Surah al-Baqarah [2]: 248

وَقَالَ لَهُمْ نِبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلآئِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka,‘Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman,’” (QS al-Baqarah [2]: 248).

Yang pertama kali perlu diketahui dengan baik dari ayat di atas adalah arti kata “sakînah” atau ketenangan. Menurut bahasa, kata “sakînah” mengandung arti kesungguhan, ketetapan, keteguhan, dan ketenangan. Maksudnya, ayat di atas dapat memberi ketenangan di kalbu manusia setiap orang setelah melihat buktibukti yang didatangkan.

Terutama sisa peninggalan para nabi terdahulu menyebabkan kalbu mereka menjadi tenang, karena mereka menganggap Tabut atau peninggalan Nabi Musa dan Nabi Harun as. sebagai benda keramat yang mengandung berkah bagi mereka, apalagi Tabut itu didatangkan lewat malaikat yang menunjukkan bahwa Tabut itu merupakan benda yang luar biasa nilainya, sebagaimana para malaikat yang mengagungkan Tabut tersebut menunjukkan bahwa Tabut itu mempunyai suatu nilai yang sangat mulia.

Arti kata “sakînah” yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan al-Sunnah adalah segala sesuatu yang bersifat ghaib yang diberikan oleh Allah kepada sebagian orang. Maksudnya, Allah memberi mereka makanan, kekuatan kalbu, dan cahaya untuk berkehendak. Adakalanya “sakînah” itu datang disebabkan do’a-do’a dari orang-orang yang dekat dengan Allah. Adakalanya “sakînah” itu datang secara tiba-tiba tanpa didahului dengan permohonan lebih dulu. Ketenangan ini datang sebagai karunia dan keutamaan yang mengandung berbagai rahasia, sehingga dapat dirasa bahwa datangnya hanya dari Allah.

Sebagian orang menafsirkan bahwa kata “sakînah” mempunyai arti turunnya para malaikat atau makhluk-makhluk rohani selain malaikat, tetapi jika sakinah atau ketenangan itu diturunkan di suatu tempat, maka hal itu adalah karunia Illahi sehingga kalbu mereka menjadi tenang. Contohnya, ketika terjadinya peperangan Khandaq. Ketika itu kaum muslimin sedang diuji oleh Allah dengan ujian yang sangat berat. Mereka dikepung oleh pasukan musuh yang berasal dari berbagai suku bangsa Arab. Semuanya mengepung kota Madinah dari berbagai penjuru meskipun hanya beberapa hari saja. Akan tetapi kaum muslim tetap bertahan dalam barisan masing-masing, karena kalbu mereka diberi perasaan tenang oleh Allah.

Demikian pula ketika terjadinya peperangan Uhud. Ketika itu kaum muslimin diuji dengan ujian yang sangat berat. Kalbu mereka dihinggapi perasaan tidak tenang. Kematian ada di hadapan mata mereka Sesungguhnya medan peperangan Uhud bukanlah suatu yang remeh. Sekali lagi bukan suatu yang remeh. Pada waktu itu, ada tujuh puluh orang sahabat Nabi Saw. yang terbunuh, termasuk Hamzah ibn Abdul Muthallib paman Nabi Saw.. Akan etapi, ketika Allah menurunkan “sakînah” di kalbu para sahabat Nabi Saw., mereka mampu berbalik dari perasaan putus asa menjadi tenang. Mereka pun bisa melanjutkan perlawanan menghadapi pasukan musyrikin Quraisy.

Meskipun banyak dari mereka yang terluka oleh senjata tajam, bahkan pada hari berikutnya mereka yang masih luka-luka itu mengejar musuh mereka, sehingga mereka yang tidak mampu berjalan, maka orang-orang itu diangkat oleh mereka yang kuat, sehingga pimpinan pasukan Qurasiy yang bernama Abu Sufyan ketika mengetahui tekad kaum muslimin yang sedemikian besarnya untuk mengejar pasukan musuh, maka terpaksa Abu Sufyan memerintahkan pasukannya melarikan diri ke kota Mekkah, agar tidak menghilangkan kemenangan yang telah mereka peroleh pada hari itu meskipun sekecil apapun bentuk kemenangan pada hari itu.

