Lakukan Apa yang Disampaikan

Lakukan Apa yang Disampaikan

Cara berdakwah yang paling mendekati keberhasilan adalah, hendaknya si da'i hidup dengan apa yang ia sampaikan kepada umat atau pendengar dakwahnya. Sebab, tujuan dakwah hanyalah untuk mengajak manusia ke jalan Allah Swt. yang lurus. Dan, seorang mukmin adalah siapa yang lahir maupun batinnya lurus. Jika hidup seorang mukmin setengah-setengah, maka ia dapat dikatakan sebagai seorang yang bersikap munafik. Oleh karena itu, seorang da'i harus bersih dari segala sifat yang tidak terpuji. Karena keimanan yang kuat bernilai sangat tinggi, dan ia tidak akan menyampaikan sesuatu kecuali yang baik serta lurus di setiap masa dan tempat.

Perlu diperhatikan, ketika setiap dakwah yang disampaikan tidak mengena di qalbu pendengarnya, maka dakwah semacam itu tidak akan berguna sedikit pun bagi mereka. Apalagi kalau para da'i-nya tidak mempunyai qalbu yang bersih dan ikhlas. Sehingga Allah Swt. tidak menurunkan berkah dan kebaikan di qalbu para da'I ini. Kalaulah kita melihat ada da'i yang tidak ikhlas berhasil dalam dakwahnya, maka hal itu hanyalah sementara.

Atau, orang-orang yang bersikap ikhlas tidak akan berdakwah seperti mereka, dan nilai dakwahnya akan cenderung untuk bertahan lama. Yang demikian itu telah menjadi ketetapan Allah „Azza wa Jalla , sejak masa lalu hingga saat ini, dan yang akan datang. Oleh karena itu, orang-orang mukmin dan ahli ilmu tidak akan tertipu oleh para da'i yang kurang ikhlas dalam menyampaikan dakwahnya.

Perlu dimengerti bahwa faham Komunis serta Materialis berkembang dengan pesat, dan keduanya berkembang secara bersamaan. Masing-masing saling mengalahkan yang lain. Karena, pada waktu berkembangnya kedua faham tersebut tidak tersedia para da'i yang bersika ikhlas, sehingga kedua faham itu berkembang secara cepat serta meluas. Oleh karena itu, faham apa saja tidak akan berkembang pesat, kecuali jika disebarluaskan dengan cara-cara yang sesuai peruntukannya. Dewasa ini kita hanya memerlukan para da'i yang bersikap ikhlas, demi menggantikan penyebaran kedua faham yang menyesatkan kaum muslim itu. Agar dakwah Islam menjadi idola bagi setiap muslim pada masa ini dan yang akan datang.

Dakwah apa saja yang disampaikan oleh para da'i, akan tetapi apa yang ia sampaikan tidak dijiwai oleh para penyampainya sendiri, maka dakwah semacam itu tidak akan memberi pengaruh sedikit pun di qalbu para pendengarnya. Seharusnya dalam diri da'i tidak ada pertentangan antara lahir dan batin mereka di segala bidang, baik itu pada saat mereka tengah sendirian maupun ketika bersama orang banyak. Jika seorang da'i melakukan suatu kesalahan, hendaknya ia segera memperbaiki kesalahannya itu, agar perhitungannya di hadapan Allah Swt. tidak memberatkan dirinya.

Misalnya saja seorang da'i membicarakan tentang masalah shalat di siang hari, akan tetapi ia sendiri tidak mengisi malam harinya dengan shalat tahajjud, dan ia tidak pernah mencucurkan air mata atas dosa-dosa matanya, serta ia tidak pernah membersihkan perutnya dari sumber makanan yang haram. Maka, figur da'i semacam ini akan segera dijauhi oleh para pendengarnya. Segala bentuk pemikiran yang tidak dipraktikkan oleh siapa yang mengajarkannya, maka sudah tentu pemikiran semacam itu tidak akan diterima secara baik oleh orang lain, meskipun dikemas dalam penampilan yang sangat menarik.

Menjadi Teladan Umat

Menyampaikan dakwah di tengah masyarakat Islam bukan semata tugas yang mesti ditunaikan, akan tetapi lebih mencakup kepada segala aspek dalam kehidupan ini. Dalam pengertian, membentuk kepribadian setiap individu masyarakat sesuai ajaran Islam pada keseharian mereka. Dakwah tidak tergolong sukses pada diri seseorang jika hanya diukur dengan kerajinannya berangkat ke masjid, pulang dari menunaikan ibadah haji, atau ikut hadir di hari besar Islam; seperti perayaaan Maulid Nabi Saw. dan sebagainya. Da'i bisa disebut sukses bila berhasil mengubah perilaku pendengarnya dalam segala aspek hidupnya bukan hanya sekadar penampilan luarnya saja.

Terkadang perubahan penampilan luar telah memberi kepuasan bagi sebagian da'i. Hanya saja, semua cara ini telah jauh dari target utama dakwah di masyarakat. Intinya, penyebab utama merosotnya moral masyarakat Islam lantaran tidak adanya amar ma'ruf nahi munkar secara merata dan bernilai signifikan.

Kita harus meyakini bahwa tugas sebagai da'i merupakan tugas yang sangat mulia di masa kini. Tugas ini harus diemban oleh setiap individu muslim. Sebab, kerusakan moral telah melanda di mana-mana, serbuk kehancuran moral itu pertama menyerang satu orang, kemudian menular kepada yang lain, hingga merata ke seluruh lapisan masyarakat. Perlu diyakini, bahwa tugas ini merupakan bukti keimanan kita yang harus dikedepankan dari perkara lainnya. Sejak dahulu sampai sekarang mereka yang membela agama ini terbukti adalah mereka yang kuat sekali keimanannya.

Demikian pula yang ada saat ini, jalan dan tantangannya sama seperti dahulu; hanya saja terdapat sedikit perbedaan pada polanya. Begitu ada segelintir orang yang ikhlas dan kuat keimanannya dalam menyebarkan ajaran ini, langsung mendapat sambutan yang begitu hangat dari banyak kalangan. Adapun yang sukses dalam berdakwah adalah gerakan yang terpancar dari keimanan, dan jauh dari unsur campur tangan kepentingan pribadi yang mengandalkan bentuk atau tampilan luarnya saja.

