bergejolak dalam meraih kebahagiaan abadi. Meski demikian ajaran Islam tidak memberi beban kepada manusia yang bertentangan dengan hakikat kemanusiannya. Tidak pula menyampingkan hasrat dan keinginannya hakikinya. Akal yang jernih dan pemikiran yang lurus tentunya akan menerima ajaran Islam karena tidak mengabaikan kesenangan, harapan dan angan-angan hakikat manusia sendiri dan tidak pula bertentangan dengan pribadi dasarnya. Ajaran Islam merupakan seperangkat cara pandang yang sempurna yang sesuai dengan fitrah dasar, harapan dan kecenderungan hakikinya. Islam memberikan harapan manusia dengan kebahagiaan ukhrawi yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan harapan mendapatkan kesempatan melihatnya di akhirat.

Selama hidupnya sesuai dengan tuntunan Islam, selama itu pula manusia dapat merasakan kebahagian di muka bumi ini. Ia dapat menghabiskan umurnya untuk selalu berada di atas rel menuju sorga di bawah naungan dan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Mahabenar. Jika kehidupannya itu selalu berada di atas rel yang telah digariskan Tuhan, manusia ---bukannya berlebihan--- mirip dengan malaikat. Sebaliknya, jika hidup yang diperjuangkannya itu bertentangan dengan agama, bahkan menjalani hidup yang tidak sesuai dengan kehendak hatinya, hasilnya kebahagiaan hidup itu akan susah didapatnya, dan bukan sebuah hal yang mustahil ini akan menimpanya! Itu karena yang ditekankan Islam adalah tatanan Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sang pencipta, dan sebagai pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui segala-galanya. Karena itu setiap pemikiran, metode, dan sistem yang diciptakan manusia bersumber dari akal yang terbatas, maka hasilnya akan terjadi kekacauan. Itu terjadi karena kepentingan manusia itu berbeda-berbeda dan selalu mendukung kecenderungan yang sesuai dengan kepentingan pribadi, keluarga ataupun sukunya. Akibatnya, mengikuti sistem hidup yang seperti demikian ini tidak akan membawa kepada keabadian mutlak dan kebahagiaan sejati. Meski terlihat sempurna, ujung-ujungnya sistem hidup tersebut tidak akan memenuhi kebutuhan dasar manusia. Karena pada dasarnya semua tawaran gaya hidup ini dimiliki oleh orang yang berpikiran keruh, nalar yang tak tercerahkan, gelap, rasa yang kering dan tak tersinari petunjuk. Mereka tidak dapat melihat hakikat hidup yang sebenarnya sehingga tersesat dalam jalan dan lorong-lorong yang gelap.

Agama yang benar dapat mencerahkan akal manusia, membawa sebuah misi perubahan baik dunia maupun akhirat. Sistem metafisika ini bisa dianggap sebagai diin dilihat dari sistem akidahnya, syariah dilihat dari aspek praktisnya, milat dilihat dari fungsi sosialnya. Inilah yang kita sebut sebagai Islam. Karena itu segala gerak langkah harus didasarkan pada iman apapun ekspresi dan bentuk ejawantahanya. Dimensi sosial ini mengambil bentuknya dalam praktek. Karena itu wajib bagi orang yang penuh keimanan menjadikan keimanan ini sealur dengan amal shalih, melebur ke dalam karakter dan tingkah lakunya, mendorongnya terhanyut ke dalam kebenaran, menjadi pembimbing ke jalan yang lurus, berbuat adil, konsisten, dapat dipercaya, bersuri tauladan yang baik, menjalani hidup sesuai dengan ilmu dan pengetahuan (al-ma`rifah), paling gigih dalam membela agama, selalu sibuk dengan menjalankan tugas kenegaraan. Ia tidak lalai sedikitpun dalam mewujudkan hal-hal yang ideal dalam kehidupan.

