Masyarakat Ilmu Pengetahuan

Masyarakat Ilmu Pengetahuan

Tanya: "Merangkul masa depan dapat diraih dengan menjadi komunitas ilmu pengetahuan." Apa maksud dari pernyataan "menjadi komunitas ilmu pengetahuan"?[1]

Jawab: Pentingnya sains adalah realita yang telah ditekankan sejak dahulu. Bukankah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya dan menempatkan mereka di posisi terdepan adalah ilmu pengetahuan? Bahkan, sujudnya para malaikat di hadapan Nabi Adam alaihis salam merupakan ketundukan dan penerimaan keagungan yang disandarkan pada hikmah tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala melalui pengajaran “Asma”-Nya menjadikan Nabi Adam alaihis salam sebagai manusia mulia. Oleh karena Asma tidak bisa dianggap berbeda dari identitas, artinya apa yang diajarkan kepada Nabi Adam alaihis salam adalah hakikat dari setiap unsur. Anugerah yang sama juga diberikan kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hanya saja yang diberikan kepada Nabi Adam adalah ringkasan singkat, sedangkan yang diberikan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah pengetahuan komprehensif.  Nabi Adam alaihis salam memiliki pengetahuan “Asma” sesuai kebutuhan masyarakatnya, beliau membimbing dan melakukan beragam penyempurnaan sesuai kebutuhan, serta mempersembahkannya kepada mereka.

Ya, Allah subhanahu wa ta’ala tidak hanya mengajari Nabi Adam alaihis salam dengan Asma, melainkan juga dengan identitas yang melekat padanya, serta menunjukkan hikmah di balik semua unsur. Kemudian Allah juga memberinya kesempatan untuk memanfaatkan setiap unsur dan peristiwa di bumi. Sekarang, jika berkenan, Anda dapat melihat kekhalifahan yang diberikan kepada Nabi Adam alaihis salam dari sisi ini dan berkata, "Kekhalifahan adalah pemberian kuasa dan wewenang untuk menggunakan serta memodifikasi ciptaan sang pemilik sejati, Allah subhanahu wa ta’ala.” Dengan demikian, anugerah yang semacam itu dapat terwujud berkat adanya ilmu pengetahuan.

Pada hari ini pun modifikasi unsur tetap berlangsung. Tetapi karena modifikasi ini tidak dilakukan oleh tangan yang kompeten, maka terjadilah beberapa komplikasi. Terlebih lagi komplikasi yang terjadi adalah komplikasi yang tidak bisa dipulihkan kembali. Ya, oleh karena itu, kita seringkali menghadapi berbagai kekacauan. Padahal pendekatan ala kenabian tak satupun akan mengakibatkan terjadinya kekacauan.

Ya, pada prinsipnya segala sesuatu yang diajarkan kepada Nabi Adam alaihis salam dalam kerangka taklim asma adalah ilmu pengetahuan. Jika Anda berkenan, Anda bisa menyebutnya sebagai "sains" dengan mempertimbangkan istilah yang populer pada hari ini; Atau Anda juga dapat menyebut hal-hal yang membentuk sains; penelitian, pembuktian, serta apa yang dicapai dari pengecekan dari awal hingga akhir kemudian diulang dari akhir menuju awal dari setiap unsur sebagai "ilmu" dengan makna yang paling hakiki, tidak akan mengubah definisi yang dimaksud. Yang membuat Nabi Adam posisinya berada di atas para malaikat adalah ilmu pengetahuan atau sains. Ilmu pengetahuan ini semakin berkembang di masa Nabi Nuh; semakin cepat pertumbuhannya di masa Nabi Ibrahim; meningkat di masa Nabi Hud dan Nabi Saleh alaihis salam; serta mencapai puncaknya pada masa Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, atau seperti yang disampaikan Bediuzzaman, ilmu pengetahuan menjadi sempurna dan komprehensif di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena tidak akan ada nabi lagi yang akan datang setelah Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam. Jika demikian, maka segala sesuatu yang disampaikan Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam, baik Al-Qur’an maupun Sunah tidak bisa dipertentangkan dengan penemuan-penemuan baru yang akan muncul.

