Persiapkan Sebelum Berdakwah

Persiapkan Sebelum Berdakwah

Mengenali Lawan Bicara

Sesungguhnya seorang da'i harus pandai mengetahui orang-orang yang akan diajak berbicara jauh-jauh hari sebelum ia berbicara. Dengan kata lain, ia harus mempersiapkan segala sesuatunya sesuai apa yang dibutuhkan oleh sasaran atau objek dakwahnya. Setiap da'i, juga hendaknya berlapang dada terhadap para pendengarnya yang menyakiti perasaannya, terutama kepada orang-orang yang sudah menyatakan diri beriman. Ia boleh bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, asalkan dengan cara-cara yang tetap bijkasana. Maka diharapkan, dengan cara itu seorang da'i bisa menyampikan dakwahnya kepada orang lain sesuai aturan syari'at Islam. Sehingga pribadi dan sekaligus materi dakwahnya disukai dan diterima dengan baik oleh orang lain.

Selain itu, seorang da'i hendaknya mengetahui kondisi dan situasi terbaik untuk menyampaikan dakwahnya kepada orang lain, agar orang lain manaruh simpati kepada apa yang disampaikannya. Ia harus menyampaikan dakwahnya dengan cara yang mulia dan bersih. Tidak perlu diragukan lagi, bahwa siapa saja yang menyampaikan dakwahnya dengan sanubari yang bersih, sikap yang ikhlas dan perilaku serta tutur kata yang sesuai dengan ucapannya, maka dakwahnya akan diterima dengan baik oleh para pendengarnya. Jika seorang da'i tidak mengetahui cara dan situasi dalam menyampaikan dakwahnya, maka ia akan tidak disukai oleh para pendengarnya. Dan, di akhirat kelak ia akan dimintai pertanggunganjawaban oleh Allah Swt., jika dakwah yang ia sampaikan justru dapat merugikan orang lain.

Mari kita perhatikan betapa indahnya tutur kata dan perilaku yang pernah disampaikan oleh Rasulullah Saw. kepada umat beliau, sehingga tutur kata dan perilaku beliau senantiasa menimbulkan rasa simpatik di sanubari para pendengarnya. Beliau Saw. tidak pernah menyebutkan kekafiran dan keburukan seseorang di hadapan orang banyak. Justru, Rasulullah menujukkan tutur kata beliau kepada semua orang secara umum, tanpa mengkhususkan kepada seseorang. Beliau Saw. selalu berkhotbah di atas mimbar dengan cara-cara yang bijaksana, terutama jika beliau ingin menyampaikan dakwah kepada orang banyak.

Disebutkan pula, bahwa pada suatu ketika ada seorang sahabat yang berdo'a dengan suara keras sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, dan kejadian itu disaksikan oleh Rasulullah Saw. dari dekat. Beliau tidak menegurnya secara langsung kepada orang itu, akan tetapi beliau menyampaikan nasihat secara umum, “Kasihanilah diri kalian, karena kalian tidak menyeru kepada Tuhan yang tuli, dan tidak pula alpa. Akan tetapi, kalian tengah menyeru kepada Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Mahadekat, serta Dia senantiasa bersama kalian.”[1]

Disebutkan juga, bahwa pada suatu hari ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. seraya menyampaikan, “wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak ingin tertinggal dari mendapatkan keutamaan mendirikan shalat Shubuh berjama'ah. Akan tetapi, sungguh aku terganggu oleh shalat seorang Imam yang terlalu memperpanjang bacaan surahnya ketika ia menjadi Imam.” Mendengar laporan dari sahabat itu, beliau Saw. sangat tidak menyukai perbuatan tersebut. Meski demikian, beliau tidak serta-merta marah di hadapan pelakunya. Bahkan Rasulullah tidak langsung memanggil sang Imam, akan tetapi beliau naik ke atas mimbar seraya berkhotbah secara umum, “Wahai manusia, mengapa masih ada di antara kalian para Imam shalat yang menyebabkan orang lain lari dari mendirikan shalat berjama'ah. Oleh karena itu, jika kalian tengah mendirikan shalat berjama'ah (menjadi Imam), maka janganlah kalian terlalu memanjangkan bacaan surah dalam shalat yang tengah kalian pimpin. Sebab, di antara para makmum ada orang-orang yang sudah lanjut usia, ada pula orang yang lemah kesehatannya, dan ada para pihak yang sedang mempunyai kebutuhan mendesak.”[2]

Itulah sebagian cara bersikap yang lemah lembut lagi bijaksana yang digunakan oleh Rasulullah Saw. ketika beliau hendak menegur kekeliruan yang telah dilakukan oleh orang lain. Agar pelakunya tidak merasa malu di hadapan orang banyak. Dengan cara itu justru tegurannya menyentuh di sanubarinya, dan segala kesulitan masyarakat dapat teratasi dengan cara bijaksana. Ikannya dapat, airnya tenang.

Disebutkan pula, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Wahai manusia, ucapkanlah Lâ Ilâha Illallâh, agar kalian beruntung.”[3] Dari hadis ini dapat kita simpulkan, bahwa beliau tidak menujukan ucapan hanya kepada seseorang saja, agar ia tidak merasa bersalah jika tidak mengucapkannya. Oleh karena itu, sebaiknya setiap da'i selalu menyampikan dakwahnya dengan cara-cara yang bijksana dan lemah-lembut, agar muatan dakwahnya tidak menyakiti perasaan orang lain.

Menjauhi Perdebatan Sia-Sia

Selain setiap da'i senantiasa menyampaikan materi dakwah dengan lemah-lembut, tanpa perlu menyakiti perasaan orang lain, hendaknya juga ia menjauhi segala bentuk perdebatan sia-sia. Sebab, setiap perdebatan yang sia-sia tidak akan mengantarkan ke jalan kebenaran. Karena setan telah memperdaya setiap orang yang berdebat sia-sia. Ketika kita melakukan perdebatan sia-sia, meskipun kita telah menyampaikan ide pikiran kita dengan cara yang benar, hasil pemikiran kita tidak akan mudah diterima oleh lawan bicara kita.