Intinya, seorang da'i harus mengatur segala tindak-tanduknya dalam hidup untuk menjadi teladan bagi yang lainnya. Kemana pun seorang da'i pergi, ia harus memerhatikan misi yang ia bawa, kemudian ia terapkan dalam gerak-geriknya. Jangan sekali-kali memiliki pikiran bahwa hidup di dunia ini hanya untuk santai dan berleha-leha, karena ia akan ditanya untuk setiap tarikan nafasnya. Ia mesti menjalankan kebutuhan hidupnya sesuai penerapan misi ajaran yang ia bawa.

Inilah pola hidup para Nabi dan para shalihin. Setiap gerak dan langkah mereka menuntun manusia ke jalan Allah Swt.. Mereka telah menyampaikan dan menerapkan misi yang mereka bawa secara simultan. Berbeda dengan mereka yang bertolak belakang antara perbuatan dan ucapannya. Kalian akan mendapati mereka menyesatkan banyak orang yang mengekor kepada apa yang mereka sampaikan, sehingga semuanya terjatuh ke dalam lembah yang sama, kebinasaan.

Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada Nabi Allah „Isa as., “Yang pertama, bimbinglah dirimu menuju keridhaan-Nya. Kalau sudah tunduk, barulah engkau menasihati orang lain. Sebab, kalau tidak demikian, malulah engkau kepada-Ku dalam menasihati orang lain.”[1]

Nasihat ini bukan hanya ditujukan kepada Nabi „Isa as. dalam arti statusnya sebagai Rasul-Nya. Akan tetapi, nasihat tersebut juga mencakup seluruh Rasul dan setiap orang yang bergerak di bidang dakwah. Sebagaimana Allah Swt. telah menjelaskan di dalam Al- Qur'an, “Mengapa engkau menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang engkau melupakan kewajibanmu sendiri, padahal engkau membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah engkau berpikir?” (QS al-Baqarah [2]: 44).

Tentu, ayat ini merupakan ancaman keras bagi Bani Isra'il di masa itu. Dan, pelajaran yang bisa dipetik oleh kaum muslim di masa ini dari adalah, “Janganlah kalian menyuruh sesuatu yang tidak kalian lakukan. Sebab, perbuatan yang bertolak belakang dengan ucapan merupakan penipuan. Oleh karena itu, banyak kita saksikan para da'i yang tidak diterima oleh masyarakatnya, bahkan tidak dipercaya oleh mereka, lantaran mereka mengucapkan sesuatu yang mereka sendiri tidak melakukannya.

Banyak sekali da'i yang mencoba mengupas pemikiran Islami dalam bentuk kupasan akademis, sehingga menghasilkan beberapa prinsip utama. Akan tetapi, semua itu menjadi mentah kembali lantaran mereka tidak hidup di atas landasan prinsip yang mereka tetapkan. Semua itu tidak akan pernah bisa memberi pengaruh apabila jiwa mereka kosong dari keimanan, dan ucapan mereka hanya berputar-putar dari rongga mulut sampai tenggorokan saja, tidak lebih (tidak diamalkan dalam keseharian).

Memang benar, tujuan mereka adalah menunjuki kepada jalan yang lurus. Akan tetapi, pondasi yang dipakai sangat rapuh, begitu terkena embusan angin, maka akan langsung runtuh hingga tidak tersisa. Bahkan mereka cenderung lupa atas apa yang telah mereka sendiri ajarkan, dan kalau perlu mereka akan berseberangan dengan prinsip mereka sebelumnya. Pada akhirnya, prinsip mereka itu habis terkikis oleh pengaruh zaman, dan yang lebih mengenaskan lagi mereka menyapu habis generasi yang mengikuti apa yang telah mereka sampaikan.

Tidak Peduli Kesulitan Menghadang

Sudah menjadi takdir Allah Swt., kalau dakwah ini selalu menghadapi tantangan dan rintangan di setiap kondisinya. Sudah tentu perkara yang bisa digapai dengan susahpayah akan menimbulkan perhatian lebih dan pemeliharaan maksimal dalam menjalaninya. Semua ini jauh lebih berharga apabila dibandingkan dengan kekayaan yang bisa binasa dalam beberapa saat saja. Apalagi kaitannya cukup erat dengan pengenalan manusia kepada Allah „Azza wa Jalla , karena inilah asas utama hidup manusia dalam mencapai kebahagiaan. Tanpa semua ini, maka tidak akan ada gunanya wujud manusia di muka bumi. Inilah pentingnya manusia mengetahui keagungan tugas berdakwah, agar hidup mereka menjadi lebih bermanfaat dan bermakna.

Belum lama berselang, beberapa orang sempat dipindah dari satu penjara ke penjara yang lain, bahkan penjara-penjara itu telah menjadi tempat tinggal permanen bagi mereka. Segala bentuk siksaan telah mereka alami di dalamnya, dan segala bentuk penghinaan juga telah mereka rasakah. Ada yang ditangkap paksa dari keluarganya untuk diinterogasi, lalu tidak kembali di tengah-tengah mereka. Bahkan, cukup banyak dari mereka yang mengucapkan perpisahan kepada keluarga di pagi hari tanpa ada harapan untuk kembali lagi pada sore harinya.

Mereka semua diperlakukan seperti itu lantaran berjuang untuk melanjutkan kehidupan dakwah Islam. Ternyata, dalam waktu yang cukup singkat datanglah rahmat Allah „Azza wa Jalla yang menyelamatkan banyak orang; melalui usaha juang yang menyebabkan mereka dipenjara. Sehingga rahmat semacam ini memberi hasil yang tidak sia-sia dari perjuangan yang suci itu, dengan hasil yang sangat memuaskan.

Sekecil apa pun usaha menegakkan amar ma'ruf nahi munkar tidak boleh dihapuskan sama sekali dari kemuliaan nilainya. Sebab, usaha ini sangat berguna bagi orang-orang beriman, sehingga mereka mencapai kebahagiaan hidup di alam dunia maupun akhirat kelak. Kita telah menyebutkan, bahwa menegakkan amar ma'ruf nahi munkar adalah termasuk perintah keimanan. Siapa saja yang melakukannya dengan baik, maka ia termasuk orang-orang yang menjaga keimanannya. Hendaklah setiap mukmin menegakkan amar ma'ruf nahi munkar , meskipun sebatas pada lingkup keluarga kecil dan rumah tangganya. Tanpa hal itu, maka mereka akan mendapat dampak negatif, seperti yang ditimpakan kepada Bani Isra'il.