Hal tersebut bisa juga disampaikan dalam bentuk lainnya, misalnya: Allah subhanahu wa ta’ala di koridor kitab alam semesta yang ditulisnya dengan kodrat, iradat, dan kehendak-Nya, telah menganugerahkan syariah yang cemerlang lagi mutlak dari sifat kalam-Nya sehingga umat manusia dapat berjalan dengan nyaman di koridor tersebut.

Ya, Al-Qur’an telah membangun jembatan antara manusia dengan makhluk ciptaan lainnya, sehingga manusia selamat dari memandang ciptaan lainnya dengan pandangan asing. Bahkan dengannya anak keturunan adam melihat ciptaan lainnya sebagai sobat karibnya. Dari sudut pandang ini, dapat dikatakan bahwasanya Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengatakan segala sesuatu tentang makhluk ciptaan lain. Tidak peduli seberapa banyak ilmu yang berkembang hingga hari kiamat kelak, mereka tidak akan bertentangan dan berbeda dengan apa yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam 14 abad yang lalu. Di waktu yang sama, hal ini juga tidak boleh dipahami bahwasanya penemuan di bidang fisika, kimia, matematika, biologi, dan anatomi, sebelumnya telah dibahas oleh Rasulullah. Adapun maksudnya adalah: bahwa apa yang disampaikan Baginda Nabi tidak akan bertentangan dengan penemuan-penemuan itu, bahkan sebaliknya mereka akan kompak satu sama lain.  Dalam hal ini, sains sangat penting dan karena urgensinya itulah maka dapat kita katakan bahwa segala sesuatu bergantung pada sains.

Ya, sebagian wajah masa depan akan ditentukan oleh sains. Tanpa ilmu pengetahuan tidak akan ada pencapaian. Sebagaimana dengan adanya globalisasi telah meningkatkan peran penting sains di dunia. Ketika hal ini terjadi, di saat Barat mengalami revolusi industri, kita justru harus membayar mahal atas ketertinggalan itu hingga berabad-abad lamanya. Kita masih merasakan kerugiannya dan sampai saat ini masih belum bisa dikatakan bahwa kita sudah lepas dari ketertinggalan revolusi teknologi. Demikianlah, jika kita tidak bisa mencapai level yang telah dikuasai oleh dunia, terlebih lagi jika sekali lagi kita tertinggal oleh kereta, maka musuh tidak akan memberikan kesempatan untuk meluruskan tulang punggung kepada kita.

Dalam hal ini, selain kita harus beriman kepada Allah, mencintai Rasulullah, menjalankan semua perintah beserta nilai-nilai halusnya, dan menjauhi semua larangan dalam agama Islam, kita juga harus memiliki pusat penelitian terbaik yang bermanfaat kepada seluruh aspek kehidupan; Kita harus memiliki organisasi terkenal di dunia seperti NASA; Pembangunan kota-kota di luar angkasa pun seharusnya direalisasikan dengan kontribusi dari kita. Jika tidak, maka kita tidak akan pernah ambil bagian dalam terbentuknya tatanan dunia. Segala perkembangan serta peristiwa di dunia akan selalu muncul tanpa adanya kontribusi dari kita.

Jika seseorang terburu-buru dan berkata, "ini harus seperti ini, itu harus seperti itu, dst", maka mereka akan menghadirkan bahaya saat diperlukan adanya ketepatan melangkah yang hati-hati dan tersistem. Sementara itu, personel yang memadai belum berhasil disiapkan.