Seorang mukmin yang sempurna imannya dan selalu meningkat keimanannya ke derajat idz`an (ketundukan), setiap perbuatannya itu selalu ditimbang dengan timbangan-timbangan kebenaran dan hatinya selalu terhubung dengan Tuhannya setiap waktu, serta sikap-sikapnya terbentuk dari hubungan ketuhanan tersebut. Mukmin seperti ini tidak akan terpengaruh oleh apapun, ia salau membawa perubahan menuju terciptanya umat yang mulia yang berpegang teguh kepada Al-Qur`an (ummat al-wustha; umat ideal yang digambarkan Al-Qur`an), yang unggul dengan perangai dan indah dalam setiap langkah gerakannya. Sesungguhnya ia selalu merasa sebagai makhluk Tuhan yang hina dina, rendah karena keagungan sang pencipta.

Ia memelihara dirinya dari hal-hal yang rendah seperti kenikmatan duniawi, ia juga menjadi contoh di tengah-tengah manusia dalam menunjukkan keagungan agamanya, imannya, pemikirannya, dan tingkah lakunya. Ketika ia melakukan hal itu, bukan berarti ia sedang menyombongkan diri, dia juga tidak pernah memaksa orang lain untuk menerima pemikirannya dan falsafahnya tentang kehidupan. Ia menerima orang lain apa adanya dengan memperhatikan bahwa agama melarang memaksa orang lain untuk beriman. Ia hidup dengan penuh kasih sayang dan tidak seperti penganut agama lain yang memaksakan keyakinanya kepada orang lain. Ia juga menyebarkan pemikiran dan keyakinan-keyakinannya serta mencontohkannya dengan cara yang bijak, selanjutnya ia juga benar-benar memperhatikan bagaimana ia menjadi contoh sebagaimana yang diinginkan masyarakat, jika ia berbuat demikian ia sedikitpun tidak meminta untuk dikagumi dan dipuji orang lain, bahkan ia mengintropeksi setiap perbuatan untuk mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagai seorang muslim tujuan utamanya ialah menggapai ridha Allah dalam setiap perkataan, perbuatan, dan tingkah lakunya. Dia mengetahui bahwa pujian-pujian merupakan virus yang akan membunuh hati. Ia berpegang teguh dengan kebenaran dan keikhlasan yang sempurna dan selalu istiqomah di jalan tersebut.

Pada dasarnya Islam datang untuk menyelamatkan manusia dari bentuk pemaksaan dan mendorong mereka untuk memilih keyakinan sesuai dengan kehendak bebas mereka berdasarkan akal dan logika yang benar dan bukan memaksa mereka untuk meninggalkan dan melakukan hal-hal yang tak sesuai dengan prinsip hidup mereka.

Di masa saat ajaran-ajaran agama ini dipraktekan dengan sempurna, letak daya tariknya yang paling esensial ialah dakwah yang sederhana, tak berkelit, dan tanpa pemaksaan secara terang-terangan maupun secara tersembunyi. Ajaran-ajaran Islam disampaikan dengan jelas dan tegas dan konsepnya juga tidak mengaburkan makna kemanusiaan itu sendiri. Bentuk pemaksaan adalah konsep yang tidak relevan dalam Islam. Karena agama ini menolak setiap keyakinan yang terpaksa. Islam tidak menekan perkataan, perbuatan dan sikap manusia untuk tunduk di bawah aturannya. Dakwah yang disebarkan juga harus dengan cara yang baik dan penuh kebijaksanaan. Inti dari ibadah dalam Islam juga harus dilandaskan dengan keikhlasan. Islam menolak amal yang tidak dilandasi keikhlasan bahkan amalan yang tujuannya ingin dipuji dan bukan untuk karena Allah juga tidak diterima. Intinya Islam tidak memaksakan ajaran agamanya.

Seperti yang termaktub dalam teks al-Qur’an, “Tidak ada paksaan dalam agama,” QS al-Baqarah [2]: 256), dan pemaksaan dianggap sebagai kedzaliman. Riya sama sperti nifak dan nifak juga bentuk dari kekafiran. Islam datang untuk memangkas akar-akar kekufuran, serta menghapuskan kesyirikan dari dalam hati dan pemikiran, dan menutup pintu-pintu riya’ dan sum’ah (memperdengarkan kebaikan-kebaikannya kepada orang lain).

