Surah al-Baqarah [2]: 213

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ
“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan,” (QS al-Baqarah [2]: 213)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa seluruh umat manusia dulunya adalah orang-orang kafir, sehingga Allah mengutus Nabi Nuh as. dan para nabi yang lain. Menurutku, penafsiran semacam itu tidaklah tepat sepenuhnya. Sejak diutusnya Nabi Adam as. hingga sekarang ada sebagian orang yang siap menerima dan mengikuti ajaran seorang nabi dan adapula dari mereka yang tidak siap untuk itu. Tidak terdapat suatu masa pun yang kosong dari diutusnya para nabi, meskipun ada sebagian dari mereka yang menentang risalah yang baru yang dibawa oleh para nabi, karena mereka tidak mau berlawanan dengan adat istiadat yang mereka terima dari para sesepuhnya. Tetapi, diutusnya para nabi banyak memberi pengaruh yang baik kepada kebanyakan orang, sehingga yang siap menerima petunjuk Allah masih lebih banyak daripada yang menentangnya.

Menurut pendapat Syaikh Badi’ al-Zaman al-Nursi, “Seandainya ada sepuluh benih saja yang tumbuh di antara seratus benih yang ditanam, lalu kesepuluh benih itu tumbuh menjadi pohon-pohon yang besar, yang sedemikian ini tidak bisa dikatakan bahwa si penanam benih-benih itu merugi, sama halnya kalau yang mendapat hidayah hanya sepuluh orang di antara sekian ratus orang, sedang mereka hidup dalam keimanan dan mengerti hikmah diciptakannya mereka di muka bumi ini, tentunya sudah cukup dengan alasan supaya kebanyakan manusia terbebas dari penciptaan yang sia-sia.”

Memang benar, di masa lalu umat manusia merupakan satu umat yang bersatu berkat bimbingan para nabi yang datang membawa ajaran tauhid dari satu sumber; Allah. Ajaran-ajaran ini memberi pengaruh dalam perasaan mereka, hingga menjadikan mereka sebuah umat yang bersatu. Kesatuan mereka tidak pernah terpecah belah dan tidak pernah kosong dari keimanan dan keyakinan, apalagi saling menyerang di antara mereka. Kemudian dalam perkembangannya, terjadilah perbedaan pendapat di antara mereka, karena adanya sebab-sebab tertentu hingga merusak persatuan dan kesatuan mereka.

Manusia pertama di waktu itu adalah Nabi yang menyebarkan agama tauhid dan berjasa dalam mempersatukan umat manusia dalam kurun waktu yang cukup lama, kemudian mulai bermunculan manusia-manusia baru yang tabiatnya lebih mementingkan kepentingan pribadi dan hal itu merupakan ujian dari Allah, yang semuanya mendatangkan dampak yang negatif. Masing-masing orang mulai memikirkan keinginannya sendiri-sendiri yang diselaraskan dengan logika mereka, hingga yang terjadi hanyalah dorongan hawa nafsu yang menggantikan posisi petunjuk Allah yang ada dalam diri mereka. Mulai dari sinilah runtuhnya persatuan saat dihadapkan perbedaan pendapat di antara mereka. Akan tetapi, Allah Swt. yang telah menciptakan dalam diri manusia unsur hidayah dan kemurnian jiwa, mengirim para nabi silih berganti untuk menghilangkan dinding penghalang yang menutupi otak mereka dengan kebersihan jiwa tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan dampak negatif suatu kejahatan dan sekaligus menanamkan dalam diri mereka harapan baik serta mengajak mereka agar lebih waspada dalam menghadapi kenyataan hidup.

Akan tetapi, sebagian dari mereka tidak mampu terbebas dari belenggu hawa nafsu dan sebagian lagi tidak bisa menjauhi kezhaliman. Inilah yang menyebabkan mereka terpecah belah. Perpecahan ini berevolusi dalam aneka ragam bentuknya dan berbeda dari masa yang sebelumnya.

Faktanya, perpecahan di antara manusia akibat dari tersamarnya kebenaran dalam logika mereka, hingga kebenaran yang murni menjadi terbalik, bahkan tergantikan oleh kesalahan yang dianggap kebenaran. Adapun perpecahan di masamasa berikutnya bersumber dari dua hal yaitu iri dan dengki atau fanatik buta yang membuat otak manusia tercemari, hingga sulit membedakan yang benar dari yang salah, atau menjadikan sebagian orang mengembangkan pola berpikirnya yang dianggap benar, padahal pola berpikirnya itu didasari oleh hawa nafsu yang jauh dari kebenaran.

Di sini perlu diketahui bahwa Allah telah menutup rapat seluruh lubanglubang inisiatif dalam mencari kebenaran dengan adanya ayat-ayat yang jelas dan menutup seluruh peluang yang menyebabkan timbulnya penafsiran yang salah terhadap ayat-ayat tersebut. Dengan kata lain, kamu bisa memilih pemikiran yang dalam istilah ahli fiqih, “Ijtihad menjadi mentah bila didekatkan dengan nash yang jelas.”

Memang, mereka tidak mengambil ayat-ayat yang mengajak kita untuk berdamai sesuai dengan maksud yang sebenarnya, tetapi mereka mencampurnya dengan keinginan hawa nafsu, hingga penafsirannya terputar balik menjadi perpecahan. Inilah yang menyebabkan mereka terjatuh dalam jurang perpecahan, perbedaan, dan penyimpangan dari kebenaran.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.