Di sini, penting untuk menggarisbawahi hal-hal berikut ini: Saat ini, sangat penting untuk mengkaji kembali fikih, yaitu sistem hukum Islam, menyusunnya, merapikan, dan mengklasifikasikannya kembali untuk memenuhi kebutuhan pada masa ini. Akan tetapi, saya menyesal untuk mengatakan bahwa tidak ada cukup banyak sumber daya manusia untuk menangani tugas ini dengan sempurna, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Tentu saja, dibutuhkan sejumlah waktu tertentu untuk menyiapkan sumber daya ini. Selain itu, informasi fikih yang ada harus diunggah ke dalam komputer. Tidak ada keraguan, bahkan pekerjaan ini pun akan memakan waktu lama. Padahal pekerjaan kita tidak terbatas pada mengunggah informasi yang tersedia ke dalam komputer. Penting juga bagi kita untuk mendapatkan pembaharuan informasi agar pengetahuan tersebut bisa dimanfaatkan. Akan tetapi, sekali lagi saya harus mengulang dan menyampaikan keprihatinan saya seperti di atas; Saat ini, kita tidak memiliki sumber daya manusia untuk melakukan semua itu pada level yang diharapkan. Jadi, sebagaimana kita tidak memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk menangani lembaga penelitian besar seperti NASA dan lembaga riset lainnya, harus diakui juga bahwasanya kita tidak memiliki sumber daya manusia yang menguasai ilmu-ilmu Islam dengan baik. Saya tidak membesar-besarkan apa yang saya katakan dan saya tidak meremehkan kondisi yang sedang kita hadapi. Saya hanya mencoba untuk menjadi penyambung lidah kenyataan yang ada dan menceritakan keadaannya …

Ada banyak orang memiliki cita-cita untuk melakukan hal-hal yang sangat penting, tetapi kapasitas orang-orang ini terbatas. Hal itu dapat mengakibatkan umat Islam mengalami penyesalan dan kegagalan berturut-turut. Kegagalan seperti ini dapat mengakibatkan kerusakan yang tak bisa diperbaiki lagi sehingga keadaan itu membuat kita semakin sulit meraih kesempatan yang sudah pernah lepas dari genggaman kita. Persoalan penting seperti ini jika dikerjakan dengan pendekatan amatir tidak akan bisa menghasilkan apa-apa. Selama kita tidak menghasilkan sosok ahli seperti Abu Hanifah dan Imam Abu Yusuf di bidang fikih; Imam Bukhari, Tirmidzi, dan Muslim di bidang hadits; Sayyid Syarif Jurjanî[2] dan Teftâzânî[3] di bidang kalam; serta sosok seperti Imam Ghazali, Imam Rabbani, dan Bediuzzaman Said Nursi di bidang akhlak serta tasawuf, maka solusi yang kita sampaikan kepada masyarakat akan selalu salah, melahirkan komplikasi, dan dapat membuat kita tak bisa bangkit dari keterpurukan.

Saya ingin menyatakan dalam tanda kurung bahwa bahwa saya siap dan bersedia untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah saya katakan ini kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Orang-orang bisa saja mengkritik saya: "Mengapa Anda menghilangkan motivasi kami?”. Akan tetapi, hati nurani saya sangat tentram dan saya siap untuk mempertanggungjawabkannya; karena masalah ini sama sekali tidak mentolerir candaan dan ketidakseriusan.

Ya, jika kita meringkas pembahasan ini: Seperti yang dikatakan dalam pertanyaan, merangkul masa depan adalah tentang bagaimana cara untuk menjadi komunitas ilmu pengetahuan. Demikianlah, karena perintah takwini yang dijelaskan oleh pengetahuan, benda, dan peristiwa kepada kita artinya menghayati, merasakan, dan memahami maksud agung Sang Pencipta lewat objek-objek yang disajikan perintah takwini tersebut ke hadapan kita. Manusia yang diciptakan untuk memanfaatkan unsur-unsur di sekitarnya akan melihat, membaca, memahami dan mempelajarinya. Setelah dia selesai mempelajarinya, manusia akan mengeksplorasi dan mendayagunakannya. Ini adalah titik di mana atas perintah Sang Pencipta Tertinggi, unsur-unsur pasrah untuk didayagunakan oleh manusia. Manusia pun harus berserah diri kepada Sang Pencipta.