Akan tetapi mencegah pemaksaan bukan berarti meniadakan pemaksaan dalam hati sendiri yang lahir dari dalam hati yang paling pandai mengetahui bagaimana mengangungkan dan memuliakan kebenaran secara lisan maupun perbuatan

Seharusnya manusia diajak ke jalan kebenaran dengan menyentuh aspek perasaannya melalui gaya dan metode dakwah yang dipakai Al-Qur’an. Fitrah manusia harus disucikan dan dimurnikan dari kesyirikan dan kekurangan melalui hati yang telah dibentangkan dan disiapkan menuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati manusia dihiasi dengan iman, Islam, perasaan ihsan dan ikhlas, serta semuanya diseru kepada ketauhidan yang hakiki. Inilah kewajiban kita kepada Islam dan bentuk jawaban kita atas seruan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Nabi kita adalah penutup para nabi. Risalah yang ia sampaikan kepada manusia adalah risalah yang paling sempurna serta menyempurnakan risalah-risalah sebelumnya. petunjuknya adalah sebaik-baik perantara menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menghindarkan diri dari kesesatan.

Ketika tidak ada yang menjadi pembela, agama inilah yang nantinya akan menjadi naungan bagi kebenaran itu sendiri tempat dimana manusia akan berlindung. Setiap kelompok manusia akan berlomba-lomba memperoleh naungannya, dan agama ini akan menghancurkan semua sihir-sihir syaitan dan membekali pengikutnya cahaya kebenaran agar tidak tersesat jalan.

Jika agama Islam pada saat ini belum mengungkapkan kebenaran dirinya secara sempurna, itu disebabkan permusuhan yang datang dari musuh-musuh Islam yang selalu menyebarkan permusuhan, kedengkian, kemarahan sepanjang masa, dan karena ketakutan mereka terhadap gambaran Islam, demikian pula karena peperangan yang mereka kobarkan di satu sisi, dan karena kebodohan dan kelalaian umat Islam sendiri di sisi lain. Namun hal ini tidak akan berlangsung lama, suatu saat Islam akan menemui kesempatan untuk mengungkapkan kebenaran dirinya sekali lagi dalam setiap lini kehidupan. Islam akan berbicara dengan gayanya sendiri. Menyalakan cahaya-cahaya kebenaran di kalangan umat manusia. Itulah yang dimaksud dengan semboyan (Islam itu berada di atas dan tidak ada yang menandinginya) yang akan diusungg oleh pembela-pembela Islam yang ikhlas yang menjadikan jalan hidupnya selalu berada di atas rel-relnya.

Memang, ketika umat ini telah terbangun dan tersadar bahwa diri mereka adalah pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahwa Allah lah yang memberikan nama “muslimin” kepada mereka melalui firman-Nya, “Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu (dalam Kitab-Kitab yang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam)” (QS al-Hajj [22] : 78). Maka mereka akan berucap syukur, “ Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong,” (QS al-Hajj [22]: 78).

Mereka akan teguh dan mantap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seraya menerima segala hikmah-Nya. Sampai pada akhirnya nanti, mereka mampu mengejawentahkan hikmah Allah kedalam kehidupan nyata melintasi koridor yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki.