Sedangkan para da'i yang bersikap ikhlas senantiasa menanti datangnya berbagai cobaan, karena mereka yakin bahwa mereka tidak akan sukses selama mereka tidak dicoba seperti orang-orang yang pernah menegakkan kebenaran di masa lalu. Mereka berharap mampu menghadapi berbagai bentuk cobaan dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, jika mereka diterima dengan baik, maka mereka akan banyak bersyukur kepada Allah „Azza wa Jalla atas karunia-Nya, dan mereka akan melanjutkan tugas suci itu hingga akhir hayat.

Seorang mukmin yang mukhlis dan bersungguh-sungguh antara perbuatan dengan tutur katanya, maka ia tidak akan berdusta seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang munafik. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Al-Qur'an. Dengan kata lain, siapa saja yang berusaha menerangkan tentang agama ini, keimanan, Al-Qur'an, dan nilai-nilai keislaman, maka hendaknya ia meluruskan perbuatan mereka sesuai dengan tutur kata yang mereka ucap. Sekecil apa pun hendaknya mereka tidak melakukan perbuatan dosa dalam hidupnya. Dan, hendaknya pula mereka menganggap perbuatan dosa itu sebagai sesuatu yang sangat membahayakan bagi diri mereka. Jika mereka sampai melakukan perbuatan dosa yang terpublikasi, mereka akan merasa tersiksa, dan akan menderita kekecewaan yang sangat mendalam sepanjang hidup. Sehingga mereka harus selalu memohon ampunan.

Seorang mukmin tidak boleh melihat pandangan yang diharamkan, tidak dibenarkan jika sampai mengulurkan tangan kepada yang diharamkan, dan tidak boleh melangkahkan kaki ke tempat-tempat yang diharamkan. Hendaknya seorang mukmin selalu berbuat kebaikan. Baginya, sajadah merupakan tempat sujudnya di malam hari, dan tidak pernah terdengar dari mulutnya ucapan, “Aku telah terlambat dari shalat Shubuh.” Andaikata sampai hal itu terjadi, maka ia akan merasa sangat kecewa dan segera menyesali perbuatan itu sepanjang hari.

Jauhi Kemunafikan Dalam Berbicara

Seorang da'i harus selalu merasa, bahwa dirinya senantiasa diperhatikan oleh Allah Swt.. Dan, hendaknya ia selalu memperhitungkan perbuatan yang dilakukan pada setiap waktunya. Ia akan berusaha selalu berbuat kebaikan, seperti ketika ia mengajak orang lain untuk berbuat yang sama. Sedikit pun ia tidak akan pernah melakukan kejahatan yang pernah ia larang orang lain dari mengerjakannya. Ia akan selalu mengajak orang lain ke jalan yang baik, dan ia selalu takut kalau dirinya terjatuh dalam lingkaran kemunafikan. Oleh karena itu, ia akan selalu bersikap ikhlas.

Rasulullah Saw. pernah menerangkan dalam sebuah hadis yang sangat menakutkan bagi setiap mukmin yang suka menasehatkan kebaikan kepada orang lain, seperti yang disebutkan dalam sabda beliau berikut ini, “Sesunggunya yang paling aku takutkan terjadi pada umatku adalah kemunafikan dalam berbicara.”[2]

Seorang mukmin yang sejati akan selalu merasa takut kalau dirinya terjerembab ke lubang kemunafikan. Oleh karena itu, setiap saatnya ia merasa untuk menyampaikan nasihat yang baik kepada orang lain. Sabda Rasulullah Saw. di atas, dan masih ada sejumlah lainnya, menghalangi manusia dari kemunafikan sikap, terutama pada saat ia harus berdakwah. Dan, penjelasan hadis di atas termasuk ancaman bagi para pelakunya. Adakalanya sejumlah da'i terusmenerus berdakwah di berbagai media masa, akan tetapi wajah mereka tidak pernah terlihat sebagai orang-orang yang ahli sujud, qalbu mereka kosong dari keikhlasan sikap, dan pribadi mereka terlihat tidak jujur. Mereka tidak menyadari, bahwa kebanyakan umat Islam tertipu oleh tutur kata mereka. Banyak para da'i jika tidak berhati-hati dari sikap kemunafikan ini, maka mereka akan terancam dengan nilai kemunafikan yang melekat.

Al-Qur'an banyak menyebut sifat-sifat baik orang-orang yang bertugas dakwah, dan Al-Qur'an juga memperingatkan mereka dari sifat-sifat kemunafikan. Agar orangorang yang beriman tidak terjerembab ke dalam nilai-nilai kemunafikan. Seperti yang telah disebutkan oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya berikut ini, “Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan engkau kagum. Dan jika mereka berkata-kata, engkau mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar.[3] Mereka mengira, bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh yang sebenarnya, maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan dari kebenaran?” (QS al-Munâfiqûn [63]: 4).

Penjelasan dari firman Allah „Azza wa Jalla di atas menunjukkan, bahwa kaum munafik selalu berlawanan antara kata dengan perbuatannya. Bukan itu saja, sebagaimana yang diterangkan oleh Al-Qur'an, bahkan gerak-gerik badan mereka, perbuatan mereka, juga ucapan mereka menunjukkan bahwa mereka adalah kaum munafik. Mereka mampu mengumpulkan orang banyak, dan mengajak mereka mengikuti tutur kata mereka. Sehingga para pendengar itu bagaikan orang-orang yang tengah terkena sihir oleh tutur kata mereka. Padahal sesungguhnya mereka adalah musuh yang nyata bagi masyarakat banyak.

Al-Qur'an menyebutkan sifat orang-orang munafik sejelas itu, agar orang-orang beriman tidak sampai tertipu oleh perbuatan mereka yang mengajak manusia dengan nama agama, kesatuan, dan persatuan. Sementara itu, mereka sendiri tidak pernah melakukan (mengamalkan) semua perintah tersebut sedikit pun. Al-Qur'an mengancam orang-orang munafik itu dengan ancaman yang sangat keras, agar orang-orang yang beriman tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi mereka untuk hidup di tengah orangorang yang beriman.

Firman Allah Swt. di atas akan membuat qalbu setiap da'i yang mukhlis menjadi gemetar, karena takut kalau ia sampai terjerembab ke lembah kemunafikan. Oleh karena itu, ia selalu berhati-hati dalam tutur kata dan perbuatannya, agar ia terhindar dari ancaman Allah; seperti yang ditujukan kepada orang-orang munafik.