Betapa pentingnya perasaan ketenangan yang kami sebutkan di atas, sehingga setiap orang membutuhkan perasaan ketenangan bagi dirinya masingmasing ketika sedang menghadapi kesulitan. Karena itu, kami lihat Rasulullah Saw. dan para sahabatnya ketika menggali parit untuk membuat pertahanan bagi diri mereka di kota Madinah sebelum datangnya musuh, maka mereka bersenandung , “Semoga Allah memberi ketenangan bagi kami.”[1]

Tetapi, bentuk ketenangan atau sakinah biasanya tidak turun dan tidak terlihat jelas bagi seseorang atau bagi sekelompok orang, karena perasaan tersebut hanyalah datang dari kemurahan Allah dan karunia-Nya. Yang dapat merasakan ketenangan itu hanyalah orang-orang yang selalu berpikir positif dan berharap penuh terhadap bantuan dan pertolongan Allah. ketenangan atau sakinah seperti itu pernah dirasakan oleh Nabi Saw. dan para sahabatnya ketika dalam medan peperangan Badar, karena mereka mendengar firman Allah bahwa mereka dibantu para malaikat. Ada lagi bentuk ketenangan atau sakinah yang disaksikan oleh sahabat Usaid Ibnu Hudair ketika ia membaca Al-Qur’an, maka ia melihat sebentuk awan di atas langit, sehingga kalbunya merasa tenang ketika membaca Al-Qur’an. Lain halnya dengan sakinah atau perasaan tenang yang diturunkan di dalam kalbu Rasulullah Saw. ketika beliau Saw. dan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra sedang bersembunyi di dalam gua Tsaur, yang ketika itu Abu Bakar ra merasa sangat takut akan keselamatan diri Rasulullah Saw. dari ancaman orang-orang kafir Quraisy yang sedang mengepung gua Tsaur. Meskipun sedemikian gentingnya keadaan pada waktu itu, tetapi karena kalbu beliau tetap berharap pertolongan dari Allah, maka Allah memberi ketenangan atau sakinah di kalbu beliau Saw., sehingga beliau Saw. menenangkan kalbu Abu Bakar ra yang sedang dipenuhi rasa khawatir.

Demikian pula, betapa pentingnya perasaan tenang ketika diturunkan di dalam kalbu Ali bin Abi Thalib ra yang diperintah oleh Rasulullah Saw. untuk berbaring di tempat pembaringan beliau Saw., meskipun ia mengetahui bahwa dirinya akan terancam oleh sejumlah senjata tajam musuh-musuhnya yang mengira beliau Saw. masih berbaring di tempat pembaringan.

Adapun perasaan sakinah atau ketenangan bagi Bani Israil, mereka lebih percaya dari hal-hal yang bersifat materi, artinya yang dapat dilihat atau yang dapat disentuh oleh panca indra mereka sesuai dengan perasaan, pemikiran dan tabiat mereka yang mengutamakan segala sesuatu yang bersifat materi, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut, “Dan (ingatlah), ketika kalian berkata,‘Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kalian disambar halilintar, sedang engkau menyaksikannya’” (QSAl-Baqarah [2]: 55).