Teori berpikir dan aplikasi pikir seperti itu sebenarnya merupakan satu hal yang sangat gampang dilakukan setiap waktu. Islam adalah pamungkas agama yang bersifat sempurna yang telah Allah swt. pilih untuk memuliakan derajat manusia. Islam merupakan sosok penjabaran dan titik pusat agama-agama samawi terdahulu yang sampai sekarang mampu berjalan sesuai dengan tuntutan zaman. Namun kita lihat di sisi lain, sistem sempurna yang dimiliki islam ini seakan mustahil untuk kita capai bahkan sangat sulit ketika memulai dalam tahap awal. Sistem ini kandas di tangan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab memegang kendali sistem sempurna Islam. Sehingga saat ini Islam berada dalam keterpurukan yang menyedihkan. Ia memebisu tidak mampu lagi berbicara lantang melalui dialek khasnya. Hal ini secara otomatis menjadi sebuah ancaman karena sangat memojokkan keberadaan semua agama-agama samawi. karena notabene Islam lah yang datang sebagai pembenar risalah kenabian dan syariat umat-umat terdahulu (agama samawi). Dengan kata lain, Islam adalah satu panggilan yang mewakili suara-suara ajaran agama samawi sebelumnya, dan satu saraf pusat yang menghembuskan nafas-nafas kebenaran mereka. Maka, ketika panggilan itu sendiri yang terputus, ditambah lagi dengan adanya keterpurukan pola pikir, terjadilah satu titik dimana agama-agama samawi yang lain menjadi kacau balau, bahkan punah tak tersisa. Islam datang sebagai pembela dan menjaga symbol agama yang benar. Begitupula ketika kita tau bahwa semua nabi membawa satu ajaran tauhid, maka dalam hal ini Islam dianggap sebagai titik sandaran dan penyempurna sistem-sistem agama samawi yang lain. Dengan adanya korelasi antara Islam dengan agama-agama samawi selainnya seperti yang telah dijelaskan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa proses pembaharuan Islam dianggap juga sebagai proses pembaharuan agama samawi lainnya apabila dipandang dari aspek-aspek tertentu. Proses tersebut dapat dilakukan dengan memperbaiki segala aspek yang dipandang perlu diperbaiki dan dengan membangun kembali system sempurna Islam sekalipun dilakukan setahap demi setahap. Disamping membuka horizon baru Islam dengan ketentuan-ketentuan khusus juga mempunyai andil besar dalam proses pembaharuan Islam ini. Dan saya menganggap bahwa pembaharuan Islam dengan segala tahapan dan prosesnya adalah satu hal yang mungkin dilakukan. kesatuan sumber Islam menurut saya sangat membantu dan perperan sebagai sandaran utama dalam proses ini.

Semua agama berdiri diatas satu pijakan tertentu. Dan semua nabi diutus dengan membawa ajaran yang relevan bagi zamannya, mereka mempunyai peran membenarkan ajaran nabi-nabi yang datang sebelumnya dan menyempurnakan ajaran tersebut menurut keadaan dan kondisi umat mereka masing-masing. Mereka merincikan ajaran-ajaran terdahulu yang masih perlu diperinci, membaharui konsep-konsep yang memang memerlukan pembaharuan. Semua ini mereka lukukan dengan tetap berdasarkan pada satu ajaran pokok Islam. Konsep Tauhid, kenabian, kebangkitan, dan ibadah adalah konsep-konsep dasar yang dimiliki setiap Nabi. Konsep-konsep dasar ini adalah inti dari ajaran para nabi dan rasul yang dalam praktek dan pengejawentahannya berbeda-beda. Adapun mengenai keberadaan status global dan detail, mutlak dan terikat, jelas dan samar, dan status-status sejenisnya, kesemuanya bergantung pada tingkat kemajuan peradaban dan intelegensi umat manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan ajaran dan hukum kepada setiap umat sesuai dengan tingkat intelegensi dan tuntutan kebutuhan mereka. Terutama sekali dalam menetapkan syariat yang bukan pokok dalam ajaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan bagaimana dasar penetapan syariat, sehingga sangat memungkinkan adanya keberagaman konsep sekunder disetiap kondisinya. Hal ini dilambangkan dengan adanya kedinamisan dalam merincikan status yang masih global, memutlakan perkara yang terikat, melebarkan konsep yang sempit, menjelaskan status yang samar, serta teap berpijak pada satu kesatuan pokok. Banyak sekali status yang dianggap sudah jelas bagi orang awan dan tradisional, akan tetapi masih butuh perincian menurut orang yang alim dan modern.