Pada intinya, perdebatan sia-sia tidak akan membawa titik temu yang baik. Apalagi jika masing-masing pihak hendak menonjolkan kemampuannya. Setiap orang akan berusaha menguatkan argumentasinya dengan berbagai dalil yang ada. Demikian pula lawan kita berbicara. Sehingga pihak-pihak yang berdebat akan mengalami kesia-siaan. Dan, mereka pun akan jauh dari titik temu yang dikehendaki secara bersama-sama.[4]

Menghindai Sikap Individualis

Pada awalnya „Abdullah bin Salam adalah seorang pengikut agama Yahudi. Ia kemudian datang menemui Rasulullah Saw. untuk menerima kebenaran Islam. Ia berkata di dalam dirinya, “Jika laki-laki ini sifat-sifatnya seperti yang disebutkan di dalam kitab Taurat, maka aku akan beriman kepadanya.” Kemudian ia berkata, “Maka aku mendatangi beliau bersama beberapa orang untuk melihat pribadi beliau Saw.. Pada saat aku datang dan langsung menyaksikan (bertemu dengan) beliau, maka aku yakin bahwa beliau bukanlah seorang pendusta.”[5]

Mayoritas manusia tidak selamanya mempunyai perasaan berharap akan mendapatkan keridhaan Allah Swt. atas dirinya di sepanjang kehidupan ini. Oleh karena itu, seorang da'i maupun pendengarnya sering terjebak ke dalam perasaan yang bersifat individualistis. Pada saat seperti ini, di dalam sanubari manusia tidak tergetar rasa apa pun untuk mengharap keridhaan Allah atas dirinya. Meskipun ia dinasihati dengan nasihat yang paling menarik. Sebab, pada saat yang sama Allah tidak memberinya petunjuk, dan petunjuk atau hidayah itu hanya berada di tangan-Nya Azza wa Jalla semata. Tidak seorang pun dapat meletakkan cahaya hidayah di dasar sanubari manusia; jika tidak mendapatkan izin dari kehendak Allah Yang Maha Berkehendak.

Perlu diketahui, bahwa sikap individualistis dapat mempersulit datangnya petunjuk, dan juga menghilangkan keberkahan dalam hidup. Hal ini bisa terjadi bagi si pemberi nasihat maupun terhadap pendengarnya. Oleh karena itu, seorang da'i harus menghilangkan perasaan tersebut dari dasar sanubarinya. Ia harus mempunyai qalbu yang bersih pada saat berdakwah. Dengan demikian, seorang da'i tidak boleh menyimpan perasaan individualistis di dalam qalbunya. Meskipun ia mempunyai berbagai kelebihan ketika berbicara. Sebab, yang memberi petunjuk hanyalah Allah Swt. semata. Dan, tanpa pemberian-Nya, maka seseorang tidak akan pernah mendapatkan petunjuk.

Mengenali Pikiran Obyek Yang Diajak Bicara

Kini marilah kita bicarakan tentang permasalahan yang sering dianggap tidak penting, akan tetapi tidak boleh ditinggalkan. Yaitu, hendaknya seorang da'i senantiasa peduli secara sungguh-sungguh untuk membina pemikiran umat yang menjadi sasaran dakwahnya, dan jangan sampai ia justru mempersempit ruang pemikiran mereka. Pada masa kita sekarang ini umat Islam terbagi menjadi cukup banyak kelompok. Oleh karena itu, setiap da'i harus memahami benar perasan masing-masing kelompok yang terlanjur ada, agar tidak menyakiti perasaan kelompok tertentu. Sehingga segala bentuk nasihat dan petunjuk yang disampaikan tidak cenderung ditolak oleh mereka. Setiap da'i hendaknya mempunyai qalbu yang lapang, toleransi yang cukup kepada kelompok-kelompok yang lain. Sebab, Allah Swt. tidak ridha jika ada seorang da'i yang mencaci segolongan orang atau kelompok di luar kelompoknya sendiri. Allah Yang Mahaadil tidak akan ridha kepada siapa saja yang menyakiti perasaan orang lain, apalagi menyakiti perasaan orang-orang beriman, atau memutuskan hubungan persaudaraan dengan mereka (kelompok lain).

Tujuan utama seorang da'i adalah mengajak orang ke jalan Allah yang Esa, tanpa membiarkan ada atau berkembangnya potensi perpecahan di antara mereka. Kalau seorang da'i menyakiti kelompok yang lain, maka ia tidak akan sanggup mempersatukan perbedaan pendapat di antara umat Islam. Bahkan ia akan cenderung memperbesar perpecahan di antara sesama.

Pengetahuan seorang da'i terhadap pemikiran dan keyakinan setiap kelompok dalam masyarakat Islam perlu diperluas. Sebab, ia bertugas menyatukan pemikiran di antara umat Islam. Jika berdakwah merupakan suatu kewajiban, maka mempelajari cara berdakwah yang terbaik merupakan kewajiban yang lain. Misalnya, jika musuh tiba-tiba menyerangmu dengan senjata mesin, maka engkau harus menghadapi mereka dengan senjata yang serupa, agar engkau tidak mati konyol dibuatnya. Jika seorang da'i tidak mengetahui cara berdakwah yang baik, maka usaha dakwahnya tidak akan pernah berhasil, malah akan berbuah sebaliknya. Oleh karena itu, mempelajari cara berdakwah yang baik adalah suatu ilmu yang tidak boleh dilupakan oleh setiap da'i.

Jika ucapan kita telah disampaikan kepada para pendengar, akan tetapi mereka mengetahui perilaku kita bertentangan dengan ucapan kita, maka dakwah yang kita sampaikan juga tidak akan berguna sedikit pun. Demikian pula, jika seorang da'i tidak mengerti suatu masalah yang berkembang di masanya, kemudian ia berbicara tentang masalah itu, sudah tentu pembicaraannya tidak akan (sulit) diterima oleh orang lain.