Bukan Karena Kehebatan Orasi

Sesungguhnya pengaruh tutur kata dan perbuatan seorang da'I bagi para pendengarnya bergantung kepada besar-kecilnya keikhlasan. Jika seorang da'i tidak ikhlas, maka tutur katanya tidak akan berpengaruh sedikit pun di qalbu para pendengarnya. Artinya, sampainya petunjuk ke qalbu seseorang tidak bergantung kepada kehebatan orasi sang da'i, akan tetapi lebih karena pertolongan Allah „Azza wa Jalla semata. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya berikut ini, “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk,” (QS al-Qashash [28]: 56).

Firman Allah di atas mengisyaratkan, bahwa yang berwenang memberi petunjuk (hidayah) ke dalam qalbu seorang hamba hanya Allah semata, bukan karena baiknya perilaku atau tutur kata seseorang. Oleh karena itu, setiap da'i hendaknya senantiasa bersikap ikhlas ketika menyampaikan dakwahnya kepada orang lain, agar orang lain mendapat petunjuk dari sisi Allah Swt. melalui dakwahnya.

Di dalam negeri ini (Turki) ada sejumlah da'i yang pandai mengumpulkan banyak orang untuk diberi nasihat yang baik. Akan tetapi, nasihat yang mereka sampaikan tidak dapat diterima sedikit pun oleh para pendengar, disebabkan ucapan mereka mengandung sifat-sifat kemunafikan. Bagaimana tidak, pada saat mereka berbicara tentang shalat, mereka sendiri tidak melakukannya sesuai apa yang mereka sampaikan. Mereka juga mengajak berbudi pekerti (akhlak) secara Islami, akan tetapi perilaku mereka sendiri tidak pernah sesuai dengan akhlak yang mereka ajarkan. Mereka pandai berbicara seperti seekor burung yang lihai berkicau, akan tetapi qalbu mereka masih menyimpan rasa dendam kepada sesama, benci kepada orang lain, dan mengandung kepentingan pribadi pada setiap apa yang mereka sampaikan kepada pihak lain. Sifat-sifat yang tidak terpuji seperti itu oleh Al-Qur'an disebut sebagai sifat-sifat utama orang-orang munafik yang akan berakhir di dasar api neraka Jahannam. Oleh karena itu, setiap da'i harus meminta bantuan kepada Allah Yang Maha Membantu, agar mereka diberi keikhlasan serta tidak tergolong sebagai kelompok kaum munafik.

Perlu diketahui bersama, bahwa petunjuk (hidayah) hanya ada di tangan Allah „Azza wa Jalla . Dia akan memberikan petunjuk itu kepada siapa saja yang dikehendaki- Nya. Allah akan memberi qalbu yang ikhlas bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, tidak seorang da'i pun yang pantas merasa bahwa ia dapat menyampaikan petunjuk ke dalam qalbu seseorang, baik itu berkaitan dengan perilaku maupun tutur katanya.

Al-Qur'an menyebutkan bagi setiap mukmin, ia harus menyamakan antara tutur kata dan perbuatannya. Jika ia dapat menyamakan antara tutur kata dan perbuatannya, maka ia termasuk seorang mukmin yang sejati. Jika tidak, maka ia termasuk seorang yang munafik. Ada sebagian orang yang mengira, jika seseorang tidak dapat berjuang dan tidak dapat menjauhi segala perbuatan maksiat, maka cukup baginya menyampaikan nasihatnasihat yang baik bagi orang lain. Tentunya, perkiraan semacam itu tidak lain hanyalah bisikan setan belaka, sedikit pun tidak ada hubungannya dengan tuntunan Al-Qur'an dan al-Sunnah.

Pada masa sekarang ini sudah banyak ilmuwan yang mempunyai pemikiran yang sangat jenius, dan mereka membicarakan ajaran Islam dari berbagai sudutnya. Akan tetapi, tidak terlihat dari mereka wajah-wajah keikhlasan, karena mereka bukan orang-orang mukhlis yang sesungguhnya. Mereka banyak membicarakan tentang ajaran Islam, namun diri mereka sendiri tidak menunjukkan ciri-ciri sebagai seorang muslim dan mukmin; seperti yang mereka sebutkan dalam ucapan-ucapan mereka. Kehidupan mereka diwarnai oleh cara-cara hidup non-muslim. Mereka menjadikan orang-orang awam sebagai orangorang yang asing, hingga mereka tidak sepaham dengan orang-orang kebanyakan.

Adapun penyebab utamanya adalah, orang-orang yang seperti itu hanya mengenal Islam dari buku-buku pelajaran, akan tetapi tidak mau menjalankan ajarannya dalam keseharian. Sehingga mereka tidak mempunyai jiwa Islam sedikit pun untuk membela ajaran Islam. Bahkan mereka cenderung sering mengejek dengan meremehkannya. Al-Qur'an telah mengabadikan ucapan Nabi Allah Syu'aib as. sebagai berikut, “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kalian dengan mengerjakan apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan,” (QS Hûd [11]: 88).

Penjelasan lebih lanjut dari firman Allah di atas adalah, Nabi Syu'aib tengah berdialog dengan kaum beliau, “Ketahuilah, bahwa aku tidak mengharapkan kebaikan apa pun dari sisi kalian, utamanya pada saat aku mengatakan bahwa riba' itu diharamkan, dan suap-menyuap itu dilarang. Sebab, aku tidak terpikir ingin mendapat suap sedikit pun dari kalian.”

Ucapan Nabi Allah Syu'aib as. yang sepolos itu menunjukkan, bahwa dirinya benarbenar jujur dalam menyampaikan dakwah kepada umat beliau. Apalagi beliau adalah seorang Nabi dan utusan Allah. Masalah ini harus dijadikan pedoman bagi setiap da'i. Nabi Allah Syu'aib as. mengajak kaum beliau ke jalan Allah, dan kepada jalan yang lurus. Beliau selalu ingat akan pokok-pokok dasar berdakwah, dan Al-Qur'an berulang kali menyebutkan pokok-pokok berdakwah itu kepada kita.

Rasulullah Saw. juga menyebutkan pokok-pokok berdakwah itu berulang kali. Rasulullah tidak pernah menyebutkan, bahwa beliau adalah orang yang paling taat, seorang Nabi yang tidak diungguli oleh siapa pun, khususnya ketika beliau Isra' dan Mi'raj, serta Allah selalu mengingatkan beliau di dalam firman-Nya Swt. berikut ini, “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu apa yang diyakini kedatangannya (ajal),” (QS al-Hijr [15]: 99).