Ayat tersebut sengaja menggunakan kata “lan” yang mempunyai arti sama sekali tidak. Maksudnya, mereka tidak akan beriman kepada Nabi Musa ‘Alaihissalâm sampai setelah mereka minta diperkenankan melihat Dzat Allah. Tentunya permintaan mereka yang berlebihan itu menjadikan Allah murka kepada mereka, sehingga mereka dijatuhi siksaan. Selanjutnya, kami tuangkan juga tentang kisah Nabi Isa ‘Alaihissalâm bersama kaumnya. Karena kaumnya selalu minta bukti kenyataan kerasulan beliau yang dapat dicapai dengan panca indra mereka, seperti minta diturunkan makanan dari langit dan lain sebagainya. Nabi Isa ‘Alaihissalâm telah melaksanakan kerasulannya sebaik mungkin dan mengabulkan permohonan kaum Yahudi yang aneh-aneh, sampai beliau berkata kepada mereka, “Aku masih dapat mengabulkan sebagian besar permintaan kalian, akan tetapi kalian tetap tidak akan percaya kepada kerasulanku untuk kalian.”[2]

Sengaja Nabi Isa ‘Alaihissalâm tidak menyebutkan apa saja yang dapat ia kabulkan dari permintaan mereka, karena permintaan mereka hanyalah segala sesuatu yang bersifat materi dan merekapun banyak yang tidak membenarkan kepada kerasulan Nabi Isa ‘Alaihissalâm, sehingga banyak para pemuka Bizantium yang berkuasa pada waktu itu yang berusaha membunuh Nabi Isa ‘Alaihissalâm.

Andaikata sakinah atau perasaan tenang diturunkan kepada kaum Nabi Isa ‘Alaihissalâm seperti yang pernah diturunkan kepada Nabi kita Saw., kepada ‘Ali bin Abi Thalib, dan kepada Usaid Ibnu Hudair Radhiyallâhu ‘Anhumâ, tentunya kaum Yahudi tidak akan dapat merasakan sedikitpun tentang perasaan sakinah atau ketenangan tersebut, karena mereka hanya percaya kepada segala sesuatu yang bersifat materi yang dapat diterima oleh indra mereka. Termasuk juga segala peninggalan para nabi, seperti Nabi Yusuf as, Nabi Musa ‘Alaihissalâm, dan Nabi Harun ‘Alaihissalâm yang dimasukkan ke dalam Tabut telah banyak yang hilang.

Kita dapat memperkirakan nilai sakinah yang mendatangkan ketenangan bagi mereka ketika Tabut didatangkan dari segi lahiriyah dan batiniyah. Adapun dari segi lahiriah adalah,

1. Untuk menunjukkan kemaha kuasaan Allah untuk berbuat apa saja yang dikehendakinya.

2. Agar dapat menambah ketenangan Nabi.

Adapun dari segi batiniah adalah, untuk menunjukkan kekuatan dan kemaha kuasaan yang dijadikan bukti oleh kaum Yahudi sebagai kejadian yang luar biasa atau sebagai mukjizat bagi kerasulan para nabi, tetapi kesiapan mental para pengikutnya untuk menerima sakinah atau perasaan tenang berbeda dengan antara yang satu dengan yang lain menurut kadar kebersihan rohani mereka. Seorang mempunyai kalbu lebih bersih, maka ia lebih mempercayai kerasulan seorang nabi jika dibanding dengan seorang yang kurang mampu untuk menerima dan mempercayai kerasulan seorang nabi. Adanya mukjizat seorang nabi secara terang, ada sebagian orang yang tidak percaya kepadanya.

Perlu diketahui bahwa Tabut adalah sebagai tanda kerasulan seorang Nabi bagi masyarakat Yahudi, baik bagi mereka yang telah mati maupun ahli pikir dan orang-orang yang beriman, karena Tabut dapat memberi perasaan ketenangan di kalbu mereka. Karena itu, Nabi Daud ‘Alaihissalâm senantiasa meletakkan peti Tabut di depan pasukannya dan selalu dibawanya ke manapun ia pergi.

[1] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada bahasan mengenai Peperangan, hadis nomor 29. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, pada bahasan mengenai Berjihad di Jalan Allah, hadis nomor 123-125.
[2] Lihat lebih lanjut dalam Injil Yohanes, pasal 14. Berikut ulasannya pada ayat 15, 16, 26, 27 dalam pasal 16. Juga ulasan pada ayat 7, dan 8.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.