Sebab, mereka mengetahui bahwa pembicaraan sang da'i tidak cukup bagus seputar masalah tersebut. Sebenarnya, nilai kegagalan seorang da'i perlu dikaji ulang atau dievaluasi secara berkala dan sistematis, karena kekeliruan yang ia lakukan dapat mengorbankan keutuhan serta keselamatan umat secara keseluruhan.

Jika masa ini banyak orang yang membicarakan ilmu-ilmu modern, kemudian seorang da'i membicarakan masalah fikih di masa lampau, maka sudah tentu pembicaraannya tidak akan diterima oleh para pendengar, akibat tidak tepat dengan sasarannya. Demikian pula jika di suatu masa masyarakat sebagai objek dakwah mengingkari adanya alam akhirat, akan tetapi seorang da'i justru mengajak mereka merenungkan kebahagiaan alam akhirat dengan menyebutkan sejumlah kisah para wali, maka sudah tentu pembicaraan semacam ini tidak akan mengena pada sasarannya. Oleh karena itu, janganlah seorang da'i marah jika pembicaraannya ditolak oleh para pendengarnya. Apalagi jika para pendengarnya itu terdiri dari para ilmuwan yang selalu menerima pendapat orang lain dengan pemahaman yang sesuai kemampuan mereka. Terutama jika pendapat itu tidak berdasarkan pada pemahaman akal yang sehat.

Syaikh Sa'aduddin al-Taftazani pernah menerangkan tentang hakikat keimanan sebagai berikut, “Sesungguhnya keimanan seorang hamba adalah cahaya Allah „Azza wa Jalla yang dimasukkan ke dalam sanubarinya, yang itu dikehendaki oleh-Nya sebagai Pemilik hamba, tentunya setelah diadakan berbagi usaha untuk mendekatkan seseorang kepada keimanan.”

Dalam masalah ini, seorang da'i boleh menerangkan keimanan dengan berbagai dalil agama dan akal, akan tetapi semuanya sangat bergantung kepada kehendak Allah Swt.. Jika Allah berkehendak memberi keimanan kepada orang itu, maka ia akan beriman. Dan jika tidak, maka ia akan menolaknya; meskipun dalil-dalil yang disampaikan oleh sang juru dakwah telah diterangkan dengan gamblang. Keimanan yang telah merasuk ke dalam lubuk sanubari seorang Mukmin akan mendorongnya untuk melakukan segala amal yang shalih dalam seluruh dari sisi hidupnya. Meski anehnya, ada sebagian orang yang mengaku telah beriman, akan tetapi ia justru melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai keimanan yang katanya melekat di dalam dirinya.

Memang, kitab Al-Qur'an banyak membicarakan tentang masalah ilmu dan teknologi. Meski demikian, kitab tersebut (Al-Qur'an) bukanlah kitab yang membicarakan secara detail tentang ilmu fisika maupun kimia; sebagaimana yang dipahami oleh para ahli belakangan ini. Kandungan pokok Al-Qur'an hanya menyuruh orang-orang beriman atau siapa saja yang bersedia menelaahnya dengan berbagai isyarat untuk mempelajari berbagai cabang ilmu yang telah Allah sediakan bagi kemaslahatan manusia di alam dunia ini. Jika seorang da'i tidak pernah mempelajari ilmu astronomi atau ilmu tentang kehidupan (sosial), maka sudah tentu ia tidak akan memahami ayat-ayat yang membicarakan tentang ilmu-ilmu tersebut. Sebab, untuk memahami sebagian ayat yang ada seseorang harus mempelajari berbagai cabang ilmu yang disebutkan di dalam kitab suci tersebut.

Alhasil, setiap da'i sangat perlu mengetahui seluruh perkembangan ilmu pengetahuan modern, meskipun tidak harus mempelajarinya secara mendetail. Sebab, para pendengar dari seruannya juga terdapat sebagian orang yang pandai di berbagai disiplin ilmu, dan atau ilmuwan. Di samping itu, ada pula mereka yang masih awam. Oleh karena itu, mengenali tarap pemikiran pihak yang diajak berdialog sungguh sangat penting untuk diperhatikan.

Selalu Update Pengetahuan Terkini

Sungguh sangat disayangkan, umat Islam terlanjur kecewa karena para da'i yang ada tidak mengenal ilmu-ilmu modern yang berkembang di masa sekarang. Oleh karena itu, mayoritas umat Islam terlanjur merasa kecewa atas kemunduran cara berpikir para da'i. Sebab, mana mungkin seorang da'i akan menerangkan tentang berbagai ilmu modern yang tidak pernah ia pelajari.

Perlu diketahui bersama, bahwa apabila seorang da'i dibutuhkan untuk menerangkan suatu permasalahan yang berkembang di masanya, akan tetapi ia tidak memiliki cukup ilmu guna menerangkannya, maka mana mungkin ia sanggup memahami makna kewajiban dari amar ma'ruf nahi munkar yang mesti ia sampaikan. Sudah tentu jawabannya adalah tidak. Bahkan, para d'ai dimaksud dituntut untuk mempelajari serta menggali berbagai ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, terutama yang berkaitan dengan strategi dakwah, agar ia dapat menerangkan materi dakwahnya kepada orang lain dengan baik.

Sebab, menuntut ilmu untuk memajukan tujuan dakwahnya kepada orang juga termasuk kewajiban bagi seorang da'i. Dewasa ini banyak kaum muda yang sibuk mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan modern, seperti fisika, kimia, dan ilmu astronomi. Hingga sudah menjadi kewajiban bagi setiap da'i untuk mempelajari ilmu-ilmu yang berkembang di masa yang sama, agar ia dapat menerangkan materi dakwahnya dengan cara-cara yang modern pula, yang dapat diterima oleh masyarakatnya.