Beliau Saw. selalu berpegang-teguh kepada perintah Allah Swt. sepanjang kehidupan. Beliau tidak pernah merasa diri mempunyai kelebihan apa pun tanpa izin Allah „Azza wa Jalla . Setiap tutur kata yang beliau sampaikan mempunyai kesan tersendiri bagi pendengar. Karena tutur kata beliau Saw. tidak pernah bertentangan dengan perbuatan beliau sehari-hari, meskipun beliau dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Diriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw. pernah berkata pada Sayyidah „Aisyah ra. di suatu malam, “Wahai „Aisyah izinkan aku beribadah di malam ini.” Jawab „Aisyah, “Demi Allah, sebenarnya aku masih senang berada di dekatmu, akan tetapi aku lebih senang terhadap apa saja yang menyebabkan engkau gembira dengan melakukannya.” Maka beliau Saw. bangun dari tempat tidur, kemudian bersuci dan melakukan shalat malam. Dalam shalat itu, beliau Saw. menangis hingga membasahi tempat sujud beliau, sampai Bilal datang untuk memberi tahu bahwa sudah tiba waktunya shalat Shubuh.”[4]

Rasulullah Saw. adalah seorang Nabi yang senantiasa mengajak umat beliau ke jalan Allah Swt., dan beliau selalu mendudukkan diri sebagai hamba-Nya. Beliau Saw. senantiasa meningkatkan ibadah setiap saatnya, meskipun beliau tengah menderita sakit, dan beliau tidak bisa berdiri untuk menegakkan shalat, hingga akhir hayat beliau. Meskipun dalam keadaan sakit, Rasulullah Saw. senantiasa memikirkan istri-istri beliau, anak cucu, dan umat beliau. Rasulullah ingin kalau mereka semua diberi kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Meskipun dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, Rasulullah Saw. senantiasa melakukan berbagai ibadah sunah. Beliau masih melakukan shalat sunah yang sangat panjang. Jika beliau Saw. tidak dapat melakukan sambil berdiri, maka beliau melakukannya sambil duduk. Beliau juga senantiasa bersungguh-sungguh dan bersikap tawadhu', ikhlas serta memenuhi janji. Rasulullah Saw. adalah suri teladan yang terbaik bagi umat beliau, sehingga beliau senantiasa menaati perintah Allah „Azza wa Jalla hingga akhir hayat beliau.”[5]

Hal yang paling pokok bagi setiap da'i adalah, hendaknya ia selalu menghubungkan qalbunya kepada Allah Swt.. Itulah yang dijalankan oleh Rasulullah Saw. sebagai hamba yang sekaligus Rasul-Nya. Karena, jika seorang hamba tidak merasa dekat dengan Allah sebagai Tuhan-nya, maka hidupnya akan terasa hampa (kosong), sehingga ia dipacu oleh nafsunya untuk berbuat segala sesuatu (amalan) yang buruk.

Rasulullah Saw. telah melaksanakan perintah dakwah beliau dengan sebaikbaiknya. Sehingga beliau senantiasa berdiri lama pada saat mendirikan shalat sunah malam, dan senantiasa bersikap tawadhu' ketika berdo'a. Beliau Saw. juga senantiasa mengangkat kedua tangan di dalam setiap do'a yang beliau panjatkan.

Untuk mengetahui tentang shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah Saw., marilah kita mendengar ucapan „Abdullah bin Mas'ud ra. berikut ini, “Aku berdiri di belakang Nabi dalam shalat malam beliau. Pada waktu itu, beliau Saw. berdiri sangat lama, hingga aku ingin mengerjakan sesuatu.” Tanya para sahabat lainnya, “Apa yang hendak engkau lakukan pada waktu itu?” Jawab Ibnu Mas'ud, “Aku ingin duduk dan meninggalkan beliau Saw. dalam shalat malam itu.”[6]

Itulah kualitas ibadah yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah Saw., karena beliau telah mengajak umat Islam setelah melaksanakan ibadah yang beliau ajarkan dengan sungguh-sungguh. Sampai Ibnu Mas'ud tidak dapat mengungguli ibadah beliau Saw., meskipun hanya sekadar shalat malam sebanyak dua raka'at saja. Bahkan pada saat ajal (kematian) Rasulullah Saw. hampir tiba, saat beliau berbaring di paha „Aisyah. Beliau saat itu berada dalam kondisi kritis. Ketika sadar, beliau Saw. bertanya, “Apakah para sahabat telah melakukan shalat berjama'ah?” Jawab „Aisyah, “Belum, mereka masih menunggumu.” Beliau Saw. mengatakan, “Kalau begitu, ambilkan aku air sebejana untuk berwudhu'.” Setelah kami menyiapkan air, maka beliau Saw. berwudhu', akan tetapi beliau jatuh pingsan. Setelah beliau sadar, maka beliau bertanya, “Apakah orang-orang sudah melakukan shalat berjama'ah?” Jawab „Aisyah, “Belum, mereka masih menunggumu.” Sekali lagi beliau meminta diambilkan air, kemudian beliau Saw. berwudhu', akan tetapi beliau pingsan kembali. Ketika sadar, maka beliau kembali bertanya, “Apakah para sahabat telah melakukan shalat berjama'ah?” Jawab „Aisyah, “Belum, mereka masih menunggumu.”[7]

Rasulullah Saw. sangat perhatian terhadap ibadah shalat, sehingga sebelum melepaskan nafas yang terakhir pun, beliau tetap berpesan kepada umat Islam untuk rajin melakukan dan menjaga shalat. Sehingga beliau Saw. termasuk suri teladan pertama bagi umat Islam untuk melakukan perintah shalat.