Kita sama-sama menyaksikan adanya keberagaman dalam ajaran-ajaran sekunder yang dibawa melalui risalah-risalah kenabian. Akan tetapi semua itu sama sekali tidak akan menganggu esensi risalah kenabian, dan tidak akan meninggalkan jalur keberagaman yang teratur. Adapun terjadinya pertikaian dan perpecahan diantara pemeluk agama-agama samawi, semua itu bukanlah menjadi cela bagi agama samawi itu sendiri. Hanyasanya hal tersebut terjadi karena penafsiran-penafsiran yang salah dari oknum pemeluk awam agama-agama samawi, yang mereka tidak berpegang pada risalah esensi, mereka yang diselimuti rasa dendam dan kebencian yang suka bermanufer menyelewengkan ajaran esensi Islam. Maka demi untuk menghindari terjadinya hal negative seperti sebelumnya, dan untuk memepersatukan kembali pemeluk agama samawi, sepantasnya kita semua harus menerima Iman dan Islam sebagai satu esensi ajaran yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan, dan menjadikannya sebagai satu hal yang tidak terpisahkan dari watak dan perangai kita. Tidak berhenti sampai disitu, amal sholih sebagai buah dari keimanan haruslah menjadi kebutuhan pokok kita. Atau dengan kata lain, sampai kehidupan penuh sesak dengan kebaikan. Maka dengan membuahkan amal sholih dari Iman dan menghiasi amal dengan ibadah, terjalinlah kedekatan antara hamba dengan Allah. Apabila hal tersebut lepas dan luput untuk ditunaikan, maka keimanan yang sunyi dari ibadah tidak akan menghasilkan power sempurna. Begitupun seorang mukmin yang lepas dan luput dari ibadah, maka ia tidak akan mampu berdiri tegak diatas lututnya. Oleh karena itu, di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengkolerasikan antara Iman sebagai pekerjaan hati, dan amal sebgai pekerjaan anggota tubuh. Inilah rukun pokok dalam ajaran Islam. Karena iman adalah power inti untuk beramal, dan karena amal adalah gambaran sekaligus kesaksian dari keimanan seseorang.

Perangai baik seseorang tanpa didasari keimanan hanyalah fatamorgana positif yang sama sekali tidak akan mampu bertahan lama, dan tidak akan menjanjikan apa-apa di kemudian hari. Sedangkan Iman yang kosong dari amal juga akan runtuh dan pecah, tidak akan sanggup bertahan lama apalagi berharap untuk berkembang. Adapun Islam yang kita namakan sebagai ad-Din al-Haq, ia adalah symbol terhormat tertunainya segala tanggung jawab dan ketetapan yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui Al-Qur’an.

Dalam pemahaman ini, Islam adalah satu-satunya sumber kebahagiaan dhohir dan batin, dunia dan akhirat. Bahkan lebih jauh lagi adanya Islam sebagai satu sumber ajaran pokok akan menghadirkan produk unggul dalam menjalankan fungsinya sebagai aparatur Zhahir dan batin sebgai anugrah yang diperoleh seorang manusia. Orang-orang yang mempergunakan anugrah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan baik sebagai aparatur inti, mereka akan mampu berbuat dengan apik dan punuh dedikasi dalam melintasi sirkuit-sirkuit kebajikan. Mereka tentu akan bahagia karena telah menunaikan hak-hak ajaran Islam di setiap saat.

Sampai saat ini Islam masih menjadi pijakan kuat bagi para pemeluknya yang setia yang terus menghidupkan Islam. Islam lah yang membuat mereka bahagia dan tidak akan pernah menjatuhkan mereka dalam kehinaan. Berkurun-kurun masa sudah sejak masa sahabat, umat Islam mampu hidup dalam kemuliaan memegang kendali masa-masa kejayaan dan menciptakan peradaban-peradaban yang luar biasa. Di sisi lain, kita tidak memungkiri bahwa kita juga pernah melewati masa-masa suram dimana petaka, kehancuran, dan ratapan menyelimuti dunia Islam. Akan tetapi dalam masa suram seperti itu, masih tetap ada pribadi-pribadi yang setia penuh dengan ajaran Islam. Sudah seharusnya, orang-orang mukmin harus percaya bahwa Allah akan membawa anugrah kepada mereka. Akan tetapi mereka jangan sampai lupa bahwa anugrah dan pertolongan Allah hanya bisa diperoleh dengan tekat kuat dan usaha.

Allah telah mengingatkan dalam firmannya, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,” (QS al-Ankabut [29] : 96). Bahwa anugrah dari Allah diperoleh dengan tekat kuat dari diri manusia itu sendiri dan keinginannya. Allah memperingatkan kita akan pentingnya jihad dan menjauhi syirik. Seakan-akan usaha dan jihad merupakan isyarat khusus dari Allah untuk memeperoleh anugrah dan pertolongannya.