Perlu untuk segera dipahami secara saksama, bahwa alam semesta dan segala apa yang terjadi di dalamnya merupakan bahasa yang mesti diapresiasi sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh karena itu, setiap mukmin wajib mempelajari bahasa dimaksud, dan berpegang teguh pada setiap tunas yang berkembang di dalam perkembangannya. Jika tidak, maka ia tidak akan mengerti sedikit pun tentang firman-firman Allah Swt. yang membicarakan perihal pengetahun yang ada di sekeliling kita.

Jika seorang da'i tidak memahami rahasia perkembangan ilmu pengetahuan yang terus berjalan sesuai masanya, maka ia akan tersisih dari masyarakatnya. Dan harus diingat pula, bahwa ada sebagian dari firman Allah „Azza wa Jalla yang menerangkan tentang fungsi alam semesta, utamanya yang berkaitan dengan perkembangan ilmu-ilmu modern seperti saat ini. Tentunya, seorang da'i yang membaca dan sekaligus menelaah Al- Qur'an, namun ia bersikap tidak mau (enggan) mempelajari ilmu-ilmu modern, maka dapat dipastikan ia tidak akan bisa memahami firman-firman Allah dalam konteks dimaksud. Sehingga ia akan termasuk seorang da'i yang melalaikan bagian yang juga penting dari ajaran Al-Qur'an; meskipun ia dapat menamatkan bacaan isinya setiap hari.

Allah Yang Mahabijak sengaja menurunkan Al-Qur'an kepada manusia, agar mereka mempelajari dan memikirkan kandungan ayat-ayat-Nya. Jadi, siapa saja yang ingin membela Al-Qur'an, maka hendaknya ia mempelajari ilmu-ilmu yang diterangkan di dalam Al-Qur'an, tanpa kecuali. Hingga perlu untuk dipahami pula, bahwa setiap dakwah yang disampaikan oleh para da'i, meskipun mereka menyampaikannya dengan sempurna serta baik, akan tetapi belum tentu dakwahnya akan diterima dengan baik oleh para pendengarnya, akibat para da„i-nya tidak mengerti kemajuan ilmu pengetahuan modern yang bersinggungan secara langsung dengan materi yang disampaikannya.

Setiap penjelasan yang disampaikan oleh seorang da'i yang tidak bisa dipahami oleh akal orang-orang di masanya, maka keterangan itu tidak akan mendekatkan para pendengarnya kepada Al-Qur'an. Bahkan akan menjauhkan mereka dari Al-Qur'an, karena mereka menganggap Al-Qur'an sebagai sumber pengetahuan yang tidak lagi update.

Para sahabat Rasulullah Saw. mempunyai pengetahuan lebih maju dari masyarakat yang ada di masa mereka. Sehingga mereka dapat menerangkan kepada orang-orang jahil berbagai pengetahuan baru (update di masa mereka) yang mereka terima secara langsung dari Al-Qur'an. Demikian pula para da'i yang datang setelah generasi para sahabat juga mempunyai pengetahuan yang lebih luas dari apa yang diketahui masyarakat di masa mereka. Misalnya Imam al-Ghazali. Ia seorang ulama yang mengarahkan berbagai cabang ilmu pengetahuan yang mengagumkan orang-orang di masanya. Bahkan kekaguman mereka berlangsung untuk waktu beberapa masa setelah wafatnya Imam al-Ghazali.

Bahkan tokoh yang sekaligus ilmuwan Barat Gibb dan Rinan sangat kagum terhadap pemikiran Imam al-Ghazali; sebagaimana yang pernah mereka ungkapkan secara langsung sebagai berikut, “Kami tidak pernah mendapatkan seorang pun yang tingkat berpikir dan sekaligus keluasan ilmu pengetahuannya sama dengan Imam al-Ghazali pada masanya.” Kejadian semacam itu selalu terjadi berulang kali di setiap masa pada masamasa kejayaan Islam. Seperti para tokoh pembaharu sekelas Imam Rabbani, Khalid, dan para sahabat mereka. Para tokoh dakwah semacam itu menerangkan dakwah mereka dengan bukti-bukti ilmiah yang berkembang pada masanya, sehingga pembicaraan mereka diterima secara baik oleh para pendengar mereka.

Memperluas Berwawasan

Sebagaimana lazimnya setiap guru atau mursyid yang akan membimbing manusia menuju jalan Allah Swt. mempunyai bekal pengetahuan yang cukup, sesuai perkembangan masanya. Sebab, jika tidak, maka ia tidak akan menjadi seorang guru atau mursyid yang berbobot. Bahkan ia akan termasuk seorang yang gagal dalam membimbing umat menuju jalan atau keridhaan Allah „Azza wa Jalla . Hendaknya seorang pembimbing ke jalan kebenaran mempersiapkan diri dengan berbagai macam persiapan yang cukup untuk menerangkan misi dakwah yang hendak disampaikannya kepada orang lain, terutama kepada generasi modern, sesuai perkembangan zamannya.

Ada seorang guru (mursyid) yang sempat mengungkapkan kekecewaannya terhadap duka atau derita yang tengah dialami oleh umat Islam di banyak tempat. Guru itu merasa memiliki tanggung jawab karena ia sangat peduli kepada setiap generasi mendatang dari umat Islam. Seorang penyeru yang tidak kecewa karena hilangnya keimanan sebagian orang yang mengaku diri sebagai muslim, maka ia tidak pantas menjadi seorang da'i.

Karena, seorang da'i adalah pejuang yang selalu memerhatikan umat di masanya. Ia cenderung untuk tidak peduli dengan berbagai kesenangan dunia, bahkan ia sangat peduli dengan janji berupa kesenangan surga di alam akhirat kelak. Kepedulian mereka yang paling utama adalah untuk menyampaikan dakwah kepada umat hanya dilandaskan karena ingin menggapai keridhaan Allah Swt. semata. Sebab, sudah sepantasnya seorang mursyid mempunyai jiwa menyampaikan dakwah untuk mengatur diri dan sasaran dakwahnya.