Ada lagi satu hal lain yang perlu diperhatikan bagi setiap da'i, yaitu sikap tawadhu' beliau Saw. dalam segala urusan, terutama pada saat beliau tengah bersama para sahabat. Diriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw. ikut membantu para sahabat pada saat membangun masjid Nabawi. Beliau pada waktu itu ikut mengangkat sejumlah batu bersama mereka. Diriwayatkan pula, bahwa beliau juga ikut membantu para sahabat ketika mereka menggali parit untuk persiapan perang Khandaq.[8]

Dalam segala sesuatunya, beliau Saw. selalu menampilkan bahwa diri beliau adalah manusia biasa. Beliau menyuruh umat Islam agar berpola hidup sederhana, dan beliau sendiri mencontohkan bahwa hidup beliau sangat sederhana. Sehingga kediaman beliau pernah bahkan sering tidak menyalakan api untuk waktu yang cukup lama akibat tidak bisa memasak sesuatu; karena ketidaktersediaan bahan makanan untuk diolah. Bahkan, di rumah beliau tidak terdapat tempat tidur, kecuali tikar sebagai pelapis antara tubuh beliau yang mulia dengan tanah.[9]

Rasulullah Saw. juga sangat berhati-hati terhadap masalah-masalah yang diharamkan. Sampai-sampai beliau pernah mengeluarkan sebutir kurma dari mulut cucu beliau yang bernama Hasan, karena ia tengah mengonsumsi sesuatu yang tidak dihalalkan (harta zakat; yang diharamkan bagi beliau dan keluarga beliau-penerj), seraya berkata, “Ketahuilah, bahwa keluarga Rasulullah Saw. tidak boleh mengonsumsi harta sedekah (zakat).” Perlu diketahi, bahwa pada waktu itu Hasan masih berumur lima atau enam tahun, tetapi beliau telah mendidik anak cucunya sejak dini, agar tidak menyepelakan sesuatu yang diharamkan.”[10]

Diriwayatkan pula, bahwa pada suatu malam Rasulullah Saw. mendapati sebutir buah kurma di kediaman beliau, lalu beliau memakannya, sehingga beliau pada malam itu tidak dapat tidur. Tanya salah seorang istri beliau, “Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak dapat tidur malam ini?” Jawab beliau, “Tadi aku mendapati sebutir buah kurma, lalu aku memakannya, dan sekarang aku takut kalau buah kurma itu bersumber dari harta sedekah (zakat).”[11]

Perlu untuk dipahami bagi setiap muslim, bahwa buah kurma itu adalah milik pribadi Rasulullah Saw., karena buah kurma milik sedekah diletakkan jauh dari rumah beliau.

Dari kisah di atas dapat kita petik satu pelajaran yang sangat berharga, bahwa itulah salah satu contoh tugas seorang pemimpin. Pemimpin itu selalu menjauhi apa saja yang diharamkan oleh Allah Swt.. Oleh karena itu, setiap da'i harus mencontoh serta meniru jejak beliau Saw. sepanjang hidup mereka.

Iringi Dengan Do'a

Selain beberapa sifat terpuji dari sifat Rasulullah Saw. yang telah disebutkan di atas, perlu pula saya sebutkan di sini, bahwa beliau senantiasa berdo'a di samping menyampaikan dakwah kepada umat beliau. Bahkan Rasulullah Saw. senantiasa menganjurkan kepada para sahabat beliau dan umat Islam pada umumnya untuk senantiasa berdo'a. Seperti yang telah disebutkan di dalam firman Allah „Azza wa Jalla berikut ini, “Katakanlah kepada orang-orang musyrik, „Tuhanku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada ibadah yang kalian lakukan. Akan tetapi, bagaimana kalian beribadah kepada-Nya, padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Oleh karena itu, kelak adzab Allah pasti menimpa kalian," (QS al-Furqân [25]: 77).

Rasulullah Saw. senantiasa berdo'a ketika beliau hendak tidur, setelah bangun dari tidur, pada saat hendak makan, minum, ketika hendak berpakaian, juga pada saat melepaskan pakaian. Beliau juga senantiasa berdo'a ketika hendak memasuki kamar mandi, juga pada saat hendak berwudhu'. Dengan demikian, beliau Saw. senantiasa berdo'a dalam urusan kedunia beliau. Tidak seorang pun yang selalu berdzikir kepada Allah „Azza wa Jalla dan berdo'a dalam segala urusannya, seperti yang dilakukan oleh beliau.

Contoh kehidupan Rasulullah Saw. yang dipenuh berbagai bentuk teladan yang baik telah dijadikan simbol dan contoh hidup bagi setiap orang dari umat beliau. Sehingga tidak seorang pun di muka bumi ini yang dijadikan contoh oleh orang banyak selain beliau Saw.. Dan, contoh yang beliau ajarkan itu telah diikuti oleh umat beliau sejak lebih dari lima belas abad yang lalu.

Hampir seluruh suri teladan baik yang pernah beliau Saw. contohkan bagi umat beliau telah dilaksanakan oleh umat Islam sepanjang hidup mereka masing-masing. Sejak dari contoh ketika beliau Saw. makan dan minum, memakai pakaian, ketika berdiri, duduk, bertutur kata, membuat perjanjian, dan di segala urusan lainnya.

Suri teladan yang baik dari Rasulullah Saw. itu selalu diperankan oleh setiap orang dari umat beliau dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, di dalam kehidupan Rasulullah tidak ada waktu sia-sia untuk tidak berdzikir kepada Allah „Azza wa Jalla . Contoh baik dari seluruh perbuatan Rasulullah Saw. telah dilakukan oleh para sahabat beliau secara cermat dan tepat. Seperti yang mereka lihat dalam kehidupan beliau Saw. sehari-hari.

Sampai pada saat Allah Swt. menurunkan firman-Nya berikut ini, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam,” (QS Âli „Imrân [3]: 102).

Para sahabat berhenti makan dan minum karena mereka mengira bagaimana seorang hamba dapat bertakwa dengan sebenar-benarnya jika sampai lalai sesaat pun dari sikap takwa pada saat sedang makan dan minum. Apalagi pada akhir ayat itu dikatakan, “Janganlah sekali-kali kalian mati, melainkan dalam keadaan beragama Islam.” Kemudian para sahabat tidak keluar dari rumah mereka masing-masing, karena mereka selalu melakukan shalat dan beribadah di rumah masing-masing. Mereka tidak meninggalkan rumah, keculi jika tiba waktu shalat berjama'ah bersama Rasulullah Saw.. Setelah beberapa hari, mereka terlihat sangat kurus dan wajah mereka pucat bagaikan orang yang hampir mati. Sebenarnya Rasulullah Saw. telah mengetahui keadaan mereka yang sesungguhnya. Akan tetapi, beliau baru bereaksi setelah Allah Swt. menurunkan firman-Nya berikut ini, “Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian, dan dengar serta taatilah, dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk diri kalian,” (QS al-Taghâbun [64]: 16).

Setelah ayat ini turun, qalbu para shabat menjadi senang dan bahagia, karena mereka mendapat keringanan dari sisi Allah „Azza wa Jalla.[12]

Begitulah ketelitian para sahabat dalam menghayati semua firman Allah Swt.. Sebab, Rasulullah Saw. telah mencontohkan kehidupan seorang muslim sejati kepada mereka, sehingga mereka selalu mencontoh perilaku beliau yang mulia. Untungnya, umat beliau Saw. juga mencontoh perilaku beliau yang mulia pada setiap saatnya.