Kita perlu mengingat di sini, bahwa kita tidak perlu lagi berusaha untuk menafsirkan ataupun menjelaskan sistem Islam yang telah berjalan efektif dengan mulus dan harmonis. Kita tidak perlu memadukannya dengan teori “Determination”. Karena yang menjadi inti disini adalah kita harus mengingat bawha segala kehendak kita tidak akan lepas dari kehendak Allah. Dan saya juga mengingatkan bahwa pribadi muslim haruslah cerdas dalam berkehendak agar berjalan bersama dengan apa yang memang Allah kehendaki, di samping ia juga harus menjaga apa yang sudah ia tetapi dan yakini ini. Seorang mukmin harus menjauh dari apa-apa yang telah dianggap jelek oleh syariat, selalu berupaya menuju kebajikan, serta teguh menjalankan prinsip-prinsip pribadi mukmin dalam jalinan Islam, sehingga setiap jejak dari kehidupan mereka menjadi model dari perwajahan Islam. Sampai pada akhirnya Islam bisa merasuk ke dalam relung jiwa melahirkan perilaku agama yang sholih. Dan setiap pribadi bisa memaksimalkan diri menjadikan Islam sebagai bahan bakar menghidupkan kehidupan, memilah mana yang haq dan mana yang batil munuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Badi’uz Zaman, “Berbuat karena Allah, memulai karena Allah, berbicara kerena Allah, bergerak dalam sirkuit yang digariskan Allah, karena dan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala”. Menyadari bahwa setiap jam, setiap menit, dan setiap detik dalam kehidupan ini adalah secuil dari cara menuju jalan keabadian, seraya memelihara wasilah untuk kebahagiaan yanag abadi.

Merupakan suatu kewajiban bagi seorang mukmin untuk memelihara keimanan mereka, memurnikan niat dan mengeksekusinya sebagai cerminan kebesaran jiwa. Sehingga mereka bisa menunaikan ajaran islam dengan baik tanpa menelantarkan diri mereka kedalam kelalaian walaupun sedetik. Mereka juga harus bisa menginterpretasikan keimanan kedalam perangai diri, menyusun tenunan indah diatas kain kehidupan nyata, menerima segala ketetepan Allah dengan kelapangan hati yang sempurna.

Sesungguhnya kekafiran dan kecongkakan adalah symbol jahannam dalam hati. Meninggalkan amal shalih adalah symbol kerisauan jiwa. Tidak ada jalan keluar dari keterpurukan jiwa, dari lemahnya tekat jiwa, dari pemikiran mereka yang kolot, dan dari keinginan mereka yang lumpuh. Satu-satunya yang dapat menguatkan jiwa mereka adalah doa dan ibadah kepada Allah, dan satu-satunya yang bisa mencabut akar keterpurukan mereka adalah kembali ke jalan Allah dan teguh menelusurinya. Orang yang berjalan menyusuri koridor yang telah Allah garis, mereka tidak akan menemukan jalan buntu di dalamnya. Mereka akan tangguh berjalan dengan tegak pundak mereka. Apalagi mereka yang sudah mengikatkan tali kuat tekat mereka dengan sandang keteguhan membangun kehidupan??

Seorang mukmin tidak akan mampu berdiri tegak tanpa tekad hidup yang kuat. Ini adalah ketetapan Allah yang tidak bisa di ganggu gugat. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa diluar sana banyak pula musuh-musuh islam yang senantiasa memerangi Islam, menghalau umat Islam untuk berlaku istiqamah, hati mereka penuh dengan dengki dan kebencian terhadap umat islam. Mereka menantikan kehancuran menghampiri umat Islam. Akan tetapi tetap saja pribadi muslim sejati tidak akan pernah terjebak dalam lingkaran bencana yang diharapkan musuh-musuh islam tersebut. Mereka mampu merubah tipudaya dan petaka yang datang menjadi filter untuk lebih mensucikan diri dan mereka tanggapi sebagai rahmat dari Allah SWT. Yang harus dilakukan oleh pribadi muslim sejati adalah kembali kepada nilai-nilai luhur Islam dan menjaganya dengan segenap kemampuan. Al-Qur’an dan Sunnah adalah sumber Ajaran Islam, yang mana Islam mampu berpijak kokoh diatas dua sumber tersebut. Sebenarnya, selagi umat Islam berpegang pada dasar sistem ajarannya, mereka mampu menjadi percontohan unggulan bagi umat-umat lainnya. Akan tetapi, berbalik seratus delapan puluh derajat ketika umat Islam malah menjauh dari dasar system ajarannya dan mengikuti sistem asing. Mereka akan sengsara dan malu menanggung aib.