Seorang mursyid harus mengetahui seputar dakwah apa yang akan disampaikan kepada umat sebelum ia berdakwah. Jika tidak demikian, maka ia laksana seorang dokter yang memberi obat apa saja kepada seseorang yang tengah menderita sakit sebelum ia menyelidiki apa yang sesungguhnya yang terjadi pada pasien. Demikian pula seorang mursyid yang memberi fatwa kepada umat sebelum ia menyelidiki apa yang dibutuhkan umat pada waktu itu, maka ia bagaikan seorang dokter yang salah memberi obat kepada pasiennya. Sudah tentu, obat yang justru akan membahayakan bagi kesehatan pasiennya.

Ada sejumlah orang yang kerap membicarakan permasalahan di seputar perekonomian yang mengatasnamakan kepentingan umat, dengan mengkritisi perkembangan dunia industri yang semakin pesat. Meskipun pembicaraan semacam ini terkesan berhubungan dengan ajaran agama Islam, akan tetapi konten (isi) dari apa yang dibicarakan tersebut tidak lebih dari pembicaraan yang mengarah kepada sistem sosialis (komunis). Sesungguhnya pemikiran semacam itu telah lenyap, dan para pendukungnya telah bubar. Semua itu disebabkan mereka tidak dapat memelihara kesatuan di antara mereka sendiri.

Lalu, bagaimanakah sesungguhnya pemikiran sederhana yang diberikan kepada kehidupan manusia melalui ajaran Islam? Tentunya, seorang da'i yang tidak dapat menumbuhkan ruh keimanan di sanubari para pendengarnya, maka dakwah mereka termasuk dakwah yang mengalami kegagalan. Sebab, ia tidak berhasil mengajak manusia ke jalan Allah Swt. melalui cara-cara menyikapi hidup sesuai dengan aturan-Nya.

Jika ruhani generasi saat ini tidak berhasil dibina, sehingga masalah akhirat mereka menjadi terbengkalai, maka pasti mereka juga tidak akan merasakan kenikmatan hidup yang di dalam prosesnya tengah dijalankan di alam dunia ini. Sebab, mereka tidak mempunyai ruhani yang kuat, hingga pikiran mereka tidak dapat dibina melalui berbagai pemikiran yang bersifat keruhanian. Meskipun dipersepsikan bahwa kebingungan mereka itu dapat segera diobati dengan kemajuan perekonomian bangsa, maka tentunya perkiraan semacam ini adalah kekeliruan yang sangat fatal.

Pemikiran mayoritas ulama Islam dewasa ini tidak melibatkan ruang bagi kemampuan menyentuh masalah-masalah yang bersifat modern, sehingga mereka tidak dapat berbicara secara leluasa dengan umat-umat lain yang berada di belahan dunia yang berbeda. Mereka hanya puas dengan berlaku sebagai pendengar saja, dan tidak lebih dari itu. Andaikata mereka dapat menyusun kembali pengetahuan yang mereka dapatkan dari pembelajaran yang selama ini mereka lakukan (dalami), maka mungkin pada suatu hari nanti umat Islam akan menjadi pemimpin dunia.

Sehingga bangsa-bangsa lain akan tunduk kepada sistem yang mereka bangun secara Islami. Akan tetapi sayangnya pemikiran modern tidak dapat disuarakan oleh para da'i kita, karena mereka tidak mempunyai pengetahuan yang mumpuni terhadap ilmu modern yang berkembang dewasa ini. Meski sesungguhnya di hadapan kita tersedia kitab suci Al-Qur'an yang mendorong semua akal manusia untuk berpikir atau memikirkan kejadian di alam semesta ini.

Demikian pula dengan al-Sunnah, yang juga menerangkan berbagai pengetahuan yang telah diterangkan di dalam Al-Qur'an. Namun sayang, kaum muslim tidak banyak yang dapat mengambil pelajaran dari kedua sumber mulia tersebut. Tidak seorang muslim pun dewasa ini yang dapat menyelami kandungan Al-Qur'an sepenuhnya, dengan menyatukan akal dan qalbu mereka secara bersamaan. Meski sesungguhnya Al-Qur'an dan al-Sunnah banyak sekali memprioritaskan pembicaraan tentang alam semesta, dan segala kejadian yang ada padanya. Andaikata kita terus dalam kejahilan kita, seperti yang terjadi pada masa sekarang ini, maka dapat dipastikan bahwa tidak seorang muslim pun yang selamat dari kejadian yang menakutkan; selalu berada dalam penindasan pihak lain.

Perkembangan dunia dan ilmu teknologi senantiasa berkembang terus, serta menyebar ke berbagai belahan dunia secara cepat. Sayangnya masih ada sebagian orang di antara kita yang mengatakan bahwa kita tidak akan dapat maju atau berkembang seperti perkembangan dunia yang amat luas ini. Bahkan, kita hanya bangga dengan mengatakan ucapan-ucapan yang terjadi pada sekitar abad-abad keemasan yang telah berlalu. Sehingga kondisi kita saat ini menjadi jauh dari harapan. Oleh karena itu, jangan menyalahkan mereka sepenuhnya jika telinga mereka tidak dapat mendengar nasihat kita.