Masalah ini perlu diketahui oleh setiap da'i. Sebab, tanpa mengikuti jejak Rasulullah Saw. secara teliti dan detail, maka para da'i tidak dapat dijadikan contoh yang baik oleh masyarakatnya. Sebenarnya tugas seorang da'i harus menjadi suri teladan yang baik bagi umat Islam, agar suri teladan yang baik dari pribadi Rasulullah Saw. dan para sahabat beliau senantiasa hidup di tengah-tengah masyarakat Islam di sepanjang masa dan semua tempat. Sebab, apabila kita ingin hidup bahagia di dunia dan di alam akhirat kelak, maka tidak ada jalan lain bagi kita, selain harus mengikuti jejak Rasulullah Saw. serta para sahabat beliau.

Diriwayatkan, bahwa sahabat „Umar Ibnul Khaththab ra. telah ditikam oleh musuh Islam ketika ia hendak melakukan shalat Shubuh berjama'ah. Sehingga „Umar terkulai lemah selama beberapa hari di atas tempat tidurnya, dan tidak dapat makan serta minum. Setiap kali ditanya, apakah ia ingin makan atau minum, „Umar tidak menjawab sedikit pun. Akan tetapi, ketika waktu shalat fardhu tiba, maka „Umar berkata kepada para sahabat, “Biarkan aku menunaikan shalat berjama'ah.” Itulah yang dilakukan oleh „Umar dari salah satu contoh perbuatan Rasulullah Saw.. Demikian pula sebelum ia mengembuskan nafas yang terkahir, maka „Umar berwasiat, agar hendaknya kalian (umat Islam) senantiasa melakukan shalat.[13]

Diriwayatkan pula, bahwa Sayyidah „Aisyah ra. menangis ketika ia mengingat siksa api neraka, sehingga Rasulullah sempat bertanya, “Wahai „Aisyah, mengapa engkau menangis?” Jawab „Aisyah, “Aku menangis karena mengingat siksa api neraka.”[14]

Mengapa „Aisyah menangis ketika mengingat siksa api neraka? Karena, ia senantiasa melihat Rasulullah Saw. menangis di malam hari, ketika beliau mengingat tentang siksa api neraka. Dan, Sayyidah „Aisyah telah dididik oleh Rasulullah Saw. secara langsung dalam rumah tangga beliau yang mulia.

Para sahabat itu tidak saja mementingkan masalah shalat saja, akan tetapi mereka juga peduli kepada rukun-rukun agama yang lain, mulai dari rukun Iman hingga rukun Islam. Mereka selalu menasihati umat Islam masing-masing untuk peduli kepada semua perintah Allah Swt. dan larangan-Nya.

Coba perhatikan salah satu bentuk kehidupan Rasulullah Saw., apakah beliau pernah menyepelekan sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan beragama, meskipun beliau sangat sibuk di dalam berdakwah? Sedikit pun Rasulullah Saw. tidak pernah melalaikan salah satu tugas keagamaan yang tengah beliau emban. Sehingga dalam waktu singkat atau selama lebih kurang dua puluh tiga tahun lamanya beliau dapat mendirikan suatu negara Islam yang sangat besar dan mulia.

Rasulullah Saw. sangat peduli kepada kepentingan umat beliau, dan hubungan mereka dengan beliau. Meskipun urusan Rasulullah sangat terkait erat dengan dunia dan seisinya, akan tetapi beliau tetap tidak pernah melupakan seorang pun dari keluarga dan para sahabat beliau yang juga mulia. Rasulullah Saw. senantiasa memohon pertolongan kepada Allah „Azza wa Jalla , agar Dia senantiasa memberikan ampunan dan kemenangan bagi umat Islam sepanjang masa. Dan, beliau tidak melakukan apa pun keculi apa yang diperintahkan oleh Allah „Azza wa Jalla.[15]

Demikian pula sahabat Abu Bakar al-Shiddiq ra. yang tidak pernah meninggalkan shalat tahajjudnya walau semalam, meskipun ia sangat sibuk memerangi orang-orang yang murtad di siang hari, namun ia tidak pernah meninggalkan bacaan Al-Qur'annya setiap siang dan malam harinya. Abu Bakar juga kerap menangis ketika membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.[16]

Demikian pula halnya dengan sahabat „Umar Ibnul Khaththab ra. yang berhasil mengalahkan dua kerajaan besar seperti Romawi dan Persia. Akan tetapi, „Umar tidak pernah lalai sedikit pun dari menegakkan ibadah dan perjuangan Islam.[17]

Tidak berbeda dengan apa yang pernah dilakukan oleh sahabat „Utsman bin „Affan ra. Pada saat ia tengah sibuk menghadapi berbagai cobaan dari internal umat Islam, ia terus-menerus berusaha dan membaca Al-Qur'an tanpa henti. Sehingga ia terbunuh ketika tengah berpuasa dan saat membaca Al-Qur'an. Darah „Utsman menetes di atas lembaran (mushhaf) Al-Qur'an yang masih terbuka, dan kelak akan menjadi saksi baginya bahwa ia terbunuh ketika sedang membaca Al-Qur'an. Seperti telah disebutkan di dalam firman-Nya Swt. sebagai berikut, “Maka Allah akan memelihara kalian dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (QS al-Baqarah [2]: 137).[18]

Demikian pula kondisinya dengan sahabat „Ali bin Abi Thalib ra. Ia tidak pernah lalai dari mendirikan shalat malam sesaat pun. Setiap malam „Ali selalu bermunajat dan bersujud di hadapan Allah „Azza wa Jalla , serta ia merasa gemetar setiap kali mendengar suara adzan. Sebab, „Ali merasa bahwa telah tiba saatnya untuk menghadap kepada Allah di dalam mendirikan shalatnya.

Para sahabat Rasulullah Saw. telah menunaikan kewajiban berupa amar ma'ruf nahi munkar dengan sebaik mungkin.[19] Mereka berhasil di dalam menunaikan tugas suci itu, karena mereka menunaikannya dengan sungguh-sungguh dan mengharapkan keridhaan Allah „Azza wa Jalla semata. Dengan kata lain, setiap mukmin dan muslim wajib baginya menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, apa pun tugas sehari-harinya, baik ia sebagai orangtua, sebagai Imam masjid, sebagai da'i, sebagai guru, sebagai dosen, sebagai mahasiwa atau sebagai murid. Hendaknya setiap orang dari mereka melakukannnya dengan keikhlasan penuh semata karena Allah Swt..