Beberapa orang percaya bahwa mengelola dunia dengan ilmu pengetahuan akan membawa bencana, seperti berubahnya manusia menjadi robot dan kerumunan semut ni sama sekali tidak benar. Seperti halnya tidak ada masa lalu tanpa sains, maka tidak bisa dibayangkan pula adanya masa depan tanpa sains. Segala sesuatu bergantung pada sains... dan tanpa sains, dunia tidak memiliki apapun untuk ditawarkan kepada manusia.

Bagaimanapun, di banyak kota besar, terdapat kenyataan bagaimana manusia dimekanisasi dan emosi humanistiknya dihancurkan; kesehatan, pemikiran, dan keutamaan manusia perlahan diabaikan. Namun, tidak adil melimpahkan kesalahannya kepada sains dan teknologi. Mungkin kita harus mencari kesalahan sebenarnya, dalam hal ini misalnya, ilmuwan seringkali lari dari tanggung jawabnya. Jika para ilmuwan yang sadar akan tanggung jawabnya kepada masyarakat mampu melakukan apa yang diharapkan dari mereka, mungkin sebagian besar masalah yang mengkhawatirkan ini tidak akan terjadi sekarang ..!


[1] Diterjemahkan dari artikel https://fgulen.com/tr/eserleri/prizma/bilgi-toplumu

[2] Beliau lahir pada bulan Februari tahun 1340 M di distrik Taku, Kabupaten Jurjan (Gorgan), Provinsi Asterabad, Iran. Beliau terlahir sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad SAW. Nama aslinya adalah Ali bin Muhammad. Oleh karena silsilah beliau bersambung hingga ke Sayyidina Hasan dan Husen sekaligus, beliau dikenal dengan gelar kehormatan as Sayyid as Syarif. Oleh karena beliau lahir dan besar di Jurjan, beliau dikenal sebagai Jurjani. Sayyid Syarif Jurjani sangat jenius, rajin, memiliki pemahaman mendalam, pandangan yang halus, dan dalam majelis diskusi beliau sosok yang pembicaraannya logis dan memiliki landasan kuat. Beliau sibuk dengan aktivitas menimba ilmu sejak usia dini hingga menghembuskan nafas terakhirnya. Beliau ahli di bidang filsafat, mantik, bahasa dan sastra Arab, fikih dan usul fikih, tafsir, serta hadis. Sayyid Jurjani mulai menuliskan karya-karyanya sejak anak-anak. Karya-karyanya dipelajari di seluruh dunia Islam, khususnya di Iran dan Anatolia.

Imam Al-Jurjani dikenal sebagai sosok yang cerdas, terbukti saat usianya masih belia beliau sudah berguru kepada ulama’–ulama’ yang terkenal di Naisabur untuk mendalami ilmu hingga ia mampu menghasilkan beberapa karya tulis, salah satunya berjudul al Maghna Syarah al Iddah. Akan tetapi karena kuantitas buku tersebut terdiri dari 30 jilid maka imam Al Jurjani meringkasnya dan diberi judul Al Muqtashar.Tak hanya itu beliau juga termasuk ulama’ pencetus ilmu naqd sya’ir, karenanya beliau punya peran penting dalam perkembangan ilmu sastra arab. Beliau dikenal sabar, cinta kebenaran dan keadilan tak heran jika ia menjadi seorang hakim terkemuka pada masanya.