Belajar Tanpa Kenal Lelah

Seorang da'i pada masa sekarang ini harus pandai melihat perkembangan yang terjadi dari waktu ke waktu, sebelum ia menemui berbagi permasalahan yang akan dipertanyakan oleh para pendengarnya. Setiap da'i harus mampu membina ruhani para pendengarnya, dan hendaknya seorang da'i mengetahui pula berbagai masalah yang tengah meracuni pemikiran generasi Islam di abad ini. Kemudian hendaknya ia membicarakan masalah yang berkaitan dengan perkembangan zaman yang terus berputar, agar pemikiran yang disampaikan diterima oleh masyarakat Islam secara luas, dan pendapatnya itu masuk ke dalam qalbu serta pikiran mereka. Sebab, generasi muslim dewasa ini terkesan tidak mempunyai ghirah Islam, dan kita pun seolah tidak mampu membantu mereka, kecuali dengan menghadirkan berbagai solusi atas permasalahan yang berseberangan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan.

Ada beragam masalah yang menghadang di depan kita, yang membutuhkan perhatian segera. Karenanya, Al-Qur'an dan al-Sunnah sangat concern dalam membicarakannya. Seperti terdapat pada firman Allah Swt. berikut ini, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan,” (QS al-„Alaq [96]: 1).

Al-Qur'an telah berhasil menuntaskan pembicarakan mengenai masalah kejadian alam semesta sejak lebih dari 14 abad yang lalu. Padahal semua ahli filsafat sejak dari masa Plato hingga Socrates, bahkan para ahli filsafat non-muslim yang hidup di masa Rasulullah Saw., semua mereka masih berbeda pendapat ketika harus membicarakan mengenai alam semesta dan kejadiannya. Pada waktu itu, mereka membicarakan proses kejadian manusia yang dimulai dengan setetes sperma yang bercampur --dengan sel telur--, kemudian berkembang menjadi segumpal darah, hingga menjadi janin manusia yang sempurna. Semua proses ciptaan manusia itu ada di dalam rahim sang ibu.

Akan tetapi, Al-Qur'an membicarakan kejadian manusia dari sisi yang lebih luas dari sekadar itu, dan mengajak manusia berbicara untuk bisa memetik pelajaran yang lebih berharga tentangnya. Seperti yang telah disebutkan di dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Katakanlah, „Berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan manusia dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu,” (QS al-„Ankabût [29]: 20).

Itulah yang dikatakan oleh Allah „Azza wa Jalla tentang kejadian manusia. Sedangkan pengetahuan manusia tidak mampu menerangkan masalah proses terciptanya manusia kembali setelah kematiannya, karena yang mengetahui rahasia penciptaan manusia untuk kali kedua hanyalah Sang Maha Pencipta, yaitu Allah Yang Maha Esa.

Al-Qur'an telah menyebutkan kedua proses terjadinya manusia pada awal era tersebarnya agama Islam. Selain itu, Al-Qur'an juga menerangkan tentang proses terciptanya alam semesta secara lebih saksama. Semua itu bergantung kepada kehendak Allah Swt.. Dengan redaksi yang berbeda dapat dikatakan, bahwa apa saja yang diterangkan oleh Al-Qur'an tentang kejadian alam semesta telah diterangkan secara gamblang, agar dapat dibaca oleh semua orang yang mau menggunakan fungsi akalnya. Para da'i yang berusaha mengabadikan kehidupan kelompok mereka dengan menyebutkan pengaruh perasaan, mereka berani bertentangan dengan keterangan ayat-ayat alam semesta. Dan, mereka tidak menjanjikan apa pun bagi masa depan kemajuan umat.

Kebanyakan generasi yang muncul dari orang-orang yang beragama justru tenggelam ke dalam kekafiran sikap, baik itu di dalam negeri muslim maupun di luarnya. Akan tetapi, ada pula sebagian orang yang tidak terkait erat dengan keluarga yang beragama justru mereka menikmati keimanan yang sempurna. Sehingga sebagian dari mereka ada yang melarikan diri dari kekerasan keluarga mereka, demi untuk mencari kedamaian yang ditimbulkan oleh kehidupan beragama di sekelilingnya.

Sebenarnya, kejadian seperti itulah yang pernah Saya saksikan, dan tidak pantas untuk disebutkan. Akan tetapi, masalah-masalah seperti ini justru akan tetap terus terjadi jika dibiarkan (tidak segera disikapi dengan benar). Sebagaimana ada keluarga (pasangan suami istri) yang sangat kuat di dalam beragama, akan tetapi mereka tidak mampu mengajarkan agama kepada anak-anaknya. Kosongnya pikiran anak mereka dari ajaran agama menyebabkan mereka mudah menjadi orang-orang yang tersesat.

Jika begitu, janganlah kalian bertanya kepada seorang dari luar keluarga tentang masalah-masalah yang berada di dalam pikiran mereka di luar keluarga. Sebab, mereka dibesarkan di dalam keluarga yang beragama, akan tetapi pendidikan agama yang mereka terima dari keluarga justru tidak sampai pada titik yang diharapkan sempurna.

Saya juga pernah bertamu ke rumah suatu keluarga yang masuk dalam kategori taat beragama. Pada waktu itu, Saya sempat membahas berbagai masalah agama dengan sang ayah yang kebetulan seorang yang pandai pemahaman agamanya, dan qalbunya lembut. Sehingga membuat saya pun dibuat malu, terutama pada saat menyaksikan kesucian dan kebersihan qalbu sang ayah. Tidak beberapa lama kemudian datanglah kepada kami seorang mahasiswa, yang ternyata adalah putra dari orang itu.

Dari pembicaraan sang pemuda itu dapat Saya simpulkan, bahwa ia tidak terlalu percaya kepada kekuasaan Allah Swt.. Mendapati kejadian itu, Saya sangat tertegun, sehingga berkata di dalam hati, “Wahai ayah yang baik, alangkah bijaknya jika engkau tidak melahirkan seorang mahasiswa yang tidak mengakui adanya kekuasaan Allah, agar engkau menjadi orang yang dinyatakan taat beragama untuk selamanya.”