Umat Islam harus berpegang pada dasar system ajarannya. Boleh mengadopsi hasil dari pranata agama lain, asalkan tetap dalam koridor dasar system ajaran Islam dan memfungsikannya sebagai filter. Agar tidak terjadi salah penafsiran disini, maka kita katakan bahwa Islam sama sekali tidak pernah melarang umatnya untuk mempelajari ilmu fisika, kimia, matematika, antariksa, kedokteran, arsitektur, perkantoran, pertanian dan yang semisalnya. Justru Islam menganjurkan umatnya untuk mendalami ilmu-ilmu tersebut dan mengambil manfaat dari sumber manapun. Hanyasanya, Islam tidak ingin umatnya terus bergantung kepada sumber-sumber dari agama lain. Islam ingin umatnya mandiri dan kembali membangun agamanya sendiri dalam naungan luhur dasar system ajarannya.

Nenek moyang kita yang berhasil membawa Islam kepada masa kejayaan, mereka tahu betul bahwa mereka adalah orang-orang yang mendapat mandat dari Allah untuk mengatur bumi. Mereka bisa mengaplikasikan dasar system ajaran Islam kedalam kehidupan nyata. Mereka menjadikan syariat sebagai timbangan nilai kehidupan mereka. Pandangan mereka tajam menatap alam sehingga mereka tahu, pendengaran mereka tajam mendengarkan suara alam sehingga mereka faham. Mereka bergegas dari sekadar mendapatkan ilmu pengetahuan menuju makrifat yang hakiki. Sampai mereka mampu meletakan dasar system ajaran islam di garda depan mengarungi kehidupan duniawi dan ukhrawi.

Mereka telah berhasil dengan gemilang karena menjadikan Islam sebagai satuan yang tak terpisahkan. Dan mencintai Islam dari dalam lubuk hati mereka. Ketika ruh kehidupan telah kokoh di hati mereka, secara otomatis mereka akan mampu mengkondisikan dan mengkomparasikan kehidupan dunia dan akhirat menjadi struktur yang harmonis. Masyarakat mereka pun menjadi masyarakat yang moderat. Mereka akan terus bergerak sebagai pembaharu yang tetap teguh dalam koridor nilai-nilai pokok ajaran Islam. Mereka adalah cerminan kebenaran di gerak langkah dan diam mereka. Seperti harmonisasi serangkaian alat music yang menghasilkan lagu indah dalam ketenangan. Melihat mereka seakan melihat komunitas sahabat-sahabat nabi yang selalu bergerak dalam bimbingan Nabi.

Dan ketika dihubungkan dengan tuhan, mereka selalu sampai pada tatik makrifah. Hati mereka bergetar dalam muhasabah melihat kebelakang apa yang telah mereka lakukan. Mereka tegak bak gunung memikul tanggung jawab diatas pundak mereka. Lebih hebat lagi ketika Al-quran dan hakikat telah tertanam dalam dihati mereka, mereka akan terbebas dari segala macam kegelisahan hati. Mereka berpikir dan merasakan bersama terbit dan tenggelamnya matahari karena Allah.

Pada dasarnya, hati tidak akan memberi ruang kepada akidah dan keyakinan selain Islam. Islam dan Iman yang masuk ke dalam hati akan menyapu bersih virus-virus yang ada. Kemudian ibadah lah yang akan memberi warna terang, ditambah ihsan sebagai sentuhan hangat pembeda haq dan batil. Keselarasan itu akan menghasilkan angin sepoi dari hembusan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan terjalinnya hubungan erat antara hamba dengan tuhannya, berdiri tegak diatas asas keimanan, akan membuahkan istiqamah yang tak akan putus, keikhlasan yang tiada batas, rasa solidaritas yang kuat, semangat tinggi dan perangai yang terpuji. Iman yang merasuk ke dalam jiwa akan menuntun manusia dalam segala bidang, baik yang berhubungan dengan sosial, ekonomi dan lain sebagainya. Ini adalah cerminan sosok pribadi mukmin dalam sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,Ketika kamu melihat mereka, kamu akan ingat akan Allah Subhanahu wa Ta’ala”.