Beliau Merupakan Ulama' Ilmu Kalam yang mengikuti Madzhab Al Imam As Sunni Abi Al Hasan Al Asy'ari, Pendiri Pertama Aqidah Ahlu As Sunnah Wa Al Jamaah. Diantara kitab berbahasa arab karangan beliau Ialah :1. Kitab TA'RIFAT (Kamus istilah-istilah bahasa dan sastra arab yang sudah berkali-kali dicetak), 2. SYARH USHUL AL FIQHI. 3. SYARH FALSAFAH, 4. SYARH MANTHIQ, 5. SYARH HAIAT, 6. SYARH MAWAQIF AL AIJI (karyanya yang paling terkenal, merupakan syarah dari Kitab al Mawaqif karya Adududdin al Aiji), 7. SYARH SIROJIYAH, 8. Hasyiyah ‘ala Syarhu Hikmatil Ain (Hasyiyah dari Syarah yang ditulis Muhammad bin Mubarak Syah, yang mensyarahi Kitab karya Ali bin Umar al Katibi), 9. Syarhul Mulahhas fil Hay’a (Syarah dari kitab tentang Astronomi yang ditulis oleh Cagmini), 10. Hasyiyah ala al Kasysyaf (Kitab seputar ilmu tafsir, hasyiyah dari karya Imam Zamakhsyari yang berjudul al Kasysyaf). Sedangkan kitab karangan beliau dalam bahasa Persia ialah: 1. AD DURROH, 2. AL GHIRROH.

Dua kitab diatas terkenal dalam Ilmu Manthiq, Kemudian anaknya yang bernama Muhammad Makruf Bibni As Syarif (Wafat 811 H) merubahnya (Kitab Ad Durroh wa Al Ghirroh)  dalam bahasa Arab, dan Kitab Al Ghirroh Di Syarahi oleh Najmuddin Khodrorozi wa As Shufi (Wafat Tahun 811 H).     Informasi ini dikutip Dari Kitab Ta'rifat karya As Syarif Ali Bin Muhammad Al Jurjani Halaman 3 dan dari laman web https://sorularlarisale.com/seyyid-serif-curcani

[3] Nama lengkap beliau adalah Sa'duddin Mas'ud bin U'mar ibn A'bdillah di-Taftazani. Ada perbedaan pendapat mengenai apakah ia lahir di 712 ataukah 722 di kota Taftazan sebuah desa yang berada di Khurasan. Beliau hidup di masa yang mana para sejarawan menyebutnya sebagai "Masa Keemasan" Islam karena banyak prestasi besar yang dihasilkan umat Islam dalam bidang seni, kedokteran, dan ilmu pengetahuan.

Beliau bermadzhab Syafi'i dalam praktek fiqhiyah dan Maturidi dalam teologi. Beliau menulis sebuah kitab dalam Fan Ilmu Shorof yang sering dikenal di kalangan santri dengan sebutan kitab Tashrif al-Izzi. Kitab ini ditulis ketika beliau berusia 16 tahun. Di antara karya-karyanya yang berjumlah 20 judul, yang paling mahsyur di antaranya adalah Mutawwal wa Mukhtasar di bidang balaghah, Maqasid di bidang kalam, dan al Miftah di bidang fikih

Al-Taftazani belajar bersama tokoh terkenal yaitu Adududdin al Aiji pengarang kitab al-Mawaqif di Khurasan. Kemudian dia pergi ke Damshiq dan belajar dari Qutub al-Din al-Razi al-Tahtani di Madrasah al-Tahirah. Kemudian Al-Taftazani pindah ke Khawarizmi dan tinggal beberapa lama sekitar tahun 768H dan mulai menulis kitab-kitabnya.  Ia diminta oleh Timur Lenk berkhidmat di Sarkhus dan kemudian menetap di Samarqand. Tokoh ilmuan semasanya ialah al-Sayyid al-Sharif al-Jurjani. Dua tokoh ini dikenal dengan sebutan Sa’dain. Beliau wafat dan dimakamkan di Taftazani pada tahun 1395 H (https://sorularlarisale.com/sad-i-teftazani)

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2022 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.