Ada pula seorang pemuda yang dibesarkan di tengah keluarga yang tidak beragama. Bahkan ia selalu bertanya-tanya dalam qalbunya tentang berbagai masalah yang tidak pernah terjawab. Kalau saja ada pada saat itu bantuan untuk menjawab berbagai masalah yang tengah bergejolak di dalam sanubarinya, maka pasti ia akan segera memeluk agama Islam. Karena ia sadar, bahwa agama Islam dapat menjawab segala masalah dan tantangan yang ada di masa modern. Sementara ada pula generasi muda yang dibesarkan di tengah keluarga Muslim, akan tetapi keimanan yang tumbuh semakin hari tidak bertambah baik, justru sebaliknya semakin melemah.

Berbicara Sesuai Ukuran Yang Diajak Bicara

Hendaknya setiap da'i mau berbicara menurut kadar akal atau kemampuan berpikir para pendengarnya. Sebab, cara yang demikian itu pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw., dan Al-Qur'an pun diturunkan untuk kepentingan seluruh umat manusia yang terdiri dari berbagai tingkat cara berpikirnya. Coba bayangkan jika seorang da'i tidak mau berbicara yang disesuaikan dengan kemampuan cara berpikir para pendengarnya.

Andaikata Al-Qur'an hanya berbicara seperti ketika Allah Swt. berdialog dengan Nabi Musa as. di bukit Tursina, maka sudah tentu kita tidak mungkin mampu mengerti inti kandungan pembicaraan yang terjadi. Demikian pula, andaikata Al-Qur'an diturunkan untuk orang-orang yang berpikiran tinggi saja, maka tidak kurang dari sembilan puluh sembilan persen yang tidak dapat mengerti kandungan ajaran Al-Qur'an. Akan tetapi, Al- Qur'an tidak demikian. Allah „Azza wa Jalla mengajak berbicara kepada hamba-hamba- Nya disesuaikan dengan kadar cara berpikir umat Islam masing-masing, yang disertai dengan kehendak, keagungan, dan kemuliaan-Nya.

Perlu diketahui bersama, bahwa firman Allah Swt. yang terdapat di dalam Al-Qur'an mampu dicerna oleh manusia dari semua kelas dan kalangannya masing-masing. Mereka bisa mengerti dan memahami ajaran Islam yang terkandung di dalam Al-Qur'an. Sehingga setiap orang yang membaca Al-Qur'an akan merasa, bahwa ia sedang diajak untuk berdialog oleh Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang tersimpan di dalam qalbu masing-masing.

Kalau keutamaan Al-Qur'an dapat dimengerti oleh para pembacanya dengan baik, maka yang demikain itu tidaklah mengherankan bagi siapa saja yang mau menggunakan akal untuk berpikir. Sebab, Al-Qur'an adalah firman-firman Allah „Azza wa Jalla yang menjadikan seluruh manusia dari tiada menjadi ada, dan Dia Maha Mengetahui apa saja yang tersembunyi di qalbu setiap mukmin.

Atau, dengan bahasa yang lebih urai dapat disimpulkan, bahwa kandungan Al- Qur'an bisa diresapi oleh para pembacanya yang bersedia memfokuskan qalbu dan pikirannya kepada ajaran Al-Qur'an, karena Al-Qur'an adalah firman Allah Yang Mahalembut. Selain itu, Al-Qur'an dapat dijadikan sebagai petunjuk dan penjamin sikap istiqamah mereka, sehingga Al-Qur'an menjadi sumber petunjuk bagi para Nabi dan Rasul, serta para mursyid, agar mereka tidak salah di dalam melangkah, atau pada saat menyampaikan pesan-pesan Ilahi kepada umat manusia.

Al-Qur'an mampu mengajak berbicara semua orang, karena Al-Qur'an adalah firman Allah yang menciptakan semua hamba-Nya, dan melengkapi semua kebutuhan mereka yang beraneka ragam pula tentunya. Para ulama, dan para da'i, menerangkan Al- Qur'an kepada para pendengar dengan pemahaman mereka masing-masing. Demikian pula mereka yang hidup di masa Rasulullah Saw.. Kesimpulannya, masing-masing sahabat mempunyai pengertian yang beragam terhadap Al-Qur'an. Meskipun demikian, Al-Qur'an dapat dipahami oleh manusia dari berbagai kalangan.

Coba bayangkan dengan baik, bahwa di masa Rasulullah Saw., ada seorang „Arab dusun (penduduk pedalaman) yang mendengar Al-Qur'an, dan ia dapat memahaminya dengan baik kandungan isinya. Di samping itu, ada pula para ahli bahasa „Arab yang terkenal di masa Jahiliyah, setelah mereka mendengar ajaran Al-Qur'an, maka mereka tidak mau lagi menyusun baik-baik sya'ir. Karena, jiwa mereka telah dipenuhi ruh Al- Qur'an, dan akal mereka telah diwarnai oleh keindahan bahasa Al-Qur'an.

Selain itu, ada sejumlah tokoh Islam, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, al-Farabi, Imam al-Ghazali, Fahruddin al-Razi, Imam Abu Hanifah, Imam al-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Malik bin Anas, dan sejumlah nama dari tokoh Islam lain yang terpengaruh akal serta qalbu mereka oleh petunjuk Al-Qur'an. Dengan kata lain, Al-Qur'an mempunyai keistimewaan bagi setiap orang yang mendengarkan bacaannya, atau yang membacanya secara langsung; bahwa mereka tengah diajak berbicara oleh Allah Swt..

Demikian pula, para ilmuwan yang setiap harinya mengkaji berbagai cabang ilmu pengetahuan, ketika mereka membaca kandungan Al-Qur'an, maka qalbu mereka merasa terpanggil. Seolah-olah mereka sedang diajak berkomunikasi oleh Allah Yang Mahabijak. Termasuk pula pada saat mereka sedang membahas berbagai peraturan yang bersifat fitrah, yang itu telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Pengasih bagi alam semesta ini. Dengan redaksi yang berbeda dapat dikatakan di sini, bahwa Al-Qur'an mampu memukau siapa saja yang membaca dan mendengarnya. Sebab, kitab tersebut adalah firman Allah Yang Maha Esa.