Kita harus menyakini bahwa inilah yang dinamakan Iman dan Islam yang sesungguhnya. Dan symbol yang bernama “ad-din” adalah simbol yang pas untuk menamai keduanya. Sedangkan “At-tadayyun” adalah simbol nyata kehidupan mulia dari Iman dan islam. Semua ini dimulai dengan mengucap kalimat yang sungguh indah “kalimat Syahadat” atau “kalimat Tauhid”, dan diakhiri dengan nikmat yang tisada tara, melihat al-Haq yang maha tinggi. Setiap orang yang ridho dengan menjalankan semua ini, merekalah pribadi Muslim dan Mukmin yang berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Ada beberapa istilah kata dalam Islam yang dipakai untuk member nama kepada “muslim”, diantaranya adalah “muslimani-muslimun”, dan “dindar-multazam”. Akan tetapi ada pula beberapa istilah asing yang disisipkan oleh non-muslim yang dipakai oleh sebagian umat Islam, diantaranya adalah “Islamist” dan “Agamist”. Dari dahulu sampai sekarang memang kita tidak pernah mengenal istilah-istilah tersebut. Bukan menjadi urusan kita ketika ternyata istilah-istilah tersebut dipakai dalam ajaran agama-agama lain. Dan satu hal yang menjadi sebuah ketentuan dalam Islam adalah bahwa seorang muslim yang melalukan perbuatan dosa atau jatuh dalam jurang kesalahan maka dia adalah orang yang berdosa, namun dia tetap digolongkan dalam katagori muslim. Dan seorang muslim yang meninggalkan hak-hak Islam maka ia tetap digolongkan sebagai muslim selagi ia tidak mingingkari akan kewajiban menunaikan hak-hak islam tersebut. Berdasarkan ketentuan ini, maka menempelkan label “Islamist” atau “agamist” kepada seorang muslim yang menghidupkan sumbu agama dengan sempurna adalah hal yang tidak layak. Sebagaimana melabelkan kalimat “kafir” atau “sesat” atau “fasiq” kepada muslim yang tidak menunaikan hak-hak Islam tanpa mengingkari kewajiban menunaikannya adalah hal yang tidak pantas. Saya berpendapat bahwa semua agent-agent muslim harus bisa menjaga kesucian lisan mereka, harus terus berpikir dan berbicara sesuai tuntutan situasi dan kondisi. Di samping itu, mereka juga harus belajar bagaimana cara memuliakan dan menghormati orang lain.

[1] Perlu diperhatikan bahwa kata “islami” (Islamist) dan “dini” dalam bahasa Turki memiliki konotasi yang negatif. “islamjy” (Islamci) dan “dinjy” (Dinci) dengan dua huruf nisbah “al-jim” dan “al-ya’ ” (جي). Kedua huruf nisbah tersebut menunjukkan profesi yang digeluti seseorang. Contohnya “kababjy” pembuat dan penjual kebab atau “halwajy” pembuat dan penjual manisan. Maka, dengan kondisi seperti ini, seakan-akan da’i atau muballigh Islam bermakna para pemilik komoditas Islam yang memperjualbelikannya (pen.)
[2] Lafad al-diny : nisbah kepada lafad din (agama), seperti halnya “al-islamy” nisbah kepada lafad al-Islam. Dua istilah ini telah digunakan oleh sebagian orang Arab dan penentang Islam-temasuk Turki- dengan maksud mendiskreditkan umat Islam yang memiliki spirit dakwah. Semua persoalan ini masuk ke dalam perdebatan istilah-istilah budaya yang sedang gencar dan marak di dunia Islam, khususnya di Turki. Tujuannya adalah untuk mengklasifikasikan umat Islam antara muballigh, mursyid, dan da’i serta melepaskannya dari identitas Islam(pen.)

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.