Siapa saja yang melakukannya dengan ikhlas, maka ia akan menyesuaikan perilaku dan tutur katanya, serta ia akan menghayati tugas suci itu dengan baik. Setiap dakwah yang tidak disampaikan dengan ikhlas, dan tidak dilaksanakan dengan suatu wujud pengamalan, maka dakwahnya dinilai gagal, meskipun ia telah melaksanakannya dengan baik. Sebab, urusan dakwah sangat erat kaitannya dengan perkara akhirat, seperti yang telah disebutkan di dalam sabda Rasulullah Saw. sebagai berikut, “Ketika aku di-Isra' dan Mi'rajkan, aku melihat sekelompok orang yang menggores lidah mereka dengan penggores tajam dari api neraka. Maka aku bertanya kepada malaikat Jibril, „Wahai Jibril, siapakah mereka itu?' Jawab Jibril, „Mereka itu adalah para pemberi nasihat yang gemar memberikan nasihat ke jalan kebaikan, akan tetapi diri mereka sendiri tidak pernah mengerjakan perbuatan baik itu, meskipun mereka membaca firman-firman Allah.'”[20]

Itulah dampak negatif yang diterima bagi para pemberi nasihat yang baik, yang mereka tidak pernah melakukannya. Mereka melarang manusia dari perbuatan munkar, akan tetapi mereka sendiri justru melakukannya. Dewasa ini kita sangat membutuhkan para da'i yang melaksanakan berbagai nasihat baiknya, serta larangan dari kemunkaran. Kita tidak butuh kepada orang-orang yang hanya pandai berbicara, tanpa bersedia mengamalkannya dengan baik. Orang-orang semacam itu bagai kumpulan keledai yang mengangkat sejumlah kitab yang berisikan ilmu, akan tetapi kitab-kitab yang berisikan ilmu itu tidak berguna sedikit pun baginya.

[1] Lihat lebih lanjut penjelasannya dalam kitab al-Risâlah, karya Imam al-Qusyairi, halaman 216. Juga dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn, karya Imam al-Ghazali, Jilid 1, halaman 78.
[2] Lihat lebih lanjut dalam al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal, Jilid 1, hadis nomor 44.
[3] Mereka diumpamakan seperti kayu yang tersandar. Maksudnya, untuk menyatakan sifat mereka yang buruk, meskipun tubuh mereka bagus-bagus, dan mereka pandai berbicara. Akan tetapi, sebenarnya otak mereka adalah kosong, tidak dapat memahami kebenaran.
[4] Lihat lebih lanjut dalam kitab Sahîh milik Imam Ibnu Hibban, Jilid 2, hadis nomor 386.
[5] Lihat lebih lanjut dalam kitab Shahîh milik Imam Bukhari, pada pembahasan mengenai alÂdzân, hadis nomor 51 dan 82.
[6] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada pembahasan mengenai Tahajjud, hadis nomor 9. Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, pada pembahasan mengenai al-Musâfirûn, hadis nomor 204. Juga oleh Ibnu Hanbal, dalam al-Musnad, Jilid 1, halaman 385-396.
[7] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada pembahasan mengenai Âdzân, hadis nomor 51. Juga oleh Imam Muslim, pada pembahasan mengenai al-Shalâh (shalat), hadis nomor 9.
[8] Lihat lebih lanjut dalam kitab al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal, Jilid 2, hadis nomor 381.. Juga dqalam kitab al-Bidâyah wa al-Nihâyah, karya Imam Ibnu Katsir, Jilid 3, halaman 251. Juga pada kitab yang sama, Jilid 4, halaman 97. Dapat pula dirujuk dalam kitab al-Maghâzî, karya Imam al-Waqidi, Jilid 2, halaman 446.
[9] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada pembahasan mengenai al-Riqâq, hadis nomor 17. Juga oleh Imam Muslim, pada pembahasan mengenai al-Zuhd, hadis nomor 28. Dan diriwayatkan pula oleh Imam Abu Daud, pada pembahasan mengenai al-Libâs, hadis nomor 42.
[10] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada pembahasan mengenai al-Zakâh (zakat), hadis nomor 60. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, pada pembahasan yang sama, al-Zakâh (zakat), hadis nomor 161.
[11] Lihat lebih lanjut dalam kitab al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal, Jilid 2, hadîts nomor 193.
[12] Lihat lebih lanjut dalam kitab Tafsîr Al-Qur-ân, karya Imam Ibnu Kasir, Jilid 8, halaman 166.
[13] Lihat lebih lanjut penjelasannya dalam kitab Majma’ al-Zawâid, karya Imam al-Baihaqi, Jilid 1, halaman 295. Juga dalam kitab al-Thabaqât al-Kubrâ, karya Imam Ibnu Sa’ad Jilid 3, halaman 350-351.
[14] Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, pada pembahasan mengenai al-Sunnah, hadis nomor 25. Juga oleh Imam al-Hakim, dalam kitab al-Muastadrak miliknya, Jilid 4, hadis nomor 622.
[15] Lihat lebih lanjut dalam surah an-Nashr.
[16] Lihat lebih lanjut dalam kitab Hayât ash-Shahâbah, karya Imam al-Kandahalawi, Jilid 3, halaman 143. Juga dalam kitab Hilyah al-Auliyâ’, karya Imam Abu Nu’aim, Jilid 1, halaman 30.
[17] Lihat lebih lanjut dalam kitab Hilyatu al-Auliyâ’, karya Imam Abi Nu’aim, Jilid 1, halaman 48-49. Juga dalam kitab Asad al-Ghâbah, karya Imam Ibnu al-Atsir, Jilid 4, halaman 157. Juga dalam kitab ath-Thabaqât al-Kubrâ, karya Imam Ibnu Sa’ad, Jilid 4, halaman 293.
[18] Lihat lebih lanjut penjelasannya dalam kitab al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal, Jilid 1, halaman 72. Juga dalam kitab Asad al-Ghâbah, karya Imam Ibnu al-Atsir, Jilid 3, halaman 594. Dan, lihat pula dalam kitab Hayât ash-Shahâbah, karya Imam al-Kandahalawi, Jilid 3, halaman 286.
[19] Lihat lebih lanjut penjelasannya dalam kitab Shafatu al-Shafwah, karya Imam Ibnul Jauzi, Jilid 1, halaman 128.
[20] Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, Jilid 3, hadis nomor 120, 231, dan 239.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.