Kiranya ada ribuan ilmuwan yang terkagum-kagum kepada ajaran Al-Qur'an. Karena setiap ilmuwan, pada saat membaca atau mendengarkan Al-Qur'an, maka qalbu mereka tergerak, seolah-olah Al-Qur'an tengah berbicara dengan mereka. Seorang ahli fisika, ahli ilmu astronomi, ahli biologi, ahli matematika, ahli tehnik, ahli pertanian dan nabati, setiap membaca Al-Qur'an masing-masing mereka merasa bahwa seolah-olah Al- Qur'an tengah berdialog dengan mereka.

Bahkan, seorang dokter ahli di suatu bidang tertentu, ketika membaca atau mendengarkan bacaan Al-Qur'an, maka ia merasa bahwa Al-Qur'an sedang berdialog kepadanya. Seolah-olah semua ahli merasa teranggil oleh ajakan Al-Qur'an untuk mengenalinya lebih dalam. Makin dalam ia merenungi ajaran Al-Qur'an, maka ia senantiasa menemukan berbagai intuisi baru, atau pengalaman baru dari Al-Qur'an.

Alhasil, jika Al-Qur'an ini telah menyentuh qalbu seseorang, dan sentuhannya makin mendalam, maka qalbu orang tersebut akan terus terikat kepada Al-Qur'an. Sebab, Al-Qur'an selalu menimbulkan rasa kagum pada qalbu setiap penggemarnya, meskipun Al-Qur'an bukanlah ensiklopedia berbagai pengetahuan; akan tetapi lebih luas lagi dari sekadar itu. Akan tetapi, karena tujuan utama diturunkan-Nya Al-Qur'an adalah untuk membina manusia ke alam atas, maka Al-Qur'an akan memberinya pengaruh tersendiri bagi setiap insan yang mendalami ajaran atau kandungannya. Demikian pula para da'i jika mereka meresapi kandungan Al-Qur'an secar lebih luas, maka qalbu mereka akan terpanggil untuk mengabdikan diri hanya kepada Pemilik Al-Qur'an, yaitu dengan mengajarkannya kepada orang lain.

Bahkan, para ahli bahasa Arab yang menggemari bentuk-bentuk bahasa yang sulit dari segala seginya merasa kagum, mereka mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan mereka di dalam Al-Qur'an. Dengan demikian, Al-Qur'an dapat menyesuaikan diri dengan para penggemarnya masing-masing, sampai mereka merasa kagum oleh keindahan kandungan maupun bahasa Al-Qur'an.

Para generasi muda dewasa ini merasa heran oleh berbagai ungkapan yang sulit, yang itu diterangkan oleh para da'i. Padahal sudah seharusnya mereka membicarakan masalahmasalah yang dapat dimengerti oleh pikiran generasi muda. Jadi, demi suksesnya seorang da'i saat menyampaikan dakwahnya, maka hendaknya ia mengetahui kesenangan para pendengarnya. Kiranya masalah apa yang harus disampaikan kepada mereka.

Jika seorang da'i ingin sukses dalam menyampaikan tugasnya, maka hendaknya ia meniru beragam cara dakwah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw.. Beliau menyampaikan dakwah dengan tutur kata yang manis, tidak muluk-muluk, dan tidak berfilsafat. Karena, beliau Saw. menyampaikan dakwah dengan semangat agar mudah dimengerti oleh semua kalangan manusia. Cara yang dilakukan oleh beliau dalam menyampaikan dakwah juga pernah dilakukan oleh para Nabi dan Rasul sebelum beliau Saw.. Hal itu pernah disebutkan oleh Rasulullah sendiri di dalam salah satu sabdanya, “Kami, para Nabi, disuruh berbicara dengan orang lain menurut kemampuan atau cara berpikir manusia masing-masing.”[6]

Juga pada sabda Rasulullah Saw. lainnya, “Dudukkan manusia sesuai dengan kedudukannya masing-masing.”[7]

Kiranya sabda-sabda Rasulullah Saw. di atas dapat dijadikan dasar oleh para da'i yang ingin sukses untuk menyampaikan dakwah mereka. Atau, dengan kata lain jangan melebihi dari batas kemampuan berbicara, dan cara berpikir para pendengar mereka.

[1] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari pada pembahasan mengenai al-Maghâzî, hadis nomor 38. Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, pada pembahasan mengenai al-Dzikr, hadis nomor 44-45. Dapat pula dirujuk dalam kitab al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal, Jilid 4, hadis nomor 403.
[2] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada pembahasan mengenai al-Ahkâm, hadis nomor 13. Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, pada pembahasan mengenai al-Shalâh, hadis nomor 182.
[3] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad, Jilid 3, hadis nomor 492. Juga pada Jilid 4, hadis nomor 603.
[4] Lihat lebih lanjut penjelasannya dalam riwayat Imam al-Tirmidzi, pada pembahasan mengenai al-Da’awât, hadis nomor 69. Juga dalam kitab karya Imam Ahmad bin Hanbal, al- Musnad, Jilid 4, hadis nomor 444. Bisa pula dirujuk dalam kitab al-Ishâbah, karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Jilid 1, hadis nomor 337. Juga dalam kitab al-Shîrah, karya Imam Ibnu Hisyam, Jilid 1, halaman 313 dan 318.
[5] Diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, pada pembahasan mengenai Sifât al-Qiyîmah, hadis nomor 42. Juga oleh Imam Ibnu Majah, pada pembahasan mengenai al-Iqamatu 174.
[6] Lihat lebih lanjut penjelasannya dalam kitab Kasyfu al-Khafâ’, karya Imam al-‘Ajluni, Jilid 1, halaman 225-226.
[7] Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, dalam pembahasan mengenai al-Adab, hadis nomor 20. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, pada pendahuluan kitab Shahîh miliknya.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.